- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#63
Chapter 40
Yi Yuen terdiam saat mendengar pemuda itu menyebutkan namanya. Nama yang tak asing di telinganya. Sejenak, dia memerhatikan wajah pemuda itu dalam-dalam seakan ingin mencari jawaban atas rasa penasaran yang mulai mengganggunya. Namun, Yi Yuen segera mengalihkan pandangannya dan memilih beranjak dari tempat duduknya.
Di depan pintu goa, Yi Yuen berdiri dan tersenyum saat melihat suasana dan keadaan di tempat itu yang sama sekali tidak berubah. Di bangku taman dekat kolam, Yi Yuen duduk dengan ditemani Qiang yang kini berdiri di sampingnya.
"Apa ayahku baik-baik saja? Apa selama ini kamu yang selalu menemaninya?" Yi Yuen menatap Qiang yang menatapnya lekat. Kembali tatapan mata pemuda itu membuat jantung Yi Yuen berdegup kencang, hingga membuatnya mengalihkan pandangannya.
"Ayahmu tidak baik-baik saja karena dia sangat merindukan kalian."
"Rindu katamu? Apa kamu tidak tahu bagaimana rindu yang ditanggung ibuku, hingga membuatnya sering menangis sendirian? Apa kalian para dewa hanya bisa menuruti aturan langit dan tidak peduli dengan seseorang yang mencintai dan menunggu kalian?"
Yi Yuen menatap Qiang yang juga menatap ke arahnya. Sontak, Yi Yuen bangkit dan berjalan menuju ke arah pemuda itu. "Tunggu! Aku sepertinya pernah melihatmu." Yi Yuen terlihat berpikir dan mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Ah, aku ingat sekarang. Bukankah, kamu yang membantuku saat para perampok berbuat ulah di pasar waktu itu? Satu lagi, bukankah kamu yang bertarung di dalam hutan dengan makhluk-makhluk itu?"
"Benar, putriku. Qiang yang sudah membantumu karena itu adalah perintah Ayah."
Yi Yuen mengalihkan pandangannya pada Li Quan dan Zhi Ruo yang berjalan ke arah mereka.
"Maafkan Ayah karena baru datang menemuimu dan ibumu. Ayah harap kamu bisa mengerti keadaan Ayah."
Melihat ayahnya yang merasa menyesal membuat Yi Yuen segera memeluk ayahnya itu. "Aku selalu memaafkan Ayah. Aku bahagia karena ternyata Ayah tidak melupakanku dan Ibu. Terima kasih karena Ayah sudah menemui kami."
Li Quan memeluk putrinya sambil membelai lembut puncak kepala putrinya itu. "Mulai saat ini, Ayah akan datang mengunjungi kalian. Di setiap bulan purnama, Ayah akan menunggu kalian di sini. Kalian berdua adalah harta yang paling berharga bagi Ayah dan Ayah mengharapkan untuk kita selalu bersama dan bahagia." Yi Yuen mengeratkan pelukannya. Begitu pun dengan Zhi Ruo yang memeluk putrinya itu. Keluarga kecil yang lama terpisah, kini telah bersatu kembali.
Yi Yuen tampak bahagia menyaksikan kemesraan ayah dan ibunya. Dia tersenyum saat melihat orang tuanya duduk dan saling mencurahkan keresahan yang selama ini terpendam. Gadis itu lantas kembali masuk ke dalam goa dan memberikan orang tuanya waktu untuk bersama. Sementara Qiang hanya duduk terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata.
Sesaat, suasana terlihat hening. Keduanya terdiam tanpa sepatah kata yang terucap. Namun, ada perasaan aneh yang selalu mengganggu Yi Yuen, hingga membuatnya merasa gelisah. Perasaan yang membuatnya selalu menatap ke arah Qiang yang membuatnya tak bisa berpaling.
"Ada apa? Kenapa kamu selalu melihatku?" tanya Qiang saat melihat Yi Yuen yang selalu melihat ke arahnya.
"Apa kamu yakin kalau kita tidak pernah bertemu sebelumnya? Apa kamu tidak merasa kalau kita pernah .... " Yi Yuen menghentikan ucapannya dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Kalau aku katakan kalau kita pernah bertemu sebelumnya, apa kamu akan percaya?" tanya Qiang yang membuat Yi Yuen kembali menatapnya.
"Aku akan percaya karena aku pernah melihatmu di dalam mimpiku, tapi aku .... " Yi Yuen menunduk seakan ingin menyembunyikan perasaan sedih karena mengingat mimpi yang selama ini mengganggunya.
Melihat sikap Yi Yuen, Qiang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah gadis itu. "Jika aku katakan kalau aku juga melihatmu di dalam mimpiku, apa kamu akan percaya?"
Yi Yuen mengangkat kepalanya dan melihat Qiang yang kini duduk di depannya. Tanpa sadar, tangan Yi Yuen menyentuh wajah pemuda itu perlahan dan tiba-tiba dia menitikan air mata yang jatuh begitu saja. Yi Yuen kembali menunduk dan menahan perasaan sedih yang tiba-tiba muncul. Air matanya jatuh tanpa mampu dibendungnya, hingga membuat Qiang menyeka air matanya dengan lembut.
Sontak, Yi Yuen mengangkat kepalanya dan menatap Qiang yang tersenyum padanya. "Apa mungkin kamu adalah dia? Tapi, apa itu mungkin? Tidak, aku pasti salah." Yi Yuen bangkit dan berusaha menghindar dari Qiang, tapi dia tidak berkutik saat pemuda itu kini memeluknya dari belakang.
"Yi Yuen, maafkan aku karena dulu membiarkanmu mati demi menyelamatkanku dan penduduk desa. Apa kamu tahu kalau aku tersiksa semenjak kepergianmu?"
Yi Yuen tersentak dan membalikkan tubuhnya. Kini, di depan matanya, kilasan peristiwa di masa lalu kembali terulang. Dia mulai mengingat semuanya. Di mana dia melihat Qiang menangis untuknya saat tubuhnya mulai menghilang. Mimpi yang selalu mengganggunya kini terlihat begitu nyata. Wajah seorang pemuda yang terlihat samar kini tampak jelas, hingga membuatnya kembali menitikan air mata. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah Qiang yang begitu nyata di depannya. "Apa benar kamu adalah Qiang? Aku tidak sedang bermimpi, kan?"
Qiang menggeleng dan menyentuh wajah Yi Yuen yang basah dengan air mata. "Kita tidak sedang bermimpi. Aku adalah Qiang yang dulu mencintaimu dan hingga sekarang masih mencintaimu dan selamanya aku akan selalu mencintaimu. Yi Yuen, aku tidak akan lagi meninggalkanmu dan membiarkanmu pergi dariku lagi."
Pemuda itu lantas memeluk Yi Yuen yang terisak. Yi Yuen menangis dalam pelukan Qiang dengan kedua tangan yang memeluk tubuh pemuda itu dengan erat. Keduanya hanyut dalam pelukan kerinduan yang lama tersimpan. Kerinduan yang kini telah terbayar dengan kehadiran sosok yang sangat berarti.
Qiang melepaskan pelukan dan menatap Yi Yuen yang membuatnya tersenyum. Dengan lembut, pemuda itu menyentuh wajah Yi Yuen dengan mesra dan mendaratkan satu ciuman di bibir gadis itu yang kini terpejam.
Yi Yuen tak mengelak saat sentuhan lembut itu mempermainkan hatinya. Dia tak ingin mengelak ungkapan kasih sayang yang diberikan Qiang untuknya, hingga dia membuka mata saat sentuhan lembut itu perlahan memudar dengan satu senyum yang terukir di wajah tampan milik pemuda itu.
"Qiang, apa kamu juga akan kembali bersama ayahku? Tidak bisakah, kamu tinggal di sini bersamaku?" tanya Yi Yuen yang terlihat manja.
Qiang tersenyum dan membelai lembut wajah Yi Yuen yang menatapnya penuh pengharapan. "Yi Yuen, aku janji akan datang menemuimu lagi. Aku ditugaskan ayahmu untuk mencari keberadaan kalian karena dia ingin memastikan jika kalian baik-baik saja dan ingin bertemu dengan kalian. Sekarang, tugasku telah selesai dan aku akan menunggu tugas yang akan diberikan ayahmu lagi padaku. Ah, apa kamu tahu kalau aku tidak ingin lagi meninggalkanmu? Tapi, aku harus menahan perasaanku karena aku harus kembali ke Istana Langit."
Yi Yuen menunduk seakan kecewa dengan keputusan Qiang yang akan kembali meninggalkannya. Melihatnya, Qiang kembali memeluknya. "Tenanglah, adik kecilmu ini pasti akan kembali lagi padamu." Qiang mengucek lembut puncak kepala Yi Yuen, hingga membuat Yi Yuen melepaskan pelukannya.
"Adik kecil? Apa kamu .... "
"Maaf, aku terpaksa menyamar menjadi bocah agar bisa menemuimu."
"Jadi, selama ini kamu sudah mengenaliku sejak awal dan kamu tidak mengatakan apa pun padaku?" Yi Yuen terlihat kecewa, tapi kekecewaannya itu tak berlangsung lama saat Qiang mengecup dahinya lembut.
"Aku tidak ingin membuatmu bingung. Aku pasti akan menunggu, hingga kamu mengingatku kembali dan penantianku ternyata tidak sia-sia. Kita telah kembali bersama dan aku akan menjaga dan melindungimu dengan nyawaku sendiri. Yi Yuen, aku berjanji akan mencari tahu siapa yang sudah membuatmu dan Zhi Yan mati di masa lalu. Aku tidak akan bisa tenang jika belum mengetahui dalang dibalik peristiwa yang sudah membuat kita berpisah."
Yi Yuen memeluk Qiang dan mengangguk mengiyakan ucapan pemuda itu. "Maafkan aku karena aku tidak bisa mengingat peristiwa itu seutuhnya. Yang aku ingat hanya wajahmu yang tampak samar. Aku hanya bisa mendengar dari cerita Ling tentang hubungan kita. Maafkan aku karena aku terlambat mengingatmu."
Qiang membalas pelukannya. "Bersabarlah, aku pasti akan mencari tahu tentang peristiwa itu. Sekarang, kamu fokus saja pada luka di lengamu itu dan jangan sampai terluka lagi. Aku tidak ingin membunuh manusia yang mencelakaimu karena aku tidak ingin tubuhku menghilang dan pergi meninggalkanmu."
"Baiklah, aku akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku."
Qiang mengucek lembut puncak kepala Yi Yuen. Keduanya terlihat bahagia. Begitu pun dengan Li Quan dan Zhi Ruo yang tampak mesra. Kebersamaan mereka rupanya harus berakhir. Li Quan harus segera kembali ke Istana Langir. Di saat matahari senja mulai tampak, Li Quan pamit undur diri. Lelaki itu kemudian memeluk Zhi Ruo. "Sebulan lagi kita akan bertemu di sini. Jaga dirimu dan putri kita. Aku sangat tidak sabar untuk bertemu denganmu dan Yi Yuen lagi. Aku mencintaimu." Li Quan mengeratkan pelukannya seakan tidak ingin melepaskan, tapi dia harus menepis perasaannya itu dan segera kembali ke Istana Langit.
"Qiang, tolong antar istri dan putriku kembali ke kedai. Besok, kamu harus sudah kembali ke Istana Langit agar tidak ada yang curiga padamu."
"Baik, Guru."
Setelah berpamitan, Li Quan akhirnya pergi. Qiang lantas mengantar Yi Yuen dan Zhi Ruo kembali ke kedai. Matahari senja masih tampak saat mereka tiba di depan pintu kedai. Melihat kedatangan mereka, Ling segera mendekat dan memeluk Yi Yuen. "Yi Yuen, kamu tidak apa-apa, kan? Apa yang terjadi pada kalian? Nyonya, Nyonya baik-baik saja, kan?" Ling terlihat panik, hingga dia terkejut saat melihat seorang pemuda yang datang bersama Yi Yuen. "Kamu?"
Yi Yuen segera menarik tangan Ling seakan mengisyaratkan agar gadis itu diam. Ling paham dan hanya bisa menatap pemuda yang kini tersenyum kepadanya.
Pangeran muda yang juga ada di tempat itu lantas mendekat ke arah Yi Yuen dan meraih tangannya tiba-tiba. "Ayo, obati lukamu itu. Apa kamu tidak tahu kalau kami di sini sangat khawatir dengan kalian?"
Pemuda itu menarik tangan Yi Yuen dan membawanya masuk ke dalam kedai. Semua orang memandangi pangeran muda yang terlihat begitu khawatir, tak terkecuali Qiang.
"Pangeran, lenganku baik-baik saja. Apa Pangeran lupa kalau ibuku adalah seorang tabib? Tenang saja, ibuku sudah mengobati lukaku ini."
Pangeran muda yang tampak khawatir itu terduduk lemas saat mengetahui kalau Yi Yuen baik-baik saja. Sesaat, dia melihat ke arah Qiang yang berdiri tak jauh darinya. "Siapa pemuda itu?"
"Oh, dia adalah Qiang. Dia yang telah menyelamatkanku dan ibuku saat kami diserang. Untuk malam ini, dia akan menginap di sini," jelas Yi Yuen yang membuat pangeran muda terlihat kecewa.
Bagaimana tidak, wajah Qiang sangatlah tampan. Tubuhnya kekar dibalut jubah warna keemasan. Tak hanya itu, dia bisa melihat sinar mata Yi Yuen yang tak biasa saat melihat pemuda itu. "Apa dia akan menjadi sainganku? Ah, tidak bisa! Aku harus bisa menjadikan Yi Yuen sebagai permaisuriku. Aku tidak akan melepaskan Yi Yuen untuk dimiliki lelaki lain." Pangeran muda membatin sambil melihat Qiang yang tentu saja akan menjadi rivalnya.
Sementara di Istana Langit, Li Quan terlihat bahagia. Wajahnya tampak rupawan saat senyuman terukir di wajahnya itu. Melihat Li Quan yang selalu tersenyum membuat Putri Mu Rong memberanikan diri untuk bertanya, "Suamiku, apa yang sudah membuatmu tersenyum bahagia? Apa aku boleh tahu alasan di balik senyumanmu itu?"
Melihat Putri Mu Rong di depannya membuat senyuman di wajah Li Quan seketika musnah. Walau wajah wanita itu sangatlah cantik, tapi nyatanya tidak membuat Li Quan tertarik. Baginya, hanya Zhi Ruo yang bisa membuat hatinya luluh dan bahagia.
"Tidak ada apa-apa. Maaf, malam ini aku akan tidur di ruanganku."
Li Quan bangkit dan berjalan meninggalkan Putri Mu Rong yang hanya bisa menatap kepergiannya. Kedua tangannya mengepal saat dirinya kembali diacuhkan. Hatinya begitu sakit, hingga membuatnya memukul meja di depannya dan hancur berantakan. "Li Quan, kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Apa kamu pikir bisa berbuat seenaknya padaku? Baik, jika itu yang kamu inginkan, kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu menyesal karena sikapmu itu padaku."
Dengan marah, Putri Mu Rong meninggalkan tempat itu dan menemui Dewa Perang untuk berkeluh kesah pada ayahnya itu.
"Putriku, ada apa? Kenapa wajahmu cemberut seperti itu? Apa Li Quan kembali membuatmu marah?"
Putri Mu Rong tidak menjawab melainkan melampiaskan amarahnya dengan melempar sebuah cangkir ke atas lantai. Wajahnya memerah menahan amarah. "Ayah, aku sudah tidak tahan dengan perlakuan Li Quan padaku. Jika seperti ini terus, lebih baik aku menyingkirkannya!!"
"Putriku, jangan katakan hal seperti itu. Dinding punya telinga dan jika ada yang mendengar ucapanmu itu, kita akan mengalami masalah," ucap Dewa Perang setengah berbisik. "Tunggulah waktu yang tepat dan kamu akan lihat kehancuran Li Quan. Dan jika saat itu tiba, kamu harus mengambil alih Istana Langit dan singkirkan orang-orang yang akan menghalangi rencana kita."
Ayah dan anak itu terlihat yakin dengan rencana busuk yang sudah mereka siapkan. Mereka akan melakukan pemberontakan untuk kedua kali dan akan menyingkirkan Li Quan bagaimanapun caranya.
To Be Continued...
tombbrader dan 4 lainnya memberi reputasi
5