- Beranda
- Stories from the Heart
JATMIKO THE SERIES
...
TS
breaking182
JATMIKO THE SERIES
JATMIKO THE SERIES
Quote:
EPISODE 1 : MISTERI MAYAT TERPOTONG
Quote:
EPISODE 2 : MAHKLUK SEBERANG ZAMAN
Quote:
EPISODE 3 : HANCURNYA ISTANA IBLIS
Diubah oleh breaking182 07-02-2021 01:28
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
25
58K
Kutip
219
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#154
PART 24
Quote:
“ Pak Parlin bisa naik pitam kalau ia dengar hasutanmu sersan”, Ike bergumam seraya tersenyum.
Jatmiko hanya tersenyum kecut, sembari mengangkat bahu.
Astri yang mendengar kedua orang itu berbincang hanya bisa tertawa lepas. Sehingga salah seorang yang tua tua itu menoleh. Dan orang itu justru Parlin. Parman dan Jatmiko cepat-cepat berpaling kearah lain dengan pura –pura mengambil gelas di meja yang isinya sudah nyaris tandas.
Untunglah Ike menganggukkan kepala disertai seulas senyuman manis yang seolah memintakan maaf atas kelancangan kawannya yang berseru terlalu keras. Dengan segera dibalas orang tua itu dengan senyuman pula. Lalu kembali menekuni permainan kartu kawan - kawannya.
Ike menarik nafas panjang, " Kau baru saja lolos dari marabahaya sersan. Cukup semangkuk bakmi Jowo dan segelas wedang ronde di tanjakan Pathuk sebagai imbalannya..." ia setengah
berbisik pada Jatmiko. Yang dibisiki hanya tersenyum sembari mengacungkan tinju.
“ Pak Parman…..”
Parman mendekatkan telinga ke mulut Noni.
“ Ada apa…?”
"Aku... aku mau pipis!"
"Serius…..!”, Parman meluruskan tegaknya dengan hentakan nyaring yang seketika membuat suasana meriah di ruang tamu rumah pak Barda itu mendadak sepi menyentak. Semua mata tertuju kepada Parman yang gelagapan sendiri. Ia berusaha tersenyum. Mengangguk pada semua orang, lantas mendengus resah.
"Perut teman ku ini sakit. Dimana letak kamar mandi?"
Bu Endah mau bangkit. Tetapi diluar dugaan semua orang. Parlin sendiri yang bergerak lebih dahulu. Ia menyongsong Noni mengulurkan tangan dengan sopan ke arah tamu tuan rumah yang bertubuh kecil mungil dan sangat pucat pasi itu. Noni ternganga sekejap dan setelah merasa kakinya disepak Ike diam -diam di bawah meja, dengan enggan ia terpaksa menerima uluran tangan laki - laki berkulit putih pucat dengan tubuh tinggi kekar menyeramkan itu.
"Mari kuantar. nyonya" , Parlin bergumam lembut
Suatu pesona yang kuat membuat Noni terjengah. Dari enggan dan terpaksa. Ia dengan senang hati dan ikhlas bersedia dibimbing orangtua yang mendadak sangat menarik hatinya itu menuju ke kamar mandi. diiringi pandangan aneh Parman, pandangan cemas teman temannya. Terutama Jatmiko yang jantungnya serasa berdentang –dentang aneh.
Usai dari dalam kamar mandi Noni keluar. Pak Parlin masih menunggu. Laki - laki itu berdiri membelakanginya. Dengan kepala sadikit tengadah, matanya menatap lurus ke rembulan yang pucat di langit biru. SeJatmikor kelelawar menggelepar lewat di wuwungan atap rumah, mencicit - cicit ribut.
Tanpa berpaling, laki-laki itu bergumam:
"Merasa lebih enak sekarang"
Noni mengangguk. Lalu sadar anggukannya tidak terlihat, ia menambahkan dengan kata- kata, “ Iya…..Terimakasih “
Dengan ucapan itu ia berharap dapat segera masuk untuk bergpaling dengan teman-temannya di ruang dalam. Namun sikap laki laki itu yang berdiri diam tak bergerak-gerak, menahan langkahnya. Ia tidak perlu menunggu berlama lama. Karena Parlin telah berujar tanpa basa-basi lagi.
“ Salah seorang teman kalian. Tiba –tiba saja mengikuti kita sejak aku mengantarkan kau ke kamar mandi. Dan dengan tiba- tiba juga telah menyelinap dan menghilang di ujung sana. Siapa namanya, kalau boleh saya tahu Nyonya Noni?"
Noni gelagapan karena ia sama sekali tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Lebih –lebih ia juga tidak tahu siapa yang dimaksud. Apakah Jatmiko, Parman, Ike atau Astri?
“ Maaf Pak Parlin, saya tidak tahu apa yang dimaksud oleh bapak. Karena saya buru –buru ke kamar mandi dan tidak begitu memperhatikan teman –teman saya “
Parlin menghela nafas berat seperti mendengus.
“ Teman mu yang memakai kaos kelParlin dan duduk di paling ujung “
“ Oh…Jatmiko “
"Jatmiko?"
“Benar….Jatmiko Prasetyo”
“Apa pekerjaannya?"
Noni sempat akan kelepasan mengatakan kalau Jatmiko seorang polisi. Tapi buru –buru ia sadar.
“ Arsitek... Ia memang tidak pernah mau diam kalau berkunjung ke suatu tempat yang baru di kunjunginya. Ada saja yang ia cari. Terutama tata rancang bangunan. Dan sepertinya ia tertarik dengan desain bangunan di pemukiman ini “
“ Patut dipuji “, desah Parlin.
"Nyonya tahu ia orang mana?"
“ Maksud bapak?"
"Daerah asalnya..." pak Parlin membalik dengan tiba tiba.
Matanya bersinar-sinar aneh dalam jilatan lampu koridor, namun seulas senyum di bibirnya memberi daya tarik tersendiri dalam hati Noni yang lemah.
“Si Jatmiko itu apakah ia orang dari Gunungkidul?"
“ Kudengar demikian, pak Parlin"
Noni mengangguk heran.
“Ada apa?"
Parlin melebarkan senyumannya. "Bukan apa apa. Aku hanya tertarik memperhatikan orang yang dengan ulet memanfaatkan setiap kesempatan yang ia peroleh. Tanpa pandang waktu. Tak pandang tempat..."
Di telinga Noni dua kalimat tajam yang ditujukan kepada Jatmiko yang memang ia tidak mengetahui kalau sersan muda itu menguntitnya dan secara diam –diam menyelinap di tengah pemukiman.
“ Sudah menikah?" pak Parlin mengalihkan persoalan sambil mereka kembali ke ruang dalam.
“ Belum pak, baru akan doakan saja"
“ Aku doakan kalian segera menikah dan berbahagia"
“ Terimakasih. Kuharap demikian. Hanya suamiku sedikit nakal...."
“Tak aneh, lelaki rata –rata memang nakal dan bandel " , orangtua itu tertawa.
Noni mengangguk.
"Saya ingin menengok Mia sebentar”,katanya lalu menghilang lewat pintu penghubung ke pavilyun.
Tepat pada waktu bersamaan. Ia melihat Jatmiko Prasetyo masuk lewat pintu depan pavilyun dengan wajah bersimbuh peluh dan kaki celananya kotor berlumpur. Memahami kearah mana Noni memandang. Pemuda tegap tampan dengan wajah sedang-sedang itu.
Tersenyum manis.
"Aku terjatuh di luar sana”, ia berkata.
"Tapi tidak apa. Aku sendiri sudah merasa setimpal dengan apa yang kuperoleh malam ini....”
"Boleh aku tahu?"
"Nanti sajalah"
Jatmiko hanya tersenyum kecut, sembari mengangkat bahu.
Astri yang mendengar kedua orang itu berbincang hanya bisa tertawa lepas. Sehingga salah seorang yang tua tua itu menoleh. Dan orang itu justru Parlin. Parman dan Jatmiko cepat-cepat berpaling kearah lain dengan pura –pura mengambil gelas di meja yang isinya sudah nyaris tandas.
Untunglah Ike menganggukkan kepala disertai seulas senyuman manis yang seolah memintakan maaf atas kelancangan kawannya yang berseru terlalu keras. Dengan segera dibalas orang tua itu dengan senyuman pula. Lalu kembali menekuni permainan kartu kawan - kawannya.
Ike menarik nafas panjang, " Kau baru saja lolos dari marabahaya sersan. Cukup semangkuk bakmi Jowo dan segelas wedang ronde di tanjakan Pathuk sebagai imbalannya..." ia setengah
berbisik pada Jatmiko. Yang dibisiki hanya tersenyum sembari mengacungkan tinju.
“ Pak Parman…..”
Parman mendekatkan telinga ke mulut Noni.
“ Ada apa…?”
"Aku... aku mau pipis!"
"Serius…..!”, Parman meluruskan tegaknya dengan hentakan nyaring yang seketika membuat suasana meriah di ruang tamu rumah pak Barda itu mendadak sepi menyentak. Semua mata tertuju kepada Parman yang gelagapan sendiri. Ia berusaha tersenyum. Mengangguk pada semua orang, lantas mendengus resah.
"Perut teman ku ini sakit. Dimana letak kamar mandi?"
Bu Endah mau bangkit. Tetapi diluar dugaan semua orang. Parlin sendiri yang bergerak lebih dahulu. Ia menyongsong Noni mengulurkan tangan dengan sopan ke arah tamu tuan rumah yang bertubuh kecil mungil dan sangat pucat pasi itu. Noni ternganga sekejap dan setelah merasa kakinya disepak Ike diam -diam di bawah meja, dengan enggan ia terpaksa menerima uluran tangan laki - laki berkulit putih pucat dengan tubuh tinggi kekar menyeramkan itu.
"Mari kuantar. nyonya" , Parlin bergumam lembut
Suatu pesona yang kuat membuat Noni terjengah. Dari enggan dan terpaksa. Ia dengan senang hati dan ikhlas bersedia dibimbing orangtua yang mendadak sangat menarik hatinya itu menuju ke kamar mandi. diiringi pandangan aneh Parman, pandangan cemas teman temannya. Terutama Jatmiko yang jantungnya serasa berdentang –dentang aneh.
Usai dari dalam kamar mandi Noni keluar. Pak Parlin masih menunggu. Laki - laki itu berdiri membelakanginya. Dengan kepala sadikit tengadah, matanya menatap lurus ke rembulan yang pucat di langit biru. SeJatmikor kelelawar menggelepar lewat di wuwungan atap rumah, mencicit - cicit ribut.
Tanpa berpaling, laki-laki itu bergumam:
"Merasa lebih enak sekarang"
Noni mengangguk. Lalu sadar anggukannya tidak terlihat, ia menambahkan dengan kata- kata, “ Iya…..Terimakasih “
Dengan ucapan itu ia berharap dapat segera masuk untuk bergpaling dengan teman-temannya di ruang dalam. Namun sikap laki laki itu yang berdiri diam tak bergerak-gerak, menahan langkahnya. Ia tidak perlu menunggu berlama lama. Karena Parlin telah berujar tanpa basa-basi lagi.
“ Salah seorang teman kalian. Tiba –tiba saja mengikuti kita sejak aku mengantarkan kau ke kamar mandi. Dan dengan tiba- tiba juga telah menyelinap dan menghilang di ujung sana. Siapa namanya, kalau boleh saya tahu Nyonya Noni?"
Noni gelagapan karena ia sama sekali tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Lebih –lebih ia juga tidak tahu siapa yang dimaksud. Apakah Jatmiko, Parman, Ike atau Astri?
“ Maaf Pak Parlin, saya tidak tahu apa yang dimaksud oleh bapak. Karena saya buru –buru ke kamar mandi dan tidak begitu memperhatikan teman –teman saya “
Parlin menghela nafas berat seperti mendengus.
“ Teman mu yang memakai kaos kelParlin dan duduk di paling ujung “
“ Oh…Jatmiko “
"Jatmiko?"
“Benar….Jatmiko Prasetyo”
“Apa pekerjaannya?"
Noni sempat akan kelepasan mengatakan kalau Jatmiko seorang polisi. Tapi buru –buru ia sadar.
“ Arsitek... Ia memang tidak pernah mau diam kalau berkunjung ke suatu tempat yang baru di kunjunginya. Ada saja yang ia cari. Terutama tata rancang bangunan. Dan sepertinya ia tertarik dengan desain bangunan di pemukiman ini “
“ Patut dipuji “, desah Parlin.
"Nyonya tahu ia orang mana?"
“ Maksud bapak?"
"Daerah asalnya..." pak Parlin membalik dengan tiba tiba.
Matanya bersinar-sinar aneh dalam jilatan lampu koridor, namun seulas senyum di bibirnya memberi daya tarik tersendiri dalam hati Noni yang lemah.
“Si Jatmiko itu apakah ia orang dari Gunungkidul?"
“ Kudengar demikian, pak Parlin"
Noni mengangguk heran.
“Ada apa?"
Parlin melebarkan senyumannya. "Bukan apa apa. Aku hanya tertarik memperhatikan orang yang dengan ulet memanfaatkan setiap kesempatan yang ia peroleh. Tanpa pandang waktu. Tak pandang tempat..."
Di telinga Noni dua kalimat tajam yang ditujukan kepada Jatmiko yang memang ia tidak mengetahui kalau sersan muda itu menguntitnya dan secara diam –diam menyelinap di tengah pemukiman.
“ Sudah menikah?" pak Parlin mengalihkan persoalan sambil mereka kembali ke ruang dalam.
“ Belum pak, baru akan doakan saja"
“ Aku doakan kalian segera menikah dan berbahagia"
“ Terimakasih. Kuharap demikian. Hanya suamiku sedikit nakal...."
“Tak aneh, lelaki rata –rata memang nakal dan bandel " , orangtua itu tertawa.
Noni mengangguk.
"Saya ingin menengok Mia sebentar”,katanya lalu menghilang lewat pintu penghubung ke pavilyun.
Tepat pada waktu bersamaan. Ia melihat Jatmiko Prasetyo masuk lewat pintu depan pavilyun dengan wajah bersimbuh peluh dan kaki celananya kotor berlumpur. Memahami kearah mana Noni memandang. Pemuda tegap tampan dengan wajah sedang-sedang itu.
Tersenyum manis.
"Aku terjatuh di luar sana”, ia berkata.
"Tapi tidak apa. Aku sendiri sudah merasa setimpal dengan apa yang kuperoleh malam ini....”
"Boleh aku tahu?"
"Nanti sajalah"
Quote:
“ Noni aku tadi sempat melihat Mia terkulai di sofa. Ada apa yang sebenarnya terjadi?”
“ Aku tidak sempat untuk melihat kejadian itu karena terburu – buru untuk mengikuti mu “
Sebelum Jatmiko keluar secara diam -diam. Ia sempat melihat Mia limbung mau jatuh. Ia ingin menolong. Tetapi kesibukan orang orang akibat perubahan kondisi Mia buat dia jelas merupakan kesempatan baik untuk menyingkir diam -diam.
"Apakah Mia sudah baikan?"
"Aku justru mau melihat dia"
Mereka berjalan bersama sama masuk ke kamar tidur. Dito keluar bersama seorang laki-laki berumur dari kamar tidur, dan berpapasan dengan kedua temannya itu. Wajah Dito tampak layu. Sebaliknya wajah teman nya berjalan kelihatan berseri - seri. Ia menyapa kedua tamu.
Dan sebelum menghilang ke rumah induk semangnya sempat memberi kata kata hiburan untuk Dito:
"Kegelisahanmu berlebihan. Tenang sajalah. Isterimu hanya terserang gangguan pencernaan...."
“ Ia dokter yang merawat Mia belakangan ini”, Dito bergumam seraya mengiringi teman-temannya masuk ke kamar.
"Usman", jawabnya atas pertanyaan yang diajukan Jatmiko sambil lalu.
Mia duduk di tempat tidur. Kurus. pucat dan jelas tampak sakit. Ia tersenyum kepada tamu tamunya. dan minta maaf bahwa ia telah mengecewakan kegembiraan mereka malam ini. Di sebelah ranjang Parman duduk sembari memijit telapak kakinya. Sementara duduk di kursi sudat ada Ike dan Astrid yang Nampak hanya terdiam saja.
“ Badan ku agak tidak sehat belakangan ini. Sering tiba –tiba pusing dan lemah. Padahal dokter Usman telah merawat dan memberiku bermacam –macam obat untuk membuat tubuhku jaduh menjadi lebih kuat “
Pada saat itu. angin dingin merembes masuk ke kamar. Mia menggigil.
"Barangkali aku lupa menutup pintu depan" ujar Jatmiko lalu berlalu.
Tetapi Dito mendahului,“ Biar aku yang menutupkan" katanya, lalu pergi.
Diiringi oleh Noni, Astrid an Ike yang lebih dulu pamit sambil mencium kedua belah pipi Mia dan mendoakan kesehatan.
"Aku mencium bau busuk di sini", Jatmiko nyeletuk setelah ia tinggal bertiga saja dengan Mia dan Parman.
"Ah, dingin sekali. Mestinya kau tidak tinggal di kamar yang kelewat sejuk seperti ini"
" Kamar ini tertutup dan selalu hangat Pak Jatmiko" ,jawab Mia.
“ Udara begini belum pernah kualami"
Jatmiko Prasetyo menatap ke sekeliling kamar. Lampu bergoyang-goyang tanpa sebab.
“Mia “
“ Hmmm…”
"Aku berharap kau sudahi tugas ini, biar kami yang berwenang untuk mengusut nya?"
Raut muka Jatmiko menegang. Mia mendesah berat. Lalu menggelengkan kepala.
“ Sudah kepalang tanggung. Ibarat nya baju sudah basah kuyup. Pantang untuk berhenti atau berbalik arah “
Parman yang melihat keadaan saudara sepupunya itu sebenarnya juga tidak sampai hati untuk melanjutkan misi berbahaya ini. Akan tetapi, keinginannya sudah diwakilkan oleh Jatmiko. Mia harus berhenti dari misi dengan taruhan nyawa.
"Dan, hai… Mia Tidakkah kau sadar betapa kurusnya kau sekarang"
Parman baru menyadari bobot tubuh Mia jauh berkurang dibandingkan pada saat pertama mereka bertemu di sebuh kafe di bilangan Pathuk Gunungkidul beberapa saat yang lalu.
“ Pernah kah kau mengukur berat tubuh mu dengan timbangan?"
"Kata dokter Usman tak perlu. Hanya menambah risau saja. Dan soal kelainan yang kau sebut - sebut. Aku juga berpikir sama dengan pendapatmu.Tetapi tadi dokter bilang cuma gangguan pencernaan dan stress saja “
"Gangguan pencernaan?"
Jatmiko manggut manggut. Sambil menatap lampu yang sudah berhenti bergoyang - goyang. Udara tetap dingin, menusuk sampai ke sumsum. Mia sampai berselimut dan Jatmiko bertambah gelisah.
"Aku mencium bau busuk di sini Parman. Tidakkah kau menciumnya?”,gumamnya lagi.
Sambil menatap lurus ke pojok kamar.
“ Hei kalian berdua apakah ada sesuatu yang kehitam-hitaman di pojok itu"
Sesuatu yang tinggi besar dan ah…seperti badan tanpa memiliki kepala"
“ Sesuatu berupa makhluk yang menyebarkan udara dingin dan bau busuk"
“ Aku tidak sempat untuk melihat kejadian itu karena terburu – buru untuk mengikuti mu “
Sebelum Jatmiko keluar secara diam -diam. Ia sempat melihat Mia limbung mau jatuh. Ia ingin menolong. Tetapi kesibukan orang orang akibat perubahan kondisi Mia buat dia jelas merupakan kesempatan baik untuk menyingkir diam -diam.
"Apakah Mia sudah baikan?"
"Aku justru mau melihat dia"
Mereka berjalan bersama sama masuk ke kamar tidur. Dito keluar bersama seorang laki-laki berumur dari kamar tidur, dan berpapasan dengan kedua temannya itu. Wajah Dito tampak layu. Sebaliknya wajah teman nya berjalan kelihatan berseri - seri. Ia menyapa kedua tamu.
Dan sebelum menghilang ke rumah induk semangnya sempat memberi kata kata hiburan untuk Dito:
"Kegelisahanmu berlebihan. Tenang sajalah. Isterimu hanya terserang gangguan pencernaan...."
“ Ia dokter yang merawat Mia belakangan ini”, Dito bergumam seraya mengiringi teman-temannya masuk ke kamar.
"Usman", jawabnya atas pertanyaan yang diajukan Jatmiko sambil lalu.
Mia duduk di tempat tidur. Kurus. pucat dan jelas tampak sakit. Ia tersenyum kepada tamu tamunya. dan minta maaf bahwa ia telah mengecewakan kegembiraan mereka malam ini. Di sebelah ranjang Parman duduk sembari memijit telapak kakinya. Sementara duduk di kursi sudat ada Ike dan Astrid yang Nampak hanya terdiam saja.
“ Badan ku agak tidak sehat belakangan ini. Sering tiba –tiba pusing dan lemah. Padahal dokter Usman telah merawat dan memberiku bermacam –macam obat untuk membuat tubuhku jaduh menjadi lebih kuat “
Pada saat itu. angin dingin merembes masuk ke kamar. Mia menggigil.
"Barangkali aku lupa menutup pintu depan" ujar Jatmiko lalu berlalu.
Tetapi Dito mendahului,“ Biar aku yang menutupkan" katanya, lalu pergi.
Diiringi oleh Noni, Astrid an Ike yang lebih dulu pamit sambil mencium kedua belah pipi Mia dan mendoakan kesehatan.
"Aku mencium bau busuk di sini", Jatmiko nyeletuk setelah ia tinggal bertiga saja dengan Mia dan Parman.
"Ah, dingin sekali. Mestinya kau tidak tinggal di kamar yang kelewat sejuk seperti ini"
" Kamar ini tertutup dan selalu hangat Pak Jatmiko" ,jawab Mia.
“ Udara begini belum pernah kualami"
Jatmiko Prasetyo menatap ke sekeliling kamar. Lampu bergoyang-goyang tanpa sebab.
“Mia “
“ Hmmm…”
"Aku berharap kau sudahi tugas ini, biar kami yang berwenang untuk mengusut nya?"
Raut muka Jatmiko menegang. Mia mendesah berat. Lalu menggelengkan kepala.
“ Sudah kepalang tanggung. Ibarat nya baju sudah basah kuyup. Pantang untuk berhenti atau berbalik arah “
Parman yang melihat keadaan saudara sepupunya itu sebenarnya juga tidak sampai hati untuk melanjutkan misi berbahaya ini. Akan tetapi, keinginannya sudah diwakilkan oleh Jatmiko. Mia harus berhenti dari misi dengan taruhan nyawa.
"Dan, hai… Mia Tidakkah kau sadar betapa kurusnya kau sekarang"
Parman baru menyadari bobot tubuh Mia jauh berkurang dibandingkan pada saat pertama mereka bertemu di sebuh kafe di bilangan Pathuk Gunungkidul beberapa saat yang lalu.
“ Pernah kah kau mengukur berat tubuh mu dengan timbangan?"
"Kata dokter Usman tak perlu. Hanya menambah risau saja. Dan soal kelainan yang kau sebut - sebut. Aku juga berpikir sama dengan pendapatmu.Tetapi tadi dokter bilang cuma gangguan pencernaan dan stress saja “
"Gangguan pencernaan?"
Jatmiko manggut manggut. Sambil menatap lampu yang sudah berhenti bergoyang - goyang. Udara tetap dingin, menusuk sampai ke sumsum. Mia sampai berselimut dan Jatmiko bertambah gelisah.
"Aku mencium bau busuk di sini Parman. Tidakkah kau menciumnya?”,gumamnya lagi.
Sambil menatap lurus ke pojok kamar.
“ Hei kalian berdua apakah ada sesuatu yang kehitam-hitaman di pojok itu"
Sesuatu yang tinggi besar dan ah…seperti badan tanpa memiliki kepala"
“ Sesuatu berupa makhluk yang menyebarkan udara dingin dan bau busuk"
Quote:
Jatmiko Prasetyo kumat kamit. Kata-katanya ganjil dan simpang siur. Jatmiko terus melangkah ke pojok yang menjadi tumpuan perhatiannya. Di iringi pandangan Mia dan Parman yang semakin tegang. Ada desiran aneh ketika Jatmiko meraba tembok. Dan udara dingin berbau busuk itu. Mendadak sontak lenyap begitu saja.
"He, hangat lagi” berseru Mia, heran. Ia tanggalkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Dan menatap bingung pada laki -laki yang tegak kaku di pojok kamar dengan mata membelalak. Tak berkedip.
“ Apa yang kau lakukan di situ?"
Jatmiko Prasetyo tidak meniawab. Ia bergidik. Perubahan suhu udara yang tiba - tiba itu sama sekali tidak menyenangkan hatinya. Mungkin cuma ilusi. Ia berpikir Tetapi jelas tadi matanya menangkap bayangan hitam yang samar-samar berdiri di tempatnya sekarang. Ketika Mia menegur, ia cepat berpaling. Ia tidak melihat Mia, tetapi melihat ke pintu. Sesuatu yang hitam berkelebat keluar.
"Diam di tempatmu!”, Jatmiko berbisik tajam pada Mia yang berniat bangkit.
Sementara Parman hanya terpaku di tempatnya duduk. Tidak beranjak satu inci pun. Jatmiko bergegas melewati tempat tidur keluar dari kamar. Koridor menuju dapur sepi menganga. Ruang tamu pavilyun demikian pula. Gelas - gelas minuman berserakan di atas meja. Ada botol tergelimpang di lantai dan puntung rokok menghitam di serap cairan bening yang menggenang dekat kaki kursi.
Kegelapan yang hitam pekat mengintai dari luar jendela depan. Jatmiko tertegun di depan pintu terusan ke rumah induk. Seingatnya. tadi pintu itu terbuka. Siapa yang telah menutupnya? Noni, Astri atau Ike? Atau Dito?
Lamat –lamat Jatmiko mendengar suara derai tertawa Noni dan Ike. Ditimpali dengan selorohan Pak Barda di ruang tamu. Mata Jatmiko yang waspada berputar ke sudut yang berlawanan. Firasatnya yang kuat merasakan bahwa ada sesuatu yang jahat tengah mengintai dari balik tirai kegelapan.
Sekelompok pria- pria tua masih menekuni kartu -kartu di tangan mereka. Dan di belakang kelompok orang-orang tua itu. Berdiri tegak sosok tubuh yang ia cari. Besar, kulit pucat seperti kurang terkena sinar matahati. Tinggi kekar dan perkasa. Orang itu Parlin Purwadijaya . Ia akan mencatat nama itu di benaknya.
Menoleh ke pintu yang menghubungkan dengan tempat Jatmiko berdiri. Saat melihat Jatmiko, ia angkat gelas minuman. Lalu menganggukkan kepala disertai senyuman ramah. Jatmiko membalas anggukkan itu. Dan mencoba membalas senyuman yang tampaknya bersahabat itu. Lalu dengan bulu kuduk pada tegak berdiri. Ia kembali ke kamar tidur.
Mia duduk gelisah ditemani Parman. Memandangi Jatmiko yang wajahnya tampak serius. Baru saja mulut Mia terbuka untuk bertanya, Jatmiko Prasetyo sudah mendahului:
"Jiwamu terancam disini!" ia menuduh langsung.
"He, hangat lagi” berseru Mia, heran. Ia tanggalkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Dan menatap bingung pada laki -laki yang tegak kaku di pojok kamar dengan mata membelalak. Tak berkedip.
“ Apa yang kau lakukan di situ?"
Jatmiko Prasetyo tidak meniawab. Ia bergidik. Perubahan suhu udara yang tiba - tiba itu sama sekali tidak menyenangkan hatinya. Mungkin cuma ilusi. Ia berpikir Tetapi jelas tadi matanya menangkap bayangan hitam yang samar-samar berdiri di tempatnya sekarang. Ketika Mia menegur, ia cepat berpaling. Ia tidak melihat Mia, tetapi melihat ke pintu. Sesuatu yang hitam berkelebat keluar.
"Diam di tempatmu!”, Jatmiko berbisik tajam pada Mia yang berniat bangkit.
Sementara Parman hanya terpaku di tempatnya duduk. Tidak beranjak satu inci pun. Jatmiko bergegas melewati tempat tidur keluar dari kamar. Koridor menuju dapur sepi menganga. Ruang tamu pavilyun demikian pula. Gelas - gelas minuman berserakan di atas meja. Ada botol tergelimpang di lantai dan puntung rokok menghitam di serap cairan bening yang menggenang dekat kaki kursi.
Kegelapan yang hitam pekat mengintai dari luar jendela depan. Jatmiko tertegun di depan pintu terusan ke rumah induk. Seingatnya. tadi pintu itu terbuka. Siapa yang telah menutupnya? Noni, Astri atau Ike? Atau Dito?
Lamat –lamat Jatmiko mendengar suara derai tertawa Noni dan Ike. Ditimpali dengan selorohan Pak Barda di ruang tamu. Mata Jatmiko yang waspada berputar ke sudut yang berlawanan. Firasatnya yang kuat merasakan bahwa ada sesuatu yang jahat tengah mengintai dari balik tirai kegelapan.
Sekelompok pria- pria tua masih menekuni kartu -kartu di tangan mereka. Dan di belakang kelompok orang-orang tua itu. Berdiri tegak sosok tubuh yang ia cari. Besar, kulit pucat seperti kurang terkena sinar matahati. Tinggi kekar dan perkasa. Orang itu Parlin Purwadijaya . Ia akan mencatat nama itu di benaknya.
Menoleh ke pintu yang menghubungkan dengan tempat Jatmiko berdiri. Saat melihat Jatmiko, ia angkat gelas minuman. Lalu menganggukkan kepala disertai senyuman ramah. Jatmiko membalas anggukkan itu. Dan mencoba membalas senyuman yang tampaknya bersahabat itu. Lalu dengan bulu kuduk pada tegak berdiri. Ia kembali ke kamar tidur.
Mia duduk gelisah ditemani Parman. Memandangi Jatmiko yang wajahnya tampak serius. Baru saja mulut Mia terbuka untuk bertanya, Jatmiko Prasetyo sudah mendahului:
"Jiwamu terancam disini!" ia menuduh langsung.
Quote:
Mia menganga. Sampai detik tadi ia masih membulatkan tekad untuk tetap melanjutkan dan menyelesaikan tugas menyelidiki kasus berpuluhan tahun yang tidak juga dapat disingkap tabir rahasianya. Tetapi ketika di antara mereka ia lihat Jatmiko Prasetyo. Ia mulai ragu akan pendiriannya. Ia tak dapat meneguhkan pendiriannya lagi. Apa yang dikatakan oleh Jatmiko benar adanya.
Mia mulai menerawang mengingat hal –hal apa saja yang pernah terjadi. Di awali dari malam itu ia melihat sosok aneh di puncak bukit batu. Berturut –turut peristiwa yang aneh dan mencengangkan. Sampai kejadian terbunuhnya Sumanto yang jatuh di altar batu dengan kepala pecah. Belum lagi ada seorang perempuan yang ditemuinya di tebing. Perempuan itu marah – marah dan mengutuknya sebagai penyembah setan yang laknat.
Mia sadar akan hal itu.
" Aku memang membutuhkan perlindungan," ia berbisik parau dengan sudut -sudut mata yang basah.
Ia melihat Jatmiko mengangguk setuju kemudian meneruskan.
“ Aku meragukan perlindungan itu tidak akan kuperoleh lagi dari Dito "
Parman yang sedari tadi hanya terdiam. Tiba –tiba ikut buka mulut.
“ Apa maksudmu Mia? Apakah Dito telah berlaku kurang ajar kepada mu. Kalau dia bersikap melanggar paugeran biar aku yang akan menghajarnya. Dia menemanimu mengemban tugas ini juga karena keinginanku sendiri. Aku menilai dia bisa diandalkan. Aku mengenalnya sudah lama “
Mia membuang pandangannya keluar melalui jendela yang sengaja dibukanya tadi. Hanya kegelapan yang terlihat.
“ Bukan itu Mas…bukan itu…”
“ Lalu apa…”, Parman mengejar.
“ Ada sesuatu yang aneh dan janggal dengan anak itu. Sepertinya kita masuk ke dalam jebakan dan tidak akan bisa lari lagi “
“ Aku sudah menduga itu Parman. Manakala, pertama kali aku menginjakkan kaki masuk di perumahan ini. Aku mencium sesuatu yang busuk dan jahat di tempat ini “
“ Baiklah...”, berdesah Mia gugup.
“ Apa yang ingin kau ketahui?”
"Semuanya!”, Jatmiko menjawab singkat.
Mia mulai menerawang mengingat hal –hal apa saja yang pernah terjadi. Di awali dari malam itu ia melihat sosok aneh di puncak bukit batu. Berturut –turut peristiwa yang aneh dan mencengangkan. Sampai kejadian terbunuhnya Sumanto yang jatuh di altar batu dengan kepala pecah. Belum lagi ada seorang perempuan yang ditemuinya di tebing. Perempuan itu marah – marah dan mengutuknya sebagai penyembah setan yang laknat.
Mia sadar akan hal itu.
" Aku memang membutuhkan perlindungan," ia berbisik parau dengan sudut -sudut mata yang basah.
Ia melihat Jatmiko mengangguk setuju kemudian meneruskan.
“ Aku meragukan perlindungan itu tidak akan kuperoleh lagi dari Dito "
Parman yang sedari tadi hanya terdiam. Tiba –tiba ikut buka mulut.
“ Apa maksudmu Mia? Apakah Dito telah berlaku kurang ajar kepada mu. Kalau dia bersikap melanggar paugeran biar aku yang akan menghajarnya. Dia menemanimu mengemban tugas ini juga karena keinginanku sendiri. Aku menilai dia bisa diandalkan. Aku mengenalnya sudah lama “
Mia membuang pandangannya keluar melalui jendela yang sengaja dibukanya tadi. Hanya kegelapan yang terlihat.
“ Bukan itu Mas…bukan itu…”
“ Lalu apa…”, Parman mengejar.
“ Ada sesuatu yang aneh dan janggal dengan anak itu. Sepertinya kita masuk ke dalam jebakan dan tidak akan bisa lari lagi “
“ Aku sudah menduga itu Parman. Manakala, pertama kali aku menginjakkan kaki masuk di perumahan ini. Aku mencium sesuatu yang busuk dan jahat di tempat ini “
“ Baiklah...”, berdesah Mia gugup.
“ Apa yang ingin kau ketahui?”
"Semuanya!”, Jatmiko menjawab singkat.
Quote:
Parman sudah lama menghilang bersama ketiga orang sahabat dalam mobil Parman yang besar. Sudah hampir tengah malam sekarang dan jalan menurun yang curam menuju kota tampak gelap menyeramkan. Jatmiko Prasetyo duduk diam - diam di belakang setir BMW berwarna hijau gioknya.
Melamun kan Mia yang mereka tinggalkan di atas bukit. Jatmiko kuatir. Sangat kuatir. Meski ia cukup puas dengan persetujuan Mia untuk mengikuti petunjuk petunjuknya. Apabil dalam tempo satu minggu. Jatmiko tidak muncul menemui Mia sebagaimana yang mereka janjikan tadi di kamar tidur.
“ Malam ini juga aku harus ke Jogja”, bisik Jatmiko dalam hati.
“ Aku harus menemui lelaki tua itu untuk memohon petunjuk “
Sebagaimana yang dinasihatkan Jatmiko Prasetyo, selama satu minggu itu Mia bersikap wajar dan biasa biasa saja. Baik terhadap Dito. Terhadap pak Barda dan isteri, tetangga - tetangganya yang aneh -aneh. Mau pun terhadap pak Parlin. Tetua perumahan yang hampir tak pernah terlihat keluar dari rumah loji bergaya Belanda itu. Meski rumah itu mewah akan tetapi terletak menyendiri dan dikelilingi semak belukar.
Meski berpendapat bahwa dokter Usman benar - benar merawatnya. Mia tetap saja heran mengapa Jatmiko mengatakan agar Mia berusaha menyempatkan diri menemui dokter yang lain. Jatmiko menyebut sebuah nama yang menjabat sebagai kepala sebuah rumah sakit swasta terkenal. Tentu saja dengan nama yang mudah dapat diingat Mia, dan berjanji akan mengunjungi suatu hari.
Melamun kan Mia yang mereka tinggalkan di atas bukit. Jatmiko kuatir. Sangat kuatir. Meski ia cukup puas dengan persetujuan Mia untuk mengikuti petunjuk petunjuknya. Apabil dalam tempo satu minggu. Jatmiko tidak muncul menemui Mia sebagaimana yang mereka janjikan tadi di kamar tidur.
“ Malam ini juga aku harus ke Jogja”, bisik Jatmiko dalam hati.
“ Aku harus menemui lelaki tua itu untuk memohon petunjuk “
Sebagaimana yang dinasihatkan Jatmiko Prasetyo, selama satu minggu itu Mia bersikap wajar dan biasa biasa saja. Baik terhadap Dito. Terhadap pak Barda dan isteri, tetangga - tetangganya yang aneh -aneh. Mau pun terhadap pak Parlin. Tetua perumahan yang hampir tak pernah terlihat keluar dari rumah loji bergaya Belanda itu. Meski rumah itu mewah akan tetapi terletak menyendiri dan dikelilingi semak belukar.
Meski berpendapat bahwa dokter Usman benar - benar merawatnya. Mia tetap saja heran mengapa Jatmiko mengatakan agar Mia berusaha menyempatkan diri menemui dokter yang lain. Jatmiko menyebut sebuah nama yang menjabat sebagai kepala sebuah rumah sakit swasta terkenal. Tentu saja dengan nama yang mudah dapat diingat Mia, dan berjanji akan mengunjungi suatu hari.
Diubah oleh breaking182 02-02-2021 21:49
1980decade dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Kutip
Balas
Tutup