- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
200.2K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#643
Part 79 : Malam Tahun Baru
Life goes on, tanpa gue sadari sekarang udah memasuki hari pergantian tahun dan tersisa sekitar enam bulan sebelum gue menjadi anak agit, hal yang paling-paling diimpikan anak sma karena gue pikir kita bisa ngelakuin apa aja seperti apa yang kita lihat ke anak kelas tiga waktu kita kelas satu.
Gue salah, itu hanya terjadi beberapa bulan pertama. Bulan-bulan berikutnya kita bakal disibukkan dengan ujian nasional dan sedetik kemudian kita semua lulus dan bakal jarang ketemu sama teman-teman kita yang dulunya hampir ketemu setiap hari. Gue sadar masa-masa terbaik saat sma adalah di kelas dua. Yang ada di pikiran hanya apa yang akan kita lakukan hari ini tanpa memikirkan besok atau minggu depan, apalagi setahun setelahnya.
Balik lagi ke hari-hari-hari menjelang pergantian tahun. Setelah pulang dari puncak gue menjalani hari-hari seperti biasanya selayaknya gue menjalani liburan akhir tahun, alias gue gak kemana-mana. Paling malin ke rumah bobby sama rico dan anak-anak lainnya sampai malam. Rumah bobby udah kaya destinasi wisata akhir tahun.
Bahkan di hari pergantian tahun pun sebagian anak kelas gue pada ngerayain tahun baruan di rumah bobby, termasuk gue. sejak menjelang sore gue udah di rumah bobby buat belanja keperluan bakar-bakaran di tahun baru, bareng rico, sementara itu yang lainnya pada nyusul pas melaman. gue rico dan bobby nalangin dulu uang patungannya biar ga ribet tunggu-tungguan. kita pun belanja di supermarket terdekat.
Waktu lagi belanja, disaat yang bersamaan gue lagi bbman sama manda. Sejak hari dimana gue nginep di rumah manda gue emang jadi cukup sering bbman sama dia, sekedar nanyain lagi apa dan lain-lain, ala-ala anak sma bbman pada masa itu lah. Manda juga tau kalau gue pergi ke puncak sama anak kelasan karena gue juga cerita.
“bbman sama siapa dah lo tre?” suara rico mengagetkan gue saat lagi asik bbman sama manda disaat kita lagi milih-milih daging.
“Yeee kepo banget lo nyet.” gue menempelkan hp gue di dada waktu rico tiba-tiba nyelonong ngeliat isi chat gue.
“yaelah rahasia-rahasiaan banget lo sama gue, beli narkoba lo yeee.”
“pala lo narkoba, sama cewe lah.” ucap gue kelepasan.
“Asik, udah gede lo chattingan sama cewek, mana sini coba gue liat.”
“gak gak, apaan dah…...” gue berusaha menyembunyikan hp gue ketika rico berusaha ngerebut.
“liat dikit doang sih tre, kepo gue kalo lo lagi ngalus kaya gimana.”
“Najis lo.”
“Emang siapa si?”
“Yang dulu gue sempet promote dari hp lo.”
“Yang mana? liat dong.” gue kurang yakin kalo rico lupa sama manda karena gue pernah kasih liat fotonya beberapa kali, paling emang dia mau liat lagi aja, pada akhirnya gue kasih liat juga ppnya manda. “ajak lah nanti ke rumah bobby.”
“ngapain, ribet.”
“Dih, parah lo, pdkt nanggung-nanggung, kenalin lah ke temen-temen lo.”
“emang lo pernah ngajak cewe lo nongkrong sama anak-anak?”
“hehehe…..”
“ini beli daging sama ayamnya berapa banyak.” tanya bobby yang jalan di depan kita sambil bawa keranjang belanjaan.
“Sesuain sama bajet aja bob, kalo lo mau nambahin sih gapapa.” sahut gue.
“Rugi bandar gue nambahin.”
“perhitungan banget lo bob sama temen.”
“lo dah sini tambahin tre.”
“potong daging lo aja bob nanti kalau kurang.”
“anjing lo co!”
“beli daging babi sekalian bob.”
“ga jelas lo berdua.”
Sekitar jam sembilan malam kita mulai menyiapkan acara bakar-bakarannya di depan rumah bobby, mulai dari bakaran, areng, kipas, sampe minyak tanah yang untungnya dapet. anak kelasan gue yang lain juga udah ngumpul meskipun ga semuanya ikut. ada rian, iman, dan anda yang nyusul. dan ternyata mereka juga ngajak syifa ikut, soalnya rumah dia deket. langsung rewel dah tuh cewek karena ga ada temen ceweknya.
“lo ajak cindy gih tre.” kata iman waktu gue lagi ngeliatin bobby nyiapin panggangan.
“tinggal ajak sih man.”
“yaaa lo yang ajak tre.”
“Kenapa gue? kenapa ga yang lain aja yang ngajak.”
“tinggal ajak sih tre ribet banget lo.” sahut anda.
“terus yang jemput siapa?” tanya gue.
“lo juga lah tre, kan yang tau rumahnya elo.”
Entah karena gue udah terpojok atau karena males debat, akhirnya gue bbm cindy buat ikut acara bakar-bakaran ini. Gue masukan kembali hp gue ke dalam kantong dan mempersiapkan peralatan lagi. Ga lama hp gue bergetar tanda pesan masuk, gue liat siapa pengirimnya dan ternyata cindy, dia nanya ada siapa aja yang ikut, dan gue sebutkan satu persatu.
“bentar gue tanya bokap nyokap dulu boleh apa enggak.” balas cindy. perasaan gue bergejolak antara pengen cindy dateng biar makin rame tapi gue harus jemput, dan beberapa ketakutan gue yang cukup beralasan.
“tapi nanti gue boleh ikut ada yang izinin ke bokap gue yaaa.” maksudnya yang jemput izinin cindy ke bapaknya, dan udah pasti gue-_-, ketakutan gue pun menjadi kenyataan.
“eh co, lo jemput cindy gih.” pinta gue ke rico.
“ngapa gue si, kan lo yang ngechat, tinggal jemput doang ribet.” dan omongan rico pun diamini oleh yang lain.
dengan pasrah gue membersihkan tangan gue dan mengambil motor buat jemput cindy di rumahnya. di perjalanan gue cuman memikirkan apa yang akan gue katakan ke bokapnya cindy biar anaknya boleh keluar rumah diatas jam sembilan malem. ini bukan karena cindynya, kalau gue mau ngajak anak orang keluar malem-malem pasti mau gak mau akan berhadapan langsung sama bokapnya.
tapi kenyataan memang terkadang ga sesuai dengan ekspektasi, malah kadang lebih baik. gue berhasil mengajak keluar cindy tanpa gue harus menemui bokapnya dulu. mungkin karena kemampuan negosiasi cindy yang baik jadi dibolehkan keluar oleh kedua orang tuanya.
di tengah jalan gue sempet menanyakan cindy apa beneran gapapa gue ga perlu izin ke bokapnya dulu. cindy bilang gapapa. dia percaya kalau ada anak ceweknya disana nanti, dan kata cindy kenapa dibolehkan keluar karena yang jemput gue, ‘kalau gue kenapa-kenapa, bokap gue punya nomer telepon orang tua lo buat tanggung jawab.’ gue gatau ini hal haik atau buruk-_-
Pada akhirnya semua berjalan lancar, semua makanan matang tepat pada waktunya, meskipun bobby masih sesekali nyolongin makanan yang baru mateng dengan alibi nyobain takut belom mateng. kita juga beli beberapa kembang api buat dinyalain sebelum malam pergantian tahun, dan waktu pukul enol enol kita semua pergi ke jalan raya ga jauh dari rumah bobby buat ngeliat warga-warga lainnya nyalain kembang api.
sekitar pukul satu kita nganterin anak ceweknya balik. kita dalam artian yaaa kita semua yang nganterin, wkwkwk. yang nganterin jumlahnya lebih banyak dari yang dianterin. pertama ke rumah syifa dulu yang deketan baru ke rumah cindy yang agak jauhan. di depan kedua rumah mereka kita udah kaya orang bodoh yang pada nahan ketawa karena hal yang ga jelas.
Malam itu gue nginep di rumah bobby, emang udah rencana awalnya begitu, beberapa temen gue juga memutuskan buat nginep, kecuali rian dan iman karena rumahnya deket. tapi yang namanya nginep di rumah temen, mustahil yang namanya langsung tidur, kita berempat lebih memilih buat ngobrol-ngobrol dulu di balkon sambil main poker. sampai akhirnya rico membuka sebuah topik.
“lo gimana tre sama cindy?”
“gimana apanya?” tanya gue gak ngerti maksud rico.
“lo gimana deketin cindynya, udah sampe mana?”
“anjir, siapa yang deketin.” bela gue.
“itu lo bisa jemput cindy tanpa dicurigain bokapnya, terus waktu di puncak sama tadi juga keliatan deket sama cindy.”
“gue aja dipaksa nyet jemput dia, kalau deket mah yaaa namanya temen sekelas. sama aja gue ngobrolnya kaya lo pada.”
“jangan lo kasih harapan tre kalau ga mau pacarin.” kata rico dengan nada bercanda.
“eh anjing, yang ada tuh dia bapernya gara-gara lo pada cak-cakin terus kalau lagi pada ngobrol sala gue, atau malah dia pada gedek sama lo pada.”
“terus sama yang manda-manda itu gimana?”
“manda siapa tre?” tanya anda penasaran.
“ada dah alusannya treya.”
“yaaaa ga gimana-gimana juga, cuman lagi deket aja.”
“tapi lo suka ga sama dia?”
gue sempet terdiam denger pertanyaannya rico, gue mikir, apa gue suka sama manda. “au dah.” jawab gue akhirnya.
“yeee geblek, mending lo pilih salah satu dari mereka tre dari pada nantinya nyakitin mereka berdua.”
“lebay lo co, keseringan nonton drama si lo.” kata gue.
“si baget.”
Pada akhirnya kita semua baru bisa tidur menjelang subuh.
Life goes on, tanpa gue sadari sekarang udah memasuki hari pergantian tahun dan tersisa sekitar enam bulan sebelum gue menjadi anak agit, hal yang paling-paling diimpikan anak sma karena gue pikir kita bisa ngelakuin apa aja seperti apa yang kita lihat ke anak kelas tiga waktu kita kelas satu.
Gue salah, itu hanya terjadi beberapa bulan pertama. Bulan-bulan berikutnya kita bakal disibukkan dengan ujian nasional dan sedetik kemudian kita semua lulus dan bakal jarang ketemu sama teman-teman kita yang dulunya hampir ketemu setiap hari. Gue sadar masa-masa terbaik saat sma adalah di kelas dua. Yang ada di pikiran hanya apa yang akan kita lakukan hari ini tanpa memikirkan besok atau minggu depan, apalagi setahun setelahnya.
Balik lagi ke hari-hari-hari menjelang pergantian tahun. Setelah pulang dari puncak gue menjalani hari-hari seperti biasanya selayaknya gue menjalani liburan akhir tahun, alias gue gak kemana-mana. Paling malin ke rumah bobby sama rico dan anak-anak lainnya sampai malam. Rumah bobby udah kaya destinasi wisata akhir tahun.
Bahkan di hari pergantian tahun pun sebagian anak kelas gue pada ngerayain tahun baruan di rumah bobby, termasuk gue. sejak menjelang sore gue udah di rumah bobby buat belanja keperluan bakar-bakaran di tahun baru, bareng rico, sementara itu yang lainnya pada nyusul pas melaman. gue rico dan bobby nalangin dulu uang patungannya biar ga ribet tunggu-tungguan. kita pun belanja di supermarket terdekat.
Waktu lagi belanja, disaat yang bersamaan gue lagi bbman sama manda. Sejak hari dimana gue nginep di rumah manda gue emang jadi cukup sering bbman sama dia, sekedar nanyain lagi apa dan lain-lain, ala-ala anak sma bbman pada masa itu lah. Manda juga tau kalau gue pergi ke puncak sama anak kelasan karena gue juga cerita.
“bbman sama siapa dah lo tre?” suara rico mengagetkan gue saat lagi asik bbman sama manda disaat kita lagi milih-milih daging.
“Yeee kepo banget lo nyet.” gue menempelkan hp gue di dada waktu rico tiba-tiba nyelonong ngeliat isi chat gue.
“yaelah rahasia-rahasiaan banget lo sama gue, beli narkoba lo yeee.”
“pala lo narkoba, sama cewe lah.” ucap gue kelepasan.
“Asik, udah gede lo chattingan sama cewek, mana sini coba gue liat.”
“gak gak, apaan dah…...” gue berusaha menyembunyikan hp gue ketika rico berusaha ngerebut.
“liat dikit doang sih tre, kepo gue kalo lo lagi ngalus kaya gimana.”
“Najis lo.”
“Emang siapa si?”
“Yang dulu gue sempet promote dari hp lo.”
“Yang mana? liat dong.” gue kurang yakin kalo rico lupa sama manda karena gue pernah kasih liat fotonya beberapa kali, paling emang dia mau liat lagi aja, pada akhirnya gue kasih liat juga ppnya manda. “ajak lah nanti ke rumah bobby.”
“ngapain, ribet.”
“Dih, parah lo, pdkt nanggung-nanggung, kenalin lah ke temen-temen lo.”
“emang lo pernah ngajak cewe lo nongkrong sama anak-anak?”
“hehehe…..”
“ini beli daging sama ayamnya berapa banyak.” tanya bobby yang jalan di depan kita sambil bawa keranjang belanjaan.
“Sesuain sama bajet aja bob, kalo lo mau nambahin sih gapapa.” sahut gue.
“Rugi bandar gue nambahin.”
“perhitungan banget lo bob sama temen.”
“lo dah sini tambahin tre.”
“potong daging lo aja bob nanti kalau kurang.”
“anjing lo co!”
“beli daging babi sekalian bob.”
“ga jelas lo berdua.”
Sekitar jam sembilan malam kita mulai menyiapkan acara bakar-bakarannya di depan rumah bobby, mulai dari bakaran, areng, kipas, sampe minyak tanah yang untungnya dapet. anak kelasan gue yang lain juga udah ngumpul meskipun ga semuanya ikut. ada rian, iman, dan anda yang nyusul. dan ternyata mereka juga ngajak syifa ikut, soalnya rumah dia deket. langsung rewel dah tuh cewek karena ga ada temen ceweknya.
“lo ajak cindy gih tre.” kata iman waktu gue lagi ngeliatin bobby nyiapin panggangan.
“tinggal ajak sih man.”
“yaaa lo yang ajak tre.”
“Kenapa gue? kenapa ga yang lain aja yang ngajak.”
“tinggal ajak sih tre ribet banget lo.” sahut anda.
“terus yang jemput siapa?” tanya gue.
“lo juga lah tre, kan yang tau rumahnya elo.”
Entah karena gue udah terpojok atau karena males debat, akhirnya gue bbm cindy buat ikut acara bakar-bakaran ini. Gue masukan kembali hp gue ke dalam kantong dan mempersiapkan peralatan lagi. Ga lama hp gue bergetar tanda pesan masuk, gue liat siapa pengirimnya dan ternyata cindy, dia nanya ada siapa aja yang ikut, dan gue sebutkan satu persatu.
“bentar gue tanya bokap nyokap dulu boleh apa enggak.” balas cindy. perasaan gue bergejolak antara pengen cindy dateng biar makin rame tapi gue harus jemput, dan beberapa ketakutan gue yang cukup beralasan.
“tapi nanti gue boleh ikut ada yang izinin ke bokap gue yaaa.” maksudnya yang jemput izinin cindy ke bapaknya, dan udah pasti gue-_-, ketakutan gue pun menjadi kenyataan.
“eh co, lo jemput cindy gih.” pinta gue ke rico.
“ngapa gue si, kan lo yang ngechat, tinggal jemput doang ribet.” dan omongan rico pun diamini oleh yang lain.
dengan pasrah gue membersihkan tangan gue dan mengambil motor buat jemput cindy di rumahnya. di perjalanan gue cuman memikirkan apa yang akan gue katakan ke bokapnya cindy biar anaknya boleh keluar rumah diatas jam sembilan malem. ini bukan karena cindynya, kalau gue mau ngajak anak orang keluar malem-malem pasti mau gak mau akan berhadapan langsung sama bokapnya.
tapi kenyataan memang terkadang ga sesuai dengan ekspektasi, malah kadang lebih baik. gue berhasil mengajak keluar cindy tanpa gue harus menemui bokapnya dulu. mungkin karena kemampuan negosiasi cindy yang baik jadi dibolehkan keluar oleh kedua orang tuanya.
di tengah jalan gue sempet menanyakan cindy apa beneran gapapa gue ga perlu izin ke bokapnya dulu. cindy bilang gapapa. dia percaya kalau ada anak ceweknya disana nanti, dan kata cindy kenapa dibolehkan keluar karena yang jemput gue, ‘kalau gue kenapa-kenapa, bokap gue punya nomer telepon orang tua lo buat tanggung jawab.’ gue gatau ini hal haik atau buruk-_-
Pada akhirnya semua berjalan lancar, semua makanan matang tepat pada waktunya, meskipun bobby masih sesekali nyolongin makanan yang baru mateng dengan alibi nyobain takut belom mateng. kita juga beli beberapa kembang api buat dinyalain sebelum malam pergantian tahun, dan waktu pukul enol enol kita semua pergi ke jalan raya ga jauh dari rumah bobby buat ngeliat warga-warga lainnya nyalain kembang api.
sekitar pukul satu kita nganterin anak ceweknya balik. kita dalam artian yaaa kita semua yang nganterin, wkwkwk. yang nganterin jumlahnya lebih banyak dari yang dianterin. pertama ke rumah syifa dulu yang deketan baru ke rumah cindy yang agak jauhan. di depan kedua rumah mereka kita udah kaya orang bodoh yang pada nahan ketawa karena hal yang ga jelas.
Malam itu gue nginep di rumah bobby, emang udah rencana awalnya begitu, beberapa temen gue juga memutuskan buat nginep, kecuali rian dan iman karena rumahnya deket. tapi yang namanya nginep di rumah temen, mustahil yang namanya langsung tidur, kita berempat lebih memilih buat ngobrol-ngobrol dulu di balkon sambil main poker. sampai akhirnya rico membuka sebuah topik.
“lo gimana tre sama cindy?”
“gimana apanya?” tanya gue gak ngerti maksud rico.
“lo gimana deketin cindynya, udah sampe mana?”
“anjir, siapa yang deketin.” bela gue.
“itu lo bisa jemput cindy tanpa dicurigain bokapnya, terus waktu di puncak sama tadi juga keliatan deket sama cindy.”
“gue aja dipaksa nyet jemput dia, kalau deket mah yaaa namanya temen sekelas. sama aja gue ngobrolnya kaya lo pada.”
“jangan lo kasih harapan tre kalau ga mau pacarin.” kata rico dengan nada bercanda.
“eh anjing, yang ada tuh dia bapernya gara-gara lo pada cak-cakin terus kalau lagi pada ngobrol sala gue, atau malah dia pada gedek sama lo pada.”
“terus sama yang manda-manda itu gimana?”
“manda siapa tre?” tanya anda penasaran.
“ada dah alusannya treya.”
“yaaaa ga gimana-gimana juga, cuman lagi deket aja.”
“tapi lo suka ga sama dia?”
gue sempet terdiam denger pertanyaannya rico, gue mikir, apa gue suka sama manda. “au dah.” jawab gue akhirnya.
“yeee geblek, mending lo pilih salah satu dari mereka tre dari pada nantinya nyakitin mereka berdua.”
“lebay lo co, keseringan nonton drama si lo.” kata gue.
“si baget.”
Pada akhirnya kita semua baru bisa tidur menjelang subuh.
japraha47 dan 17 lainnya memberi reputasi
18