Kaskus

Story

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
Prolog





“ ya tuhannn…kalau begitu perkataan ambu selama ini benar tang, kejadian menghilangnya ita ini bukanlah sebuah kejadian biasa, bisa jadi sosok wanita tua itu adalah penghuni ghaib di kawasan hutan kecil perbukitan yang merasa enggak suka dengan tingkah laku ita sewaktu ita memasuki kawasan hutan kecil perbukitan….”
“ entahlah mbu, atang jadi bingung di dalam meyikapi kejadian yang menimpa ita ini....karena semakin banyak kejadian aneh yang terjadi di rumah ini....semakin banyak juga terlihat fakta fakta yang saling bertentangan antara kejadian yang satu dengan kejadian lainnya.....”
“ ahhh perkataan kamu itu telalu ribet tang....ambu enggak mengerti dengan maksud perkataan kamu itu....” gerutu ambu seraya memasang ekspresi wajah kebingungannya
“ maksud atang begini mbu, pada awalnya atang menduga kejadian ghaib yang terjadi di rumah kita ini ada hubungannya dengan kejadian menghilangnya ita, tapi dengan semakin banyaknya kejadian ghaib yang terjadi di rumah ini, atang mulai merasa ragu dengan dugaan atang itu....”
Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya, aku hanya bisa terdiam diantara goresan penaku di dalam menuliskan baris demi baris kalimat yang mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga




PETAKA – Akhir Sebuah Dendam


@meta.morfosis


Note : cerita ini berjudul awal SANTET - Dendam Berakhir Petaka, berhubung adanya beberapa perubahan mengikuti data penulisan maka judul diubah menjadi PETAKA - Akhir Sebuah Dendam



Chapter :
SANTET - Chapter 1
SANTET - Chapter 2
SANTET - Chapter 3
SANTET - Chapter 4
SANTET - Chapter 5
SANTET - Chapter 6
SANTET - Chapter 7
SANTET - Chapter 8
SANTET - Chapter 9
SANTET - Chapter 10
SANTET - Chapter 11
SANTET - Chapter 12
SANTET - Chapter 13
SANTET - Chapter 14
Diubah oleh meta.morfosis 30-08-2021 10:40
JohanZing0Avatar border
JabLai cOYAvatar border
anandaalvi27Avatar border
anandaalvi27 dan 63 lainnya memberi reputasi
62
33K
160
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.2KAnggota
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#32
Chapter 4







Melihat saat ini ambu hendak berjalan memasuki rumah, ningtias bergegas mencium tangan ambu untuk berpamitan pulang, dan kini selepas dari ambu yang telah memasuki rumah, aku segera memberikan sejumlah uang kepada ningtias, sebagai tanda terima kasihku karena ningtias telah membantuku dalam membersihkan warung, namun apa yang aku lakukan ini kini telah berbalas dengan penolakan ningtias yang tidak berkenan untuk menerima uang pemberianku itu
“ kang…aku melakukan semuanya ini secara ikhlas…kalau akang memberikan uang seperti itu, rasanya keikhlasanku itu akan menjadi sia sia….”
Terpesona…yaa itulah sebuah kata yang bisa menggambarkan suasana hatiku saat ini, perkataan yang terucap dari mulut ningtias tersebut, kini telah menghadirkan sosok bidadari suci di hadapanku
“ kang atang, ita…kalau begitu aku pamit dulu ya…semoga apa yang kita lakukan hari ini, akan menjadi awal yang baik bagi kehidupan kita kedepannya….”
Dunia ini bagaikan lautan misteri yang tak bertepi, seiring dengan langkah kaki ningtias yang mulai berjalan menjauh meninggalkan rumah, aku hanya bisa terdiam dalam sebuah renungan, apakah hari hari ke depan yang akan aku lalui akan berjalan seindah perkataan ningtias tersebut, ataukah perkataan ningtias tersebut merupakan sebuah pertanda akan adanya permasalahan yang akan membuat hari hari kedepanku, terasa sulit untuk aku lalui...entahlah...
Satu hari sudah waktu berlalu dari perpisahanku dengan ningtias, dan kini diantara aktifitas ambu yang tengah meletakan piring piring yang berisikan menu sarapan pagi diatas meja makan, aku mengarahkan tatapan mataku ke arah pintu kamar tidur yang menjadi kamar tidur abah dan ambu, dan dikarenakan semenjak semalam tadi aku belum melihat kehadiran abah di rumah ini, aku melontarkan pertanyaan kepada ambu yang menanyakan tentang keberadaan abah saat ini, dan di saat itulah ambu memberikan jawaban yang menerangkan bahwa selepas sholat subuh yang telah dilaksanakan oleh abah, abah kembali memutuskan untuk tidur, dengan alasan abah masih merasa lelah akibat dari aktifitas pekerjaan yang telah dilakukannya
“ jadi semalam itu, abah pulang di saat atang sudah tidur mbu....?” tanyaku kepada ambu dan berbalas dengan anggukan kepala ambu
“ memangnya abah sedang ada pekerjaan apa sih mbu, enggak biasanya abah pulang larut malam seperti itu.....?” tanyaku kembali kepada ambu mengiringi kehadiran ita yang keluar dari dalam kamarnya, dan kini begitu ita mendapati aku yang tengah duduk di kursi meja makan, ita langsung mengambil posisi duduk di sisiku seraya mengembangkan senyumnya ke arahku
“ wahh ceria banget sih wajahnya kang…pasti semalam itu kang atang habis bermimpi indah tentang ka tias ya........”
“ hushh ita…jangan terus terusan meledek akang kamu seperti itu…” lerai ambu diantara pergerakan tangan ita yang tengah merapihkan seragam sekolah yang dikenakannya
“ ahh ambu…ita kan hanya bercanda saja, lagi pula kalau kang atang benar benar suka sama ka tias, itu lebih baik, yaa…hitung hitung kang atang memperbaiki keturunannya…” canda ita kembali dan berbalas dengan gelak tawaku dan ambu
“ mbu...tadi itu ambu belum menjawab pertanyaan atang, memangnya saat ini abah sedang ada pekerjaan apa sih mbu...?”
“ ambu enggak tahu tang...lagi pula ambu memang enggak menanyakannya kepada abah, memangnya ada apa tang, apa saat ini kamu mempunyai keperluan dengan abah…?”
Belum sempat aku menjawab pertanyaan ambu tersebut, terlihat abah keluar dari dalam kamarnya lalu berjalan memasuki ke kamar mandi, dan selang beberapa saat kemudian, abah ikut bergabung di meja makan untuk melaksanakan sarapan pagi
“ tang…kapan kamu akan ke kota untuk berbelanja keperluan warung kamu itu…?” tanya abah seraya menyantap sarapan paginya
“ kalau atang sih…terserah abah saja, kapan saja boleh kok bah….”
“ bagaimana kalau hari ini….kebetulan hari ini abah sedang ada keperluan di kota....”
“ wah boleh tuh bah…kalau begitu setelah sarapan pagi, atang akan mempersiapkan terlebih dahulu catatan barang dagangan yang akan atang beli.....”
Selepas dari suapan terakhir yang mengkandaskan sarapan pagiku, aku segera mempersiapkan catatan barang dagangan yang akan aku beli, hingga akhirnya tepat pada pukul tujuh pagi, aku dan abah memutuskan untuk berangkat menuju ke kota
“ apakah keperluan kamu itu sudah semuanya sudah terbeli tang…..?” tanya abah diantara aktifitas kuli angkut yang tengah menaikkan barang barang dagangan ke atas sebuah truk kecil
“ untuk saat ini sepertinya sudah cukup bah…” jawabku seraya memeriksa kembali catatan barang dagangan, karena aku khawatir ada barang dagangan yang telah terlewat untuk dibeli
“ mengenai bensin genset itu bagaimana bah…?”
“ untuk bensin genset….abah sudah memesannya terlebih dahulu tang, dan mungkin baru besok pagi akan dikirimkan….”
Mendapati jawaban abah tersebut, aku tersenyum lega, karena hal itu berarti aku telah memenuhi semua kebutuhan yang aku perlukan
Hembusan angin senja yang mengantarkan hawa dingin di sekujur tubuhku, kini menemaniku di dalam mengawasi dua orang kuli angkut yang tengah menurunkan barang dagangan dari atas truk lalu memasukannya ke dalam warung, dan dikarenakan saat ini aku hanya memiliki beberapa rak penyimpanan barang di dalam warung, beberapa barang dagangan, untuk sementara waktu aku simpan di dalam rumah, dan rencananya baru akan aku pindahkan ke dalam warung setelah aku menyelesaikan pembuatan rak penyimpanan barang
“ tang…apakah semua barangnya sudah turun….?” tanya ambu secara tiba tiba, nampak saat ini terlihat ambu telah berdiri di sampingku
“ sudah mbu…tapi untuk drum bensin pesanan abah, rencananya baru akan dikirimkan besok pagi…” jawabku mengiringi berpamitannya para kuli angkut setelah terlebih dahulu menyerahkan kwitansi pembelian barang dagangan yang sudah terbayar kepadaku
“ sepertinya akan turun hujan ya mbu…”
“ bukan sepertinya lagi tang…coba kamu lihat tuh..sudah gerimis, sebaiknya hari ini kamu sholat magrib di rumah saja...….” saran ambu dan berbalas dengan anggukan kepalaku
Tepat pada pukul setengah tujuh malam, aku yang telah selesai melaksanakan sholat magrib, kini lebih memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kamar, namun kini baru saja aku merebahkan tubuhku ini di atas tempat tidur, suara teriakan ambu yang meminta agar ita melihat keberadaan seseorang yang saat ini tengah mengetuk pintu rumah, telah membuatku memutuskan untuk keluar dari dalam kamar
“ lagi hujan deras seperti ini, siapa yang datang bertamu sih mbu…?” tanyaku kepada ambu diantara aktifitas ambu yang saat ini tengah menggunakan mesin jahitnya untuk menjahit celana abah yang sedikit terkoyak
“ ambu enggak tahu tang...coba kamu lihat saja sana, siapa yang datang…”
Kalimat perintah yang terucap dari mulut ambu tersebut, kini mengantarkan langkah kakiku menuju ke arah pintu rumah, hingga akhirnya di saat keberadaanku ini kini telah mendekati pintu rumah, melalui celah pintu rumah yang terbuka lebar, aku melihat ita tengah berbincang bincang dengan seorang wanita yang sepertinya bukan warga kampungku ini, mendapati hal itu, belum sempat aku memutuskan untuk menghampiri keberadaan ita dan juga wanita itu, ita sudah terlebih dahulu berjalan memasuki rumah dengan turut serta mengajak wanita itu
“ kang atang…” tegur ita begitu melihatku yang saat ini tengah berdiri terpaku dengan pandangan menatap ke arah dirinya dan juga ke arah wanita itu, nampak saat ini di dalam pandanganku, keindahan tubuh dari wanita itu, begitu tergambar jelas diantara pakaiannya yang basah akibat terkena air hujan, hingga akhirnya setelah beberapa saat aku terdiam tanpa merespon suara teguran ita tersebut, ita kembali mengulangi tegurannya, dan hal ini jelas telah membuatku merasa terkejut sekaligus merasa malu karena sepertinya, ita dan juga wanita itu telah mengetahui atas apa yang tengah ada di dalam pikiranku ini, namun kini belum sempat aku merespon teguran ita tersebut, suara teriakan ambu yang memanggil namaku, telah membuatku memutuskan untuk meninggalkan ita dan juga wanita itu
“ siapa yang datang tang….?” tanya ambu begitu melihat kehadiranku, dan kini begitu mendapati pertanyaan ambu tersebut, aku segera memberitahukan kepada ambu tentang kedatangan seorang wanita yang mengaku sebagai tamunya abah
“ mungkin wanita itu memang benar tamunya abah tang....ya sudah sebaiknya kamu panggil abah, ambu khawatir wanita itu memang mempunyai tujuan penting datang ke rumah kita ini, sampai sampai wanita itu memaksakan diri untuk datang ke rumah kita ini di saat hujan sedang turun dengan derasnya seperti ini.....”
Selepas dari kalimat perintah yang terucap dari mulut ambu tersebut, aku segera berjalan menuju ke ke kamar abah, namun kini baru saja beberapa langkah aku berjalan, aku berpapasan dengan ita yang sepertinya akan mengambil sesuatu, dan dikarenakan saat ini aku masih merasa penasaran dengan sosok wanita itu, aku bertanya kepada ita tentang siapa sebenarnya wanita itu
“ nanti juga akang akan mengetahuinya sendiri...” jawab ita lalu berjalan pergi meninggalkanku, mendapati hal itu, diantara rasa jengkel yang aku rasakan akibat dari jawaban ita tersebut, aku kembali berjalan menuju ke kamar abah, hingga akhirnya sesampainya aku di depan pintu kamar abah, belum sempat aku mengetuk pintu kamar, abah sudah terlebih dahulu membuka pintu kamar, wajahnya kini terlihat bingung begitu mendapati aku yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya
“ ada apa tang….?”
“ ada tamu bah...dan sekarang tamunya sedang menunggu abah di ruang tamu...”
“ siapa sih tang, kok bertamu di saat hujan seperti ini....”
“ atang enggak tahu bah, hanya saja tamunya itu seorang wanita...”
Begitu mendengar perkataan itu, abah terdiam sejenak, hingga akhirnya setelah keterdiamannya itu, dengan langkah yang tergesa, abah berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemui wanita itu
“ brengsek, siapa sih sebenarnya wanita itu....?”
Diantara ketiadaan jawaban yang bisa menjawab pertanyaanku itu, aku kembali melihat ita yang tengah berjalan menuju ke arah ruang tamu dengan turut serta membawa sebuah handuk dan juga sebuah nampan kecil, dimana di dalam nampan kecil tersebut tersaji dua buah gelas yang berisikan air teh hangat, dan kini begitu aku melihat ambu yang ikut berjalan mengikuti arah langkah kaki ita, aku pun memutuskan untuk ikut ke ruang tamu, karena aku yakin pasti ada sesuatu yang akan dibicarakan oleh abah terkait dengan kehadiran wanita itu
“ duduk sini tang….” pinta abah seraya menepukan telapak tangannya pada kursi kayu yang berada di sisi kirinya, sedangkan di sisi yang lain, ita yang telah meletakkan nampan kecil di tengah meja, kini menempatkan posisinya duduknya berdampingan dengan ambu dan berhadapan dengan sosok wanita itu, saat ini terlihat wanita itu tengah mengeringkan geraian rambutnya yang basah akibat terkena air hujan dengan menggunakan handuk yang tadi dibawa oleh ita
“ ambu, atang, ita…perkenalkan ini ibu diswaya….abah sengaja mengundang ibu diswaya ke rumah kita ini dengan tujuan untuk mengobati penyakit ambu…tapi sekarang abah benar benar merasa enggak enak…karena telah merepotkan ibu diswaya yang telah menyempatkan diri untuk datang ke rumah kita ini di saat hujan sedang turun dengan derasnya seperti ini…”
“ pantas saja…rupanya ini ibu diswaya yang pernah diceritakan oleh ita….” gumamku dalam hati
Cantik dan penuh dengan aura yang menggoda…yaa itulah gambaran yang bisa aku berikan atas sosok ibu diswaya yang saat ini tengah mengembangkan senyum menggodanya, dan jika aku menilai dari bentuk phisiknya yang masih memperlihatkan lekak lekuk tubuhnya yang indah, kemungkinan besar usia ibu diswaya belumlah mencapai usia empat puluh tahun
“ enggak merepotkan kok pak icang…tadi itu sewaktu saya menuju ke rumah ini, saya enggak berpikir akan turun hujan, makanya saya memutuskan enggak membawa payung…”
“ ya itulah namanya hujan...sulit untuk di perkirakannya...” ujar abah dan berbalas dengan anggukan kepala ibu diswaya
“ maaf ibu diswaya...apa enggak sebaiknya ibu diswaya berganti pakaian dengan pakaian saya saja, karena saya khawatir nantinya ibu diswaya akan masuk angin.....” ujar ambu karena mendapati adanya getaran halus pada tubuh ibu diswaya, sepertinya saat ini ibu diswaya tengah menahan rasa dingin akibat dari pakaiannya yang basah
“ enggak usah repot repot ibu icang….pakaian saya ini sudah agak lebih keringan kok, lagi pula saya enggak akan terlalu lama berada di rumah ini, mungkin setelah memeriksa penyakit ibu icang…saya akan langsung berpamitan pulang, karena saya takut kemalaman di jalan..…”
Mendapati penolakan ibu diswaya tersebut, ambu pun mempersilahkan ibu diswaya untuk meminum air teh hangat yang telah tersaji di meja, dan kini di awali dengan ucapan terima kasihnya karena telah mendapati penawaran ambu tersebut, ibu diswaya terlihat mengambil salah satu gelas dari atas meja lalu hendak meminumnya, namun dikarenakan saat ini air teh hangat tersebut mungkin masih terlalu panas, ibu diswaya mencoba untuk mendinginkannya dengan cara meniupnya, hanya saja kini di saat ibu diswaya tengah meniup air teh hangat tersebut, aku baru tersadar bahwa saat ini ibu diswaya tengah memegang gelas yang biasa dipergunakan oleh abah, mendapati hal itu, entah apa yang tengah ada di dalam pikiranku saat ini, secara refleks aku langsung meminta kepada ibu diswaya untuk mengganti gelas yang saat ini tengah di pegangnya dengan gelas yang masih berada di atas meja
“ kamu ini apa apaan sih tang...enggak sopan...” tegur abah seraya menatapku dengan sorot matanya yang tajam, sedangkan di sisi yang lain, ibu diswaya terlihat telah mengganti gelas yang sebelumnya tengah di pegangnya dengan gelas yang berada di atas meja
“ maaf bah...tadi itu atang enggak sengaja mengatakan seperti itu......”
“ aduh kamu ini tang…maafkan anak saya ya bu…mungkin tadi dia itu keceplosan berbicara seperti itu karena sudah terbiasa melihat abahnya menggunakan gelas itu...”
“ ohh...enggak apa apa ibu icang…ini bukan kesalahan kang atang kok, tapi kesalahan saya, seharusnya saya terlebih dahulu bertanya sebelum meminumnya, lagi pula memang enggak sopan jika saya menggunakan gelas yang biasa dipergunakan oleh pak icang.......” ujar ibu diswaya tanpa sedikit pun menaruh rasa kesal kepadaku, dan kini begitu abah mendapati ibu diswaya yang tengah meminum teh hangatnya, abah pun ikut meminum teh hangatnya untuk menghormati ibu diswaya
“ sejak kapan ibu icang mengalami sakit kepala seperti ini...?” tanya ibu diswaya seraya meletakan gelas di atas meja


Diubah oleh meta.morfosis 30-08-2021 10:44
simounlebon
sulkhan1981
sekarpuspita531
sekarpuspita531 dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.