- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
200.5K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#638
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Gue terbangun ketika…… ketika apa yaaaa, seinget gue , gue ga tidur-tidur banget. Malah gue kaget gara-gara bangun udah di sofa bawah. Jir, masa iya gue ngelindur, atau malah digotong jin, yakali dah. Ketika gue inget-inget lagi ternyata emang gue yang pindah gara-gara ga bisa tidur di atas. si gedak ngoroknya kenceng banget.
Waktu gue bangun ternyata yang lain lagi sibuk mempersiapkan makan siang, malah ada yang udah makan siang duluan. Gue coba liat jam di dinding, ternyata udah jam satu siang. Gue ga tau tidur gue cukup atau engga, yang jelas gue ngantuk banget.
Tapi begitu gue cium bau ayam goreng udah mateng, bersamaan dengan perut gue yang udah mulai berasa keroncongan, gue langsung bangun. Gue langsung berjalan menuju ke arah dapur tanpa mempedulikan kanan dan kiri. Tapi tadi gue sempet liat anak-anak ada yang nongkrong di teras sambil ngerokok sih, hahaha.
“Makanan jadi aja langsung bangun lo Tre.” Gue dikejutkan oleh suara yang menyapa gue pertama kali di pagi ini, ada Cindy yang baru aja meletakkan setumpuk ayam goreng yang baru mateng ke atas meja.
“Yaelah Cin, namanya juga laper.” kata gue. “Dari pada lo cuman naro ayam goreng dari dapur ke meja doang.”
“Enak aja lo kalo ngomong, ini gue yang goreng.”
“Masa sih, ga percaya gue.”
“Beneran lah, tanya aja sama yang lain, gini-gini gue juga sering bantu nyokap gue masak di rumah.”
“Iya, masak aer.”
GEPLAK! tangan gue dipukul sama Cindy, terus dia pergi lagi ke dapur sambil nyinyir, sementara gue cuman bisa ketawa.
Baru gue mau duduk, gue malah ngerasa aneh kalau gue akan sendirian. Gue samperin anak-anak yang lain yang lagi pada ngerokok di teras. “Woy, pada makan ga lo pada.”
“Udah mateng?” Karena Rico yang ngejawab, ga gue terusin, karena gue yakin dia bakal ikutan makan. Dan bener, ga lama gue masuk lagi ke dalem Rico nyusul, dan temen-temen gue yang lainnya yang belom makan.
“Giliran makan aja lo pada cepet nyautnya.” kata gue ke yang lain.
“Samanya, lo juga Tre.” Tiba-tiba Cindy dateng dari belakang sambil bawa lauk yang lain, terung langsung di taro di atas meja.
“Cie elah Cin, lagi belajar jadi suami yang baik lo yeee buat Treya.” kata Rico. Cindy ga ngebales, cuman nyinyir ga jelas lagi sambil gabung ke anak-anak yang lain yang ada di dapur.
“Geblek lo Co.”
“Seneng an lo Tre dimasakin sama Cindy.”
“Mau siapa aja yang masakin juga seneng, soalnya gue laper.” Tanpa memperdulikan lagi, gue mulai mengambil nasi dan ayam goreng dan sambelnya juga. Malu juga sih sebenernya di cak-cakin kaya gitu. Apa lagi ada bokap nyokap gue.
Menjelang sore, atau lebih tepatnya sekitar jam tigaan, anak-anak cowok memutuskan buat berenang. Sayang juga sih ada kolam renang tapi ga nyebur, dan untungnya sepi ka aga yang berenang dari penghuni villa lainnya. Gue teringat di bagasi mobil gue selalu ada papan seluncur renang yang entah kenapa selalu dibawa, buru-buru gue ambil buat tambahan mainan dan gue balik lagi ke kolam renang.
Ternyata temen-temen gue udah pada nyebur duluan, dan ada beberapa anak cewek lainnya yang juga ikutan berenang kaya Syifa, Icha, dan Witi. Mereka berenangnya pake kaos dan celana pendek, pakaian sehari-hari lah, yakali bikini, wkwkwk. Sementara itu masih ada juga yang belom nyebur, kaya Cindy dan Dinda, nanti dulu katanya. Karena udah berasa keringetan gue langsung buka kaos dan loncat ke kolam renang.
Semenit, dua menit, lima menit kita main aer. Iya lebih cocok dibilang main aer daripada berenang. Ide seng pun kembali muncul, Ada Cindy dan Dinda yang lagi duduk di pinggir kolam renang. Gue naik ke atas dan berjalan dengan santai ke belakang mereka. Gue dan temen-temen gue udah liat-liatan, mengerti dengan maksud yang akan gue lakukan.
Perlahan-lahan gue mendekat ke arah Cindy dan Dinda, tiba-tiba, Byurrrr, mereka berdua udah basah kuyup gara-gara gue ceburin. Cacian dan makian pun dilontarkan oleh Cindy dan Dinda. Tapi gue ga peduli, gue ambil ancang-ancang dan loncat ke arah dekat mereka, sumpah serapah pun kembali terucap.
Lebih dari tiga puluh menit kita main aer, gue mendekati Cindy untuk memberinya saran. “Cin sini deh gue bilangin.”
“Apaan!? jauh-jauh lo dari gue!” kayaknya dia masih ngambek, hahaha.
“Buset dah galak amat, baik nih gue mau nyaranin lo sesuatu.”
“Yaudah apaan.”
“Nanti kalau lo mau udahan terus buru-buru mandi, mending lo duluan, dari pada di kamar bilas.” Di kolam renangnya emang ada kamar bilas biar ga perlu bilas di villa.
“Emangnya kenapa kalo…..” Belom selesai ngomong, Cindy langsung berhenti begitu ngeliat kamar bilasnya,kayaknya dia ngerti. “Yaudah, sana gih lo jauh jauh dari gue.” Byurrr, gue cipratin lagi airnya di muka dia. “TREYA! anjing lo yeee.” Gue cuman ketawa dan join lagi sama anak-anak yang lain.
Emang kenapa kamar mandinya? ga kenapa-kenapa sih, cuman serem aja. Hawanya ga enak. Gue juga mending nunggu yang lainnya buat mandi di kamar mandi villa daripada di kamar bilas. Temen-temen gue yang mandi di kamar bilas juga ngomel gara-gara ga gue kasih tau. ‘pantesan hawanya ga enak’ katanya. Sebelum kelar, kita yang cowok-cowok sempet foto-foto topless dulu ala-ala film realita cinta rock and roll, hahaha.
Malam harinya sekitar jam sembilan, kita mutusin buat ke warpat. Buat yang belum tau kenapa disebut warpat, konon katanya yang pertama kali nemuin tempat ini anak sma patra 82, gatau juga sih, itu pertama kalinya gue ke warpat, dan nemuin banyak stiker sekolah-sekolah lain, termasuk sekolah gue juga. Gue juga ga tau yang mana yang asli soalnya menu yang dijual sama.
Ga terlalu banyak yang bisa diceritain di warpat selain nongkrong, ngerokok, ngobrol-ngrobrol, dan nungguin pancake tipis dan poffertjes ala-ala yang jadinya lama nauzubillah. Lagian ga semuanya juga yang ikut.
Sekitar jam dua belasan kita semua udah balik lagi ke villa. Temen-temen gue langsung pada sibuk sama urusannya masing-masing, ada yang nonton tv, ada yang main kartu di atas, dan kebanyakan langsung pada tidur. kayaknya kecapean dan pada kurang tidur.
Gue sendiri biasanya kalau kurang tidur jam sembilan jam sepuluh udah ngantuk, seperti yang gue rasakan sebelumnya di jam-jam segitu. Tapi begitu lewat dari jam dua belas ngantuk gue langsung ilang gitu aja, kaya tiba-tiba ilang dibawa angin.
Gabut memutuskan gue buat turun ke bawah sambil bawa gitar buat iseng-iseng nanti. Sengaja gue ga ngajak siapa-siapa, kayak lagi pengen keren aja gitu sendirian di teras villa di puncak sambil gitaran dan memandangi kemerlip cahaya kota, cieelah, wkwkwk.
Tapi kayaknya ini bukan keputusan yang gak terlalu baik buat psikis gue, gue malah jadi parno sendiri inget cerita-cerita setan. Kalau tiba-tiba ada mas poci atau mbak kunti numpang lewat kan ga lucu juga, atau misalnya ada delman yang lagi bawa penyanyi sinden, hahaha, lebay sih, namanya juga parno. Mau balik lagi ke atas juga tengsin. Sebisa mungkin gue ilangin pikiran parno gue dengan bermain gitar.
Beruntung, waktu lagi gitaran gue mendengar pintu teras terbuka dan ada suara langkah kaki. Gue kira Rico atau temen cowok gue yang lain yang nyamperin, ternyata Cindy. Yaaaa Cindy temen gue juga sih.
Malam itu Cindy memakai hoodie dan celana pendek. Gak pendek-pendek banget, mungkin tiga perempat paha. Kemudian Cindy menghampiri dan duduk di sebelah gue.
“Sendirian aja Tre?” tanya Cindy.
“Sendirian? ini rame kok.” canda gue.
“Treya! iihhh, gue balik lagi deh keatas.” ambek cindy, tapi buru-buru gue tahan tangannya.
“Jangan dong Cin, gue juga takut sendirian.” kata gue sambil tertawa, sementara Cindy mencibir ga jelas.
Gue memainkan beberapa lagi yang gue tau, maksudnya lagu umum yang mungkin semua orang tau, dan untungnya cindy tau lagunya. Lagu pertama, lagu kedua, lagu ketiga gue mulai ga hafal sama chordnya.
“Gimana sih Tre, salah terus.” omel cindy karena gue berhenti memainkan lagu karena lupa chord.
“Hahaha, lupa gue cin kuncinya, bentar gue liat hp.” sambil gue mengeluarkan hp dan mencari-cari lagu yang akan gue mainkan, gue ngobrol dengan cindy. “Gimana lo sama mantan lo, masih kontak-kontakan?”
“Mana ada udah jadi mantan masih kontok-kontakan.”
“yaaaa kali, kalau putusnya baik-baik kan masih bisa ngobrol.”
“lo lupa putusnya gimana?”
“hehehehe.” gue cuman bisa ketawa bego.
“Lo sendiri gimana Tre?”
“Lo nyindir gue apa gimana si nanyain mantan.”
“Hahaha, maksudnya lo lagi deket sama siapa gitu.”
“lagi deket sama lo, nih cuman beberapa jengkal.”
“gue pukul lo yee tre lama-lama.”
“dibilang lagi deket, nggak juga, dibilang nggak deket engga juga.” jawab gue ga jelas. “Emang kenapa cin?”
“gapapa, nanya doang.” kata cindy. “masih belom move on lo yee dari putri.”
“gatau deh, masih satu sekolah, masih sering ngeliat juga.”
“itu namanya belom move on treya!”
“Hehehe, kali. gue ga ngerti. lo sendiri gimana?”
“Move on sih udah, cuman lagi pengen sendiri aja dulu. zodiak lo apaan sih tre?”
“Taurus, emang kenapa?”
“Pantes, taurus susah move on, susah suka sama orang juga.”
“gue ngerasanya lebih suka semuanya terjadi secara organik aja sih cin.”
“maksudnya?”
“Yaaa biarin semuanya terjadi seperti yang seharusnya terjadi aja, kalau emang nanti gue bakal suka sama seseorang yaaa biarin rasa itu tumbuh sendiri. Bukannya gue ga mau berjuang, tapi seenaknya saat gue berjuang gue tau itu sesuatu yang tepat buat gue perjuangin.”
“Tre, gue boleh ngomong sesuatu ya.”
“Ya.”
“omongan lo tua yeee.” dan cindy malah ketawa-ketawa ga jelas.
“Yeeee, lo sendiri yang mancing-mancing oongan beginian.”
“Dah dah, mending gitaran lagi, ga nemu nemu lo kuncinya.”
Dan akhirnya sisa malam itu gue habiskan bersama Cindy dengan diisi sesi akustikan.
Gue terbangun ketika…… ketika apa yaaaa, seinget gue , gue ga tidur-tidur banget. Malah gue kaget gara-gara bangun udah di sofa bawah. Jir, masa iya gue ngelindur, atau malah digotong jin, yakali dah. Ketika gue inget-inget lagi ternyata emang gue yang pindah gara-gara ga bisa tidur di atas. si gedak ngoroknya kenceng banget.
Waktu gue bangun ternyata yang lain lagi sibuk mempersiapkan makan siang, malah ada yang udah makan siang duluan. Gue coba liat jam di dinding, ternyata udah jam satu siang. Gue ga tau tidur gue cukup atau engga, yang jelas gue ngantuk banget.
Tapi begitu gue cium bau ayam goreng udah mateng, bersamaan dengan perut gue yang udah mulai berasa keroncongan, gue langsung bangun. Gue langsung berjalan menuju ke arah dapur tanpa mempedulikan kanan dan kiri. Tapi tadi gue sempet liat anak-anak ada yang nongkrong di teras sambil ngerokok sih, hahaha.
“Makanan jadi aja langsung bangun lo Tre.” Gue dikejutkan oleh suara yang menyapa gue pertama kali di pagi ini, ada Cindy yang baru aja meletakkan setumpuk ayam goreng yang baru mateng ke atas meja.
“Yaelah Cin, namanya juga laper.” kata gue. “Dari pada lo cuman naro ayam goreng dari dapur ke meja doang.”
“Enak aja lo kalo ngomong, ini gue yang goreng.”
“Masa sih, ga percaya gue.”
“Beneran lah, tanya aja sama yang lain, gini-gini gue juga sering bantu nyokap gue masak di rumah.”
“Iya, masak aer.”
GEPLAK! tangan gue dipukul sama Cindy, terus dia pergi lagi ke dapur sambil nyinyir, sementara gue cuman bisa ketawa.
Baru gue mau duduk, gue malah ngerasa aneh kalau gue akan sendirian. Gue samperin anak-anak yang lain yang lagi pada ngerokok di teras. “Woy, pada makan ga lo pada.”
“Udah mateng?” Karena Rico yang ngejawab, ga gue terusin, karena gue yakin dia bakal ikutan makan. Dan bener, ga lama gue masuk lagi ke dalem Rico nyusul, dan temen-temen gue yang lainnya yang belom makan.
“Giliran makan aja lo pada cepet nyautnya.” kata gue ke yang lain.
“Samanya, lo juga Tre.” Tiba-tiba Cindy dateng dari belakang sambil bawa lauk yang lain, terung langsung di taro di atas meja.
“Cie elah Cin, lagi belajar jadi suami yang baik lo yeee buat Treya.” kata Rico. Cindy ga ngebales, cuman nyinyir ga jelas lagi sambil gabung ke anak-anak yang lain yang ada di dapur.
“Geblek lo Co.”
“Seneng an lo Tre dimasakin sama Cindy.”
“Mau siapa aja yang masakin juga seneng, soalnya gue laper.” Tanpa memperdulikan lagi, gue mulai mengambil nasi dan ayam goreng dan sambelnya juga. Malu juga sih sebenernya di cak-cakin kaya gitu. Apa lagi ada bokap nyokap gue.
Menjelang sore, atau lebih tepatnya sekitar jam tigaan, anak-anak cowok memutuskan buat berenang. Sayang juga sih ada kolam renang tapi ga nyebur, dan untungnya sepi ka aga yang berenang dari penghuni villa lainnya. Gue teringat di bagasi mobil gue selalu ada papan seluncur renang yang entah kenapa selalu dibawa, buru-buru gue ambil buat tambahan mainan dan gue balik lagi ke kolam renang.
Ternyata temen-temen gue udah pada nyebur duluan, dan ada beberapa anak cewek lainnya yang juga ikutan berenang kaya Syifa, Icha, dan Witi. Mereka berenangnya pake kaos dan celana pendek, pakaian sehari-hari lah, yakali bikini, wkwkwk. Sementara itu masih ada juga yang belom nyebur, kaya Cindy dan Dinda, nanti dulu katanya. Karena udah berasa keringetan gue langsung buka kaos dan loncat ke kolam renang.
Semenit, dua menit, lima menit kita main aer. Iya lebih cocok dibilang main aer daripada berenang. Ide seng pun kembali muncul, Ada Cindy dan Dinda yang lagi duduk di pinggir kolam renang. Gue naik ke atas dan berjalan dengan santai ke belakang mereka. Gue dan temen-temen gue udah liat-liatan, mengerti dengan maksud yang akan gue lakukan.
Perlahan-lahan gue mendekat ke arah Cindy dan Dinda, tiba-tiba, Byurrrr, mereka berdua udah basah kuyup gara-gara gue ceburin. Cacian dan makian pun dilontarkan oleh Cindy dan Dinda. Tapi gue ga peduli, gue ambil ancang-ancang dan loncat ke arah dekat mereka, sumpah serapah pun kembali terucap.
Lebih dari tiga puluh menit kita main aer, gue mendekati Cindy untuk memberinya saran. “Cin sini deh gue bilangin.”
“Apaan!? jauh-jauh lo dari gue!” kayaknya dia masih ngambek, hahaha.
“Buset dah galak amat, baik nih gue mau nyaranin lo sesuatu.”
“Yaudah apaan.”
“Nanti kalau lo mau udahan terus buru-buru mandi, mending lo duluan, dari pada di kamar bilas.” Di kolam renangnya emang ada kamar bilas biar ga perlu bilas di villa.
“Emangnya kenapa kalo…..” Belom selesai ngomong, Cindy langsung berhenti begitu ngeliat kamar bilasnya,kayaknya dia ngerti. “Yaudah, sana gih lo jauh jauh dari gue.” Byurrr, gue cipratin lagi airnya di muka dia. “TREYA! anjing lo yeee.” Gue cuman ketawa dan join lagi sama anak-anak yang lain.
Emang kenapa kamar mandinya? ga kenapa-kenapa sih, cuman serem aja. Hawanya ga enak. Gue juga mending nunggu yang lainnya buat mandi di kamar mandi villa daripada di kamar bilas. Temen-temen gue yang mandi di kamar bilas juga ngomel gara-gara ga gue kasih tau. ‘pantesan hawanya ga enak’ katanya. Sebelum kelar, kita yang cowok-cowok sempet foto-foto topless dulu ala-ala film realita cinta rock and roll, hahaha.
Malam harinya sekitar jam sembilan, kita mutusin buat ke warpat. Buat yang belum tau kenapa disebut warpat, konon katanya yang pertama kali nemuin tempat ini anak sma patra 82, gatau juga sih, itu pertama kalinya gue ke warpat, dan nemuin banyak stiker sekolah-sekolah lain, termasuk sekolah gue juga. Gue juga ga tau yang mana yang asli soalnya menu yang dijual sama.
Ga terlalu banyak yang bisa diceritain di warpat selain nongkrong, ngerokok, ngobrol-ngrobrol, dan nungguin pancake tipis dan poffertjes ala-ala yang jadinya lama nauzubillah. Lagian ga semuanya juga yang ikut.
Sekitar jam dua belasan kita semua udah balik lagi ke villa. Temen-temen gue langsung pada sibuk sama urusannya masing-masing, ada yang nonton tv, ada yang main kartu di atas, dan kebanyakan langsung pada tidur. kayaknya kecapean dan pada kurang tidur.
Gue sendiri biasanya kalau kurang tidur jam sembilan jam sepuluh udah ngantuk, seperti yang gue rasakan sebelumnya di jam-jam segitu. Tapi begitu lewat dari jam dua belas ngantuk gue langsung ilang gitu aja, kaya tiba-tiba ilang dibawa angin.
Gabut memutuskan gue buat turun ke bawah sambil bawa gitar buat iseng-iseng nanti. Sengaja gue ga ngajak siapa-siapa, kayak lagi pengen keren aja gitu sendirian di teras villa di puncak sambil gitaran dan memandangi kemerlip cahaya kota, cieelah, wkwkwk.
Tapi kayaknya ini bukan keputusan yang gak terlalu baik buat psikis gue, gue malah jadi parno sendiri inget cerita-cerita setan. Kalau tiba-tiba ada mas poci atau mbak kunti numpang lewat kan ga lucu juga, atau misalnya ada delman yang lagi bawa penyanyi sinden, hahaha, lebay sih, namanya juga parno. Mau balik lagi ke atas juga tengsin. Sebisa mungkin gue ilangin pikiran parno gue dengan bermain gitar.
Beruntung, waktu lagi gitaran gue mendengar pintu teras terbuka dan ada suara langkah kaki. Gue kira Rico atau temen cowok gue yang lain yang nyamperin, ternyata Cindy. Yaaaa Cindy temen gue juga sih.
Malam itu Cindy memakai hoodie dan celana pendek. Gak pendek-pendek banget, mungkin tiga perempat paha. Kemudian Cindy menghampiri dan duduk di sebelah gue.
“Sendirian aja Tre?” tanya Cindy.
“Sendirian? ini rame kok.” canda gue.
“Treya! iihhh, gue balik lagi deh keatas.” ambek cindy, tapi buru-buru gue tahan tangannya.
“Jangan dong Cin, gue juga takut sendirian.” kata gue sambil tertawa, sementara Cindy mencibir ga jelas.
Gue memainkan beberapa lagi yang gue tau, maksudnya lagu umum yang mungkin semua orang tau, dan untungnya cindy tau lagunya. Lagu pertama, lagu kedua, lagu ketiga gue mulai ga hafal sama chordnya.
“Gimana sih Tre, salah terus.” omel cindy karena gue berhenti memainkan lagu karena lupa chord.
“Hahaha, lupa gue cin kuncinya, bentar gue liat hp.” sambil gue mengeluarkan hp dan mencari-cari lagu yang akan gue mainkan, gue ngobrol dengan cindy. “Gimana lo sama mantan lo, masih kontak-kontakan?”
“Mana ada udah jadi mantan masih kontok-kontakan.”
“yaaaa kali, kalau putusnya baik-baik kan masih bisa ngobrol.”
“lo lupa putusnya gimana?”
“hehehehe.” gue cuman bisa ketawa bego.
“Lo sendiri gimana Tre?”
“Lo nyindir gue apa gimana si nanyain mantan.”
“Hahaha, maksudnya lo lagi deket sama siapa gitu.”
“lagi deket sama lo, nih cuman beberapa jengkal.”
“gue pukul lo yee tre lama-lama.”
“dibilang lagi deket, nggak juga, dibilang nggak deket engga juga.” jawab gue ga jelas. “Emang kenapa cin?”
“gapapa, nanya doang.” kata cindy. “masih belom move on lo yee dari putri.”
“gatau deh, masih satu sekolah, masih sering ngeliat juga.”
“itu namanya belom move on treya!”
“Hehehe, kali. gue ga ngerti. lo sendiri gimana?”
“Move on sih udah, cuman lagi pengen sendiri aja dulu. zodiak lo apaan sih tre?”
“Taurus, emang kenapa?”
“Pantes, taurus susah move on, susah suka sama orang juga.”
“gue ngerasanya lebih suka semuanya terjadi secara organik aja sih cin.”
“maksudnya?”
“Yaaa biarin semuanya terjadi seperti yang seharusnya terjadi aja, kalau emang nanti gue bakal suka sama seseorang yaaa biarin rasa itu tumbuh sendiri. Bukannya gue ga mau berjuang, tapi seenaknya saat gue berjuang gue tau itu sesuatu yang tepat buat gue perjuangin.”
“Tre, gue boleh ngomong sesuatu ya.”
“Ya.”
“omongan lo tua yeee.” dan cindy malah ketawa-ketawa ga jelas.
“Yeeee, lo sendiri yang mancing-mancing oongan beginian.”
“Dah dah, mending gitaran lagi, ga nemu nemu lo kuncinya.”
Dan akhirnya sisa malam itu gue habiskan bersama Cindy dengan diisi sesi akustikan.
japraha47 dan 20 lainnya memberi reputasi
21