Mobil itu terjun bebas ke dalam jurang yang menganga. Sementara itu, Jatmiko sendiri merasa tegang.la seperti melayang di antara kobaran api yang menjilat –jilat kian kemari. Tetapi ia sadar bahwa dirinya tidak mungkin bisa meloloskan diri dari dalam mobil yang meluncur deras ke bawah dan dalam keadaan terbakar hebat. Beberapa detik kemudian lautan api itu padam. Jatmiko terengah-engah dan memandang sekelilingnya dengan tegang.
"Ooh, dimana aku?! Mengapa aku tiba –tiba keluar dari mobil yang terbakar itu?!"
Jatmiko makin heran manakala ia menyapukan pandangan mata ke sekelilingnya. Ia melihat taman berumput hijau rata seperti bentangan permadani itu mempunyai kelompok tanaman bunga. Masing-masing kelompok mempunyai warna bunga yang sama dan menyebarkan aroma wangi yang lembut. Semua tanaman dan bunga di situ serba indah, suasananya teduh. Bukan siang dan bukan malam. Seperti mendung yang menyegarkan.
Di sisi lain pun terdapat kolam dengan air mancur berwarna-warni. Ada pula ayunan dan arena bermain untuk anak-anak yang tersedia di empat sudut. Sementara itu, di tengah taman tampak bangunan megah berwarna putih. Jatmiko menyeringai, ia meraba wajahnya yang masih mengucurkan darah. Luka memanjang akibat cakaran binatang aneh itu masih terasa pedih dan panas.
"Apakah aku sudah mati bukankah mobilku tadi masuk ke jurang?"