- Beranda
- Stories from the Heart
Mantan Gak Ada Akhlak
...
TS
blackgaming
Mantan Gak Ada Akhlak
Mantan Gak Ada Akhlak
Spoiler for Update Chapter:
Chapter 1
"Eh, eh, Bos baru kita datang! Siap-siap Pak Mahnin mau ke sini, touch up Sis!"
"Lipstik gue gimana? Bibir? Oke?"
"Cakep, cakep kayak makan cabe sekebon!"
Suara berisik dan grasak grusuk menyapa telingaku siang ini. Kulirik sekilas kerumunan para karyawati yang siap-siap ambil peranan sebagai penggoda ulung.
Aku menggelengkan kepala malas, kusesali pilihan hidupku siang ini untuk makan di kantin. Seharusnya aku nggak tergiur ajakan Ancha dan berdiam saja di mushola, daripada harus bertemu bos baru yang merupakan mantan kekasihku itu.
Lagi pula, aneh banget, seorang Mahnin Atlanta Fatah datang ke tempat seramai ini. Perasaan dulu enggak gitu, apa dia sudah berubah?
He ... sudahlah.
'Woy! Anya fokus! Dia bukan lagi urusanmu, fokus Anya!'
Kurapalkan doa agar terhindar dari gangguan mantan bernama Mahnin.
Namun, mungkin karena aku banyak dosa, akhirnya doaku itu tak terkabul.
Tak berapa lama dari terucapnya doa, Mahnin datang memasuki kantin. Langkahnya yang tegap membuat para mata menatap tak berkedip dan itu membuatku tak nyaman.
Tanpa menunggu lagi, aku langsung menyantap makan siangku agar setelah dia duduk, makananku habis dan kami tak usah bertemu.
"Lihat! Lihat! Lo bayangin deh, tubuh roti sobek di balik kemeja Pak Mahnin, kira-kira six pack atau eight pack?"
"Gila loh, delapan mana ada?"
"Ih, ada! Buktinya Pak Mahnin, gue yakin dia rajin fitnes. Kira-kira ukuran celananya nomor berapa, ya?"
"Celana dalam apa luar, nih?"
Haciw! Aku sontak bersin seraya menoleh ke belakang, tak kusangka obrolan para cewek semesum itu. Tetapi, siapalah aku bagi mereka, melihat pelototanku, empat staf HRD itu malah semakin sibuk bergosip.
"Cih! Geje banget! Dasar cewek!" komentarku diam-diam seraya memalingkan muka kembali menatap mie kocok.
Heran, jadi cewek kok, enggak ada akhlak! Membuat selera makanku menguap saja.
Apa semua cewek di zaman sekarang senekat itu?
"Apanya yang geje, Nya?" tanya Acha yang masih sibuk dengan pentol bakso di mangkoknya.
Aku menghela napas berat mendengar kasak-kusuk yang semakin menggila.
"Enggak ada Cha, cuman ... ah gak penting, ayo Cha, buruan makannya! Gue lagi males di kantin, nih," sahutku mengalihkan. Bete.
"Kenapa? Karena Pak Mahnin, ya? Lo, kenapa sih, doi kan ganteng, Nya?" tanya Ancha menautkan alisnya.
Aku menggigit bibir. Benar juga, Ancha kan enggak tahu, kalau aku pernah menjalin hubungan malah mau menikah dengan bosnya yang baru masuk hari ini itu.
"Berisik! Buruan makan ajalah, kalau enggak gue gak jadi traktir!" ancamku berpura-pura.
Ancha membalasku dengan memeletkan lidah tapi tak urung dia juga memberikan kode 'oke', tanpa banyak bertanya lagi dia langsung bergerak cepat menghabiskan pentol baksonya yang tinggal lima biji. Mungkin dia takut kalau aku benar-benar nggak jadi mentraktirnya.
Tuk. Tuk. Tuk.
"Boleh saya duduk, di sini?"
Ketukan di meja berhasil membuatku mendongak begitu pun Ancha. Mataku membulat, melihat Mahnin sudah berdiri seraya menunjuk bangku kosong yang tepat berada di depanku.
Hatiku bergetar.
Ngapain sih, dia ada di depanku?
"Di sini penuh Pak, tuh, di barisan cewek itu banyak," tolakku langsung. Kutunjuk barisan pemuja Mahnin dengan nada ketus, membuat beberapa orang memperhatikan tingkahku.
Baiklah, memang aku sedang sulit belajar profesional sekarang. Bagaimana pun bos baru di depanku ini, berhasil membuka luka lama yang sudah aku kubur selama lima tahun lamanya.
Melihatnya di depanku, seolah membangkitkan kenangan di mana Mahnin meninggalkanku di acara lamaran lima tahun lalu.
Pria yang berjanji datang ke rumah itu menghilang tanpa kepastian dan kata maaf. Semua mengambang, seperti sampah di kali Citarum, tak berharga. Tanpa sempat kukenalkan pada Ibu atau pun Bapak, dia sudah memutuskanku secara sepihak.
"Jadi, saya enggak boleh duduk di sini?" tanya Mahnin seduktif. Sepasang bola mata coklatnya memancarkan sorot mata berbeda ketika menatapku.
"Boleh, tapi masih banyak yang kosong. Di sini sempit," jawabku jutek.
Aku memalingkan muka, tak kupungkiri jantungku berdegup tak tenang dan jiwaku ikut meradang.
"Oke, baiklah. Saya di sana saja," jawabnya lirih seraya menuju ke barisan para karyawati yang mulai heboh.
"Sial!" dengusku kesal sembari menambahkan dua sendok cabe ke dalam mangkuk mie kocok milikku.
Biasanya kalau lagi situasi kayak gini, sambel emang paling tepat jadi pelarian. Lagi pula, kenapa harus dia sih bos baruku? Apa spesies pria di muka bumi ini sudah berkurang? Tragis.
(***)
"Vanya Kaliandra Putri, berumur 28 tahun. Lulusan terbaik dan pernah menjadi karyawan teladan. Bagus juga, nilai KPI (Key Performance Indicator) kamu. Oh iya, satu lagi status ... single? Benar single, kan?"
Aku terpaksa menganggukkan kepala ketika Mahnin membaca profilku secara lengkap.
Entah apa maksudnya, si bos baru itu tiba-tiba saja memanggil kami satu-persatu selepas istirahat siang itu.
Dia sengaja mengundang staf ke ruangannya dengan dalih ingin tahu lebih dalam mengenai para stafnya, katanya begitu.
Nahas, sekarang adalah giliranku. Mantan tunangan yang ia tinggalkan tanpa kata 'maaf'.
Dendam, hati ini jadinya. Akan tetapi, demi asas profesionalitas aku harus berusaha bertingkah tak mengenalnya. Sampai dia sendiri yang memugar kisah lama kami, karena aku lebih baik tak pernah memugarnya. Walau hati ini teramat benci.
"Jadi kamu belum menikah?" tanya Mahnin lagi. Dia menyimpan map biru berisi biodata di atas meja. Mendongakkan kepala, menatapku yang sedang duduk tegang di depannya.
"Iya, belum."
'Semua karena kamu, Mahnin! Kamu yang bikin aku nggak bisa hubungan!' sambungku dalam hati.
"Oke, jadi kamu masih free ya?"
"Maksud Pak Mahnin?" Aku menaikkan satu alis, mendadak dadaku panas dan tenggorokanku serasa kering.
"Ya, barangkali kalau kamu sudah menikah, saya bisa mempertimbangkan status cuti kehamilan, melahirkan dan kerja kamu, misalnya. Benar, kan?"
"Iya, benar."
Baiklah, aku mengalah. Aku masih butuh pekerjaan. Mengajak bertengkar seorang bos bukan saatnya.
"Lalu, kenapa kamu belum menikah? Apa ada alasan lain?"
Kurang ajar! Apa dia sengaja bertanya begitu? Mau meledek, hah?
Pelan kukepalkan tanganku, merasakan degupan jantung yang tak beraturan.
"Maaf, apa boleh saya tidak menjawab? Lagian, tidak ada urusannya kan, dengan pekerjaan?"
"Ada. Saya ingin tahu tentang kamu. Semua tentangmu, Nona Anya. Apa saya salah?"
Aku tersentak. Menatap matanya lurus, dapat kulihat kilatan aneh dalam mata Mahnin. Dia seolah ... rindu?
Tidak! Tidak! Itu khayalanku saja. Ini aneh, aku merasa janggal dengan semua tingkahnya, karena bagiku dia sudah mati.
"Saudari Anya, apa saya salah?" ulangnya.
"Iya salah. Bukankah, hal itu terlalu dalam untuk pertanyaan seorang bos pada stafnya? Bagaimana kalau stafnya salah paham?" serangku.
Dia tak langsung menjawab, matanya menatapku lama sampai aku merasa risi dan sontak berdehem.
Tampaknya Mahnin hapal sekali sikapku jika tidak suka, dia pun merubah posisi, menarik tubuhnya menjauh dan dengan santainya dia bersandar ke kursi.
"Oke, baiklah. Saya hanya ingin memastikan. Ya sudah, kamu silahkan keluar, saya sudah selesai bertanya-tanya tentang kamu," jawabnya seraya menunjukkan seringai.
See? What? Hanya itu! Apa dia masih pura-pura lupa bahwa dulu dia pernah menyakitiku.
Sadis!
"Baiklah, Pak, kalau begitu saya permisi dulu," pamitku.
Tanpa basa-basi aku pun langsung berdiri dan membalikkan badan melangkah ke arah pintu.
Mungkin memang benar dia ingin melupakan hubungan kami. Namanya juga mantan, biar kata Bos tetap saja mantan. Bos tapi mantan, ah, ruwet.
Jadi, untuk apa berharap dia masih mengungkit itu? Poor, Anya!
Namun, belum ada lima langkah aku berjalan. Suara menyebalkan milik Mahnin kembali terdengar.
"Anya!" panggilnya berat.
Reflek kakiku berhenti, lalu menolehkan kepala ke arahnya.
"Sore nanti, kalau kamu nggak bawa kendaraan dan ojol susah, kamu bisa nebeng sama saya karena kita searah," ucapnya seraya tersenyum.
Sejenak aku terkesiap mendengar ucapan Mahnin.
Apa nebeng? Apa dia gila? Aku mantan yang disakitinya? Halo!
Tadinya, mulut ini rasanya ingin langsung mengumpat karena tawaran bodoh Mahnin tapi sepertinya itu berlebihan.
"Ma-Maksudnya Pak Mahnin ngajak pulang bareng ini apa?" tanyaku terdengar ketus.
"Enggak ada maksud apa-apa. Saya hanya ingin bertindak baik sama tetangga. Fyi, mulai hari ini, saya sudah pindah ke depan rumahmu Anya, sekedar info takut kamu kaget," jelasnya santai tapi sukses membuat diriku syok.
Aku pun membelalakkan mata. "Aslian, Pak?"
"Asli dong, masa palsu?" sahutnya lagi.
Gawat! Jadi, selain Mahnin bosku dia juga tetanggaku?
Sudah kukira ini akan terjadi, ternyata dia tak pernah berubah. Dari dulu sampai sekarang, selalu datang dan pergi seenaknya seperti Jailangkung.
Dasar mantan enggak ada akhlak.
Diubah oleh blackgaming 26-02-2021 10:10
rinandya dan 30 lainnya memberi reputasi
29
10.2K
61
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#1
Chapter 2
"Jangan datang lagi cinta. Bagaimana aku bisa lupa? Padahal kau tahu keadaannya uwow ... uwow ...."
Entah berapa lama aku bernyanyi lagu Pura-Pura Lupa-miliknya Mahen di kamar mandi. Acara mandi kali ini cukup berbeda karena disertai semangat untuk meluapkan kekesalanku pada mantan yang enggak ada akhlak.
Apalagi coba namanya selain enggak ada akhlak? Jika mantan kamu datang dan pergi seenaknya. Seperti Jailangkung yang datang tak dijemput pulang tak diantar.
Persis Mahnin. Pokoknya Mahnin banget.
Buruknya, tuh orang yang lima tahun lalu meninggalkanku di saat sedang sayang-sayangnya kini kembali dan menjadi bos juga tetanggaku.
Well! Apa laki-laki semua begitu, ya?
Dok. Dok. Dok.
"Anyaaa! Mandinya udah belum?" Gedoran di pintu kamar mandi membuatku berhenti bernyanyi seketika.
"Belum Mah, baru saja sabunan," jawabku gondok.
"Udah, jangan lama-lama! Anak gadis jangan kelamaan mandinya, entar masuk angin!" seru Mamah sok tahu.
Aku mencibir. "Iya, iya, bentar masih bau ketek," sahutku lagi dari dalam toilet.
Setelah itu hening ... alhamdullilah tampaknya Mamah sudah menyerah. Namun, lagi-lagi aku salah tak berapa lama gedoran pun kembali terdengar.
"Anyaaaaa! Buruan! Keburu maghrib entar, habis mandi jangan lupa tolong kasih rantang ke tetangga baru depan rumah ya! Mamah ke warung dulu," teriak Mamahku lagi tanpa meminta persetujuan. Sementara, otakku tiba-tiba sadar.
Lah, depan rumah kan itu kan ... Mahnin?
Ya Allah! Dia lagi-dia lagi.
Tepok jidat.
(***)
Aku berdiri di depan pagar rumah Mahnin sambil membawa rantang. Masih dengan setelan habis kebanjiran yaitu celana joger dan kaos oblong.
Umurku memang sudah 28 tahun, tapi jangan salah style-ku berjiwa muda. Mungkin karena tubuhku mungil dan wajahku juga imut-imut gemesin.
Tolong! Jangan bertanya untuk apa aku di sini? Sebab, Mamahku-lah tersangka semuanya.
Kukira Mamah bercanda saat memintaku mengantarkan rantang, tapi saat aku menolak dia mengancamku untuk mogok bicara.
Aduh! Serba salah memang jadi anak.
So, sekarang dengan sangat terpaksa aku pun harus mengantarkan makanan ini sendiri.
Tett.
Kupencet bell rumah Mahnin yang terletak di pinggir pagar sambil merapalkan doa semoga yang nongol bukan muka si mantan. Namun, tak perlu satu menit menunggu Mahnin sudah keluar dengan masih mengenakan setelan kantor. Sepertinya dia baru tiba di rumah.
Kami berpandangan sesaat, tapi sialnya bukannya Mahnin langsung menghampiriku dia malah mengerutkan kening.
"Anya? Kamu Anya, kan?" tanya Mahnin ragu.
Lelaki itu memicing padaku, sedangkan aku mengerucutkan bibir.
"Tuh, kan! Rese deh, mulai ...," gumamku kesal. Baiklah, kali ini aku maafkan mungkin dia takut salah orang karena jarak teras ke pagar lumayan jauh.
"Iya, Pak. Ini saya, bukan Kunti," jawabku malas.
Setelah mendengar jawabanku, dia langsung turun dan menuju ke pagar seraya menyunggingkan senyum simpul. "Bukan, saya hanya memastikan takut kamu orang yang suka minta sumbangan. Tapi, kok Kayak Anya? Walau agak aneh," ledeknya menyebalkan seraya membuka pagar.
Aku menarik napas seraya mengelus dada. Mencoba bersikap biasa, walau sedikit emosi.
"Pak, ini untuk Pak Mahnin dari Mamah saya," ujarku to the point ketika pagar sudah terbuka lebar.
Kusodorkan satu susun rantang ke depan Mahnin dan lelaki itu tanpa sungkan langsung menerimanya.
"Buat saya, ini? Ah, luar biasa Mamah kamu baik," imbuhnya tampak bahagia.
"Bukan, bukan buat Pak Mahnin. Tapi buat Tante. Kata Mamah tadi Tante ngirim kue jadi ini balasannya," jelasku sedikit dibumbui kekesalan.
Mahnin melongo mendengar alasanku, mungkin baginya sama saja.
"Mahniin! Ada siapa, Nak?" Tiba-tiba dari dalam rumah muncul sesosok emak-emak dengan memakai dress rumahan.
Mungkinkah itu ibunya? Jika benar, berarti ini kali pertamaku bertemu dengannya. Tak kuduga, ibunya mantanku cantik juga walau umurnya mungkin lebih tua dari Mamah.
Wanita setengah baya itu tersenyum padaku, aku pun membalasnya lebih sopan.
"Ini Bu, dia tetangga depan rumah kita Bu, namanya Anya mau ngasih rantang," jawab Mahnin tanpa mengalihkan pandangan padaku.
"Oh, anaknya Bu Ramlan? Oh, masuk ayo Neng! Mahnin suruh dia masuk, Nak! Ibu baru bikin brownies, nih!" perintah ibunya lagi sambil bergegas masuk ke dalam rumah.
"Mahnin, ayo ajak!"
Mencium hal-hal yang membuat kami akan lebih canggung, sontak saja aku sudah bermaksud ingin menolak tapi Mahnin malah menjawab ibunya kembali.
"Iya, Bu, ayo Nya!" ajak Pak Mahnin lagi. Wajahnya terlihat lebih sumringah dari sebelumnya.
"Eh, kok, enggak usah repot-repot, Pak. Saya mau ke rum--"
"Mahnin! Ayo, suruh ke dalam! Kasian, Anya berdiri di depan pagar!"
Sebelum sempat kuselesaikan ucapanku, ibunya Mahnin lagi-lagi berteriak membuatku terpaksa bungkam.
Baiklah! Aku menyerah. Atas norma kesopanan, sebaiknya memang kuterima tawaran ibunya.
(***)
Aku duduk tegap di atas sofa empuk di hadapan Mahnin dan Bu Tina. Satu pendapatku tentang rumah Mahnin, elegan, rapi dan bersih.
"Maaf, ya, masih berantakan maklum baru pindah," ujar Bu Tina membuka percakapan.
Aku melirik Mahnin yang sejak tadi hanya diam dan pura-pura memeriksa ponselnya.
"Iya, gak apa-apa Bu, sama kok di rumah juga," jawabku kaku.
Ya ampun! Mengobrol seperti ini seolah membuka kembali harapan yang dulu pernah kuinginkan tapi Mahnin yang tak mau.
Sekarang? Dia malah mengundangku ke rumahnya. Sayang, semua sudah terlambat.
"Belum nikah, Nak?"
Mahnin langsung menyenggol ibunya saat bertanya hal sensitif itu padaku. Aku paham, di umurku yang sekarang sudah seharusnya aku berumah tangga. Namun, sepertinya Bu Tina tak menyadari senggolan Mahnin.
"Belum Bu," jawabku jujur.
Dalam hati aku ngedumel. 'Tadinya mau, sama anakmu Bu, tapi dia ingkar! Dia pengkhianat!' batinku meronta sendiri.
Kulirik Mahnin yang juga melirikku. Sial! Kenapa bisa pas gitu?
"Oh, belum ada calonnya atau memang sudah ada tapi belum ke KUA?" tanya Bu Tina lagi polos membuatku hampir saja tersedak brownies.
Aneh, ditanya nikah mendadak lapar.
Kali ini Mahnin seolah ikutan penasaran dengan jawabanku, dia bahkan meletakkan ponselnya seraya melihat lurus.
"Ehm ... belum Bu, mungkin masih otewe," jawabku gugup.
Menerima berondongan pertanyaan seperti ini dari Bu Tina membuatku sadar, kayaknya Bu Tina tidak tahu menahu tentang hubunganku dan anaknya. Seingatku pun, kalau enggak salah dulu Mahnin selalu menghindar kalau berbicara tentang ibunya.
"Oh begitu, ya sudah, ibu doakan semoga segera bertemu ya dengan calon imamnya. Pokoknya jangan kayak Mahnin, dia gagal nikah karena insiden dan gara-gara mengalah sama ...."
"Ibu ... sudah! Jangan mulai lagi," potong Mahnin cepat sebelum ibunya menyelesaikan penjelasan yang penting.
Radarku langsung bereaksi dan melihat Mahnin yang tampak gusar dan gamang.
Aneh, ada apa sebenarnya? Kenapa Bu Tina bilang Mahnin gagal nikah? Memang dia mau nikah sama siapa? Lalu, insiden apa?
Ini, membingungkan!
"Heum ... eh, Nak Anya, maaf ya, ibu suka asal bicara, ayo disantap makanannya," ujar Bu Tina tiba-tiba membuatku sadar sejak tadi kami sudah terlilit canggung.
"Oh, iya Bu," jawabku bingung sambil menyantap brownies lagi pura-pura tak perduli.
Kubiarkan Mahnin yang tiba-tiba meninggalkan kami berdua saja, seolah sengaja ingin menyembunyikan sesuatu.
Ah ....
Aku jadi penasaran. Adakah alasan lain kenapa Mahnin meninggalkanku lima tahun lalu? Tapi apa itu?
(***)
Esok harinya, hari minggu. Waktu libur seperti ini biasanya kugunakan untuk menyapu halaman, bersih-bersih dan sebagainya. Namun, pagi ini agak berbeda.
Ketika aku mau menyapu halaman tiba-tiba kulihat para emak-emak sedang berkumpul di depan rumah Mahnin. Dengan gerak-gerik yang dibuat bak agen 007 aku pun langsung menghambur ke arah kerumunan ibu-ibu yang berjumlah lima orang itu.
Kutolehkan kepala ke kanan dan ke kiri penasaran.
Ada apakah gerangan? Sampai tukang sayur pun ikut parkir di sana.
"Mang, ada apa sih? Kok pada heboh?" tanyaku pada tukang sayur yang di sana mungkin bertugas sebagai pajangan.
"Itu Neng, ada orang ganteng lagi olahraga," jawabnya dengan loga sunda yang kental.
"Siapa?"
"Tuh, Mas Mahnin! Di atas sana! Nah, keliatan, kan?" Tunjuk si Mang Oding ke lantai dua rumah Mahnin dan ....
Ya ampun! Duuh! Lagi apa tuh orang pamer otor di atas sana?
Astaghfirullah enggak ada akhlak!
Mataku membulat sempurna melihat Mahnin yang sedang olahraga angkat beban memunggungi kami di lantai dua di dalam kamarnya.
Aku yakin tuh mantan enggak sadar jadi bahan sasaran mata jelalatan para ibu-ibu di sini, karena jendelanya dia biarkan terbuka begitu saja sementara dia menghadap ke erah berlawanan.
Sebenarnya, aku bimbang ini rezeki apa bukan? Karena, melihat punggung Mahnin yang berotot itu berkeringat membuatku juga tak bisa mengalihkan pandangan.
"Itu lihat, Ceu! Keringatnya banyak!"
"Iya, ya, si kasep teh gagah pisan (banget)," timpal yang lainnya sambil menunjuk ke arah kamar Mahnin. Sementara yang ditunjuk sibuk menggerakkan barbel diiringi lagu Jason Miraz yang sangat keras. Pantas saja dia mendadak tuli.
'Etapi, kalau diliat tubuh Mahnin ada kemajuan. Sekarang dia kayaknya lebih atletis dan eksotis. Eh, sadar Anya! Sadar!'
Aku menepuk berulang kali pipiku yang sempat terpesona.
"Bu, kalau saya masih muda mau da nikah sama dia," kata Bu Kokom tiba-tiba kepada Bu Siti.
"Iya, saya juga atuh hihihi ...," timpal yang lainnya sambil tertawa terbahak.
Sontak mataku beralih ke arah kerumunan mendengar obrolan para ibu.
"Hey, euleuh ... eta si ibu ...."
Aku menggelengkan kepala gemas. Itu ibu-ibu apa lupa sama suami, ya? Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus bertindak.
"Naon (apa) atuh Anya? Emang gak boleh menikmati keindahan?" sewot Jeng Sisri.
"Astagfirullah! Bukan gitu! Ayo pulang! Pulang! Udah jangan di sini! Kasian itu suami dan anak, Bu! Nunggu di rumah," usirku langsung menyeruak di antara kerumunan dan membuat mereka pun berhasil bubar. Walau agak ngedumel, biarin saja.
"Ih, kamu mah gimana sih, ganggu aja!"
"Iya, si Anya mah syirik aja!" Cerocosan mereka tak membuatku gentar untuk menggebah para ibu itu untuk kembali ke habitatnya dan sukses.
Halaman Mahnin pun kembali kosong, damai dan sentosa.
"Alhamdullilah!" Aku menghembuskan napas panjang merasa lega sambil membelakangi rumah Mahnin sekarang aku tinggal melanjutkan acara sapu-sapu lagi. Namun, baru saja satu langkah aku beranjak menuju rumah kurasakan tanganku ditarik seseorang.
"Eits! Mau, ke mana? Ciye, gak ikhlas ya, mantannya jadi tontonan?" tanya lelaki itu sambil mengulum senyum.
"Geer!" semprotku sambil angkat kaki. Meninggalkan si tukang pamer otot yang terbahak, merasa bangga ditonton oleh ibu-ibu.
Dasar enggak ada akhlak!
rinandya dan 9 lainnya memberi reputasi
10