- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
198.8K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#653
Part 81 - Unclick
Setelah melihat sesuatu yang seharusnya gak gue lihat, entah perasaan apa yang sedang gue rasain sekarang. Mau marah, gue ga tau harus marah karena apa. Mau cemburu, gue juga biasa aja,gue juga bukan siapa-siapanya dia, malah lebih ga enak liat Putri sama cowoknya kemarin. Mau senang, senang karena apa? Ga ada satu hal pun yang ngebuat gue senang dari peristiwa tersebut.
Seandainya gue ga melihat Manda kemari jalan berdua dengan cowok lain, sepertinya gue ga akan merasakan hal-hal seperti itu. Misalnya, sekampret-kampretnya momen kalau tiba-tiba Manda ngecat gue dengan bilang ‘jangan ngechat gue lagi yaa Tre, gue udah punya pacar,’ sepertinya gue akan lebih bisa nerima. Atau kalau misalkan gue ngerasa ga terima dan marah pun gue masih punya alasan yang jelas, menurut gue.
Tapi posisi gue sekarang ini, sama seperti dengan posisi si cowok yang kemarin jalan sama Manda, atau mungkin beberapa cowok lain yang gue ga tau. Ga ada yang salah menurut gue, cuman temen kan.Dan semua perasaan yang gue saat ini rasakan sangat tidak beralasan menurut gue, dan membuat gue gak tau apa yang harus gue lakukan.
“Tinggal pdkt lebih serius lagi kan, ajak ketemuan lebih intens, kejar orangnya kalau lo beneran sayang.” Pasti akan ada banyak orang, atau cowok yang akan beranggapan seperti itu jika berada di posisi yang sama. Sayangnya, gue bukan orang yang se-ambisius itu, gue terlalu banyak berekspektasi dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Atau kalau bahasa yang lebih dimengertinya, gue terlalu pengecut.
Kasih gue alasan yang konkrit kenapa gue harus mengejar mengejar Manda, seolah-olah dia adalah tujuan hidup gue. Pdkt lebih serius, dari awal intensi gue adalah berkenalan dengan Manda, dan itu didasarkan atas rasa penasaran. Kalau dipikir-pikir, selama ini gue ga pernah melakukan ‘pdkt’ secara proper, gue ga pernah merasakan melakukan sebuah ‘pengorbanan’ seperti cerita cinta kebanyakan orang mengejar pujaan hatinya. Ajak ketemuan lebih intens, hampir seminggu sekali sejak gue nginep di rumah Manda gue selalu ketemu sama dia, entah kenapa gue ga rela ada mengurangi waktu bermain gue dengan teman-teman gue yang ga seberapa banyak. Bros before hoes? fomo? gue ga tau. Kejar orangnya kalau beneran sayang, jir, ga mudah buat gue untuk suka sama seseorang. Butuh pertemuan lebih dari seminggu sekali buat gue merasakan suka, mungkin bisa berpikiran seperti itu, tapi gue yang ketemu Cindy setiap hari dan dibecandain sama temen-temen gue pu juga masih biasa aja. Seperti saklar lampu otomatis, perasaan tertarik gue terhadap seseorang segampang menyalakan saklar lampu otomatis ketika gue memang membutuhkan. Tinggal sekali click.
Kurang lebihnya seperti itu lah ekspektasi-ekspektasi atau pemikiran bodoh gue. Sepertinya buat ukuran anak sma gue terlalu banyak pikiran, wkwkwk.
Masalahnya gue dan Manda masih saling ngobrol di bbm, masih chat-chatan seolah ga terjadi apa-apa, atau lebih tepatnya gue yang masih ngechat dia duluan sama seperti sebelum-sebelumnya. Balasan yang diberikan oleh Manda pun masih sama seperti sebelumnya, seolah ga terjadi apa-apa. Yang memang sebenarnya tidak terjadi apa-apa.
Tapi entah kenapa saat gue ngobrol sama Manda melalui chat gue merasa capek, gue merasa lelah kayak gue harus berpikir banyak buat ngebuat percakapan ini terus berjalan. Padahal sebelumnya gue merasa setiap kali ngobrol sama Manda di chat mengalir begitu aja, tanpa gue harus berpikir repot-repot harus membalas apa supaya percakapan kita terus berjalan. Gue ngerasa butuh effort lebih buat ngobrol sama Manda.
Gue masih menyangkal semua perasaan gue sebelumnya. Bentar, kalau ada yang nanya perasaan yang gue maksud itu seperti apa, gue juga ga bisa buat jelasinnya. Denial. Ga tau juga. Gue mencoba buat memaksakan perasaan yang gue sendiri tidak mengerti.
Akhirnya gue mencoba buat ngajak Manda jalan lagi malam minggu nanti. Gak tau juga kenapa gue masih bisa ngajak Manda jalan, tanpa alasan dan tujuan yang pasti, seolah-olah gue ingin memastikan sesuatu, tapi gue juga gak tau apa itu. Gue cuma ngajak cabut dan Manda mengiyakan.
Di hari yang sudah gue janjikan sebelumnya, gue sudah bersiap-siap buat menjemput Manda. Sore hari, gue sedang bercermin memandang diri gue sendiri di sebelah sana. Biasanya gue akan meyakinkan diri kalau pakaian yang gue pakai cocok buat jalan, atau bahasa yang gue sering gunakan adalah meyakinkan diri kalau gue udah ‘ganteng’, hahaha. Padahal mah yaaa pakaian yang gue pake warnanya item-item juga.
Tapi yang gue rasakan hari ini berbeda. Otak gue ngeblank, kayak anak yang lagi ujian tapi belum belajar. Otak gue benar-benar tidak memikirkan apa pun yang tentu. Hanya berdiri di depan cermin sambil memandangi diri gue sendiri. Akhirnya gue baru berangkat saat Manda minta dikabari kalau gue udah berangkat biar dia bisa siap-siap. Gue pun membalasnya dengan mengatakan otw.
Ada hal lain lagi yang baru gue sadari saat gue jalan sama Manda, setiap kali gue jalan Manda gue melakukannya seperti sebuah ritual yang harus gue ‘ikutin’ tata caranya. Pertama gue bersiap-siap, kemudian Mada akan ngechat ‘kabarin kalau udah jalan’ lalu gue balas ‘otw’. Lalu gue berangkat untuk ngejemput Manda. Tujuan kita hampir pasti sama, selalu ke pim. Di pim kegiatan gue dan Manda juga cuman gitu-gitu aja, nonton, liat-liat barang, makan, terus nongkrong di area 51. Malemanya baru kita pindah entah sekedar makan lagi di gultik atau kalau lagi pingin pulang malem pindah ke bar buat sekedar ngebeer.
Ketika gue memikirkan hal itu lagi gue jadi merasa sangat capek, jadi ada rasa penyesalan kenapa gue harus ngajak manda cabut. Tapi gue udah janji, dan juga gue udah di jalan. Kalau mau batalin juga alasannya apa, gue males buat ngebohong, jadi lah gue tetap paksakan buat bertemu Manda hari ini entah apa pun akibatnya.
Saat gue menjemput Manda di depan rumahnya, bagi gue dia terlihat seperti biasa ketika bertemu dengan gue, atau memang standarnya bertemu dengan orang lain. Ga ada sama sekali indikasi kebosanan atau risih kalau gue ajak jalan atau ketemu sama gue.
Sampai di pim kita berdua langsung jalan bersama buat sekedar muter-muter. Manda juga masih jalan di sebelah gue, tepat di sebelah gue seperti ga ada jarak. Sikap Manda juga masih seperti biasa saat bertemu dengan gue, malah dia yang lebih sering ngajak ngobrol sementara gue hanya menimpali. Sesekali, gue dan Manda berpapasan dengan temannya yang gue gak tau siapa. Setiap gue tanya siapa Manda selalu ngejawab temannya. Atau bahkan dia malah jujur kalau yang ketemu tadi adalah mantan atau seseorang yang pernah mencoba berusaha dekat dengannya.
Harusnya gue merasa senang dan tenang karena kemungkinan besar orang yang gue lihat kemarin juga adalah temannya Manda. Tetapi gue merasa jengah dan lelah tanpa alasan yang jelas. Kalau di film-film drama mungkin gue bakal kabur pulang kerumah dan ga bakalan mau ketemu sama orang lain selama sebulan lebih karena lelah dengan interaksi sosial. Wkwkwk lebay.
Capek dengan muter-muter pim dan lagi ga ada film yang bagus, kita memutuskan buat duduk-duduk di area 51. langit baru saja berubah menjadi gelap ketika mendapatkan tempat duduk setelah sebelumnya kita mengantri untuk beli makanan ringan dan minuman. Hari yang berubah menjadi malam dan cuaca yang cerah sedikit menenangkan hati gue. Sedikit lagi Tre, sedikit lagi bisa pulang. Kata gue untuk diri sendiri dari dalam hati.
Kita berdua ngobrol ngalor ngidul, bicara kesana kemari, atau bisa dibilang Manda yang lebih banyak bicara dan gue menjadi bagian yang mendengarkan dan menimpali. Pingin banget gue ngomong dan nanya ‘Kemarin lo jalan sama siapa Man? kebetulan gue liat lo pas lagi jalan sama anak-anak di sini’. Tapi lidah gue terlalu kaku buat sekedar menanyakan hal tersebut.
Apa yang kira-kira kalian lakukan saat berada di posisi seperti gue, mungkin akan dengan mudahnya menanyakan hal tersebut. Terus berharap Manda bilang ‘Ohya, gue jalan sama temen gue, emang kenapa Tre?’ dengan muka memelas dan merasa bersalah. Terus kalian menanyakan kejelasan hubungan kalian yang membuat suasana menjadi awkward, kemudian diakhiri dengan mengutarakan perasaan sambil berharap perempuan yang ada di depan kalian memiliki perasaan yang sama. Sementara yag gue bisa lakukan hanyalah diam.
“Lo kenapa Tre? Kok kaya lagi banyak pikiran gitu, dari tadi diem terus.” Tiba-tiba Manda menanyakan hal tersebut.
“Hah, masa sih, gue biasa aja kok.” jawab gue.
Manda menatap gue dengan tatapan menyelidik, sepertinya dia tau kalau gue menyembunyikan sesuatu. “Serius Tre, lo keliatan banget kalau mikirin sesuatu.”
Gue terdiam sejenak, mencari-cari jawaban apa yang akan gue berikan. “Hahaha……..” Gue cuman bisa tertawa bodoh.
“Cerita aja kali Tre kalau emang ada yang mau diceritain.”
Andai bisa segampang itu buat dilakukan. “Iya nih, kemarin abis ngebahas kira-kira pada mau lanjut kemana setelah lulus. Gue jadi kepikiran kalau gue sama sekali ga mikirin kayak gituan.” Jawab gue bohong. Padahal tadi gue bilang ga suka bohong yak, wkwkwk.
“Hahaha, santai aja kali Tre, masih kelas sebelas ini.” jawab Manda santai, sementara gue hanya tersenyum. “Tapi kalau emang lo bingung mau lanjut kemana, pikirin aja dulu apa yang lo suka selama ini, jangan terlalu pikirin kata orang ‘jurusan ini banyak peluang kerjanya’ tapi lo sendiri ga suka, daripada makan hati sendiri.”
“Gitu yaaa…..” akhirnya kita pun membicarakan keinginan kita setelah lulus sekolah, dan kira-kira apa yang kita suka biar beban yang kita rasakan sedikit lebih ringan ketika menjalankannya.
Ketika malam semakin larut kita memutuskan untuk pulang, ga pindah kemana-mana lagi. Gue mengantarkan manda sampai depan rumahnya, dan gue pun segera bergegas pulang dengan perasaan lega yang sangat luar biasa. Lega bukan karena gue sudah menemukan apa yang gue inginkan dari apa yang gue rasakan, tetapi lega karena gue bisa keluar dari keadaan yang sangat menyesakkan buat gue. Tiba di rumah gue langsung mengabari Manda dan sekedar ngobrol seadaya untuk beberapa saat.
Tadinya, setelah gue bertemu dengan Manda lagi gue jadi tau apa yang gue inginkan sebenarnya, tapi yang ada gue makin bingung dengan apa yang gue mau. Gue merasa capek, lelah, jenuh, and whatever you put label on it.
Keesokan hari nya gue memutuskan buat ga ngecat manda untuk beberapa hari. Dan hasilnya gue merasa nyaman. Gue merasa ga harus berpikir apa pun untuk membuat percakapan untuk tetap berjalan, gue bisa lebih fokus dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan teman-teman gue, keuangan gue pun jadi lebih hemat. Perasaan lelah dan capek pun perlahan menghilang.
Gue berpikir, kalau seandainya memang menginginkan dan membutuhkan gue, dia pasti akan menghubungi gue lagi. Kalau enggak pun gue tidak mempermasalahkan hal itu. Seminggu, dua minggu berlalu tanpa percakapan yang terjadi antara gue dan Manda, dan gue mulai terbiasa. Dibanding disebut mulai terbiasa, gue bisa bilang memang seperti ini yang gue rasakan setiap harinya sebelum kenal manda.
Hampir sebulan berlalu, saat gue sedang iseng melihat-lihat tl, gue melihat Manda memasang status nama seorang cowok yang gue ga kenal. Mungkin cowok yang waktu itu gue lihat jalan sama dia, bisa juga bukan.
Mungkin sama seperti ketika Putri jadian sama cowoknya, tetapi yang gue rasakan saat ini sama sekali berbeda waktu Putri jadian. Saat gue tahu Manda jadian dengan seseorang, ada perasaan lega dimana gue ga harus berhubungan lagi sama dia, gue ga harus merasakan capek dan effort untuk membuat chat kita terus berjalan.
Ibaratnya kalau saklar lampu otomatis, saklar lampu tersebut tiba-tiba aja membuat lampu yang sebelumya menyala menjadi padam. Click, ketertarikan gue terhadap manda tiba-tiba aja sirna.
Setelah melihat sesuatu yang seharusnya gak gue lihat, entah perasaan apa yang sedang gue rasain sekarang. Mau marah, gue ga tau harus marah karena apa. Mau cemburu, gue juga biasa aja,gue juga bukan siapa-siapanya dia, malah lebih ga enak liat Putri sama cowoknya kemarin. Mau senang, senang karena apa? Ga ada satu hal pun yang ngebuat gue senang dari peristiwa tersebut.
Seandainya gue ga melihat Manda kemari jalan berdua dengan cowok lain, sepertinya gue ga akan merasakan hal-hal seperti itu. Misalnya, sekampret-kampretnya momen kalau tiba-tiba Manda ngecat gue dengan bilang ‘jangan ngechat gue lagi yaa Tre, gue udah punya pacar,’ sepertinya gue akan lebih bisa nerima. Atau kalau misalkan gue ngerasa ga terima dan marah pun gue masih punya alasan yang jelas, menurut gue.
Tapi posisi gue sekarang ini, sama seperti dengan posisi si cowok yang kemarin jalan sama Manda, atau mungkin beberapa cowok lain yang gue ga tau. Ga ada yang salah menurut gue, cuman temen kan.Dan semua perasaan yang gue saat ini rasakan sangat tidak beralasan menurut gue, dan membuat gue gak tau apa yang harus gue lakukan.
“Tinggal pdkt lebih serius lagi kan, ajak ketemuan lebih intens, kejar orangnya kalau lo beneran sayang.” Pasti akan ada banyak orang, atau cowok yang akan beranggapan seperti itu jika berada di posisi yang sama. Sayangnya, gue bukan orang yang se-ambisius itu, gue terlalu banyak berekspektasi dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Atau kalau bahasa yang lebih dimengertinya, gue terlalu pengecut.
Kasih gue alasan yang konkrit kenapa gue harus mengejar mengejar Manda, seolah-olah dia adalah tujuan hidup gue. Pdkt lebih serius, dari awal intensi gue adalah berkenalan dengan Manda, dan itu didasarkan atas rasa penasaran. Kalau dipikir-pikir, selama ini gue ga pernah melakukan ‘pdkt’ secara proper, gue ga pernah merasakan melakukan sebuah ‘pengorbanan’ seperti cerita cinta kebanyakan orang mengejar pujaan hatinya. Ajak ketemuan lebih intens, hampir seminggu sekali sejak gue nginep di rumah Manda gue selalu ketemu sama dia, entah kenapa gue ga rela ada mengurangi waktu bermain gue dengan teman-teman gue yang ga seberapa banyak. Bros before hoes? fomo? gue ga tau. Kejar orangnya kalau beneran sayang, jir, ga mudah buat gue untuk suka sama seseorang. Butuh pertemuan lebih dari seminggu sekali buat gue merasakan suka, mungkin bisa berpikiran seperti itu, tapi gue yang ketemu Cindy setiap hari dan dibecandain sama temen-temen gue pu juga masih biasa aja. Seperti saklar lampu otomatis, perasaan tertarik gue terhadap seseorang segampang menyalakan saklar lampu otomatis ketika gue memang membutuhkan. Tinggal sekali click.
Kurang lebihnya seperti itu lah ekspektasi-ekspektasi atau pemikiran bodoh gue. Sepertinya buat ukuran anak sma gue terlalu banyak pikiran, wkwkwk.
Masalahnya gue dan Manda masih saling ngobrol di bbm, masih chat-chatan seolah ga terjadi apa-apa, atau lebih tepatnya gue yang masih ngechat dia duluan sama seperti sebelum-sebelumnya. Balasan yang diberikan oleh Manda pun masih sama seperti sebelumnya, seolah ga terjadi apa-apa. Yang memang sebenarnya tidak terjadi apa-apa.
Tapi entah kenapa saat gue ngobrol sama Manda melalui chat gue merasa capek, gue merasa lelah kayak gue harus berpikir banyak buat ngebuat percakapan ini terus berjalan. Padahal sebelumnya gue merasa setiap kali ngobrol sama Manda di chat mengalir begitu aja, tanpa gue harus berpikir repot-repot harus membalas apa supaya percakapan kita terus berjalan. Gue ngerasa butuh effort lebih buat ngobrol sama Manda.
Gue masih menyangkal semua perasaan gue sebelumnya. Bentar, kalau ada yang nanya perasaan yang gue maksud itu seperti apa, gue juga ga bisa buat jelasinnya. Denial. Ga tau juga. Gue mencoba buat memaksakan perasaan yang gue sendiri tidak mengerti.
Akhirnya gue mencoba buat ngajak Manda jalan lagi malam minggu nanti. Gak tau juga kenapa gue masih bisa ngajak Manda jalan, tanpa alasan dan tujuan yang pasti, seolah-olah gue ingin memastikan sesuatu, tapi gue juga gak tau apa itu. Gue cuma ngajak cabut dan Manda mengiyakan.
Di hari yang sudah gue janjikan sebelumnya, gue sudah bersiap-siap buat menjemput Manda. Sore hari, gue sedang bercermin memandang diri gue sendiri di sebelah sana. Biasanya gue akan meyakinkan diri kalau pakaian yang gue pakai cocok buat jalan, atau bahasa yang gue sering gunakan adalah meyakinkan diri kalau gue udah ‘ganteng’, hahaha. Padahal mah yaaa pakaian yang gue pake warnanya item-item juga.
Tapi yang gue rasakan hari ini berbeda. Otak gue ngeblank, kayak anak yang lagi ujian tapi belum belajar. Otak gue benar-benar tidak memikirkan apa pun yang tentu. Hanya berdiri di depan cermin sambil memandangi diri gue sendiri. Akhirnya gue baru berangkat saat Manda minta dikabari kalau gue udah berangkat biar dia bisa siap-siap. Gue pun membalasnya dengan mengatakan otw.
Ada hal lain lagi yang baru gue sadari saat gue jalan sama Manda, setiap kali gue jalan Manda gue melakukannya seperti sebuah ritual yang harus gue ‘ikutin’ tata caranya. Pertama gue bersiap-siap, kemudian Mada akan ngechat ‘kabarin kalau udah jalan’ lalu gue balas ‘otw’. Lalu gue berangkat untuk ngejemput Manda. Tujuan kita hampir pasti sama, selalu ke pim. Di pim kegiatan gue dan Manda juga cuman gitu-gitu aja, nonton, liat-liat barang, makan, terus nongkrong di area 51. Malemanya baru kita pindah entah sekedar makan lagi di gultik atau kalau lagi pingin pulang malem pindah ke bar buat sekedar ngebeer.
Ketika gue memikirkan hal itu lagi gue jadi merasa sangat capek, jadi ada rasa penyesalan kenapa gue harus ngajak manda cabut. Tapi gue udah janji, dan juga gue udah di jalan. Kalau mau batalin juga alasannya apa, gue males buat ngebohong, jadi lah gue tetap paksakan buat bertemu Manda hari ini entah apa pun akibatnya.
Saat gue menjemput Manda di depan rumahnya, bagi gue dia terlihat seperti biasa ketika bertemu dengan gue, atau memang standarnya bertemu dengan orang lain. Ga ada sama sekali indikasi kebosanan atau risih kalau gue ajak jalan atau ketemu sama gue.
Sampai di pim kita berdua langsung jalan bersama buat sekedar muter-muter. Manda juga masih jalan di sebelah gue, tepat di sebelah gue seperti ga ada jarak. Sikap Manda juga masih seperti biasa saat bertemu dengan gue, malah dia yang lebih sering ngajak ngobrol sementara gue hanya menimpali. Sesekali, gue dan Manda berpapasan dengan temannya yang gue gak tau siapa. Setiap gue tanya siapa Manda selalu ngejawab temannya. Atau bahkan dia malah jujur kalau yang ketemu tadi adalah mantan atau seseorang yang pernah mencoba berusaha dekat dengannya.
Harusnya gue merasa senang dan tenang karena kemungkinan besar orang yang gue lihat kemarin juga adalah temannya Manda. Tetapi gue merasa jengah dan lelah tanpa alasan yang jelas. Kalau di film-film drama mungkin gue bakal kabur pulang kerumah dan ga bakalan mau ketemu sama orang lain selama sebulan lebih karena lelah dengan interaksi sosial. Wkwkwk lebay.
Capek dengan muter-muter pim dan lagi ga ada film yang bagus, kita memutuskan buat duduk-duduk di area 51. langit baru saja berubah menjadi gelap ketika mendapatkan tempat duduk setelah sebelumnya kita mengantri untuk beli makanan ringan dan minuman. Hari yang berubah menjadi malam dan cuaca yang cerah sedikit menenangkan hati gue. Sedikit lagi Tre, sedikit lagi bisa pulang. Kata gue untuk diri sendiri dari dalam hati.
Kita berdua ngobrol ngalor ngidul, bicara kesana kemari, atau bisa dibilang Manda yang lebih banyak bicara dan gue menjadi bagian yang mendengarkan dan menimpali. Pingin banget gue ngomong dan nanya ‘Kemarin lo jalan sama siapa Man? kebetulan gue liat lo pas lagi jalan sama anak-anak di sini’. Tapi lidah gue terlalu kaku buat sekedar menanyakan hal tersebut.
Apa yang kira-kira kalian lakukan saat berada di posisi seperti gue, mungkin akan dengan mudahnya menanyakan hal tersebut. Terus berharap Manda bilang ‘Ohya, gue jalan sama temen gue, emang kenapa Tre?’ dengan muka memelas dan merasa bersalah. Terus kalian menanyakan kejelasan hubungan kalian yang membuat suasana menjadi awkward, kemudian diakhiri dengan mengutarakan perasaan sambil berharap perempuan yang ada di depan kalian memiliki perasaan yang sama. Sementara yag gue bisa lakukan hanyalah diam.
“Lo kenapa Tre? Kok kaya lagi banyak pikiran gitu, dari tadi diem terus.” Tiba-tiba Manda menanyakan hal tersebut.
“Hah, masa sih, gue biasa aja kok.” jawab gue.
Manda menatap gue dengan tatapan menyelidik, sepertinya dia tau kalau gue menyembunyikan sesuatu. “Serius Tre, lo keliatan banget kalau mikirin sesuatu.”
Gue terdiam sejenak, mencari-cari jawaban apa yang akan gue berikan. “Hahaha……..” Gue cuman bisa tertawa bodoh.
“Cerita aja kali Tre kalau emang ada yang mau diceritain.”
Andai bisa segampang itu buat dilakukan. “Iya nih, kemarin abis ngebahas kira-kira pada mau lanjut kemana setelah lulus. Gue jadi kepikiran kalau gue sama sekali ga mikirin kayak gituan.” Jawab gue bohong. Padahal tadi gue bilang ga suka bohong yak, wkwkwk.
“Hahaha, santai aja kali Tre, masih kelas sebelas ini.” jawab Manda santai, sementara gue hanya tersenyum. “Tapi kalau emang lo bingung mau lanjut kemana, pikirin aja dulu apa yang lo suka selama ini, jangan terlalu pikirin kata orang ‘jurusan ini banyak peluang kerjanya’ tapi lo sendiri ga suka, daripada makan hati sendiri.”
“Gitu yaaa…..” akhirnya kita pun membicarakan keinginan kita setelah lulus sekolah, dan kira-kira apa yang kita suka biar beban yang kita rasakan sedikit lebih ringan ketika menjalankannya.
Ketika malam semakin larut kita memutuskan untuk pulang, ga pindah kemana-mana lagi. Gue mengantarkan manda sampai depan rumahnya, dan gue pun segera bergegas pulang dengan perasaan lega yang sangat luar biasa. Lega bukan karena gue sudah menemukan apa yang gue inginkan dari apa yang gue rasakan, tetapi lega karena gue bisa keluar dari keadaan yang sangat menyesakkan buat gue. Tiba di rumah gue langsung mengabari Manda dan sekedar ngobrol seadaya untuk beberapa saat.
Tadinya, setelah gue bertemu dengan Manda lagi gue jadi tau apa yang gue inginkan sebenarnya, tapi yang ada gue makin bingung dengan apa yang gue mau. Gue merasa capek, lelah, jenuh, and whatever you put label on it.
Keesokan hari nya gue memutuskan buat ga ngecat manda untuk beberapa hari. Dan hasilnya gue merasa nyaman. Gue merasa ga harus berpikir apa pun untuk membuat percakapan untuk tetap berjalan, gue bisa lebih fokus dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan teman-teman gue, keuangan gue pun jadi lebih hemat. Perasaan lelah dan capek pun perlahan menghilang.
Gue berpikir, kalau seandainya memang menginginkan dan membutuhkan gue, dia pasti akan menghubungi gue lagi. Kalau enggak pun gue tidak mempermasalahkan hal itu. Seminggu, dua minggu berlalu tanpa percakapan yang terjadi antara gue dan Manda, dan gue mulai terbiasa. Dibanding disebut mulai terbiasa, gue bisa bilang memang seperti ini yang gue rasakan setiap harinya sebelum kenal manda.
Hampir sebulan berlalu, saat gue sedang iseng melihat-lihat tl, gue melihat Manda memasang status nama seorang cowok yang gue ga kenal. Mungkin cowok yang waktu itu gue lihat jalan sama dia, bisa juga bukan.
Mungkin sama seperti ketika Putri jadian sama cowoknya, tetapi yang gue rasakan saat ini sama sekali berbeda waktu Putri jadian. Saat gue tahu Manda jadian dengan seseorang, ada perasaan lega dimana gue ga harus berhubungan lagi sama dia, gue ga harus merasakan capek dan effort untuk membuat chat kita terus berjalan.
Ibaratnya kalau saklar lampu otomatis, saklar lampu tersebut tiba-tiba aja membuat lampu yang sebelumya menyala menjadi padam. Click, ketertarikan gue terhadap manda tiba-tiba aja sirna.
japraha47 dan 20 lainnya memberi reputasi
21