- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#85
Chapter 59
Di dalam ruangan milik ayahnya, Yi Yuen duduk sambil membuka kitab merah. Kitab yang berisikan semua jurus yang diberikan Zhang Bingjie dan beberapa informasi tentang kelemahan Dewa Perang. Dan yang paling terpenting adalah kelemahan dari pasukan hitam yang tentu saja membuat Yi Yuen mempunyai kesempatan untuk menghancurkan mereka.
"Guru, aku berhutang budi padamu. Aku akan melakukan sesuai yang tertulis di kitab ini. Aku pasti akan membuat mereka membayar atas perbuatan mereka kepada manusia dan pada orang-orang yang aku sayangi. Aku tidak akan membiarkan mereka mengacaukan bumi untuk ketiga kalinya. Akan aku pastikan kalau mereka akan menyesal karena sudah berurusan denganku!"
Yi Yuen lantas bangkit dan berdiri di depan lukisan ayah dan ibunya. "Ayah, Ibu, tolong bantu aku untuk menghadapi semua ini. Aku akan membuat mereka menyesal karena sudah menyakiti kalian."
Yi Yuen kemudian bergegas keluar dari ruangan itu. Dia ingin mengetahui persiapan yang sudah dilakukan kakek dan neneknya. Namun, di depan pintu, langkahnya terhenti. Di depannya kini, Putri Anchi tengah berdiri dan menatap ke arahnya dengan rasa benci.
"Apa kamu senang karena sudah mengambil semua milikku? Ayahku, Qiang dan bahkan istana ini juga kamu ambil dariku, apa kamu puas?" teriak Putri Anchi dengan wajah memerah dan air mata yang sudah menggantung di pelupuk matanya.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka aku mengambilnya darimu? Kalau begitu, coba ambil kembali dariku. Jika kamu mampu mengambilnya dariku, aku akan berlutut di depanmu dan mengembalikan mahkota ini padamu," ucap Yi Yuen yang mencoba memanas-manasi gadis itu.
"Baiklah, lihat saja nanti. Aku pasti akan membuatmu bersujud di depanku dan merengek meminta ampun padaku. Kamu dan semua penghuni istana ini akan menyesal dan kalian pasti akan hancur!"
Ucapan Putri Anchi membuat Yi Yuen tersenyum. Karena itulah yang dia inginkan, serangan dari mereka terlebih dulu. Dengan begitu, dia mempunyai kesempatan untuk membongkar semua kejahatan mereka. Karena dia sendiri tidak mempunyai bukti atas keterlibatan Dewa Perang dengan dua kejadian yang sudah terjadi.
Yi Yuen menatap Putri Anchi dengan senyum mengejek. "Kamu ingin membunuhku? Baik, aku akan menunggu hingga saat itu tiba. Aku ingin lihat sehebat apa kemampuanmu itu. Walau kita satu ayah, aku tidak akan segan-segan menghabisimu karena kamu tak lebih dari sampah yang pantas untuk disingkirkan."
Kata-kata Yi Yuen yang sengaja membuat Putri Anchi marah ternyata mampu membuat gadis itu naik darah. Tanpa di nyana, Putri Anchi melepaskan satu pukulan ke arah Yi Yuen. Cahaya merah keluar dari tangannya seiring pukulan yang dia arahkan pada Yi Yuen. Dengan mudah, Yi Yuen menghindar dari pukulan cahaya merah dan melesat cepat ke arah Putri Anchi dan tiba-tiba saja satu tamparan yang cukup keras menghantam wajah gadis itu hingga dia terpental beberapa meter dan jatuh di atas lantai. Gadis itu meringis menahan rasa sakit di pipi kirinya. Terlihat darah segar dia muntahkan hingga membuatnya mengepalkan kedua tangannya.
Yi Yuen berjalan mendekat ke arah Putri Anchi yang terlihat ketakutan saat melihat gadis itu duduk di depannya. "Sakit yang kamu rasakan tidak seberapa dengan sakit yang aku rasakan. Aku akan membuatmu merasakan sakit lebih dari ini jika kamu masih ingin mencampuri urusanku. Walau begitu, aku akan mengampunimu karena bagaimanapun juga kita adalah saudara, tapi jika ... "
"Tidak! Aku tidak mempunyai saudara! Kamu bukan siapa-siapa bagiku dan aku sangat membencimu. Sampai kapanpun, aku tidak akan mengakui gadis rendahan sepertimu sebagai saudaraku. Ingat, kamu akan menyesal karena sudah melukaiku. Lihat saja, kamu pasti akan menyesal!"
Putri Anchi kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Yi Yuen yang hanya bisa tersenyum melihat kepergiannya. "Kita lihat saja apa yang akan kamu lakukan. Pergilah dan mengadulah pada kakek dan ibumu. Itu lebih baik agar aku tidak usah lama-lama menunggu."
Benar saja, Dewa Perang dan Putri Mu Rong tampak marah saat melihat wajah Putri Anchi yang memerah dengan darah yang masih basah di sudut bibirnya.
"Ayah, jika dibiarkan terus gadis rendahan itu akan semakin besar kepala. Jika kita tidak segera menyingkirkannya, kita akan jadi bulan-bulan gadis rendahan itu."
Putri Mu Rong terlihat merengek hingga membuat Dewa Perang ikut terbawa emosi. Dia sudah cukup bersabar dengan sikap Yi Yuen yang dirasa sudah di luar batas.
"Baiklah, Ayah akan segera menemui Dewa Hitam. Kalian berdua juga harus bersiap dengan kemungkinan yang terjadi. Bersiaplah untuk melakukan penyerangan."
"Baik, Ayah."
Dewa Perang lantas kembali menemui Dewa Hitam. Di tempat persembunyian mereka, terlihat puluhan ribu anak buah Dewa Hitam yang sudah bersiap. Bayangan-bayangan hitam terlihat memenuhi tempat itu.
"Jadi, kapan kita akan melakukan penyerangan? Semua pasukanku sudah bersiap dan akan bergerak jika sudah ada perintah."
"Hari ini juga kita akan lakukan penyerangan. Aku akan siapkan pasukanku untuk menyerang Istana Khayangan dan pasukanmu harus sudah memorak-porandakan alam manusia. Dan setelah itu, kita akan menyingkirkan orang-orang yang menghalangi kita dan mengambil alih Istana Khayangan."
Rencana mereka rupanya sudah final. Mereka sudah merencanakan dengan sangat matang. Dewa Perang kembali ke Istana Khayangan dan mulai menyiapkan pasukannya secara diam-diam. Rupanya, tak sedikit yang mengikutinya. Pasukan yang dipimpinnya pun terdiri dari orang-orang yang memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Terlihat, beberapa dewa juga berpihak padanya.
Sementara Yi Yuen, kini berada di kedai yang sudah diubah menjadi tempat pasukannya berkumpul. Dia cukup terkejut saat melihat pasukan yang sudah berkumpul. Dia tidak menyangka, mereka begitu antusias untuk membantunya.
Desa di bawah Gunung Taishan tak hanya mengirimkan beberapa pemuda tangguh dari desanya, tapi mereka juga datang bersama siluman babi yang sempat berseteru dengan mereka. Mendengar Yi Yuen meminta bantuan, tanpa segan mereka mengajukan diri untuk membantu. Bahkan, siluman babi tidak datang sendiri. Dia membawa beberapa siluman yang juga ingin membantu Yi Yuen yang mereka anggap sebagai Dewi Keabadian.
"Aku ucapkan terima kasih atas kedatangan kalian, tapi kalian pasti sudah tahu resiko yang akan kalian hadapi. Musuh kita bukan dari kalangan manusia yang bisa dengan mudah kita lawan, tapi dari sosok bayangan hitam yang bersembunyi di balik tubuh manusia. Karena itu, kalian butuh kerjasama agar bisa mengalahkan mereka."
"Dewi, katakan saja apa yang harus kami lakukan. Kami akan membantumu dan tidak akan mundur walau sejengkal. Katakan saja, bagaimana kerjasama yang harus kami lakukan," tanya siluman babi.
Yi Yuen mulai mengemukakan rencana yang sudah dia pikirnya matang-matang. Rencana yang yang sama sekali tidak akan diduga-duga oleh pihak musuh. Rupanya, keterangan di dalam kitab merah sudah memberikan jalan bagi Yi Yuen untuk menyingkirkan pasukan Dewa Hitam.
Setelah menjelaskan rencana pada pasukannya yang berkumpul di kedai, Yi Yuen bergegas menuju kerajaan menemui pasukan yang sudah disiapkan oleh Pangeran Muda dan Wang Wei. Gadis itu juga mengemukakan rencana yang sama.
"Pangeran Muda, aku punya satu permintaan lagi untukmu."
"Katakan saja, apa itu?"
"Untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak, aku ingin Pangeran Muda menggunakan kekuasaanmu untuk melarang setiap penduduk keluar dari rumah mereka. Mulai dari hari ini, perintahkan kepada seluruh penduduk untuk berdiam diri di dalam rumah."
"Baiklah, jika itu untuk keselamatan mereka, aku akan segera mengeluarkan perintah untuk melarang setiap orang keluar dari rumah mereka."
Pangeran Muda lantas mengeluarkan surat perintah itu. Walau ditentang oleh sebagian orang yang merasa dirugikan oleh kebijakan raja, nyatanya masih saja ada yang menolak melakukan perintah rajanya itu.
"Kenapa kita harus berdiam di dalam rumah? Apa alasan raja mengeluarkan perintah yang tidak masuk akal itu?" Keluh beberapa orang yang merasa kebijakan raja terlalu mengada-ada.
Walau sudah diperintah, masih saja ada yang melawan. Bahkan, mereka sama sekali tidak peduli dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh sang raja.
Sementara di Istana Khayangan, situasi masih terlihat seperti biasanya. Tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari kedua pihak yang sama-sama menyembunyikan kecurigaan. Hingga Yi Yuen memutuskan untuk melakukan pertemuan di aula Istana dan mengumpulkan semua para dewa dan dewi untuk berkumpul si sana.
Pertemuan yang tiba-tiba itu sontak membuat Dewa Perang terkejut. Dia tidak menyangka kalau Yi Yuen masih sempat melakukan pertemuan di saat dirinya sudah bersiap untuk melakukan penyerangan. "Gadis itu, apa yang dia rencanakan?" batin Dewa Perang yang berjalan meninggalkan ruangannya.
Di atas singgasana, Yi Yuen mengedarkan pandangannya dan menatap semua orang yang hadir di tempat itu dan dia tersenyum kecut saat tidak melihat keberadaan Dewa Perang di tempat itu. "Jadi, dia sudah mulai bergerak. Baiklah, aku ingin lihat apa yang akan dia lakukan," batin Yi Yuen.
Pintu ruangan aula lantas ditutup atas perintah Yi Yuen. Semua orang terkejut saat tiba-tiba pintu ruangan itu ditutup.
"Ada apa ini? Kenapa pintu ruangan ini ditutup?" tanya seorang dewa yang mulai curiga.
Yi Yuen menatap tajam pada setiap wajah semua orang yang ada di tempat itu. "Aku tahu ada di antara kalian yang ingin memberontak. Aku berikan kalian kesempatan untuk menyerahkan diri agar tidak terjadi pertempuran, tapi jika kalian menolak, maka aku akan melawan kalian. Apa kalian pikir, aku tidak tahu maksud kalian?"
Sontak, ucapan Yi Yuen membuat beberapa orang yang berada di bawah perintah Dewa Perang terkejut.
"Dewi, apa maksudmu? Apa kamu pikir kami ingin memberontak?"
"Tidak usah mengelak karena kami sudah tahu siapa dalang dibalik kejadian penyerangan pasukan hitam di alam manusia. Apa kalian pikir, kami hanya diam saja tanpa melakukan apa pun? Dewa Perang hanya ingin memanfaatkan kalian untuk kepentingannya. Setelah itu, kalian selamanya akan tunduk pada perintahnya."
Dewa Kebijaksanaan tidak tinggal diam. Dia berusaha untuk menyadarkan para dewa lainnya, tapi tanpa di duga, beberapa dewa dengan lantang menyerukan perang sambil menghunus pedang ke arah dewa-dewa yang berpihak pada Yi Yuen.
"Kami tidak peduli karena kami tidak sudi dipimpin oleh seorang manusia. Sampai kapan pun kami tidak akan rela jika kami diperintah olehnya!" seru salah satu dewa sambil menunjuk ke arah Yi Yuen.
Di dalam aula kini terlihat dua kelompok yang saling menghunuskan pedang. Tak hanya itu, di luar aula juga terjadi hal yang sama. Dua pasukan istana sudah bersiap-siap untuk saling menyerang.
Melihat hal itu, Yi Yuen lantas turun dari atas singgasana dan berjalan menuju kelompok yang berada di bawah perintah Dewa Perang. Tatapan matanya begitu tajam hingga membuat mereka mundur saat Yi Yuen berjalan tepat di depan mereka.
"Baiklah, jika kalian masih membela pemimpin kalian itu maka aku tidak bisa tinggal diam. Siapa pun yang mencoba mengambil alih Istana Khayangan ini dariku secara paksa, maka aku akan menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya!"
Tiba-tiba saja pedang berwarna kebiruan muncul dari tangan Yi Yuen. Pedang yang hanya dimiliki oleh satu orang, yaitu Dewi Keabadian. Melihat pedang di tangan gadis itu, hampir seluruh yang ada di ruangan itu terkejut.
"Itu kan ... "
"Ya, ini aku, Yi Yuen, Dewi Keabadian."
"Tidak mungkin! Apa kamu pikir kami akan tertipu dengan omong kosongmu itu? Ramalan tentangmu hanya omong kosong. Dewi Keabadian sudah lama mati dan tidak mungkin bisa terlahir kembali, apalagi menjadi seorang manusia!" seru salah satu dewa yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.
"Kalau tidak percaya, silakan maju dan buktikan sendiri siapa aku!" Tantang Yi Yuen pada dewa itu. Lelaki yang sudah tidak muda lagi itu lantas maju menyerang Yi Yuen dengan kekuatan api miliknya. Dari telapak tangannya, tersembur kilatan api yang menyasar tubuh Yi Yuen. Namun, dengan pedangnya, Yi Yuen mampu menangkis kilatan cahaya api dan mengembalikan serangan itu pada lelaki yang menyerangnya. Sontak, dia terkejut karena serangannya sama sekali tidak berpengaruh apa-apa pada gadis itu. Bahkan, serangan api miliknya dibuat seperti mainan oleh Yi Yuen.
"Hah, rupanya dia memiliki kekuatan yang cukup hebat. Dia mampu menangkis serangan api milikku dengan pedangnya. Jika itu pedang biasa, maka api milikku pasti sudah menghancurkannya, tapi ... "
Lelaki itu begitu terkejut saat melihat Yi Yuen menghadapi serangan beberapa orang yang kini menyerangnya secara bersamaan. Dengan mudah, gadis itu membalas serangan mereka hanya dengan sebuah pedang yang terarah pada titik tertentu hingga membuat tubuh lawannya tak berdaya.
"Gadis itu ... dia tidak membunuh melainkan melumpuhkan mereka. Apa mungkin dia tidak bermaksud membunuh orang-orang yang sudah memberontak padanya?" batin lelaki tua itu yang dikenal dengan sebutan Dewa Api.
Kini, ruangan itu telah ramai dengan suara dentingan pedang yang beradu. Mereka mulai saling menyerang. Begitupun dengan semua pasukan yang berada di luar aula. Mereka mulai saling menyerang hingga menimbulkan kekacauan di tempat itu.
Sementara di Istana Khayangan telah terjadi pertempuran, di alam manusia juga terjadi hal yang sama. Pasukan hitam kini telah berhasil merasuki beberapa manusia dan mulai membuat keonaran. Dari jauh, Dewa Hitam dan Dewa Perang tengah berdiri dan menyaksikan pertempuran yang telah terjadi. Mereka tersenyum puas saat melihat pasukan hitam yang menguasai arena pertempuran. Mereka tersenyum sinis saat melihat pasukan dari kerajaan yang tak lebih dari 1000 orang. Namun, senyum mereka tiba-tiba memudar saat melihat pasukan siluman dan roh yang memasuki arena pertempuran dan menyerang pasukan hitam.
Itulah kelemahan pasukan hitam yang mampu di tandingi dengan serangan dari siluman dan juga roh. Di mana, mereka memiliki alam yang sama dan mampu membunuh sesama mereka.
"Dewa Perang, apa yang terjadi? Bukankah lawan kita hanya manusia, tapi kenapa para siluman dan roh bisa ikut bertarung? Jika seperti ini, pasukanku bisa saja mati!"
Dewa Hitam terlihat marah, apalagi saat melihat kemampuan pasukan kerajaan yang mampu membunuh pasukan hitam tanpa membunuh manusia yang dirasuki.
"Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa manusia-manusia itu bisa membunuh pasukanku?"
Itulah rencana yang sudah diatur oleh Yi Yuen. Rencana yang bisa mematahkan kekuatan pasukan hitam. Kekuatan yang bisa dipatahkan dengan kekuatan darah dari seorang manusia setengah dewa.
To be continued...
unyubaik dan 3 lainnya memberi reputasi
4