- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.8K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#61
Chapter 38
Malam itu juga, mereka semua sudah bersiap. Wang Wei dengan beberapa pengawal sudah berjaga di depan pintu ruangan itu. Zhi Ruo mulai meracik obat yang harus diberikan pada pangeran muda. Sementara Yi Yuen, sudah duduk bersila dan memunggungi pangeran muda yang duduk di depannya.
"Pangeran, bertahanlah. Aku masih harus membuka jalan darahmu agar tubuhmu bisa kembali bergerak."
Yi Yuen kembali melakukan hal yang sama. Kedua telapak tangannya diletakkan di punggung pangeran muda dengan cahaya kebiruan yang memancar dari kedua telapak tangannya itu. Tubuh sang pangeran bergetar perlahan saat cahaya kebiruan merayap ke seluruh tubuhnya.
Mata Yi Yuen terpejam dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. Begitu pun dengan pangeran muda yang juga mengalami hal serupa. Hampir satu jam Yi Yuen menyalurkan tenaga dalamnya pada pemuda itu, hingga akhirnya pangeran muda kembali memuntahkan darah hitam, tapi kali ini tidak terlalu banyak.
Zhi Ruo menyeka darah hitam yang keluar dari mulut pangeran muda. Begitu pun dengan keringat yang sudah membasahi tubuhnya. Pemuda itu masih duduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat melihat Yi Yuen bangkit dan beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu!" serunya dengan suara yang terdengar melemah. "Terima kasih," lanjutnya seiring senyuman.
Yi Yuen mengangguk sambil tersenyum. "Tolong temani Pangeran, aku akan beristirahat sebentar," ucapnya pada siluman rubah yang sedari tadi berada di tempat itu.
"Baik, Dewi."
Setelah meminta izin pada ibunya untuk beristirahat sebentar, Yi Yuen kemudian keluar dari ruangan itu. Setelah tiba di depan pintu, tiba-tiba saja dia hampir terjatuh andai Wang Wei tidak segera meraih tubuhnya.
"Sebaiknya, kamu istirahat dulu. Tenaga dalammu sudah terkuras untuk mengobati pangeran muda. Aku akan mengantarmu ke kamar yang sudah disediakan untukmu dan bibi."
Pemuda itu lantas memapah Yi Yuen yang tampak lelah. Dua kali gadis itu harus mengerahkan tenaga dalamnya dan itu cukup membuatnya kelelahan.
Yi Yuen diantar ke salah satu ruangan yang berada tidak terlalu jauh dari ruangan pangeran muda. "Masuklah, aku akan berjaga di depan. Istirahatlah."
Yi Yuen mengangguk dan masuk ke dalam ruangan setelah Wang Wei meninggalkannya dan berjaga di depan pintu. Semua itu dilakukan bukan tanpa alasan, karena mereka tahu ada pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan mereka menyembuhkan pangeran muda.
Yi Yuen duduk bersila di atas tempat tidur. Matanya terpejam sambil mengatur napas perlahan. Dia harus berkonsentrasi untuk mengembalikan kekuatan tubuhnya yang terkuras. Baru saja dia memejamkan matanya, dia terhentak saat mendengar suara gaduh di depan pintu kamarnya.
Yi Yuen bangkit dan berlari menuju pintu dan dia melihat Wang Wei sedang bertarung dengan enam orang bertopeng.
"Yi Yuen, cepat selamatkan pangeran muda dan ibumu. Biar mereka aku yang tangani!" seru Wang Wei.
Yi Yuen kemudian berlari menuju ruangan pangeran muda, tapi salah satu dari orang bertopeng berlari mengejarnya.
"Tidak akan aku biarkan kalian menyentuhnya!" Wang Wei melemparkan pedangnya ke arah lelaki yang mencoba menghadang Yi Yuen dan lelaki itu tersungkur dengan pedang yang menembus punggungnya.
Yi Yuen terus berlari dan dia melihat para pengawal sedang bertarung dengan beberapa orang bertopeng yang sama dengan yang kini dihadapi oleh Wang Wei.
Para penyususp itu berusaha untuk menerobos masuk ke dalam ruangan di mana pangeran muda berada. Yi Yuen tidak tinggal diam. Walau kekuatannya mulai melemah, dia tidak peduli dan berusaha untuk masuk ke dalam ruangan itu di mana pangeran muda dan ibunya berada. Gadis itu kemudian ikut menyerang sekelompok orang bertopeng yang ternyata cukup tangguh.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Yi Yuen merangsek maju dan mengambil sebilah pedang yang teronggok di atas tanah. Gadis itu menyerang tanpa ampun karena dia tidak ingin penyusup itu masuk dan mencelakai ibunya. Di saat Yi Yuen sedang bertarung dengan salah satu penyusup, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka.
Mereka semua terkejut saat melihat pangeran muda berdiri di depan pintu. Pemuda yang terlihat baik-baik saja itu lantas melayangkan pandangannya ke arah Yi Yuen yang mulai terdesak. Pemuda itu kemudian melompat dan berdiri tepat di depan penyusup yang hampir saja melukai Yi Yuen.
Dengan tangan kosong, pangeran muda yang memiliki postur tubuh yang gagah itu dengan mudahnya menghalau penyusup itu dengan pukulan tangannya yang menghantam keras di bagian dada. Seketika saja penyusup itu terpental hingga beberapa meter ke belakang.
Melihat pangeran muda yang baik-baik saja, tanpa komando para penyusup itu mulai maju dan menyerangnya. Sementara Yi Yuen, terlihat lemah dengan napasnya yang terengah-engah. Walau begitu, dia masih sempat membantu pangeran muda yang kini bertarung melawan para penyusup.
Pangeran muda rupanya cukup tangguh. Pemuda yang memiliki kemampuan bela diri yang cukup hebat itu mampu menghalau setiap serangan yang tertuju padanya. Bahkan, dia sangat lihai dalam memainkan pedang, hingga dua orang penyusup telah tumbang karena tebasan pedangnya itu.
Kemampuan bertarungnya itu ternyata andil dari kekuatan tenaga dalam yang diberikan Yi Yuen padanya. Kekuatan tenaga dalam gadis itu telah membuka jalan darah dan sendi-sendi yang semula terkunci menjadi terbuka hingga kemampuan bertarung pemuda itu semakin bertambah.
Sebelum jatuh sakit, pangeran muda sudah belajar ilmu beladiri. Pemuda itu rupanya belajar secara sembunyi-sembunyi pada salah satu kerabat ibunya yang saat itu menjabat sebagai panglima pasukan istana. Namun, kerabat ibunya itu kini telah dipenjara karena difitnah. Mereka menuduhnya sebagai pemberontak.
Sejak saat itu, satu per satu kerabat ibunya yang dekat dengannya mulai terbunuh. Mereka ditemukan tak bernyawa atau menghilang secara misterius. Pangeran muda yang mulai kehilangan pegangan saat itu ternyata cukup mudah untuk didekati, hingga membuat dirinya menjadi sasaran pembunuhan. Mereka tidak langsung membunuhnya, tapi secara perlahan mencekokinya dengan racun dibalik makanan kesukaannya. Makanan yang selalu membuatnya teringat pada mendiang sang ibu.
Pangeran muda yang lugu dan polos, kini terlihat gagah. Para penyusup yang berusaha membunuhnya dibuat kewalahan olehnya. Satu per satu penyusup dibuat tak berdaya saat serangan tangan kosong miliknya menghantam keras di bagian dada. Tak ayal, mulut mereka di penuhi darah segar yang memaksa keluar.
Wang Wei dan pasukan istana tiba-tiba datang seiring dengan Yi Yuen yang kini terduduk sambil berpegangan pada pedang yang tertancap di tanah. Wajah gadis itu memucat dengan peluh yang membasahi wajahnya. Napasnya memburu dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Melihat pasukan istana datang, para penyusup berusaha untuk kabur, tapi pangeran muda telah mengeluarkan titah untuk menangkap mereka hidup atau mati.
Pemuda itu lantas meraih tubuh Yi Yuen ke dalam bopongannya dan membawa gadis itu ke dalam ruangan. Tubuh Yi Yuen yang melemah itu lantas dibaringkan di atas tempat tidur miliknya.
"Nyonya, maafkan aku. Karena diriku, dia kehilangan banyak tenaga. Aku mohon, maafkan aku." Pangeran muda itu menunduk di depan Zhi Ruo.
"Pangeran, jangan khawatir, putriku baik-baik saja. Aku akan merawatnya dan dia akan kembali sembuh."
Pangeran muda kemudian kembali keluar dan melihat prajurit istana sudah berhasil menangkap beberapa para penyusup. Pemuda itu lantas memberi perintah untuk semua pasukan istana agar bersiap-siap. Setelah memberi perintah, pemuda itu kembali ke dalam ruangan dan melihat Yi Yuen yang masih terbaring lemah.
"Maafkan aku. Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri. Terima kasih karena sudah membantuku." Pemuda itu lantas menggenggam tangan Yi Yuen dan mengusapnya lembut.
Tak lama kemudian, pangeran muda bangkit dan berjalan keluar dari ruangan itu. Kini, dirinya tampak gagah dalam balutan jubah berwarna biru khas seorang pangeran. Bersama Wang Wei dan pasukan prajurit istana, mereka berjalan menuju salah satu ruangan yang terlihat mewah. Di depan ruangan itu, mereka sempat dihadang oleh dua orang pengawal yang berjaga. Tanpa perintah, Wang Wei maju dan menghunus pedangnya ke arah dua orang pengawal itu hingga tewas.
"Cepat, kepung tempat ini dan jangan biarkan satu pun yang lolos!" Pangeran muda memberi perintah.
Wang Wei lantas mengerahkan pasukannya untuk mengepung ruangan itu. Pengawal yang bertugas di tempat itu tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat pangeran muda yang telah berdiri dengan tatapan matanya yang tajam.
"Seret wanita itu keluar!" perintah pangeran muda pada Wang Wei yang segera mendobrak pintu ruangan itu. Seorang wanita yang berusaha berontak tampak marah saat dirinya dibawa keluar dengan paksa.
"Lepaskan aku! Jangan menyentuhku dengan tangan kotor kalian! Aku akan memenggal kepala kalian! Lepaskan aku!"
Wanita yang mengenakan jubah permaisuri itu tidak terima diperlakukan seperti itu. Dia berusaha berontak, tapi sama sekali tidak digubris oleh pangeran muda.
"Pangeran, apa yang kamu lakukan? Apa kamu tega melakukan ini pada ibumu sendiri?" tanya wanita itu sambil menangis.
"Ibu? Kamu bukanlah ibuku. Ibuku adalah wanita yang baik. Dia adalah permaisuri yang dihormati dan dicintai semua orang."
Wanita itu menatap pangeran muda sambil tersenyum sinis. "Permaisuri? Aku adalah permaisuri, bukan ibumu. Ibumu telah mati dan hancur menjadi tanah. Wanita itu pantas untuk mati karena dia telah mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku membencinya, bahkan setelah dia mati pun aku tetap membencinya. Seharusnya, kamu juga mati dan menyusul ibumu ke neraka. Aku menyesal karena tidak menyingkirkanmu sejak dulu. Kalian berdua pantas untuk mati!"
Wanita itu meracau dengan kata makian dan sumpah serapah yang ditujukan pada pangeran muda dan ibunya. Tanpa dia sadari, raja mendengar semua ucapannya itu. Wajah lelaki yang sudah senja itu terlihat sedih. Dia sama sekali tidak menyangka kalau wanita yang selama ini menjadi permaisurinya adalah wanita yang sangat kejam.
"Bawa dia ke penjara!" perintah raja yang membuat permaisuri terkejut.
"Yang Mulia .... " Wanita itu tampak pucat saat melihat raja yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Cepat bawa dia pergi! Aku tidak ingin melihat wajah pembunuh istriku!" Raja menitikkan air mata karena mengingat mendiang sang istri yang ternyata mati dibunuh.
"Ayah." Pangeran muda mendekati ayahnya dan lelaki itu memeluknya sambil menangis.
"Maafkan Ayah karena tidak bisa melindungimu dan juga ibumu. Ayah sangatlah bodoh, hingga dibutakan olehnya. Maafkan Ayah, Nak."
Ayah dan anak itu menangis sambil berpelukan. Sementara permaisuri sudah dibawa ke penjara. Berkat pangeran muda yang memaksa ayahnya datang ke kediaman permaisuri, akhirnya lelaki itu tahu kalau istri yang sangat dicintainya ternyata mati di tangan wanita itu.
Setelah mengantar ayahnya kembali ke kamar, pangeran muda bergegas menuju ruangannya. Dia mempercepat langkahnya karena khawatir dengan keadaan Yi Yuen. Setibanya di sana, dia tersenyum saat melihat gadis itu yang kini sudah sadar.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya pemuda itu yang kini duduk di samping Yi Yuen.
Melihatnya, Yi Yuen memaksa untuk bangkit, tapi pemuda itu melarangnya. "Istirahatlah, malam ini kamu dan ibumu tidur saja di ruangan ini. Besok pagi, aku akan menemuimu lagi. Istirahatlah." Pangeran muda membelai lembut puncak kepala Yi Yuen dan tersenyum padanya. Pemuda itu kemudian pamit dan meninggalkan tempat itu.
Keesokan harinya, pangeran muda yang sudah terlihat tampan itu mendatangi ruangan di mana Yi Yuen dan ibunya berada. Pemuda itu terlihat tampan dan berwibawa. Langkahnya cukup tegas saat berjalan ke arah Yi Yuen dan Zhi Ruo yang sudah bersiap meninggalkan istana.
"Apa kalian bermaksud untuk kembali?" tanya pangeran muda saat melihat kedua wanita itu sudah selesai berkemas.
"Tugas kami sudah selesai dan kami harus segera kembali. Pangeran, jangan lupa meminum obat yang sudah kami berikan. Untuk saat ini, Pangeran harus banyak beristirahat karena kondisi Pangeran belum sepenuhnya pulih," ucap Zhi Ruo sambil menundukan setengah badannya. Begitu pun dengan Yi Yuen yang melakukan hal serupa.
"Apa kondisimu sudah membaik?" tanya pangeran muda yang berjalan menghampiri Yi Yuen.
"Sudah, Pangeran. Aku baik-baik saja. Dan, terima kasih atas hadiah yang sudah diberikan kepada kami."
Karena jasa mereka, raja memberikan penghargaan berupa uang dan perhiasaan yang bagi mereka terlalu banyak. Walau berusaha untuk menolak, tapi mereka tidak bisa membantah atau menolak apa pun pemberian dari istana.
"Kami mohon undur diri, Pangeran."
Yi Yuen dan Zhi Ruo kembali menunduk dan memberi hormat di depan pemuda itu. Mereka kemudian keluar dan sudah ditunggu Wang Wei dengan kereta kuda yang bersiap mengantar mereka kembali ke kedai.
Mereka kemudian pergi meninggalkan rasa penasaran di hati pangeran muda. Rasa penasaran akan hatinya yang mulai bergejolak karena satu rasa yang belum sempat diucapkannya. Melihat kereta yang mulai menjauh dan membawa seseorang yang mulai mengganggu hatinya, pemuda itu berlari keluar dan menunggangi kudanya mengejar kereta yang membawa Yi Yuen dan ibunya kembali ke kedai.
Iringan kereta yang hanya diantar oleh Wang Wei tampak mulai menjauh dan menyusuri jalanan sepi. Suasana di pagi hari nyatanya masih belum terlalu ramai dan masih terlihat lengang. Hingga tiba-tiba iringan kuda berhenti mendadak karena kereta mereka sudah dihadang oleh sekelompok pria bertopeng yang kini mengarahkan anak panah ke arah mereka.
To Be Continued...
tombbrader dan 5 lainnya memberi reputasi
6