- Beranda
- Stories from the Heart
JATMIKO THE SERIES
...
TS
breaking182
JATMIKO THE SERIES
JATMIKO THE SERIES
Quote:
EPISODE 1 : MISTERI MAYAT TERPOTONG
Quote:
EPISODE 2 : MAHKLUK SEBERANG ZAMAN
Quote:
EPISODE 3 : HANCURNYA ISTANA IBLIS
Diubah oleh breaking182 07-02-2021 01:28
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
25
58K
Kutip
219
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#152
PART 22
Quote:
"Tunggu apa lagi, lekas lah. Aku harus masuk kantor setengah jam lagi. Ada pertemuan untuk membahas berita yang sedang ramai saat ini “, seseorang yang memakai setelan kemeja dan jas berwarna kelabu tampak menggerutu parau.
Mayat Sumanto diangkat ke kamar oleh beberapa orang paruh baya. Setelah dibersihkan dan dikafani. lalu kemudian digotong oleh beberapa orang menuju tempat peristirahatannya yang terakhir. Tanpa upacara kematian. Tanpa pembacaan doa - doa sebagaimana layaknya.
Juga sedikitpun tidak terlihat suasana berkabung diwajah orang orang yang datang melayat.
Wajah –wajah orang itu tampak datar dan tidak menyimpan ekspresi apa –apa. Sebelum pukul sembilan pagi, pengantar jenazah sudah kembali ke rumah masing masing, dan kehidupan sehari - hari di perumahan yang berlangsung di atas bukit itu kembali pula berlangsung seperti biasa. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Mia rebah di ranjang dengan tubuh lemah lunglai dan wajah pucat bersimbah keringat.
“Aku ... aku tidak tahan dokter...”, ia mengerang susah payah.
“Rasanya kepalaku berdenyut -denyut ... Sakit sekali...!"
Dokter Usman memberikannya suntikan.
Kemudian: “ Tidurlah... Kau hanya tergoncang, itu saja !"
“Aku takut dokter "
"Apa yang kau takutkan? Semua sudah berlalu. Dengan kematian Sumanto. Mimpi –mimpi burukmu akan segera berakhir “
“ Tetapi dokter... aku ingin sekali tidur lelap untuk beberapa saat. Akan tetapi, dengan situasi seperti ini sepertinya aku tidak akan mampu untuk memejamkan mata ..."
Mia hampir mencucurkan air mata kalau saja tangannya tidak di genggam erat - erat oleh Dito yang memandang nya dengan kuatir.
"Apakah tidak sebaiknya dokter berikan saja obat yang kubutuhkan. Seperti obat -obatan yang pernah kumakan pada waktu itu? “
"Dari hasil pemeriksaanku nak", dokter Usman memotong.
Suaranya lembut iba, dan penuh kasih.
“ Obat -obatan jenis itu tidak akan banyak menolong. Ah... jangan protes duu. Aku tidak ingin menyiksamu, nak Mia. Baiklah akan kuberikan kau beberapa butir obat tidur. Aturan pakainya....”
Mia tidak mendengar lanjutan kata - kata dokter Usman. Perlahan – lahan ia terpejam. Kemudian tertidur dengan lelap. Dokter Usman memeriksa nadi Mia sejenak kemudian tersenyum kepada Dito.
"Tidak ada yang perlu kau risaukan sekarang”, katanya ambil membereskan tas kerjanya. Ia bertanya sambil lalu: "Mau kerja hari ini ?”
"Terpaksa dokter. Pekerjaanku banyak yang terbengkalai karena memikirkan isteriku “, sembari membuang muka menghindari tatapan mata dokter Usman.
"la baik-baik saja. Percayalah. Oh ya, mobilku rusak. Mau tolong kau jemput aku sekalian kau ke kota"
" Tentu saja Dok”, Dito mengangguk dengan pasti.
Mayat Sumanto diangkat ke kamar oleh beberapa orang paruh baya. Setelah dibersihkan dan dikafani. lalu kemudian digotong oleh beberapa orang menuju tempat peristirahatannya yang terakhir. Tanpa upacara kematian. Tanpa pembacaan doa - doa sebagaimana layaknya.
Juga sedikitpun tidak terlihat suasana berkabung diwajah orang orang yang datang melayat.
Wajah –wajah orang itu tampak datar dan tidak menyimpan ekspresi apa –apa. Sebelum pukul sembilan pagi, pengantar jenazah sudah kembali ke rumah masing masing, dan kehidupan sehari - hari di perumahan yang berlangsung di atas bukit itu kembali pula berlangsung seperti biasa. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Mia rebah di ranjang dengan tubuh lemah lunglai dan wajah pucat bersimbah keringat.
“Aku ... aku tidak tahan dokter...”, ia mengerang susah payah.
“Rasanya kepalaku berdenyut -denyut ... Sakit sekali...!"
Dokter Usman memberikannya suntikan.
Kemudian: “ Tidurlah... Kau hanya tergoncang, itu saja !"
“Aku takut dokter "
"Apa yang kau takutkan? Semua sudah berlalu. Dengan kematian Sumanto. Mimpi –mimpi burukmu akan segera berakhir “
“ Tetapi dokter... aku ingin sekali tidur lelap untuk beberapa saat. Akan tetapi, dengan situasi seperti ini sepertinya aku tidak akan mampu untuk memejamkan mata ..."
Mia hampir mencucurkan air mata kalau saja tangannya tidak di genggam erat - erat oleh Dito yang memandang nya dengan kuatir.
"Apakah tidak sebaiknya dokter berikan saja obat yang kubutuhkan. Seperti obat -obatan yang pernah kumakan pada waktu itu? “
"Dari hasil pemeriksaanku nak", dokter Usman memotong.
Suaranya lembut iba, dan penuh kasih.
“ Obat -obatan jenis itu tidak akan banyak menolong. Ah... jangan protes duu. Aku tidak ingin menyiksamu, nak Mia. Baiklah akan kuberikan kau beberapa butir obat tidur. Aturan pakainya....”
Mia tidak mendengar lanjutan kata - kata dokter Usman. Perlahan – lahan ia terpejam. Kemudian tertidur dengan lelap. Dokter Usman memeriksa nadi Mia sejenak kemudian tersenyum kepada Dito.
"Tidak ada yang perlu kau risaukan sekarang”, katanya ambil membereskan tas kerjanya. Ia bertanya sambil lalu: "Mau kerja hari ini ?”
"Terpaksa dokter. Pekerjaanku banyak yang terbengkalai karena memikirkan isteriku “, sembari membuang muka menghindari tatapan mata dokter Usman.
"la baik-baik saja. Percayalah. Oh ya, mobilku rusak. Mau tolong kau jemput aku sekalian kau ke kota"
" Tentu saja Dok”, Dito mengangguk dengan pasti.
Quote:
Namun Dito pulang ke rumah jauh lebih siang dari biasa. lngatannya kepada Mia tidak mau hilang sehingga konsentrasinya sering buyar. Pukul tiga siang ia tiba di rumah menemukan rumahnya sunyi sepi dan kamar tidur yang kosong ia pergi ke rumah Pak Barda, tetapi rumah itu pun terkunci. Setelah mencari kesana kemari, ia temukan Bu Bardasedang berbincang -bincang di rumah salah seorang tetangga .
"Mia?", Bu Barda mengernyitkan dahi.
“ Ketika kutinggalkan satu jam yang lalu, ia masih ada di tempat tidur "
Bersama - sama mereka kemudian mencari. Namun tidak ada tetangga yang melihat Mia. Dari penghuni rumah yang letaknya di mulut jalan menuju kota juga tidak diperoleh petunjuk. Akhirnya seorang tetangga perempuan dapat memberi petunjuk.
"Tadi kulihat Mia turun ke lereng bukit", ia menerangkan.
"Waktu itu aku sedang mencari kucing ku yang nakal “
Lalu dengan bergegas Dito dan Bu Barda pamit dan berjalan setengah berlari –lari kecil menuju ke arah lereng bukit. Di bawah tumpukan batu hitam yang menjulang ke langit biru tampak sepasang sandal Mia. Bu Barda pucat dan Dito dengan gelisah mencari – cari kian kemari sambil memanggil-manggil nama Mia.
“ Mia...Mia...kau dimana? Kau dengar suaraku...Mia...Mia...”
Suara Dito menggema membentur bebatuan yang masih tetap saja membisu. Beberapa kali Dito memanggil tetap tiada jawaban. Hingga akhirnya Bu Bardamemberi usul.
“ Mungkin ia ke bawah “
Dito menggangguk tanpa berkata sepatah pun. Lalu bergegas menuruni jalan setapak ke lereng bukit karang. Jalan setapak itu tidak selicin ketika tadi pagi. Dito ikut turun melalui jalan yang sama menggotong mayat Sumanto sebelum jenazahnya mereka kuburkan di salah satu ceruk yang terletak di lereng bukit karang itu. Meskipun demikian, perasaan kuatir Dito tidak berkurang. Sambil terus menuruni jalan setapak itu, berkali - kali matanya ia sapukan ke bawah bukit mencari-cari kalau-kalau ada tanda – tanda Mia telah tergelincir.
"Mia?", Bu Barda mengernyitkan dahi.
“ Ketika kutinggalkan satu jam yang lalu, ia masih ada di tempat tidur "
Bersama - sama mereka kemudian mencari. Namun tidak ada tetangga yang melihat Mia. Dari penghuni rumah yang letaknya di mulut jalan menuju kota juga tidak diperoleh petunjuk. Akhirnya seorang tetangga perempuan dapat memberi petunjuk.
"Tadi kulihat Mia turun ke lereng bukit", ia menerangkan.
"Waktu itu aku sedang mencari kucing ku yang nakal “
Lalu dengan bergegas Dito dan Bu Barda pamit dan berjalan setengah berlari –lari kecil menuju ke arah lereng bukit. Di bawah tumpukan batu hitam yang menjulang ke langit biru tampak sepasang sandal Mia. Bu Barda pucat dan Dito dengan gelisah mencari – cari kian kemari sambil memanggil-manggil nama Mia.
“ Mia...Mia...kau dimana? Kau dengar suaraku...Mia...Mia...”
Suara Dito menggema membentur bebatuan yang masih tetap saja membisu. Beberapa kali Dito memanggil tetap tiada jawaban. Hingga akhirnya Bu Bardamemberi usul.
“ Mungkin ia ke bawah “
Dito menggangguk tanpa berkata sepatah pun. Lalu bergegas menuruni jalan setapak ke lereng bukit karang. Jalan setapak itu tidak selicin ketika tadi pagi. Dito ikut turun melalui jalan yang sama menggotong mayat Sumanto sebelum jenazahnya mereka kuburkan di salah satu ceruk yang terletak di lereng bukit karang itu. Meskipun demikian, perasaan kuatir Dito tidak berkurang. Sambil terus menuruni jalan setapak itu, berkali - kali matanya ia sapukan ke bawah bukit mencari-cari kalau-kalau ada tanda – tanda Mia telah tergelincir.
Quote:
Satu jam yang lalu Mia berjalan tertatih tatih. Jalanan menurun yang ia lewati sangat licin dan curam. Sekali tergelincir pasti tubuhnya terhempas ke bawah dengan patah tulang yang sangat parah. Mia tidak ingin tergelincir. Karena itu, sebelum menuruni jalan setapak ke tempat yang ingin ia datangi sandalnya ia tinggalkan di atas. Lalu dengan hati-hati ia turun. Ia tidak perlu tergesa gesa.
Hanya satu yang ingin ia lakukan, hanyalah membaca sedikit do'a yang ia ingat di makam Sumanto. Karena semenjak ia lihat Sumanto terhempas jatuh di batu altar sampai jenazahnya dikuburkan. Mia tidak sadarkan diri. Ketika ia siuman, dokter Usman telah duduk di sampingnya. Menyuntiknya, sehingga ia tertidur. Dalam tidurnya, ia melihat wajah Sumanto. Polos dan menatapnya dengan mata memelas, minta belas kasihan.
Mia terjaga dari tidur lelapnya, seperti mendapat suntikan tenaga baru Mia langsung meninggalkan rumah kecilnya. Apa pun maksud Sumanto menakut - nakutinya, tidak menjadi soal. Lagipula ia tidak begitu yakin sosok tubuh Sumanto yang ia lihat menjelang subuh sebelum laki –laki pendek dan gemuk itu jatuh dan mati adalah sama dengan sosok tubuh yang sebelumnya ia lihat muncul dalam suasana yang sama.
Malam hitam kelam dengan hujan topan dan angin yang membadai. Rasanya tubuh mengerikan yang sebelumnya ia lihat lebih hitam lebih tinggi dan lebih besar dengan tubuh Sumanto. Matanya menyala- nyala merah seperti api neraka dari sepotong kepala yang ditenteng menggunakan tangan kanan, tidak seperti mata Sumanto yang mengenakan topeng karet .
Dari pembicaraan suaminya dengan dokter Usman, ia dapat menduga duga dimana Sumanto dikuburkan. Tetapi di lereng bukit itu terdapat banyak sekali ceruk dan tidak ada tanda – tanda kuburan sama sekali. Mia menyapukan pandangan matanya di sekeliling lereng bukit. Banyak sekali ceruk –ceruk yang berjejer tidak beraturan di punggung bukit. Tidak mungkin baginya untuk memeriksanya satu persatu. Tiba –tiba pandangan matanya menangkap sekelebat bayangan orang. Dada Mia berdegup kencang. Perlahan ketakutannya itu sirna manakala ia melihat bayangan itu secara kebih jelas. Sesosok tubuh ramping berkain kebaya menyelinap keluar dari sebuah ceruk yang menjorok seperti gua yang sangat dalam.
Perempuan itu kaget ketika dipergoki Mia . Selama beberapa saat mereka berdua hanya saling menatap dan mengawasi. Dengan demikian Mia lantas tahu perempuan ini meski sudah berumur namun tampak sisa –sisa kecantikan di wajahnya. Dan sinar matanya memperlihatkan tidak saja perasaan duka cita yang mendalam. Tetapi, juga kemarahan yang terpendam. Perempuan setengah baya itu yang mula - mula membuka mulut.
Suara dingin dan tajam menusuk: "Kau salah seorang penghuni di bawah sana?", ia bertanya.
Tanpa menunjuk arah yang ia maksud, namun Mia dapat mengerti, "Yaaaa.. Mia mengangguk “
"Ibu... ibu siapa?"
"Tak perlu kau ketahui ", sahut perempuan itu, dengan wajah yang tiba-tiba berubah sinis.
Dan tatapan mata yang menghina.
"Tadi malam aku punya janji dengan Mas Manto. Kami akan menikah pagi ini. Tetapi ia tidak pernah muncul lalu kudengar desas - desus. ia telah mati, dan dikuburkan di ceruk ini “
“ Tanpa kubur yang digali kecuali tumpukan batu-batu dan lumpur yang kotor menjijikan...", mata perempuan itu berapi api dan berkaca –kaca.
"Kalian tidak saja telah membunuhnya! Kalian juga telah menghina jasadnya! Hanya karena ia ingin tobat. Ingin kembali ke jalan yang lurus! Tuhan akan mengutukmu! Mengutuk orang-orang yang tinggal bersamamu. Aku akan selalu berdo'a semoga Tuhan membalas kejahatan kalian semua lalu melaknat dan menimbun kalian semua ke dasar neraka jahanam!"
Ia kemudian meludah. Lalu meluncur turun ke bawah bukit. Mia sekilas mendengar suara isak tangis perempuan paruh baya itu. Tidak lama tubuh perempuan itu lenyap di balik timbunan semak belukar yang tinggi di antara pepohonan-pepohonan berdaun rimbun. Lama Mia menatap kepergian perempuan itu, termangu - mangu kaget antara bingung dan takut. Ia tidak tahu apa yang dimaksud perempuan itu. Tidak jelas apa yang ia bicarakan. Tetapi telinganya dipenuhi oleh kutuk dan sumpah serapah yang membuat ia menggigil, kemudian jatuh terduduk di tanah yang becek.
Ia masih terduduk di situ, ketika Dito menemukannya. Melihat pakaian Mia yang kusut dan kotor serta wajahnya demikian pucat kurus dan tersiksa tanpa berpikir panjang lagi Dito memeluk Mia. Mendekapkan wajah perempuan itu ke dadanya. Seraya membujuk bujuk dengan suara getir.
“Kita kembali ke atas Mia. Kau menyiksa dirimu sendiri. Kata dokter Usman kau harus banyak beristirahat.... “
"Mengapa?", bisik Mia lirih seperti tercekat di tenggorokan.
“Mengapa Dito?"
“ Apa yang mengapa Mia?", Dito menatap mata Mia dengan gelisah.
"Kau membuatku bingung. Tidakkah kita lebih baik naik saja ke atas. Dan .....”
"Sumanto... Dito.... Sumanto! Mengapa kalian menguburnya di ceruk ini?"
Sesaat, Dito terdiam. Lalu: "Entahlah. Aku....aku sendiri tidak tahu. Kata mereka ya... ya. kata mereka. karena ketika masih hidup Sumanto pernah meminta agar ia dikuburkan di ceruk ini. Apabila ia mati dan hanya ditumpuki batu serta lumpur. Tak di tanam".
“ Aku tidak ikut masuk ke dalam, ketika mereka menguburkan jenazah. Mia kau sempat masuk ke dalam gua yang hitam dan mengerikan itu?”
“Tidak. Aku belum sempat masuk"
"Lantas?”
“ Perempuan itu yang mengatakan"
"Perempuan? Perempuan mana? Siapa?"
Mira angkat bahu. Lalu pelan - pelan ia berdiri sempoyongan.
“ Aku lemas sekali Dito ”, Mia mengeluh.
“ Mari kubantu kau naik. Pelan-pelan saja. Salah langkah sedikit kau bisa jatuh terperosok ke bawah”.
“He...Mia! Jangan, awas tanganmu! Rumput itu tak kuat jadi pegangan. Hem... kau tidak mau mengatakan siapa perempuan itu Mia?"
“ Aku tidak tahu. Ia muncul tiba – tiba. Mungkin ia penduduk desa di bawah sana...”
"Hem... Akan kuselidiki siapa dia "
"Ah..untuk apa Dito? "
“ Memberi peringatan agar tidak menakut nakuti mu lain kali"
"Dari mana kau tahu ia menakut nakuti aku?"
"Naluri Mira", Dito menjawab seraya tersenyum manis.
Pada saat itulah akar yang dipegang Mia untuk naik merayap ke atas tiba –tiba putus karena tidak kuat menahan berat badannya. Untung saja dengan cekatan Dito langsung menyergap pundak Mia dari samping. Mia terpekik kaget. Dito kemudian tertawa – tawa bercampur tegang. Dito sampai tidak menyadari bahwa Mia tidak ikut tertawa dengannya. Pada saat itu Mia tengah menatap pergelangan tangan kanan Dito yang tidak sengaja tersingkap dengan nafas yang tertahan tiba - tiba.
Ia melihat bundaran hitam kemerahan semacam tattoo. Sebuah tanda yang aneh, dan belum pernah ia lihat sebelumnya di pergelangan tangan Dito. Tetapi rasanya ia pernah melihat tanda serupa tapi di belakang telinga orang lain.... Mia menempel ketat di punggung Dito sambil berusaha naik dibantu Dito. Kaki-kakinya gemetar. Jantungnya, apalagi!
Hanya satu yang ingin ia lakukan, hanyalah membaca sedikit do'a yang ia ingat di makam Sumanto. Karena semenjak ia lihat Sumanto terhempas jatuh di batu altar sampai jenazahnya dikuburkan. Mia tidak sadarkan diri. Ketika ia siuman, dokter Usman telah duduk di sampingnya. Menyuntiknya, sehingga ia tertidur. Dalam tidurnya, ia melihat wajah Sumanto. Polos dan menatapnya dengan mata memelas, minta belas kasihan.
Mia terjaga dari tidur lelapnya, seperti mendapat suntikan tenaga baru Mia langsung meninggalkan rumah kecilnya. Apa pun maksud Sumanto menakut - nakutinya, tidak menjadi soal. Lagipula ia tidak begitu yakin sosok tubuh Sumanto yang ia lihat menjelang subuh sebelum laki –laki pendek dan gemuk itu jatuh dan mati adalah sama dengan sosok tubuh yang sebelumnya ia lihat muncul dalam suasana yang sama.
Malam hitam kelam dengan hujan topan dan angin yang membadai. Rasanya tubuh mengerikan yang sebelumnya ia lihat lebih hitam lebih tinggi dan lebih besar dengan tubuh Sumanto. Matanya menyala- nyala merah seperti api neraka dari sepotong kepala yang ditenteng menggunakan tangan kanan, tidak seperti mata Sumanto yang mengenakan topeng karet .
Dari pembicaraan suaminya dengan dokter Usman, ia dapat menduga duga dimana Sumanto dikuburkan. Tetapi di lereng bukit itu terdapat banyak sekali ceruk dan tidak ada tanda – tanda kuburan sama sekali. Mia menyapukan pandangan matanya di sekeliling lereng bukit. Banyak sekali ceruk –ceruk yang berjejer tidak beraturan di punggung bukit. Tidak mungkin baginya untuk memeriksanya satu persatu. Tiba –tiba pandangan matanya menangkap sekelebat bayangan orang. Dada Mia berdegup kencang. Perlahan ketakutannya itu sirna manakala ia melihat bayangan itu secara kebih jelas. Sesosok tubuh ramping berkain kebaya menyelinap keluar dari sebuah ceruk yang menjorok seperti gua yang sangat dalam.
Perempuan itu kaget ketika dipergoki Mia . Selama beberapa saat mereka berdua hanya saling menatap dan mengawasi. Dengan demikian Mia lantas tahu perempuan ini meski sudah berumur namun tampak sisa –sisa kecantikan di wajahnya. Dan sinar matanya memperlihatkan tidak saja perasaan duka cita yang mendalam. Tetapi, juga kemarahan yang terpendam. Perempuan setengah baya itu yang mula - mula membuka mulut.
Suara dingin dan tajam menusuk: "Kau salah seorang penghuni di bawah sana?", ia bertanya.
Tanpa menunjuk arah yang ia maksud, namun Mia dapat mengerti, "Yaaaa.. Mia mengangguk “
"Ibu... ibu siapa?"
"Tak perlu kau ketahui ", sahut perempuan itu, dengan wajah yang tiba-tiba berubah sinis.
Dan tatapan mata yang menghina.
"Tadi malam aku punya janji dengan Mas Manto. Kami akan menikah pagi ini. Tetapi ia tidak pernah muncul lalu kudengar desas - desus. ia telah mati, dan dikuburkan di ceruk ini “
“ Tanpa kubur yang digali kecuali tumpukan batu-batu dan lumpur yang kotor menjijikan...", mata perempuan itu berapi api dan berkaca –kaca.
"Kalian tidak saja telah membunuhnya! Kalian juga telah menghina jasadnya! Hanya karena ia ingin tobat. Ingin kembali ke jalan yang lurus! Tuhan akan mengutukmu! Mengutuk orang-orang yang tinggal bersamamu. Aku akan selalu berdo'a semoga Tuhan membalas kejahatan kalian semua lalu melaknat dan menimbun kalian semua ke dasar neraka jahanam!"
Ia kemudian meludah. Lalu meluncur turun ke bawah bukit. Mia sekilas mendengar suara isak tangis perempuan paruh baya itu. Tidak lama tubuh perempuan itu lenyap di balik timbunan semak belukar yang tinggi di antara pepohonan-pepohonan berdaun rimbun. Lama Mia menatap kepergian perempuan itu, termangu - mangu kaget antara bingung dan takut. Ia tidak tahu apa yang dimaksud perempuan itu. Tidak jelas apa yang ia bicarakan. Tetapi telinganya dipenuhi oleh kutuk dan sumpah serapah yang membuat ia menggigil, kemudian jatuh terduduk di tanah yang becek.
Ia masih terduduk di situ, ketika Dito menemukannya. Melihat pakaian Mia yang kusut dan kotor serta wajahnya demikian pucat kurus dan tersiksa tanpa berpikir panjang lagi Dito memeluk Mia. Mendekapkan wajah perempuan itu ke dadanya. Seraya membujuk bujuk dengan suara getir.
“Kita kembali ke atas Mia. Kau menyiksa dirimu sendiri. Kata dokter Usman kau harus banyak beristirahat.... “
"Mengapa?", bisik Mia lirih seperti tercekat di tenggorokan.
“Mengapa Dito?"
“ Apa yang mengapa Mia?", Dito menatap mata Mia dengan gelisah.
"Kau membuatku bingung. Tidakkah kita lebih baik naik saja ke atas. Dan .....”
"Sumanto... Dito.... Sumanto! Mengapa kalian menguburnya di ceruk ini?"
Sesaat, Dito terdiam. Lalu: "Entahlah. Aku....aku sendiri tidak tahu. Kata mereka ya... ya. kata mereka. karena ketika masih hidup Sumanto pernah meminta agar ia dikuburkan di ceruk ini. Apabila ia mati dan hanya ditumpuki batu serta lumpur. Tak di tanam".
“ Aku tidak ikut masuk ke dalam, ketika mereka menguburkan jenazah. Mia kau sempat masuk ke dalam gua yang hitam dan mengerikan itu?”
“Tidak. Aku belum sempat masuk"
"Lantas?”
“ Perempuan itu yang mengatakan"
"Perempuan? Perempuan mana? Siapa?"
Mira angkat bahu. Lalu pelan - pelan ia berdiri sempoyongan.
“ Aku lemas sekali Dito ”, Mia mengeluh.
“ Mari kubantu kau naik. Pelan-pelan saja. Salah langkah sedikit kau bisa jatuh terperosok ke bawah”.
“He...Mia! Jangan, awas tanganmu! Rumput itu tak kuat jadi pegangan. Hem... kau tidak mau mengatakan siapa perempuan itu Mia?"
“ Aku tidak tahu. Ia muncul tiba – tiba. Mungkin ia penduduk desa di bawah sana...”
"Hem... Akan kuselidiki siapa dia "
"Ah..untuk apa Dito? "
“ Memberi peringatan agar tidak menakut nakuti mu lain kali"
"Dari mana kau tahu ia menakut nakuti aku?"
"Naluri Mira", Dito menjawab seraya tersenyum manis.
Pada saat itulah akar yang dipegang Mia untuk naik merayap ke atas tiba –tiba putus karena tidak kuat menahan berat badannya. Untung saja dengan cekatan Dito langsung menyergap pundak Mia dari samping. Mia terpekik kaget. Dito kemudian tertawa – tawa bercampur tegang. Dito sampai tidak menyadari bahwa Mia tidak ikut tertawa dengannya. Pada saat itu Mia tengah menatap pergelangan tangan kanan Dito yang tidak sengaja tersingkap dengan nafas yang tertahan tiba - tiba.
Ia melihat bundaran hitam kemerahan semacam tattoo. Sebuah tanda yang aneh, dan belum pernah ia lihat sebelumnya di pergelangan tangan Dito. Tetapi rasanya ia pernah melihat tanda serupa tapi di belakang telinga orang lain.... Mia menempel ketat di punggung Dito sambil berusaha naik dibantu Dito. Kaki-kakinya gemetar. Jantungnya, apalagi!
Quote:
Di atas, Bu Barda menyambut mereka dengan bahagia.
"Seharusnya tak kubiarkan kau keluar sendirian. Bagaimana kalau kau sampai tergelincir jatuh dan....Tak berani aku membayangkannya. Apa kata dia kalau kalau kau sampai celaka”
"Dia?", Mia mendesah.
Bu Barda tertegun sejenak. Setelah beradu pandang dengan Dito. Ia tersenyum, menjawab: " Yaa Nak Dito suamimu ini tentu ia begitu panik. Ketika pulang ke rumah dan melihat tempat tidurmu kosong"
"Menyedihkan" ,ujar Mia
"Ia tidak selayaknya dikubur dalam ceruk. Apa salahnya menggali sebuah kubur di sekitar sini. Tanah-tanah yang kosong masih cukup banyak...."
Bu Barda menelan ludah. Berulang-ulang. Kemudian : “ Tak ada salahnya nak. Soalnya kita harus mematuhi amanat “
“ Amanat? Apa pula yang menarik hati Sumanto di ceruk itu?"
“ Masa lalunya nak Mia"
Bu Barda lantas bercerita tentang sedikit yang ia ketahui mengenai Sumanto. Tentu saja hanya terbatas pada saat Sumanto menikah dengan perempuan yang ia cintai yang bernama Jumini itu. Sayang sekali meninggal dunia ketika mengandung bakal anaknya di usia tujuh bulan, begitu dituturkan Bu Barda dengan hati -hati.
"Isteri dan anak perawannya itu dikuburkan sendiri oleh Sumanto. Bukan di tempat yang semestinya. Melainkan dalam ceruk. Juga tidak dikubur dalam tanah. Karena kata Sumanto, ia ingin melindungi jenazah - jenazah itu sampai hancur dimakan cacing "
“ Ia memang sedikit tidak waras, kalau kau ingin tahu" ,kata bu Barda polos.
Ia menambahkan, "Lihat saja kelakuannya sebelum meninggal. Naik ke puncak berpura –pura menjadi hantu tanpa kepala dan menakut-nakutimu di tengah malam buta...."
“Untuk apa ia menakut nakuti aku Bu Barda?"
“Siapa yang tahu. yang jelas, ku dengar si Manto itu pernah bersekutu dengan roh jahat. Ah... tak usah kau bertanya, roh jahat macam apa. Sudah kubilang. Hanya desas desus “
“ Hem...lihatlah itu rumah kita sudah di depan mata. Sebaiknya kau mandi merapikan diri dan makan Oh ya telah kupersiapkan lalap segar untuk makan malammu. Tentu saja kau boleh makan sedikit nasi. Perlu kuambilkan obat tidurmu Nak Mia?"
“ Nanti sajalah Bu Barda, aku akan mengambilnya sendiri. Perutku belum terasa lapar “
Perempuan tua itu hanya bisa mengangguk lalu tersenyum ramah. Sebelum meninggalkan Mia yang masih berdiri di ambang pintu serambi depan.
"Seharusnya tak kubiarkan kau keluar sendirian. Bagaimana kalau kau sampai tergelincir jatuh dan....Tak berani aku membayangkannya. Apa kata dia kalau kalau kau sampai celaka”
"Dia?", Mia mendesah.
Bu Barda tertegun sejenak. Setelah beradu pandang dengan Dito. Ia tersenyum, menjawab: " Yaa Nak Dito suamimu ini tentu ia begitu panik. Ketika pulang ke rumah dan melihat tempat tidurmu kosong"
"Menyedihkan" ,ujar Mia
"Ia tidak selayaknya dikubur dalam ceruk. Apa salahnya menggali sebuah kubur di sekitar sini. Tanah-tanah yang kosong masih cukup banyak...."
Bu Barda menelan ludah. Berulang-ulang. Kemudian : “ Tak ada salahnya nak. Soalnya kita harus mematuhi amanat “
“ Amanat? Apa pula yang menarik hati Sumanto di ceruk itu?"
“ Masa lalunya nak Mia"
Bu Barda lantas bercerita tentang sedikit yang ia ketahui mengenai Sumanto. Tentu saja hanya terbatas pada saat Sumanto menikah dengan perempuan yang ia cintai yang bernama Jumini itu. Sayang sekali meninggal dunia ketika mengandung bakal anaknya di usia tujuh bulan, begitu dituturkan Bu Barda dengan hati -hati.
"Isteri dan anak perawannya itu dikuburkan sendiri oleh Sumanto. Bukan di tempat yang semestinya. Melainkan dalam ceruk. Juga tidak dikubur dalam tanah. Karena kata Sumanto, ia ingin melindungi jenazah - jenazah itu sampai hancur dimakan cacing "
“ Ia memang sedikit tidak waras, kalau kau ingin tahu" ,kata bu Barda polos.
Ia menambahkan, "Lihat saja kelakuannya sebelum meninggal. Naik ke puncak berpura –pura menjadi hantu tanpa kepala dan menakut-nakutimu di tengah malam buta...."
“Untuk apa ia menakut nakuti aku Bu Barda?"
“Siapa yang tahu. yang jelas, ku dengar si Manto itu pernah bersekutu dengan roh jahat. Ah... tak usah kau bertanya, roh jahat macam apa. Sudah kubilang. Hanya desas desus “
“ Hem...lihatlah itu rumah kita sudah di depan mata. Sebaiknya kau mandi merapikan diri dan makan Oh ya telah kupersiapkan lalap segar untuk makan malammu. Tentu saja kau boleh makan sedikit nasi. Perlu kuambilkan obat tidurmu Nak Mia?"
“ Nanti sajalah Bu Barda, aku akan mengambilnya sendiri. Perutku belum terasa lapar “
Perempuan tua itu hanya bisa mengangguk lalu tersenyum ramah. Sebelum meninggalkan Mia yang masih berdiri di ambang pintu serambi depan.
Quote:
Baru menjelang tengah malam, Mia merasa lapar. Yakin Dito telah tertidur di sofa seperti biasanya. Ia berjingkat jingkat ke dapur membuka lemari makan. Thermos berisi nasi yang masih hangat ia keluarkan. Sisa lalap tidak ia sentuh. Karena sudah tidak ada lauk. Ia membuka kulkas. Ia ingat ada ikan segar dan tahu. Ikan dapat ia panggang dan Tahu bisa di goreng. Mendadak, ia tertegun melihat ke dalam kulkas yang menganga. Terletak di atas sebuah piring tampak sepotong besar daging mentah yang masih segar.
Tumben Dito membeli daging sepulang dari kota sore ini. Tetapi apa perduli Mia. Ambil daging itu. yang tentu lebih nikmat dari ikan. Bakar, beri bumbu kecap. Selada dan saos. Ia menutup pintu dapur dengan hati - hati. Agar kalau ia membakar daging, baunya tidak tercium sampai ke kamar tidur.
Pelan - pelan ia iris daging segar itu. Rupanya belum begitu beku setelah disimpan di dalam kulkas. Terlihat dari bagian dalam irisan daging, tampak meleleh butir-butir darah. Merah, segar, merangsang. Seketika, bayangan daging besar lenyap dari pikiran Mia. Takut - takut ia menatap irisan -irisan daging bercampur darah segar itu. Ada suatu kekuatan gaib yang mendorong tangannya untuk mendekati seiris daging tadi ke mulutnya. Dengan kelopak mata terpejam. la cicipi daging itu. Bau anyir membuat perutnya mengulah sesaat. Tetapi kekuatan aneh yang mempengaruhi dirinya mendorong tangannya untuk memasukkan irisan daging itu lebih masuk ke mulutnya lantas dengan setengah terpaksa setengah bernafsu, daging mentah itu ia kunyah - kunyah. Kemudian ditelan. Nikmat sekali....
Tanpa terasa ia menghabiskan tiga iris daging yang paling banyak darahnya. Setelah ia merasa kenyang, dan menyimpan sisa daging ke dalam kulkas. Masih diliputi keheranan oleh nikmat yang ia capai. Mia lantas berjingkat - jingkat kembali ke kamar tidur. Rebah di ranjangnya dan mendengkur dalam sekejap.
Tak lama setelah ia mendengkur. Dito membuka mata . Dito bangkit perlahan mengawasi Mia. Kemudian ia turun dari sofa tempat tidurnya. pergi ke dapur berjingkat-jingkat sebagaimana yang dilakukan Mia sebelumnya. Thermos nasi masih terletak di atas meja. Dito memasukkan thermos itu ke dalam lemari makan. Lalu ia berjalan mendekati kulkas dan membukanya.
Daging yang ia beli tadi sore masih terletak di piring yang sama. Tetapi sudah tidak utuh. Tampak telah diiris iris, dan sebagian sudah lenyap tentu ke dalam perut Mia. Darah merah segar masih menetes - netes di permukaan piring.Dito menutup kulkas hati -hati. Bibirnya menyungging senyum puas.
Tumben Dito membeli daging sepulang dari kota sore ini. Tetapi apa perduli Mia. Ambil daging itu. yang tentu lebih nikmat dari ikan. Bakar, beri bumbu kecap. Selada dan saos. Ia menutup pintu dapur dengan hati - hati. Agar kalau ia membakar daging, baunya tidak tercium sampai ke kamar tidur.
Pelan - pelan ia iris daging segar itu. Rupanya belum begitu beku setelah disimpan di dalam kulkas. Terlihat dari bagian dalam irisan daging, tampak meleleh butir-butir darah. Merah, segar, merangsang. Seketika, bayangan daging besar lenyap dari pikiran Mia. Takut - takut ia menatap irisan -irisan daging bercampur darah segar itu. Ada suatu kekuatan gaib yang mendorong tangannya untuk mendekati seiris daging tadi ke mulutnya. Dengan kelopak mata terpejam. la cicipi daging itu. Bau anyir membuat perutnya mengulah sesaat. Tetapi kekuatan aneh yang mempengaruhi dirinya mendorong tangannya untuk memasukkan irisan daging itu lebih masuk ke mulutnya lantas dengan setengah terpaksa setengah bernafsu, daging mentah itu ia kunyah - kunyah. Kemudian ditelan. Nikmat sekali....
Tanpa terasa ia menghabiskan tiga iris daging yang paling banyak darahnya. Setelah ia merasa kenyang, dan menyimpan sisa daging ke dalam kulkas. Masih diliputi keheranan oleh nikmat yang ia capai. Mia lantas berjingkat - jingkat kembali ke kamar tidur. Rebah di ranjangnya dan mendengkur dalam sekejap.
Tak lama setelah ia mendengkur. Dito membuka mata . Dito bangkit perlahan mengawasi Mia. Kemudian ia turun dari sofa tempat tidurnya. pergi ke dapur berjingkat-jingkat sebagaimana yang dilakukan Mia sebelumnya. Thermos nasi masih terletak di atas meja. Dito memasukkan thermos itu ke dalam lemari makan. Lalu ia berjalan mendekati kulkas dan membukanya.
Daging yang ia beli tadi sore masih terletak di piring yang sama. Tetapi sudah tidak utuh. Tampak telah diiris iris, dan sebagian sudah lenyap tentu ke dalam perut Mia. Darah merah segar masih menetes - netes di permukaan piring.Dito menutup kulkas hati -hati. Bibirnya menyungging senyum puas.
Diubah oleh breaking182 31-01-2021 20:09
jiresh dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas
Tutup