Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#70
Chapter 46


Qiang terkejut saat Putri Anchi mengatakan sesuatu yang membuatnya menatap gadis itu lekat. "Apa yang baru saja kamu katakan?"

"Gadis itu dan ibunya tidak akan pernah bisa merebutmu dan ayah dari aku dan juga ibuku. Mereka tidak pantas untuk kalian cintai. Qiang, sekuat apapun kamu dan ayahku melindungi mereka, maka sedekat itu pula mereka dengan kematian. Aku mohon tinggalkan gadis itu dan datanglah padaku, maka aku akan berusaha untuk melindungimu."

Semua yang diucapkan Putri Anchi sungguh membuat Qiang terkejut. Secara tidak langsung, Putri Anchi sudah mengungkapkan sesuatu yang selama ini dia cari. "Maksudmu, kamu tahu siapa dalang di balik kekacauan waktu itu?"

Untuk sesaat, gadis itu terdiam dan mulai menyadari perkataan yang tidak seharusnya dia ucapkan di depan Qiang. "Maksudku ... "

"Putri Anchi, apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan?"

"Qiang, aku hanya memperingatkanmu karena aku tahu kamu akan dalam bahaya jika terus berada di dekat gadis itu dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padmu. Qiang, aku mohon jangan temui dia dan tetaplah di sini bersamaku." Putri Anchi menangis. Wajahnya terlihat basah dengan air mata, tapi lagi-lagi Qiang tidak peduli padanya.

"Maaf, sebaiknya kamu pergi. Aku harus beristirahat." Qiang lantas membuka pintu rumahnya dan meninggalkan Putri Anchi yang menangis di depan pintu. Dengan perasaan kecewa, gadis itu kemudian pergi.

Sementara Qiang, mulai berpikir keras tentang apa yang diucapkan Putri Anchi padanya. "Apa mungkin kejadian itu dilakukan atas perintah Putri Anchi dan ibunya? Tapi, apa kedua wanita itu mampu melakukannya tanpa bantuan dari orang lain?"

Ucapan Putri Anchi masih terngiang di telinganya. Seakan, itu adalah sebuah ancaman agar dirinya tidak lagi menemui Yi Yuen. "Tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkannya demi apapun. Yi Yuen, aku pasti akan melindungimu."

Qiang lantas keluar dari rumah dan bermaksud bertemu dengan Li Quan di ruangan pribadi gurunya itu, tapi seorang mata-mata yang ditugaskan olehnya datang menemuinya sambil berlari ke arahnya. "Ada apa?"

"Tuan, gawat!"

"Apa maksudmu?"

"Aku baru saja mendapat laporan yang menyebutkan bahwa Dewa Hitam telah mengerahkan anak buahnya untuk kembali menyerang manusia."

Mendengar ucapan anak buahnya itu, Qiang lantas bergegas menuju ruangan Li Quan. Pemuda itu terlihat khawatir.

"Apa? Mereka kembali menyerang manusia?"

"Iya, Guru."

Li Quan lantas mengambil jubah perang dan memakainya. Lelaki itu kemudian keluar dari ruangannya dan diikuti oleh Qiang yang juga telah mengenakan jubah perang miliknya.

Melihat Raja Khayangan yang telah bersiap dengan jubah perang membuat penghuni Istana Khayangan menjadi gempar. Jika Raja Khayangan telah mengenakan jubah perangnya, itu menandakan kalau keadaan telah genting.

"Putraku, apa yang terjadi? Kenapa kamu memakai jubah perangmu?" tanya Dewi Keabadian saat melihat putranya yang telah bersiap pergi.

"Dewa Hitam kembali menyerang manusia. Ibu, maafkan aku karena aku harus pergi melindungi istri dan juga anakku." Qiang kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan ibunya yang masih mengikutinya dari belakang.

"Putraku, tunggu! Jangan lakukan ini karena tubuhmu bisa menghilang jika kamu sampai membunuh manusia." Dewi Bulan berusaha menghentikan putranya itu, tapi dia tidak berhasil dan hanya bisa melihat putranya menghilang dalam sekelebat.

Seluruh pasukan istana dikerahkan untuk mencari bukti konspirasi yang mungkin saja terjalin antara Dewa Hitam dan dewa penghuni Istana Khayangan. Atas perintah Li Quan, satu persatu kediaman para dewa lantas digeledah, tapi setelah melakukan penggeledahan di semua tempat, mereka tidak mendapatkan hasil apapun, bahkan di kediaman Dewa Perang yang menjadi target penggeledahan.

Tak hanya Istana Khayangan yang mengalami suasana genting. Di alam manusia suasana terlihat kacau. Kali ini, anak buah Dewa Hitam benar-benar melakukan penyerangan besar-besaran. Satu persatu manusia mulai dirasuki dan membunuh setiap orang yang ada di depannya. Mayat-mayat bergelimpangan dengan luka gigitan dan cakaran yang membuat tubuh mereka robek. Suasana damai di tempat itu seketika berubah mencekam.

Orang-orang berusaha untuk melarikan diri. Bahkan, sebuah keluarga yang selalu bersama kini telah tercerai berai. Suara tangisan anak kecil dan teriakan wanita terdengar memilukan.

Yi Yuen dan Kangjian lantas mencoba menyelamatkan beberapa orang yang berlari ketakutan di depan kedai. Tak hanya mereka, Zhi Ruo dan Ling juga melakukan hal yang sama. Kedai kini penuh sesak dengan warga yang mereka selamatkan.

Pasukan istana bahkan tidak bisa berkutik. Pintu gerbang istana ditutup rapat atas perintah raja. Warga yang meminta perlindungan dari istana hanya bisa berdiri di depan pintu gerbang yang tertutup dengan isakan tangis yang memilukan. Wajah-wajah penuh ketakutan dan putus asa hanya bisa menatap nanar atas keputusan raja yang tidak ingin melindungi rakyatnya sendiri.

Pangeran Muda yang melihat kejadian itu cukup membuatnya kecewa dengan sikap ayahnya. Pemuda yang menjadi calon raja selanjutnya itu lantas memerintahkan untuk membuka pintu gerbang dan membawa masuk rakyatnya itu ke istana.

"Pangeran, jangan lakukan itu. Jika satu saja yang masuk ke istana, maka yang lainnya juga harus masuk. Lagipula, istana tidak bisa menampung warga yang jumlahnya tak sedikit." Seorang Perdana Menteri mencoba membujuk Pangeran Muda.

"Baik, jika kalian tidak membiarkan meraka masuk, maka aku yang akan keluar menemui mereka. Kalian sangat pengecut hingga tak peduli dengan rakyat kalian sendiri." Pangeran Muda lantas bergegas naik ke atas kudanya. "Jika di antara kalian masih ada yang punya hati nurani, silakan ikut aku dan kita sama-sama melindungi rakyat kita." Pangeran Muda terlihat gagah berani di atas kuda. Tanpa rasa takut, dia kemudian memerintahkan penjaga membuka pintu gerbang. Pemuda itu lantas keluar seorang diri, tapi tak lama kemudian, Wang Wei dan beberapa anak buah yang loyal pada Pangeran Muda ikut keluar dan mengikutinya dari belakang. Tak hanya mereka, siluman rubah berekor delapan yang selama ini menjaganya tiba-tiba muncul dan ikut bergabung dengan mereka. Melihat siluman rubah dan beberapa anak buah setianya itu, Pangeran Muda tersenyum.

"Ayo, bawa mereka pergi dari sini," perintah Pangeran Muda sambil menggiring para penduduk untuk menjauh dari tempat itu.

Mereka lantas bergerak menjauh dari tempat di mana menjadi awal dari kemunculan anak buah Dewa Hitam. Mereka berusaha untuk menjauh, setidaknya itu yang dipikirkan oleh Pangeran Muda, tapi rupanya itu tidak berhasil karena anak-anak dan para wanita mulai kelelahan hingga menghambat pergerakan mereka.

Sementara Yi Yuen, terpaksa harus turun tangan untuk melawan. Hanya dirinya dan Ling yang bisa menghentikan mereka. Karena itulah, dia memutuskan untuk menghadapi manusia-manuisa yang dirasuki itu.

"Ibu, tunggulah di sini bersama Kangjian dan para penduduk. Aku dan Bibi akan mencoba menghalangi mereka mendekati kedai kita."

"Pergilah, Nak, Ibu tidak akan melarangmu. Jaga dirimu baik-baik dan segeralah kembali pada Ibu."

Yi Yuen mengangguk dan memeluk ibunya. Sebelum pergi, dia sempat melayangkan pandangannya pada penduduk yang terlihat ketakutan. "Berdiamlah kalian di sini dan jangan pernah keluar dari tempat ini," ucapnya pada penduduk desa yang menatap haru ke arahnya.

"Bibi, ayo kita pergi."

"Baik, Dewi."

Kedua gadis itu lantas keluar setelah Kangjian membuka pintu kedai dan menutupnya kembali setelah kedua gadis itu telah pergi. Mereka berdua kemudian berjalan menyusuri jalanan yang terlihat sepi. Yi Yuen menggenggam pedang yang memancarkan cahaya kebiruan dan Ling telah bersiap dengan pedang yang didapatnya setelah melakukan meditasi. Mereka masih terus berjalan dan memperhatikan di sekitar tempat itu dan mereka menghentikan langkah saat di depan sudah berdiri tujuh orang yang dirasuki.

"Bibi, bersiaplah."

Tanpa menjawab, Ling lantas maju dan diikuti Yi Yuen di sampingnya. Keduanya menyerang tanpa ampun. Kali ini, pedang yang digunakan oleh Ling tak hanya membunuh bayangan hitam saja, tapi pedangnnya telah mampu membunuh manusia yang dirasuki hingga membuatnya lebih mudah dalam membantu Yi Yuen.

Kedua gadis itu terlihat lincah dengan gerakan menyerang yang begitu gesit. Tebasan pedang keduanya mampu membunuh tanpa ampun hingga manusia yang dirasuki terlihat ketakutan. Itu bukan tanpa alasan, karena mereka sendiri tahu bagaimana kehebatan dua gadis yang kini sedang mereka hadapi. Karena itu, mereka mulai melancarkan siasat. Kedua gadis itu akan digiring untuk menjauh agar berpisah. Setidaknya, jika kedua gadis itu tidak bersama, maka mudah bagi mereka untuk dikalahkan.

Namun, Yi Yuen dan Ling yang mulai menyadari siasat mereka tidak terpengaruh sedikitpun. Walau kedua gadis itu menyerang dengan posisi yang sedikit berjauhan, tidak membuat kekuatan keduanya berkurang. Bahkan, kedua gadis itu semakin melancarkan serangan hingga ketujuh manusia yang dirasuki terkapar di tanah.

Baru saja Yi Yuen dan Ling berhasil menumbangkan tujuh manusia yang dirasuki, kini kedua gadis itu harus kembali menghadapi gerombolan dari manusia dirasuki yang menatap tajam dan seketika maju menyerang secara bersamaan. Yi Yuen dan Ling tidak bisa menghindar saat gerombolan itu merangsek maju dan mulai menyerang.

Walau cukup banyak yang menyerang, nyatanya kedua gadis itu masih mampu menyeimbangi serangan mereka. Hingga konsentrasi Yi Yuen terpecah saat melihat seorang gadis kecil yang bersembunyi di balik sebuah meja kecil yang ada di tempat itu. Sontak, dia berlari ke arah anak kecil itu saat melihat salah satu manusia yang dirasuki juga melihat ke arah anak kecil itu. Senyum sinis terlihat dari wajah manusia yang dirasuki saat cakaran tangannya bersiap mengarah ke tubuh gadis kecil itu. Yi Yuen lantas melesat dengan cepat dan berdiri melindungi gadis kecil itu. Lengannya seketika berdarah saat cakaran tangan dari manusia dirasuki berhasil mendarat di lengannya itu.

Tak peduli dengan darah dan rasa sakit yang dideritanya, Yi Yuen lantas meletakkan anak kecil itu dipunggungnya dan diikat dengan sobekan hanfu agar tidak terlepas. Darah segar keluar dari lengannya yang telah sobek, tapi tidak membuatnya mundur selangkah pun. Melihat Yi Yuen terluka, membuat Ling semakin melancarkan serangannya hingga satu persatu mati di tangannya.

Walau telah berhasil dibunuh, nyatanya jumlah mereka semakin banyak seakan mereka tidak ada habis-habisnya.

"Dewi, sebaiknya kita mundur dan mengobati lukamu itu. Jika dibiarkan, kamu bisa dalam bahaya," ucap Ling yang sudah berdiri di samping Yi Yuen.

Keputusan mereka untuk mundur memang harus dilakukan. Jika mereka memaksakan diri untuk tetap bertarung, mereka pasti akan kalah karena luka yang diderita Yi Yuen akan membuat gadis itu kesulitan. Keduanya lantas memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Kekuatan ilmu meringankan tubuh rupanya cukup ampuh hingga membuat mereka melesat dengan kecepatan tinggi dan menghilang seketika dari tempat itu.

Di depan sebuah kedai yang ditinggalkan penghuninya, mereka berhenti. Gadis kecil kemudian diturunkan dari punggung Yi Yuen. "Bersembunyilah di sini dan jangan keluar sampai keadaan telah aman. Apa kamu mengerti?" tanya Yi Yuen yang menatap gadis kecil itu lekat.

"Baik, Kak." Gadis kecil itu kemudian memeluk Yi Yuen. "Terima kasih." Gadis itu kemudian masuk dan bersembunyi di dalam kedai itu.

Setelah memastikan keadaan gadis kecil itu telah benar-benar aman, mereka lantas pergi. Ling menatap liar mencari-cari tanaman obat yang mungkin bisa ditemukannya di dalam sebuah kedai obat yang tidak terlalu besar. Kedai obat yang sudah ditinggalkan pemiliknya itu rupanya memiliki persediaan obat yang cukup lengkap.

"Dewi, duduklah. Aku akan membalut lukamu itu."

Yi Yuen lantas duduk dan membiarkan Ling membalut lukanya yang nyatanya cukup parah. Lengannya itu mengalami robek yang cukup dalam. Darah yang sedari tadi mengalir, kini mulai terhenti saat Ling sudah menutupi luka itu dengan tanaman obat.

"Dewi, apa kamu masih mampu untuk bertarung?"

"Bibi, kalaupun aku harus mati, aku rela. Aku tidak mungkin membiarkan mereka melukai penduduk dan juga ibuku. Aku tidak ingin mereka menyentuh orang-orang yang aku sayangi. Karena itu, walau harus mati sekalipun, aku tidak akan pernah mundur."

"Baiklah, kalau begitu kita maju bersama-sama dan jangan biarkan mereka menyentuh orang-orang yang kita sayangi." Yi Yuen mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya.

"Ayo, kita habisi mereka!"

Baru saja Ling dan Yi Yuen keluar dari kedai, kedua gadis itu sudah ditunggu oleh manusia yang dirasuki. Kali ini, jumlah mereka sangat banyak. Ling dan Yi Yuen kini menatap puluhan manusia dirasuki yang menatap tajam ke arah mereka. Wajah-wajah menyeringai dengan senyum sinis yang siap menyerang kapan saja. Tanpa komando, satu persatu dari mereka mulai maju dan menyerang Yi Yuen dan Ling secara bersamaan.

Kedua gadis itu kembali bertarung. Tak peduli dengan luka yang kembali berdarah, Yi Yuen terus melakukan perlawanan. Pedangnya telah berlumuran darah hingga tidak lagi memancarkan warna kebiruan karena sudah tertutup cairan merah itu.

Di saat Yi Yuen dan Ling berjuang sekuat tenaga, Pangeran Muda dan Wang Wei juga dibuat kewalahan. Sekelompok manusia yang dirasuki, kini menghadang mereka. Melihat manusia seperti mayat hidup di depan mereka, penduduk yang dibawa Pangeran Muda terlihat ketakutan.

"Pangeran, bawa mereka pergi dari sini. Biar aku yang akan menghadapi mereka." Siluman rubah ekor delapan yang selama ini menjaga Pangeran Muda lantas maju dan menghadapi mereka. Dan di saat bersamaan, cahaya berwarna putih melesat dari atas langit. Seorang wanita yang mengenakan hanfu berwarna putih dengan hiasan berupa jahitan bunga sakura berwarna merah di lengannya, kini berdiri tepat di depan mereka.

To Be Continued...
kyaikanjeng77
banditos69
tombbrader
tombbrader dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.