- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#64
Chapter 41
Malam itu, suasana terlihat lengang. Hanya suara jangkrik yang sesekali terdengar. Di halaman kedai, Yi Yuen duduk ditemani Qiang di sampingnya. Keduanya terdiam dengan tangan yang saling menggenggam erat. Yi Yuen tampak terpaku menatap keindahan bulan separuh yang menghiasi langit hitam. Bintang-bintang bertaburan bak berlian hingga menambah keindahan langit di malam itu.
Qiang menatap langit di mana Yi Yuen juga menatapnya, tapi rupanya pemuda itu lebih tertarik melihat keindahan dan kecantikan wajah gadis yang kini duduk di sampingnya. Qiang menatap wajah cantik gadis di sampingnya itu tanpa kedip hingga membuat Yi Yuen melihat ke arahnya.
"Apa yang kamu lihat? Jangan membuatku malu dengan tatapanmu yang terus mengarah padaku. Lihatlah bulan di atas sana, dia sangat indah." Yi Yuen menunjuk ke arah bulan, tapi Qiang tak peduli karena baginya keindahan itu kini terpampang di depan matanya.
"Untuk apa aku melihat bulan kalau kekasihku memiliki keindahan melebihi bulan? Aku tidak tertarik melihat bulan karena bagiku kamu adalah bulan di mataku."
Yi Yuen tersenyum mendengar ucapan Qiang yang baginya terlalu berlebihan. "Aku bukan lagi seorang dewi yang bisa hidup abadi. Keadaan kita sudah berbalik. Aku hanya manusia biasa sedangkan dirimu kini telah menjadi penghuni Istana Khayangan yang tentu saja tidak akan pernah mati. Qiang, apa mungkin kita akan bisa terus bersama dengan dua dunia yang berbeda. Tidakkah kita akan terpisah seperti kedua orang tuaku?"
Yi Yuen terlihat sedih saat mengucapkan itu semua. Rasanya, dia tidak sanggup jika harus merasakan kehilangan lagi. Dia tidak ingin hidup menanggung kerinduan seperti yang dialami oleh ibunya. Kerinduan akan seseorang yang entah kapan bisa bersua kembali.
Qiang menggenggam jemari Yi Yuen dengan erat. Dia sadar dengan halang dan rintang yang ada di depan mereka, tapi dia sudah bertekad untuk menentang halang dan rintang itu demi untuk bisa kembali bersama wanita yang sudah membuatnya mati dan terlahir kembali. Dengan lembut, tubuh Yi Yuen lantas dipeluknya.
"Yi Yuen, walau rintangan apapun di depanku, aku akan menerobosnya demi bisa bersama denganmu. Sudah cukup aku kehilanganmu di masa lalu dan aku tidak ingin kehilangan dirimu di kehidupan ini. Apapun yang terjadi, aku tidak akan melepasmu lagi, percayalah padaku."
Yi Yuen mengangguk dan membalas pelukan Qiang. Walau dia tahu rintangan yang akan mereka hadapi tidaklah mudah. Namun, selama dia masih bersama dengan Qiang, dia akan mencoba menghadapi rintangan itu hingga semesta merestui hubungan mereka.
Malam makin larut dan keduanya kembali ke kamar masing-masing. Yi Yuen tersenyum sambil membaringkan tubuhnya di samping ibunya yang perlahan membuka matanya. Melihat putrinya yang tersenyum bahagia, Zhi Ruo lantas memeluknya. "Apa kamu bahagia?"
Yi Yuen mengangguk dan menenggelamkan tubuhnya dipelukan ibunya. "Aku bahagia, tapi apa mungkin aku dan Qiang bisa terus bersama? Aku tidak ingin seperti Ibu yang menanggung kerinduan pada ayah. Aku ingin dia menemaniku di sini dan tidak pergi meninggalkanku. Apa itu mungkin, Bu?"
Zhi Ruo mengelus lembut punggung putrinya itu dan memeluknya erat. "Putriku, jika kamu mencintainya, apapun bisa kamu lakukan. Walau menunggu hingga akhir hidupmu, kamu pasti akan sanggup melakukannya. Jika dia adalah takdir cintamu, maka dia akan kembali bersamamu walau kalian harus mengalami mati dan terlahir di beberapa kehidupan karena itu adalah takdir yang harus kalian jalani."
Ucapan Zhi Ruo membuat Yi Yuen lebih tenang. Semua ucapan itu bukanlah tanpa alasan. Bukan ucapan yang sekadar untuk membuat Yi Yuen agar lebih tenang, tapi itu adalah sebuah kenyataan yang sudah dilalui olehnya. Zhi Ruo telah merasakan bagaimana kerinduan yang teramat dalam hingga membuatnya mati dan terlahir di beberapa kehidupan hanya untuk bisa bertemu dengan kekasih hati yang belum sempat mengucapkan selamat tinggal. Zhi Ruo menitikkan air mata saat mengucapkan itu semua karena di dasar hatinya yang paling dalam, dia tidak ingin Yi Yuen mengalami hal yang sama seperti dirinya. Dia tidak ingin putrinya itu merasakan kerinduan yang teramat sangat menyiksa.
Kini, Yi Yuen tertidur pulas di dalam pelukan Zhi Ruo yang rupanya masih terjaga. Tangan lembut wanita itu menyentuh lembut wajah putrinya yang terlihat damai dalam tidur lelapnya. Sebait doa dia panjatkan demi kebahagiaan putrinya itu hingga perlahan matanya terpejam dan terbuai ke alam mimpi, berharap semoga bertemu kekasih hati yang nyatanya belum mampu menghilangkan rasa rindunya.
Malam berlalu. Matahari pagi mulai menyapa dengan diawali suara ayam berkokok yang terdengar dari kejauhan. Yi Yuen perlahan membuka matanya dan tidak mendapati ibunya di tempat tidur. Kehangatan pelukan ibunya nyatanya membuatnya terlelap dalam buaian mimpi. Hingga dia terkejut saat mengingat Qiang yang ternyata sudah menunggunya.
Yi Yuen lantas bergegas membersihkan diri dan menemui Qiang yang sudah bersiap sedari tadi. Pemuda itu tersenyum saat melihat Yi Yuen yang terburu-buru berlari ke arahnya. "Maaf, aku terlambat." Yi Yuen menunduk malu di depan kekasihnya itu.
Qiang hanya tersenyum dan membelai lembut puncak kepala Yi Yuen lembut. "Apa kamu ingin mengantarku?" Yi Yuen mengangguk mengiyakan. "Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu pada bibi dan Ling."
Setelah berpamitan, mereka berdua lantas bergegas keluar dari kedai. Saat pintu terbuka, mereka terkejut saat melihat Pangeran Muda sudah berdiri di depan pintu dengan menunggangi seekor kuda.
"Pangeran, apa yang Anda lakukan sepagi ini di depan kedaiku? Apa Anda sakit?" tanya Yi Yuen sambil mendekat ke arah pemuda itu.
Melihat Yi Yuen dan Qiang akan pergi membuat pangeran itu menjadi cemburu. "Apa kamu bisa mengobatiku? Sepertinya, aku mengalami sakit yang cukup parah."
"Kalau begitu, masuklah. Aku akan meminta ibu untuk merawat Pangeran."
"Yi Yuen, masuklah bawa Pangeran. Aku akan pergi sendiri. Jangan khawatir, aku bisa pergi sendiri. Masuklah."
Yi Yuen terlihat sedih karena tidak bisa mengantar kekasihnya itu pergi. Qiang menyadari kesedihan yang dirasakan oleh Yi Yuen. Pemuda itu lantas memeluknya hingga membuat Pangeran Muda mengalihkan pandangannya ke tempat lain. "Aku pasti akan kembali untukmu," ucapnya lembut di telinga Yi Yuen. Yi Yuen mengangguk walau rasa sedih tak bisa disembunyikan olehnya.
Qiang akhirnya pergi. Yi Yuen hanya bisa memperhatikannya hingga pemuda itu menghilang di sudut jalan.
"Pangeran, silakan masuk." Yi Yuen mempersilakan Pangeran Muda untuk masuk, tapi pemuda itu tidak beranjak hingga tiba-tiba pemuda itu meraih tubuh Yi Yuen dan mendudukannya di atas kuda. Yi Yuen kini duduk di depannya. "Pangeran, apa yang Anda lakukan? Cepat turunkan aku!"
"Tidak! Aku ingin bicara berdua denganmu. Aku mohon, tolong ikut denganku."
Pangeran Muda lantas memacu kudanya dan meninggalkan kedai. Sementara Yi Yuen hanya terdiam tanpa bisa berbuat apa-apa. Kuda itu terus dipacu hingga mereka berhenti di depan gerbang istana.
Pangeran Muda kemudian turun dan meraih tubuh Yi Yuen untuk diturunkannya. Tanpa berkata, pemuda itu meraih tangan Yi Yuen dan membawanya ke sebuah ruangan.
"Pangeran, apa yang akan Anda lakukan?" Yi Yuen menarik tangannya saat mereka tiba di depan pintu ruangan yang akan dimasuki pemuda itu.
"Maaf, aku tidak tahu maksud Pangeran membawaku ke sini, tapi ini salah. Maaf, sebaiknya aku pergi." Yi Yuen lantas berbalik dan berniat meninggalkan tempat itu.
"Aku mencintaimu." Pangeran Muda berucap tiba-tiba dan sejenak Yi Yuen menghentikan langkahnya. Gadis itu lantas berbalik dan menatap Pangeran Muda yang menatap penuh harap padanya.
Mendengar pengakuan cinta Pangeran Muda padanya membuat Yi Yuen terkejut dan menatap pemuda itu. "Aku hargai perasaan Pangeran padaku, tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya karena aku sudah mencintai seseorang."
"Apa pemuda itu yang kamu cintai?"
Yi Yuen mengangguk. "Ya, dialah yang aku cintai. Karena itu, jangan mengorbankan cinta Pangeran untukku karena aku yakin, itu bukanlah perasaan cinta melainkan rasa kagum yang terlihat samar. Pangeran hanya mengagumiku bukan mencintaiku."
Pangeran Muda tersenyum kecut saat mendengar ucapan Yi Yuen. "Mengagumi? Apa menurutmu, cemburu itu bagian dari mengagumi? Aku tahu mana kagum dan cinta. Jika bayangan wajahmu selalu muncul di depanku, apa itu juga mengagumi? Apa kamu tahu bagaimana tersiksanya memendam perasaan yang tidak bisa kamu ungkapkan?"
"Aku tahu itu dan itulah yang aku rasakan untuknya. Maafkan aku, Pangeran. Aku tidak bisa menerima perasaan Pangeran padaku. Aku mencintainya dan aku tidak ingin mengkhianati cintaku untuknya."
Pangeran Muda terdiam. Namun, ucapan Yi Yuen membuatnya semakin menginginkan gadis itu. Rasa kagum dan cinta telah bercampur menjadi satu. Dia tidak ingin melepaskan gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali hingga membuatnya terlihat egois.
"Apa dia seberharga itu bagimu? Bukankah, kalian baru pertama kali bertemu? Tapi mengapa kamu bisa secepat itu mencintainya?"
"Apa Pangeran percaya pada cinta sejati? Aku dan dia bukanlah baru pertama kali bertemu. Kami telah bertemu di setiap mimpi-mimpi kami. Apa Pangeran juga percaya jika aku mengatakan kalau kami pernah bertemu di kehidupan sebelumnya? Pangeran, aku mohon jangan membuatku membencimu. Jangan paksakan perasaan yang tidak bisa aku terima karena itu hanya akan menyakiti kita berdua."
Pangeran Muda terdiam. Dia sadar dengan kebenaran ucapan Yi Yuen, tapi rasanya terlalu sulit untuk dia bisa menerimanya. Cinta yang dia rasakan benar-benar tulus, tapi ketulusan cintanya tidak membuat Yi Yuen bergeming.
"Pangeran, maafkan aku. Aku tidak tahu sebesar apa cinta Pangeran untukku, tapi cintaku untuknya lebih besar bahkan mungkin lebih besar dari cintanya untukku. Aku hanya ingin jujur dengan apa yang aku rasakan dan aku tahu di luar sana ada seseorang yang menunggu untuk mendapatkan cinta dari Pangeran. Terima kasih atas kejujuran Pangeran padaku, tapi inilah kejujuranku. Aku mencintainya."
Pangeran Muda menatap lekat ke arah Yi Yuen. Dia bisa melihat kesungguhan di tatapan mata gadis itu. Dengan tersenyum, Pangeran Muda mendekat ke arahnya dan mengulurkan tangan padanya. "Baiklah, jika aku tidak bisa menjadi seseorang yang kamu cintai, apa bisa aku bisa menjadi seseorang yang dekat denganmu, teman misalnya?"
Yi Yuen tersenyum dan mengangguk. Uluran tangan Pangeran Muda lantas diterimanya. "Baiklah, teman."
"Ah, rasanya begitu lega karena perasaanku sudah aku ungkapkan walau aku harus kecewa karena cintaku ditolak. Yi Yuen, apa kamu tidak menyesal sudah menolak cintaku?" tanya Pangeran Muda seakan masih tidak terima cintanya ditolak gadis itu.
"Sudahlah, jangan bertanya lagi. Bukankah, kita sekarang berteman?" Wajah Pangeran Muda terlihat cemberut, tapi tak lama. Seuntai senyum perlahan terukir di sudut bibirnya.
"Ayo, aku antar kamu kembali ke kedai."
Mereka lantas berjalan menuju gerbang istana. Saat pintu gerbang itu terbuka, mereka terkejut saat melihat Qiang yang sudah berdiri di depan gerbang sambil melihat ke arah mereka. Yi Yuen lantas berlari menemui pemuda itu dan memeluknya.
"Apa urusanmu sudah selesai?" tanya Qiang pada Yi Yuen yang masih memeluknya.
"Sudah, sekarang bawa saja kekasihmu itu dan jaga dia. Sekarang, aku akan mengawasimu. Jika dia terluka karenamu, aku orang pertama yang akan menghajarmu, paham!" ucap Pangeran Muda yang kini berdiri di depan mereka.
"Jangan khawatir, karena aku tidak akan pernah membuatnya terluka. Aku akan melindunginya dengan nyawaku sendiri dan tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya," ucap Qiang dengan sungguh-sungguh hingga membuat Pangeran Muda cukup takjub.
"Kalau begitu, kami pergi dulu. Jika butuh bantuanku, datang saja ke kedai. Aku dan ibuku pasti akan membantumu."
"Ya, pergilah. Lagipula, aku tidak ingin melihat kemesraan kalian di atas penderitaanku." Pangeran Muda lantas berbalik dan berjalan meninggalkan mereka. "Ambil saja kudaku itu dan cepatlah pergi dari sini!" seru pemuda itu tanpa menoleh. Yi Yuen hanya tersenyum melihat tingkah pemuda itu.
Mereka berdua lantas meninggalkan gerbang istana. Sementara Pangeran Muda hanya bisa melihat kepergian mereka dengan perasaan kecewa dan juga bahagia. Kecewa karena cintanya ditolak, tapi dia juga bahagia karena melihat wanita yang dia cintai bahagia walau bukan bersama dirinya.
Sementara Yi Yuen tampak bahagia saat melihat Qiang yang nyatanya enggan pergi tanpa dirinya. Di atas kuda, Qiang memeluk tubuhnya dengan erat seakan tidak ingin dia lepaskan. Yi Yuen menggenggam erat tangan pemuda itu yang melingkar di pinggangnya.
"Qiang, kenapa kamu bisa ada di depan pintu gerbang istana? Bukankah, tadi kamu sudah pergi?" tanya Yi Yuen yang penasaran dengan kehadiran kekasihnya itu di depan gerbang istana.
Qiang terdiam dan tidak menjawab sepatah kata. Yang dilakukannya hanya mengeratkan pelukannya hingga membuat Yi Yuen kembali bertanya, "Apa kamu sengaja mengikutiku?"
Tiba-tiba saja Qiang menghentikan kudanya. Yi Yuen terkejut dengan sikap kekasihnya itu hingga membuatnya menoleh ke arahnya. "Kenapa berhenti? Apa kamu marah padaku?"
Kembali Qiang tidak menjawab. Perlahan, pemuda itu mendaratkan sentuhan lembut di bibir ranum Yi Yuen yang membuat gadis itu tidak berkutik. Dia terdiam saat bibirnya disentuh. Matanya terpejam saat sentuhan tangan Qiang menyentuh lembut wajahnya. "Apa kamu pikir aku bisa marah padamu? Apa kamu pikir aku bisa pergi tanpa melihatmu? Aku merasa bersalah karena membiarkanmu pergi dengannya, karena itu aku kembali dan mengikutimu. Apa kamu tahu kalau aku begitu gelisah menunggumu di depan gerbang istana?"
Ucapan Qiang membuat Yi Yuen tersenyum. Tangannya yang lembut membelai wajah tampan yang terlihat luluh di depannya. Tanpa dinyana, Yi Yuen mendaratkan satu kecupan di pipi pemuda itu. "Maafkan aku. Aku tidak akan lagi membuatmu gelisah karena menungguku. Qiang, aku mencintaimu."
Kembali, pemuda itu mendaratkan kecupan di bibir Yi Yuen dengan sentuhan lembut yang membuai keduanya. Rasanya, mereka enggan untuk berpisah. Namun, rasa cinta dan kepercayaan dari keduanya mampu menepis rasa enggan itu karena mereka yakin akan cinta yang mereka rasakan. Sebelum meninggalkan Yi Yuen, Qiang kembali memeluk gadis itu dan kemudian pergi dan menghilang di balik cahaya.
"Qiang, aku akan menunggumu," ucap Yi Yuen sambil menatap ruang hampa tempat di mana kekasihnya itu menghilang.
To be continued...
tombbrader dan 2 lainnya memberi reputasi
3