- Beranda
- Stories from the Heart
JATMIKO THE SERIES
...
TS
breaking182
JATMIKO THE SERIES
JATMIKO THE SERIES
Quote:
EPISODE 1 : MISTERI MAYAT TERPOTONG
Quote:
EPISODE 2 : MAHKLUK SEBERANG ZAMAN
Quote:
EPISODE 3 : HANCURNYA ISTANA IBLIS
Diubah oleh breaking182 07-02-2021 01:28
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
25
58.2K
Kutip
219
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#149
PART 20
Quote:
TAHUN demi tahun berlalu sudah. Bersama dengan merambatnya waktu yang tidak mampu dihentikan oleh manusia. Pedataran di kaki bukit itu telah menjelma menjadi sebuah pemukiman yang bisa dikatakan cukup elite. Rumah - rumah mewah dengan berpenghunikan seorang yang cukup kaya. Baik berpasang - pasangan sebagai suami isteri maupun sendiri-sendiri. Ada duda ada janda. Malah seorang janda menikah di tempat barunya dengan seorang duda.
Sesuai dengan yang diamanatkan Parlin. Pelan - pelan Sumanto menyesuaikan diri. Ia mengerjakan apa saja yang dapat ia bantu, kalau ada seorang pendatang membangun rumah tempat tinggal atau menetap di rumah yang telah dibangun orang lain sebelumnya. Dari mulai kuli kasar, sampai pekerjaan mengepel lantai dan mencuci piring, semua ia kerjakan dengan baik. Semua orang boleh dikatakan menyenangi Sumanto. Tidak ada lagi cacian, cemoohan dan ludahan orang yang mengenai tubuh Sumanto.
Kehidupan di desa yang berjarak tidak lebih dari satu kilometer terlihatlah pada siang hari itu iring –iringan orang sedang menyeberangi jembatan di atas sungai. Iring –iringan itu berjalan kaki secara berkelompok-kelompok mengikuti rombongan paling depan yang menggotong sebuah keranda jenazah. Dan setelah beberapa saat mendaki diantara bidang-bidang pekuburan. Iringan pejalan kaki itu akhirnya berhenti di daerah ketinggian. Tidak berapa jauh dari pepohonan yang tumbuh menghampar di depan hutan rimbun yang bagian dalamnya tampak remang remang.
Sampai keranda diturunkan di dekat lubang kubur yang sudah menganga, tidak timbul masalah apa apa. Kecuali kelelahan tubuh para pengantar. Itupun segera dihilangkan oleh sapuan angin yang berhembus sangat sejuk. Apalagi banyak tempat berteduh di bawah naungan pepohonan kamboja yang rindang.
Masalah, baru timbul setelah tiba waktunya jenazah diturunkan ke liang lahat. Sewaktu menerima jenazah yang diturunkan dari atas, satu dari tiga orang yang berdiri di dalam lubang kuburan, tiba- tiba berteriak lantang.
" Lepaskan, jangan ditahan!"
"Kami tidak menahannya", jawab yang di atas sambil mengembangkan tangan dengan wajah terheran-heran.
"Tetapi ini terasa berat sekali ", ujar yang di bawah, sementara dua temannya yang sama -sama menerima jenazah tampak goyah menahan berat janazah yang bobotnya seperti berlipat -lipat.
"Awas!", seseorang berteriak.
Memperingatkan.
Peringatan yang sia-sia, karena salah seorang penerima jenazah sudah keburu limbung. Dua temannya ikut - ikutan limbung. Dan tanpa sempat menahan, jenazah tahu tahu sudah terlepas dari pegangan mereka bertiga. Lantas jatuh terhempas di liang lahat dengan suara berdebuk. Mengejutkan.
Sempat ribut dan saling tuding sebentar, ketiga orang tersebut akhirnya berhasil ditenangkan oleh Lurah yang turun tangan melerai. Posisi jenazah kemudian dibetulkan dengan sebaik - baiknya. Tali pengikat jenazah diturunkan lalu dipasang satu persatu. Mungkin masih terpengaruh oleh insiden mengejutkan tadi, si pemasang papan tampak gugup dan pucat. Karena bilah-bilah papan yang ia susun, beberapa kali terlepas dari tempatnya sebelum semua papan akhirnya terpasang juga dengan benar.
Si pemasang papan kemudian dibantu naik ke atas.
"Aneh!".
Ia bergumam lirih dan sedikit gemetar.
" Tadi sepertinya ada tangan ghaib yang sengaja menjatuh - jatuhkan papan”
Keanehan lain segera menyusul. Beberapa saat setelah dimulainya penimbunan tanah ke lubang kubur. Di bawah seorang pemuda dengan perawakan tinggi kurus, kulit yang bisa dikatakan hitam dengan mata besar seperti burung hantu, mendadak tertegak kaku dengan wajah hitamnya berubah pucat pasi.
Beberapa orang warga desa terus saja bekerja menimbun dan memadatkan tanah. Tetapi lurah yang menyaksikan kesibukan warganya itu melihat sesuatu yang janggal telah terjadi pada si pemuda kulit hitam.
Lantas menegur.
" Ada apa denganmu, Rustam?"
" Kaki saya, Pak lurah........", Rustam menjawab dengan gugup.
Pekerjaan segera dihentikan, sementara lurah berjalan mendekat.
" Ada apa dengan kaki mu? Kram?!"
"Ada yang.....menarik kaki saya ke dari tanah Pak Lurah", sahut Rustam.
Belasan pasang mata serempak melihat ke arah kaki Rustam. Terlihatlah sepasang kaki Rustam sampai batas pergelangan, terbenam dalam timbunan tanah yang sudah dipadatkan.
Seorang pekerja di samping Rustam berkata menyeringai.
" Makanya, kau jangan berdiri saja disitu. Untung baru sebatas pergelangan kaki mu yang tertimbun!"
"Sudah, sudah......!",Lurah menukas tak senang.
" Bantu Rustam naik!"
Gemetar Rustam mengulurkan tangan ke atas.
Namun ternyata diperlukan tenaga beberapa orang untuk menariknya bersama-sama sebelum kaki Rustam terlepas dari benaman tanah. Beberapa warga desa bahkan mengumpat dalam hati. Menarik orang dari dapam kubur yang tidak terlalu dalam saja beratnya minta ampun. Seperti ada puluhan tangan yang menahan kaki Rustam dari dalam kubur. Dan tiba –tiba saja kaki Rustam terlepas. Akibatnya, tubuh Rustam terangkat cepat setengah melayang. Lantas jatuh berguling-guling di luar lubang kubur. Menimpa dengan mereka yang tadi menarik sekuat tenaga. Termasuk Pak Lurah.
Meskipun pekerjaan selanjutnya berjalan lancar tanpa gangguan apa-apa lagi, suasana khidmat lenyap sudah. Ketegangan serta perasaan takut datang menggantikan. Menyambar diam-diam. Bersama gunjingan yang disampaikan secara berbisik-bisik di sana-sini.
Begitu upacara dinyatakan selesai, semua orang kemudian berlalu meninggalkan tempat masing-masing. Sebagian dengan bergegas karena masih menyimpan perasaan tegang atau takut. Tinggal gundukan tanah memerah saja yang masih berada di tempatnya. Bersama tebaran bunga rampai. Dan kayu nisan kokoh membisu sebagai tanda pengenal. Di kayu nisan itu terbaca sebuah nama Suradadi.
Sesuai dengan yang diamanatkan Parlin. Pelan - pelan Sumanto menyesuaikan diri. Ia mengerjakan apa saja yang dapat ia bantu, kalau ada seorang pendatang membangun rumah tempat tinggal atau menetap di rumah yang telah dibangun orang lain sebelumnya. Dari mulai kuli kasar, sampai pekerjaan mengepel lantai dan mencuci piring, semua ia kerjakan dengan baik. Semua orang boleh dikatakan menyenangi Sumanto. Tidak ada lagi cacian, cemoohan dan ludahan orang yang mengenai tubuh Sumanto.
Kehidupan di desa yang berjarak tidak lebih dari satu kilometer terlihatlah pada siang hari itu iring –iringan orang sedang menyeberangi jembatan di atas sungai. Iring –iringan itu berjalan kaki secara berkelompok-kelompok mengikuti rombongan paling depan yang menggotong sebuah keranda jenazah. Dan setelah beberapa saat mendaki diantara bidang-bidang pekuburan. Iringan pejalan kaki itu akhirnya berhenti di daerah ketinggian. Tidak berapa jauh dari pepohonan yang tumbuh menghampar di depan hutan rimbun yang bagian dalamnya tampak remang remang.
Sampai keranda diturunkan di dekat lubang kubur yang sudah menganga, tidak timbul masalah apa apa. Kecuali kelelahan tubuh para pengantar. Itupun segera dihilangkan oleh sapuan angin yang berhembus sangat sejuk. Apalagi banyak tempat berteduh di bawah naungan pepohonan kamboja yang rindang.
Masalah, baru timbul setelah tiba waktunya jenazah diturunkan ke liang lahat. Sewaktu menerima jenazah yang diturunkan dari atas, satu dari tiga orang yang berdiri di dalam lubang kuburan, tiba- tiba berteriak lantang.
" Lepaskan, jangan ditahan!"
"Kami tidak menahannya", jawab yang di atas sambil mengembangkan tangan dengan wajah terheran-heran.
"Tetapi ini terasa berat sekali ", ujar yang di bawah, sementara dua temannya yang sama -sama menerima jenazah tampak goyah menahan berat janazah yang bobotnya seperti berlipat -lipat.
"Awas!", seseorang berteriak.
Memperingatkan.
Peringatan yang sia-sia, karena salah seorang penerima jenazah sudah keburu limbung. Dua temannya ikut - ikutan limbung. Dan tanpa sempat menahan, jenazah tahu tahu sudah terlepas dari pegangan mereka bertiga. Lantas jatuh terhempas di liang lahat dengan suara berdebuk. Mengejutkan.
Sempat ribut dan saling tuding sebentar, ketiga orang tersebut akhirnya berhasil ditenangkan oleh Lurah yang turun tangan melerai. Posisi jenazah kemudian dibetulkan dengan sebaik - baiknya. Tali pengikat jenazah diturunkan lalu dipasang satu persatu. Mungkin masih terpengaruh oleh insiden mengejutkan tadi, si pemasang papan tampak gugup dan pucat. Karena bilah-bilah papan yang ia susun, beberapa kali terlepas dari tempatnya sebelum semua papan akhirnya terpasang juga dengan benar.
Si pemasang papan kemudian dibantu naik ke atas.
"Aneh!".
Ia bergumam lirih dan sedikit gemetar.
" Tadi sepertinya ada tangan ghaib yang sengaja menjatuh - jatuhkan papan”
Keanehan lain segera menyusul. Beberapa saat setelah dimulainya penimbunan tanah ke lubang kubur. Di bawah seorang pemuda dengan perawakan tinggi kurus, kulit yang bisa dikatakan hitam dengan mata besar seperti burung hantu, mendadak tertegak kaku dengan wajah hitamnya berubah pucat pasi.
Beberapa orang warga desa terus saja bekerja menimbun dan memadatkan tanah. Tetapi lurah yang menyaksikan kesibukan warganya itu melihat sesuatu yang janggal telah terjadi pada si pemuda kulit hitam.
Lantas menegur.
" Ada apa denganmu, Rustam?"
" Kaki saya, Pak lurah........", Rustam menjawab dengan gugup.
Pekerjaan segera dihentikan, sementara lurah berjalan mendekat.
" Ada apa dengan kaki mu? Kram?!"
"Ada yang.....menarik kaki saya ke dari tanah Pak Lurah", sahut Rustam.
Belasan pasang mata serempak melihat ke arah kaki Rustam. Terlihatlah sepasang kaki Rustam sampai batas pergelangan, terbenam dalam timbunan tanah yang sudah dipadatkan.
Seorang pekerja di samping Rustam berkata menyeringai.
" Makanya, kau jangan berdiri saja disitu. Untung baru sebatas pergelangan kaki mu yang tertimbun!"
"Sudah, sudah......!",Lurah menukas tak senang.
" Bantu Rustam naik!"
Gemetar Rustam mengulurkan tangan ke atas.
Namun ternyata diperlukan tenaga beberapa orang untuk menariknya bersama-sama sebelum kaki Rustam terlepas dari benaman tanah. Beberapa warga desa bahkan mengumpat dalam hati. Menarik orang dari dapam kubur yang tidak terlalu dalam saja beratnya minta ampun. Seperti ada puluhan tangan yang menahan kaki Rustam dari dalam kubur. Dan tiba –tiba saja kaki Rustam terlepas. Akibatnya, tubuh Rustam terangkat cepat setengah melayang. Lantas jatuh berguling-guling di luar lubang kubur. Menimpa dengan mereka yang tadi menarik sekuat tenaga. Termasuk Pak Lurah.
Meskipun pekerjaan selanjutnya berjalan lancar tanpa gangguan apa-apa lagi, suasana khidmat lenyap sudah. Ketegangan serta perasaan takut datang menggantikan. Menyambar diam-diam. Bersama gunjingan yang disampaikan secara berbisik-bisik di sana-sini.
Begitu upacara dinyatakan selesai, semua orang kemudian berlalu meninggalkan tempat masing-masing. Sebagian dengan bergegas karena masih menyimpan perasaan tegang atau takut. Tinggal gundukan tanah memerah saja yang masih berada di tempatnya. Bersama tebaran bunga rampai. Dan kayu nisan kokoh membisu sebagai tanda pengenal. Di kayu nisan itu terbaca sebuah nama Suradadi.
Quote:
Malam pun datang perlahan. Menggerayangi bumi dengan kepekatannya. Malam yang sebenarnya tenang dan damai. Karena langit tampak membiru lembut. Bertebaran bintang berkerlap –kerlipan. Sementara rembulan pun bersinar-sinar tanpa sepotong awan yang menghalangi.
Tetapi tidak demikian halnya di pekuburan desa. Suasana sunyi di pekuburan mendadak diganggu oleh jeritan sayup-sayup yang diselang selang oleh ucapan-ucapan bernada ketakutan dari seorang laki-laki.
"Tidak… Biarkan aku sendirian. Tolonglah......Maafkan aku!"
Jerit ketakutan lagi. Lalu suara si lelaki kembali terdengar.
" Aku memang bersalah! Aku memang bersalah! Tolong. Ampunilah aku! Jangan kalian siksa aku lagi! Tolonglah! Tolooong..!"
Suara itu seperti terdengar dari dalam gundukan tanah merah dikuburan Suradadi. Pada saat itulah perlahan - lahan gundukan tanah merah yang masih basah itu tampak bergetar dan terus bergetar semakin kuat. Kuburan Suradadi pun terguncang. Lantas terbongkar dengan hebat. Tanahnya berhamburan tidak tentu arah. Dan dari dalam lubang kubur yang terbuka menganga. Jenazah yang terbungkus kain kafan tampak melesat keluar. Lalu terbang menghilang. Menembus kegelapan malam.
Tetapi tidak demikian halnya di pekuburan desa. Suasana sunyi di pekuburan mendadak diganggu oleh jeritan sayup-sayup yang diselang selang oleh ucapan-ucapan bernada ketakutan dari seorang laki-laki.
"Tidak… Biarkan aku sendirian. Tolonglah......Maafkan aku!"
Jerit ketakutan lagi. Lalu suara si lelaki kembali terdengar.
" Aku memang bersalah! Aku memang bersalah! Tolong. Ampunilah aku! Jangan kalian siksa aku lagi! Tolonglah! Tolooong..!"
Suara itu seperti terdengar dari dalam gundukan tanah merah dikuburan Suradadi. Pada saat itulah perlahan - lahan gundukan tanah merah yang masih basah itu tampak bergetar dan terus bergetar semakin kuat. Kuburan Suradadi pun terguncang. Lantas terbongkar dengan hebat. Tanahnya berhamburan tidak tentu arah. Dan dari dalam lubang kubur yang terbuka menganga. Jenazah yang terbungkus kain kafan tampak melesat keluar. Lalu terbang menghilang. Menembus kegelapan malam.
Quote:
KEMUDIAN, teror pun melanda penduduk desa. Keluarga beserta kerabat dekat Suradadi sedang berdzikir di tengah rumah ketika sekonyong-konyong terdengar bunyi atap pecah. Lalu bersama pecahan genteng dari langit-langit jatuhlah benda putih besar. Mendarat keras di tengah warga desa yang berdoa yang sama terpukau saat mendengar hingar-bingarnya atap pecah tadi. Semua menatap terkesima pada benda putih yang jatuh terpuruk di hadapan mereka. Dari wujud benda, mudah diketahui apakah itu gerangan. Yakni sesosok jenazah yang masih terbungkus kain kafan!
Berita tentang terpentalnya jenazah Suradadi menyebar lewat mulut ke mulut.
Hingga sampai ke telinga Sumanto di kaki bukit. Lelaki pendek dan gemuk itu tersenyum.
Sembari mendesis, “ Ini baru permulaan”.
Berita tentang terpentalnya jenazah Suradadi menyebar lewat mulut ke mulut.
Hingga sampai ke telinga Sumanto di kaki bukit. Lelaki pendek dan gemuk itu tersenyum.
Sembari mendesis, “ Ini baru permulaan”.
Quote:
KEMATIAN Suradadi membuat Rustam terus saja dihinggapi perasaan tegang serta gelisah. Lebih-lebih lagi setelah terjadinya peristiwa-peristiwa ganjil di pemakaman. Apapun juga diomongkan orang. Rustam hanya menyakini satu hal saja. Bahwa Suradadi tidak mau mati sendirian. Atau paling tidak dikubur sendirian.
Pikiran menakutkan itulah yang membuat Rustam merasa tegang serta gelisah. Dan biasanya perasaan demikian dapat dihilangkan Rustam dengan menempuh dua cara yang paling mudah dan praktis. Bermain cinta atau berjudi. Dan Rustam memilih berjudi.
Maka sepulang dari pemakaman, Rustam pun langsung pergi bermain dadu keprok di rumah salah seorang teman masa kecilnya yang sudah menjadi bandar judi. Taruhan
uangnya tidak begitu besar. Dan tanpa terasa, hari tiba-tiba sudah jatuh malam. Mata Rustam yang biasanya mampu melek hingga dini hari. Entah mengapa malam itu terasa lain. Sepasang matanya terasa sangat berat seperti diganduli batu bata.beberapa kali ia terpejam. Sehingga teman –teman judinya berteriak –teriak meledek sesuka hati. Akhirnya, Rustam memutuskan untuk pulang. Rustam tiba-tiba kembali merasa sendirian. Lalu perasaan tegang serta gelisah itu kembali pula datang mengusik.
Suara tangis bayi membuyarkan lamunan Rustam. Ia menghentikan langkahnya dengan seketika. Diam.
Mendengarkan dan terdengar lagi suara tangis bayi tadi. Tersendat-sendat lemah. Menyayatkan hati. Menyapukan pandang sesaat ke tempat sekitar, Rustam kemudian memutar tubuh ke arah kanan. Menghadap ke hamparan sawah siap panen yang berwarna kuning keabu-abuan di bawah siraman rembulan.
Ada tegalan di depan tempat Rustam berdiri. Tegalan itu berakhir disebuah tempat yang
tampaknya sedikit terbuka. Di mana terlihat sebuah gubuk. Dan dari arah gubuk itu terdengar lagi tangisan bayi yang memelas. Semakin tersendat-sendat. Tanpa berpikir panjang. Rustam langsung melompat ke tegalan. Cepat sekali ia menerobos batangan padi yang ia kuakkan menggunakan kaki serta tangan. Tidak peduli daun pagi yang tajam itu menyengat lengannya. Ia tidak boleh terlambat.
Mumpung bayi malang itu masih hidup. Masih bisa diselamatkan! Dan ia kemudian berdiri tertegun. Sesosok bayi laki-laki. Masih kemerah-merahan. Rebah menghadap rembulan di langit malam. Bayi itu rebah tanpa sehelai benangpun melilit tubuhnya. Rustam melihat dengan perasaan iba. Rustam cepat melongok ke sebelah dalam gubuk. Berharap ada seseorang yang dengan sengaja sedang beristirahat di gubuk itu. Akan tetapi yang ditemukannya hanya gelap. Tidak ada siapa-siapa di dalam.
Tanpa berpikir panjang, Rustam langsung saja menanggalkan kemejanya lalu ia selimutkan ke tubuh si bayi. Sekaligus mengangkatnya ke bopongan lengan. Sang bayi berhenti menangis. Diterangi cahaya rembulan. Bibir mungil bayi itu tampak tersenyum. Seolah-olah berterima kasih.
Sang bayi merengek pelan. Rengekan yang terdengar manja itu membuat Rustam tersenyum. Diawasinya sosok bayi dalam bopongan. Dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Semua tampak utuh. Sehat tanpa cacat. Hanya saja...
" Mau kau bawa kemana bayi ku?”
Terperanjat setengah mati, Rustam cepat membalikkan tubuh. Dan di hadapannya, berdirilah sesosok tubuh lelaki sebaya dengan nya. Berbadan gemuk namun pendek. Memakai baju panjang longgar serta tampak lusuh. Rembulan menyinari wajahnya yang dingin membeku. Sementara matanya tampak menatap dengan sorotan tajam. Walau tak begitu jelas terlihat dalam gelapnya malam. Sorot mata itu terasa bagai menghunjam ke mata Rustam. Menimbulkan perasaan dingin. Dan menusuk sampai ke jantung.
"Kau masih ingat aku Rustam?!", si pemuda gemuk membuka mulutnya.
" Kau Sumanto?"
Pemuda gemuk pendek itu tidak menyahut. Hanya tersenyum. Senyuman dingin.
Rustam tiba –tiba menyeringai.
" Jadi ini bayi mu?! Kita sudah lama tidak bertemu. Semenjak kejadian kau mengintip Jumini mandi di telaga itu. Aku pikIr kau telah mati Sumanto “
“ Ada angin apa kau kesini? Terus terang, aku sedang gelisah. Dan wajahmu yang buruk itu membuat aku ingin muntah. Seperti beberapa tahun silam. Ini aku kembalikan anak mu, dan pergi jauh –jauh dari desa ini ! “
Rustam berjalan perlahan ke arah Sumanto. Sebelum diangsurkan bayi itu. Ia merunduk. Mengawasi bayi laki –laki itu. Sepasang mata si bayi terbuka lebar. Balas menatap. Dan lebih
mengejutkan lagi, senyuman di bibir mungil bayi yang tadinya lucu. Berubah total. Sudut-sudut bibir mungil merah itu menggurat lebar ke kiri kanan pipi montoknya. Memperlihatkan seringai tipis.
Seringai di bibir si bayi pun terkesan kejam. Malah mendekati buas! Tak ayal lagi. Rustam menjerit ngeri. Seraya menjerit, bopongan lengannya dilepaskan buru-buru. Bayi pun terlepas. Tetapi tidak dengan sendirinya langsung terjatuh. Begitu terlepas, tubuh montok sang bayi justru seperti melompat ke atas. Dan tahu-tahu sudah hinggap di pundak Rustam. Sebelum Rustam sempat berbuat sesuatu, rambut di kepalanya sudah terjambak keras serta menyakitkan.
Dan sepasang kaki mungil tahu-tahu sudah melingkar di leher. Dan bergerak menjepit, terus menjepit. Leher Rustam seperti dihimpit besi geligen. Rustam dalam cengkaman panik serta kengerian yang luar biasa. Ia lari menyelamatkan diri. Paling tidak, meronta-ronta membebaskan leher yang tercekik. Tetapi lutut berkehendak lain. Kedua lutut Rustam sudah keburu tertekuk. Rustam pun jatuh berlutut. Dan masih sempat berbisik diantara nafasnya yang semakin sesak.
" Sumanto tolong. Tolonglah….Aku...!"
Bisikan Rustam tidak terselesaikan. Tubuhnya dengan cepat sudah limbung lalu jatuh tersungkur ke depan. Disertai suara menyembur yang sayup-sayup. Sebelum wajah Rustam menyentuh tanah. Samarsamar terlihat oleh pandangan matanya yang nanar adanya gumpalan darah merah segar mendahului jatuh tubuhnya. Menggenangi dan memerahi rerumputan. Gumpalan kental itu jelas sekali terasa, tumpah keluar dari mulutnya.
Pikiran menakutkan itulah yang membuat Rustam merasa tegang serta gelisah. Dan biasanya perasaan demikian dapat dihilangkan Rustam dengan menempuh dua cara yang paling mudah dan praktis. Bermain cinta atau berjudi. Dan Rustam memilih berjudi.
Maka sepulang dari pemakaman, Rustam pun langsung pergi bermain dadu keprok di rumah salah seorang teman masa kecilnya yang sudah menjadi bandar judi. Taruhan
uangnya tidak begitu besar. Dan tanpa terasa, hari tiba-tiba sudah jatuh malam. Mata Rustam yang biasanya mampu melek hingga dini hari. Entah mengapa malam itu terasa lain. Sepasang matanya terasa sangat berat seperti diganduli batu bata.beberapa kali ia terpejam. Sehingga teman –teman judinya berteriak –teriak meledek sesuka hati. Akhirnya, Rustam memutuskan untuk pulang. Rustam tiba-tiba kembali merasa sendirian. Lalu perasaan tegang serta gelisah itu kembali pula datang mengusik.
Suara tangis bayi membuyarkan lamunan Rustam. Ia menghentikan langkahnya dengan seketika. Diam.
Mendengarkan dan terdengar lagi suara tangis bayi tadi. Tersendat-sendat lemah. Menyayatkan hati. Menyapukan pandang sesaat ke tempat sekitar, Rustam kemudian memutar tubuh ke arah kanan. Menghadap ke hamparan sawah siap panen yang berwarna kuning keabu-abuan di bawah siraman rembulan.
Ada tegalan di depan tempat Rustam berdiri. Tegalan itu berakhir disebuah tempat yang
tampaknya sedikit terbuka. Di mana terlihat sebuah gubuk. Dan dari arah gubuk itu terdengar lagi tangisan bayi yang memelas. Semakin tersendat-sendat. Tanpa berpikir panjang. Rustam langsung melompat ke tegalan. Cepat sekali ia menerobos batangan padi yang ia kuakkan menggunakan kaki serta tangan. Tidak peduli daun pagi yang tajam itu menyengat lengannya. Ia tidak boleh terlambat.
Mumpung bayi malang itu masih hidup. Masih bisa diselamatkan! Dan ia kemudian berdiri tertegun. Sesosok bayi laki-laki. Masih kemerah-merahan. Rebah menghadap rembulan di langit malam. Bayi itu rebah tanpa sehelai benangpun melilit tubuhnya. Rustam melihat dengan perasaan iba. Rustam cepat melongok ke sebelah dalam gubuk. Berharap ada seseorang yang dengan sengaja sedang beristirahat di gubuk itu. Akan tetapi yang ditemukannya hanya gelap. Tidak ada siapa-siapa di dalam.
Tanpa berpikir panjang, Rustam langsung saja menanggalkan kemejanya lalu ia selimutkan ke tubuh si bayi. Sekaligus mengangkatnya ke bopongan lengan. Sang bayi berhenti menangis. Diterangi cahaya rembulan. Bibir mungil bayi itu tampak tersenyum. Seolah-olah berterima kasih.
Sang bayi merengek pelan. Rengekan yang terdengar manja itu membuat Rustam tersenyum. Diawasinya sosok bayi dalam bopongan. Dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Semua tampak utuh. Sehat tanpa cacat. Hanya saja...
" Mau kau bawa kemana bayi ku?”
Terperanjat setengah mati, Rustam cepat membalikkan tubuh. Dan di hadapannya, berdirilah sesosok tubuh lelaki sebaya dengan nya. Berbadan gemuk namun pendek. Memakai baju panjang longgar serta tampak lusuh. Rembulan menyinari wajahnya yang dingin membeku. Sementara matanya tampak menatap dengan sorotan tajam. Walau tak begitu jelas terlihat dalam gelapnya malam. Sorot mata itu terasa bagai menghunjam ke mata Rustam. Menimbulkan perasaan dingin. Dan menusuk sampai ke jantung.
"Kau masih ingat aku Rustam?!", si pemuda gemuk membuka mulutnya.
" Kau Sumanto?"
Pemuda gemuk pendek itu tidak menyahut. Hanya tersenyum. Senyuman dingin.
Rustam tiba –tiba menyeringai.
" Jadi ini bayi mu?! Kita sudah lama tidak bertemu. Semenjak kejadian kau mengintip Jumini mandi di telaga itu. Aku pikIr kau telah mati Sumanto “
“ Ada angin apa kau kesini? Terus terang, aku sedang gelisah. Dan wajahmu yang buruk itu membuat aku ingin muntah. Seperti beberapa tahun silam. Ini aku kembalikan anak mu, dan pergi jauh –jauh dari desa ini ! “
Rustam berjalan perlahan ke arah Sumanto. Sebelum diangsurkan bayi itu. Ia merunduk. Mengawasi bayi laki –laki itu. Sepasang mata si bayi terbuka lebar. Balas menatap. Dan lebih
mengejutkan lagi, senyuman di bibir mungil bayi yang tadinya lucu. Berubah total. Sudut-sudut bibir mungil merah itu menggurat lebar ke kiri kanan pipi montoknya. Memperlihatkan seringai tipis.
Seringai di bibir si bayi pun terkesan kejam. Malah mendekati buas! Tak ayal lagi. Rustam menjerit ngeri. Seraya menjerit, bopongan lengannya dilepaskan buru-buru. Bayi pun terlepas. Tetapi tidak dengan sendirinya langsung terjatuh. Begitu terlepas, tubuh montok sang bayi justru seperti melompat ke atas. Dan tahu-tahu sudah hinggap di pundak Rustam. Sebelum Rustam sempat berbuat sesuatu, rambut di kepalanya sudah terjambak keras serta menyakitkan.
Dan sepasang kaki mungil tahu-tahu sudah melingkar di leher. Dan bergerak menjepit, terus menjepit. Leher Rustam seperti dihimpit besi geligen. Rustam dalam cengkaman panik serta kengerian yang luar biasa. Ia lari menyelamatkan diri. Paling tidak, meronta-ronta membebaskan leher yang tercekik. Tetapi lutut berkehendak lain. Kedua lutut Rustam sudah keburu tertekuk. Rustam pun jatuh berlutut. Dan masih sempat berbisik diantara nafasnya yang semakin sesak.
" Sumanto tolong. Tolonglah….Aku...!"
Bisikan Rustam tidak terselesaikan. Tubuhnya dengan cepat sudah limbung lalu jatuh tersungkur ke depan. Disertai suara menyembur yang sayup-sayup. Sebelum wajah Rustam menyentuh tanah. Samarsamar terlihat oleh pandangan matanya yang nanar adanya gumpalan darah merah segar mendahului jatuh tubuhnya. Menggenangi dan memerahi rerumputan. Gumpalan kental itu jelas sekali terasa, tumpah keluar dari mulutnya.
Diubah oleh breaking182 30-01-2021 10:10
jiresh dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas
Tutup