Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Mantan Gak Ada Akhlak
Mantan Gak Ada Akhlak


Spoiler for Update Chapter:


Chapter 1


"Eh, eh, Bos baru kita datang! Siap-siap Pak Mahnin mau ke sini, touch up Sis!"

"Lipstik gue gimana? Bibir? Oke?"

"Cakep, cakep kayak makan cabe sekebon!"

Suara berisik dan grasak grusuk menyapa telingaku siang ini. Kulirik sekilas kerumunan para karyawati yang siap-siap ambil peranan sebagai penggoda ulung.

Aku menggelengkan kepala malas, kusesali pilihan hidupku siang ini untuk makan di kantin. Seharusnya aku nggak tergiur ajakan Ancha dan berdiam saja di mushola, daripada harus bertemu bos baru yang merupakan mantan kekasihku itu.

Lagi pula, aneh banget, seorang Mahnin Atlanta Fatah datang ke tempat seramai ini. Perasaan dulu enggak gitu, apa dia sudah berubah?

He ... sudahlah.

'Woy! Anya fokus! Dia bukan lagi urusanmu, fokus Anya!'

Kurapalkan doa agar terhindar dari gangguan mantan bernama Mahnin.

Namun, mungkin karena aku banyak dosa, akhirnya doaku itu tak terkabul.

Tak berapa lama dari terucapnya doa, Mahnin datang memasuki kantin. Langkahnya yang tegap membuat para mata menatap tak berkedip dan itu membuatku tak nyaman.

Tanpa menunggu lagi, aku langsung menyantap makan siangku agar setelah dia duduk, makananku habis dan kami tak usah bertemu.

"Lihat! Lihat! Lo bayangin deh, tubuh roti sobek di balik kemeja Pak Mahnin, kira-kira six pack atau eight pack?"

"Gila loh, delapan mana ada?"

"Ih, ada! Buktinya Pak Mahnin, gue yakin dia rajin fitnes. Kira-kira ukuran celananya nomor berapa, ya?"

"Celana dalam apa luar, nih?"

Haciw! Aku sontak bersin seraya menoleh ke belakang, tak kusangka obrolan para cewek semesum itu. Tetapi, siapalah aku bagi mereka, melihat pelototanku, empat staf HRD itu malah semakin sibuk bergosip.

"Cih! Geje banget! Dasar cewek!" komentarku diam-diam seraya memalingkan muka kembali menatap mie kocok.

Heran, jadi cewek kok, enggak ada akhlak! Membuat selera makanku menguap saja.

Apa semua cewek di zaman sekarang senekat itu?

"Apanya yang geje, Nya?" tanya Acha yang masih sibuk dengan pentol bakso di mangkoknya.

Aku menghela napas berat mendengar kasak-kusuk yang semakin menggila.

"Enggak ada Cha, cuman ... ah gak penting, ayo Cha, buruan makannya! Gue lagi males di kantin, nih," sahutku mengalihkan. Bete.

"Kenapa? Karena Pak Mahnin, ya? Lo, kenapa sih, doi kan ganteng, Nya?" tanya Ancha menautkan alisnya.

Aku menggigit bibir. Benar juga, Ancha kan enggak tahu, kalau aku pernah menjalin hubungan malah mau menikah dengan bosnya yang baru masuk hari ini itu.

"Berisik! Buruan makan ajalah, kalau enggak gue gak jadi traktir!" ancamku berpura-pura.

Ancha membalasku dengan memeletkan lidah tapi tak urung dia juga memberikan kode 'oke', tanpa banyak bertanya lagi dia langsung bergerak cepat menghabiskan pentol baksonya yang tinggal lima biji. Mungkin dia takut kalau aku benar-benar nggak jadi mentraktirnya.

Tuk. Tuk. Tuk.

"Boleh saya duduk, di sini?"

Ketukan di meja berhasil membuatku mendongak begitu pun Ancha. Mataku membulat, melihat Mahnin sudah berdiri seraya menunjuk bangku kosong yang tepat berada di depanku.

Hatiku bergetar.

Ngapain sih, dia ada di depanku?

"Di sini penuh Pak, tuh, di barisan cewek itu banyak," tolakku langsung. Kutunjuk barisan pemuja Mahnin dengan nada ketus, membuat beberapa orang memperhatikan tingkahku.

Baiklah, memang aku sedang sulit belajar profesional sekarang. Bagaimana pun bos baru di depanku ini, berhasil membuka luka lama yang sudah aku kubur selama lima tahun lamanya.

Melihatnya di depanku, seolah membangkitkan kenangan di mana Mahnin meninggalkanku di acara lamaran lima tahun lalu.

Pria yang berjanji datang ke rumah itu menghilang tanpa kepastian dan kata maaf. Semua mengambang, seperti sampah di kali Citarum, tak berharga. Tanpa sempat kukenalkan pada Ibu atau pun Bapak, dia sudah memutuskanku secara sepihak.

"Jadi, saya enggak boleh duduk di sini?" tanya Mahnin seduktif. Sepasang bola mata coklatnya memancarkan sorot mata berbeda ketika menatapku.

"Boleh, tapi masih banyak yang kosong. Di sini sempit," jawabku jutek.

Aku memalingkan muka, tak kupungkiri jantungku berdegup tak tenang dan jiwaku ikut meradang.

"Oke, baiklah. Saya di sana saja," jawabnya lirih seraya menuju ke barisan para karyawati yang mulai heboh.

"Sial!" dengusku kesal sembari menambahkan dua sendok cabe ke dalam mangkuk mie kocok milikku.

Biasanya kalau lagi situasi kayak gini, sambel emang paling tepat jadi pelarian. Lagi pula, kenapa harus dia sih bos baruku? Apa spesies pria di muka bumi ini sudah berkurang? Tragis.

(***)

"Vanya Kaliandra Putri, berumur 28 tahun. Lulusan terbaik dan pernah menjadi karyawan teladan. Bagus juga, nilai KPI (Key Performance Indicator) kamu. Oh iya, satu lagi status ... single? Benar single, kan?"

Aku terpaksa menganggukkan kepala ketika Mahnin membaca profilku secara lengkap.

Entah apa maksudnya, si bos baru itu tiba-tiba saja memanggil kami satu-persatu selepas istirahat siang itu.

Dia sengaja mengundang staf ke ruangannya dengan dalih ingin tahu lebih dalam mengenai para stafnya, katanya begitu.

Nahas, sekarang adalah giliranku. Mantan tunangan yang ia tinggalkan tanpa kata 'maaf'.

Dendam, hati ini jadinya. Akan tetapi, demi asas profesionalitas aku harus berusaha bertingkah tak mengenalnya. Sampai dia sendiri yang memugar kisah lama kami, karena aku lebih baik tak pernah memugarnya. Walau hati ini teramat benci.

"Jadi kamu belum menikah?" tanya Mahnin lagi. Dia menyimpan map biru berisi biodata di atas meja. Mendongakkan kepala, menatapku yang sedang duduk tegang di depannya.

"Iya, belum."

'Semua karena kamu, Mahnin! Kamu yang bikin aku nggak bisa hubungan!' sambungku dalam hati.

"Oke, jadi kamu masih free ya?"

"Maksud Pak Mahnin?" Aku menaikkan satu alis, mendadak dadaku panas dan tenggorokanku serasa kering.

"Ya, barangkali kalau kamu sudah menikah, saya bisa mempertimbangkan status cuti kehamilan, melahirkan dan kerja kamu, misalnya. Benar, kan?"

"Iya, benar."

Baiklah, aku mengalah. Aku masih butuh pekerjaan. Mengajak bertengkar seorang bos bukan saatnya.

"Lalu, kenapa kamu belum menikah? Apa ada alasan lain?"

Kurang ajar! Apa dia sengaja bertanya begitu? Mau meledek, hah?

Pelan kukepalkan tanganku, merasakan degupan jantung yang tak beraturan.

"Maaf, apa boleh saya tidak menjawab? Lagian, tidak ada urusannya kan, dengan pekerjaan?"

"Ada. Saya ingin tahu tentang kamu. Semua tentangmu, Nona Anya. Apa saya salah?"

Aku tersentak. Menatap matanya lurus, dapat kulihat kilatan aneh dalam mata Mahnin. Dia seolah ... rindu?

Tidak! Tidak! Itu khayalanku saja. Ini aneh, aku merasa janggal dengan semua tingkahnya, karena bagiku dia sudah mati.

"Saudari Anya, apa saya salah?" ulangnya.

"Iya salah. Bukankah, hal itu terlalu dalam untuk pertanyaan seorang bos pada stafnya? Bagaimana kalau stafnya salah paham?" serangku.

Dia tak langsung menjawab, matanya menatapku lama sampai aku merasa risi dan sontak berdehem.

Tampaknya Mahnin hapal sekali sikapku jika tidak suka, dia pun merubah posisi, menarik tubuhnya menjauh dan dengan santainya dia bersandar ke kursi.

"Oke, baiklah. Saya hanya ingin memastikan. Ya sudah, kamu silahkan keluar, saya sudah selesai bertanya-tanya tentang kamu," jawabnya seraya menunjukkan seringai.

See? What? Hanya itu! Apa dia masih pura-pura lupa bahwa dulu dia pernah menyakitiku.

Sadis!

"Baiklah, Pak, kalau begitu saya permisi dulu," pamitku.

Tanpa basa-basi aku pun langsung berdiri dan membalikkan badan melangkah ke arah pintu.

Mungkin memang benar dia ingin melupakan hubungan kami. Namanya juga mantan, biar kata Bos tetap saja mantan. Bos tapi mantan, ah, ruwet.

Jadi, untuk apa berharap dia masih mengungkit itu? Poor, Anya!

Namun, belum ada lima langkah aku berjalan. Suara menyebalkan milik Mahnin kembali terdengar.

"Anya!" panggilnya berat.

Reflek kakiku berhenti, lalu menolehkan kepala ke arahnya.

"Sore nanti, kalau kamu nggak bawa kendaraan dan ojol susah, kamu bisa nebeng sama saya karena kita searah," ucapnya seraya tersenyum.

Sejenak aku terkesiap mendengar ucapan Mahnin.

Apa nebeng? Apa dia gila? Aku mantan yang disakitinya? Halo!

Tadinya, mulut ini rasanya ingin langsung mengumpat karena tawaran bodoh Mahnin tapi sepertinya itu berlebihan.

"Ma-Maksudnya Pak Mahnin ngajak pulang bareng ini apa?" tanyaku terdengar ketus.

"Enggak ada maksud apa-apa. Saya hanya ingin bertindak baik sama tetangga. Fyi, mulai hari ini, saya sudah pindah ke depan rumahmu Anya, sekedar info takut kamu kaget," jelasnya santai tapi sukses membuat diriku syok.

Aku pun membelalakkan mata. "Aslian, Pak?"

"Asli dong, masa palsu?" sahutnya lagi.

Gawat! Jadi, selain Mahnin bosku dia juga tetanggaku?

Sudah kukira ini akan terjadi, ternyata dia tak pernah berubah. Dari dulu sampai sekarang, selalu datang dan pergi seenaknya seperti Jailangkung.

Dasar mantan enggak ada akhlak.
Diubah oleh blackgaming 26-02-2021 10:10
weihaofeiAvatar border
towi76Avatar border
rinandyaAvatar border
rinandya dan 30 lainnya memberi reputasi
29
10.2K
61
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#2
Chapter 3


"Hahahahha ...."

Pada saat jam makan siang, Ancha enggak bisa berhenti tertawa saat kuceritakan tentang kelakuan bosnya kemarin yang di kantor dan di rumah sama saja.

Sama-sama enggak ada akhlak.

Selain itu, saking semangat membara aku pun sampai keceplosan bilang sama sahabatku yang langka itu kalau aku mantannya Mahnin.

Iya, mantan yang ditinggalkan pas lagi berbunga. Dasar asem jawa!

Di kantor, dia tebar pesona pada karyawati. Eh, di rumah? Pamer otot sama emak-emak.

Ampun deh! Heran, bagaimana bisa sih aku punya mantan seaneh ini? Apa dulu emaknya ngidam makan barbel sampai punya anak yang bentukan ototnya enggak jauh beda sama benda itu? Kan, sebal.

"Eh, tadi lo bilang si Pak Mahnin rumahnya depan lo, kan? Entar gue boleh ikut main dong, iya gak?" tanya Ancha sembari mengedipkan mata.

Aku memutar bola mataku dengan malas. "Dih! Malesin deh, gue saranin gak usah Cha, entar lu kerasukan jin aneh dan mendadak kelakuan lu kayak si Bos, berrr!" jawabku pura-pura serem.

Ancha si gembul lagi-lagi terbahak, sepertinya dia memahami kalau aku benar-benar dendam kesumat sama yang namanya Mahnin.

"Nya, sebenarnya kalau gue denger-denger sih, enggak salah si Bos juga kali. Dia kan gak tahu kalau tuh emak-emak melototin dia. Ya, kan? Terus, kalau pendapat gue sih dia gak seramah itu sama perempuan.

Kemarin saja, si Susi abis didamprat gara-gara pakai rok pendek. Bisa jadi, dia bersikap gitu ke elu, mungkin karena dia masih nyimpen hati. Siapa tahu dia mau balikan, gimana?" bela Ancha.

"Dih! Ogah ah," jawabku sambil membuang muka.

"Lah, kan, dia tampan Anya ...."

"Tampan tapi mantan mah, buat apa? Pokoknya aku ogah!"

"Eheum! Apanya yang ogah, Nya?"

Deg.

Waduh! Buaaahaya! Panjang umurnya si Bos, baru saja diomongin orangnya nongol.

Mendengar suara bariton yang enggak asing di telinga. Dengan gerakan slow motion aku pun menengok ke arah samping tampaklah di depanku dan Ancha, spesies mantan model baru namanya Mahnin, Mantan yang ogah dikangenin.

"Anu Pak, ogah ... ogah mandi Pak. Ya, ogah mandi, tapi kalau ke kantor mandi kok," jawabku enggak nyambung sambil cengengesan penuh kepalsuan.

"Yang bener? Bukan ogah yang lain, kan? Ogah kerja misalnya?" tanya Mahnin dengan nada dingin.

Waduh! Ancamannya mulai enggak profesional. Pasti dia mulai curiga.

"Bukan Pak, bukan! Beneran!" elakku meminta dukungan Ancha yang sibuk menahan tawa.

"Iya, Pak, kita lagi bahas si Anya yang ogah mandi sore kok, bener kan, Nya?"

"He em, bener!" sambungku dengan semangat yang dibuat-buat.

"Oh ... begitu," sahut pria itu ragu.

Mahnin terdiam memperhatikan kami, alisnya terlihat berlipat tiga seolah menelisik tingkat kebohongan stafnya. Namun, tak lama dia menatap wajahku dan kami pun bertatapan.

Menyadari kami sudah saling berpandangan dalam waktu lama. Aku pun berdehem menyadarkannya dan dia pun langsung terkesiap.

"Eheum! Pak Mahnin mau ke mana?" tanyaku basa-basi.

"Oh, anu saya lagi cari meja kosong! Di mana ya?" imbuh Mahnin pura-pura sibuk mengedarkan pandangan sedangkan aku tersenyum dalam hati.

Sejujurnya, saat tatapan Mahnin jatuh padaku dadaku mendadak jumpalitan enggak jelas dan itu cukup bahaya buat kesehatan jantung dan rohani.

Sumpah deh, bukan enggak mau ditatap cowok ganteng, tapi masalahnya kurasakan tatapan si mantan kali ini berbeda seperti mengandung umpan tajam yang meracuni kalbu. Untunglah Mahnin cepat mengalihkan dan langsung pamit mencari meja.

Setelah kepergiannya, aku langsung menghembuskan napas lega. Berharap dia tak mendengar apa pun.

Diam-diam aku memperhatikan Mahnin yang kini sedang memesan makanan ke ibu kantin.

Di dalam sini, sebenarnya aku masih tak mengerti lagi sama itu orang. Bagaimana bisa setampan dia konslet macam begitu? Mana telinganya udah sensitif banget kalau lagi di ghibah-in.

"Woy, Anya! Iler lo, netes tuh! Nya, hey Anya!" teguran dan petikan jari Ancha sukses menghancurkan lamunanku.

Aku sontak membersihkan bibir sambil berkaca pada ponsel. "Eh, mana ilernya? Bohong lo!" tanyaku bingung. Katanya ada iler tapi daguku masih putih kinclong. Pendusta.

"Abisan lo, norak! Liat mantan sampai segitunya!"

"Sok tahu, lo!"

Ancha terbahak melihatku yang gelagapan, tapi tiba-tiba berhenti sambil menunjuk Pak Mahnin yang sekarang sudah duduk di meja dengan tenang. Namun, tiba-tiba kulihat ada seorang wanita mendekat.

"Eh, itu! Itu si Bu Alina ngapain ngedeketin Pak Mahnin? Walah! Gawat nih, Nya! Mantan lu bisa digebet entu!" Suara Ancha sang provokator membuat radarku tiba-tiba saja bereaksi.

Aku langsung menajamkan pandangan pada kedua orang bos di perusahaan ini yang sedang berbincang tersebut.

Ya ampun! Ini sih lawannya berat banget. Bu Alina itu manajer pemasaran yang paling kece di kantor ini, sedangkan aku si staf yang suka kesiangan dan jadi kacung para senior.

Berat ini berat. Aku menggigit bibirku serasa tak terima. Entah kenapa melihat Bu Alina yang bahenol itu mendekati Mahnin mendadak hatiku mencelos. Tapi kenapa aku harus marah ya, kan? Dia kan mantan.

"Nya! Lo, gak apa-apa, kan? Kok, mata lo kek aneh gitu?" tanya Ancha mengibaskan tangannya di depan wajahku. Mungkin dia takut aku kesurupan karena sejak tadi hanya diam.

Aku menolehkan kepala pasrah pada Ancha. "Cha!"panggilku penuh penekanan.

"Heum?"

"Cantikan gue apa Bu Alina?" tanyaku belo'on. Emang kalau lihat mantan bahagia dan tertawa sama yang lain itu, otakku suka mendadak bego.

"Cantikan Bu Alina-lah," jawab Ancha sambil tertawa yang langsung kutimpuk mukanya pakai bala-bala.

Sialan!

(***)

Aku mengecek jam di tangan. Waktu sudah menunjukkan jam setengah lima sore, tapi si Bos belum balik juga dari rapat sama tim pemasaran. Padahal sebentar lagi waktu jam pulang kantor.

Perasaan setahuku tim audit sudah balik ke ruangan deh. Kok, biangnya belum balik-balik juga?

Keterlambatan Mahnin datang ke ruangan audit seperti ini, membuatku khawatir tanpa sebab. Sebagai staf Mahnin di bagian audit, aku cukup paham kerja audit pemasaran biasanya mereka tak akan membutuhkan waktu selama ini untuk mengecek berkas.

Apa jangan-jangan ada hal lain yang terjadi? Seperti dia diajak ngobrol sama staf pemasaran misalnya, sama kayak dia diajak ngobrol staf HRD waktu di kantin? Atau, dia malah terpikat sama manajer pemasaran yaitu Bu Alina.

Agh, masa sih?

Aku mendesis kecil ketika benak ini sontak saja mengingat pemandangan yang memerihkan mata tadi siang, di mana Mahnin dan Bu Alina terlihat sangat akrab dan itu cukup mengganggu pikiranku.

Mungkinkah Mahnin sudah melupakan kesalahannya padaku? Cih! Semudah itu dia move on! Padahal penjelasan kenapa dia menghilang saja masih belum kuterima.

Di antara rasa ragu dan curiga tiba-tiba aku mendengar obrolan rekan kerjaku yang tadi baru saja rapat dengan tim pemasaran, di mana Mahnin dan Bu Alina-lah yang memimpin.

"Gila tuh Bu Alina, ya? Siapa aja dia pepet, mentang-mentang orang cantik. Sekarang, Pak Mahnin sasarannya tuh," celetuk Reno pada Egi yang duduk di samping meja kerjanya.

Merasa tertarik, aku menggeser kursi sedikit. Di ruangan audit internal ini memang enggak banyak orang. Kurang lebih dua belah-lah dalam satu ruangan, jadi obrolan Egi dan Reno yang hanya berjarak dua meter di depanku dapat terdengar walau samar apalagi kali ini tentang mantanku.

"Nah, iya, gue juga mikir gitu. Gila sih, Bu Alin tuh ya sama siapa aja yang penting kaya. Kan, lu tahu Pak Mahnin itu sementara saja jadi manajer AI, bentar lagi juga diangkat jadi general manajer dia. Secara, dia bagus sih!"

"Eh, tapi, kok gue malah kasihan ya kalau Pak Mahnin jadi sama Bu Alin? Masa perjaka dapat janda!"

"Hah? Janda?" teriakanku yang tiba-tiba membuat semua di ruangan menoleh ke arahku.

Aku langsung menutup mulutku malu karena ketahuan menguping. Terlebih saat Reno dan Egi cekikikan mentertawakan.

"Dih! Kenapa lagi si Anya? Kenapa lo kaget begitu? Baru tahu emangnya?" Reno menunjukku sambil tertawa.

"Ciyee yang nguping!" tuduh Egi lagi.

"Eh, nguping? Enggak gue cuman ... ah, udahlah!"

Aku yang tersentak kaget dan bingung karena kelakuanku sendiri akhirnya memilih keluar ruangan.

Fiuh! Aman. Lebih baik kucari sendiri si mantanku itu dibanding terperangkap cinta janda.

Namun, tampaknya niat muliaku bersambut mulus karena tak perlu jauh mencari ternyata Mahnin dan Bu Alina sedang mengobrol beberapa meter di depanku. Tepatnya di depan lift, mereka sedang ketawa-ketiwi enggak jelas.

Ya ampun! Pantas saja Mahnin malas kembali ke ruangan yang diajak ngobrolnya saja cantik, bahenol dan kaya.

Awas, ya! Aku kerjai baru tahu rasa.

"Pak Mahnin!" teriakku langsung dari depan ruang audit. Kukeraskan suaraku biar mereka bisa mendengar dengan sekali seruan.

Benar saja, baik Mahnin mau pun Bu Alina langsung menoleh.

Aku tersenyum sekilas, melihat keduanya sudah sadar akan keberadaanku. Dengan tergesa aku pun melangkah mendekat.

"Anya? Ada apa, Nya?" tanya Mahnin dengan nada bingung setelah aku tiba di depan mereka.

Mungkin dia merasa ajaib karena aku tiba-tiba memanggilnya, biasanya kan aku cuek.

"Anu Pak, bisa tolong antarkan saya, Pak, Sekarang? Penting! Tadi Mamah saya nelepon kayaknya ada yang butuh pertolongan!" ujarku panik. Kupasang wajah cemas biar lebih meyakinkan.

Mahnin mengernyit. "Hah? Kejadian apa? Ada yang meninggal atau apa?" tanyanya ikut bingung.

"Ah, pokoknya penting! Saya tadi dapat info dari Mamah Pak. Kalau saya naik ojek takutnya lama, gimana ya, Pak? Saya boleh minta bantuan? Aduh maaf ya, merepotkan? Kan, katanya tetangga harus saling bantu,"pintaku dengan nada sedih. Kulirik Bu Alina yang sudah menekuk wajah tak suka melihatku mengganggu misinya.

Awalnya wajah Mahnin terlihat ragu tapi tak lama tampaknya Mahnin pun luluh. Dia pun menjelaskan pada Bu Alina kalau dia mau pergi bersamaku.

"Maaf ya Bu, mungkin undangan makan malamnya saya gak bisa penuhi. Saya sepertinya harus antar Anya. Sebagai tetangga yang baik kata Ibu saya, harus saling bantu. Gak apa-apa, kan?"

Bu Alina sejenak terlihat merasa tak ikhlas setelah mendengar alasan Mahnin yang terdengar aneh juga, tapi sejurus kemudian dia menganggukkan kepala.

"Iya, gak apa-apa, Pak. Mungkin bisa lain kali, kalau begitu saya permisi!" jawab Bu Alina seraya memutar langkahnya berlawanan arah dan pergi menjauh.

Tinggallah aku dan Mahnin yang berhadapan di depan lift. Mahnin langsung menarik lenganku saat pintu lift terbuka.

"Ayo, Nya! Kita turun! Saya antar kamu," ajaknya cepat sambil menarik lenganku tapi langsung kutahan dengan tangan.

"Eh, bentar Pak! Tenang saja gak usah buru-buru, kayaknya udah selesai deh urusannya," ujarku sambil tersenyum jahil.

Mahnin yang masih belum mengerti menatapku penuh tanda tanya.

"Loh, kata kamu ini urusan penting. Kok, sekarang kamu tenang-tenang saja?" tanya Mahnin seraya menggaruk alisnya.

Aku hampir saja tertawa melihat ekspresi Mahnin yang gampang kutipu.

"Ya, tenanglah Pak. Soalnya kucing sayanya udah melahirkan dengan selamat. Jadi, kita gak usah buru-buru."

"Hah? Kucing? Jadi, urusan penting itu adalah ...."

"Iya, Pak, kucing saya melahirkan Pak. Tapi, kata Mamah udah selamat kok alhamdullilah. Penting, kan?" tanyaku dengan tampang wajah tanpa dosa. Namun, tak begitu dengan Mahnin dia langsung melotot dan berteriak kesal.

"Anyaaaaa!"

Wekekeekek! Kabur! Akhirnya, aku pun sama enggak ada akhlaknya sama Mahnin. Bodo amat yang penting mantanku enggak digondol janda.
Tika1909
EriksaRizkiM
rinandya
rinandya dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.