Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#73
Chapter 49


Sudah dua purnama sejak peristiwa dimana Li Quan menghilang dan tampuk kepemimpinan di Istana Khayangan dibiarkan kosong. Itu sengaja dilakukan untuk menghormati mendiang raja yang telah wafat. Dua purnama adalah waktu berkabung yang sudah ditetapkan sejak zaman dulu. Dan kini, masa berkabung untuk Li Quan telah berakhir.

Di aula istana, para dewa dan dewi sudah berkumpul. Mereka berkumpul untuk menentukan siapa yang akan menduduki singgasana Istana Khayangan selanjutnya.

Terlihat, Dewa Perang hanya berdiri mendengarkan riuh suara yang sedang membicarakan tentang calon pemimpin Istana Khayangan. Sementara di sampingnya, Putri Mu Rong tampak acuh dengan situasi yang baginya tidak terlalu penting karena dia sudah yakin dengan apa yang akan terjadi di dalam rapat itu.

Dewa Perang dan Putri Mu Rong terlihat lebih santai seakan tidak menanggung beban apapun. Rupanya, mereka sudah sangat yakin kalau yang berhak menduduki singgasana adalah Putri Anchi yang merupakan keturunan langsung dari raja sebelumnya, yaitu Li Quan.

Benar saja, mayoritas yang hadir saat itu telah memilih Putri Anchi sebagai penerus selanjutnya. Walau mereka tahu kalau syarat utama untuk bisa menduduki singgasana Istana Khayangan adalah memiliki kekuatan mutiara putih yang sebelumnya dimiliki oleh Li Quan. Walau begitu, tidak ada yang bisa menentang mayoritas suara yang memilih Putri Anchi dan itu otomatis menjadikannya sebagai Ratu Istana Khayangan.

Dewi Bulan terlihat kecewa saat suaminya selaku Dewa Kebijaksanaan mengetuk palu yang menandakan kalau Putri Anchi telah terpilih menjadi Ratu Istana Khayangan. Wanita itu kemudian keluar tanpa menunggu berakhirnya rapat. Dia kecewa karena dia tahu siapa yang lebih pantas menjadi pemimpin selanjutnya. Pemimpin yang memiliki kekuatan mutiara putih yang diberikan langsung oleh Li Quan selaku raja sebelumnya.

Dewi Bulan duduk di ruangannya dan memikirkan nasib Yi Yuen. Dia berharap agar gadis itu mengikuti apa yang tertulis di dalam kitab yang dia berikan. Setidaknya, hanya itu yang bisa dia lakukan. Dan hanya itu yang bisa menentukan berhasil atau tidaknya rencana untuk pembalasan dendam atas kematian putranya.

Yi Yuen yang kini sudah bersiap, tampak menunggangi seekor kuda yang diberikan Pangeran Muda padanya. Semua yang diperlukan selama perjalanan, sudah disiapkan oleh Ling sejak semalam. Kangjian dan Ling juga sudah bersiap di atas kuda tunggangan mereka. Sementara Wang Wei dan Pangeran Muda akan mengantar mereka hingga di perbatasan kota.

Selama dua jam melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai di gerbang perbatasan kota. Yi Yuen menghentikan laju kudanya, begitupun dengan teman-temannya.

"Terima kasih karena kalian berdua sudah mengantarkan kami. Wang Wei, selama kami pergi, bantulah Pangeran Muda untuk mengurus negeri."

"Jangan khawatirkan aku. Ingatlah, perjalanan kalian masih panjang dan kami berdua akan menunggu hingga kalian kembali," ucap Pangeran Muda yang berusaha bersikap tenang walau sebenarmya dia begitu mengkhawatirkan sahabat-sahabatnya itu.

"Kangjian, tolong jaga dan lindungi Yi Yuen. Di depan sana, pasti akan ada yang menghalangi perjalanan kalian. Karena itu, lakukan apapun agar kalian bisa selamat dan berhasil menemukan orang yang Yi Yuen cari," ucap Wang Wei yang tahu betul dengan keadaan di luar sana.

Apa yang dikatakan Wang Wei bukan tanpa alasan. Kawasan di luar perbatasan kota dikenal dengan kawasan yang menakutkan. Hutan-hutan diluar sana dipenuhi dengan para perampok yang bisa muncul kapan saja. Karena itu, Wang Wei memperingatkan sahabat-sahabatnya itu untuk selalu berhati-hati.

"Jangan khawatir, aku akan menjaga Nona dengan baik." Kangjian terlihat percaya diri karena dia sudah berjanji untuk melindungi Yi Yuen walau harus mengorbankan nyawanya sendiri.

Setelah berpamitan, mereka lantas pergi. Pangeran Muda dan Wang Wei masih berdiri menatap kepergian mereka hingga kedua sahabat itu kembali saat teman-temannya telah menghilang di ujung jalan.

Gunung Taishan yang berada di bagian utara dari kota akan ditempuh dalam perjalanan yang cukup panjang. Mereka harus melewati hutan dan lereng gunung yang menanjak. Tak hanya itu, hutan yang akan mereka lewati adalah hutan yang cukup berbahaya. Pasalnya, hutan itu diketahui sebagai hutan yang di tempati beberapa suku pedalaman. Dan setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, Yi Yuen dan teman-temannya lantas memutuskan untuk bermalam di hutan itu karena langit mulai terlihat senja.

"Bibi, kita akan bermalam di sini. Sepertinya, tempat ini cukup nyaman untuk kita bermalam. Esok pagi, kita akan melanjutkan perjalanan kembali."

"Baik, Dewi."

Kangjian mulai mengumpulkan ranting kering untuk dijadikan api unggun. Suasana malam di dalam hutan itu sangat sepi. Yang terdengar hanyalah suara jangkrik dan lolongan anjing liar dari kejauhan.

Kangjian mulai menyiapkan santap malam. Ubi yang mereka dapatkan selama perjalanan rupanya cukup membantu untuk mengganjal perut mereka. Bekal yang disiapkan sejak awal sudah mulai menipis hingga membuat mereka harus pandai-pandai mencari hasil hutan yang layak untuk dimakan.

Kangjian rupanya sangat pandai dalam hal berburu dan mencari tanaman yang layak untuk dimakan. Di sela perjalanan, pemuda itu masih sempat memanah dua ekor kelinci untuk dijadikan bekal makan malam mereka. Dan hasil buruannya itu kini sedang dipanggang hingga semerbak harum aroma daging panggang menyeruak memenuhi tempat itu.

"Nona, makanlah." Kangjian menyerahkan daging panggang yang baru saja diangkat dari panggangan pada Yi Yuen. Gadis itu menerimanya dan mulai menyantap daging panggang itu.

Ling yang juga diberi oleh Kangjian kemudian ikut menyantap. Mereka bertiga terlihat akrab. Setelah menghabiskan makan malam, mereka kemudian beristirahat.

"Kalian tidurlah, biar malam ini aku yang akan berjaga," ucap Kangjian yang sudah bersiap dengan pedang di tangannya.

"Tidurlah, untuk malam ini biar aku yang berjaga. Kamu pasti kelelahan setelah beberapa malam ini terus berjaga. Tenanglah, aku akan baik-baik saja," ucap Yi Yuen yang menyadari kalau Kangjian sudah terlalu lelah. Pemuda itu rela begadang semalam suntuk hanya untuk berjaga di saat Yi Yuen dan Ling terlelap. Dan kini, pemuda itu tidak bisa mengelak saat kedua matanya tak kuasa untuk terpejam. Rasa kantuk dan lelah membuatnya terlena dalam tidur.

Yi Yuen masih duduk dan menyandarkan punggungnya di batang pohon. Pandangan matanya tertuju pada cahaya bulan separuh yang terlihat di balik pepohonan yang menjulang.

"Dewi, apa yang kamu pikirkan?" tanya Ling yang tiba-tiba duduk di dekatnya sambil menyandarkan punggungnya di pohon yang sama dengan Yi Yuen.

Keduanya kini memandang ke arah yang sama. Bulan sabit yang terlihat cantik dibalik ranting pepohonan. Cahaya bulan malam itu terlihat indah walau tak seterang bulan purnama.

"Bibi, apa kedua orangtuaku dan Qiang di sana baik-baik saja? Apa mereka merindukanku seperti aku yang saat ini merimdukan mereka?" tanya Yi Yuen yang terlihat sedih.

Kesunyian di malam itu membuat Yi Yuen mengingat kembali kebersamaannya bersama orang-orang yang dia cintai. Kebersamaan yang membuatnya sulit untuk melupakan mereka.

"Dewi, yakinlah kalau di sana mereka baik-baik saja. Aku juga yakin kalau mereka pasti merindukanmu sama seperti yang kamu rasakan. Dewi, kuatkan hatimu dan yakinlah kalau kamu pasti bisa membalaskan dendam untuk mereka. Aku yakin, kamu pasti bisa melakukannya."

Yi Yuen menatap Ling yang tersenyum padanya. Yi Yuen membalas dengan senyum dan anggukan. Dia kembali menatap langit yang dipenuhi pendaran cahaya bintang dan bulan. Dia bersyukur karena memilki sahabat yang peduli dan menyayanginya tulus.

Malam makin larut dan Yi Yuen masih terjaga. Sementara Ling dan Kangjian sudah tertidur pulas. Yi Yuen seakan tak bosan memandangi langit yang menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Hingga dia merasa terusik saat mendengar suara semak seperti diinjak seseorang.

Suara semak yang diinjak tidak membuat Yi Yuen mengalihkan perhatiannya dari menatap keindahan langit. Dia seakan sengaja tidak menggubris suara itu, walau dia tahu suara yang ditimbulkan bukan dari kaki binatang buas atau binatang lainnya. Dia menyadari kalau saat ini dirinya sedang diawasi. Walau begitu, dia tidak beranjak dari tempat duduknya atau mengalihkan pandangannya ke arah semak.

Yi Yuen masih menatap langit dan terus terjaga. Dia menunggu hingga seseorang dibalik semak itu keluar menunjukkan wujudnya, tapi hingga matahari pagi mulai terlihat, tidak ada satupun yang menampakkan diri di depannya.

Pagi itu, Yi Yuen memutuskan untuk memeriksa tempat di mana suara itu terdegar. Yang dilihatnya hanyalah patahan semak bekas terinjak oleh seseorang. Yi Yuen semakin yakin kalau perjalanan mereka kali ini tidak akan berjalan dengan mudah.

"Dewi, ada apa?" tanya Ling saat melihat Yi Yuen yang memperhatikan tempat itu.

"Tidak ada apa-apa. Ayo, sebaiknya kita bergegas."

Setelah menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan Kangjian, mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Mereka akan memasuki kawasan hutan lebih dalam lagi. Selama perjalanan, Yi Yuen menatap sekitar tempat itu dan dia mulai menyadari ada tatapan mata yang mengarah pada mereka. Tak hanya Yi Yuen, Ling juga merasakan hal yang sama.

"Dewi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Ling yang kini berjalan sejajar dengan Yi Yuen.

"Tenanglah, selama mereka belum menunjukkan diri, kita biarkan saja. Terus saja berjalan dan pura-puralah tidak mengetahui keberadaan mereka."

"Baiklah." Ling kemudian mendekati Kangjian dan memperingatkan pemuda itu untuk berhati-hati.

Menyadari sedang diawasi, Kangjian sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Begitupun dengan Ling dan Yi Yuen. Namun, saat mereka semakin masuk ke dalam hutan, tiba-tiba saja mereka dihadang oleh beberapa orang lelaki dengan wajah yang ditutupi tinta hitam. Penampilan dari para penghadang itu jauh berbeda dengan penduduk kebanyakan. Mereka mengenakan jubah yang terbuat dari kulit beruang. Kulit mereka berwarna kecoklatan dan memiliki rambut ikal kemerahan.

Beberapa orang lelaki itu terlihat mengarahkan anak panah ke arah Yi Yuen dan teman-temannya. "Turun!" seru salah satu lelaki yang berjalan perlahan mendekati Kangjian dan menarik pemuda itu hingga terjatuh terjerembab di atas tanah.

Kangjian berusaha untuk tetap tenang karena itu yang diperintahkan Yi Yuen padanya. Walau diperlakukan kasar, Kangjian tidak berontak atau melawan. Sementara Yi Yuen dan Ling juga dipaksa turun dari atas kuda. Tangan ketiganya lantas diikat dan dipaksa untuk mengikuti mereka.

Setelah berjalan beberapa meter, mereka melihat satu pemukiman yang tidak terlalu besar. Pemukiman itu terlihat tak biasa. Rumah mereka sangat sederhana dengan atap dari jerami yang telah kering. Rumah berbentuk bundar itu berdiri melingkari satu halaman kosong yang biasa dipakai untuk mereka berkumpul. Dan kini, Yi Yuen dan kedua temannya telah berada di halaman kosong itu dengan posisi terduduk dan terikat kedua tangan.

Mereka kini dikelilingi oleh penduduk desa yang menatap tajam. Anak-anak kecil turut melihat ke arah mereka. Begitupun dengan para wanita. Wajah penduduk itu terlihat berbeda karena tidak tertutup tinta hitam seperti para lelaki yang menangkap mereka.

Yi Yuen menatap para penduduk yang masih mengerubungi dan memperhatikan mereka hingga para penduduk itu membuka jalan saat seorang lelaki paruh baya datang mendekat.

Di depan Yi Yuen, lelaki paruh baya itu berdiri dan memperhatikan mereka bertiga dengan seksama. "Siapa kalian dan kenapa kalian berani masuk ke kawasan hutan milik kami? Apa kalian tidak tahu kalau kami tidak suka diganggu oleh orang luar?" tanya lelaki itu yang menatap lekat ke arah Yi Yuen.

Yi Yuen memperhatikan lelaki itu dan dia bisa tahu kalau lelaki paruh baya itu adalah pemimpin di tempat itu. "Kami tidak bermaksud mengganggu kalian. Hanya saja, kami terpaksa melewati desa kalian karena kami harus pergi ke Gunung Taishan."

Mendengar Yi Yuen menyebut Gunung Taishan, sontak saja membuat semua orang yang ada di tempat itu saling memandang dan terdengar suara bisik-bisik di antara mereka.

"Gunung Taishan? Apa yang akan kalian lakukan di atas gunung itu? Apa kalian ingin cari mati?" tanya seorang pemuda yang terkejut saat mendengar jawaban Yi Yuen yang terdengar meremehkan Gunung Taishan, gunung yang dianggap tempat keramat bagi mereka.

"Kami harus ke gunung itu karena ada seseorang yang harus aku temui di sana." Yi Yuen kembali berucap hingga membuat pemuda itu menampar wajahnya. Kangjian dan Ling terkejut saat melihat pemuda itu menampar wajah Yi Yuen. Mereka berdua kemudian berontak ingin melepaskan ikatan dari tangan mereka, tapi Yi Yuen segera menenangkan kedua temannya itu. "Tenanglah, jangan lakukan apapun."

Kangjian mengepalkan kedua tangannya karena menahan amarah. Begitupun dengan Ling yang berusaha menahan diri. Kalau bukan atas perintah Yi Yuen, saat ini keduanya pasti sudah melawan mereka karena itu bukanlah hal yang sulit bagi keduanya.

"Apa kamu pikir bisa semudah itu sampai di sana? Kami tidak akan membiarkan siapapun pergi ke gunung itu. Apabila kalian bersikeras untuk tetap pergi, itu berarti kalian telah melanggar aturan yang sudah kami buat sejak dulu. Dan hukuman bagi yang melanggar aturan adalah mati. Kalian harus bersiap karena kalian akan mati di tempat ini!" Lelaki paruh baya itu lantas memerintahkan untuk mengurung mereka, tapi tiba-tiba saja, Yi Yuen bangkit dengan ikatan tali yang sudah terlepas. Begitupun dengan Ling dan Kangjian yang kini bangkit sambil memegang pedang yang ada di tangan mereka.

"Aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangi jalanku untuk pergi ke Gunung Taishan. Jika ada yang berani menghalangiku, jangan salahkan aku jika aku akan melawan kalian!"

Yi Yuen berucap dengan lantang karena dia sudah mencoba untuk bersabar, tapi dia tidak bisa berkompromi jika mereka berani menghalangi jalannya. Dia tidak akan mundur karena perjalanan menuju Gunung Taishan adalah jalan awal baginya untuk bisa membalaskan dendamnya.

To Be Continued...
banditos69
tet762
tombbrader
tombbrader dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.