- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.7K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#75
Chapter 51
Cahaya keemasan yang memancar dari busur itu membuat semua orang yang ada di tempat itu terkesima. Padahal, sebelumnya busur itu tidak pernah memancarkan cahaya. Dan menurut ramalan, busur itu akan memancarkan cahaya keemasan jika dipegang oleh orang yang ditakdirkan untuk memilikinya.
Melihat busur yang bercahaya di tangan Yi Yuen, semua penduduk desa berlutut dan bersujud di depannya. Mereka percaya, jika gadis itu adalah penyelamat yang telah diramalkan hingga menjadi satu cerita legenda turun temurun dari leluhur mereka.
Yi Yuen masih memegang busur itu hingga cahaya keemasan perlahan mulai memudar. Busur yang terlihat besar, nyatanya tidak terlalu berat saat dipegang olehnya. Busur itu terasa ringan, tapi sebenarnya busur itu tidak akan bisa dipegang oleh orang lain karena benda itu tidak akan bisa diangkat jika bukan oleh pemiliknya sendiri.
"Dewi, maafkan kami karena sebelumnya telah menangkapmu. Kami siap untuk dihukum atas kelancangan kami itu." Pemimpin desa masih menunduk dan diikuti oleh penduduk desa.
"Bangkitlah, aku tidak akan menghukum kalian, tapi izinkan kami untuk menginap di sini malam ini. Dan besok pagi, kami akan melanjutkan perjalanan ke Gunung Taishan."
"Silakan, Dewi. Desa ini akan menjadi milikmu dan kami akan siap membantumu. Kami tidak akan melarangmu pergi ke Gunung Taishan, tapi kami berharap agar Dewi lebih berhati-hati karena perjalanan menuju gunung itu tidaklah mudah."
"Aku mengerti dan aku hargai bantuan kalian. Tapi, selesaikan dulu masalah kalian dengan siluman babi agar tidak ada dendam di antara kalian."
"Dewi, aku sudah mengikhlaskan dan memaafkan mereka. Aku tidak akan lagi mengganggu penduduk desa ini," ucap siluman babi dengan yakin.
"Syukurlah, itu lebih baik. Sekarang, bubarlah dan kembalilah ke rumah kalian masing-masing."
Penduduk desa mulai membubarkan diri dan pergi ke rumah mereka. Sementara Yi Yuen, Ling, dan Kangjian diarahkan menuju salah satu rumah untuk beristirahat.
"Istirahatlah di rumah ini. Besok pagi, aku sendiri yang akan mengantar kalian menuju jalan rahasia untuk lebih cepat menuju Gunung Taishan. Tapi, kalian akan menghadapi beberapa rintangan agar bisa sampai di gunung itu."
"Aku tahu, tapi aku tidak akan mundur. Terima kasih atas bantuan kalian," ucap Yi Yuen tulus.
Lelaki paruh baya itu kemudian pamit undur diri. Sementara Yi Yuen, Ling, dan Kangjian memilih beristirahat karena perjalanan mereka esok hari akan semakin sulit.
Malam itu, mereka bisa beristirahat dengan tenang. Hingga pagi menjelang, mereka sudah disuguhkan dengan santapan pagi oleh penduduk desa. Tak hanya itu, mereka juga diberi perbekalan.
"Hanya ini yang bisa kami berikan pada kalian. Kami berharap, Dewi mau menerimanya."
Yi Yuen mengangguk. "Baiklah, aku akan menerimanya dan terima kasih atas bantuan kalian."
Setelah selesai sarapan pagi, mereka bertiga lantas pamit untuk kembali melanjutkan perjalanan. Pemimpin desa dan dua orang lelaki tampak menunjukan arah jalan yang harus mereka lalui.
Jalan yang mereka lalui rupanya cukup sulit. Jalan rahasia yang harus mereka lalui setelah masuk ke dalam sebuah goa yang cukup gelap. Goa itu menghubungkan antara hutan dengan tempat yang sangat jauh berbeda.
"Dewi, kami hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Ini adalah jalan pintas yang lebih dekat, tapi kalian akan menghadapi situasi yang tidak mudah. Aku dan penduduk desa akan menunggu hingga kalian kembali dan berharap kamu bertemu dengan orang yang kamu cari," ucap lelaki paruh baya itu tulus.
"Terima kasih atas bantuan kalian. Sekarang, kalian sudah boleh pergi."
Lelaki paruh baya dan dua orang lelaki lainnya kemudian pergi kembali ke desa. Sementara Yi Yuen, menatap sekeliling tempat itu yang sangat jauh berbeda dengan tempat sebelumnya. Di depan mereka, terhampar padang rumput yang sangat luas. Hanya terlihat beberapa pohon yang berdiri kokoh, namun agak berjauhan. Tempat yang cukup menenangkan, tapi tersimpan sesuatu yang sangat mematikan.
"Ayo, kita pergi," ajak Yi Yuen sambil melangkah terlebih dulu.
Kali ini, mereka bertiga tidak lagi menunggangi kuda. Mereka harus berjalan kaki menyusuri padang rumput setinggi betis mereka. Suasana di tempat itu terlihat sangat tenang. Tidak terdengar suara binatang apalagi kepakan sayap burung yang biasanya beterbangan. Tak ada embusan angin yang bertiup hingga membuat suasana di tempat itu terlihat mencekam.
Walau terlihat tenang, mereka tetap waspada. Karena mereka tahu, ada halang dan rintang yang sudah menunggu mereka. Tinggal menunggu waktu, kapan rintangan itu akan datang menghampiri mereka.
Sudah setengah hari mereka melakukan perjalanan dan mereka tidak menemukan ujung tempat itu. Yang mereka temui hanyalah hamparan rumput dan sebuah pohon yang kini menjadi tempat mereka berteduh.
"Nona, tempat ini sangat aneh. Aku sudah memperhatikan sedari tadi dan kita selalu kembali ke tempat yang sama," ucap Kangjian yang mulai merasa keanehan dengan tempat itu.
"Aku tahu, tenanglah. Sepertinya, mereka ingin membuat kita lelah setelah berputar-putar di tempat ini. Jika kita menunggu mereka untuk keluar, tidak bisa semudah itu. Mereka akan keluar ketika melihat kita sudah lengah dan kelelahan."
"Jadi, apa yang harus kita lalukan?"
"Kita kembali berjalan dan menunggu mereka untuk menyerang terlebih dulu. Jika mereka melihat kita kelelahan, aku yakin mereka pasti akan muncul."
Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali berjalan dan lagi-lagi mereka kembali ke tempat yang sama. Kembali ke sebuah pohon pinus yang menjadi tempat mereka berteduh untuk kesekian kalinya.
"Dewi, mereka juga belum menampakkan diri. Jika begini terus, tenaga kita bisa terkuras hanya untuk memancing mereka keluar," keluh Ling yang terlihat mulai kesal.
"Bibi, bersabarlah. Aku yakin, sebentar lagi mereka akan keluar. Bersiaplah dan jangan sampai mereka melukai kalian."
Ling sudah bersiap dengan pedang yang disematkan di punggungnya. Begitu juga dengan Kangjian yang sudah bersiap dengan busur dan anak panah. Mereka kembali berjalan hingga hari menjelang senja. Semburat langit jingga tampak indah di cakrawala, tapi keindahan itu terlihat begitu mencekam dengan suara jangkrik yang tiba-tiba berbunyi bersahutan.
Di saat itulah, dari balik rerumputan terlihat sesuatu yang bergerak sangat cepat. Tak hanya di satu tempat saja, tapi pergerakan itu terjadi di dua tempat dan terus mendekat ke arah mereka.
"Bersiaplah, mereka datang!" seru Yi Yuen.
Ling dan Kangjian lantas melindungi Yi Yuen yang kini berada di antara dua sahabatnya itu. Dan seketika, dari balik rerumputan muncul dua ekor ular dengan ukuran yang sangat besar. Dua ekor ular itu meliuk dan bersiap menerkam ke arah Kangjiang dan Ling yang menjadi sasaran mereka.
Melihat ular besar mengarah padanya, Ling dengan sangat gesit melompat dan menghindar, tapi ular itu terus meliuk dan mengejarnya.
Ular dengan ukuran yang sangat besar itu meliuk dengan sangat cepat. Kepala ular yang mengarah pada mangsanya tampak menjulurkan lidah dan bersiap menerkam mangsa di depannya.
Kecepatan ular itu dalam menyerang membuat Kangjian dan Ling cukup kewalahan. Apalagi, mereka sudah terlalu lelah karena sedari tadi berjalan.
Melihat kedua temannya itu mulai terdesak, Yi Yuen memutuskan untuk turun tangan, tapi dia terhenti saat melihat Kangjian melesatkan anak panahnya tepat mengenai mata salah satu ular yang mengejarnya. Seketika saja, ular itu berontak dan semakin beringas. Ular itu tak peduli dengan luka yang mengalirkan darah dan menatap lurus ke arah Kangjian yang terus dikejarnya. Ular itu terlihat marah dan melancarkan pukulan ekornya ke arah Kangjian yang terus menghindar.
Suara desis memecah keheningan di tempat itu. Matahari senja perlahan mulai menghitam dan tidak ada waktu bagi mereka untuk tetap bertahan. Mereka harus mengakhiri pertarungan karena semakin malam, kedua ular itu akan semakin leluasa menyerang mereka. Suasana malam sangat menguntungkan bagi kedua ular itu karena minim penerangan hingga membuat mereka leluasa menyerang mangsanya.
Yi Yuen lantas merangsek maju dan membantu Kangjian yang sudah berhasil menancapkan beberapa anak panah ke bagian tubuh ular itu. Yi Yuen melesat dengan sangat cepat dan berdiri membelakangi Kangjian. "Mundurlah!" perintah Yi Yuen saat dia sudah berdiri tepat di depan ular itu.
Kini, Yi Yuen sudah berdiri dengan pedang yang siap dihantamkan ke arah kepala ular besar itu. Saat ular itu semakin mendekat ke arahnya, Yi Yuen lantas mengayunkan pedangnya dan menghantam bagian kepala ular besar itu hingga terlepas dari badan. Bagian tubuh ular itu menggeliat dan ekornya masih sempat mengarahkan pukulan pada Yi Yuen, tapi sekali lagi pedang gadis itu menghantam bagian ekor ular itu hingga terputus menjadi dua. Kedua penggalan tubuh ular itu terus menggeliat hingga terdiam perlahan dan mati seketika.
Melihat temannya yang sudah terkapar, ular yang menyerang Ling seketika berbalik dan melesat sangat cepat ke arah Yi Yuen. Ular yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dari ular yang sudah terkapar mati itu rupanya sangat marah. Dia menyerang dengan sangat cepat dan menyasar tubuh Yi Yuen dengan ekor yang memukul sangat keras.
Kangjian yang melihat ular itu terus menyerang Yi Yuen, lantas melesatkan beberapa anak panah hingga tertancap di tubuh ular itu. Namun, ular itu seakan tidak merasakan sakit dan terus mengejar Yi Yuen yang melompat dari satu tempat ke tempat yang lain.
Ling yang semula menghadapi ular itu ternyata cukup kewalahan. Tubuhnya mengalami beberapa luka yang diakibatkan ganasnya serangan ular itu. Bahkan, pedangnya seakan tidak bisa menghentikan serangan ular itu walau sudah dipenuhi dengan luka akibat tebasan pedangnya.
Melihat serangan ular itu yang membabi buta, Yi Yuen berusaha untuk melawan dengan pedangnya, tapi rupanya ular itu tidak memberikan kesempatan baginya untuk membalas serangan. Yi Yuen tidak bisa mendekat dan hanya bisa menghindar dari serangan ular itu yang terus mengarah padanya.
Rupanya, ular itu memiliki kemampuan yang cukup hebat. Yi Yuen dibuatnya kewalahan dengan serangan yang membabi buta. "Jika aku tidak membalas serangannya, aku bisa saja mati olehnya. Tapi, dia tidak memberiku ruang untuk bisa membalas," batin Yi Yuen sambil terus menghindar. "Apa mungkin busur dan anak panah yang mereka berikan padaku untuk membunuh ular besar itu?" pikirnya.
Tanpa menunggu lama, Yi Yuen lantas membuka telapak tangannya dan perlahan cahaya keemasan muncul dari telapak tangannya itu. Setelah cahaya keemasan itu memudar, yang terlihat di telapak tangannya kini adalah sepasang busur dan anak panah.
Yi Yuen lantas memegang busur dan anak panah itu sambil terus menghindar dan mencari kesempatan untuk bisa melesatkan anak panah ke arah ular itu. Hingga kesempatan itu muncul saat Ling dan Kangjian menarik perhatian ular besar itu dengan cara mencabik tubuh ular yang tadi telah mati.
Seketika saja, ular besar itu marah dan melesat ke arah mereka. "Dewi, lakukan sekarang!" seru Ling yang berhasil mengalihkan perhatian ular itu. Ling dan Kangjian lantas berlari saat ular besar itu melesat ke arah mereka. Sementara Yi Yuen, sudah menarik anak panah yang dikaitkan di tali senar busur hingga terdengar suara decitan tali yang ditarik. Yi Yuen memfokuskan arah bidikan, hingga dia melepaskan anak panah yang kini melesat cepat dan menancap di kepala ular besar yang mengejar kedua sahabatnya itu.
Seketika saja ular itu terhenti. Tubuhnya diam tak bergerak seakan telah kaku. Anak panah tertancap tepat di belakang kepala hingga tembus ke bagian depan. Kangkian dan Ling melihat keanehan itu. Tubuh ular besar yang sedari tadi mengamuk kini diam tak bergerak. Bahkan, dari luka yang tertancap anak panah tidak keluar darah sedikitpun.
"Apa yang terjadi? Apa ular itu telah mati?" tanya Kangjian sambil berjalan mendekat ke arah ular itu. Hingga tiba-tiba saja, tubuh ular itu hancur menjadi serpihan abu. Anak panah yang menancap di kepala ular itu seketika jatuh ke tanah.
Kangjian dan Ling menatap takjub dengan kehebatan dari anak panah dan busur yang dimilki Yi Yuen saat ini. Sungguh, kekuatan yang membunuh tanpa ampun.
Yi Yuen mengambil kembali anak panah yang tergeletak di atas tanah. Busur dan anak panah itu tiba-tiba menghilang seiring cahaya keemasan yang muncul dibalik telapak tangannya.
Suasana di tempat itu seketika berubah. Langit hitam yang semula tak berbintang, kini menampakkan cahaya kerlap kerlip bak intan di hamparan permadani. Begitupun dengan embusan angin yang perlahan bertiup. Jasad ular yang terbelah tiga, kini telah berubah menjadi abu. Embusan angin meniup kencang dan membawa serpihan abu yang menghilang dibalik cahaya malam.
Malam itu, mereka disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah. Kerlap kerlip cahaya kunang-kunang menari-menari di atas rerumputan. Cahaya bulan tak kalah menyajikan pemandangan yang sangat mengagumkan. Angin bertiup lembut menerpa rerumputan yang bergoyang laksana ombak yang menyapu pesisir pantai. Pemandangan yang tidak pernah tersaji sejak beberapa ratus tahun yang lalu.
Di atas bukit, tampak seseorang sedang menyaksikan pemandangan indah itu. Wajahnya tersenyum sembari menatap keindahan bulan. "Ah, rupanya dia sudah datang. Aku harus menyambutnya." Terdengar suara seorang lelaki yang bergumam. Lelaki yang masih betah menyaksikan keindahan malam yang sudah lama tak dilihat olehnya
To Be Continued...
banditos69 dan 2 lainnya memberi reputasi
3