Kaskus

Story

afryan015Avatar border
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

emoticon-UltahHallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......
ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.

Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya



Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati emoticon-Shakehand2

Oh iya jangan lupa emoticon-Toast emoticon-Rate 5 Star

Quote:



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
bebyzhaAvatar border
jiren11Avatar border
mangawal871948Avatar border
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
232.5K
2.6K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
afryan015Avatar border
TS
afryan015
#189
Tragis
Saat sedang mengidentifikasi rautmuka dari mereka bertika dari arah belakang mereka aku melihat ada sosok Shinta yang sedang memantau kita berempat dari balik tembok, aku yang sudah tersadar ada sosok Shinta di belakang tembok itu berusaha untuk keluar dari kerumunan mereka bertiga dan hendak langsung beranjak menemui Shinta.


Namun saat aku akan melangkah mendekati Shinta, Mbah Margono menghalangiku sambil berkata “ditahan dulu yan kalo mau ketemu, ini belum saatnya, dia hanya menjengukmu saja” ucap Mbah Margono tersenyum.

Aku yang terlalu rindu dengan sosok Shinta masih mencoba menerobos hadangan dari Mbah Margono, dan saat itu juga Aruna yang posisinya berada disampingku menarik pundak ku hingga aku langsung menghadap ke arahnya, terlihat raut muka Aruna yang emosi, dan tak terbayangkan “PPLLAAAKK PPLLAAKKK” dua tamparan telak langsung dilayangkan oleh Aruna padaku

“kamu ini sadar nggak sih, Margono kan sudah bilang di tahan dulu, karna memang belum waktunya” Aruna memarahiku dengan kesal

“tapi aku ingin bertemu dengan nya, walau sebentar saja” kepalaku menunduk sambil merasakan sakit karena tamparan Aruna

“sudah sudah nggak papa, tapi kamu yan tolong di tahan dulu ini memang belum waktunya, kamu bisa pilih sekrang bisa ketemu dia tapi ini yang terakhir atau kamu mau menunggu waktunya dan dia bisa menemani kamu dan keluarga kecilmu kelak” terang mbah Margono padaku

Mereka berdua melakukan hal itu karna mereka perduli padaku, aku yang merasa bersalah langsung memutuskan untuk meninggalkan area itu, aku berjalan kaki menuju kerumah sambil menundukan kepalaku dan memikirkan hal yang barusan terjadi.

Setelah aku berjalan sedikit jauh dari lokasi mereka, terdengar Mbah Margono memanggil namaku, aku yang masih berfikir tentang tingkah ku tadi membuatku mengacuhkan panggilan dari Mbah Margono.

Tak terasa aku sudah sampai dirumah, kebetulan bapak ku sedah berada di halam rumah sambil menanam pohon dan mengurusi tanaman hias

“assalamu’alaikum pak, Ryan pulang” aku mengucap salam dan mencium punggung tangan bapak ku

“wa’alaikum salam yan, loh kok mukanya lesu begitu, kenapa ada masalah ya, eh iya lah motormu mana tadi kan pake motor tho” bapak bertanya padaku, seketika itu juga aku tersadar kalau pulang tanpa menggunakan motor, aku kemudian buru buru balik kearah dimana motorku berada dan tentunya akan bertemu lagi dengan mereka bertiga.

Saat aku akan mengambil motor ku dan melewati tempat dimana ada mbah Margono ternyata disana sudah tidak ada siapa pun dan aku terus berjalan mencari motorku yang ku tinggalkan. Ternyata motorku berada di sebelah jembatan dimana aku bertemu dengan Ningrum dulu, terlihat juga disana Ningrum sedang duduk diatas motorku seolah menjaga motorku supaya tidak di ambil orang lain.

“loh Ningrum, kamu nggak pergi juga kaya mbah Margono sama Aruna” tanyaku setelah sampai di lokasi motorku

“tidak aku sengaja disini untuk menjaga motormu sambil mengenang masa lalu saat rumahku masih disini” jawab Ningrum tersenyum ramah

“wah makasih yah maaf merepotkan mu” ucapku pada ningrum berterimakasih

“udah nggak perlu sungkan aku sudah bersukur kamu mau membantu ku bertemu dengan Margono dan aku tidak perlu di usir dari sini”

“Ningrum aku mau Tanya, apakah aku salah terlalu kangen dengan Shinta” tanyaku pada Ningrum

“tidak sama sekali, manusia punya perasaan dan kami pun juga memiliki perasaan yang sama, kita tidak bisa menyalahkan perasaan kita, tapi kita juga harus bisa mengatur perasaan kita harus seperti apa, sudah dulu ya, cepatlah pulang, Aruna mempunyai kabar baik untukmu tentang Shinta” jelas Ningrum padaku

Mendengar Ningrum berkata demikian aku pun bergegas menghidupkan motorku dan tancap gas, singkat cerita aku sampailah di rumah dan segera masuk kekamarku untuk berganti pakaian, aku melepas seragam kerjagu dan berberganti menggunakan pakaian yang lebih santai, dan saat sedang berganti pakaian aku di kagetkan oleh suara Aruna dari belakangku

“dasar mentang mentang undah kerja terus perutmu nggak di urusin gitu, udah mirip orang hamil seperti itu” ejek Aruna dari belakang ku

“hiisssh kamu ini biasaan banget sama persis kaya Shinta suka muncul sembarangan, untung udah pake semua kalo belum, keenakan di kamu tahu, pusaka legendaku bisa keliatan sama kamu” protesku pada Aruna

“alah Pusakan burik gitu” ejek aruna tentang pusakaku

“ooooo kamu belum pernah merasakan pusaka ku sih hahaha” jawabku dengan bercanda

“ish ogah banget nggak level ya” jawabnya malu malu

“eh iya kamu katanya punya kabar buatku tentang Shinta, emang ada apa” Tanya ku tentang kabar dari Ningrum

“ada dua hal yang dia sampaikan pertama kita semua akan mendapat masalah lagi bahkan yang lebih besar dari yang kemarin saat kita ada urusan dengan Anggi dan yang kedua dalam waktu dekat Shinta mau menemuimu, tapi….” Jawab Aruna setengah setenga

“tapi apaan jangan bikin penasaran dong” desaku padanya tanpa memperdulikan point yang pertama

“tapi perutmu sama fisikmu dikondisikan lagi” jawab Aruna sambil tersenyum

Aku hanya menjawab perkataan Aruna dengan senyuman saja lalu kemudian aku keluar membatu orang tauaku melakukan aktifitas di sore hari.

Singkat cerita aku akhirnya keluar dari pekerjaan lama ku, dan di hari ini aku baru saja melakukan acara perpisahan guru dan staff di tempat kerjaku untuk melepaskan kepergianku dari pekerjaan ini, banyak yang berpesan padaku untuk sering sering mampir lagi kesini kalo sedang lewat atau memang menyempatkan untuk mampir sekedar main saja.

Setelah acara perpisahan itu aku langsung pulang dan kebetulan sekali cuaca hari ini sedang turun hujan, langit saat aku berangkat untuk pulang masih berwarna abu abu yang menunjukan curah hujan tidak akan begitu lebat dan bahkan akan segera reda, walau pun begitu aku tetap menyiapkan diriku untuk menggunakan mantol atau jas hujan supaya aman saat di perjalanan pulang nanti.

Aku pun menyalakan motorku dan segera keluar dari area parker sepeda motor sekolah, sesampainya di depan gerbang sekolahan aku di hadang oleh beberapa siswi dan menyuruhku untuk berhenti.

“pak Ryan kenapa sih keluar dari kerjaan ini” Tanya salah satu siswi padaku

“iya pak kenapa sih, kan jadi gak seru lagi kalo waktu istirahat nggak bisa bercanda sama pak Ryan lagi” siswi yang lain menambahi

“nggak papa, soalnya bapak lagi ada perlu kerja di luar kota bantu orang tua makanya mau nggak mau bapak harus ngikutin orang tua dulu” jawabku membuat alasan

“ya kenapa harus bapak sih kan katanya pak Ryan punya kakak, kan bisa dia saja pak” protes salah satu siswi lagi

“loh kalo kakak bapak kan udah ada keluarga jadi gak mungkin kalo seperti itu, sudah ya bapak pulang dulu, kapan kapan bapak mampir lagi kok kesini nanti kalo bapak mau kesini bakal ngabarin mbak andri tenang aja ok, udah ya dadah, sekolah yang bener” ucapku mengusaikan pembicaraan ini.

Aku kemudian melanjutkan ke perjalanan pulang ku, hujan yang awalnya rintik rintik syahdu bisa di nikmati, perlahan mulai bertambah curah hujannya, aku mampir disebuah petshop untuk membelikan beberapa keperluan kucingku Moe, dilain pakan Moe yang sudah mulai menipis, beberpa vitamin dan barang perawatan seperti gunting kuku kucing, sisir kucing juga aku membelikannya.

Seusai membelikan beberapa perlengkapan yang di butuhkan oleh moe, aku berencana untuk langsung pulang ke rumah, dan ternyata hujan yang awalnya sedang kini bertambah lebat di tambah awan hitam pekat dan ada hembusan angina yang lumayan kencang.

Aku tetap memaksakan untuk pulang saja dengan bermodalkan matol atau jas hujan, namun dalam perjalanan tetap aku mengatur kecepatanku agar tidak melebihi batas kecepatan supaya jika terjadi sesuatu bisa lebih di minimalisir.

Jika kalian masih mengingat Vita, kebetulan tempat kerjaku itu melewati depan rumahnya baik berangkat maupun pulangnya, dan kalau tak salah dulu pernah aku ceritakan kalo jalan ini sedikit angker yang dulu pernah ku ceritakan kepalaku terasa sakit saat melewati nya dan membuat motorku juga ikut berhenti tak bisa di jalankan lagi

Nah pada saat seperti ini aku mulai sedikit takut, dilain karna hujan yang sangat deras, lalu lintas yang terpantau sangat padat karna bertepatan dengan jam pulang sekolah dan jam pulang kantor, di tambah lagi kaca helm yang selalu berkabut karena udara di dalam helm lebih hangat dari yang di luar membuat diriku sedikit kesusahan untuk melihat dengan jelas kearah depan.

Hampir seperti Shinta, Aruna ini juga sering memperingatkan ku untuk terus hati hati apa bila aku melewati jalan yang mereka pikir sedikit rawan saat aku lewati, aku pun melewati rumah Vita dimana saat melewati jalan disana aku masih merasakan sedikit kengerian disana, namun yang akan menjadi masalah bukan lah di daerah sekitar rumah Vita ini melakian masih beberpa meter kedepan lagi.

Ku pikir sudah aman untuk dilewati namun Aruna yang sejak tadi sebelum melewati rumah Vita dia sudah berada di belakang motorku, terus memperingatkanku untuk terus berhati hati lagi .

Aku melewati sebuah sekolah dasar yang sangat dekat dengan dua jembatan, jembatan sebelah kiri untuk melaju kendaraan dari arah timur (arah diriku datang) dan jembatan sebelah kiri untuk melaju kendaraan dari arah barat ( arah beralawanan dengan ku.

Aruna sudah memperingatkan ku untuk sangat berhati hati di sini jangan sampai aku lengah sedikitpun harus tetap waspada dengan sekelilingku,

“Ryan kamu harus hati hati disini, akan ada kejadian besar disini setelah ini, tolong turunkan kecepatanmu” saran Aruna padaku

Aku menuruti apa yang dikatakan oleh Aruna padaku, dan benar saja saat itu dari arah belakang ku terdengar suara motor RX-King dengan kecepatan tinggi (terdengar dari suaranya) melaju sangat kencang mendahuluiku kelihatannya dua orang anak SMA yang baru saja pulang sekolah, begitu pula dari arah barat terlihat sebuah truk bermuatan pasir melaju dengan kecepatan tinggi.

Kejadian naas terjadi disini, si motor RX-King masih melaju dengan sangat cepat tanpa menyadari ada lubang di jalan yang lumayan besar yang jelas saja si pengendara RX-King tak sanggup untuk menghindari lubang itu dan terpaksa harus membanting motornya berbelok kearah kanan karna di arah kiri kebetulan juga ada angkutan yang sedang berhenti menurunkan penumpang, motor RX-King akhirnya oleng ke arah kanan dan langsung di terima oleh truk bermuatan pasir yang melaju kencang juga tanpa bisa menghindar lagi.

Naas bagi pengendara motor karna membanting stir ke arah kanan membuat mereka terjatuh dan terseret masuk ke bawah truk bermuatan pasir dan seketika itu juga tubuh kedua anak SMA itu hancur karena terlindas ban truk bermuatan pasir itu,

Tak berhenti sampai disitu, kedua remaja tadi sudah selesai terlindas truk dan sekarang motor yang ditumpangi mereka juga tertabrak mobil yang berada di belakang truk tersebut. Dan anehnya setelah motor mereka tertabrak mobil, ban depan dari motor tersebut terlepas dan memantul ke arahku karena tertabrak mobil tadi.

Tapi sekali lagi aku bisa selamat, entah dari mana pada kejadian itu aku yang terlalu fokus dengan kejadian naas di depanku tak melihat ada kucing yang menyebrang dan hampir terlindas olehku, namun sebelun sempat terlindas aku sudah rem pol yang membuat motorku selip di bagian depan membuat aku terjatuh sebelum ban yang terpental tadi mengenai kepalaku. Sungguh sangat nyaris, mungkin jika kebetulan tak ada kucing itu aku bisa terkena ban yang terlempar itu.

Setelah jatuh aku berusaha bangkit dan melihat dimana kucing itu, aku sempat melihat kucing itu, yang membuatku aneh, kucing itu sangat mirip dengan Moe, dan setelah itu kucing itu menghilang entah kemana.

Melihat aku terjatu, Aruna melihat kesekeliling area dan melihat ke satu titik dengan penuh kebencian, samar samar aku mendengar suara “Kalian berdua beraninya menghalangiku mengurus anak ini (anak yang di maksud adalah aku) ”.

Aruna langsung terbang menuju kearah titik dimana dia merasa seperti ada sososk yang memang sengaja mencelakaiku.

Dari arak kecelakaan itu aku melihat sosok anak remaja yang tadi menggunakan RX-King itu namun dengan bentuk yang berbeda, mereka terlihat seperti transparant, dan mencoba meminta tolong pada orang di sekitar mereka tapi tak ada yang menanggapi, raut muka mereka terlihat sangat bingung dan ketakutan, satu persatu orang disana dia hampiri namun tetap tak ada yang meresponnya, hingga akhirnya mereka mendekatiku dan berkata.........
itkgid
sampeuk
bebyzha
bebyzha dan 56 lainnya memberi reputasi
57
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.