- Beranda
- Stories from the Heart
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
...
TS
meta.morfosis
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
Prolog
“ ya tuhannn…kalau begitu perkataan ambu selama ini benar tang, kejadian menghilangnya ita ini bukanlah sebuah kejadian biasa, bisa jadi sosok wanita tua itu adalah penghuni ghaib di kawasan hutan kecil perbukitan yang merasa enggak suka dengan tingkah laku ita sewaktu ita memasuki kawasan hutan kecil perbukitan….”
“ entahlah mbu, atang jadi bingung di dalam meyikapi kejadian yang menimpa ita ini....karena semakin banyak kejadian aneh yang terjadi di rumah ini....semakin banyak juga terlihat fakta fakta yang saling bertentangan antara kejadian yang satu dengan kejadian lainnya.....”
“ ahhh perkataan kamu itu telalu ribet tang....ambu enggak mengerti dengan maksud perkataan kamu itu....” gerutu ambu seraya memasang ekspresi wajah kebingungannya
“ maksud atang begini mbu, pada awalnya atang menduga kejadian ghaib yang terjadi di rumah kita ini ada hubungannya dengan kejadian menghilangnya ita, tapi dengan semakin banyaknya kejadian ghaib yang terjadi di rumah ini, atang mulai merasa ragu dengan dugaan atang itu....”
Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya, aku hanya bisa terdiam diantara goresan penaku di dalam menuliskan baris demi baris kalimat yang mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga
“ entahlah mbu, atang jadi bingung di dalam meyikapi kejadian yang menimpa ita ini....karena semakin banyak kejadian aneh yang terjadi di rumah ini....semakin banyak juga terlihat fakta fakta yang saling bertentangan antara kejadian yang satu dengan kejadian lainnya.....”
“ ahhh perkataan kamu itu telalu ribet tang....ambu enggak mengerti dengan maksud perkataan kamu itu....” gerutu ambu seraya memasang ekspresi wajah kebingungannya
“ maksud atang begini mbu, pada awalnya atang menduga kejadian ghaib yang terjadi di rumah kita ini ada hubungannya dengan kejadian menghilangnya ita, tapi dengan semakin banyaknya kejadian ghaib yang terjadi di rumah ini, atang mulai merasa ragu dengan dugaan atang itu....”
Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya, aku hanya bisa terdiam diantara goresan penaku di dalam menuliskan baris demi baris kalimat yang mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga
PETAKA – Akhir Sebuah Dendam
@meta.morfosis
@meta.morfosis
Note : cerita ini berjudul awal SANTET - Dendam Berakhir Petaka, berhubung adanya beberapa perubahan mengikuti data penulisan maka judul diubah menjadi PETAKA - Akhir Sebuah Dendam
Chapter :
SANTET - Chapter 1
SANTET - Chapter 2
SANTET - Chapter 3
SANTET - Chapter 4
SANTET - Chapter 5
SANTET - Chapter 6
SANTET - Chapter 7
SANTET - Chapter 8
SANTET - Chapter 9
SANTET - Chapter 10
SANTET - Chapter 11
SANTET - Chapter 12
SANTET - Chapter 13
SANTET - Chapter 14
Diubah oleh meta.morfosis 30-08-2021 10:40
anandaalvi27 dan 63 lainnya memberi reputasi
62
33.1K
160
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#49
Chapter 9
“ untuk sementara waktu ini, ita enggak boleh keluar rumah, abah takut anak ini akan memberi malu pada keluarga kita.....” ujar abah diantara keberadaan abah yang kini tengah berdiri tepat d pintu kamar
“ bah…apa enggak salah abah bicara seperti itu, atang enggak setuju bah….karena atang menganggap, apa yang telah terjadi hari ini, enggak lebih hanyalah akibat dari kondisi kejiwaan ita yang belum stabil setelah kejadian buruk yang dialaminya…tolong abah jangan terlalu berlebihan…”
Ekspresi wajah abah terlihat menampakan rasa ketidaksukaannya atas perkataanku itu, dan ambu yang sudah sangat mengerti akan tabiat abah, mencoba untuk menahanku agar aku tidak berkata kata lebih banyak lagi
“ abah enggak butuh persetujuan kamu tang….selama kalian masih tinggal bersama abah, kalian harus mengikuti aturan yang abah buat….”
“ mengikuti aturan abah….? walaupun aturan abah itu salah…?”
“ tang…!” lerai ambu seraya menghampiri abah, lalu membujuk abah untuk pergi meninggalkan kamar
“ salah...? salah dimana perkataan abah itu tang...? kalau menurut pandangan abah sih tang, ita berlaku seperti itu karena ita memang telah mempunyai potensi kejiwaan yang enggak stabil, dan kejadian menghilangnya ita itu menjadi pencetus ita menjadi seperti sekarang ini.....jadi lebih baik, ita enggak boleh keluar dari rumah, karena abah enggak ingin orang lain mengetahui kondisi ita saat ini..…kamu harus ingat satu hal tang...jangan pernah kalian mempermalukan abah...” ujar abah lalu berlalu pergi bersama ambu
“ ya tuhannn…apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran abah saat ini, kok bisa bisanya abah mempunyai pikiran seperti itu....cepat atau lambat, aku harus mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri ita....”
Tepat pada pukul sembilan pagi, selepas dari kepergian abah meninggalkan rumah, dengan alasan abah yang telah melarang ita untuk keluar dari rumah, ambu memintaku untuk membatalkan keinginanku yang ingin membawa ita ke rumah ibu diswaya dalam rangka pengobatan, dan kini diantara rasa kesal yang aku rasakan akibat dari permintaan ambu tersebut, aku memutuskan untuk membuka warung sembako, hal ini aku lakukan selain aku ingin meredakan rasa kesal yang saat ini aku rasakan, aku juga ingin sedikit membersihkan memori pikiranku ini dari beberapa kejadian ghaib yang telah aku dan ambu alami setelah kejadian menghilangnya ita
“ kang atang…..kok tumben buka warungnya agak siangan…?” tanya seorang ibu warga kampung, yang sepertinya akan menjadi pembeli pertamaku hari ini
“ iya ceu, maklum….di rumah lagi banyak kesibukan….”
Pandanganku kini menatap ke arah pagar bambu yang berada di depan warung, nampak terlihat adanya kerusakan di beberapa bagian ujung pagar berupa patahnya beberapa bilah bambu
“ aneh…kapan patahnya ya…perasaan aku, kemarin itu masih baik baik saja….” gumamku diantara pergerakan ibu warga kampung yang berjalan memasuki warung, untuk sejenak ibu warga kampung tersebut nampak memperhatikan barang barang dagangan yang berada di dalam rak penyimpanan barang, hingga pada akhirnya tatapan matanya kini tertuju pada drum kecil yang berisikan minyak sayur
“ kang atang, saya minta minyak sayurnya satu liter saja ya….”
Mendapati permintaan ibu warga kampung tersebut, aku segera mengambil kantong plastik yang akan aku pergunakan sebagai penampung minyak sayur, dan kini diantara kesibukanku yang tengah memasukan minyak sayur ke dalam kantong plastik, terlihat kedatangan seorang warga kampung lainnya yang bernama mang ayip
“ wah…tumben mang ayip belanjanya pagi…..?” tegurku mengiringi pergerakan langkah kaki mang ayip yang tengah berjalan memasuki warung
“ iya nih kang atang…istri saya di rumah jadi bawel kalau sudah urusan dapur….”
“ yaa…namanya juga ibu ibu kang ayip….kalau sudah urusan dapur sudah pasti paling bawel….” canda ibu warga kampung dan berbalas dengan senyuman mang ayip
“ oh iya kang…bagaimana kondisi ita saat ini…? apakah sudah baikan, maaf ya kang kalau saya belum sempat untuk menjenguknya….”
“ alhamdulillah hari ini ita sudah agak baikan ceu….tapi tetap saja ita masih perlu beristirahat beberapa hari…agar kondisinya bisa cepat pulih kembali…...”
“ memangnya ita sakit apa sih kang....?”
“ hanya kelelahan biasa ceu, kebetulan ita memang mempunyai penyakit darah rendah...jadi kalau ita beraktifitas terlalu banyak, kondisi kesehatannya jadi menurun seperti itu....” jawabku berbohong seraya menyerahkan plastik yang berisikan minyak sayur kepada ibu warga kampung, hingga akhirnya setelah ibu warga kampung tersebut melakukan pembayaran dan beranjak pergi meninggalkan warung, aku segera melayani mang ayip yang saat ini tengah memilih beberapa telur dari peti penyimpanan telur
“ wahh…sepertinya ada yang bakal makan enak nih….”
Sambil tertawa tertawa kecil, mang ayip berjalan menghampiriku dengan turut serta membawa telur yang telah dipilihnya
“ cukup telurnya mang….?”
“ cukup enggak cukup kang atang…. yang penting dapur harus tetap ngebul….” jawab mang ayip sambil menyerahkan lima butir telur yang berada di dalam genggaman tangannya kepadaku, namun kini baru saja aku menerima telur telur tersebut dan hendak memasukannya ke dalam kantong plastik, entah apa yang menjadi penyebabnya, tiba tiba saja, telur telur yang masih berada di dalam genggaman tanganku ini pecah seluruhnya
“ lohh…kok bisa begitu kang atang….”
Dalam ekspresi wajah yang menunjukan rasa ketidakpercayaannya atas apa yang telah terjadi, mang ayip terlihat menutupi hidungnya karena merasa tidak tahan dengan aroma bau busuk yang sepertinya bersumber dari cairan telur yang pada saat ini terlihat jatuh menetes dari telapak tanganku ke arah lantai
“ atang juga enggak tahu mang…kenapa bisa seperti ini ya…”
“ ini aneh tang…..” gumam mang ayip seraya berjalan menuju ke arah peti penyimpanan telur, sebutir telur kini diambilnya dari peti penyimpanan telur
“ telur telur ini masih dalam keadaan baik kang….bahkan yang tadi saya ambil pun masih dalam keadaan baik….tapi kenapa tiba tiba berubah menjadi busuk seperti itu ya….”
Nampak terlihat mang ayip memperlihatkan keberadaan sebutir telur segar yang berada di dalam genggaman tangannya, mendapati hal itu, aku segera berjalan menghampiri mang ayip, untuk memastikan akan kodisi semua telur yang tersimpan di dalam peti penyimpanan telur
“ apakah mungkin ini hanya kebetulan saja, secara enggak sengaja…mang ayip telah mengambil telur yang memang sudah busuk…tapi bagaimana mungkin....kalau hanya sebutir telur mungkin aku percaya…” gumamku dalam hati dengan pandangan menatap ke arah telur telur di dalam peti penyimpanan telur
“ kenapa kang atang…pasti ada yang aneh ya….?”
“ enggak ada yang aneh mang….bisa jadi, ini hanya kebetulan saja…ya sudah…biar telur yang telah mang ayip pilih tadi, atang ganti dengan yang lain….”
Selepas dari perkataanku itu, aku segera mengambil lima butir telur dari dalam peti penyimpanan telur, lalu menaruhnya di dalam kantong plastik
“ ini buktinya enggak ada apa apa mang….percayalah..yang tadi itu hanya kebetulan saja….” ujarku seraya menyerahkan kantong plastik yang telah berisikan telur kepada mang ayip
“ kang atang….sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya bicarakan kepada kang atang….”
“ membicarakan apa mang….?”
Diantara pertanyaanku yang belum terjawab, mang ayip menyerahkan uang pembayaran atas telur yang telah dibelinya
“ semalam itu kang…pada saat saya melewati warung ini, tanpa sengaja, saya mengalami kejadian menyeramkan di warung ini…”
Sia sia, yaa..hanya kata kata itulah yang bisa menggambarkan hasil dari alasanku untuk membuka warung hari ini, dan kini seiring dengan perkataan mang ayip yang mengatakan bahwa dirinya telah mengalami kejadian menyeramkan di warung ini, firasatku langsung mengatakan, bahwa kejadian menyeramkan yang telah dialami oleh mang ayip, kemungkinan besarnya masih terhubung dengan kejadian menghilangnya ita
“ memangnya mang ayip telah mengalami kejadian menyeramkan seperti apa di warung ini…?”
“ kejadian yang sangat menyeramkan kang...duh saya jadi merinding nih….” jawab mang ayip dengan memasang ekspresi wajah yang menunjukan rasa ketidaknyamanannya untuk menceritakan kejadian menyeramkan yang telah dialaminya
“ semalam itu kalau enggak salah sekitar pukul tiga pagi, di saat saya hendak melintasi warung ini, dari kejauhan saya melihat keberadaan seorang wanita tua dengan tubuh yang bungkuk, tengah berjalan hilir mudik di depan warung, pada awalnya saya menduga mungkin wanita tua itu adalah warga kampung lain yang tersasar di kampung ini…..tapi ternyata dugaan saya itu salah kang….”
“ salah….? salah bagaimana mang…?” tanyaku dalam rasa keingintahuanku yang tinggi
“ ya salah kang…salah besar…ternyata sosok wanita tua yang telah saya lihat itu…mirip mirip dengan.....”
“ mirip...mirip dengan siapa mang.....?” tanyaku kembali karena mendapati mang ayip yang menghentikan perkataannya
“ ni riwa....” jawab mang ayip dengan nada suaranya yang datar
“ hahh ni riwa...ni riwa itu siapa mang....?”
Untuk sejenak mang ayip terdiam begitu mendapati pertanyaanku itu, hingga akhirnya setelah keterdiamannya itu, mang ayip mulai menceritakan kepadaku mengenai sosok ni riwa yang ternyata adalah salah satu warga di kampungku ini
“ jadi sampai dengan saat ini, enggak ada satupun warga yang tahu ni riwa menghilang kemana....?”
“ iya kang...andaikan ni riwa itu menikah dan mempunyai anak, mungkin hal itu akan sedikit membantu warga kampung untuk mencari ni riwa, sayangnya ni riwa itu hanyalah seorang nenek tua yang hidup dalam kesendirian tanpa pernah menikah.....”
“ ini benar benar aneh mang....bagaimana mungkin sosok ni riwa yang merupakan seorang nenek tua renta yang telah lama menghilang...bisa terlihat kehadirannya di....”
“ kang tang, enggak usah merasa aneh....saya yakin kang...sosok ni riwa yang telah saya lihat malam itu adalah setan....” ujar mang ayip memotong perkataanku, dan enah mengapa begitu aku mendengar perkataan mang ayip tersebut, pikiranku langsung menghubungkan kejadian yang telah mang ayip alami ini dengan kejadian yang aku alami dimana aku melihat ita berbicara layaknya seorang wanita tua
“ hahh...apa mang ayip yakin...?, memangnya pada saat itu mang ayip berhadapan langsung dengan sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu....?”
“ bukan hanya berhadapan kang…..bahkan saya juga sempat menegurnya ketika sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu tengah berjalan tertatih tatih dengan bantuan tongkat kayunya menuju ke arah samping warung, hanya saja sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu mengacuhkan teguran saya.....”
Diantara perkataannya yang kini terhenti, mang ayip memperlihatkan kepadaku keberadaaan dari bulu halus di tangannya yang meremang
“ ya tuhann…sepertinya sosok wanita tua yang telah dilihat oleh mang ayip, sangatlah memenuhi kriteria dari suara wanita tua yang telah berbicara melalui perantara mulut ita, dan juga suara ketukan kayu pada lantai rumah yang telah aku dengar semalam....gilaa..ini benar benar gila..…” gumamku dalam hati seraya berusaha untuk tidak menunjukan ekspresi wajah yang mencurigakan, namun sepertinya saat ini mang ayip sudah terlanjur menaruh rasa curigannya kepadaku, hal ini ditunjukannya dengan pertanyaan mang ayip yang menanyakan apakah aku pernah juga menjumpai sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu
“ waduh mang…jangan sampai deh atang bertemu dengan yang seperti itu, mendengar cerita mang ayip saja atang sudah takut, apa lagi atang mengalaminya sendiri….” jawabku yang pada akhirnya menghilangkan kecurigaan mang ayip
“ ohh iya mang…tadi itu kan mang ayip mengatakan, bahwa pada saat mang ayip menegur sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu, sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu enggak menggubris perkataan mang ayip dan terus berjalan ke arah samping warung, apakah pada saat itu mang ayip mengikutinya....?”
“ iya kang....dan ketika berada di samping warung itu, pada awalnya wanita tua itu hanya terdiam dengan posisi membelakangi tubuh saya...namun secara tiba tiba wanita tua itu membalikan tubuhnya ke arah saya….jujur saja kang…saat itu saya benar benar merasakan rasa takut yang luar biasa, hingga membuat tubuh saya ini terasa sulit untuk digerakan, beruntungnya tubuh saya ini kembali bisa digerakan seiring dengan lecutan adrenalin yang saya rasakan akibat dari rasa keterkejutan saya setelah melihat sosok wanita tua itu mulai berjalan dengan langkah yang cepat ke arah saya, dan saat itu saya memutuskan untuk berlari tanpa menghiraukan lagi keberadaan pagar bambu yang menghadang laju langkah kaki saya…..”
Mendapati perkataan mang ayip tersebut, secara tidak sengaja, aku kini mendapatkan jawaban atas penyebab dari patahnya beberapa bilah bambu di pagar depan yang berada di depan warung
“ waduh maaf kang atang…. jadi ketahuan dah, kalau saya yang telah merusak pagar bambu itu….saya benar benar minta maaf kang….”
“ ahh mang ayip...enggak apa apa mang…lagi pula kerusakannya itu cuma sedikit kok, mudah untuk diperbaikinya lagi…” ujarku seraya mengembangkan senyum, dan di saat itulah mang ayip memperlihatkan luka pada bagian kakinya yang disebabkan akibat menerjang pagar bambu
“ maaf mang ayip….kalau mang ayip enggak keberatan, bisakah mang ayip menceritakannya secara lebih rinci lagi mengenai bentuk wajah dan juga penampilan dari wanita tua yang menyerupai ni riwa itu…”
“ ya tuhan...wajah dan penampilan wanita tua yang menyerupai ni riwa itu benar benar menyeramkan kang, saya ini sudah beberapa kali menjumpai berbagai bentuk penampakan mahluk ghaib, tapi untuk yang satu ini, entah mengapa saya mempunyai firasat ini bukanlah penampakan ghaib biasa, saya merasa seperti ada sesuatu yang jahat di balik wajah yang dingin dan kelam itu, wajah wanita tua yang menyerupai ni riwa itu tersusun dari kulit tua yang lusuh dan tipis, pada bagian dahi dan dagunya, saya bisa melihat kulitnya yang tipis dan keriput itu membentuk kerutan kasar yang saling berdekatan laksana pahatan kayu, di bagian matanya, kedua bola matanya yang kelam, tersamar diantara lingkaran gelap yang menyelimuti kedua kelopak matanya, sedangkan untuk bagian hidung dan mulutnya, kulit tipis yang menyelimuti bagian hidung, memperlihatkan keberadaan tulang hidungnya yang bisa dikatakan hampir menyatu dengan deretan giginya yang tajam, dan semuanya itu semakin di sempurnakan menjadi bentuk yang menyeramkan dengan keberadaan rambut panjangnya yang terurai secara enggak beraturan…..”
“ ya tuhann…semenyeramkan itu kah mang…”
“ bah…apa enggak salah abah bicara seperti itu, atang enggak setuju bah….karena atang menganggap, apa yang telah terjadi hari ini, enggak lebih hanyalah akibat dari kondisi kejiwaan ita yang belum stabil setelah kejadian buruk yang dialaminya…tolong abah jangan terlalu berlebihan…”
Ekspresi wajah abah terlihat menampakan rasa ketidaksukaannya atas perkataanku itu, dan ambu yang sudah sangat mengerti akan tabiat abah, mencoba untuk menahanku agar aku tidak berkata kata lebih banyak lagi
“ abah enggak butuh persetujuan kamu tang….selama kalian masih tinggal bersama abah, kalian harus mengikuti aturan yang abah buat….”
“ mengikuti aturan abah….? walaupun aturan abah itu salah…?”
“ tang…!” lerai ambu seraya menghampiri abah, lalu membujuk abah untuk pergi meninggalkan kamar
“ salah...? salah dimana perkataan abah itu tang...? kalau menurut pandangan abah sih tang, ita berlaku seperti itu karena ita memang telah mempunyai potensi kejiwaan yang enggak stabil, dan kejadian menghilangnya ita itu menjadi pencetus ita menjadi seperti sekarang ini.....jadi lebih baik, ita enggak boleh keluar dari rumah, karena abah enggak ingin orang lain mengetahui kondisi ita saat ini..…kamu harus ingat satu hal tang...jangan pernah kalian mempermalukan abah...” ujar abah lalu berlalu pergi bersama ambu
“ ya tuhannn…apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran abah saat ini, kok bisa bisanya abah mempunyai pikiran seperti itu....cepat atau lambat, aku harus mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri ita....”
Tepat pada pukul sembilan pagi, selepas dari kepergian abah meninggalkan rumah, dengan alasan abah yang telah melarang ita untuk keluar dari rumah, ambu memintaku untuk membatalkan keinginanku yang ingin membawa ita ke rumah ibu diswaya dalam rangka pengobatan, dan kini diantara rasa kesal yang aku rasakan akibat dari permintaan ambu tersebut, aku memutuskan untuk membuka warung sembako, hal ini aku lakukan selain aku ingin meredakan rasa kesal yang saat ini aku rasakan, aku juga ingin sedikit membersihkan memori pikiranku ini dari beberapa kejadian ghaib yang telah aku dan ambu alami setelah kejadian menghilangnya ita
“ kang atang…..kok tumben buka warungnya agak siangan…?” tanya seorang ibu warga kampung, yang sepertinya akan menjadi pembeli pertamaku hari ini
“ iya ceu, maklum….di rumah lagi banyak kesibukan….”
Pandanganku kini menatap ke arah pagar bambu yang berada di depan warung, nampak terlihat adanya kerusakan di beberapa bagian ujung pagar berupa patahnya beberapa bilah bambu
“ aneh…kapan patahnya ya…perasaan aku, kemarin itu masih baik baik saja….” gumamku diantara pergerakan ibu warga kampung yang berjalan memasuki warung, untuk sejenak ibu warga kampung tersebut nampak memperhatikan barang barang dagangan yang berada di dalam rak penyimpanan barang, hingga pada akhirnya tatapan matanya kini tertuju pada drum kecil yang berisikan minyak sayur
“ kang atang, saya minta minyak sayurnya satu liter saja ya….”
Mendapati permintaan ibu warga kampung tersebut, aku segera mengambil kantong plastik yang akan aku pergunakan sebagai penampung minyak sayur, dan kini diantara kesibukanku yang tengah memasukan minyak sayur ke dalam kantong plastik, terlihat kedatangan seorang warga kampung lainnya yang bernama mang ayip
“ wah…tumben mang ayip belanjanya pagi…..?” tegurku mengiringi pergerakan langkah kaki mang ayip yang tengah berjalan memasuki warung
“ iya nih kang atang…istri saya di rumah jadi bawel kalau sudah urusan dapur….”
“ yaa…namanya juga ibu ibu kang ayip….kalau sudah urusan dapur sudah pasti paling bawel….” canda ibu warga kampung dan berbalas dengan senyuman mang ayip
“ oh iya kang…bagaimana kondisi ita saat ini…? apakah sudah baikan, maaf ya kang kalau saya belum sempat untuk menjenguknya….”
“ alhamdulillah hari ini ita sudah agak baikan ceu….tapi tetap saja ita masih perlu beristirahat beberapa hari…agar kondisinya bisa cepat pulih kembali…...”
“ memangnya ita sakit apa sih kang....?”
“ hanya kelelahan biasa ceu, kebetulan ita memang mempunyai penyakit darah rendah...jadi kalau ita beraktifitas terlalu banyak, kondisi kesehatannya jadi menurun seperti itu....” jawabku berbohong seraya menyerahkan plastik yang berisikan minyak sayur kepada ibu warga kampung, hingga akhirnya setelah ibu warga kampung tersebut melakukan pembayaran dan beranjak pergi meninggalkan warung, aku segera melayani mang ayip yang saat ini tengah memilih beberapa telur dari peti penyimpanan telur
“ wahh…sepertinya ada yang bakal makan enak nih….”
Sambil tertawa tertawa kecil, mang ayip berjalan menghampiriku dengan turut serta membawa telur yang telah dipilihnya
“ cukup telurnya mang….?”
“ cukup enggak cukup kang atang…. yang penting dapur harus tetap ngebul….” jawab mang ayip sambil menyerahkan lima butir telur yang berada di dalam genggaman tangannya kepadaku, namun kini baru saja aku menerima telur telur tersebut dan hendak memasukannya ke dalam kantong plastik, entah apa yang menjadi penyebabnya, tiba tiba saja, telur telur yang masih berada di dalam genggaman tanganku ini pecah seluruhnya
“ lohh…kok bisa begitu kang atang….”
Dalam ekspresi wajah yang menunjukan rasa ketidakpercayaannya atas apa yang telah terjadi, mang ayip terlihat menutupi hidungnya karena merasa tidak tahan dengan aroma bau busuk yang sepertinya bersumber dari cairan telur yang pada saat ini terlihat jatuh menetes dari telapak tanganku ke arah lantai
“ atang juga enggak tahu mang…kenapa bisa seperti ini ya…”
“ ini aneh tang…..” gumam mang ayip seraya berjalan menuju ke arah peti penyimpanan telur, sebutir telur kini diambilnya dari peti penyimpanan telur
“ telur telur ini masih dalam keadaan baik kang….bahkan yang tadi saya ambil pun masih dalam keadaan baik….tapi kenapa tiba tiba berubah menjadi busuk seperti itu ya….”
Nampak terlihat mang ayip memperlihatkan keberadaan sebutir telur segar yang berada di dalam genggaman tangannya, mendapati hal itu, aku segera berjalan menghampiri mang ayip, untuk memastikan akan kodisi semua telur yang tersimpan di dalam peti penyimpanan telur
“ apakah mungkin ini hanya kebetulan saja, secara enggak sengaja…mang ayip telah mengambil telur yang memang sudah busuk…tapi bagaimana mungkin....kalau hanya sebutir telur mungkin aku percaya…” gumamku dalam hati dengan pandangan menatap ke arah telur telur di dalam peti penyimpanan telur
“ kenapa kang atang…pasti ada yang aneh ya….?”
“ enggak ada yang aneh mang….bisa jadi, ini hanya kebetulan saja…ya sudah…biar telur yang telah mang ayip pilih tadi, atang ganti dengan yang lain….”
Selepas dari perkataanku itu, aku segera mengambil lima butir telur dari dalam peti penyimpanan telur, lalu menaruhnya di dalam kantong plastik
“ ini buktinya enggak ada apa apa mang….percayalah..yang tadi itu hanya kebetulan saja….” ujarku seraya menyerahkan kantong plastik yang telah berisikan telur kepada mang ayip
“ kang atang….sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya bicarakan kepada kang atang….”
“ membicarakan apa mang….?”
Diantara pertanyaanku yang belum terjawab, mang ayip menyerahkan uang pembayaran atas telur yang telah dibelinya
“ semalam itu kang…pada saat saya melewati warung ini, tanpa sengaja, saya mengalami kejadian menyeramkan di warung ini…”
Sia sia, yaa..hanya kata kata itulah yang bisa menggambarkan hasil dari alasanku untuk membuka warung hari ini, dan kini seiring dengan perkataan mang ayip yang mengatakan bahwa dirinya telah mengalami kejadian menyeramkan di warung ini, firasatku langsung mengatakan, bahwa kejadian menyeramkan yang telah dialami oleh mang ayip, kemungkinan besarnya masih terhubung dengan kejadian menghilangnya ita
“ memangnya mang ayip telah mengalami kejadian menyeramkan seperti apa di warung ini…?”
“ kejadian yang sangat menyeramkan kang...duh saya jadi merinding nih….” jawab mang ayip dengan memasang ekspresi wajah yang menunjukan rasa ketidaknyamanannya untuk menceritakan kejadian menyeramkan yang telah dialaminya
“ semalam itu kalau enggak salah sekitar pukul tiga pagi, di saat saya hendak melintasi warung ini, dari kejauhan saya melihat keberadaan seorang wanita tua dengan tubuh yang bungkuk, tengah berjalan hilir mudik di depan warung, pada awalnya saya menduga mungkin wanita tua itu adalah warga kampung lain yang tersasar di kampung ini…..tapi ternyata dugaan saya itu salah kang….”
“ salah….? salah bagaimana mang…?” tanyaku dalam rasa keingintahuanku yang tinggi
“ ya salah kang…salah besar…ternyata sosok wanita tua yang telah saya lihat itu…mirip mirip dengan.....”
“ mirip...mirip dengan siapa mang.....?” tanyaku kembali karena mendapati mang ayip yang menghentikan perkataannya
“ ni riwa....” jawab mang ayip dengan nada suaranya yang datar
“ hahh ni riwa...ni riwa itu siapa mang....?”
Untuk sejenak mang ayip terdiam begitu mendapati pertanyaanku itu, hingga akhirnya setelah keterdiamannya itu, mang ayip mulai menceritakan kepadaku mengenai sosok ni riwa yang ternyata adalah salah satu warga di kampungku ini
“ jadi sampai dengan saat ini, enggak ada satupun warga yang tahu ni riwa menghilang kemana....?”
“ iya kang...andaikan ni riwa itu menikah dan mempunyai anak, mungkin hal itu akan sedikit membantu warga kampung untuk mencari ni riwa, sayangnya ni riwa itu hanyalah seorang nenek tua yang hidup dalam kesendirian tanpa pernah menikah.....”
“ ini benar benar aneh mang....bagaimana mungkin sosok ni riwa yang merupakan seorang nenek tua renta yang telah lama menghilang...bisa terlihat kehadirannya di....”
“ kang tang, enggak usah merasa aneh....saya yakin kang...sosok ni riwa yang telah saya lihat malam itu adalah setan....” ujar mang ayip memotong perkataanku, dan enah mengapa begitu aku mendengar perkataan mang ayip tersebut, pikiranku langsung menghubungkan kejadian yang telah mang ayip alami ini dengan kejadian yang aku alami dimana aku melihat ita berbicara layaknya seorang wanita tua
“ hahh...apa mang ayip yakin...?, memangnya pada saat itu mang ayip berhadapan langsung dengan sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu....?”
“ bukan hanya berhadapan kang…..bahkan saya juga sempat menegurnya ketika sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu tengah berjalan tertatih tatih dengan bantuan tongkat kayunya menuju ke arah samping warung, hanya saja sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu mengacuhkan teguran saya.....”
Diantara perkataannya yang kini terhenti, mang ayip memperlihatkan kepadaku keberadaaan dari bulu halus di tangannya yang meremang
“ ya tuhann…sepertinya sosok wanita tua yang telah dilihat oleh mang ayip, sangatlah memenuhi kriteria dari suara wanita tua yang telah berbicara melalui perantara mulut ita, dan juga suara ketukan kayu pada lantai rumah yang telah aku dengar semalam....gilaa..ini benar benar gila..…” gumamku dalam hati seraya berusaha untuk tidak menunjukan ekspresi wajah yang mencurigakan, namun sepertinya saat ini mang ayip sudah terlanjur menaruh rasa curigannya kepadaku, hal ini ditunjukannya dengan pertanyaan mang ayip yang menanyakan apakah aku pernah juga menjumpai sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu
“ waduh mang…jangan sampai deh atang bertemu dengan yang seperti itu, mendengar cerita mang ayip saja atang sudah takut, apa lagi atang mengalaminya sendiri….” jawabku yang pada akhirnya menghilangkan kecurigaan mang ayip
“ ohh iya mang…tadi itu kan mang ayip mengatakan, bahwa pada saat mang ayip menegur sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu, sosok wanita tua yang menyerupai ni riwa itu enggak menggubris perkataan mang ayip dan terus berjalan ke arah samping warung, apakah pada saat itu mang ayip mengikutinya....?”
“ iya kang....dan ketika berada di samping warung itu, pada awalnya wanita tua itu hanya terdiam dengan posisi membelakangi tubuh saya...namun secara tiba tiba wanita tua itu membalikan tubuhnya ke arah saya….jujur saja kang…saat itu saya benar benar merasakan rasa takut yang luar biasa, hingga membuat tubuh saya ini terasa sulit untuk digerakan, beruntungnya tubuh saya ini kembali bisa digerakan seiring dengan lecutan adrenalin yang saya rasakan akibat dari rasa keterkejutan saya setelah melihat sosok wanita tua itu mulai berjalan dengan langkah yang cepat ke arah saya, dan saat itu saya memutuskan untuk berlari tanpa menghiraukan lagi keberadaan pagar bambu yang menghadang laju langkah kaki saya…..”
Mendapati perkataan mang ayip tersebut, secara tidak sengaja, aku kini mendapatkan jawaban atas penyebab dari patahnya beberapa bilah bambu di pagar depan yang berada di depan warung
“ waduh maaf kang atang…. jadi ketahuan dah, kalau saya yang telah merusak pagar bambu itu….saya benar benar minta maaf kang….”
“ ahh mang ayip...enggak apa apa mang…lagi pula kerusakannya itu cuma sedikit kok, mudah untuk diperbaikinya lagi…” ujarku seraya mengembangkan senyum, dan di saat itulah mang ayip memperlihatkan luka pada bagian kakinya yang disebabkan akibat menerjang pagar bambu
“ maaf mang ayip….kalau mang ayip enggak keberatan, bisakah mang ayip menceritakannya secara lebih rinci lagi mengenai bentuk wajah dan juga penampilan dari wanita tua yang menyerupai ni riwa itu…”
“ ya tuhan...wajah dan penampilan wanita tua yang menyerupai ni riwa itu benar benar menyeramkan kang, saya ini sudah beberapa kali menjumpai berbagai bentuk penampakan mahluk ghaib, tapi untuk yang satu ini, entah mengapa saya mempunyai firasat ini bukanlah penampakan ghaib biasa, saya merasa seperti ada sesuatu yang jahat di balik wajah yang dingin dan kelam itu, wajah wanita tua yang menyerupai ni riwa itu tersusun dari kulit tua yang lusuh dan tipis, pada bagian dahi dan dagunya, saya bisa melihat kulitnya yang tipis dan keriput itu membentuk kerutan kasar yang saling berdekatan laksana pahatan kayu, di bagian matanya, kedua bola matanya yang kelam, tersamar diantara lingkaran gelap yang menyelimuti kedua kelopak matanya, sedangkan untuk bagian hidung dan mulutnya, kulit tipis yang menyelimuti bagian hidung, memperlihatkan keberadaan tulang hidungnya yang bisa dikatakan hampir menyatu dengan deretan giginya yang tajam, dan semuanya itu semakin di sempurnakan menjadi bentuk yang menyeramkan dengan keberadaan rambut panjangnya yang terurai secara enggak beraturan…..”
“ ya tuhann…semenyeramkan itu kah mang…”
Diubah oleh meta.morfosis 30-08-2021 10:48
sekarpuspita531 dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup