- Beranda
- Stories from the Heart
JATMIKO THE SERIES
...
TS
breaking182
JATMIKO THE SERIES
JATMIKO THE SERIES
Quote:
EPISODE 1 : MISTERI MAYAT TERPOTONG
Quote:
EPISODE 2 : MAHKLUK SEBERANG ZAMAN
Quote:
EPISODE 3 : HANCURNYA ISTANA IBLIS
Diubah oleh breaking182 07-02-2021 01:28
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
25
58K
Kutip
219
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#151
PART 21
Quote:
Desa Kaliwungu yang tengah malam itu sebelumnya dikejutkan dengan jenazah Suradadi yang secara misterius dilemparkan ke dalam rumah. Pagi ini manakala matahari masih setengah berendam di ufuk timur hanya menampakkan cahaya kemerahannya. Dan udara sejuk bercampur dingin embun dan kabut mendadak saja berubah menjadi hingar bingar. Di sebelah utara tampak orang –rang yang akan menggarap sawah, ataupun mengairi tegalan tampak tegang.
Terdengar suara kentongan titir bersahutan beberapa kali. Pagi itu terjadi rajapati. Rustam ditemukan mati mengenaskan di pematang sawah. Rustam tergeletak pucat dan kaku di rerumputan. Di sudut-sudut mulutnya yang seperti meringis, begitu pula di sekitar bagian bawah lubang hidung. Terlihat dimerahi oleh genangan darah yang sudah membeku. Leher membiru seperti habis dijepit oleh tangan raksasa . Sementara urat dari wajahnya menggurat nyata.
Pertanda betapa hebat penderitaan yang harus dialami sewaktu ajal datang menjemput. Dan yang membuat seseorang tercekam ngeri adalah gambaran nyata dari sepasang mata Rustam. Sepasang bola matanya yang pucat serta mati itu tampak bagai akan terlompat ke luar dari dalam rongganya Dan karena mata itu tengah menatap ke atas.
Dan di pagi berikutnya berturut –turut beberapa warga mengalami kematian yang misterius. Desa Kaliwungu menjadi layaknya desa yang mati. Para warganya menjelang senja semua sudah masuk ke dalam rumah masing –masing. Tidak ada satupun warga yang berani keluar rumah. Sementara pihak berwajib pun mengalami kesulitan mengusut kematiam –kematian itu. Tidak ada sepotong bukti pun yang tertinggal di tempat kejadian perkara.
“ Bu, aku heran kenapa desa kita belakangan sering terjadi rajapati?”
Seorang paruh baya berbicara kepada isterinya setengah berbisik. Istrinya hanya menggeleng perlahan. Sangat terlihat wajah tegang membayang di wajahnya.
“ Atau jangan –jangan desa kita kena pageblug atau kena kutukan “
“ Bisa juga Pakne”, akhirnya istrinya menjawab
“ Dan lagi kalau ditelusuri korban nya para pemuda dsa yang kelakuannya bias dikatakan urakan dan nakal”, lanjut istrinya.
Suaminya hanya manggut- manggut sembari menyeruput teh yang isinya tinggal separoh itu.
“ Benar Bu ne, aku juga baru kepikiran sekarang. Pemuda –pemuda yang menjadi korban rata –rata pemuda tidak benar polahnya “
“ Tentu kau masih ingat kelakuan Suradadi, pemuda itu suka mabok, judi, main perempuan. Bahkan, terakhir aku dengar desas –desus ia membunuh orang. Karena Suradadi menginginkan istri orang tersebut. Belum lagi Rustam, mentang –mentang anak carik. Dia pernah mengusir keluarga Mbah Kerto karena menempati tanah yang belum jelas kepemilikannya. Malah sekarang tanah itu dia kangkangin sendiri “
“ Pak Lurah juga tidak tegas “
“ Atau ketidak tegasan Pak Lurah dipicu masalah anak perempuannya? Retno Jumini sudah menikah tiga kali. Ketiga suaminya mati semua. Pas malam pertama mati. Berulang –ulang sampai tiga kali.Dan sekarang Jumini menjadi janda. Sepertinya Jumini juga trauma untuk menikah lagi. Entahlah “
“ Sudah Bune, kita tidak perlu mencampuri urusan orang lain. Marilah kita ke dalam bilik saja. Kita lihat si Genduk sudah tidur atau belum “
Kedua suami istri itu kemudian beranjak dari ruang tengah dan masuk ke dalam bilik. Sementara di luar kegelapan makin pekat menyelimuti sudut –sudut desa. Sunyi dan sepi seperti desa mati.
Terdengar suara kentongan titir bersahutan beberapa kali. Pagi itu terjadi rajapati. Rustam ditemukan mati mengenaskan di pematang sawah. Rustam tergeletak pucat dan kaku di rerumputan. Di sudut-sudut mulutnya yang seperti meringis, begitu pula di sekitar bagian bawah lubang hidung. Terlihat dimerahi oleh genangan darah yang sudah membeku. Leher membiru seperti habis dijepit oleh tangan raksasa . Sementara urat dari wajahnya menggurat nyata.
Pertanda betapa hebat penderitaan yang harus dialami sewaktu ajal datang menjemput. Dan yang membuat seseorang tercekam ngeri adalah gambaran nyata dari sepasang mata Rustam. Sepasang bola matanya yang pucat serta mati itu tampak bagai akan terlompat ke luar dari dalam rongganya Dan karena mata itu tengah menatap ke atas.
Dan di pagi berikutnya berturut –turut beberapa warga mengalami kematian yang misterius. Desa Kaliwungu menjadi layaknya desa yang mati. Para warganya menjelang senja semua sudah masuk ke dalam rumah masing –masing. Tidak ada satupun warga yang berani keluar rumah. Sementara pihak berwajib pun mengalami kesulitan mengusut kematiam –kematian itu. Tidak ada sepotong bukti pun yang tertinggal di tempat kejadian perkara.
“ Bu, aku heran kenapa desa kita belakangan sering terjadi rajapati?”
Seorang paruh baya berbicara kepada isterinya setengah berbisik. Istrinya hanya menggeleng perlahan. Sangat terlihat wajah tegang membayang di wajahnya.
“ Atau jangan –jangan desa kita kena pageblug atau kena kutukan “
“ Bisa juga Pakne”, akhirnya istrinya menjawab
“ Dan lagi kalau ditelusuri korban nya para pemuda dsa yang kelakuannya bias dikatakan urakan dan nakal”, lanjut istrinya.
Suaminya hanya manggut- manggut sembari menyeruput teh yang isinya tinggal separoh itu.
“ Benar Bu ne, aku juga baru kepikiran sekarang. Pemuda –pemuda yang menjadi korban rata –rata pemuda tidak benar polahnya “
“ Tentu kau masih ingat kelakuan Suradadi, pemuda itu suka mabok, judi, main perempuan. Bahkan, terakhir aku dengar desas –desus ia membunuh orang. Karena Suradadi menginginkan istri orang tersebut. Belum lagi Rustam, mentang –mentang anak carik. Dia pernah mengusir keluarga Mbah Kerto karena menempati tanah yang belum jelas kepemilikannya. Malah sekarang tanah itu dia kangkangin sendiri “
“ Pak Lurah juga tidak tegas “
“ Atau ketidak tegasan Pak Lurah dipicu masalah anak perempuannya? Retno Jumini sudah menikah tiga kali. Ketiga suaminya mati semua. Pas malam pertama mati. Berulang –ulang sampai tiga kali.Dan sekarang Jumini menjadi janda. Sepertinya Jumini juga trauma untuk menikah lagi. Entahlah “
“ Sudah Bune, kita tidak perlu mencampuri urusan orang lain. Marilah kita ke dalam bilik saja. Kita lihat si Genduk sudah tidur atau belum “
Kedua suami istri itu kemudian beranjak dari ruang tengah dan masuk ke dalam bilik. Sementara di luar kegelapan makin pekat menyelimuti sudut –sudut desa. Sunyi dan sepi seperti desa mati.
Quote:
Sungai di sebelah lereng bukit tampak meliuk –liuk seperti ular naga. Airnya jernih di timpa sinar cahaya pagi. Beberapa ikan gabus berkejaran di tepi sungai berair dangkal yang berbatu –batu. Sumanto berjalan gontai menenteng joran. Di pinggangnya yang lebar menggantung kepis. Ia menyusuri sungai untuk mancing. Nasib baik tidak berpihak kepadanya . Seekorpun tidak ada yang tersangkut di ujung kailnya sejak dini hari tadi. Ia terpaksa sering berpindah - pindah tempat, sampai akhirnya ia tiba di sebuah belokan sungai, jantungnya berdegup kencang ia melihat seorang perempuan tengah bergulat melawan tiga orang laki-laki muda yang rupanya mencoba merudapaksanya.
Baju perempuan itu sudah koyak tidak karuan. Sehingga memperlihatkan bagian –bagian tubuh nyaris telanjang. Mengendap –endap Sumanto mendekati pergumulan yang tidak seimbang itu. Joran sudah sejak tadi diletakkan di tanah. Di tangan kanannya sudah tergenggam dengan erat sepotong kayu besi yang diambilnya di tepi jalan tadi. Satu lompatan ringan Sumanto telah memukul dengan keras ke arah tengkuk salah seorang pemuda yang tengah berusaha untuk mendekap tubuh perempuan yang masih meronta –ronta itu.
Pemuda itu terhenyak, kepalanya tersentak ke depan dengan keras. Tanpa mengetahui siapa yang memukulnya. Ia telah roboh ke tanah. Pingsan. Ke dua temannya yang melihat hal ini segera mengendurkan sergapan kepada perempuan itu. Keduanya menatap tajam ke arah Sumanto yang berdiri tegak sembari menggenggam sepotong kayu. Tanpa dikomando, kedua pemuda itu menyerang ke arah Sumanto.
Pukulan tangan kiri si pemuda menderu dari samping. Sumanto menggeser tubuhnya. Pemuda satunya mencoba memukul ulu hati Sumanto. Potongan kayu yang dipegang Sumanto berkelebat cepat. Terdengar jeritan pemuda yang hendak menyerang ulu hati. Mukanya sebelah kiri terpukul dengan keras. Tubuh pemuda itu terhuyung –huyung. Belumpuas Sumanto lantas tendang tubuh si pemuda hingga terpental dan melayang jatuh ke sungai!
Bagaimanapun ngerinya pemuda melihat kejadian itu namun apa yang terjadi dengan sahabatnya membuat dia kalap. Tubuhnya melompat di udara. Kaki kanannya menderu ke tubuh Sumanto dan dengan telak menghantam perutnya! Sumato terlempar empat langkah, tersandar pada batang kelapa.
Tapi dia tidak tampak kesakitan malah tertawa-tawa dan usap-usap perut buncitnya dengan sikap mengejek.
“Dia bukan lawanku. Aku harus cari selamat!” membatin pemuda itu.
Dia melirik ke arah kawannya. Sahabatnya tampak diam tergeletak di bebatuan besar di tengah sungai. Tanpa membuang waktu pemuda itu kabur terbirit birit. Jatuh terjerat sulur semak belukang. Bangkit dengan segera. Lantas lari tanpa menoleh lagi ke belakang dan memperdulikan temannya yang masih tergeletak di tengah sungai. Sumanto menatap perempuan yang terkulai lemah dengan kaki terjulur di tebing sungai itu. Si perempuan balas menatap. Dan mereka sama-sama terkejut .
"Jumini!" Sumanto berbisik, parau.
"Hei! Kau... bukankah kau Manto?"
Meski cuma buruh rendahan. Namun tinggal di tengah tengah lingkungan orang kaya serta beradab. Mempengaruhi penampilan Sumanto di depan mata Jumini. Perempuan itu masih ingat masa lalu mereka. namun tidak menjerit apalagi melarikan diri ketika Sumanto membantunya berdiri. Dan kemudian melepas kaos lengan panjangnya dan diangsurkan kearah Jumini.
“ Pakailah dahulu, bajunya sudah tidak layak untuk menutup badan mu”
" Setelah ini mari kau kuantar pulang." Sumanto mendesah dengan suara gemetar.
Dalam perjalanan pulang. Pembicaraan antara keduanya terlihat kaku. Sumanto lebih banyak diam. Hanya sesekali bertanya atau menjawab dengan sepotong –potong. Tiba –tiba entah dari mana pikiran itu berasal. Manakala sudah berada tidak jauh dari rumah Retno jumini. Terlontarlah pertanyaan dari bibir Sumanto. Dan Sumanto sendiri tidak menduganya mengapa pertanyaan itu bisa terlontar keluar dari mulutnya.
"Maukah kau menikah denganku?"
"Tanya saja pada bapak!", Jumini menjawab tanpa ragu - ragu
Bukan Sumanto yang pergi melamar. Melainkan Parlin yang telah diangkat sebagai tetua kampung di atas bukit. Ditemani oleh dua tiga orang tetangga berwajah dan berpakaian sama mentereng. Lamaran itu. dengan Sendirinya diterima sekali jadi. Dengan catatan. Orang tua Jumini tidak bertanggung jawab kalau Jumini menjanda untuk keempat kalinya. Pernikahan itu berlangsung di atas bukit. Diiringi doa-doa yang aneh.
Pak Barda menyediakan bagian rumahnya. Ada satu rumah kecil semacam paviliun di belakang rumah utama untuk ditempati Sumanto dan isterinya. Sebelum mereka naik ranjang di malam pertama. Pak Barda yang suka usil berbisik di telinga Sumanto.
“ Pelan-pelan naiknya "
Sumanto hanya tersenyum melihat polah lelaki paruh baya itu.
Baju perempuan itu sudah koyak tidak karuan. Sehingga memperlihatkan bagian –bagian tubuh nyaris telanjang. Mengendap –endap Sumanto mendekati pergumulan yang tidak seimbang itu. Joran sudah sejak tadi diletakkan di tanah. Di tangan kanannya sudah tergenggam dengan erat sepotong kayu besi yang diambilnya di tepi jalan tadi. Satu lompatan ringan Sumanto telah memukul dengan keras ke arah tengkuk salah seorang pemuda yang tengah berusaha untuk mendekap tubuh perempuan yang masih meronta –ronta itu.
Pemuda itu terhenyak, kepalanya tersentak ke depan dengan keras. Tanpa mengetahui siapa yang memukulnya. Ia telah roboh ke tanah. Pingsan. Ke dua temannya yang melihat hal ini segera mengendurkan sergapan kepada perempuan itu. Keduanya menatap tajam ke arah Sumanto yang berdiri tegak sembari menggenggam sepotong kayu. Tanpa dikomando, kedua pemuda itu menyerang ke arah Sumanto.
Pukulan tangan kiri si pemuda menderu dari samping. Sumanto menggeser tubuhnya. Pemuda satunya mencoba memukul ulu hati Sumanto. Potongan kayu yang dipegang Sumanto berkelebat cepat. Terdengar jeritan pemuda yang hendak menyerang ulu hati. Mukanya sebelah kiri terpukul dengan keras. Tubuh pemuda itu terhuyung –huyung. Belumpuas Sumanto lantas tendang tubuh si pemuda hingga terpental dan melayang jatuh ke sungai!
Bagaimanapun ngerinya pemuda melihat kejadian itu namun apa yang terjadi dengan sahabatnya membuat dia kalap. Tubuhnya melompat di udara. Kaki kanannya menderu ke tubuh Sumanto dan dengan telak menghantam perutnya! Sumato terlempar empat langkah, tersandar pada batang kelapa.
Tapi dia tidak tampak kesakitan malah tertawa-tawa dan usap-usap perut buncitnya dengan sikap mengejek.
“Dia bukan lawanku. Aku harus cari selamat!” membatin pemuda itu.
Dia melirik ke arah kawannya. Sahabatnya tampak diam tergeletak di bebatuan besar di tengah sungai. Tanpa membuang waktu pemuda itu kabur terbirit birit. Jatuh terjerat sulur semak belukang. Bangkit dengan segera. Lantas lari tanpa menoleh lagi ke belakang dan memperdulikan temannya yang masih tergeletak di tengah sungai. Sumanto menatap perempuan yang terkulai lemah dengan kaki terjulur di tebing sungai itu. Si perempuan balas menatap. Dan mereka sama-sama terkejut .
"Jumini!" Sumanto berbisik, parau.
"Hei! Kau... bukankah kau Manto?"
Meski cuma buruh rendahan. Namun tinggal di tengah tengah lingkungan orang kaya serta beradab. Mempengaruhi penampilan Sumanto di depan mata Jumini. Perempuan itu masih ingat masa lalu mereka. namun tidak menjerit apalagi melarikan diri ketika Sumanto membantunya berdiri. Dan kemudian melepas kaos lengan panjangnya dan diangsurkan kearah Jumini.
“ Pakailah dahulu, bajunya sudah tidak layak untuk menutup badan mu”
" Setelah ini mari kau kuantar pulang." Sumanto mendesah dengan suara gemetar.
Dalam perjalanan pulang. Pembicaraan antara keduanya terlihat kaku. Sumanto lebih banyak diam. Hanya sesekali bertanya atau menjawab dengan sepotong –potong. Tiba –tiba entah dari mana pikiran itu berasal. Manakala sudah berada tidak jauh dari rumah Retno jumini. Terlontarlah pertanyaan dari bibir Sumanto. Dan Sumanto sendiri tidak menduganya mengapa pertanyaan itu bisa terlontar keluar dari mulutnya.
"Maukah kau menikah denganku?"
"Tanya saja pada bapak!", Jumini menjawab tanpa ragu - ragu
Bukan Sumanto yang pergi melamar. Melainkan Parlin yang telah diangkat sebagai tetua kampung di atas bukit. Ditemani oleh dua tiga orang tetangga berwajah dan berpakaian sama mentereng. Lamaran itu. dengan Sendirinya diterima sekali jadi. Dengan catatan. Orang tua Jumini tidak bertanggung jawab kalau Jumini menjanda untuk keempat kalinya. Pernikahan itu berlangsung di atas bukit. Diiringi doa-doa yang aneh.
Pak Barda menyediakan bagian rumahnya. Ada satu rumah kecil semacam paviliun di belakang rumah utama untuk ditempati Sumanto dan isterinya. Sebelum mereka naik ranjang di malam pertama. Pak Barda yang suka usil berbisik di telinga Sumanto.
“ Pelan-pelan naiknya "
Sumanto hanya tersenyum melihat polah lelaki paruh baya itu.
Quote:
Sumanto hidup berbahagia dengan isterinya. Namun, musibah itu akhirnya datang membayangi keluarga Sumanto. Manakala usia kandungan Jumini sudah memasuki usia tujuh bulan. Suatu malam yang dingin dengan rembulan empat belas hari bersinar terang benderang tepat di ubun - ubun langit.
Sumanto baru saja rebah untuk tidur menyusul Jumini. Ketika pintu rumah kecilnya diketuk dari luar. Ketika ia buka. Ia sangat terkejut melihat wajah - wajah mengerikan. Setelah ia simak baik baik. Barulah ia sadari. Wajah - wajah itu milik tetangga - tetangganya sendiri. Semuanya mengenakan topeng karet berbagai rupa dan coretan cat warna. Di balik topeng itu tidak dapat ia kenali mereka satu persatu. Ia juga tidak pernah tahu tetangganya yang mana yang tiba - tiba maju ke depan.
Lantas berujar dengan suara dalam: "Kami datang untuk mengambil istri dan anakmu."
Berdesir sekujur pembuluh darah Sumanto.
" Istriku.. Oh…..Anakku", ia berbisik.
Sambil keningnya berkerutan mengingat-ingat sesuatu yang ada hubungannya dengan maksud mereka datang.
"Benar. Bukankah kau telah berjanji?"
Sumanto melarikan diri ke ceruk di lereng bukit berbatu karang ketika istrinya yang tengah hamil tujuh bulan di bawa orang - orang bertopeng menuju altar batu yang tergeletak di bibir bukit itu. Di dalam ceruk bawah sana. Sumanto mendengar Jumini menangis melolong - lolong. Berteriak - teriak setinggi langit. Antara terkejut dan takut. Sumanto masih dapat bertahan tetapi ketika istrinya memanggil –manggil.
“ Mas Mantooo….. Aduh, tolong Mas sakiiiiit…..”
Sumanto tak tahan lagi. Lelaki pendek gemuk itu melompat keluar dari ceruk. Mendaki dengan trengginas seperti mendapat suntikan tenaga berkali lipat. Tiba di dekat gundukan batu hitam itu, ia terperangah. Orang-orang yang tadi mendatangi rumahnya. Semua meliuk-liuk berkeliling setengah lingkaran di dekat altar. Sambil menyenandungkan kalimat –kalimat aneh magis menggigilkan bulu roma.
Dan di permukaan altar, sesosok tubuh kekar. Tanpa kepala tengah mengangkangi tubuh istrinya yang telanjang. Sumanto tidak bersuara, apalagi bergerak. Tetapi makhluk itu tetap saja mengetahui kehadirannya. Mendadak tubuh tinggi kekar dan hitam itu meloncat dalam posisi tegak. Terasa ada yang ganjil.
Sosok tubuh itu tanpa kepala. Makhluk tanpa kepala itu menggeram kepada Sumanto:
“ Hamba yang tak tahu membalas budi! Kau telah menggagalkan semua rencana. Tumbal ini tidak ada diterima oleh penguasa kegelapan !"
Selesai menggeram. Makhluk tanpa kepala itu lenyap secepat kilat dalam kegelapan. Tak ada yang berani menatap. Tak ada pula yang berani membuka mulut. Sumanto hanya termangu mangu. Dan wajah-wajah bertopeng itu sama bungkam lalu bubar diam –diam pulang ke rumah masing-masing. Barulah setelah itu Sumanto tersadar. la berlari mendekati istrinya yang terkulai lemah dan kesakitan di permukaan altar. Altar itu dilelehi darah.
Sumanto baru saja rebah untuk tidur menyusul Jumini. Ketika pintu rumah kecilnya diketuk dari luar. Ketika ia buka. Ia sangat terkejut melihat wajah - wajah mengerikan. Setelah ia simak baik baik. Barulah ia sadari. Wajah - wajah itu milik tetangga - tetangganya sendiri. Semuanya mengenakan topeng karet berbagai rupa dan coretan cat warna. Di balik topeng itu tidak dapat ia kenali mereka satu persatu. Ia juga tidak pernah tahu tetangganya yang mana yang tiba - tiba maju ke depan.
Lantas berujar dengan suara dalam: "Kami datang untuk mengambil istri dan anakmu."
Berdesir sekujur pembuluh darah Sumanto.
" Istriku.. Oh…..Anakku", ia berbisik.
Sambil keningnya berkerutan mengingat-ingat sesuatu yang ada hubungannya dengan maksud mereka datang.
"Benar. Bukankah kau telah berjanji?"
Sumanto melarikan diri ke ceruk di lereng bukit berbatu karang ketika istrinya yang tengah hamil tujuh bulan di bawa orang - orang bertopeng menuju altar batu yang tergeletak di bibir bukit itu. Di dalam ceruk bawah sana. Sumanto mendengar Jumini menangis melolong - lolong. Berteriak - teriak setinggi langit. Antara terkejut dan takut. Sumanto masih dapat bertahan tetapi ketika istrinya memanggil –manggil.
“ Mas Mantooo….. Aduh, tolong Mas sakiiiiit…..”
Sumanto tak tahan lagi. Lelaki pendek gemuk itu melompat keluar dari ceruk. Mendaki dengan trengginas seperti mendapat suntikan tenaga berkali lipat. Tiba di dekat gundukan batu hitam itu, ia terperangah. Orang-orang yang tadi mendatangi rumahnya. Semua meliuk-liuk berkeliling setengah lingkaran di dekat altar. Sambil menyenandungkan kalimat –kalimat aneh magis menggigilkan bulu roma.
Dan di permukaan altar, sesosok tubuh kekar. Tanpa kepala tengah mengangkangi tubuh istrinya yang telanjang. Sumanto tidak bersuara, apalagi bergerak. Tetapi makhluk itu tetap saja mengetahui kehadirannya. Mendadak tubuh tinggi kekar dan hitam itu meloncat dalam posisi tegak. Terasa ada yang ganjil.
Sosok tubuh itu tanpa kepala. Makhluk tanpa kepala itu menggeram kepada Sumanto:
“ Hamba yang tak tahu membalas budi! Kau telah menggagalkan semua rencana. Tumbal ini tidak ada diterima oleh penguasa kegelapan !"
Selesai menggeram. Makhluk tanpa kepala itu lenyap secepat kilat dalam kegelapan. Tak ada yang berani menatap. Tak ada pula yang berani membuka mulut. Sumanto hanya termangu mangu. Dan wajah-wajah bertopeng itu sama bungkam lalu bubar diam –diam pulang ke rumah masing-masing. Barulah setelah itu Sumanto tersadar. la berlari mendekati istrinya yang terkulai lemah dan kesakitan di permukaan altar. Altar itu dilelehi darah.
Quote:
Sumanto menggigil mengingat kenangan itu. Takut dan marah memenuhi kepalanya karena membayangkan nasib Jumini yang malang. Perasaan takut itu dikalahkan perasaan marah. manakala ia bangkit. Turun dari tempat tidur dan berjalan ke jendela dengan langkah langkah tegas. Ia mengintai ke luar, lewat tirai yang ia singkapkan. Tak ada apa apa, kecuali kegelapan dan hujan yang turun dengan deras. Suaranya seperti bersorak sorak. Riuh rendah.
Sumanto melepaskan tirai . Ia kembali ke tempat tidur. Tidak mampu memejamkan mata hanya duduk mencangkung di tepi pembaringan. Pikirannya kalut, tiba –tiba ingatannya pada kejadian di malam itu beberapa puluh tahun yang lalu datang menghampiri. Ingatan yang sebenarnya ingin dia kubur dalam –dalam. Ia menyesal karena janjinya yang dulu ia tidak pikirkan matang - matang. Kejam dan mengerikan tetapi demikianlah kehidupan yang diam - diam ia rasakan selama ini merambati atap rumah demi atap rumah yang ada di atas bukit. Termasuk atap rumah kecil yang dulu ia tempati, dan bertahun - tahun kemudian ganti ditempati oleh sepasang penghuni baru. Suami isteri muda belia yang sangat menarik hati. Dito dan Mia.
“ Pasangan yang malang" , Sumanto bergumam lirih, sambil menatap kosong ke jendela kamarnya yang sempit.
"Seharusnya kalian tidak datang ke tempat terkutuk ini. Seharusnya ……Jangaaann...!"
Ia memukuli tepi ranjang dengan tinjunya yang terkepal, kemudian menangkupkan wajah di balik kedua telapak tangan. Menangis tersedu-sedu sambil meratap getir:
"Tidakkah kalian tahu nasib yang menimpa istriku?"
Tiba tiba ia berhenti menangis. Mengapa harus memikirkan suami isteri muda pendatang baru itu. Toh bukan sanak kadangnya. Buat apa meributkan mereka. Yang penting ia harus memikirkan diri sendiri, dan masa depan. Masa depan yang sempat suram, setelah Jumini mati.
Masa depan itu dua bulan belakangan ini kembali bersinar, seperti bersinarnya matahari pagi di sebuah rumah kecil. Tempat dimana tinggal seorang janda dengan dua orang anaknya. Diawali dengan pertemuan pertama di sebuah pasar dan mereka makin sering bertemu. Dari bertemu kemudian membuat rencana. Dari rencana itu, lahirlah gagasan sore tadi. Minta berhenti kepada majikannya!
Sumanto menghela nafas panjang. Hujan di luar rumah telah mulai reda. Tinggal renyai renyai. Guruh sesekali masih mengguntur dan petir sesekali masih pula menggelegar, diselang seling desau angin yang menyapu lirih kian kemari.
Tiba –tiba Sumanto menangkap ada suara lain. Suara menggesek-gesek. Kali
ini terdengar di daun pintu. Sumanto mendadak berdebar –debar. Jantungnya seperti kuda yang dipacu dengan cepat. Tetapi kemarahannya masih bersisa. Ia memberanikan diri bangkit menuju pintu dan membukanya sekaligus.
Memberanikan pula menatap kegelapan malam dengan sisa rintik hujan di luar, seraya menggeram.
“ Setan terkutuk! Berhentilah menggangguku"
Guntur menggelegar di langit kelam, menyambut tantangannya. Sumanto terpana. Ia lantas memutar tubuh bermaksud masuk dan berusaha untuk tidur. Lalu ia terpaku. Tegak mematung di tempatnya berdiri. Topeng karet yang ia buang tadi, tampak menyeringai di depan biji matanya. Topeng karet itu seperti lengket jadi satu dengan daun pintu. Bentuk dan corat - coret cat warnanya menyerupai wajah seekor binatang yang mirip kuda atau kambing, atau campuran lembu.
Dalam jilatan sinar lampu kamar yang merembes sampai ke pintu. Ia lihat semacam telinga di kedua sisi topeng bergantung lemas.
“ Iblis!”, umpat Sumanto.
Lalu ia mengangkat tangannya. Menjangkau topeng itu, dengan maksud melepaskan topeng terkutuk yang menempel di pintu rumah dan melemparkan benda itu ke wajah Pak Barda. Namun lagi - lagi gerakannya tertahan. Lengan yang terangkat itu berhenti di tengah jalan. Karena nyata jelas apa yang tadi ia perkirakan topeng itu bergerak perlahan -lahan.
Bagaimana mereka dapat membuat topeng itu bergerak dengan sendirinya?
Belum lagi Sumanto sempat mencerna pertanyaannya sendiri itu. Wajah topeng itu mulai berubah. Matanya yang dicat merah. Tiba -tiba mencorong menyala hidup. Dan mulut lebar di bawah lubang - lubang hidung yang sama lebarnya. Menyeringai semakin lebar memperlihatkan rongga yang dalam dan hitam tanpa dasar. Udara dingin menerpa dan merenggut pundak Sumanto. Ia ingin berteriak. Namun lidahnya begitu kelu. Ia mau berlari. Kaki-kakinya begitu lumpuh. Terpaku mati di permukaan lantai.
Samar samar ia dengar suara - suara lain yang datangnya dari rumah kecil yang ditempati oleh pasangan muda itu. Belum lagi Sumanto dapat menguasai dirinya. Topeng yang kemudian hidup itu. Tahu - tahu saja telah berpindah tempat tanpa ada terlihat tangan yang menggerakkan. Setelah copot begitu saja dari daun pintu, dengan suara bersiut. Topeng itu hinggap dan lengket menjadi satu di sekujur wajah sampai kepala Sumanto sendiri.
Menggigit dan menekan. Seperti berusaha menyatu dengan kulit muka Sumanto!
Petir menggeletar menerangi langit kelam ketika Sumanto melengking dalam usahanya melepaskan topeng itu dari kepala. Semakin ia tarik, semakin kencang topeng itu mencengkeram wajahnya. Pelan-pelan ia mulai merasakan kulit wajah sebelah dalam topeng mencair. Kulitnya sendiri pun mencair. Secepat kulit-kulit itu cair. Secepat itu pula kering kembali. Bersatu rapat denagn sekujur kepala. Seolah memang topeng itu adalah wajah dan kepala Sumanto yang asli.
Ia menjerit lagi melolong setinggi langit. Namun yang ditangkap telinganya hanya suara gerengan yang lirih dan dingin menusuk tulang. Dengan ketakutan yang manjadi-jadi. Sumanto meronta -ronta meloncat loncat histeri. Uap yang panas mendidih seolah membakar tubuhnya dari bagian dalam. Sakitnya tak tertahankan. Naluri untuk mendinginkan panas itu mendorongnya lari ke tengah derasnya hujan meloncat- loncat kian kemari. Matanya seakan buta. Ia tak tahu ke arah mana ia telah berlari. Ke arah mana pula ia telah meloncat. Ia merasakan kedua kakinya telah menjejak di permukaan batu yang keras bergumpal-gumpal. Sadar ia tersasar di bibir bukit, Sumanto dengan panik berusaha turun dari tumpukan batu batu hitam.
Berlawanan dengan kehendaknya. Ia justru mendaki merambat naik dan kemudian berdiri tegak di puncak batu yang paling tinggi menjulang. Pada saat itu pula. Disaksikan Mia yang berdiri terpukau di ambang pavilyun. Dito dengan sigap meloncat dan berlari ke bibir bukit. Ia masih setengah perjalanan menuju tumpukan batu - batu hitam. Manakala guntur meledak lagi di langit kelam. Keras dan dahsyat sekali bunyinya. Berlangsung lebih panjang dari waktu yang biasa. Sumanto sampai limbung jatuh.
Dan Mia merasakan lantai tempatnya berpijak, mendadak goncang. Di lain pihak. Sumanto juga tidak mampu menahan keseimbangan tubuhnya. la jatuh terguling. Naluri ingin menyelamatkan diri pada detik - detik terakhir membantunya jatuh ke depan. bukan ke belakang dimana lereng bukit batu karang menganga hitam. Sia – sia saja. Ia jatuh dengan kepala lebih dulu tepat di permukaan altar. Sedetik sebelum nafasnya berakhir, Sumanto masih dapat merasakan bagaimana cengkeraman topeng karet itu dengan cepat merenggang dari kulit wajah maupun kepalanya. Kepala Sumanto kemudian terkulai di antara genangan darahnya sendiri. Topeng itu pun ikut jatuh menggelinding di atas rerumputan yang basah. Hujan menjadi deras kembali.
Sumanto melepaskan tirai . Ia kembali ke tempat tidur. Tidak mampu memejamkan mata hanya duduk mencangkung di tepi pembaringan. Pikirannya kalut, tiba –tiba ingatannya pada kejadian di malam itu beberapa puluh tahun yang lalu datang menghampiri. Ingatan yang sebenarnya ingin dia kubur dalam –dalam. Ia menyesal karena janjinya yang dulu ia tidak pikirkan matang - matang. Kejam dan mengerikan tetapi demikianlah kehidupan yang diam - diam ia rasakan selama ini merambati atap rumah demi atap rumah yang ada di atas bukit. Termasuk atap rumah kecil yang dulu ia tempati, dan bertahun - tahun kemudian ganti ditempati oleh sepasang penghuni baru. Suami isteri muda belia yang sangat menarik hati. Dito dan Mia.
“ Pasangan yang malang" , Sumanto bergumam lirih, sambil menatap kosong ke jendela kamarnya yang sempit.
"Seharusnya kalian tidak datang ke tempat terkutuk ini. Seharusnya ……Jangaaann...!"
Ia memukuli tepi ranjang dengan tinjunya yang terkepal, kemudian menangkupkan wajah di balik kedua telapak tangan. Menangis tersedu-sedu sambil meratap getir:
"Tidakkah kalian tahu nasib yang menimpa istriku?"
Tiba tiba ia berhenti menangis. Mengapa harus memikirkan suami isteri muda pendatang baru itu. Toh bukan sanak kadangnya. Buat apa meributkan mereka. Yang penting ia harus memikirkan diri sendiri, dan masa depan. Masa depan yang sempat suram, setelah Jumini mati.
Masa depan itu dua bulan belakangan ini kembali bersinar, seperti bersinarnya matahari pagi di sebuah rumah kecil. Tempat dimana tinggal seorang janda dengan dua orang anaknya. Diawali dengan pertemuan pertama di sebuah pasar dan mereka makin sering bertemu. Dari bertemu kemudian membuat rencana. Dari rencana itu, lahirlah gagasan sore tadi. Minta berhenti kepada majikannya!
Sumanto menghela nafas panjang. Hujan di luar rumah telah mulai reda. Tinggal renyai renyai. Guruh sesekali masih mengguntur dan petir sesekali masih pula menggelegar, diselang seling desau angin yang menyapu lirih kian kemari.
Tiba –tiba Sumanto menangkap ada suara lain. Suara menggesek-gesek. Kali
ini terdengar di daun pintu. Sumanto mendadak berdebar –debar. Jantungnya seperti kuda yang dipacu dengan cepat. Tetapi kemarahannya masih bersisa. Ia memberanikan diri bangkit menuju pintu dan membukanya sekaligus.
Memberanikan pula menatap kegelapan malam dengan sisa rintik hujan di luar, seraya menggeram.
“ Setan terkutuk! Berhentilah menggangguku"
Guntur menggelegar di langit kelam, menyambut tantangannya. Sumanto terpana. Ia lantas memutar tubuh bermaksud masuk dan berusaha untuk tidur. Lalu ia terpaku. Tegak mematung di tempatnya berdiri. Topeng karet yang ia buang tadi, tampak menyeringai di depan biji matanya. Topeng karet itu seperti lengket jadi satu dengan daun pintu. Bentuk dan corat - coret cat warnanya menyerupai wajah seekor binatang yang mirip kuda atau kambing, atau campuran lembu.
Dalam jilatan sinar lampu kamar yang merembes sampai ke pintu. Ia lihat semacam telinga di kedua sisi topeng bergantung lemas.
“ Iblis!”, umpat Sumanto.
Lalu ia mengangkat tangannya. Menjangkau topeng itu, dengan maksud melepaskan topeng terkutuk yang menempel di pintu rumah dan melemparkan benda itu ke wajah Pak Barda. Namun lagi - lagi gerakannya tertahan. Lengan yang terangkat itu berhenti di tengah jalan. Karena nyata jelas apa yang tadi ia perkirakan topeng itu bergerak perlahan -lahan.
Bagaimana mereka dapat membuat topeng itu bergerak dengan sendirinya?
Belum lagi Sumanto sempat mencerna pertanyaannya sendiri itu. Wajah topeng itu mulai berubah. Matanya yang dicat merah. Tiba -tiba mencorong menyala hidup. Dan mulut lebar di bawah lubang - lubang hidung yang sama lebarnya. Menyeringai semakin lebar memperlihatkan rongga yang dalam dan hitam tanpa dasar. Udara dingin menerpa dan merenggut pundak Sumanto. Ia ingin berteriak. Namun lidahnya begitu kelu. Ia mau berlari. Kaki-kakinya begitu lumpuh. Terpaku mati di permukaan lantai.
Samar samar ia dengar suara - suara lain yang datangnya dari rumah kecil yang ditempati oleh pasangan muda itu. Belum lagi Sumanto dapat menguasai dirinya. Topeng yang kemudian hidup itu. Tahu - tahu saja telah berpindah tempat tanpa ada terlihat tangan yang menggerakkan. Setelah copot begitu saja dari daun pintu, dengan suara bersiut. Topeng itu hinggap dan lengket menjadi satu di sekujur wajah sampai kepala Sumanto sendiri.
Menggigit dan menekan. Seperti berusaha menyatu dengan kulit muka Sumanto!
Petir menggeletar menerangi langit kelam ketika Sumanto melengking dalam usahanya melepaskan topeng itu dari kepala. Semakin ia tarik, semakin kencang topeng itu mencengkeram wajahnya. Pelan-pelan ia mulai merasakan kulit wajah sebelah dalam topeng mencair. Kulitnya sendiri pun mencair. Secepat kulit-kulit itu cair. Secepat itu pula kering kembali. Bersatu rapat denagn sekujur kepala. Seolah memang topeng itu adalah wajah dan kepala Sumanto yang asli.
Ia menjerit lagi melolong setinggi langit. Namun yang ditangkap telinganya hanya suara gerengan yang lirih dan dingin menusuk tulang. Dengan ketakutan yang manjadi-jadi. Sumanto meronta -ronta meloncat loncat histeri. Uap yang panas mendidih seolah membakar tubuhnya dari bagian dalam. Sakitnya tak tertahankan. Naluri untuk mendinginkan panas itu mendorongnya lari ke tengah derasnya hujan meloncat- loncat kian kemari. Matanya seakan buta. Ia tak tahu ke arah mana ia telah berlari. Ke arah mana pula ia telah meloncat. Ia merasakan kedua kakinya telah menjejak di permukaan batu yang keras bergumpal-gumpal. Sadar ia tersasar di bibir bukit, Sumanto dengan panik berusaha turun dari tumpukan batu batu hitam.
Berlawanan dengan kehendaknya. Ia justru mendaki merambat naik dan kemudian berdiri tegak di puncak batu yang paling tinggi menjulang. Pada saat itu pula. Disaksikan Mia yang berdiri terpukau di ambang pavilyun. Dito dengan sigap meloncat dan berlari ke bibir bukit. Ia masih setengah perjalanan menuju tumpukan batu - batu hitam. Manakala guntur meledak lagi di langit kelam. Keras dan dahsyat sekali bunyinya. Berlangsung lebih panjang dari waktu yang biasa. Sumanto sampai limbung jatuh.
Dan Mia merasakan lantai tempatnya berpijak, mendadak goncang. Di lain pihak. Sumanto juga tidak mampu menahan keseimbangan tubuhnya. la jatuh terguling. Naluri ingin menyelamatkan diri pada detik - detik terakhir membantunya jatuh ke depan. bukan ke belakang dimana lereng bukit batu karang menganga hitam. Sia – sia saja. Ia jatuh dengan kepala lebih dulu tepat di permukaan altar. Sedetik sebelum nafasnya berakhir, Sumanto masih dapat merasakan bagaimana cengkeraman topeng karet itu dengan cepat merenggang dari kulit wajah maupun kepalanya. Kepala Sumanto kemudian terkulai di antara genangan darahnya sendiri. Topeng itu pun ikut jatuh menggelinding di atas rerumputan yang basah. Hujan menjadi deras kembali.
Quote:
Pagi hari itu, alam berubah sangat kontras.Hujan mendadak reda begitu saja bersama perginya kegelapan malam. Sinar matahari menyembur di ufuk timur, menjilat-jilat dengan lidah -lidahnya yang berwarna kuning emas. Alam seolah -olah tidak mau tahu terhadap wajah-wajah murung yang mengelilingi altar batu di bibir bukit. Di situ terkapar mayat Sumanto. Kepalanya pecah. Bola mata mendelik, hampa dan mati, menatap sebuah topeng karet yang bergeletak di atas rerumputan yang basah.
jiresh dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas
Tutup