- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#68
Chapter 44
Setelah memasuki ruangan itu, mereka cukup terkejut. Pasalnya, di dalam ruangan itu terpampang lukisan wajah dua orang wanita yang memenuhi hampir seluruh sudut di ruangan itu. Wajah dua orang wanita yang membuat Putri Anchi terperanjat. Gadis itu terkejut saat mengetahui ayahnya menyimpan lukisan wajah dua orang wanita yang belum lama ini dilihatnya.
Putri Mu Rong terlihat marah saat melihat lukisan-lukisan itu. Dengan penuh kekesalan, wanita itu mulai merobek-robek beberapa lembar lukisan yang ada di depannya. Wajahnya memerah menahan kemarahan dan kebencian yang membuncah. Tak hanya itu, dia bahkan memerintahkan dua orang pelayan untuk mengumpulkan lukisan-lukisan itu. "Cepat! Kumpulkan semua lukisan itu dan bawa padaku!"
Dua orang pelayan yang diperintah itu lantas mulai mengambil lukisan-lukisan dan mengumpulkannya menjadi satu. Tak satupun lukisan yang tersisa di ruangan itu. Semuanya telah dikumpulkan dan dibawa ke tempat pembakaran. Di dalam tong besar, lukisan-lukisan itu dimasukkan dan api mulai membakar tatkala seorang pelayan mulai menyalakan api. Kepulan asap mengepul dan kobaran api mulai melahap setiap lukisan hingga hangus menjadi serpihan abu.
Wajah kesal dan cemburu tidak bisa disembunyikan Putri Mu Rong saat melihat wajah di lukisan itu. Wajah wanita yang terlihat cantik itu nyatanya tak bisa hilang dari pikirannya. Wajah wanita yang sudah membuat Li Quan tak peduli lagi padanya.
Sementara Putri Anchi masih bergolak dengan perasaannya. Dia tidak menyangka, ayah yang selama ini dikaguminya ternyata memiliki wanita lain. Bahkan, memiliki seorang putri yang nyatanya telah membuatnya terluka. Gadis itu mengepal tangannya dan bergegas meninggalkan tempat pembakaran. Putri Mu Rong yang melihatnya pergi, lantas mengikutinya.
"Putriku, kamu mau ke mana?" tanya Putri Mu Rong saat melihat putrinya itu bergegas pergi.
"Aku ingin menemui mereka. Bagaimana bisa mereka merebut ayah dan Qiang dariku. Aku tidak akan membiarkan ibu dan anak itu merebut apa yang sudah menjadi milikku."
Putri Mu Rong terkejut mendengar ucapan Putri Anchi yang ternyata mengetahui kedua wanita yang ada di lukisan itu. "Tunggu dulu! Putriku, apa kamu mengenali mereka?"
Putri Anchi menghentikan langkahnya dan menatap ibunya lekat. "Gadis yang ada di dalam lukisan itu adalah gadis yang sudah merebut Qiang dariku dan wanita yang ada di lukisan itu adalah ibunya yang juga merupakan istri dari ayah. Mereka berdua adalah wanita yang sudah merebut ayah dan Qiang dariku. Aku tidak akan membiarkan mereka bahagia di atas penderitaan kita." Ucapan yang di sertai air mata itu kembali membuat rasa benci di hati Putri Mu Rong kian bertambah. Tak hanya dirinya yang disakiti, putrinya pun tak luput disakiti oleh dua wanita yang sangat dibencinya itu.
"Putriku, jangan lakukan apapun. Sebaiknya, kita temui kakekmu dan biarkan dia yang akan mengurus semuanya."
Kedua wanita itu lantas bergegas menuju kediaman Dewa Perang. Rencana besar yang sudah disiapkan, nyatanya sudah benar-benar terlaksana. Tanpa mereka ketahui, Dewa Perang telah melancarkan kerusakan dan kegaduhan di alam manusia. Dia kembali melakukan kerjasama dengan Dewa Hitam untuk membuat kisruh di alam manusia.
Suasana desa di mana Zhi Ruo bermukim kini mulai gaduh. Orang-orang berlarian dan berusaha menghindar dari beberapa orang lelaki yang memiliki tingkah yang aneh. Mereka seperti mayat hidup yang dikontrol. Suara teriakan dan tangisan terdengar saat satu persatu warga desa menjadi korban. Tanpa ampun, manusia yang dirasuki itu mulai membunuh, tak peduli wanita, pria, atau anak kecil yang ditemui pasti akan menjadi korban keberingasan mereka.
Dari atas lembah tak jauh dari desa, Yi Yuen dan Qiang bisa melihat kegaduhan yang semakin meluas. Asap mengepul dari beberapa tempat hingga membuat Yi Yuen terlihat curiga. "Sepertinya, di desa telah terjadi kekacauan. Qiang, aku harus memeriksa keadaan desa."
Yi Yuen bergegas menemui kedua orang tuanya dan memberitahukan perihal kekacauan yang dilihatnya. Mereka berempat lantas menuju desa dan mereka terkejut saat melihat mayat-mayat bergelimpangan dengan luka yang terlihat mengenaskan.
"Ayah, apa yang terjadi?"
Li Quan memeriksa salah satu mayat dan dia bisa menyimpulkan kalau itu bukanlah ulah manusia.
"Jadi, apa menurut Ayah ini ulah siluman?"
"Bukan, ini ulah Dewa Hitam!"
Mendengar hal itu, Qiang teringat dengan cerita tentang Dewa Hitam yang menyebabkan Dewi Keabadian menghilang. "Guru, apa itu berarti kita tidak bisa membunuh mereka jika mereka masih menguasai tubuh manusia?" Li Quan mengangguk.
"Lantas, bagaimana kita bisa menghentikan kekacauan ini jika kita tidak bisa membunuh mereka? Guru, tidakkah ada cara yang bisa kita lakukan?"
"Qiang, bawa istri dan putriku pergi dari sini. Biar aku yang akan menghadapi mereka."
"Tidak, Ayah! Aku tidak akan membiarkan Ayah melakukannya!" Yi Yuen mencoba melarang ayahnya. "Biar aku yang akan menghadapi mereka. Ayah pergi saja membawa Ibu ke kedai. Qiang, tolong jaga orangtuaku."
Walau enggan membiarkan Yi Yuen menghadapi mereka, tapi hanya itu jalan satu-satunya. Hanya Yi Yuen yang bisa menghadapi mereka. Ling dan Kangjian yang baru saja datang, ikut bergabung dengan Yi Yuen.
"Kangjian, bawa warga yang masih selamat dan suruh mereka untuk bersembunyi. Jangan biarkan mereka keluar."
"Baik, Nona." Kangjian lantas melakukan seperti apa yang diperintahkan Yi Yuen padanya.
Kekacauan yang ditimbulkan ternyata telah membuat kerajaan mengerahkan pasukan menuju tempat kejadian. Wang Wei yang memimpin pasukan bertemu dengan Yi Yuen dan Ling yang sudah bersiap untuk menyerang.
Pasukan yang dipimpin Wang Wei lantas merangsek maju dan menyerang manusia yang dirasuki itu, tapi setiap serangan yang dilancarkan tidak membuahkan hasil. Pedang yang mengenai tubuh mereka tak berhasil meninggalkan luka. Tubuh mereka bagaikan sebuah batu yang tidak mempan untuk dihancurkan.
Melihat keanehan itu, Wang Wei memerintahkan pasukannya untuk mundur. Setengah pasukannya kini telah menjadi korban dari manusia yang dirasuki itu.
Setelah memperhatikan pergerakan dan kekuatan dari manusia yang dirasuki, Yi Yuen mulai maju sambil mengeluarkan tusuk rambut miliknya dari balik jubah. Sebuah pedang yang memancar warna kebiruan kini berada di genggamannya. Bersama Ling, kedua gadis itu maju bersamaan dan mulai menyerang tanpa ampun.
Yi Yuen mengayunkan pedangnya dan menyasar kepala dari setiap manusia yang dirasuki. Walau tak mudah, Yi Yuen berhasil menebas batang leher beberapa orang hingga kepala terlepas dari badan. Bayangan hitam yang keluar dari tubuh tak bernyawa itu kini menjadi incaran Ling. Gadis itu dengan lincah mengarahkan pedangnya ke arah bayangan hitam yang berusaha melarikan diri. Suara erangan terdengar saat satu persatu bayangan hitam berhasil dimusnahkan dalam sekali tebasan pedang.
Wang Wei yang melihat kemampuan kedua gadis itu merasa takjub. Dia tidak menyangka, kedua gadis yang menjadi sahabatnya itu ternyata memiliki kemampuan yang sangat mengagumkan. Keduanya mampu mengimbangi kekuatan masing-masing hingga membuat lawan tidak berkutik.
Tanpa mereka sadari, Dewa Perang memperhatikan Yi Yuen dan Ling dari jauh. Dia cukup terkejut saat melihat kedua gadis itu yang mampu melawan makhluk yang dikirimkannya itu. Apalagi saat melihat Yi Yuen memegang pedang yang memancarkan warna kebiruan hingga membuat lelaki itu semakin tidak percaya dengan apa yang kini dilihatnya.
"Tidak mungkin! Pedang itu sama seperti pedang milik Dewi Keabadian dan gadis itu, dia mampu membunuh manusia-manusia yang sudah dirasuki. Siapa sebenarnya gadis itu? Apa mungkin dia adalah Dewi Keabadian?"
"Dia adalah anak ayahku. Gadis itu adalah anak ayah dari seorang wanita dari kalangan manusia." Putri Anchi tiba-tiba muncul di samping Dewa Perang dan lelaki itu semakin terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Tidak mungkin! Jadi, karena gadis itu dan ibunya, ayahmu tega menyakiti ibumu. Tapi, bagaimana bisa dia memiliki pedang itu? Apa mungkin dia adalah renkarnasi Dewi Keabadian?"
Mendengar penuturan kakeknya itu, Putri Anchi kembali mengarahkan pandangannya ke arah Yi Yuen yang sedang bertarung dengan gesitnya. Gadis itu cukup kagum dengan kemampuan Yi Yuen yang ternyata memiliki kemampuan yang sangat hebat. "Pantas saja waktu itu dia tidak takut padaku, ternyata dia juga memiliki darah seorang dewa."
"Ayo, sebaiknya kita pergi dari sini. Mereka sudah kalah!" Dewa Perang lantas menghilang disusul Putri Anchi yang juga ikut menghilang.
Benar saja, satu persatu manusia yang dirasuki telah mati bergelimang darah. Kepala mereka terlepas dari badan. Bayangn hitam yang mencoba kabur, tak luput dari serangan Ling hingga satu persatu hangus menjadi abu.
Kedua gadis itu lantas memperhatikan mayat-mayat yang bergelimpangan. Yi Yuen kemudian memeriksa tubuh mereka dan dia bisa melihat tubuh tak bernyawa itu mengeluarkan gelembung-gelembung air yang berbau busuk dari permukaan kulit mereka. Ling yang melihat itu lantas mendekat ke arah Yi Yuen. "Mereka memiliki kondisi yang sama dengan yang kita alami di masa lalu," ucap Ling yang membuat Yi Yuen menatap heran padanya.
"Bibi, apa maksud Bibi?"
"Dewi, kejadian ini persis dengan apa yang kita alami waktu itu. Aku tahu kamu masih tidak mengingatnya, tapi melihat tubuh mereka yang mengeluarkan bau busuk dan tidak bisa dibunuh oleh manusia atau dewa sekalipun, aku yakin ada yang mencoba mengulang kejadian lalu. Ada yang ingin menjatuhkan ayahmu!"
"Apa maksud, Bibi?"
"Ada yang menginginkan Ayah membunuh mereka," ucap Li Quan yang tiba-tiba datang bersama Qiang.
"Itu benar," jawab Ling yang membenarkan ucapan Li Quan. "Dewi, saat ini ada yang menginginkan ayahmu mati. Setidaknya, itu yang ada di dalam analisaku. Rencana mereka sama dengan yang mereka lakukan padamu di masa lalu karena mereka tahu, kamu tidak akan membiarkan manusia mati di tangan manusia yang sudah dirasuki itu. Mereka ingin melakukan hal yang sama karena ayahmu tidak akan membiarkanmu dan Nyonya disakiti oleh mereka. Dan jika ayahmu membunuh mereka, maka ayahmu akan bernasib sama sepertimu dulu. Tubuhnya akan menghilang tak berbekas."
Penjelasan Ling membuat Yi Yuen mengepalkan kedua tangannya. Walau dia belum terlalu mengingat apa yang dialaminya di saat terakhirnya di masa lalu, tapi dia tidak akan membiarkan siapapun melukai kedua orang tuanya.
"Putriku, maafkan Ayah karena tidak bisa membantumu menghadapi mereka, tapi Ayah janji akan mencari tahu siapa dalang dibalik kejadian ini."
"Tidak mengapa, Ayah. Tapi, Ayah juga harus berhati-hati karena aku tidak ingin Ayah dilukai oleh mereka."
"Jangan khawatir, Nak. Apapun akan Ayah lakukan untuk melindungimu dan juga ibumu. Sekarang, kembalilah ke kedai. Ibumu pasti mengkhawatirkanmu. Ayah dan Qiang harus segera kembali."
"Baiklah, Ayah."
Sebelum pergi, Qiang masih sempat bicara berdua dengan Yi Yuen. Dia terlihat begitu khawatir pada kekasihnya itu. "Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Qiang sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Aku baik-baik saja. Qiang, tetaplah seperti ini. Jangan pernah kamu ikut campur jika mereka kembali menyerang. Aku tidak ingin kamu menghilang seperti diriku di masa lalu. Ah, andai saja aku ingat siapa dalang dibalik kejadian di masa lalu, aku pasti akan mengejarnya hingga ke ujung dunia." Yi Yuen terlihat kesal karena penggalan kisah di masa lalu belum diingat sepenuhnya.
Walau mengangguk di depan Yi Yuen, nyatanya Qiang tidak bisa membiarkan kekasihnya itu melawan seorang diri. Rasanya, dia ingin menghancurkan manusia yang dirasuki itu dengan pedangnya walau tubuhnya sendiri akan menghilang, tapi janji yang sudah dibuatnya di depan Yi Yuen tidak bisa diingkari olehnya.
"Qiang, aku mohon lindungi ayahku. Aku tahu ada yang berusaha menyingkirkannya. Andai saja aku bisa ke Istana Khayangan, aku akan ke sana dan melindungi ayahku dengan tanganku sendiri. Saat ini, aku juga tidak mungkin meninggalkan ibuku, karena itu tolong bantu aku untuk melindungi ayahku."
Qiang lantas memeluk Yi Yuen dan mengangguk mengiyakan permintaan kekasihnya itu. "Jangan khawatir, aku pasti akan melindungi ayahmu. Sekarang, kembali dan beristirahatlah."
Qiang dan Li Quan akhirnya kembali ke Istana Khayangan. Li Quan tampak marah dengan kejadian yang baru saja terjadi. Dia tidak menyangka, ada yang berusaha menyingkirkan dirinya. "Qiang, mulailah mencari tahu. Sepertinya, ada yang tahu kalau kita berada di alam manusia. Kamu harus mencari tahu siapa di balik semua kejadian ini."
"Baik, Guru."
Sementara di Istana Khayangan, Dewa Perang masih memikirkan gadis yang ternyata anak dari Li Quan. Kehebatan gadis itu rupanya membuat dirinya terkejut. Kekuatan seperti yang dimiliki oleh Dewi Keabadian.
"Ayah, apa rencanamu berhasil?" tanya Putri Mu Rong yang baru saja datang.
Dewa Perang hanya diam dan wanita itu mengerti dengan sikap ayahnya itu. "Apa itu berarti Li Quan akan kembali ke Istana Khayangan? Apa di masih hidup?"
"Diamlah! Biarkan ayahmu ini berpikir!"
Wanita itu terkejut saat dibentak ayahnya sendiri. Dan itu artinya masalah yang sedang dihadapi ayahnya tidaklah gampang. Seketika, wanita itu terlihat ketakutan. Wajahnya memucat karena memikirkan nasibnya saat Li Quan kembali. Dan ketakutannya itu bertambah saat seorang pelayan berlari ke arahnya. "Nyonya, Yang Mulia mencarimu."
"Apa maksudmu?"
"Sepertinya, Yang Mulia marah besar karena semua lukisan di ruangan pribadinya telah hilang."
Putri Mu Rong semakin ketakutan. Dia tidak menyangka kalau masalahnya akan semakin rumit. Dia berusaha mencari alasan untuk bisa dia jelaskan pada suaminya itu, tapi rasanya tidak ada alasan yang bisa dia katakan. Pikirannya seakan buntu hingga satu alasan tiba-tiba muncul dipikirannya.
To Be Continued...
tombbrader dan 3 lainnya memberi reputasi
4