Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#65
Chapter 42


Sejak bertemu dengan Zhi Ruo, Li Quan lebih banyak mengurung diri di ruangan pribadinya. Bukan tanpa alasan. Lelaki itu semakin menyukai melukis hingga membuatnya berlama-lama di ruangan itu untuk sekadar melukis wajah kekasih hati yang belum lama ini ditemuinya. Rasanya, sebulan terlalu lama hingga membuatnya harus menahan rindu yang semakin membuatnya resah.

Tatapan mata Li Quan tampak berbinar saat melihat hasil lukisan yang baru saja dibuatnya. Wajah cantik yang terlukis di atas kertas putih tampak berseri dengan senyum yang merekah indah. Li Quan tersenyum dan menyentuh wajah di lukisan itu hingga membuatnya terpana. "Aku sangat bahagia karena kita telah bertemu kembali. Istriku, aku pasti akan menemuimu lagi."

Tak hanya Li Quan yang tampak bahagia. Di kamarnya, Qiang juga sedang merasakan hal yang sama. Pemuda itu tampak berseri saat mengingat kebersamaannya bersama Yi Yuen. Gadis itu nyatanya sudah berhasil membuatnya jatuh cinta. Entah dulu ataupun kini, cinta itu masih tetap sama. Bahkan, cintanya kini semakin kuat hingga membuatnya tak ingin melepaskan gadis itu lagi.

Di saat Qiang sedang membayangkan tentang Yi Yuen, pemuda itu tiba-tiba merasa terusik saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Dengan langkah malas, dia segera bangkit dan membuka pintu.

Di depannya, Putri Anchi tengah berdiri sambil mengarahkan senyum padanya. Di tangan gadis itu, ada sebuah bungkusan yang ditentengnya. "Apa boleh aku masuk?" tanya gadis itu sambil tersenyum.

"Masuklah."

Qiang mempersilakan Putri Anchi untuk masuk. Wajah gadis itu tersenyum saat masuk ke ruangan itu. Bungkusan yang dibawa olehnya lantas diletakkan di atas meja. "Aku membawakan makanan untukmu. Kamu pasti lelah karena baru menyelesaikan tugas dari ayahku. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."

Putri Anchi lantas membuka bungkusan itu dan mengambil beberapa lauk pauk dan diletakkan di atas sebuah piring kecil. "Ayo, makanlah."

Piring kecil itu lantas disodorkan pada Qiang yang tersenyum padanya. Qiang tampak lahap saat menyantap makanan yang diberikan Putri Anchi padanya. Sedangkan gadis itu tampak tersenyum saat Qiang menerima makanannya itu dan mulai melahapnya.

"Apa kamu menyukai makanan yang kubawa untukmu?" tanya Putri Anchi sambil memberikan segelas air minum pada Qiang.

"Putri Anchi, aku menyukai makanan yang kamu bawa padaku, tapi itu tidak perlu lagi. Mulai saat ini, jangan lagi menemuiku dan membawakanku makanan. Aku tidak ingin membuatmu mengalami masalah karena selalu menemuiku di sini."

Wajah cantik gadis itu tiba-tiba cemberut saat mendengar ucapan Qiang. Namun, dia kembali tersenyum dan meraih tangan pemuda itu dan membawanya ke luar dari tempat itu.

"Mulai sekarang, aku akan sering datang ke sini karena aku akan belajar bersamamu. Ayo, cepatlah. Ajari aku jurus baru yang waktu itu diajarkan ayah padamu. Aku juga ingin belajar agar aku bisa tunjukan pada ayah kalau aku juga bisa bertarung."

Qiang tidak bisa mengelak saat Putri Anchi menarik tangannya dan memintanya untuk memperlihatkan jurus yang baru-baru ini diajarkan Li Quan padanya. Di saat Qiang memperagakan jurusnya itu, Putri Anchi tampak tersenyum sambil memperhatikan pemuda itu yang terlihat gagah. Putrinya Anchi menatapnya tanpa kedip dengan tangan kanan yang menopang dagunya. "Qiang, apa kamu tahu kalau aku sangat menyukaimu? Ah, rasanya aku ingin berterus terang tentang perasaanku padamu, tapi aku takut mendengar jawabanmu," ujar gadis itu pelan.

Perasaan suka yang dia rasakan sejak kecil nyatanya telah tumbuh menjadi benih-benih cinta yang sulit untuk dielaknya. Ketampanan, perhatian, dan kepedulian Qiang padanya telah membuat hatinya luluh dan merasakan debar yang berbeda. Gadis itu nyatanya telah jatuh cinta.

Sejak dia merasakan sesuatu yang berbeda tentang perasaannya pada Qiang, gadis itu perlahan mulai menunjukan perhatiannya. Sesekali, dia datang ke kediaman Qiang untuk membawakan apa yang disukai pemuda itu. Terkadang, dia menunjukan sikap manja yang membuat Qiang merasa kurang nyaman.

Dua minggu setelah meninggalkan Yi Yuen, nyatanya rasa rindu mulai mengganggunya. Apalagi, dia mulai merasa kalau sikap Putri Anchi terlalu berlebihan padanya. Rasanya, dia tidak ingin berlama-lama berada di dekat gadis itu, tapi dia tidak bisa mengusir atau mengelak saat gadis itu ingin bertemu dengannya.

"Qiang, apa kamu ingin pergi?" tanya Putri Anchi saat bertemu Qiang yang akan meninggalkan pelataran halaman rumahnya.

"Maaf, aku harus pergi sebentar. Ada tugas yang diberikan ayahmu dan aku harus menyelesaikannya segera."

Qiang lantas pergi. Melihatnya pergi, Putri Anchi terlihat kecewa. Walau dia sudah berusaha mendekati Qiang, tapi nyatanya pemuda itu selalu berusaha menjaga jarak dengannya. Bahkan, akhir-akhir ini, pemuda itu terlihat sibuk dengan urusan yang dia sendiri tidak paham. "Kenapa ayah selalu memberikannya tugas ke alam manusia? Sebenarnya, tugas apa yang sudah ayah berikan untuknya?"

Karena penasaran, Putri Anchi mengikuti Qiang secara diam-diam. Rupanya, dia tahu jalan pintas selain pintu langit yang pernah dilaluinya bersama Qiang. Tanpa sepengetahuan pemuda itu, Putri Anchi telah keluar dari Istana Khayangan dan mengikutinya dari belakang.

Putri Anchi terus berjalan di belakang Qiang yang masih tidak menyadari keberadaannya. Hingga langkahnya terhenti saat melihat pemuda itu berhenti di depan salah satu kedai. Putri Anchi terus memperhatikan dan dia cukup terkejut saat melihat seorang gadis keluar dari dalam kedai dan memeluk Qiang dengan mesra.

Putri Anchi tercekat. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Qiang membalas memeluk gadis itu dan masuk ke dalam kedai. Putri Anchi terduduk dengan air mata yang perlahan jatuh. "Qiang, apa karena dia kamu menghindar dariku? Apa kamu sadar dengan perbuatanmu itu?" Putri Anchi menyeka air matanya dan dia kembali melihat ke arah kedai yang tampak ramai dengan pengunjung. Gadis itu masih menunggu hingga dia kembali dikejutkan dengan kemunculan Qiang bersama gadis tadi. Mereka terlihat mesra dengan senyum yang selalu mengembang. Mereka berdua lantas meninggalkan kedai sambil bergandengan tangan.

Putri Anchi lantas mengikuti mereka dari belakang. Rasa sakit dan cemburu mulai bermain di hatinya. Rasanya, dia tidak sanggup melihat kemesraan yang ditunjukan Qiang dan gadis itu, tapi dia memaksakan hatinya untuk bisa bertahan. Dia hanya ingin memastikan apa yang disangkakan olehnya tidaklah benar. Sangkaan kalau Qiang tidak akan pernah mungkin menjalain kasih dengan seorang gadis dari kalangan manusia.

Sementara Qiang, tampak bahagia karena telah bertemu dengan Yi Yuen yang kini berjalan mesra di sampingnya. Gadis itu tersenyum riang saat Qiang membelikannya sebuah cincin giok berwarna hijau. Cincin yang terlihat indah itu kini melingkar di jari manisnya.

"Apa kamu suka?" tanya Qiang setelah memakaikan cincin itu di jari manis Yi Yuen. Gadis itu mengangguk sambil menatap cincin yang telah melingkar indah di jarinya. Tanpa mereka sadari, ada hati yang patah melihat kedekatan dan kemesraan mereka hingga hampir membuatnya melakukan kesalahan fatal. Putri Anchi telah bersiap dengan sinar hitam di ujung jarinya. Dia ingin membunuh gadis yang kini bersama Qiang dengan sinar mematikan yang keluar dari ujung jarinya itu. Dia seakan tak peduli dengan larangan untuk membunuh manusia. Namun, niatnya itu tertahan saat suasana di tempat itu tiba-tiba kisruh. Seorang lelaki terlihat mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Tatapan matanya kosong dengan sikap yang terlihat aneh.

Yi Yuen dan Qiang tidak beranjak saat orang-orang berlari dan menghindar dari amukan lelaki itu. Mereka berdua menatap lekat ke arah lelaki yang kini menyeringai di depan mereka.

"Yi Yuen, apa kamu lihat aura jahat di tubuh lelaki itu?" tanya Qiang yang dibalas anggukan oleh Yi Yuen.

"Ya, aku melihatnya. Sepertinya, dia dirasuki."

Yi Yuen lantas maju dan berdiri di depan lelaki yang kini tertawa sinis di depannya. "Pergi kamu dari sini. Aku tidak punya urusan denganmu!" seru lelaki itu kasar.

"Aku akan pergi, tapi sebelum itu keluarlah dari tubuhnya. Setelah itu, aku akan memikirkan untuk mengampunimu atau tidak." Yi Yuen tak beranjak hingga membuat lelaki itu tertawa.

"Apa kamu ingin aku keluar dari tubuhnya? Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?"

Yi Yuen maju selangkah dan menatapnya lekat. "Aku masih berbaik hati padamu dan sudah memperingatkanmu, tapi jika itu pilihanmu, aku tidak. akan keberatan untuk menghadapimu."

Yi Yuen menarik tusuk rambut dari balik jubahnya yang sekejap saja berubah wujud menjadi sebuah pedang berwarna kebiruan. Sontak, lelaki itu terkejut. Begitupun dengan Putri Anchi yang tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

"Pedang itu ... ? Tidak mungkin!" Gadis itu terkejut bukan kepalang. Walau tidak terlalu yakin dengan apa yang dilihatnya, tapi dia tahu siapa pemilik pedang itu. Pemilik satu-satunya yang merupakan seorang dewi.

Putri Anchi terus memperhatikan mereka. Sementara Yi Yuen, tampak bersiap saat satu serangan dari lelaki itu mengarah padanya. Serangan yang membuat Qiang tidak tinggal diam. Walau dia tahu, dia tidak bisa membunuh manusia, tapi dia tidak bisa membiarkan Yi Yuen menghadapi lelaki itu sendirian.

"Qiang, jangan lakukan apapun, minggirlah!" Yi Yuen berseru saat melihat Qiang yang berusaha membantunya, tapi pemuda itu bergeming. Bagaimana bisa dia melihat gadis yang dicintainya itu menghadapi serangan bertubi-tubi tanpa dibantu olehnya. Di saat Qiang enggan pergi, Ling datang dan membantu Yi Yuen. Kolaborasi kedua gadis itu nyatanya mampu membuat lelaki yang dirasuki itu tersadar saat cahaya kebiruan yang terpancar dari pedang Yi Yuen mengarah ke tubuhnya. Pancaran cahaya yang hanya bisa dilihat oleh dewa ataupun makhluk tak kasat mata. Pancaran cahaya yang bisa mematikan para dewa dan makhluk astral tanpa ampun.

Putri Anchi semakin terkejut saat melihat pancaran cahaya itu. Apalagi, dia melihat Ling yang terlihat berbeda dengan manusia biasa. Dia bisa melihat wujud asli gadis itu yang merupakan siluman rubah.

"Siapa sebenarnya mereka? Gadis itu rupanya memiliki kemampuan yang cukup hebat. Mereka berdua tidak bisa dianggap remeh," batin Putri Anchi yang belum berpaling dari mereka.

Lelaki yang dirasuki mulai tersadar. Sementara pembawa aura jahat yang merasukinya telah menghilang seiring butiran debu yang tertiup angin.

"Dewi Yi, Anda tidak apa-apa?" tanya Ling sambil mendekati gadis itu.

"Aku tidak apa-apa, tapi kenapa Bibi bisa ada di sini?"

"Aku hanya kebetulan lewat karena sedang mencari salah satu pelanggan yang tadi lupa mengambil obatnya. Ah, sebaiknya aku mencarinya sebelum dia menjauh. Dewi Yi, berhati-hatilah dan kamu, jangan ikut campur urusan manusia jika masih ingin bertemu Dewi Yi lagi." Ling menatap ke arah Qiang yang mengangguk.

"Baiklah."

Semua itu bukan tanpa alasan karena mereka tahu seorang penghuni Istana Khayangan dilarang untuk membunuh manusia. Karena itu, mereka melarang Qiang untuk membantu karena mereka khawatir pemuda itu melakukan kesalahan fatal.

"Qiang, aku mohon padamu untuk jangan melakukan apapun jika mengalami hal seperti tadi. Aku tidak ingin kamu melakukan kesalahan yang bisa membuat aku kehilanganmu. Aku ... "

"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melihatmu seperti itu. Walau harus kehilangan nyawaku demi untuk menyelamatkan dirimu, aku rela. Aku akan melakukannya."

"Tidak! Jangan lakukan itu! Berjanjilah padaku untuk tidak melakukan apapun. Jika kamu melakukannya, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Apa kamu ingin aku merasa bersalah seumur hidupku? Qiang, berjanjilah padaku!"

Qiang lantas memeluk Yi Yuen yang kini menitikan air mata. "Baiklah, aku berjanji. Sudah, jangan menangis lagi." Qiang menyeka air mata Yi Yuen yang mulai membasahi pipinya. "Aku janji tidak akan melakukannya lagi, tapi kamu juga harus berjanji padaku untuk tidak akan terluka saat menghadapi mereka," lanjut Qiang yang kembali memeluknya. Yi Yuen mengangguk dan membalas pelukan itu.

"Sebaiknya kita kembali saja. Aku tidak ingin pertemuan kita terganggu dengan ulah makhluk-makhluk yang bisa membuatku khilaf," ucap Qiang yang diaminkan Yi Yuen. Mereka berdua lantas kembali ke kedai. Putri Anchi tampak menyembunyikan dirinya saat mereka berjalan tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan sembunyi-sembunyi, dia kembali mengikuti mereka. Kini, di depan pintu kedai, dia melihat seorang wanita yang terlihat khawatir saat melihat Qiang dan Yi Yuen yang baru saja datang.

"Putriku, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Zhi Ruo yang terlihat khawatir.

"Tenang, Bu. Aku tidak apa-apa."

Zhi Ruo lantas memeluk Yi Yuen dan mengajak pasangan itu untuk masuk ke kedai. Sementara Putri Anchi terus memperhatikan mereka hingga hilang di depan pintu kedai.

"Siapa wanita cantik itu? Apa mungkin wanita itu adalah ibunya?" Putri Anchi terlihat penasaran dengan Yi Yuen yang nyatanya membuatnya begitu tertarik. Seorang gadis dari kalangan manusia yang memiliki kekuatan yang cukup luar biasa untuk seukuran manusia. Kekuatan yang bahkan tidak dimiliki olehnya.

"Aku harus mencari tahu siapa gadis itu. Bagaimanapun caranya, aku tidak akan membiarkan seorang manusia merebut Qiang dari tanganku. Lihat saja, aku pasti akan menyingkirkanmu!"

Putri Anchi yang terlihat marah, lantas pergi meninggalkan tempat itu. Dia sudah bertekad untuk menyingkirkan Yi Yuen dan menjadikan Qiang sebagai kekasihnya, bagaimanapun caranya.

To Be Continued...
tet762
banditos69
tombbrader
tombbrader dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.