Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread1Anggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#58
Chapter 36


Lelaki berpenampilan mewah itu masih berdiri di depan Zhi Ruo yang menatapnya heran. Tak hanya sendiri, tapi lelaki itu datang bersama beberapa pelayan wanita dan dua kereta kuda yang penuh dengan perhiasan dan barang mewah lainnya.

Melihat kedatangan mereka, Yi Yuen segera menghampiri ibunya. "Bu, ada apa? Siapa mereka?"

Lelaki itu menatap Yi Yuen sambil tersenyum. "Maaf, aku ingin melamar ibumu untuk menjadi istriku," ucap lelaki yang sudah tidak asing baginya. Lelaki yang pernah mencintai ibunya.

Yi Yuen terkejut mendengar ucapan lelaki itu, hingga membuatnya berdiri di depan ibunya sambil memandangi lelaki itu. "Pergilah, ibuku tidak akan pernah menerima lelaki mana pun karena dia mencintai ayahku."

Zu Min tersenyum kecut mendengar jawaban Yi Yuen. "Zhi Ruo, apa kamu masih mengharapkan lelaki yang tidak jelas itu? Kalau dia mencintaimu, dia pasti ada di sini bersamamu, tapi nyatanya dia telah meninggalkanmu."

Yi Yuen mencoba menahan amarahnya karena lelaki itu mulai menyudutkan ayahnya. "Tuan, pergilah. Aku dan ibuku tidak butuh pengganti ayah. Walau dia tidak bersama kami, tapi aku yakin di suatu tempat dia masih mengingat kami. Ibuku sampai kapan pun tidak akan bisa melupakan ayahku apalagi menduakannya. Sebaiknya, Tuan pergi dan jangan datang menemui ibuku lagi."

Yi Yuen meraih tangan ibunya dan membawanya masuk ke dalam kedai. Namun, Zu Min tidak tinggal diam. Dia berusaha mengejar mereka karena tidak ingin kehilangan wanita yang sudah membuatnya patah hati di masa lalu. Dia ingin mendapatkan kembali wanita yang dulu membuat hatinya bergetar hingga saat ini.

"Zhi Ruo, aku mohon dengarkan aku." Zu Min berusaha mengejar, hingga Zhi Ruo menghentikan langkahnya dan menatap lelaki itu.

"Pergilah, aku rasa tidak ada yang perlu aku jawab karena putriku sudah memberi jawabannya. Aku tidak akan pernah mencintai lelaki mana pun selain ayah dari putriku. Zu Min, jangan lagi buat kesalahan yang sama karena aku tidak ingin membencimu. Aku rasa, kamu tahu siapa yang sudah membuat ibuku menderita dan akhirnya mati tanpa ada aku di sisinya. Mana mungkin aku akan menerima lelaki yang pernah menyakiti hatiku? Pergilah, dan jangan pernah menemuiku lagi!"

Zhi Ruo kemudian pergi meninggalkan Zu Min yang kini merasa kecewa dan penolakan untuk kedua kalinya. Kekecewaan yang membuat air matanya jatuh karena peristiwa silam yang telah membuat luka. Luka yang sudah ditorehkan, hingga membuat wanita yang dicintainya kecewa.

Dengan perasaan kecewa, Zu Min akhirnya meninggalkan tempat itu. Pergi meninggalkan harapan cinta yang nyatanya tak akan pernah bisa terbalas.

Zhi Ruo tampak duduk ditemani Yi Yuen yang menggenggam tangannya erat. Wajah cantik wanita itu masih terukir sempurna walau usianya sudah tak lagi muda. Senyuman perlahan terukir di bibirnya seraya membelai lembut kepala putrinya yang duduk di depannya. "Terima kasih, Nak." Yi Yuen mengangguk dan memeluk ibunya yang perlahan menitikkan air mata.

Peristiwa tadi telah membuat kerinduannya pada sang suami semakin menjadi. Rasa rindu yang membuatnya tertekan dalam senyum yang dipaksakan. Namun, dia sadar karena itu adalah jalan hidup yang harus ditempuh. Jalan yang sudah dipilih saat dirinya berani memulai kembali hubungan terlarang antara dua dunia.

Yi Yuen menyadari kegelisahan hati ibunya. Dengan lembut, gadis itu menghapus air mata ibunya yang kini membasahi wajah. Air mata karena menahan kerinduan yang teramat menyiksa.

"Ibu, istirahatlah. Hari ini, biar aku dan bibi yang akan melayani pasien. Sebaiknya, Ibu istirahat saja dan jangan memikirkan apa pun."

Yi Yuen kemudian memapah ibunya masuk ke dalam kamar. Wanita setengah baya itu kemudian berbaring dan menatap putrinya yang perlahan meninggalkan kamar setelah menyelimuti tubuhnya dengan selimut.

"Putriku, andai saja Ibu masih punya waktu, sekali saja, Ibu ingin bertemu dengan ayahmu. Ibu ingin memeluknya dan menceritakan tentang dirimu. Andai semesta mengizinkan, Ibu ingin meninggalkan dunia ini di dalam pelukannya." Zhi Ruo menangis mengingat wajah suaminya yang tak pernah hilang dari ingatannya. Wajah tampan nan rupawan dan penuh kasih sayang.

Dalam tangis, Zhi Ruo memejamkan matanya dan berharap bertemu sang kekasih hati di dalam mimpinya.

Sementara Qiang yang menyaksikan peristiwa itu, mulai mendapat jawaban. Dia akhirnya tahu, kalau ibu dan anak itu sangat merindukan sang ayah. Rindu untuk dapat kembali bersua dan saling mencinta. Tanpa sadar, air matanya jatuh saat melihat kesetiaan seorang wanita yang menanggung kerinduan dan penantian cinta yang tak kunjung berakhir.

Tak hanya itu, diam-diam Qiang memerhatikan Yi Yuen yang terlihat terampil saat melayani pasien yang datang berobat. Seakan tak punya beban, gadis itu bersikap biasa saja walau sebenarnya ada perasaan sedih yang menggelayut di benaknya.

"Dewi Yi, ada apa? Apa Dewi masih memikirkan masalah tadi?" tanya Ling yang sadar dengan sikap Yi Yuen. Gadis itu terkadang termenung dan tidak fokus dengan pekerjaannya.

"Aku memikirkan ibu. Aku tahu, ibu sangat sedih karena merindukan ayah. Andai aku mampu, aku akan mencarinya dan membawanya untuk menemui ibu." Yi Yuen terlihat sedih hingga dia memaksa tersenyum saat Li, bocah lelaki itu menuju ke arahnya.

"Li, apa kamu juga merindukan orang tuamu? Ah, aku sangat merindukan ayahku. Sekali saja, aku ingin bertemu dengannya dan memeluknya." Yi Yuen menghapus air matanya dan kembali berusaha untuk tersenyum di depan bocah itu.

Sekali lagi, Qiang tersenyum dan meraih tangan gadis itu. "Semoga keinginanmu dapat segera terwujud." Yi Yuen mengangguk dan kembali mengucek lembut rambut bocah itu.

Setelah kejadian itu, Qiang akhirnya pergi menemui Li Quan yang sudah menunggunya di taman langit. Lelaki itu seakan tak sabar untuk mendengar kabar dari muridnya itu.

"Apa? Jadi, istri dan anakku masih menungguku? Apakah mereka tidak membenciku?" Li Quan seakan tak percaya saat mendengar penuturan muridnya itu.

"Guru, nyonya sangat mencintai Guru dan selalu menunggu kedatangan Guru, hingga membuatnya menolak lamaran yang datang padanya."

Seketika, kening Li Quan mengerut. "Lamaran?"

"Kemarin, ada seorang lelaki yang datang untuk melamar nyonya dan mereka sepertinya saling mengenal. Yang aku tahu, lelaki itu sudah mencintai nyonya sejak dulu. Namun, nyonya menolak karena tidak ingin mengkhianati Guru. Baginya, Guru adalah lelaki pertama dan terakhir untuknya."

Air mata Li Quan perlahan jatuh. Dia tidak menyangka, ternyata Zhi Ruo masih setia menunggunya. Bahkan, wanita itu rela hidup dalam kesendirian demi cinta dan kesetiaan yang diperuntukkan baginya. Sementara dirinya, telah mengkhianati dengan menikahi wanita lain dan bahkan memiliki seorang anak dari pernikahannya itu. Li Quan mengepalkan kedua tangannya karena menahan rasa penyesalan yang teramat dalam.

"Qiang, besok aku akan menemui mereka. Bersiaplah, karena aku tidak ingin menyesal karena sudah membuat mereka menunggu. Aku harus menemui mereka."

Qiang mengangguk dan meminta undur diri. Sebelum kembali, dia memutuskan singgah di kediamannya untuk beristirahat sejenak. Baru saja dia menapakkan kaki di depan halaman, dia dikejutkan dengan kehadiran Putri Anchi yang kini tersenyum ke arahnya.

Gadis itu berjalan perlahan sambil membawa kotak makanan yang dibungkus kain sutera. Sambil tersenyum dengan sikapnya yang manja, gadis itu meraih tangan Qiang dan mengajaknya duduk di serambi depan rumah. Kotak makan lantas dibuka dan mempersilakan pemuda itu untuk mencicipinya. "Makanlah, aku sendiri yang membuatkannya untukmu. Kamu pasti lelah karena harus mengerjakan perintah ayahku," ucapnya sambil mengambil beberapa potong kue dan meletakkannya di sebuah piring kecil.

Qiang tersenyum dan menerima piring berisikan potongan kue dan mulai mencicipinya. "Wah, ternyata kamu tak hanya cantik, tapi kamu juga rupanya pandai memasak. Suamimu kelak pasti akan sangat bahagia."

Putri Anchi tersenyum malu. Gadis itu terus memerhatikan pemuda yang kini duduk di depannya. Pemuda yang sudah membuatnya jatuh cinta dalam diam.

Setelah bercengkerama sebentar, Putri Anchi memutuskan untuk kembali. Qiang mengantarnya, hingga di depan pintu gerbang dan kembali masuk ke dalam rumahnya setelah gadis itu pergi. Rumah sederhana yang sudah ditempatinya sejak dulu dalam kesendirian tanpa keluarga.

Di atas pembaringan, pemuda itu menghempaskan tubuhnya dan memejamkan mata. Perlahan, dia menyentuh rambutnya dan menguceknya pelan sama seperti yang biasa dilakukan Yi Yuen padanya. Seuntai senyum terukir di bibirnya dengan mata yang masih terpejam. Wajah seorang gadis manis mulai bermain di pikirannya. Wajah yang membuatnya melupakan mimpi yang selama ini terus mengganggunya.

"Yi Yuen, apakah aku mulai menyukaimu? Apakah aku juga harus bernasib sama seperti ayahmu yang mencintai seorang manusia dan terpaksa melepaskan cintanya itu?"

Kembali perasaannya terusik saat benih-benih cinta perlahan mulai tumbuh seiring kebersamaan mereka. Sudah cukup baginya untuk mengetahui siapa Yi Yuen sebenarnya. Gadis baik hati yang selalu ramah pada setiap orang. Gadis manis yang selalu tersenyum ke arahnya dan mengucek lembut rambutnya yang ikal. Entah mengapa, saat bersama gadis itu, hatinya merasa tenang dan tak memikirkan apa pun. Seakan ada perasaan ingin melindungi, hingga membuatnya bingung dengan apa yang dia rasakan.

Bahkan, mimpi tentang seorang gadis yang terlihat samar-samar menangis di depannya, kini berganti dengan wajah seorang gadis yang tersenyum padanya. Gadis yang nyatanya begitu dekat, hingga membuat jantungnya berdetak hebat karena senyuman itu.

Qiang perlahan menyentuh dadanya sambil bangkit dan duduk di atas ranjang. Bibirnya menyunggingkan senyum tatkala mengingat Yi Yuen yang tak bisa lepas dari ingatannya. "Ah, apa ini yang dinamakan cinta? Apa mungkin, aku telah jatuh cinta pada putri guruku sendiri?"

Pemuda itu kemudian bangkit dan bermaksud untuk berlatih di halaman rumahnya. Dia harus mengasah kemampuannya agar bisa melindungi seseorang yang pantas untuk dia lindungi. Seseorang yang kini telah hadir di dalam relung jiwanya.

Selang beberapa jam kemudian, Qiang memutuskan untuk kembali. Rasanya, dia tidak ingin berlama-lama meninggalkan bumi, di mana gadis yang dikaguminya itu tinggal. Qiang yang sudah mengubah wujudnya menjadi bocah lelaki tampak berlari riang saat menuju ke kedai. Namun, langkahnya terhenti saat tangannya diraih oleh seseorang. Seketika, bocah itu tersenyum saat melihat Yi Yuen yang kini berdiri memandanginya.

"Kamu dari mana saja? Aku sudah lelah mencarimu karena kamu pergi tidak pamit padaku." Yi Yuen terlihat kesal, tapi tidak bagi Qiang.

"Maaf, aku hanya .... "

"Sudahlah, seharusnya aku yang minta maaf, karena aku sudah memarahimu. Apa kamu pergi untuk mencari keluargamu? Jika benar, aku tidak akan menahanmu lagi. Pergilah." Yi Yuen lantas berbalik dan pergi meninggalkan Qiang yang perlahan mengikuti langkahnya dari belakang, hingga mereka tiba di satu bukit kecil yang dipenuhi rumput hijau dan beberapa tanaman bunga.

Di atas hamparan rumput hijau, Yi Yuen duduk dan menyandarkan punggungnya di sebatang pohon pinus yang tidak terlalu besar. Tatapannya tertuju pada hamparan rumput yang bergoyang tertiup angin.

"Li, apa kamu rindu ingin bertemu dengan orang tuamu? Apa mereka juga merindukanmu?"

Pertanyaan Yi Yuen membuat Qiang menatapnya lekat dan dia bisa melihat ada kesedihan di raut wajah gadis itu. Benar saja, air mata gadis itu perlahan jatuh, hingga membasahi wajahnya yang kini menunduk.

"Jangan menangis." Tangan mungil bocah itu meraih tangan Yi Yuen dan menggenggamnya erat. "Aku yakin, ayahmu juga sangat merindukanmu. Bersabarlah, suatu hari nanti kalian pasti akan bertemu."

Mendengar ucapan bocah itu, Yi Yuen mengangkat wajahnya dan menatapnya lekat. Air matanya membasahi pipinya dengan isakan tangis yang kini terdengar. Ada perasaan aneh yang kembali Qiang rasakan saat melihat air mata yang basah di wajah Yi Yuen. Wajah yang terlihat sama di dalam mimpinya. Suara tangisan yang terdengar sama. Seketika, dia melepaskan tangannya dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

"Apa ini? Kenapa aku tiba-tiba menjadi sedih saat melihat dia menangis? Kenapa aku merasa kalau dia bukanlah seseorang yang asing bagiku?" Qiang mencoba mengelak perasaannya, tapi nyatanya rasa itu semakin kuat, hingga membuatnya bangkit dan berlari meninggalkan Yi Yuen yang kini menatap kepergiannya.

Qiang terus berlari dan berhenti di bawah pohon sakura sambil menyandarkan tubuhnya. Kini, dia tidak lagi berwujud sebagai seorang bocah melainkan seorang pemuda tampan yang sedang merasakan dilema. Bayang-bayang masa lalu mulai menyiksa dengan kilasan peristiwa yang terlihat samar-samar. Qiang memegang kepalanya dengan mata yang terpejam, hingga dia membuka matanya saat peristiwa silam melintas di depan matanya.

Seketika, air matanya jatuh saat mengingat seorang gadis yang menangis dan tersenyum ke arahnya. Senyuman dan tangisan dengan sebuah kata cinta yang terucap dari bibirnya. Kata yang menjadi akhir dari sebuah kisah cinta yang harus kandas karena goresan takdir yang tak ingin mereka bersama.

Wajah gadis itu sangatlah nyata. Yi Yuen, wajah gadis yang dilihatnya. Wajah yang perlahan berpendar menjadi butiran cahaya yang menghilang di angkasa.

Qiang terduduk dengan napas tersengal. Air matanya jatuh hingga membuatnya terisak. Kisah di kehidupan masa lalu perlahan terkuak dengan membawa sejuta harapan yang masih tersisa. Harapan yang akan membuatnya meraih kebahagiaan dan membahagiakan seseorang yang ternyata begitu berharga baginya. Entah di saat lalu, ataupun di saat kini.

To Be Continued...
tet762
Indjay
banditos69
banditos69 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.