- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Pengalaman Ghaibku
...
TS
sapionita
Aku dan Pengalaman Ghaibku
Prolog.
cerita ini dibuat dan ditulis hampir mirip dengan karakter gw di dunia nyata,mohon maaf jika ada salah kata yg tidak baik tertulis di sini.
Part 1
Jakarta, kota tujuan para pencari kemakmuran. Semua orang dari daerah berlomba-lomba ke jakarta untuk meraih kesuksesan. Masih melekat di benak setiap insan, “jika ingin sukses aku harus kerja di jakarta”. Ya,itulah alasan kenapa gw sekarang ada di Jakarta.
Perkenalkan nama gw azra, tinggi 180 cukup atletis lah meski perut sedikit terlihat membuncit. Sudah 2 tahun gw menginjakkan kaki di jakarta, kota harapan untuk menjadi bagian dari masyarakat metropolitan. aku bekerja di dunia perhotelan,jujur aku buta sekali seperti apa itu dunia perhotelan. Banyak yg bilang kerja di hotel bisa membuat cepat kaya dan banyak duit, banyak yg bilang juga kerja di hotel dapet shift malam itu apes.
Lulus kuliah dan mencoba mengadu nasib di jakarta,ga nyangka modal nekat dan ilmu pas2an malah membuatku terdampar di dunia hotel. Jauh dari harapanku yg membayangkan bekerja di perusahaan bonafide..
Tak kusangka juga, jika tempatku bekerja ini bakal membuatku tersadar bahwa Jaman yg modern seperti tahun 2019 ini aku dipaksa untuk mempercayai hal klenik itu ada. Yap benar,ini akan menjadi awal petualanganku dengan klenik dan bertemu dengan orang2 yg paham dengan hantu,santet dan sejenisnya itu apa.
Singkat cerita, sudah 6 bulan aku bekerja di salah satu hotel *4 di kawasan jakarta pusat ( akan disamarkan demi kebaikan ). Beruntungnya ,bisa dibilang aku ini orangnya supel,bisa ngikut alur obrolan sekitar dan mudah membaur kemana aja. Jadi jangan heran kalo bisa becanda sama siapa aja. Setiap jam makan siang gw selalu ngumpul dengan gerombolan gw, ngebahas bermacam hal mulai dr ghibah hingga bertukar pikiran. Mas Dani dan Mas Hadi adalah mentor yang membuat gw agar tidak seperti domba yang tersesat. Di dalam kumpulan gw itu,ada salah 1 atasan gw yg cukup di hormati sama semua karyawan dan bahkan manajer sekalipun segan ma dia. Gw biasa manggil beliau ibu ita, pinter otaknya dan lembut hatinya serta tutur katanya.
Pada suatu malam tiba2 ada notif dr grup watsapku yg berisikan ibu ita, mas Dani dan Mas Hadi. Ga pernah sekalipun gw menyangka notif ini akan membalikan dunia gw dan segala pemahaman gw. Dan dari sini gw jadi tau bahwa Mas Dani adalah anak indigo dan mas Hadi juga punya kemampuan supranatural.
“Dan, didalam tas gw tiba2 ada bunga. Padahal ini tas seharian di dalam mobil,gw baru balik dari kondangan nih ma laki gw dan tas ini di mobil terus karna gw bawa pouch”. Seru bu Ita.
TRINK! Suara notif lagi dr bu Ita. “Lucunya lagi ni bunga bisa gerak,padahal gada angin di kamar gw.” Kata bu Ita sembari mengirim file video di grup tersebut.
Gw masih nyoba buat menangkap kemana arah pembicaraan dari bu Ita,gw ulang2 terus tu video sembari gw perhatiin dengan seksama jangan sampe ada yg kelewat. “an*g,bisa gitu tu bunga.” Kataku dalam hati.
Sekitar 15menit kemudian Mas dani muncul. “bu, dirumah ga? Aku kesana ya mau ambil itu bunga. Gila itu yg kirim bunga.” Kata Dani.
“kirim? Maksud lu ada yg iseng ngirim gw ginian?”. Tanya bu Ita kepada Dani. Dani pun mulai menjelaskan bahwa bunga itu adalah semacam bagian dr santet yg dikirim ke bu ita. Bu Ita kaget bukan kepalang,beliau bingung siapa yg mengirim itu dan punya maksud tujuan apa.
“hah santet? Apa itu aj* di jaman uda globalisasi dan modern kaya gini”. Gumamku dalam hati.
Tiba2 pintu kamar terketok,kubuka pintunya dan sudah ada Mas Dani serta Mas hadi yg sudah bersiap untuk pergi kerumah Bu ita. Oh iya,kebetulan aku 1 kosan dengan mereka. Di dalam mobil,mas Dani pun menceritakan padaku klo bunga itu hanya bagian kecil dari santet. Mas Hadi pun menambahkan, setelah beliau menerawang tadi ternyata ada orang yg benci dan iri dengan kesuksesan bu Ita.
Orang ini iri kenapa bu ita yg selalu dihormati,kenapa bukan dia padahal secara posisi dia memegang salah 1 posisi yg ckup penting di kantor kami. Masih tidak masuk ke akal sehatku darimana mas Hadi bisa tau secara rinci seperti itu. Logikaku menyimpan banyak pertanyaan kepada mas Hadi,tapi melihat situasi dan Mas hadi yg drtd berusaha fokus di dalam mobil, ku urungkan niatku untuk bertanya.
30menit berlalu dan kami telah sampai di rumah ibu Ita di daerah Jaktim. “bu,kami sudah sampai bu di depan rumah ibu”. Kataku pada bu ita lewat telpon. Tak lama suami bu ita turun dan membukakan pintu. Kami pun masuk ke rumah,seperti sudah paham kondisinya Mas Dani dan Mas Hadi segera mengikuti suami bu ita ke kamar.
Sesampainya di kamar,mas Dani mengeluarkan kain putih dari sakunya. Aku yg awam Cuma bisa diam dan bertanya “buat apa kain putih itu? niat amat ngantongin kain putih gitu dari rumah. Emg gabisa pake kaos biasa gitu?” gumamku dalam hati.
Mas Dani meletakkan tangannya diatas bunga tersebut,menutup mata dan mulutnya terlihat mulai membacakan sesuatu. Gerakan tangannya sangat teratur dan unik sekali,tiba2 tangan kirinya menutup bunga tersebut dengan kain putih itu. Dia duduk bersila dan memejamkan mata. Sedangkan mas Hadi daritadi kulihat dia hanya menutup mata dan diam saja di dekat pintu kamar.
Aku,suami bu ita, dan bu Ita hanya terdiam menyaksikan mereka berdua. Tiba2 mas Dani mengambil bunga tersebut dan dimasukan kedalam tas. “dah bu, dah beres bunganya aku bawa ya”. Kata mas dani ke bu ita.
“jadi bunga apa itu? Kenapa bentuknya seperti itu?” tanya bu ita kepada mas dani.
Jadi bu,bunga ini adalah ...
cerita ini dibuat dan ditulis hampir mirip dengan karakter gw di dunia nyata,mohon maaf jika ada salah kata yg tidak baik tertulis di sini.
Part 1
Jakarta, kota tujuan para pencari kemakmuran. Semua orang dari daerah berlomba-lomba ke jakarta untuk meraih kesuksesan. Masih melekat di benak setiap insan, “jika ingin sukses aku harus kerja di jakarta”. Ya,itulah alasan kenapa gw sekarang ada di Jakarta.
Perkenalkan nama gw azra, tinggi 180 cukup atletis lah meski perut sedikit terlihat membuncit. Sudah 2 tahun gw menginjakkan kaki di jakarta, kota harapan untuk menjadi bagian dari masyarakat metropolitan. aku bekerja di dunia perhotelan,jujur aku buta sekali seperti apa itu dunia perhotelan. Banyak yg bilang kerja di hotel bisa membuat cepat kaya dan banyak duit, banyak yg bilang juga kerja di hotel dapet shift malam itu apes.
Lulus kuliah dan mencoba mengadu nasib di jakarta,ga nyangka modal nekat dan ilmu pas2an malah membuatku terdampar di dunia hotel. Jauh dari harapanku yg membayangkan bekerja di perusahaan bonafide..
Tak kusangka juga, jika tempatku bekerja ini bakal membuatku tersadar bahwa Jaman yg modern seperti tahun 2019 ini aku dipaksa untuk mempercayai hal klenik itu ada. Yap benar,ini akan menjadi awal petualanganku dengan klenik dan bertemu dengan orang2 yg paham dengan hantu,santet dan sejenisnya itu apa.
Singkat cerita, sudah 6 bulan aku bekerja di salah satu hotel *4 di kawasan jakarta pusat ( akan disamarkan demi kebaikan ). Beruntungnya ,bisa dibilang aku ini orangnya supel,bisa ngikut alur obrolan sekitar dan mudah membaur kemana aja. Jadi jangan heran kalo bisa becanda sama siapa aja. Setiap jam makan siang gw selalu ngumpul dengan gerombolan gw, ngebahas bermacam hal mulai dr ghibah hingga bertukar pikiran. Mas Dani dan Mas Hadi adalah mentor yang membuat gw agar tidak seperti domba yang tersesat. Di dalam kumpulan gw itu,ada salah 1 atasan gw yg cukup di hormati sama semua karyawan dan bahkan manajer sekalipun segan ma dia. Gw biasa manggil beliau ibu ita, pinter otaknya dan lembut hatinya serta tutur katanya.
Pada suatu malam tiba2 ada notif dr grup watsapku yg berisikan ibu ita, mas Dani dan Mas Hadi. Ga pernah sekalipun gw menyangka notif ini akan membalikan dunia gw dan segala pemahaman gw. Dan dari sini gw jadi tau bahwa Mas Dani adalah anak indigo dan mas Hadi juga punya kemampuan supranatural.
“Dan, didalam tas gw tiba2 ada bunga. Padahal ini tas seharian di dalam mobil,gw baru balik dari kondangan nih ma laki gw dan tas ini di mobil terus karna gw bawa pouch”. Seru bu Ita.
TRINK! Suara notif lagi dr bu Ita. “Lucunya lagi ni bunga bisa gerak,padahal gada angin di kamar gw.” Kata bu Ita sembari mengirim file video di grup tersebut.
Gw masih nyoba buat menangkap kemana arah pembicaraan dari bu Ita,gw ulang2 terus tu video sembari gw perhatiin dengan seksama jangan sampe ada yg kelewat. “an*g,bisa gitu tu bunga.” Kataku dalam hati.
Sekitar 15menit kemudian Mas dani muncul. “bu, dirumah ga? Aku kesana ya mau ambil itu bunga. Gila itu yg kirim bunga.” Kata Dani.
“kirim? Maksud lu ada yg iseng ngirim gw ginian?”. Tanya bu Ita kepada Dani. Dani pun mulai menjelaskan bahwa bunga itu adalah semacam bagian dr santet yg dikirim ke bu ita. Bu Ita kaget bukan kepalang,beliau bingung siapa yg mengirim itu dan punya maksud tujuan apa.
“hah santet? Apa itu aj* di jaman uda globalisasi dan modern kaya gini”. Gumamku dalam hati.
Tiba2 pintu kamar terketok,kubuka pintunya dan sudah ada Mas Dani serta Mas hadi yg sudah bersiap untuk pergi kerumah Bu ita. Oh iya,kebetulan aku 1 kosan dengan mereka. Di dalam mobil,mas Dani pun menceritakan padaku klo bunga itu hanya bagian kecil dari santet. Mas Hadi pun menambahkan, setelah beliau menerawang tadi ternyata ada orang yg benci dan iri dengan kesuksesan bu Ita.
Orang ini iri kenapa bu ita yg selalu dihormati,kenapa bukan dia padahal secara posisi dia memegang salah 1 posisi yg ckup penting di kantor kami. Masih tidak masuk ke akal sehatku darimana mas Hadi bisa tau secara rinci seperti itu. Logikaku menyimpan banyak pertanyaan kepada mas Hadi,tapi melihat situasi dan Mas hadi yg drtd berusaha fokus di dalam mobil, ku urungkan niatku untuk bertanya.
30menit berlalu dan kami telah sampai di rumah ibu Ita di daerah Jaktim. “bu,kami sudah sampai bu di depan rumah ibu”. Kataku pada bu ita lewat telpon. Tak lama suami bu ita turun dan membukakan pintu. Kami pun masuk ke rumah,seperti sudah paham kondisinya Mas Dani dan Mas Hadi segera mengikuti suami bu ita ke kamar.
Sesampainya di kamar,mas Dani mengeluarkan kain putih dari sakunya. Aku yg awam Cuma bisa diam dan bertanya “buat apa kain putih itu? niat amat ngantongin kain putih gitu dari rumah. Emg gabisa pake kaos biasa gitu?” gumamku dalam hati.
Mas Dani meletakkan tangannya diatas bunga tersebut,menutup mata dan mulutnya terlihat mulai membacakan sesuatu. Gerakan tangannya sangat teratur dan unik sekali,tiba2 tangan kirinya menutup bunga tersebut dengan kain putih itu. Dia duduk bersila dan memejamkan mata. Sedangkan mas Hadi daritadi kulihat dia hanya menutup mata dan diam saja di dekat pintu kamar.
Aku,suami bu ita, dan bu Ita hanya terdiam menyaksikan mereka berdua. Tiba2 mas Dani mengambil bunga tersebut dan dimasukan kedalam tas. “dah bu, dah beres bunganya aku bawa ya”. Kata mas dani ke bu ita.
“jadi bunga apa itu? Kenapa bentuknya seperti itu?” tanya bu ita kepada mas dani.
Jadi bu,bunga ini adalah ...
Spoiler for bunga:
lombokjowo dan 32 lainnya memberi reputasi
33
12.4K
88
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sapionita
#39
Part 4
Sorenya sepulang kantor kami berkumpul di kantin. Aku, mas dani, dan mas hadi sedang sibuk bahas cewek unyu di IG. Datanglah bu Ita membawa sekotak tupperware dan 1 bungukusan.
“Beuh makanan nih.” Kataku.
“Wah rejeki anak kos nih,mayan hemat buat tanggal tua.” Sahut mas Dani.
“Apaan tuh bu? Kok kayaknya menarik itu.” Mas Hadi mulai penasaran.
“Ini lho ada cemilan tadi, lumayan buat temen kopi di sore hari kaya gini.” Kata bu Ita.
Kita yang penasaran sama isi tupperware itu pun mulai tidak sabar untuk membukanya, tanpa komando mas Dani langsung membuka buat mengobati rasa penasarannya.
“Lah somay?”
“Iya Dan somay yang tadi di kasih bu Riri. Gw ngerasa aneh,biasa siomay keliatan seger ini malah kelihatan macam berlendir g sehat.” Terang bu Ita kepada kami.
“Lu coba cek lah Dan, itu lihat banyak semut hitam ga jelas di somay itu.” Kata mas Hadi setelah memastikan siomay itu melalui mata batinnya.
“Alah bodo amat, digoreng aja dulu. Nanti sebelum dimakan dibersihkan dulu. Lumayan ini buat tanggal tua kaya gini. Hemat ego Di.”
Gw setuju dengan mas Dani. Lumayan makanan gratis ditengah tanggal tua yang menuntut kita untuk berhemat demi dapat menyambung hidup. Dan alasan lainnya adalah, gw ga paham dengan obrolan mereka di mobil perihal somay ini. Gimana sih caranya makanan yang nyata fisiknya di depan mata bisa kena sesuatu tak kasat mata? Khayalan seperti apa itu.
Mas Dani pun meminta penjaga kantin untuk menggoreng siomay tersebut. Kami sibuk bercanda sembari menunggu siomay tersebut. Suara tawa kami sesekali terdengar cukup jelas oleh karyawan lainnya. Aku yakin pasti pada heran, bercanda apa kita dengan Bu Ita wakil dari GM kami ini sampai bisa gitu lepas tawanya.
“Ini mas somaynya,masih banyak itu dibelakang.” kata mba rini penjaga warung kantin kepada kami.
“Iya mbak, makasih yo mbak. Pisan tambah es teh e siji yo mbak.” kata mas Dani.
Sebelum menyantap siomay tersebut mas Dani terlihat seperti berdoa dan tangannya berada diatas siomay itu. Sesekali kulihat mas Dani menarik napas dalam-dalam ,menahannya sebentar, lalu menghembuskannya perlahan. Kulihat mas Dani sangat fokus dalam hal ini, seperti sudah lama mendalami dan mempelajari hal itu. Di dalam hatiku ada perasaan yang jarang sekali kurasakan. Aku mau belajar ke mas Dani.
“Ayo zra, di, makan ni somay mumpung masih anget. Tapi khusus bu Ita nonton aja ya, repot nanti kalo bu Ita makan.” celetuk mas Dani sambil tertawa.
Bu Ita cuma geleng-geleng lihat kelakuan kami. Beliau berharap kami aman saja tanpa terkena masalah dari hasil makan somay tersebut. Beliau ini selalu minta maaf kepada kami jika terkait soal hal ghaib yang menyangkut dirinya. Mirip dengan salah satu pemain di bajaj bajuri. [I]“Maaf yo le aku ngerepotin kalian terus.”[/I]
Malam harinya hatiku gusar sekali, perasaanku sangat tidak enak semenjak pulang dari kantor tadi, atau semenjak aku selesai makan somay lucknut itu? Badanku terasa pegal, hatiku terasa gundah gulana, kepalaku terasa pusing, dan perut ini mual sekali rasanya. Tak jarang aku ke kamar mandi siap siaga karena takut muntah di dalam kamar.
“Ini kenapa sih a*g,tumben banget kaya gini. Terus ini kenapa ya kok kamar rasanya ada yang jagain dan matanya menatap ke aku terus. F*ck bangetlah jadi g tenang, ini juga tumben banget mas Dani sama Mas Hadi di kamar aja g keluar. Biasanya paling rajin ngetok kamar buat ngajak ngerokok.”
Hatiku benar-benar kalut dan bikin ga bisa berpikir tenang, antara takut akan sesuatu atau aku khawatir dengan keracunan makanan.
Kuberanikan diriku keluar kamar menuju kamar mas Hadi yang berada di sebelahku.
“Mas, mas Hadi.” kuketuk pintu kamarnya perlahan.
Kuketuk berulang kali tapi tak ada jawaban, aku mulai berpikir aneh-aneh. Apakah mas Hadi pingsan atau mati karena somay tersebut? Aku semakin yakin ini somay bukan karena kekuatan gaib, tapi karena somay ini sudah pasti basi. Aku kembali ke kamar dan mengambil hp yang sedari tadi sedang ku charge. Kutelpon lah mas Dani,berharap dia ada di kamar.
“Halo mas dan,ada di kamar ga? Aku kesana ya, perasaanku dari tadi ga enak nih.”
“Sini aja zra, ini juga si Hadi daritadi ada disini kok.”
“Oh oke.” kututup telepon.
“Oo lha asw.” makiku dalam hati.
Aku bergegas menuju kamar Mas Dani yang terletak di lantai 2, kuketuk pintu ketika aku sampai depan kamarnya. Kubuka pintu dan aku kaget, Mas Hadi ada disana dengan muka yang sangat pucat sekali. Kulihat Mas Dani sedang berusaha melakukan sesuatu kepada mas Hadi. Mas Dani terlihat seperti melakukan gerakan orang menyeka badan. Aku cuma diam dan no comment, ku perhatikan dengan seksama apa yang dilakukan mas Dani.
“Mas Dan, aku pengen belajar biar bisa kaya kamu mas.”
Bersambung...
“Beuh makanan nih.” Kataku.
“Wah rejeki anak kos nih,mayan hemat buat tanggal tua.” Sahut mas Dani.
“Apaan tuh bu? Kok kayaknya menarik itu.” Mas Hadi mulai penasaran.
“Ini lho ada cemilan tadi, lumayan buat temen kopi di sore hari kaya gini.” Kata bu Ita.
Kita yang penasaran sama isi tupperware itu pun mulai tidak sabar untuk membukanya, tanpa komando mas Dani langsung membuka buat mengobati rasa penasarannya.
“Lah somay?”
“Iya Dan somay yang tadi di kasih bu Riri. Gw ngerasa aneh,biasa siomay keliatan seger ini malah kelihatan macam berlendir g sehat.” Terang bu Ita kepada kami.
“Lu coba cek lah Dan, itu lihat banyak semut hitam ga jelas di somay itu.” Kata mas Hadi setelah memastikan siomay itu melalui mata batinnya.
“Alah bodo amat, digoreng aja dulu. Nanti sebelum dimakan dibersihkan dulu. Lumayan ini buat tanggal tua kaya gini. Hemat ego Di.”
Gw setuju dengan mas Dani. Lumayan makanan gratis ditengah tanggal tua yang menuntut kita untuk berhemat demi dapat menyambung hidup. Dan alasan lainnya adalah, gw ga paham dengan obrolan mereka di mobil perihal somay ini. Gimana sih caranya makanan yang nyata fisiknya di depan mata bisa kena sesuatu tak kasat mata? Khayalan seperti apa itu.
Mas Dani pun meminta penjaga kantin untuk menggoreng siomay tersebut. Kami sibuk bercanda sembari menunggu siomay tersebut. Suara tawa kami sesekali terdengar cukup jelas oleh karyawan lainnya. Aku yakin pasti pada heran, bercanda apa kita dengan Bu Ita wakil dari GM kami ini sampai bisa gitu lepas tawanya.
“Ini mas somaynya,masih banyak itu dibelakang.” kata mba rini penjaga warung kantin kepada kami.
“Iya mbak, makasih yo mbak. Pisan tambah es teh e siji yo mbak.” kata mas Dani.
Sebelum menyantap siomay tersebut mas Dani terlihat seperti berdoa dan tangannya berada diatas siomay itu. Sesekali kulihat mas Dani menarik napas dalam-dalam ,menahannya sebentar, lalu menghembuskannya perlahan. Kulihat mas Dani sangat fokus dalam hal ini, seperti sudah lama mendalami dan mempelajari hal itu. Di dalam hatiku ada perasaan yang jarang sekali kurasakan. Aku mau belajar ke mas Dani.
“Ayo zra, di, makan ni somay mumpung masih anget. Tapi khusus bu Ita nonton aja ya, repot nanti kalo bu Ita makan.” celetuk mas Dani sambil tertawa.
Bu Ita cuma geleng-geleng lihat kelakuan kami. Beliau berharap kami aman saja tanpa terkena masalah dari hasil makan somay tersebut. Beliau ini selalu minta maaf kepada kami jika terkait soal hal ghaib yang menyangkut dirinya. Mirip dengan salah satu pemain di bajaj bajuri. [I]“Maaf yo le aku ngerepotin kalian terus.”[/I]
Malam harinya hatiku gusar sekali, perasaanku sangat tidak enak semenjak pulang dari kantor tadi, atau semenjak aku selesai makan somay lucknut itu? Badanku terasa pegal, hatiku terasa gundah gulana, kepalaku terasa pusing, dan perut ini mual sekali rasanya. Tak jarang aku ke kamar mandi siap siaga karena takut muntah di dalam kamar.
“Ini kenapa sih a*g,tumben banget kaya gini. Terus ini kenapa ya kok kamar rasanya ada yang jagain dan matanya menatap ke aku terus. F*ck bangetlah jadi g tenang, ini juga tumben banget mas Dani sama Mas Hadi di kamar aja g keluar. Biasanya paling rajin ngetok kamar buat ngajak ngerokok.”
Hatiku benar-benar kalut dan bikin ga bisa berpikir tenang, antara takut akan sesuatu atau aku khawatir dengan keracunan makanan.
Kuberanikan diriku keluar kamar menuju kamar mas Hadi yang berada di sebelahku.
“Mas, mas Hadi.” kuketuk pintu kamarnya perlahan.
Kuketuk berulang kali tapi tak ada jawaban, aku mulai berpikir aneh-aneh. Apakah mas Hadi pingsan atau mati karena somay tersebut? Aku semakin yakin ini somay bukan karena kekuatan gaib, tapi karena somay ini sudah pasti basi. Aku kembali ke kamar dan mengambil hp yang sedari tadi sedang ku charge. Kutelpon lah mas Dani,berharap dia ada di kamar.
“Halo mas dan,ada di kamar ga? Aku kesana ya, perasaanku dari tadi ga enak nih.”
“Sini aja zra, ini juga si Hadi daritadi ada disini kok.”
“Oh oke.” kututup telepon.
“Oo lha asw.” makiku dalam hati.
Aku bergegas menuju kamar Mas Dani yang terletak di lantai 2, kuketuk pintu ketika aku sampai depan kamarnya. Kubuka pintu dan aku kaget, Mas Hadi ada disana dengan muka yang sangat pucat sekali. Kulihat Mas Dani sedang berusaha melakukan sesuatu kepada mas Hadi. Mas Dani terlihat seperti melakukan gerakan orang menyeka badan. Aku cuma diam dan no comment, ku perhatikan dengan seksama apa yang dilakukan mas Dani.
“Mas Dan, aku pengen belajar biar bisa kaya kamu mas.”
Bersambung...
Spoiler for FYI:
Yans.Venzy dan 8 lainnya memberi reputasi
7
Tutup
