Kaskus

Story

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
Prolog





“ ya tuhannn…kalau begitu perkataan ambu selama ini benar tang, kejadian menghilangnya ita ini bukanlah sebuah kejadian biasa, bisa jadi sosok wanita tua itu adalah penghuni ghaib di kawasan hutan kecil perbukitan yang merasa enggak suka dengan tingkah laku ita sewaktu ita memasuki kawasan hutan kecil perbukitan….”
“ entahlah mbu, atang jadi bingung di dalam meyikapi kejadian yang menimpa ita ini....karena semakin banyak kejadian aneh yang terjadi di rumah ini....semakin banyak juga terlihat fakta fakta yang saling bertentangan antara kejadian yang satu dengan kejadian lainnya.....”
“ ahhh perkataan kamu itu telalu ribet tang....ambu enggak mengerti dengan maksud perkataan kamu itu....” gerutu ambu seraya memasang ekspresi wajah kebingungannya
“ maksud atang begini mbu, pada awalnya atang menduga kejadian ghaib yang terjadi di rumah kita ini ada hubungannya dengan kejadian menghilangnya ita, tapi dengan semakin banyaknya kejadian ghaib yang terjadi di rumah ini, atang mulai merasa ragu dengan dugaan atang itu....”
Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya, aku hanya bisa terdiam diantara goresan penaku di dalam menuliskan baris demi baris kalimat yang mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga




PETAKA – Akhir Sebuah Dendam


@meta.morfosis


Note : cerita ini berjudul awal SANTET - Dendam Berakhir Petaka, berhubung adanya beberapa perubahan mengikuti data penulisan maka judul diubah menjadi PETAKA - Akhir Sebuah Dendam



Chapter :
SANTET - Chapter 1
SANTET - Chapter 2
SANTET - Chapter 3
SANTET - Chapter 4
SANTET - Chapter 5
SANTET - Chapter 6
SANTET - Chapter 7
SANTET - Chapter 8
SANTET - Chapter 9
SANTET - Chapter 10
SANTET - Chapter 11
SANTET - Chapter 12
SANTET - Chapter 13
SANTET - Chapter 14
Diubah oleh meta.morfosis 30-08-2021 10:40
JohanZing0Avatar border
JabLai cOYAvatar border
anandaalvi27Avatar border
anandaalvi27 dan 63 lainnya memberi reputasi
62
33K
160
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.2KAnggota
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#39
Chapter 6







“ apa mungkin aku yang telah salah dengar ya….” gumamku seraya menyingkirkan butiran air hujan yang menghalangi pandangan mataku dalam memandang ke arah rerimbunan semak ilalang dan juga pepohonan besar yang berada di kawasan hutan kecil perbukitan
Cukup lama juga aku terdiam di dalam menanti kehadiran seseorang yang menjadi sumber dari suara teriakan yang telah aku dengar tadi itu, hingga akhirnya dikarenakan sampai dengan saat ini aku tidak mendapati adanya tanda tanda yang mengarah pada kehadiran seseorang yang menjadi sumber dari suara teriakan yang telah aku dengar tadi itu, aku memutuskan untuk kembali berjalan, namun kini baru saja beberapa langkah aku berjalan, suara teriakan yang telah aku dengar tadi kembali terdengar, mendapati hal itu, aku pun kembali menghentikan langkah kakiku seraya melayangkan kembali tatapan mataku ini ke arah kawasan hutan kecil perbukitan
“ oiiiiii…..!” teriakku lantang ke arah kawasan hutan kecil perbukitan dan berbalas dengan pergerakan dari beberapa rerimbunan semak ilalang, dan entah mengapa, begitu aku melihat pergerakan dari rerimbunan semak ilalang itu, aku merasa sangat yakin pergerakan dari beberapa rerimbunan semak ilalang itu, bukanlah disebabkan oleh terkena hembusan angin, hal ini dapat terlihat dari adanya beberapa bagian rerimbunan semak ilalang yang bergerak cukup kuat, layaknya tersibak oleh keberadaan seseorang yang tengah berada di dalamnya
“ siapa di situ...!” teriakku kembali ke arah rerimbunan semak ilalang
Diantara ketiadaan perkataan yang merespon suara teriakanku itu, keyakinanku akan adanya keberadaan seseorang yang tengah berada di dalam rerimbunan semak ilalang, kini terbukti dengan kemunculan empat orang warga kampung yang dua diantaranya sudah aku kenal, dari balik rerimbunan semak ilalang, mendapati hal itu, dikarenakan saat ini aku melihat salah satu dari mereka tengah membopong tubuh ita, aku segera berlari menghampiri keberadaan mereka tanpa memperdulikan lagi kondisi jalan tanah yang licin akibat terbasahi oleh air hujan
“ itaa..! apa yang terjadi pada ita….mengapa ita ada bersama kalian…?”
“ sebaiknya kamu tenang dulu tang, nanti akan saya ceritakan semuanya sambil kita berjalan pulang...karena saya khawatir sebentar lagi hujan akan turun semakin lebat....” saran salah seorang warga kampung yang berusia lebih tua dariku, dia bernama kang ndan, dan kini begitu mendapati saran kang ndan tersebut, aku pun meminta kepada kang ndan untuk menyerahkan tubuh ita yang saat ini tengah di bopongnya
“ sial…bau busuk ini kok muncul lagi sih….” gerutu salah seorang warga kampung diantara pergerakan tangan kang ndan yang saat ini tengah menyerahkan tubuh ita kepadaku
“ sepertinya ada yang aneh dengan bau busuk ini, apakah mungkin bau busuk ini mengikuti kita....” ujar salah seorang warga kampung lainnya
“ mengikuti apanya sih...sudahlah, kalian ini jangan berpikir yang enggak enggak….lebih baik sekarang kita tinggalkan tempat ini, sebelum hari beranjak semakin gelap.....” ujar kang ndan seraya melayangkan tatapan matanya ke arah gelapnya langit, hingga akhirnya selang beberapa saat dari perkataan kang ndan tersebut, aku beserta dengan empat orang warga kampung itu, segera berjalan pergi meninggalkan lokasi tanah lapang
“ kang atang….untung saja tadi itu, secara enggak sengaja kita menemukan ita, kalau enggak....pasti saat ini ita sudah berada seorang diri di dalam kawasan hutan kecil perbukitan itu….” ujar salah seorang warga kampung yang bernama deden, keberadaan sebuah sangkar burung yang berada di tangan deden dan juga di tangan salah seorang warga kampung lainnya, mengindikasikan bahwa keempat warga kampung tersebut telah menemukan ita di saat mereka tengah melakukan aktifitas berburu burung di dalam kawasan hutan kecil perbukitan
“ apakah di saat kalian menemukan ita, ita sudah dalam keadaan enggak sadarkan diri seperti ini....?”
“ enggak kang…justru kami menemukan ita di saat ita tengah berjalan diantara pepohonan besar….” jawab deden seraya mengadahkan wajahnya ke arah langit, sepertinya saat ini deden mulai merasa tidak nyaman dengan curah hujan yang turun semakin deras
“ sebaiknya kita berteduh dulu, kasihan adiknya si atang kalau kita memaksakan diri untuk terus berjalan…”
Usai dari perkataanya itu, kang ndan mengarahkan tatapan matanya ke arah beberapa tanah garapan milik warga kampung yang lokasinya berada di sisi jauh kiri jalan, dan kini begitu tatapan mata kang ndan mendapati keberadaan sebuah gubuk kecil yang berada di salah satu tanah garapan milik warga kampung, kang ndan segera melangkahkan kakinya menuju ke arah gubuk kecil tersebut, mendapati hal itu, aku beserta tiga orang warga kampung lainnya, segera berjalan mengikuti kang ndan
“ letakan saja adik kamu di situ tang....” saran kang ndan seraya menunjukan jari tangannya ke arah rangkaian beberapa bambu panjang yang di fungsikan sebagai lantai gubuk kecil
“ jujur saja tang...sampai dengan saat ini, saya masih bingung dengan keberadaan adik kamu di kawasan hutan kecil perbukitan....apa sebenarnya tujuan adik kamu memasuki kawasan hutan kecil perbukitan, apakah mungkin adik kamu itu sedang mempunyai masalah tang....?” tanya kang ndan di sela sela pergerakanku yang tengah meletakan tubuh ita di lantai gubuk kecil
“ setahu atang sih kang, ita enggak mempunyai masalah apa apa, bahkan di saat ita berangkat ke sekolah tadi, atang sama sekali enggak melihat adanya tanda tanda yang menunjukan ita mempunyai masalah....”
“ kalau memang adik kamu itu enggak mempunyai masalah apa apa, lantas apa tujuannya memasuki kawasan hutan kecil perbukitan itu...”
“ entahlah kang....atang juga bingung...”
Ingin rasanya saat ini aku memberitahukan kepada kang ndan, perihal perkataan ningtias yang mengatakan bahwa dirinya telah melihat ita berbicara dengan seorang wanita, sebelum akhirnya ita menghilang, namun dikarenakan aku merasa khawatir, kang ndan akan menyebarkan pemberitahuanku itu kepada warga kampung lainnya, aku kini memilih untuk merahasiakan perkataan ningtias tersebut
“ kang ndan....apakah mungkin keberadaan ita di kawasan hutan kecil perbukitan, ada hubungannya dengan perkataan ita itu.........?”
“ kemungkinan itu pasti ada den, hanya saja....”
“ astaga...kalian ini sedang membicarakan apa sih....memangnya ita telah mengatakan apa sewaktu kalian temukan...?” tanyaku memotong perkataan kang ndan
“ tang...sebenarnya pada saat kami menemukan ita, tepatnya sebelum ita jatuh pingsan, ita sempat mengucapkan perkataan....saya enggak akan menceritakannya....jangan bunuh saya...., entah perkataannya itu ditujukan untuk siapa, namun yang pasti di saat ita mengucapkan perkataanya itu, ekspresi wajah ita terlihat begitu ketakutan.......” jawab kang ndan diantara curah hujan yang turun semakin deras, terlihat saat ini salah seorang warga kampung tengah menyalakan obor yang dibawanya
“ ya tuhannn…apakah mungkin, ita telah mendapatkan ancaman dari penunggu kawasan hutan kecil perbukitan yang merasa enggak senang kerena ita telah mengetahui sesuatu yang terhubung dengan rahasia kehidupan mereka di kawasan hutan kecil perbukitan........”
“ apakah yang kamu maksud dengan rahasia kehidupan mereka di kawasan hutan kecil perbukitan itu seperti keberadaan dukun sakti itu den.......?” tanya kang ndan dan berbalas dengan anggukan kepala deden
“ ahh kamu ini den...bukankah waktu itu kita pernah pergi bersama, mencari keberadaan curug yang konon katanya berada di dalam kawasan hutan kecil perbukitan dan menjadi tempat tinggal dukun sakti itu, tapi apa hasilnya...? hasilnya nol besar den..…jangankan menemui dukun sakti itu, menemui curugnya saja kita enggak berhasil....”
“ tapi kang...bisa jadi ita telah menemukannya....”
Diantara perdebatan yang terus berlanjut antara kang ndan dan deden yang membahas tentang kemungkinan ita yang telah mengalami gangguan ghaib akibat dari ita yang telah mengetahui rahasia alam ghaib di kawasan hutan kecil perbukitan, aku hanya terdiam seraya mencoba untuk menganalisa beberapa temuan yang telah aku dapatkan hari ini, dan besar kemungkinannya kejadian menghilang ita ini terhubung dengan perkataan ningtias dan juga perkataan ita sewaktu ita ditemukan
“ kamu sedang memikirkan apa tang....?” tanya kang ndan begitu telah mengakhiri perdebatannya dengan deden dan mendapati aku yang tengah terdiam
“ atang enggak memikirkan apa apa kang, atang hanya khawatir dengan kondisi ita saat ini....”
Selepas dari perkataanku itu, kang ndan mengembangkan senyumnya seraya menepuk nepuk bahuku
“ adik kamu itu enggak kenapa napa tang, percayalah...besok, pasti adik kamu sudah pulih kembali...”
Setelah hampir kurang lebih tiga puluh menit lamanya kami berteduh di gubuk kecil, akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan gubuk kecil di saat hujan mulai terlihat reda, dan kini seiring dengan keberadaan kami yang telah memasuki wilayah pemukiman warga kampung, beberapa warga kampung yang kebetulan melihat kehadiran kami dan mendapati adanya kejanggalan berupa aku yang tengah membopong tubuh ita, kini mulai menghampiri kami seraya mengajukan beberapa pertanyaan yang terhubung dengan kondisi ita saat ini
“ loh...ita kenapa kang atang....?” tanya seorang warga kampung
“ ita hanya kelelahan pak...tadi ita pingsan sewaktu mengikuti kegiatan di sekolah....”
Baru saja aku selesai menjawab pertanyaan itu, beberapa warga kampung yang lain kini ikut melontarkan pertanyaan yang masih terhubung dengan kondisi ita saat ini, mendapati hal itu, dikarenakan saat ini aku mulai merasa kewalahan dalam menjawab pertanyaan pertanyaan itu, kang ndan memberikan isyarat kepadaku agar aku melanjutkan perjalanan menuju ke rumah, dan kini seiring dengan jawaban kebohongan yang terucap dari mulut kang ndan dalam menjawab pertanyaan pertanyaan itu, aku segera beranjak pergi meninggalkan mereka, hingga akhirnya sesampainya aku di halaman rumah, keberadaan ambu yang mungkin telah sedari tadi menanti kepulanganku di teras rumah, kini berlari ke arahku karena mendapati aku yang tengah membopong tubuh ita
“ apa yang telah terjadi pada adik kamu tang….?” tanya ambu dalam ekspresi kepanikannya
“ atang enggak tahu mbu…hanya saja menurut penuturan warga kampung yang menemukan ita di kawasan hutan kecil perbukitan, sebelum ita jatuh pingsan, ita sempat terlihat ketakutan, dan entah ketakutannya itu karena apa….” jawabku dan berbalas dengan ekspresi keterkejutan ambu
“ astaga...jadi ita di temukan di kawasan hutan kecil perbukitan.....”
Untuk sejenak ambu terdiam, hingga akhirnya selepas dari keterdiamannya itu, ambu mengajakku untuk masuk ke dalam rumah
“ sebaiknya kamu segera mandi dan berganti pakaian tang....jangan terlalu lama memakai pakaian basah seperti itu, nanti kamu sakit....” ujar ambu diantara pergerakan tanganku yang tengah meletakan tubuh ita di atas tempat tidur, dan kini begitu aku mendapati ambu yang tengah mengambil pakaian ita dari dalam lemari untuk menggantikan pakaian ita yang basah, aku segera keluar dari dalam kamar ita, lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku ini
“ mbu..bagaimana keadaan ita, apakah ita sudah siuman....?”
Pertanyaanku itu terucap selepas dari aku yang telah berganti pakaian dan juga telah selesai melaksanakan sholat isya, dan kini begitu mendapati pertanyaanku itu, ambu yang baru saja keluar dari dalam kamar ita, terlihat berjalan menghampiriku yang saat ini tengah menikmati sajian air teh jahe hangat yang telah disajikan oleh ambu di meja makan
“ ita masih belum siuman juga tang….andai sampai besok, kondisi ita masih seperti ini, kita harus segera mencari pengobatan agar kondisi ita enggak berlarut larut seperti ini…” jawab ambu seraya mengambil posisi duduk di sampingku, lalu meminum air teh jahe hangat yang diperuntukan bagi dirinya
“ rencana atang sih mbu…kalau sampai besok kondisi ita masih seperti ini, atang akan membawa ita berobat ke rumah ibu diswaya, itu juga kalau ambu memperbolehkannya…”
“ ambu sih memperbolehkannya saja tang, walaupun pengobatan yang dilakukan oleh ibu diswaya terhadap ambu enggak menampakan hasil…tapi siapa tahu saja, ita cocok dengan pengobatan alternatif ala ibu diswaya itu.....”
Selepas dari jawaban ambu tersebut, aku melayangkan tatapan mataku ini ke arah jam dinding, terlihat saat ini waktu telah menunjukan pukul sembilan malam
“ abah itu sebenarnya ada urusan apa ya mbu…kok sampai dengan larut malam seperti ini, masih belum juga pulang…”
“ entahlah tang, sudah beberapa hari belakangan ini, abah kamu pulang malam terus…setiap ambu menanyakan alasannya, abah kamu selalu menjawab, sedang ada urusan penting yang harus segera diselesaikannya…”
“ urusan penting apa sih mbu....setahu atang, enggak ada urusan yang begitu mendesak di kampung ini...”
Tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk merespon perkataanku itu, ambu beranjak bangun dari duduknya lalu berjalan memasuki kamar mandi, namun baru saja beberapa saat ambu berada di dalam kamar mandi, ambu kembali lagi keluar dari dalam kamar mandi lalu berjalan menuju ke kamar ita
“ mbu…malam ini biar atang saja yang menjaga ita, sebaiknya ambu beristirahat saja….” saranku kepada ambu yang saat ini tengah membuka pintu kamar ita, dan kini begitu mendapati saranku tersebut, ambu menolehkan wajahnya ke arahku seraya tersenyum sinis, dan selepas dari senyuman sinisnya itu, ambu memasuki kamar ita lalu menutup pintu kamar
“ loh...ambu kenapa ya, kok senyumannya jadi seperti itu sih....duh perasaanku jadi enggak enak nih....”
Merasakan adanya sesuatu yang janggal dengan tingkah laku ambu saat ini, aku memutuskan untuk menyusul ambu yang saat ini sudah berada di dalam kamar ita, namun kini baru saja beberapa langkah aku berjalan meninggalkan meja makan, langkah kakiku ini kini terhenti seiring dengan terdengarnya suara teriakan ambu yang sepertinya bersumber dari arah dalam kamar mandi
“ loh bukannya ambu berada di dalam kam….”
Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku itu, suara teriakan ambu yang memanggil namaku kini kembali terdengar, mendapati hal itu, dikarenakan saat ini aku merasa khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk pada diri ambu, aku memilih untuk memenuhi panggilan ambu tersebut dan mengabaikan rasa kebingunganku di dalam menyikapi kejadian aneh ini, hingga akhirnya di saat keberadaanku ini kini telah berdiri di hadapan pintu kamar mandi, aku mulai berpikir, bisa jadi situasi yang tengah aku hadapi saat ini terhubung dengan sesuatu yang ghaib, karena sangatlah tidak mungkin ambu bisa hadir di dua lokasi yang berbeda dalam waktu yang bersamaan
“ ya tuhann..…kalau memang kejadian yang terjadi saat ini terhubung dengan sesuatu yang ghaib...apa yang harus aku lakukan.......”


Diubah oleh meta.morfosis 30-08-2021 10:45
simounlebon
sulkhan1981
sekarpuspita531
sekarpuspita531 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.