Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#71
Chapter 47


Kekacauan yang terjadi di bumi membuat para dewa bergegas untuk turun tangan. Walau mereka tidak bisa membantu membunuh manusia yang dirasuki, tapi setidaknya mereka bisa melindungi para penduduk dari jangkauan manusia yang dirasuki itu.

Dewi Bulan, kini telah berdiri di depan sekelompok penduduk desa yang dibawa Pangeran Muda. Wanita yang masih terlihat cantik itu lantas melindungi mereka dengan tameng berupa cahaya bening yang memisahkan para penduduk dengan manusia yang dirasuki. Tameng yang tembus pandang itu nyatanya tidak mampu membuat manusia yang dirasuki menjangkau para penduduk.

Sementara rubah berekor delapan masih bertarung walau lawan yang dihadapi olehnya tidaklah sedikit. Kekuatannya yang cukup mumpuni setidaknya bisa membantu.

Di tempat terpisah, para dewa yang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka berusaha melindungi para penduduk dengan melindungi menggunakan tameng berupa cahaya bening yang setidaknya tidak bisa dilalui oleh manusia yang dirasuki. Sementara Li Quan dan Qiang, telah bergegas menuju kedai.

Melihat suaminya datang, Zhi Ruo lantas memeluknya. "Suamiku."

Li Quan membalas pelukan istrinya dan pandangannya mengedar mencari keberadaan Yi Yuen. "Istriku, di mana putri kita?" tanya Li Quan yang terlihat khawatir.

"Yi Yuen dan Ling sedang bertarung melawan mereka."

"Istriku, tunggulah di sini, biar aku membantu Yi Yuen."

Li Quan dan Qiang bergegas pergi, tapi Zhi Ruo menghalangi jalan mereka. "Jika kamu pergi, aku akan ikut denganmu. Suamiku, aku mohon, bawa aku ikut denganmu." Zhi Ruo terlihat menangis karena dia tahu apa yang akan terjadi pada suaminya itu jika bersikeras melawan manusia yang dirasuki.

"Istriku ... "

"Suamiku, jika kamu ingin menyelamatkan putri kita, maka kamu juga harus membawaku. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi." Zhi Ruo kembali memeluk suaminya itu dan menangis di dalam pelukannya.

Li Quan tersenyum dan membelai lembut puncak kepala istrinya itu dan mengecup dahinya lembut. "Baiklah, kita akan pergi bersama."

Zhi Ruo lantas menemui Kangjian yang terlihat sedih saat melihat majikannya itu akan pergi. "Kangjian, jika Yi Yuen berhasil kembali, tolong lindungi dan bantulah dia." Pemuda itu mengangguk dan hanya bisa menatap kepergian majikannya itu dengan air mata yang perlahan jatuh.

Mereka lantas bergegas menuju tempat di mana Yi Yuen dan Ling sedang bertarung menghadapi manusia yang dirasuki. Kedua gadis itu tampak kewalahan karena jumlah manusia yang dirasuki terus bertambah. Sementara luka di lengan Yi Yuen terus mengeluarkan darah hingga membuat tubuhnya melemah dan mengurangi kekuatannya.

"Dewi, pergilah, biar aku yang menghadapi mereka." Ling terlihat begitu khawatir dengan kondisi Yi Yuen yang mulai memucat. Keringat dingin membasahi wajahnya karena ternyata luka yang dialami oleh gadis itu bukanlah luka biasa. Luka itu semakin parah karena disebabkan oleh racun yang ada di tangan manusia yang dirasuki.

"Bibi, bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendirian menghadapi mereka. Aku tidak akan meninggalkanmu."

Yi Yuen berusaha agar tetap bertahan, tapi luka yang dideritanya sudah tidak mampu lagi membuatnya untuk bisa tetap berdiri. Tubuhnya melemah dan kini terduduk di atas tanah. Melihat kondisi lawan yang mulai melemah, manusia yang dirasuki tersenyum puas. Mereka lantas menyerang secara bersamaan ke arah Yi Yuen dan Ling yang kini terkepung, tapi tiba-tiba saja tubuh kedua gadis itu menghilang dari pandangan mereka.

Pandangan manusia yang dirasuki kini terarah pada satu titik di mana Li Quan dan Qiang yang meletakkan tubuh kedua gadis yang baru saja mereka selamatkan.

"Ayah," ucap Yi Yuen lirih saat melihat Li Quan meletakkan tubuhnya perlahan di samping Zhi Ruo yang duduk di sampingnya. "Ibu." Yi Yuen menitikkan air mata saat melihat kedua orang tuanya datang untuk melindunginya.

"Istirahatlah, Nak. Biar Ayah yang akan menghadapi mereka." Li Quan membelai lembut puncak kepala putrinya itu dan menatapnya dengan air mata yang perlahan jatuh.

"Tidak! Jangan Ayah lakukan itu. Aku tidak ingin Ayah pergi meninggalkan aku dan Ibu." Yi Yuen menangis saat melihat ayahnya bersiap melawan manusia yang dirasuki. "Ibu, aku mohon, jangan biarkan Ayah melakukan ini. Jangan biarkan Ayah meninggalkan kita lagi." Yi Yuen memaksa untuk berdiri, tapi tubuhnya seakan tak mampu hingga hanya bisa menatap ayahnya yang mulia menjauh.

"Qiang, tolong larang ayahku. Aku mohon, jangan biarkan dia melakukan ini." Yi Yuen memohon di depan Qiang yang menatapnya sedih. Pemuda itu lantas mendekatinya dan menyentuh wajah gadis itu dengan lembut.

"Maafkan, aku. Untuk kali ini, aku tidak bisa menuruti permintaanmu. Bukankah, aku sudah berjanji untuk melindungimu? Yi Yuen, aku mencintaimu."

Qiang lantas bangkit dan meninggalkan Yi Yuen yang kini menangis. Ingin rasanya dia menghentikan waktu agar kedua orang yang sangat disayanginya itu tidak akan pernah pergi meninggalkannya.

"Ayah! Qiang! Jangan lakukan itu! Aku mohon kembalilah!" Yi Yuen terus menangis, tapi kedua lelaki yang sangat disayanginya itu hanya menatapnya dari kejauhan.

Li Quan kini telah bersiap dengan pedang di tangannya. Begitupun dengan Qiang yang menatap tajam ke arah musuh yang semakin banyak. Manusia yang dirasuki seakan tak pernah habis dan terus bertambah. Di depan mereka, terdapat ratusan manusia yang sudah dirasuki dan bersiap untuk menyerang. Benar saja, seakan mendapat komando, ratusan manusia yang dirasuki itu kemudian menyerang ke arah Li Quan dan Qiang.

Kedua lelaki itu mulai maju dengan pedang yang terhunus pada tubuh manusia yang dirasuki. Darah merah berceceran saat pedang mereka berhasil melepaskan kepala dari tubuh manusia yang dirasuki itu. Walau begitu, jumlah mereka seakan tak pernah habis. Tubuh tak bernyawa tergeletak di atas tanah dengan kondisi mengenaskan. Suara erangan terdengar memengakkan telinga.

Sementara dari jauh, Putri Anchi menangis saat melihat Qiang yang rela mengorbankan diri untuk melindungi gadis yang sangat dibenci olehnya. Begitupun dengan Putri Mu Rong yang mengepalkan kedua tangannya saat melihat Li Quan melakukan hal yang sama. Kedua lelaki itu rela mengorbankan diri demi melindungi orang yang mereka cintai.

Kekuatan Li Quan ternyata sangatlah dahsyat. Dalam sekali serang, dia mampu membunuh puluhan manusia yang dirasuki. Namun, semakin banyak yang dibunuh olehnya, maka kekuatannya semakin berkurang. Begitupun dengan Qiang yang merasakan hal yang sama. Walau begitu, mereka masih berusaha untuk tetap menyerang, hingga tiba-tiba saja mereka mulai menyadari kalau perlahan-lahan bagian dari tubuh mereka mulai menghilang.

Li Quan terkejut saat melihat telapak tangan kirinya yang mulai menghilang. Begitupun dengan Qiang yang tiba-tiba saja pedangnya terlepas dari tangannya saat telapak tangannya menghilang.

Melihat kondisi mereka, kedua lelaki itu semakin gencar melakukan perlawanan. Namun, mereka tidak bisa menghindar saat beberapa musuh berlari ke arah Yi Yuen dan Zhi Ruo. Melihat musuh semakin mendekat, Ling berusaha untuk melindungi kedua wanita itu. Ling kini berjuang sendirian walau kekuatannya mulai melemah. Yi Yuen yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa melihat sahabatnya itu bertarung sendirian. Dan di saat Ling lengah, salah seorang dari manusia yang dirasuki mulai mengarah pada Yi Yuen yang kini dilindungi oleh Zhi Ruo. Sontak, tubuh wanita itu terkulai lemah saat sebuah pedang yang diarahkan pada Yi Yuen menancap di punggungnya.

Zhi Ruo mencoba melindungi putrinya itu saat salah satu dari musuh mengarahkan pedangnya pada Yi Yuen. Kini, tubuh Zhi Ruo memeluk erat tubuh putrinya seakan tidak ingin membiarkan siapapun menyakitinya.

"Ibu!" seru Yi Yuen saat melihat ibunya yang kini menatap ke arahnya dengan air mata yang membasahi wajahnya. "Tidak Ibu! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" Yi Yuen tidak berdaya saat melihat ibunya yang kini terdiam dalam pangkuannya. Ling yang melihat itu mencoba untuk mendekati mereka, tapi musuh kini telah mengepungnya hingga membuatnya tidak bisa mendekat. Dia hanya bisa bertarung dengan perasaan marah dan sedih yang bercampur aduk.

Yi Yuen yang terpojok masih bisa bertahan dengan pedang yang masih bisa digenggamnya. Walau tak mampu, dia masih bisa melawan dan akhirnya dia pasrah saat melihat ibunya telah menutup mata. "Tidak Ibu! Tidak!" Yi Yuen menangis sambil memeluk tubuh ibunya dan dia telah pasrah saat melihat musuh mengarahkan pedang ke arahnya. Yi Yuen memejamkan matanya dan bersiap menerima hujaman pedang ke tubuhnya, tapi tiba-tiba saja musuh terpental dengan kepala yang terlepas dari badan.

Yi Yuen membuka matanya dan melihat ayahnya berdiri di depannya. "Putriku, jangan pernah menyerah. Tetaplah hidup dan balas perbuatan mereka pada kita. Ayah akan membawa ibumu bersama Ayah. Jadi, jangan khawatirkan kami karena kami akan selalu bersamamu. Terimalah pemberian Ayah dan pergunakanlah dengan bijak."

Li Quan kemudian duduk di depan Yi Yuen dan dari telapak tangan kanannya, muncul seberkas cahaya berwarna putih sebesar mutiara. Dengan tenaga dalam yang masih tersisa, Li Quan mendorong cahaya putih itu ke dada Yi Yuen hingga membuat tubuh keduanya bergetar. Setelah memastikan cahaya itu telah masuk ke dalam tubuh putrinya, Li Quan melepaskan tangannya. "Kekuatan itu akan membuatmu menjadi kuat. Putriku, ingatlah, kalau Ayah dan Ibu sangat menyayangimu."

Li Quan lantas mengangkat tubuh Zhi Ruo dan membopongnya. Sebelum pergi, lelaki itu masih sempat menatap wajah putrinya yang menatapnya nanar. "Ayah ... Ibu ..." ucap Yi Yuen saat melihat kedua orang tuanya yang perlahan menghilang dan berpendar menjadi butiran cahaya putih.

"Tidak!" Yi Yuen terlihat marah. Tubuhnya yang semula lemah, kini bangkit seakan ada kekuatan yang membantunya.

Yi Yuen mengambil pedangnya yang sempat terjatuh dan menggenggamnya erat. Pandangannya mengarah pada Ling yang bertarung sendirian. Yi Yuen lantas berlari dan mendekat ke arah musuh yang kini mengepung sahabatnya itu. Yi Yuen mengayunkan pedangnya dan mengarahkan pada leher manusia yang dirasuki hingga satu persatu dari mereka terkapar.

"Dewi, pergi dan bantulah Qiang. Biar aku yang akan menghadapi mereka. Pergilah!"

Yi Yuen mengangguk dan berlari ke arah Qiang yang masih bertarung. Pemuda itu terlihat kepayahan dengan beberapa luka yang menggores tubuhnya. Saat melihat Yi Yuen datang membantunya, pemuda itu tersenyum. Yi Yuen maju dengan beringas dan tidak membiarkan siapapun mendekatinya. Tebasan pedangnya membantai satu persatu manusia yang dirasuki hingga membuat mereka mundur.

Kini, Yi Yuen telah berdiri berdampingan dengan Qiang yang menatap ke arahnya. Melihat kondisi kekasihnya itu, Yi Yuen terlihat sedih. Luka tebasan dan juga cakaran di tubuh pemuda itu membuat Yi Yuen iba padanya. Yi Yuen lantas meraih tangan kekasihnya itu dan menggenggamnya erat. "Qiang, aku mohon tetaplah bersamaku. Aku tidak ingin kamu pergi karena sudah cukup aku kehilangan ayah dan ibuku. Qiang, berjanjilah padaku kalau kamu juga tidak akan pernah pergi meninggalkanku."

Yi Yuen mengeratkan genggaman tangannya, tapi dia terperanjat saat tangannya tiba-tiba tidak lagi merasakan hangatnya genggaman tangan kekasihnya itu. Air matanya kembali jatuh saat melihat pergelangan tangan Qiang yang perlahan mulai menghilang.

"Qiang, jangan lakukan ini padaku." Yi Yuen kemudian memeluk tubuh Qiang, tapi lagi-lagi dia terkejut saat melihat separuh tubuh kekasihnya itu mulai berpendar. "Tidak! Qiang, jangan lakukan ini padaku. Aku mohon, jangan tinggalkan aku."

Yi Yuen memeluk tubuh Qiang semakin erat seakan dia tidak ingin melepaskan. Dengan setengah tubuhnya yang tersisa, Qiang memeluk tubuh Yi Yuen dan berusaha tersenyum di antara pendaran cahaya yang keluar dari tubuhnya. "Yi Yuen, maafkan aku. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Tetaplah hidup dan balaskan perbuatan mereka padamu. Aku akan selalu menunggumu di kehidupan manapun. Aku akan selalu menunggu hingga takdir tidak lagi memisahkan kita. Yi Yuen, aku mencintaimu." Qiang mengecup dahi Yi Yuen dan perlahan tubuhnya menghilang seiring pendaran cahaya putih yang melayang ke udara.

Yi Yuen terduduk dan menangisi takdirnya. Kembali, dia harus merasakan perpisahan yang teramat sangat memilukan. Tak hanya di kehidupan di masa lalu, bahkan di kehidupannya kini, takdir terasa begitu kejam padanya.

Di saat tubuh Qiang menghilang, di saat itu pula semua manusia yang dirasuki tiba-tiba terjatuh ke tanah. Mereka tersadar dan tidak mengerti dengan situasi yang ada di depan mereka.

Yi Yuen menangis dan masih terduduk saat Dewi Bulan mendekatinya. Wajah wanita itu terlihat sedih. Di depan Yi Yuen, Dewi Bulan duduk seraya bersimpuh. "Yi Yuen, maafkan aku karena tidak bisa melindungimu. Entah di masa lalu atau kini, aku masih tidak mampu untuk melindungimu."

Dewi Bulan menangis dan menyesali diri. Yi Yuen menatap wanita yang kini duduk di depannya. "Siapa kamu?" tanya Yi Yuen hingga membuat Dewi Bulan mengangkat wajahnya.

"Tidakkah kamu ingat padaku? Aku adalah Dewi Bulan, sahabatmu di masa lalu dan juga nenekmu di masa kini. Aku adalah ibu dari ayahmu."

Yi Yuen menatap wajah Dewi Bulan lekat. Sesaat, dia terdiam dan perlahan bangkit meninggalkan wanita itu.

"Yi Yuen, maafkan aku." Dewi Bulan bangkit dan mengikuti gadis itu. Seketika, Yi Yuen berbalik dan menatap tajam ke arah Dewi Bulan.

"Mulai saat ini, aku tidak percaya lagi pada kalian. Kalian para dewa hanya menjadi penonton saat manusia dibunuh di depan mata kalian. Apa manusia tidak punya arti bagi kalian? Aku, Yi Yuen, akan mencari keadilan untuk orang-orang yang telah mati hari ini. Aku akan membuat kalian menebus atas peristiwa hari ini!"

Yi Yuen kemudian melangkah pergi, tapi Dewi Bulan segera mengejarnya. Kini, wanita itu berdiri di depan Yi Yuen dengan wajah yang telah basah dengan air mata. "Jika dulu dan saat ini aku tidak mampu untuk membantumu, maka biarkan aku membantumu untuk masa akan datang." Dewi Bulan mengeluarkan sebuah kitab dari balik jubahnya. "Aku tahu kamu belum mengingat sepenuhnya tentang masa lalumu dan aku sudah menulisnya dalam kitab ini. Bacalah dan pelajarilah apa yang ada di dalamnya. Aku akan menunggumu datang di Istana Khayangan untuk membalaskan perbuatan mereka terhadapmu dan juga pada putra dan menantuku."

Yi Yuen menatap wajah Dewi Bulan yang perlahan menghilang. Di saat bersamaan, tubuhnya melemah dan terkulai jatuh ke tanah.

To Be Continued...
banditos69
tet762
tombbrader
tombbrader dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.