- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#83
Chapter 57
Di dalam aula Istana Khayangan terlihat ramai. Para pejabat dan juga para dewa tampak berkumpul atas perintah dari penguasa Istana Khayangan. Perintah atas nama Putri Anchi walau sebenarnya itu atas perintah dari Dewa Perang.
Di antara mereka, tampak Dewi Bulan yang terlihat cemas. Sudah sedari tadi dia mencari keberadaan suaminya namun, lelaki itu tidak terlihat olehnya. "Suamiku, kamu di mana?" batin Dewi Bulan yang kini terlihat gelisah.
Seketika suasana menjadi hening saat Putri Anchi tiba-tiba muncul bersama Dewa Perang dan Putri Mu Rong yang berjalan di sampingnya. Pasangan ayah dan anak itu terlihat angkuh dengan tatapan mata yang begitu merendahkan.
Tanpa diperintah, semua orang yang berada di tempat itu lantas menunduk memberi hormat pada mereka. Wajah Dewa Perang tersenyum sinis saat melihat semua orang menunduk kepadanya.
"Baiklah, aku akan memulai pertemuan hari ini," ucap Putri Anchi membuka kata. Sejenak, gadis itu menatap sang kakek yang tersenyum dan mengangguk padanya.
"Ada hal yang ingin aku umumkan dan aku tidak ingin ada yang membantah atau menentang apa yang akan aku umumkan nanti. Aku, Putri Anchi selaku penguasa tempat ini ingin mengumumkan kalau aku akan menyerahkan takhta ini pada ... "
"Tunggu dulu!"
Tiba-tiba saja Dewa Kebijaksanaan muncul hingga membuat Putri Anchi tidak melanjutkan kalimatnya. Semua mata kini tertuju pada sosok lelaki yang dianggap mempunyai kebijaksanaan dan kewibawaan itu.
Dewa Kebijaksanaan lantas berjalan dan berdiri tepat di depan Putri Anchi yang menatapnya heran. "Sebelum Putri melanjutkan apa yang akan diumumkan, aku akan terlebih dulu mengumumkan sesuatu."
"Kakek, apa yang kamu lakukan?"
Lelaki itu hanya membalas dengan senyum dan berbalik memandangi semua yang hadir di tempat itu. "Aku selaku yang tertua di Istana Khayangan dan penentu dari kepemilikan singgsana di istana ini akan mengumumkan kalau Putri Anchi tidak lagi berhak duduk di atas singgasana." Sontak, suasana menjadi riuh dengan suara bisik-bisik dan juga penolakan.
"Dewa Kebijaksanaan, apa maksudmu? Apa kamu ingin berbuat makar?" tanya Dewa Perang yang terlihat marah.
"Dewa Kebijaksanaan, apa kamu ingin menentang keputusan langit? Putri Anchi adalah keturunan langsung dari raja sebelumnya dan itu berarti dia pantas untuk duduk di atas singgasana!" seru salah satu dewa yang membela Putri Anchi.
Kembali, suasana menjadi ricuh. Dewi Bulan terlihat cemas saat melihat suaminya disalahkan. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang karena dia tahu, suaminya itu tidak akan melakukan suatu perbuatan yang akan merugikan Istana Khayangan.
Sementara Dewa Kebijaksanaan terlihat tenang tanpa beban. Wajahnya terlihat berwibawa tanpa merasa tertekan dengan suara-suara yang menolak apa yang baru saja diucapkan olehnya. Ditatapnya wajah-wajah yang menentangnya itu dan dia bisa melihat kalau mereka itu adalah orang-orang yang berada di bawah perintah Dewa Perang. Walau begitu, dia masih bisa tersenyum karena tidak sedikit orang-orang yang masih setia mengikutinya dan raja sebelumnya, yakni Li Quan.
"Aku akan melakukan pemilihan ulang untuk menentukan siapa yang lebih berhak menempati singgasana ini."
"Apa maksudmu? Bukankah, Putri Anchi adalah penguasa Istana Khayangan? Lalu, untuk apa kamu melakukan pemilihan ulang? Memangnya, siapa kandidat yang akan kamu ajukan?" Dewa Perang terlihat marah hingga membuat wajahnya merah padam.
"Aku akan mengajukan cucuku sendiri. Dia lebih berhak karena dia juga anak dari Li Quan. Cucuku, kemarilah."
Pintu aula tiba-tiba terbuka. Dari balik pintu, Yi Yuen muncul. Dengan langkah pasti, dia berjalan di depan semua orang yang menatapnya tanpa kedip. Putri Anchi terkejut melihat gadis yang sangat dibencinya itu. Begitupun dengan Dewa Perang yang tidak percaya dengan apa yang kini dilihatnya. "Kenapa gadis itu bisa ada di sini? Bukankah, seorang manusia akan mati jika berada di tempat ini. Apa mungkin dia ... ?"
Sebelum Yi Yuen datang ke Istana Khayangan, dia sudah dipersiapkan terlebih dulu oleh Dewa Kebijaksanaan. Lelaki itu mencoba membawa Yi Yuen melalui pintu langit dan melihat reaksi tubuh gadis itu terhadap alam khayangan yang tentu saja jauh berbeda dengan alam manusia. Awalnya, dia kesulitan bernapas hingga membuat Dewa Kebijaksanaan membawanya kembali ke Gunung Taishan. Walau begitu, Yi Yuen tidak menyerah dan berusaha kembali ke tempat itu. Dan setelah melewati beberapa kendala, akhirnya Yi Yuen mampu menyeimbangkan kondisi tubuhnya dengan kondisi alam khayangan.
Sebelum meninggalkan Gunung Taishan, Yi Yuen dan kedua sahabatnya melakukan upacara penghormatan terhadap Zhang Bingjie. Upacara yang dipimpin Dewa Kebijaksanaan itu berlangsung hikmat. Mereka memberikan penghormatan terakhir sebagai seorang murid yang menghargai jasa gurunya.
"Kalian berdua kembali ke Istana dan tunggu aku di sana. Katakan pada Pangeran Muda dan Wang Wei kalau aku baik-baik saja. Aku akan ikut Kakek ke Istana Khayangan untuk melakukan rencana yang sudah kita siapkan. Kalian berdua harus berhati-hati dan tetap waspada. Ingat, setelah ini mereka pasti akan melakukan serangan balasan dan kalian harus bersiap-siap."
"Jangan khawatir, Dewi. Kami tahu apa yang harus kami lakukan. Urusan di bumi, biar kami yang akan mengurusnya. Kamu fokus saja dengan rencana awal dan rebut kembali apa yang menjadi milikmu," ucap Ling penuh semangat.
Kedua sahabatnya itu kemudian turun gunung dan kembali ke Istana di mana Pangeran Muda dan Wang Wei telah menunggu mereka. Sementara Yi Yuen, kini telah berdiri di depan semua penghuni Istana Khayangan yang menatapnya tanpa kedip.
"Wajah itu, apa dia adalah Dewi Keabadian?" tanya seorang dewa yang tampak terkejut melihat wajah Yi Yuen.
Tak hanya dirinya, tapi dewa lainnya juga memiliki pertanyaan yang sama. Suara ricuh terdengar hingga membuat Putri Anchi naik darah. "Diam!"
Seketika, tempat itu menjadi hening. Semua mulut kembali bungkam dan tidak lagi bersuara.
Putri Anchi yang merasa diabaikan lantas berjalan mendekati Yi Yuen yang bergeming dan tak memedulikan dirinya.
"Kamu, keluar dari tempat ini sekarang juga! Apa manusia sepertimu pantas ada di sini? Keluar!!" Suara Putri Anchi menggema memenuhi ruangan itu, tapi Yi Yuen hanya tersenyum tanpa bergeming sedikit pun.
Melihat gadis itu mengacuhkannya, Putri Anchi naik darah. Melihat wajah Yi Yuen, dia merasa sakit hati karena penolakan Qiang terhadapnya yang di karenakan oleh gadis itu. Tanpa di nyana, Putri Anchi melayangkan satu tamparan ke arah wajah Yi Yuen, tapi dengan tanggap Yi Yuen menangkis dengan mencengkeram tangan gadis itu.
"Jika tanganmu mengenai wajahku, aku akan menghajarmu hingga membuat wajahmu tidak akan dikenali, bahkan oleh kakekmu sendiri," ucap Yi Yuen sambil melirik ke arah Dewa Perang yang terlihat menahan marah. "Sebaiknya, jaga sikapmu jika masih ingin menikmati duduk di singgasana itu, kalau tidak aku akan membuatmu menyesal karena sudah berani menamparku."
Tatapan mata Yi Yuen begitu tajam hingga membuat Putri Anchi melepaskan tangannya dari cengkeraman gadis itu. Melihat putrinya tak berkutik di depan Yi Yuen, Putri Mu Rong tidak tinggal diam. Wanita itu terlihat marah karena membayangakan wanita yang sudah membuat dia kehilangan Li Quan. Dengan wajah menahan amarah, wanita itu mendekati Yi Yuen dan bersiap menyerangnya dengan pukulannya, tapi pukulannya ditangkis oleh sekelabat bayangan yang kini berdiri di depan Yi Yuen.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti cucuku. Jika ada yang berani menyentuhnya, aku sendiri yang akan membunuh orang itu tanpa ampun!"
Di depan Yi Yuen, Dewi Bulan tampak berdiri melindungi gadis itu dari serangan Putri Mu Rong. Melihat Dewi Bulan melindungi gadis itu, Putri Mu Rong tidak bisa berbuat apa-apa. Dia terlihat kesal. Begitupun dengan Putri Anchi yang tidak suka melihat kakek dan neneknya membela gadis itu.
"Kenapa kalian melindunginya? Apa maksud kalian membawanya ke sini? Apa kalian ingin menjadikan dia penguasa Istana Khayangan?" tanya Putri Mu Rong bertubi-tubi. "Apa dia pantas berada di sini setelah ibunya membuat Li Quan meninggalkan Istana Khayangan dan mengubah peraturan langit?"
Putri Mu Rong berusaha menjatuhkan Yi Yuen di depan semua orang. Dan benar saja, hampir seluruh yang ada di ruangan itu mulai terpengaruh dengan ucapannya.
"Apa itu benar? Apa kalian ingin kami dipimpin oleh seorang manusia?" tanya salah satu dewa yang ada di tempat itu. Mendengar ucapan lelaki itu, suasana kembali riuh. Suara penolakan kembali terdengar hingga membuat Putri Mu Rong dan Dewa Perang tersenyum menikmati keberhasilan mereka.
"Kenapa? Apa aku tidak berhak ada di tempat ini? Apa hanya dia putri dari ayahku? Aku juga putri dari raja sebelumnya dan aku punya hak untuk ada di tempat ini. Kalau kalian meragukanku karena memiliki separuh darah manusia, apa mungkin aku masih bisa hidup di tempat ini?" Yi Yuen tidak tinggal diam saat semua orang menyudutkan dirinya. Terlebih, saat mereka mulai menyalahkan ibunya.
"Kamu hanya anak dari seorang wanita murahan. Manusia rendah yang tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari seorang Raja Khayangan. Apa di alam sana tidak ada lelaki yang bisa dia goda hingga berani mengganggu suamiku?"
Yi Yuen mengepalkan kedua tangannya dan mencoba menahan amarah atas hinaan yang ditujukan pada ibunya. Namun, itu tidak berlaku bagi Dewi Bulan. Wanita itu lantas menampar wajah Putri Mu Rong hingga wanita itu terdiam. "Jangan coba-coba merendahkan menantuku. Bagiku, Zhi Ruo adalah menantuku dan dia lebih berhak menjadi pendamping putraku. Apa kamu pikir Li Quan bahagia selama bersamamu? Kalau bukan karena Istana Khayangan, aku tidak akan membiarkan putraku menanggung kesedihan karena harus berpisah dengan anak dan istrinya. Kalau bukan karena permintaan suamiku, aku tidak akan melihat putraku menangis karena merindukan anak dan istrinya. Karena itu, jangan pernah merendahkan menantu dan juga cucuku. Jika tidak, aku akan merobek mulutmu itu!"
Putri Mu Rong terkejut saat mendengar ancaman dari Dewi Bulan. Tak hanya itu, dia merasa tidak dihargai sebagai istri Li Quan dan juga sebagai menantu. Dia merasa sakit hati karena mertuanya itu dengan terang-terangan mengakui wanita yang sangat dibencinya itu sebagai menantu mereka.
Suasana di tempat itu terlihat tegang. Perdebatan itu telah membuat perpecahan di antara mereka. Kedua kubu yang saling bertentangan lantas mulai mengambil jarak dengan posisi siap bertarung.
Tak hanya itu, Dewa Perang mulai menggunakan kekuasaannya. Dengan kekuasannya itu, dia mulai memerintahkan semua pasukan istana untuk menangkap semua orang yang berniat merebut kekuasaan dari tangan Putri Anchi.
Sontak, semua pasukan telah mengepung tempat itu. Bahkan, mereka tidak segan menodongkan senjata ke arah Dewi Bulan dan Dewa Kebijaksanaan.
"Ah, aku lupa kalau kalian telah menjadi pasukan milik Dewa Perang. Baiklah, aku akan mengembalikan fungsi kalian seperti semula, tapi jika kalian bersikeras, jangan salahkan aku jika nyawa kalian melayang di tanganku!" Dewa Kebijaksanaan terlihat tak main-main dengan ucapannya itu hingga membuat separuh dari pasukan mulai ketakutan.
"Dewa Kebijaksanaan, apa kamu benar-benar ingin menjatuhkan cucumu sendiri?"
"Ya, aku ingin dia turun dari takhtanya dan digantikan oleh putri pertama Li Quan. Lagipula, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Memangnya, kebijakan apa yang sudah dia lakukan untuk Istana Khayangan? Kebaikan apa yang sudah dia lakukan? Tidak ada!"
"Kamu ... !" Dewa Perang terlihat marah dan ingin menyerang adik seperguruannya itu, tapi dia menahan diri. Dia tidak ingin terlihat buruk di depan orang-orang yang kini memerhatikannya.
Itulah rencana awal yang sudah dipersiapkan Dewa Kebijaksanaan dengan Yi Yuen. Mereka berdua sengaja menciptakan keributan di tengah pertemuan itu. Bukan tanpa alasan, tapi itu juga sengaja dilakukan untuk memperkenalkan Yi Yuen sebagai putri dari raja mereka. Putri yang juga memiliki hak untuk memerintah Istana Khayangan.
Selain itu, Dewa Kebijaksanaan juga sengaja menghadirkan Yi Yuen di tengah mereka untuk memancing kemarahan Dewa Perang. Apalagi saat lelaki itu tahu kalau Yi Yuen juga menginginkan singgasana yang juga menjadi incarannya. Mereka ingin lelaki itu marah dan membuatnya memperlihatkan sifat aslinya. Namun, itu belum cukup berhasil hingga membuat Yi Yuen harus melakukan rencana kedua.
Di antara hiruk pikuk dan kegaduhan yang terjadi di tempat itu, tiba-tiba saja Yi Yuen mengeluarkan sebuah cahaya putih sebesar mutiara dari telapak tangannya. Sontak, semua orang yang ada di tempat itu terkejut. Mereka terkejut melihat cahaya yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang mempunyai takdir untuk menduduki singgasana Istana Khayangan. Dan kini, mereka melihat cahaya itu di tangan Yi Yuen, di mana gadis itu adalah manusia setengah dewa.
Dewa Perang yang melihat cahaya itu tak luput dari keterkejutan hingga membuatnya tak berkutik. Cahaya putih yang mereka pikir telah menghilang bersama jasad Li Quan nyatanya berada di tubuh Yi Yuen. Cahaya putih yang bisa membuat semua penghuni Istana Khayangan patuh dan tunduk pada pemiliknya.
"Kakek, apa yang terjadi?" tanya Putri Anchi saat melihat semua orang di tempat itu tiba-tiba bersujud di depan Yi Yuen.
"Bersujudlah, cepat!" perintah lelaki itu sambil duduk bersujud. Putri Anchi dan Putri Mu Rong juga melakukan hal yang sama walau keduanya tidak rela harus bersujud di depan Yi Yuen.
"Aku, Yi Yuen adalah anak dari Li Quan, raja dari istana ini dan sebelum wafat, ayah memberikanku kekuatan cahaya putih ini. Dan, kakekku, yaitu Dewa Kebijaksanaan telah memintaku untuk memimpin Istana Khayangan walau aku tahu, istana ini telah dipimpin oleh Putri Anchi yang juga merupakan putri dari ayahku. Tapi, sesuai peraturan langit, aku lebih berhak menduduki singgasana ini dibanding dia yang tidak memiliki kekuatan cahaya putih. Jadi, jika ada yang ingin menentang kehadiranku di tempat ini, silakan maju dan tantang aku!"
Suasana hening tanpa suara penolakan. Tidak ada yang berani membantah jika itu sudah menyangkut cahaya putih yang menjadi kekuatan dari Istana Khayangan.
"Apa kalian masih mau menolak kehadiranku di sini?"
Sesaat, semua orang saling memandang. Sama sekali tidak terlihat adanya bantahan dari raut wajah mereka. Hingga salah satu dari mereka dengan berani menyatakan pendapatnya, "Kami tidak akan menolakmu karena kami tidak mungkin mengingkari kekuatan cahaya putih yang ada padamu. Jika takdirmu memiliki cahaya putih itu, maka takdirmu juga untuk menduduki singgasana menggantikan ayahmu."
Dewa Perang mengepalkan kedua tangannya. Lelaki itu terlihat marah karena rencananya untuk mengambil alih kekuasaan Istana Khayangan dari Putri Anchi harus kandas. Dia harus menahan kecewa karena tujuannya itu telah gagal.
Dan di saat itu juga, Putri Anchi diminta untuk menanggalkan mahkota raja dan memberikannya pada Yi Yuen yang sudah terpilih secara mutlak. Dengan tangannya sendiri, Dewa Kebijaksanaan memakaikan mahkota pada Yi Yuen dengan ritual pengangkatan raja.
Yi Yuen kini duduk di atas singgasana dan menatap semua orang yang ada di tempat itu. "Sebagai penguasa tertinggi di istana ini, aku perintahkan agar semua peraturan yang telah diubah untuk dikembalikan sesuai yang tertulis selama ayahku memerintah. Dan semua jabatan yang sudah diubah harus dikembalikan seperti semula. Dan, aku akan menobatkan diriku sendiri menjadi Dewi Keabadian."
Sontak, Istana Khayangan bergetar hebat. Suara petir menggelegar hingga membuat istana itu berguncang. Peristiwa yang sama saat Yi Yuen terlahir ke dunia. Seluruh semesta berguncang menyambut kelahirannya dan kini ramalan tentang seseorang yang akan datang dan menggoncang Istana Khayangan telah menjadi kenyataan. Ramalan yang kini telah terbukti hingga membuat seluruh penghuni khayangan bergidik ketakutan.
To Be Continued...
unyubaik dan 4 lainnya memberi reputasi
5