Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.8K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.3KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#82
Chapter 56


Matahari mulai meninggi dengan sinar yang kini berada tepat di atas puncak kepala. Kangjian dan Ling terlihat cemas karena sedari pagi sudah menunggu Yi Yuen. Namun, hingga hari menjelang siang, gadis itu masih belum juga menampakkan diri.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Ling yang terlihat cemas.

"Yakinlah kalau Nona akan baik-baik. Kita tunggu saja dan berdoa semoga Nona segera kembali." Kangjian berusaha meyakinkan Ling kalau Yi Yuen pasti baik-baik saja.

Keduanya masih menunggu dengan harap-harap cemas. Sementara Zhang Bingjie masih berada di dalam gubuknya. Lelaki tua itu terlihat sedang memejamkan matanya sambil duduk di atas sebuah dipan bambu. Perlahan, dia membuka matanya seiring dengan suara Kangjian dan Ling yang menyeru menyebut nama Yi Yuen.

"Ah, rupanya dia sudah berhasil hingga sejauh ini. Baiklah, kini saatnya aku mewarisi semua ilmu yang aku miliki kepadanya."

Zhang Bingjie lantas bangkit dan membuka pintu. Tatapannya mengarah pada Yi Yuen yang sedang dipeluk oleh Ling yang terlihat bahagia atas kedatangan sahabatnya itu.

Melihat Zhang Bingjie, Yi Yuen berjalan mendekatinya dan duduk bersimpuh di depannya. "Guru, aku kembali," ucap Yi Yuen dengan suara yang terdengar lemah.

"Aku tahu, untuk saat ini, kamu istirahat saja dan besok, aku akan memulai mengajarkan apa yang kupunya padamu."

"Baik, Guru."

Lelaki itu kemudian kembali masuk ke dalam gubuknya dan meninggalkan Yi Yuen yang masih duduk bersimpuh. Rasanya, dia sudah tidak kuat lagi untuk bangkit hingga membuat Kangjian dan Ling membantunya.

"Ayo, aku sudah siapkan makanan untukmu. Makanlah, setelah itu beristirahatlah. Kamu pasti lapar karena sudah tiga hari ini tidak makan dan minum apapun."

Yi Yuen hanya tersenyum melihat kepedulian kedua sahabatnya itu. Dia begitu bersyukur memiliki sahabat yang peduli padanya. Makanan dan minuman yang disiapkan Ling nyatanya terlalu nikmat untuk disantap hingga membuatnya menghabiskan satu mangkok nasi dan lauk sampai tak bersisa.

"Dewi, kalau boleh aku tahu, apa yang kamu alami di dalam goa itu? Jujur, selama tiga hari ini, kami berdua sangat mengkhawatirkanmu. Kami takut kalau kamu tidak akan pernah kembali lagi." Ling terlihat sedih hingga membuatnya memeluk Yi Yuen.

"Terima kasih karena kalian begitu mengkhawatirkanku. Aku di sana baik-baik saja karena ayah dan ibuku dan juga Qiang dengan setia menemaniku."

"Apa itu benar?" tanya Ling seakan tak percaya.

"Benar, karena itulah aku bisa bertahan hingga sejauh ini. Bibi, Kangjian, bantu aku untuk melewati semua ini. Tanpa kalian, aku tidak bisa berbuat apa-apa."

Mendengar penuturannya, Ling kembali memeluknya. "Bukankah, itu sudah merupakan tujuan hidup kami? Jangan khawatir, kami akan selalu ada untukmu. Bukan begitu, Kangjian?"

Pemuda itu mengangguk mengiyakan ucapan Ling. Karena itu memang benar adanya, mereka terlahir untuk menjadi garda terdepan dari gadis yang memiliki masa lalu sebagai seorang dewi. Untuknya, mereka rela mengorbankan apapun, termasuk nyawa mereka sekalipun.

Selama sehari, Yi Yuen diberikan waktu untuk beristirahat. Dan di hari berikutnya, dia sudah berdiri di depan Zhang Bingjie yang akan melatihnya.

"Ikut aku!"

"Baik, Guru!"

Yi Yuen mengikuti Zhang Bingjie yang berjalan di depannya. Tanpa bertanya, Yi Yuen hanya mengikuti kemana gurunya itu akan membawanya. Hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah tanah kosong yang berada tak jauh dari gubuk.

Yi Yuen kini berdiri berhadapan dengan Zhang Bingjie yang menatapnya tajam. Lelaki itu tiba-tiba mengangkat telapak tangan kanannya dan memunculkan butiran mutiara yang memancar sinar berwarna putih.

"Sekarang aku akan mengembalikan kekuatan ini padamu. Konsentrasilah karena ini tidak akan mudah."

"Baik, Guru!"

Yi Yuen lantas berdiri sambil memejamkan matanya dengan kedua telapak tangan yang saling menempel di depan dadanya. Pikirannya dibiarkan kosong dengan konsentrasi tingkat tinggi.

Zhang Bingjie lantas mendekatinya dan berdiri tepat di belakangnya. Cahaya putih di tangannya tiba-tiba berubah menjadi cahaya kebiru-biruan dengan sinar yang lebih terang. Bahkan, cahaya sebesar mutiara kini telah berubah menjadi cahaya sebesar sebuah bola kasti.

Cukup lama bagi Zhang Bingjie menyalurkan seluruh kekuatannya ke dalam bola bercahaya itu. Kekuatan maha dahsyat yang akan dia berikan pada Yi Yuen. Gadis yang akan menjadi pewaris seluruh kekuatan yang dimilikinya.

Tiba-tiba, Zhang Bingjie menyalurkan cahaya itu ke punggung Yi Yuen dengan cara memukulkan telapak tangannya ke arah punggung gadis itu. Seketika, cahaya kebiruan ini melesat menembus ke dalam punggung dan tertanam di tubuh Yi Yuen yang kini tak bergerak. Kekuatan dahsyat yang disalurkan Zhang Bingjie nyatanya tak membuat tubuh gadis itu bergeming. Tubuhnya masih berdiri kokoh seakan tidak merasakan apa pun.

Zhang Bingjie dibuat kagum dengan kekuatan Yi Yuen yang mampu menerima seluruh kekuatan yang diberikan padanya. Dia tidak menyangka, seorang wanita yang terlihat lemah, nyatanya mampu menahan rasa sakit akibat transfer ilmu yang seharusnya menimbulkan guncangan tubuh atau paling tidak merasakan sakit yang teramat sangat. Namun, Yi Yuen mampu menahan semuanya hingga dia terduduk sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang menyentuh tanah saat Zhang Bingjie selesai melakukan ritualnya.

Yi Yuen masih terduduk dengan mata yang terpejam. Dia seakan sedang memikul satu beban yang teramat sangat berat hingga membuatnya terduduk untuk beberapa saat. Perlahan, dia membuka matanya dan duduk bersila sambil mengatur jalan napas yang memburu kencang. Yi Yuen mencoba menetralisir pengaruh kekuatan yang baru saja didapatnya.

"Dia rupanya sangat tanggap hingga tak perlu bagiku untuk memerintahnya mengatur jalan napasnya. Kalau begitu, tugasku sudah selesai. Aku hanya tinggal membuka jalan darahnya saja. Baiklah."

Di saat Yi Yuen masih terduduk, Zhang Bingjie kemudian ikut duduk bersila di belakangnya. Lelaki tua itu memejamkan matanya dengan mulut yang terlihat komat kamit hingga tubuhnya memancarkan cahaya kebiruan. Perlahan, dia membuka matanya dan menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Yi Yuen. Seketika, tubuh keduanya bergetar hebat. Kini, tubuh Yi Yuen telah memancarkan cahaya kebiruan yang sama dengan Zhang Bingjie. Hingga tak lama kemudian, cahaya biru di tubuh lelaki tua itu mulai memudar dan menghilang. Cahaya kebiruan itu telah berpindah ke tubuh Yi Yuen sepenuhnya.

Zhang Bingjie melepaskan telapak tangannya dari punggung Yi Yuen. Seketika, wajahnya terlihat lelah. Sorot matanya yang tajam kini terlihat sayu.

"Aku sudah memberikan semua ilmuku padamu. Sekarang, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi," ucap Zhang Bingjie dengan suara yang melemah.

Yi Yuen lantas berbalik dan mendapati sang guru yang terlihat kepayahan. Yi Yuen lantas menopang tubuh lelaki itu yang kini terlihat renta. "Guru, maafkan aku jika apa yang Guru berikan padaku telah membuatmu menjadi seperti ini. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk membuat Guru menjadi lemah seperti ini. Guru, ambil kembali apa yang sudah Guru berikan padaku, asalkan Guru bisa kembali seperti semula." Yi Yuen mencoba menahan tangis saat melihat tubuh sang guru yang kini tak berdaya.

Mendengar ucapan Yi Yuen, Zhang Bingjie tersenyum. Itu adalah senyuman pertama yang diberikan pada gadis itu. Senyum yang sempat hilang karena kekecewaan yang melukai hatinya.

"Dewi Yi, bukankah itu adalah namamu? Ah, andai saja aku menemukanmu sejak dulu, aku mungkin tidak akan menderita seperti ini. Aku tahu tujuanmu mencariku karena salah satu muridku telah menghancurkan kehidupanmu. Sebagai gurunya, aku merasa sangat bersalah karena telah mengajarkan ilmu yang tak sepatutnya dia dapat dariku. Tapi, itu tidak penting lagi karena aku telah memiliki seorang murid yang bisa aku banggakan. Walau pertemuan kita singkat, tapi bagiku pertemuan inilah yang membuatku bahagia. Yi Yuen, aku memang ditakdirkan bertemu denganmu untuk menebus kesalahanku. Aku sudah menunggumu sejak lama dan aku tahu maksud dan tujuanmu itu datang menemuiku."

"Guru, sudahlah. Sebaiknya, kita kembali ke gubuk dan biarkan aku merawat Guru."

"Tidak perlu. Aku akan memberitahukan apa yang aku tahu tentang dirinya. Dia adalah murid yang aku sayangi hingga membuatku melakukan kesalahan fatal. Tapi kini, aku ingin kamu mengambil apa yang telah aku berikan padanya. Ambillah dan biarkan dia menderita atas perbuatannya. Aku mengizinkanmu untuk mempergunakan apa yang sudah aku berikan padamu untuk kebaikan. Kitab merah yang aku berikan padamu adalah kitab tentang jurus yang bisa menghancurkannya. Sekarang, kamu sudah bisa membaca kitab itu. Pelajarilah kitab itu dan pergunakanlah untuk kebaikan."

Sejenak, Zhang Bingjie terdiam. Wajahnya perlahan tersenyum dengan segurat kasih sayang yang terlihat dibalik senyumannya itu. "Orangtuamu pasti bangga padamu dan aku lebih bangga karena telah berhasil menunaikan tugasku. Ilmu yang kuberikan telah menyatu dengan tubuhmu. Berlatihlah, agar ilmu yang aku berikan benar-benar menyatu dengan jiwa dan ragamu. Ah, aku harus pergi. Aku sudah menantikan saat ini."

Tiba-tiba, tubuh Zhang Bingjie berubah menjadi cahaya kebiruan yang berpendar. Melihatmya, Yi Yuen lantas duduk bersimpuh di depan cahaya kebiruan yang perlahan menghilang. Setidaknya, itu adalah penghormatan terakhir yang patut dia berikan pada seseorang yang sangat dihormati olehnya. "Guru, terima kasih," ucap Yi Yuen mengiringi kepergian sang guru.

Yi Yuen lantas bangkit dan meninggalkan tempat itu. Melihat Yi Yuen datang sendirian, Kangjian dan Ling segera menemuinya. "Dewi, di mana Guru?" tanya Ling sambil memerhatikan sekitar tempat itu.

"Guru telah pergi. Dia pergi setelah memberikanku semua ilmu yang dia miliki," ucap Yi Yuen dengan sedih.

"Apa? Guru telah pergi?"

Tiba-tiba saja mereka terkejut saat melihat seseorang telah berdiri menatap mereka.

"Apa itu benar? Apa Guru telah ... "

"Tuan?" Ling terlihat terkejut saat melihat seseorang itu yang ternyata adalah Dewa Kebijaksanaan.

Cahaya pemisah antara tempat itu dengan dunia luar telah menghilang seiring kepergian Zhang Bingjie. Cahaya tipis yang menutupi tempat itu nyatanya tidak bisa ditembus oleh pandangan seorang dewa sekalipun. Buktinya, Dewa Kebijaksanaan tampak beberapa kali menyusuri tempat itu, tapi dia tetap saja tidak menemukan keberadaan gurunya itu.

Entah mengapa, saat itu hatinya begitu gelisah dan memikirkan tentang Zhang Bingjie yang beberapa waktu lalu hadir di dalam mimpinya. Lelaki tua itu hanya berpesan padanya untuk membantu Yi Yuen menumbangkan kejahatan di Istana Khayangan. Karena itulah, Dewa Kebijaksanaan mencoba mencari keberadaan gurunya itu dari beberapa hari yang lalu. Namun, pencariannya selalu berakhir dengan kegagalan.

"Yi Yuen, maafkan Kakek." Dewa Kebijaksanaan terlihat sedih hingga membuatnya menitikkan air mata.

"Yi Yuen, dia adalah kakekmu," jelas Ling pada Yi Yuen yang menatap lelaki itu tanpa ekspresi, tapi tidak bagi Dewa Kebijaksanaan yang menatap Yi Yuen dengan penuh rasa kasih sayang.

"Maafkan Kakek karena sudah memisahkanmu dari ayahmu. Itu semua Kakek lakukan demi Istana Khayangan. Yi Yuen, Kakek ... "

Tiba-tiba saja, Yi Yuen berlari ke arah lelaki itu dan memeluknya erat. "Kakek, jangan ucapkan apapun. Jangan salahkan dirimu karena semua ini adalah takdir dari semesta. Aku tidak lagi menyalahkan Kakek karena itu bukan kesalahan Kakek."

Dewa Kebijaksanaan begitu terharu saat mendengar ucapan Yi Yuen. Dia merasa menyesal karena selama ini tidak pernah menemui cucunya itu. Dia merasa sangat dihargai oleh gadis yang baru pertama kali ditemuinya. Berbeda dengan Putri Anchi yang memperlakukan dirinya bukan seperti seorang cucu pada kakeknya.

Kangjian dan Ling kemudian meninggalkan mereka dan memberikan waktu untuk mereka bersama.

Yi Yuen lantas duduk di samping kakeknya yang menatapnya lembut. "Apa kamu baik-baik saja? Apa guru memperlakukanmu dengan baik?"

"Aku baik-baik saja, Kek. Aku juga diperlakukan dengan baik oleh guru," jawab Yi Yuen. "Oh, iya, Kek. Kenapa Kakek bisa ada di tempat ini?"

Dewa Kebijaksanaan lantas menceritakan maksud kedatangannya ke tempat itu dan juga hubungannya dengan Zhang Bingjie. Dia juga menceritakan perihal mimpi yang beberapa waktu lalu dialami olehnya. Yi Yuen mendengarkan dengan seksama penjelasan kakeknya itu dan dia bersyukur karena ternyata dia memiliki orang-orang yang peduli kepadanya.

Begitupun dengan Yi Yuen yang mulai membuka diri tentang apa yang sudah dia alami. Semua yang dilakukannya di tempat itu tak luput diceritakan olehnya pada kakeknya itu.

"Jadi, Guru sudah menurunkan semua jurusnya padamu dan itu berarti Kakek adalah kakak seperguruanmu." Dewa Kebijaksanaan tampak tersenyum karena menyadari kalau cucunya sendiri adalah adik seperguruannya.

"Kakek, sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku memang mewarisi semua jurus guru, tapi aku sama sekali tidak tahu jurus apa itu karena guru sama sekali belum mengajarkanku dan hanya menyalurkan cahaya biru ke tubuhku. Guru juga memberikanku sebuah kitab," jelas Yi Yuen sambil menyerahkan kitab bersampul merah pada kakeknya itu.

Melihat kitab bersampul merah, Dewa Kebijaksanaan cukup terkejut. Pasalnya, kitab itu adalah kitab yang sangat berarti bagi gurunya. Kitab yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Bahkan, dirinya sendiri pun tak pernah menyentuh kitab itu.

Kitab merah itu lantas dibuka olehnya. Dan dia terkejut saat melihat lembaran kitab yang terlihat polos tanpa gambar atau tulisan apapun. Sejenak, dia tersenyum dan memberikan kitab itu kembali pada Yi Yuen. "Kitab ini adalah milikmu karena Kakek tidak melihat apapun di lembaran kitab itu."

"Apa maksud Kakek? Aku bisa melihat setiap gambar dan tulisan yang ada di dalam kitab ini, tapi kenapa Kakek tidak bisa melihatnya?" tanya Yi Yuen yang terlihat bingung sambil membuka setiap lembaran kitab itu.

"Karena kitab itu adalah milikmu dan hanya kamu yang bisa membacanya. Karena itu, Kakek tidak mungkin bisa membacanya karena kitab itu bukan milik Kakek. Sekarang, coba katakan pada Kakek apa yang tertulis di dalam kitab itu?"

Yi Yuen membuka lembaran pertama dan dia melihat gambar beberapa jurus yang tmdigambar dengan rapi dan detil.

"Apa itu gambar sebuah jurus?"

Yi Yuen mengangguk. "Iya, Kek."

"Apa kamu bisa melakukan jurus itu?" tanya Dewa Kebijaksanaan kembali.

Yi Yuen memerhatikan gerakan jurus itu dengan seksama. Setelah itu, dia bangkit dan berdiri di depan kakeknya. Tiba-tiba, Yi Yuen melakukan beberapa gerakan sesuai gambar di dalam kitab itu.

Dewa Kebijaksanaan memerhatikan semua gerakan Yi Yuen dan dia cukup kagum dengan setiap gerakan yang dilakukan oleh gadis itu. Semuanya terlihat sempurna seolah-olah dia pernah melakukan gerakan itu sebelumnya hingga terlihat begitu mudah. Namun, siapa sangka kalau semua gerakan itu baru pertama kali diperagakan olehnya.

Semua itu karena Zhang Bingjie telah membuka jalan darah dan aura Yi Yuen hingga membuat gadis itu cepat memahami walau hanya dalam sekali melihat.

Tak hanya itu saja, di dalam kitab juga tertulis beberapa kelemahan Dewa Perang yang tanpa sengaja diketahui oleh Zhang Bingjie. Kelemahan yang tentu saja menjadi senjata ampuh bagi Yi Yuen untuk menghancurkannya.

"Kakek, setelah ini, apa yang harus aku lakukan? Aku ingin membalas perbuatan mereka pada ayah dan ibu, tapi aku tidak ingin ceroboh dan tidak ingin hanyut dalam rasa dendam. Lagipula, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menghancurkan mereka."

Dewa Kebijaksanaan tersenyum sambil membelai lembut puncak kepala Yi Yuen. Dia bersyukur karena cucunya itu memiliki hati yang sangat baik. "Cucuku, untuk saat ini yang perlu kamu lakukan adalah terus berlatih. Matangkan benar-benar apa yang sudah guru berikan padamu. Jangan khawatir karena Kakek akan datang mengunjungimu dan menilai kemampuanmu. Jika Kakek rasa kamu sudah mampu, Kakek sendiri yang akan membawamu ke Istana Khayangan dan mengambil apa yang menjadi milikmu. Kita jangan gegabah dan rencanakan dengan matang agar apa yang menjadi tujuan kita dapat tercapai. Untuk saat ini kamu berlatih saja dulu. Kamu mengerti, kan apa yang Kakek katakan?"

"Aku mengerti, Kek. Aku akan turuti semua ucapan Kakek."

Dewa Kebijaksanaan lantas memeluknya. Dia merasa sangat bahagia karena memiliki seorang cucu yang sangat menghormatinya. Lelaki itu kemudian pamit dengan wajah yang terlihat berseri.

Sejak saat itu, Dewa Kebijaksanaan sering datang mengunjungi Yi Yuen sekadar untuk memerhatikan dan menilai kemampuannya dalam menguasai ilmu yang diberikan oleh sang guru. Bahkan, dia tak segan memberikan ilmunya kepada cucunya itu.

Tak hanya Yi Yuen, kemampuan Kangjian dan Ling juga semakin terasah. Mereka terlihat tangguh dengan kemampuan yang mereka miliki. Hampir tiga bulan mereka berada di tempat itu. Hingga suatu hari, Dewa Kebijaksanaan akhirnya memutuskan untuk membawa Yi Yuen ke Istana Khayangan.

To Be Continued...
elenasan30
banditos69
unyubaik
unyubaik dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.