- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.8K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#72
Chapter 48
Yi Yuen terbaring di dalam sebuah ruangan. Sudah dua hari gadis itu tidak sadarkan diri. Ling yang duduk di sampingnya terlihat begitu sedih karena Yi Yuen selalu mengigau menyebut nama kedua orang tuanya. Keringat membasahi wajah Yi Yuen. Demam yang dideritanya sejak malam peristiwa itu belum juga menurun. Tubuhnya menggigil dengan bibir yang memucat.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Pangeran Muda saat Ling baru saja keluar dari ruangan itu.
"Entahlah, aku sendiri bingung dengan apa yang dialaminya," jawab Ling yang terlihat cemas.
"Ayolah, teman-teman. Kalian harus percaya kalau Yi Yuen tidak akan mudah menyerah. Aku yakin, dia pasti akan segera siuman dan kita akan membantunya." Wang Wei terlihat lebih optimis dan semangat itulah yang membuat mereka semua yakin kalau Yi Yuen akan baik-baik saja.
Sementara Yi Yuen, mengalami mimpi yang membuatnya tiba-tiba terjaga. Napasnya turun naik. Matanya menatap sekitar ruangan yang terlihat asing baginya. Perlahan, dia kembali memejamkan matanya dan mencoba mengingat kembali penggalan mimpi yang melintas di kepalanya. Tanpa menunggu lama, gadis itu kemudian turun dari atas tempat tidur, tapi rasa pusing membuat kakinya tidak kuat menopang tubuhnya sendiri hingga membuatnya terjatuh di atas lantai.
Mendengar suara orang terjatuh, Ling bergegas masuk ke dalam ruangan dan diikuti sahabat-sahabatnya. Mereka terkejut saat melihat Yi Yuen terduduk di atas lantai. Mereka lantas membantunya untuk duduk kembali di atas tempat tidur.
Melihat Yi Yuen yang telah sadar membuat Ling segera memeluk gadis itu. "Dewi, syukurlah kamu sudah sadar." Ling menangis hingga membuat Yi Yuen ikut menangis.
"Bibi." Yi Yuen membalas pelukan Ling dan menangis di dalam pelukan gadis itu. Dia menangis karena mengingat kedua orang tuanya dan juga Qiang yang telah meninggalkannya. Melihatnya menangis membuat Wang Wei, Kangjian, dan Pangeran Muda yang juga ada di ruangan itu turut menangis. Sesaat, mereka hanyut dalam kesedihan, tapi itu tidak berlangsung lama. Yi Yuen perlahan melepaskan pelukan dari Ling dan menatap sahabatnya satu persatu. "Terima kasih karena kalian sudah bersamaku hingga kini. Aku tidak akan pernah melupakan kalian."
"Yi Yuen, apa maksudmu? Apa kamu juga bermaksud pergi meninggalkan kami?" tanya Wang Wei yang curiga dengan ucapan gadis itu.
Yi Yuen seketika menunduk dan menyembunyikan air matanya. Sungguh, dia merasakan sedih yang teramat dalam karena perlahan, ingatan di masa lalunya telah muncul. Di dalam mimpi, semua kejadian di masa lalunya hadir kembali. Dia sadar, kerena dirinyalah banyak orang yang telah mati. Tak hanya penduduk, tapi orang-orang yang dekat dengannya juga akan terluka.
"Yi Yuen, tenanglah. Kami tidak akan meninggalkanmu." Pangeran Muda berucap dengan sungguh-sungguh dan diaminkan sahabatnya yang lain.
Yi Yuen mengangkat wajahnya dan menatap semua sahabatnya itu. "Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kalian bernasib sama seperti orang-orang yang telah pergi karena diriku. Aku tidak bisa terus berada di dekat kalian karena kalian bisa saja mati." Yi Yuen menitikkan air mata saat mengatakan itu semua. "Aku berjanji, akan membuat mereka menyesal karena telah mengambil orang-orang yang aku cintai dari sisiku dan aku mohon, biarkan aku pergi agar kalian tidak tersakiti," lanjut Yi Yuen.
Sesaat, mereka terdiam. Namun, Kangjian yang sedari tadi tidak bersuara perlahan mendekatinya. "Nona, kemanapun kamu pergi, aku akan ikut. Walau aku tahu aku tidak bisa membunuh mereka, tapi setidaknya biarkan aku menunaikan janjiku pada ibumu. Aku tidak bisa mengingkari janjiku padanya yang memintaku untuk selalu ada untuk melindungi dan membantumu. Nona, tolong bantu aku menunaikan janjiku." Kangjian lantas berlutut di depan Yi Yuen. Melihatnya, Yi Yuen kembali menitikkan air mata.
"Yi Yuen, aku juga akan melakukan hal yang sama karena aku tidak ingin penduduk negeri ini menjadi korban mereka. Apapun yang kamu butuhkan, katakan saja padaku, aku akan memberikannya untukmu," ucap Pangeran Muda menambahkan.
Melihat ketulusan teman-temannya, Yi Yuen akhirnya luluh. Dan sejak saat itu, dia telah memutuskan untuk tidak meninggalkan teman-temannya. Yi Yuen diperkenankan untuk menempati salah satu ruangan yang ada di dalam istana atas perintah Pangeran Muda. Bersama Ling, mereka berdua menempati ruangan itu dan mulai membaca kitab yang diberikan Dewi Bulan padanya.
Rupanya, Dewi Bulan sudah mempersiapkan kitab itu sejak lama. Kitab yang berisikan tentang kejadian di masa kalu yang membuat Dewi Keabadian menghilang dan siapa saja yang menjadi tersangka yang dicurigainya. Tak hanya itu, Dewi Bulan juga menuliskan tentang kekuatan dan kelemahan dari orang yang dicurigainya itu.
Yi Yuen begitu serius membaca apa yang tertulis di dalam kitab hingga dia akhirnya tahu siapa yang kini menjadi musuhnya.
Dewa Perang adalah salah satu dewa yang sangat ditakuti di masa lalu. Dialah yang telah mengusir Dewa Hitam keluar dari Istana Khayangan. Apapun yang berkaitan dengan kejahatan, dialah yang akan mengurusnya. Penghuni Istana Khayangan sangat segan padanya. Kekuatan dan ketegasannya dalam membasmi kejahatan di Istana Khayangan tidaklah main-main. Bahkan, dia tidak akan segan-segan membunuh pelaku kejahatan tanpa diinterogasi terlebih dulu. Namun, kekuatan dan kekuasaan yang dimilki olehnya dalam membasmi kejahatan telah membuatnya besar kepala. Lelaki itu mulai bersikap angkuh dan bertindak sesuai apa yang dia inginkan, hingga dia melakukan kesalahan yang membuat kekuasaannya itu dicabut.
Saat itulah, Dewi Keabadian terpilih untuk menggantikannya. Kekuatan dan sikap Dewi Keabadian dinilai mampu untuk mengemban tugas sebagai pembasmi kejahatan di Istana Khayangan ataupun di alam roh. Karena itulah, Dewa Perang sangat membencinya. Tak hanya itu, Dewi Keabadian rupanya mampu mengemban setiap tugas yang diberikan padanya dengan sangat baik. Walau tegas dan tidak kenal ampun, tapi Dewi Keabadian tidak bersikap sesuka hatinya. Karena itulah, dia menjadi mata-mata yang dipercaya oleh Raja Istana Khayangan yang berkuasa di saat itu.
Yi Yuen masih terus membaca dan perlahan-lahan dia mulai mengingat semuanya. Dia ingat di saat terakhirnya dulu, dia sempat mencurigai Dewa Perang. Lelaki itu akan melakukan pemberontakan di Istana Khayangan dan berkomplot dengan makhluk menyeramkan.
Yi Yuen mengepalkan kedua tangannya saat penggalan peristiwa di masa lalu kembali diingat olehnya. Matanya memerah menahan amarah dan juga air mata atas kejadian di masa lalu. Dan kini, semua telah diingatnya, tapi kekuatannya saat ini tidak cukup untuk melawan Dewa Perang yang memiliki kekuatan yang dahsyat. Lelaki itu memiliki senjata yang sangat mematikan. Sebuah cambuk berwarna hitam, mampu menghancurkan apa saja yang ada di depannya dalam sekali cambukan.
Yi Yuen kembali membaca tulisan yang ada di dalam kitab itu dan pandangan matanya tertuju pada satu kalimat yang membuatnya memiliki kesempatan untuk bisa membalaskan dendamnya. "Jadi, ada seseorang yang bisa membantuku untuk mengalahkan Dewa Perang? Tapi, apa mungkin orang itu mau bertemu denganku?"
Yi Yuen menutup kitab dan bangkit menuju halaman yang saat itu dipenuhi guguran daun-daun kering. Daun pohon sakura betebaran dan menutupi jalan setapak di halaman ruangan itu. Kembali, dia teringat akan kebersamaannya dengan ibunya saat musim gugur yang lalu. Mereka terlihat bahagia saat menikmati minum teh bersama dan menyicipi kue bulan buatan ibunya. Sepenggal kenangan bersama ibunya, kembali membuat air bening menggantung di pelupuk matanya.
Suasana kekeluargaan yang pernah dia rasakan, kini tak akan lagi dia rasakan. Semua telah hilang bersama kepedihan yang kembali merasuk di hatinya. Sejenak, Yi Yuen menunduk dan air bening itu jatuh membasahi tangannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Ayo masuk."
Yi Yuen mengangkat kepalanya saat mendengar suara Pangeran Muda yang berseru di depannya.
"Kenapa? Ayo masuk! Kita akan minum teh dan makan kue bulan bersama," lanjut Pangeran Muda yang juga datang bersama Kangjian, Wang Wei, dan Ling yang meraih tangannya dan mengajaknya duduk di dalam ruangan.
Dua orang pelayan tampak menyiapkan aneka kudapan dan minuman teh di atas meja. Setelah selesai menyiapakn sesuai yang diperintahkan Pangeran Muda, kedua pelayan itu kemudian pergi.
Di depan sebuah meja bundar, kelima sahabat itu duduk. Pangeran Muda lantas menuangkan setiap cangkir yang ada di atas meja dengan minuman teh melati yang sudan disiapkan. "Ayo, kita bersulang untuk menghormati setiap orang yang tewas pada saat itu." Pangeran Muda mengangkat cangkirnya dan diikuti oleh teman-temannya, tak terkecuali Yi Yuen.
Dalam sekali tegukan, teh di dalam cangkir telah habis. Ling lantas menuangkan kembali setiap cangkir yang telah kosong.
"Teman-teman, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian," ucap Yi Yuen sambil menatap sahabat-sahabatnya itu.
"Katakan saja, apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami," jawab Pangeran Muda yang terlihat penasaran.
"Aku harus pergi."
"Dewi, apa ada petunjuk dari kitab itu?" tanya Ling seakan paham dengan ucapan Yi Yuen.
Yi Yuen mengangguk. "Aku harus mencari seseorang yang bisa membantuku mengalahkan Dewa Perang. Jika aku ingin membalaskan dendam, aku harus bertemu dengannya karena dia yang tahu semua kelemahan dari Dewa Perang. Jika tidak, sampai kapanpun aku tidak akan bisa membalaskan dendam untuk orangtuaku dan Qiang."
"Lalu, kamu akan mencarinya ke mana?" tanya Wang Wei.
"Menurut yang tertulis di kitab, aku bisa saja menemukannya di Gunung Taishan, tapi itu jika aku beruntung. Jika tidak, maka aku harus tetap bertahan di atas gunung itu hingga berhasil bertemu dengannya."
Untuk sesaat, mereka terdiam. Karena itu berarti, peluang bertemu dengan orang yang di maksud di dalam kitab tidaklah mudah. Jika tidak beruntung, Yi Yuen bisa saja menunggu hingga seumur hidupnya dan itu berarti kesempatan untuk membalas dendam semakin menipis.
"Jangan khawatir, karena aku yakin pasti bisa menemukannya." Yi Yuen berusaha meyakinkan teman-temannya atas keputusannya itu.
"Lalu, kapan kamu akan pergi?" tanya Pangeran Muda.
"Besok pagi."
"Nona, izinkan aku ikut denganmu!" Kangjian tiba-tiba berlutut di depan Yi Yuen.
"Kangjian, bangkitlah. Aku tahu kamu peduli padaku, tapi kali ini aku tidak bisa membawamu ikut bersamaku."
"Aku mohon, Nona. Biarkan aku ikut. Aku janji tidak akan meyusahkanmu. Aku mohon, biarkan aku ikut, Nona!" Kangjian semakin menunduk hingga kepalanya menyentuh dasar lantai.
Melihat Kangjian yang kokoh dengan pendiriannya itu, Ling akhirnya ikut berlutut di depan Yi Yuen. "Aku juga akan ikut bersamamu. Setidaknya, biarkan aku menemanimu. Kami berdua akan selalu siap menjaga dan melindungimu. Dewi, mohon pertimbangkan untuk membawa kami ikut bersamamu." Ling kembali menunduk seperti yang dilakukan Kangjian.
Melihat mereka, Yi Yuen akhirnya luluh. "Baiklah, baiklah. Kalian berdua boleh ikut," ucap Yi Yuen sambil meneguk teh di cangkirnya dengan kasar. Walau begitu, mereka tahu kalau gadis itu sengaja menyembunyikan rasa terharu melalui sikapnya yang terlihat marah.
Kangjian dan Ling lantas bangkit dan kembali duduk di depan meja. Mereka terlihat bahagia saat mendapat persetujuan Yi Yuen untuk membawa mereka bersamanya.
"Karena besok pagi kalian sudah harus pergi, maka kita habiskan hari ini bersama. Ayo, kita bersulang untuk keberhasilan perjalanan kalian."
Kembali, mereka bersulang dan memanjatkan doa demi keberhasilan perjalanan mereka. Di saat menjelang malam, kebersamaan mereka harus berakhir. Pangeran Muda kembali ke kediamannya. Begitupun dengan Wang Wei dan Kangjian yang juga kembali ke kamar mereka. Kini, yang ada di ruangan itu hanyalah Yi Yuen dan Ling yang masih duduk di depan meja.
"Sebaiknya, aku mempersiapkan semua keperluan kita untuk perjalanan besok," ucap Ling sambil menuju sebuah lemari kecil.
Yi Yuen hanya memperhatikannya hingga pandangannya teralihkan pada kitab yang kini dibuka olehnya. "Aku harus bisa menemukan orang itu. Apapun yang terjadi, aku harus menemukannya."
Sementara di Istana Khayangan, Dewi Bulan tampak termenung. Wanita itu sedang mengenang putranya dan memikirkan Yi Yuen hingga membuatnya tidak menyadari kehadiran suaminya yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Istriku, apa yang kamu pikirkan?" tanya lelaki yang terlihat tenang dan berkharisma itu.
Dewi Bulan menatapnya dan tak lama kemudian memalingkan wajahnya ke tempat lain. Melihat istrinya yang menghindar darinya, membuat lelaki itu menghampiri istrinya itu.
"Apa kamu masih marah padaku?" tanya lelaki itu yang kini duduk di depan istrinya.
Dewi Bulan menatap suaminya itu dengan air mata yang jatuh membasahi wajahnya. "Apa kamu bisa setenang ini setelah kehilangan putramu? Apa kamu tidak ingin mencari penyebab kejadian di waktu itu?" tanya Dewi Bulan dengan tatapan matanya yang memerah.
Lelaki itu terdiam saat melihat tatapan istrinya yang terlihat sedih. Sudah dua purnama sejak kejadian waktu itu dan istrinya masih belum bisa memaafkan dirinya yang dianggap tidak peduli dengan kejadian yang telah merenggut putra mereka.
"Apa kamu juga akan membiarkan Putri Anchi menduduki tahta menggantikan Li Quan? Suamiku, apa kamu tidak bisa membuka hatimu yang sudah tertutup dengan persahabatan walau kamu tahu sahabatmu sendiri yang telah merencanakan semua ini?" Dewi Bulan semakin marah karena melihat suaminya yang hanya terdiam.
Lelaki itu masih terdiam dan tidak membantah apa yang diucapkan istrinya. Dia seakan menerima ungkapan kemarahan istrinya hingga membuatnya memeluk tubuh istrinya yang kini menangis dalam pelukannya. "Maafkan aku." Hanya itu yang mampu dia ucapkan hingga membuat Dewi Bulan menangis atas ketidakberdayaan suaminya itu.
Tanpa disadari oleh Dewi Bulan, lelaki itu menitikkan air mata karena semua ucapan istrinya itu bagaikan sebuah sembilu yang mengiris hatinya yang kini merasakan sakit atas kepergian putra yang paling disayanginya. Sakit yang harus bisa dia tahan. Dan sakit yang akan terobati, setelah dia menemukan kesempatan untuk bisa membalaskan rasa sakitnya itu.
To Be Continued...
fian5758 dan 3 lainnya memberi reputasi
2