- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#81
Chapter 55
Dulu, Zhang Bingjie mempunyai dua orang murid. Keduanya mempunyai karakteristik yang sangat jauh berbeda. Keduanya pun memiliki kemampuan yang tak seimbang. Bahkan, salah satu di antara mereka memiliki kekuatan yang dirasa cukup membahayakan. Dialah Dewa Perang, murid Zhang Bingjie yang teramat tamak dengan kekuasaan dan kekuatan. Dia berambisi untuk menguasai Istana Khayangan. Walau sifat tamaknya itu tidak dia tunjukkan, tapi sebagai orang yang mengenalnya, Zhang Bingjie mulai paham kalau muridnya itu memiliki sifat yang sangat buruk.
Sejak mengetahui sifat asli muridnya itu, Zhang Bingjie merasa sangat bersalah karena sudah memberikan hampir seluruh ilmunya pada lelaki itu. Untuk menghukum dirinya, Zhang Bingjie akhirnya mundur dari dunia persilatan dan menyembunyikan diri di atas Gunung Taishan. Walau Dewa Kebijaksanaan berusaha mencarinya, lelaki itu selalu gagal ditemukan.
Dan kini, Yi Yuen dihadapkan pada sosok lelaki itu. Lelaki tua yang selalu berusaha membuatnya terlihat payah. Namun, Yi Yuen tetap bertahan dan berharap suatu hari nanti, Zhang Bingjie benar-benar memperlakukannya sebagai seorang murid.
Sudah hampir seminggu, Yi Yuen melakukan aktifitas yang sama. Yang dilakukannya hanya menimba air, mencari sayur, ikan, dan juga memasak untuk santapan setiap hari bagi mereka. Lelaki tua itu rupanya masih belum puas dengan kinerja Yi Yuen hingga membuat gadis itu terus melakukan aktifitas yang sama di setiap harinya.
Kangjian dan Ling juga tak luput untuk membantunya. Walau lelah karena seharian berlatih, tidak membuat keduanya enggan untuk membantu Yi Yuen. Setiap subuh, mereka sudah membantunya menimba air atau paling tidak, membawakannya seikat sayur atau pun beberapa ekor ikan.
Melihat mereka membantu Yi Yuen, Zhang Bingjie semakin mengacuhkan gadis itu. Dia tidak ingin Yi Yuen terlena dengan bantuan teman-temannya walau dia tahu, persahabatan dan kasih sayang di antara mereka terlalu dalam.
Waktu berlalu dan Yi Yuen masih saja diperlakukan seperti seorang pembantu. Dia bahkan tidak diajari satu jurus pun selama berada hampir satu bulan di tempat itu. Walau begitu, Yi Yuen tidak menyerah. Dia masih setia dalam melakukan aktifitas yang sudah sebulan ini rutin dilakukannya. Bahkan, dia sudah mulai terbiasa dengan jalan menanjak dari tempat di mana mata air berada menuju ke gubuk. Itu bahkan kini terlihat mudah baginya.
Seperti biasa, di saat subuh, Kangjian dan Ling sudah bersiap untuk membantunya. Namun, kali ini mereka kalah cepat karena Yi Yuen sudah selesai melakukan tugasnya.
"Dewi, sejak kapan kamu menyiapkan semua ini?" tanya Ling sambil menatap semua persediaan yang sudah tertata rapi di atas meja.
"Kalian tidak perlu tahu. Sebaiknya, kalian bersiap karena sebentar lagi kalian harus pergi berlatih."
Yi Yuen lantas membawa keranjang anyaman dari bambu yang berisikan beras untuk dicucinya. Sementara kedua sahabatnya hanya memerhatikannya dengan rasa bersalah.
Yi Yuen dengan telaten mulai melakukan aktifitas yang sama. Bahkan, dia melakukannya dengan hati yang lapang. Tak ada rasa marah atau bosan di dalam hatinya. Dia melakukannya dengan ikhlas dan menikmati setiap aktifitasnya itu.
Menjelang siang, Yi Yuen sudah bersiap dengan bekal makan siang yang harus dibawa pada guru dan kedua sahabatnya. Jalan yang dilalui olehnya tidak terlalu jauh. Bahkan, pemandangan yang disuguhkan di tempat itu membuatnya terkesima.
Di atas sebuah batu, Yi Yuen meletakkan bekal makan siang dan duduk di samping batu itu. Pandangannya kini mengitari tempat yang ditumbuhi pohon sakura berwarna putih. Semilir angin yang berembus membelai wajahnya hingga membuatnya terpejam dan mencoba menikmati keharuman bunga sakura yang dibawa embusan angin. Sesaat, dia begitu dimanjakan dengan keelokkan tempat itu hingga perlahan dia membuka matanya saat terusik dengan kehadiran seseorang yang kini berdiri menatapnya.
"Guru, maafkan aku!" Yi Yuen terkejut saat melihat Zhang Bingjie berdiri di depannya dan menatapnya tajam. Seketika, dia berlutut di depan lelaki itu.
Lelaki itu hanya diam. Yang dilakukannya hanya menatap Yi Yuen tanpa suara.
"Maafkan aku, Guru. Aku bersalah karena .... "
"Ikut aku!" Lelaki itu menyela ucapan Yi Yuen dan melangkah pergi. Yi Yuen lantas bangkit dan mengambil bekal makan siang yang teronggok di atas batu. Yi Yuen kemudian mengikutinya dan mereka berhenti di sebuah tebing yang berhadapan dengan sebuah jurang yang sangat curam.
Embusan angin yang bertiup di tebing itu cukup kencang. Tebing yang curam itu nyatanya mampu membuat setiap orang yang berdiri di sisinya itu bergidik ketakutan.
Tanpa di nyana, Zhang Bingjie mendorong tubuh Yi Yuen hingga terjatuh dari atas tebing. Yi Yuen terbelalak saat mendapati dirinya yang kini terjatuh. Walau sempat ketakutan, Yi Yuen tidak tinggal diam menerima kematian yang kini ada di depannya. Di sela tubuh yang meluncur bebas, Yi Yuen melihat kesempatan baginya untuk bisa bertahan.
Sebuah ranting kering yang tertancap di dinding tebing lantas diraihnya. Walau sulit, dia akhirnya bisa berpegangan pada ranting itu. Kini, tubuhnya tergantung sambil berpijak pada sebuah batu yang tersembul dari dinding tebing.
Yi Yuen mendongak ke atas dan melihat gurunya yang hanya menatapnya tanpa melakukan apapun. Yi Yuen lantas melihat ke bawah dan dia tidak bisa melihat dasar jurang yang rasanya sangat dalam. "Aku harus bertahan. Aku tidak boleh menyerah!" batinnya.
Yi Yuen lantas memeriksa sekeliling tebing dan dia melihat sebuah goa kecil yang berada tidak jauh dari tempatnya berpijak. "Aku harus bisa ke sana."
Yi Yuen lantas memijakkan kaki di bebatuan yang tersembul sambil bertahan pada beberapa ranting kering. Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya ternyata sangat berguna hingga membuatnya mampu mencapai mulut goa. Walau tak mudah, nyatanya perjuangannya tak sia-sia. Kini, dia sudah berada di dalam goa yang tidak terlalu besar.
Setelah mengatur napas, Yi Yuen duduk di atas sebuah batu yang menyerupai sebuah tempat duduk bersusun. Diembuskan napasnya dengan lembut dan mencoba mencari cara agar bisa kembali. Namun, dia terkejut saat Zhang Bingjie tiba-tiba berdiri di depannya.
"Guru." Yi Yuen lantas duduk bersimpuh di depannya.
"Apa kamu membenciku karena sudah berusaha membunuhnu?"
"Tidak, Guru. Aku tidak punya hak untuk membenci Guru. Kalupun Guru memintaku untuk mati, aku akan melakukannya karena bagiku, perintah Guru adalah perintah orang tuaku," ucap Yi Yuen dengan sungguh-sungguh. Baginya, Zhang Bingjie tak hanya seorang guru, tapi juga sebagai orang tua yang patut untuk dihormati dan dipatuhi.
Lelaki itu hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Yi Yuen dan dia tidak ingin hanyut dengan kata pujian dan sanjungan yang nyatanya pernah membuatnya tertipu.
Kembali, Zhang Bingjie memerhatikan Yi Yuen dan dengan mata batinnya, dia bisa melihat satu kekuatan yang ada di tubuh gadis itu. Sebuah pantulan cahaya sebesar mutiara terlihat memancar di sebelah dada kirinya. "Ah, rupanya kekuatan itu kini ada padanya," batinnya.
"Kalau begitu, kamu tidak akan keberatan jika aku mengambil ini darimu, kan?" Sekelebat, Zhang Bingjie menghantam dada kiri Yi Yuen dan seketika butiran mutiara keluar dari dada kiri gadis itu.
Yi Yuen memegang dadanya yang berdenyut kesakitan. Dan di depannya, dia melihat gurunya telah berdiri sambil memegang sebuah butiran mutiara yang memancarkan cahaya putih di telapak tangannya.
Seketika, Yi Yuen teringat dengan ayahnya yang memberikan cahaya putih itu sebelum wafat. Tak terasa, air matanya jatuh karena melihat mutiara itu di tangan sang guru.
"Kenapa? Apa kamu marah jika aku mengambil kekuatan ini darimu? Atau, kamu tidak rela pemberian ayahmu ini aku ambil?" Zhang Bingjie masih berusaha memanas-manasi Yi Yuen, namun gadis itu hanya tersenyum.
"Guru, jika kekuatan itu milikku, maka dia akan kembali padaku. Jadi, untuk apa aku marah jika Guru mengambilnya dan itu berarti Guru kini adalah pemiliknya." Yi Yuen berucap dengan tenang dan tanpa beban.
Sekali lagi, Zhang Bingjie dibuat kagum dengan kesabaran dan ketulusan Yi Yuen. Namun, itu belum cukup baginya sebelum dia benar-benar yakin kalau ilmunya kelak pantas dimiliki oleh gadis itu.
"Jika aku memerintahkanmu untuk tetap berada di tempat ini, apa kamu akan melakukannya?"
"Aku akan melakukannya jika itu perintah Guru. Apapun yang Guru perintahkan padaku, aku pasti akan melakukannya," tegas Yi Yuen tanpa ragu sedikit pun.
"Baiklah jika itu maumu. Aku memerintahkan kepadamu untuk berdiam di goa ini hingga tiga hari ke depan. Jika kamu bisa melewati tiga hari itu dan kembali ke gubuk dengan selamat, maka aku akan menjadikanmu sebagai murid terakhirku dan memberikan semua yang aku miliki padamu. Apa kamu sanggup?"
Yi Yuen terdiam sesaat. Entah apa maksud dari gurunya itu, tapi dia sudah bertekad untuk melakukan apa pun perintah gurunya itu.
"Aku sanggup, Guru!" seru Yi Yuen dengan lantang. Walau dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya selama tiga hari itu, tapi dia yakin kalau dia pasti bisa melewati tiga hari itu tanpa kendala yang berarti.
"Selama tiga hari, kamu harus bertapa di goa ini. Apapun yang terjadi, jangan pernah membuka matamu atau terpengaruh dengan apa yang akan datang menemuimu nanti. Jika tidak, maka selamanya kamu akan terperangkap di dalam goa ini, paham?!"
Yi Yeun mengangguk. "Aku paham, Guru."
"Aku akan pergi membawa mutiara ini bersamaku. Aku akan mengembalikannya saat kamu datang tiga hari lagi padaku."
Tiba-tiba saja, tubuh lelaki tua itu menghilang. Yi Yuen dibuat takjub dengan kehebatan gurunya itu hingga membuatnya bertekad untuk menaklukkan tantangan yang diberikan gurunya itu padanya.
Di atas batu bersusun, Yi Yuen duduk sambil bersila dengan kedua mata yang terpejam. Tak hanya itu, kedua telapak tangannya kini berada di atas lutut dengan posisi seperti seseorang yang sedang bersemedi. Perlahan, Yi Yuen mengatur pernapasannya dan menenangkan pikirannya. Bagaimanapun, dia harus bisa melewati ujian yang diberikan gurunya itu padanya.
Di hari pertama, Yi Yuen tidak mendapatkan gangguan yang cukup berarti. Dia melewati hari itu dengan mulus tanpa gangguan apa pun. Tanpa makan, tanpa minum, Yi Yuen masih mampu bertahan hingga di malam ke dua, dia harus menghadapi suara-suara yang mulai mengganggu indera pendengarannya.
Suara-suara orang berteriak meminta tolong terdengar begitu jelas di telinganya. Sesaat, dia merasa terganggu dengan suara-suara itu. Namun, dia tetap memejamkan kedua matanya dan berusaha untuk tidak terpengaruh walau suara erangan kesakitan begitu nyata didengarnya.
Suara-suara itu mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu yang silam. Kejadian di mana dia harus kehilangan orang-orang yang dia sayangi. Entah sudah berapa lama dia harus menahan perasaannya untuk tidak membuka matanya. Rasanya, dia ingin menyingkirkan penyebab suara-suara ketakutan itu. Namun, pesan sang guru nyatanya terlalu ampuh untuk membuat hatinya luluh. Yi Yuen masih tetap dengan pendiriannya. Dia tidak akan tergoda dengan suara-suara yang nyatanya cukup mengganggu konsentrasinya.
Malam kedua kini berlalu. Hingga tiba di malam terakhir di mana menjadi penentuan antara hidup dan matinya. Angin malam tiba-tiba berembus dari luar mulut goa dan membawa kesejukkan malam yang menusuk kulit hingga menembus setiap sendi di dalam tubuhnya. Yi Yuen mencoba untuk tetap bertahan hingga dia terkejut saat mendengar suara yang sangat dikenalnya.
"Putriku." Suara Zhi Ruo tiba-tiba terdengar begitu jelas di telinganya hingga hampir membuat Yi Yuen membuka kedua matanya.
"Tidak, itu bukan ibu." Yi Yuen berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau suara itu bukanlah ibunya, melainkan sebuah ilusi yang mencoba mengganggu konsentrasinya.
"Putriku." Kembali dia mendengar suara ayahnya memanggilnya, dan itu terasa begitu dekat hingga membuatnya menitikkan air mata di antara kelopak mata yang terpejam.
Sungguh, dia mencoba menahan rasa untuk tidak tergoda. Dia mencoba menahan perasaan rindu yang nyatanya masih melekat di dalam dada. Yi Yuen masih bertahan hingga dia kembali mendengar suara seseorang yang begitu familiar di telinganya. Suara yang biasa menyatakan perasaan sayang dan cinta yang mendalam terhadap dirinya.
Sementara itu, kedua sahabatnya masih terjaga. Mereka terlihat begitu khawatir dengan Yi Yuen yang saat ini sedang berjuang melawan perasaan dan hati yang bergejolak menahan rasa rindu yang berkecamuk di dalam dada.
Saat ini, Yi Yuen sedang bertarung dengan hati dan perasaannya yang begitu menginginkan pertemuan dengan orang-orang yang disayanginya. Namun, kembali dia harus bisa menahan godaan yang semakin membuatnya tertekan.
"Aku mohon, jangan ganggu aku. Jika kalian menyayangiku, maka pergilah," batin Yi Yuen di dalam hati dengan air mata yang tak sanggup lagi untuk ditahan. Yi Yuen menangis di antara mata yang terpejam.
"Yi Yuen, tidakkah kamu merindukanku? Bukalah matamu dan tataplah aku. Aku sangat merindukanmu, Yi Yuen."
Yi Yuen merasakan wajahnya disentuh dengan lembut. Sentuhan yang biasa dilakukan oleh Qiang padanya. Ingin rasanya dia membuka matanya dan melihat bayangan sang kekasih yang kini berdiri di depannya. Ingin rasanya dia memeluk sekadar meluapkan rasa rindu yang selama ini menderanya. Namun, lagi-lagi dia harus mampu menahan godaan itu. Godaan yang berupa ilusi akan kerinduannya selama ini. Kerinduan yang tersimpan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Yi Yuen masih bertahan dengan apa yang kini dihadapi olehnya. Hingga, dia terkejut saat dia melihat tiga sosok yang kini tersenyum padanya. Tiga sosok yang mampu dilihat olehnya dengan keadaan mata yang tertutup.
"Putriku, bersabarlah. Jangan dengarkan mereka yang mencoba mengganggumu. Bersabarlah sedikit, Nak, sebentar kagi matahari akan terbit dan kamu bisa melanjutkan apa yang menjadi tujuanmu."
Kedua orang tuanya menatapnya dengan senyuman. Mereka berdua terlihat bahagia dengan tangan yang saling menggenggam erat. "Putriku, kami berharap kita akan berjumpa lagi di kehidupan yang lain. Andai saja semesta mengizinkan, maka jadilah putri kami lagi dan biarkan kami menjagamu hingga kami mati. Bagi kami, kamu adalah putri kami yang paling kami sayangi. Kuatkan dirimu, Nak, dan lanjutkan hidupmu dengan baik."
Yi Yuen menatap di antara mata yang terpejam. Melihat mereka seakan begitu nyata. Bahkan, dia merasakan pelukan hangat dari kedua orang tuanya itu. Hingga pelukan itu perlahan memudar seiring bayangan mereka yang juga menghilang. Melihat mereka telah pergi, Yi Yuen tak mampu menahan tangis. Dia terisak dengan suara yang tertahan.
Di antara tangis dan air mata, Yi Yuen melihat sosok Qiang yang berjalan perlahan ke arahnya. Sang pemilik wajah tampan yang tak bisa hilang dari ingatannya.
"Yi Yuen, bertahanlah. Jadilah wanitaku yang hebat. Jangan biarkan mereka merenggut kebahagiaanmu lagi."
Yi Yuen mengangguk dengan tetas air mata dan isak tangis yang tak mampu dia tahan. Pemuda itu semakin mendekatinya dan menyentuh puncak kepala Yi Yuen dan perlahan beralih menyentuh pipinya dengan lembut. "Aku mencintaimu dan selamanya akan tetap mencintaimu. Aku berharap, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Yi Yuen, jangan membebani hatimu dengan kesedihan karena kehilangan aku dan orang tuamu. Percayalah, berapa pun kehidupan yang kami jalani, kami berharap kita akan bersua kembali dan bagiku, aku tidak akan berhenti mencarimu hingga kita dipersatukan kembali. Percayalah padaku, aku akan tetap terus mencarimu dan berharap kamu masih mengingatku. Yi Yuen, andai nanti kita bertemu dan aku tidak mengenalimu, maka ingatkan aku. Ingatkan aku tentang cinta kita dan pengorbanan cinta yang sudah kita alami. Ingatkan aku betapa aku sangat mencintaimu."
Mendengar ucapan Qiang, Yi Yuen semakin tak kuasa menahan tangis. Hingga dia merasakan ketenangan, sangat tangannya digenggam oleh pemuda itu. "Jangan menangis. Bersabarlah dan jadilah wanita yang kuat. Simpanlah aku di dalam hatimu dan biarkan aku menemanimu hingga malam ini berlalu dan setelah itu, tataplah kehidupanmu yang baru."
Yi Yuen terdiam dan hanya bisa merasakan genggaman tangan yang rasanya begitu nyata. Qiang kini duduk di sampingnya dan menemani sang kekasih melewati malam tanpa kesendirian. Hingga perlahan, suara ayam hutan berkokok terdengar dari kejauhan. Pemuda itu tiba-tiba bangkit dan duduk tepat di depan Yi Yuen yang masih terpejam.
Tangannya yang lembut membelai sudut bibir Yi Yuen dan perlahan mengecupnya dengan mesra. Kecupan lembut yang sudah lama tidak dirasakan oleh gadis itu hingga membuatnya terlena. Satu detik, dua detik hingga satu menit kemudian kecupan itu perlahan memudar dengan satu senyuman yang terlukis di wajah pemuda itu. "Aku mencintaimu."
Bayangan Qiang perlahan menghilang hingga membuat Yi Yuen tak kuasa untuk membuka matanya. Dia terkejut saat mendapati dirinya yang terbaring di atas batu. Sinar matahari terlihat sudah meninggi dan masuk ke dalam ruangan goa.
Yi Yuen merasakan sudut matanya basah dengan air mata dan apa yang dialaminya hanyalah sebuah mimpi yang rasanya terlalu nyata. Mimpi yang merupakan pertemuan untuk yang terakhir. Pertemuan untuk menyampaikan pesan terakhir yang belum sempat terucap. Pesan yang mengisyaratkan kalau cinta mereka tidak akan pernah mati dan selamanya akan tetap terpatri di dalam sanubari.
To be continued...
unyubaik dan 4 lainnya memberi reputasi
5