- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#57
Chapter 35
Sejak melihat Qiang menatap Yi Yuen di saat itu, Putri Anchi mulai merasakan cemburu. Perasaan cinta dan kagum yang selama ini dipendam, akhirnya tergoyahkan saat api kecemburuan mulai merasuki hatinya. Dia tidak ingin pemuda yang sudah bersamanya sejak masih kecil itu menjadi milik wanita lain, karena baginya, Qiang tak hanya seperti seorang kakak atau murid dari ayahnya, tapi pemuda tampan yang layak untuk dipertahankan dan dimiliki hanya untuknya.
Putri Anchi yang biasanya terlihat acuh saat melihat kedatangan Qiang, kini tak lagi seperti itu. Wajahnya tampak cantik saat pemuda itu datang menemui ayahnya. Dia ingin mengambil perhatian pemuda yang selama ini selalu diacuhkannya, karena nyatanya rasa cemburu perlahan merasuk di hatinya saat melihat pemuda itu dekat dengan gadis lain.
"Putriku, kamu kenapa? Apa kamu menyukai Qiang?" tanya ibunya saat melihat anak gadisnya yang selalu tersenyum sambil mengintip pemuda yang kini sedang duduk bersama ayahnya.
Mendengar pertanyaan ibunya, gadis itu tersipu malu. Wajahnya merona karena melihat senyuman Qiang yang sempat tersenyum ke arahnya.
"Oh, jadi begitu. Sejak kapan kamu mulai suka pada pemuda itu? Bukannya, kamu hanya menganggapnya sebagai murid ayahmu? Ah, jangan bilang kalau kamu terpukau dengan ketampanannya." Putri Mu Rong tersenyum sambil mencubit lembut pipi putrinya yang memerah.
"Ah, Ibu, jangan mengejekku." Gadis itu merengek manja sambil menggelayutkan tangannya di lengan ibunya.
"Oh, iya, Bu. Aku ingin tahu bagaimana ayah dan Ibu bisa menikah? Apa kalian berdua juga merasakan jatuh cinta? Ah, Ibu, ayo ceritakan padaku. Aku ingin mendengar kisah cinta ayah dan Ibu di masa lalu." Putri Anchi tersenyum sambil duduk di sebuah kursi dan bersiap mendengar cerita ibunya, tapi wanita itu hanya tersenyum kecut karena berusaha menyembunyikan perasaannya yang tersiksa karena menahan cemburu.
Ya, selama ini mereka menikah hanya karena permintaan kedua orang tua. Walau sebenarnya, Putri Mu Rong sangat mencintai Li Quan dan rela menunggunya, hingga seribu tahun untuk dapat bersamanya. Namun, nyatanya dia harus kecewa karena lelaki yang ditunggunya ternyata mencintai wanita lain. Walau akhirnya, dia dan Li Quan telah menikah, tapi tidak membuat Li Quan mencintainya. Tak pernah sekali pun lelaki itu mengatakan cinta padanya hingga membuatnya merasa terabaikan.
"Sudahlah, sebaiknya kamu bersiap-siap karena sebentar lagi akan berlatih bersama Qiang. Putriku, jika kamu mencintainya, maka jangan pernah melepaskan dia dan raihlah hatinya agar tidak lepas darimu. Apa pun keputusanmu, Ibu akan selalu mendukungmu." Putri Mu Rong mengelus lembut kepala putrinya itu dan pergi meninggalkannya. Setidaknya, dia tidak perlu menjelaskan tentang kehidupan cintanya yang nyatanya tak berakhir bahagia.
Sementara Qiang, masih duduk di depan Li Quan yang saat ini sedang menanyakan keadaan istri dan anaknya yang sangat dirindukannya. Rasanya, dia ingin pergi menemui mereka dan hidup bersama seperti keluarga lainnya. Saat ini, hatinya goyah dengan kerinduan yang semakin membuncah. Kerinduan yang membuatnya selalu berdiam diri di dalam ruangan yang penuh dengan lukisan wajah sang istri yang tak pernah jemu dipandanginya.
"Guru, apakah Guru merindukan mereka?" tanya Qiang saat melihat gurunya itu menatap sedih lembaran sketsa wajah dua orang wanita yang baru saja diberinya.
"Putriku ternyata sangat cantik. Aku pergi meninggalkannya saat dia masih di dalam kandungan ibunya. Qiang, apa aku masih punya kesempatan untuk bertemu dengan mereka?" Wajah Li Quan terlihat sedih. Air matanya tiba-tiba jatuh karena beban rindu yang tak mampu lagi dipikulnya.
"Guru, pergilah temui mereka. Aku yakin, mereka juga pasti merindukan Guru. Bukankah, Guru hanya akan bertemu dengan mereka? Itu tidaklah melanggar peraturan langit. Jika Guru tidak keberatan, aku bersedia membawa Guru menemui mereka tanpa ada yang curiga."
Sejenak, Li Quan menatap muridnya itu. "Qiang, apa maksud ucapanmu itu? Apa ada jalan lain menuju bumi selain pintu langit?"
Pemuda itu tersenyum dan mengangguk. "Guru, aku akan membawamu menemui mereka. Aku akan mencari waktu yang tepat agar kita bisa pergi dengan aman. Aku harap, Guru mau mempertimbangkannya."
Li Quan tersenyum dan menyetujui usul muridnya itu. Rasanya, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kekasih hati yang sudah lama tak dijumpainya.
Setelah selesai, Qiang meminta undur diri dan meninggalkan tempat itu. Sementara Li Quan, memilih keluar dari ruangan dan berjalan menuju taman langit. Taman yang terlihat asri itu penuh dengan pohon sakura yang tak berhenti berbunga. Bunga sakura yang berwarna putih itu terlihat memukau dan memanjakan mata saat guguran bunga beterbangan, hingga tampak seperti butiran-butiran salju yang jatuh dari langit. Sungguh, pemandangan yang ingin disaksikan bersama kekasih hati sambil bergandengan tangan dan tak saling melepaskan.
Li Quan masih menikmati keindahan yang tak ternilai di depan matanya, hingga membuatnya memejamkan mata dengan senyum yang terpancar dari sudut bibirnya. Desiran angin lembut menerpa wajahnya dengan membawa khayalan indah yang sekali lagi membuatnya tersenyum dalam diam.
Ya, saat ini dia sedang mengkhayalkan wajah kekasih hati yang tersenyum padanya. Aroma tubuh sang kekasih masih tersimpan di indera penciumannya. Hangat tubuh yang masih terasa di relung jiwa. Sentuhan lembut nan mesra masih terasa di genggaman tangannya. Sesaat, dia terbawa suasana saat dia merasakan pelukan hangat dan sentuhan tangan yang terasa begitu nyata. Perlahan, dia membuka matanya dan menyebut satu nama yang tak pernah bisa dilupakan. "Zhi Ruo," ucapnya dengan sepenuh jiwa. Perlahan, pelukan dan sentuhan itu tak lagi dirasakan olehnya hingga membuatnya melihat ke belakang.
"Apa kamu belum bisa melupakannya? Apa dia sangat berarti bagimu hingga aku tidak kamu pedulikan?"
Li Quan terkejut karena sentuhan yang dia rasakan adalah sentuhan dari Putri Mu Rong yang memeluknya dari belakang.
"Pergilah, tinggalkan aku sendiri!" Li Quan membalikkan tubuhnya dan tak peduli dengan pertanyaan istrinya itu.
"Kakak, tidak bisakah kamu memelukku sekali saja? Aku mencintaimu, bahkan lebih besar dari cintanya padamu. Kakak, kenapa kamu tega menyimpan kenangannya sementara sudah aku ada di sampingmu?"
Putri Mu Rong tampak menangis karena kecewa dengan sikap Li Quan padanya. Hatinya terbakar api cemburu karena wanita yang baginya tak layak untuk lelaki yang dicintainya itu.
"Kakak, apa kamu tidak pernah mencintaiku?"
"Pergilah! Jangan lagi menggangguku dengan pertanyaan yang kamu sendiri tahu jawabannya."
Mendengar ucapan Li Quan, hatinya bagaikan teriris sembilu tajam. Sakit dan ngilu hingga membuatnya menangis dalam diam. "Ah, aku hanyalah wanita bodoh yang jatuh cinta pada lelaki yang mencintai wanita lain. Walaupun kamu mencintainya, tapi nyatanya aku yang ada di sampingmu, bukan dia. Jadi, aku tidak peduli walau kamu mencintainya karena kenyataannya akulah yang mendampingimu, bukan dia!"
"Diam! Enyah kamu dari sini!" Li Quan terlihat marah, hingga suaranya menggema menggetarkan taman langit. Pohon sakura yang ada di taman itu berguncang hingga menjatuhkan guguran bunga-bunga yang sangat banyak.
Wanita itu tersenyum kecut saat dibentak oleh suaminya sendiri. Rasanya begitu sakit hingga membuatnya menahan amarah. Tanpa pamit, wanita itu pun pergi dan meninggalkan Li Quan yang masih memandang hamparan pohon sakura yang tak lepas dari pandangannya.
Sambil mengepalkan tangannya, Putri Mu Rong pergi menemui ayahnya. Wanita itu begitu murka hingga menghantam beberapa orang pengawal yang berdiri di depannya. Tak hanya pengawal, tapi pelayan yang baru saja datang tak luput dari amukan amarahnya itu.
"Putriku, apa yang terjadi? Kenapa kamu marah? Katakan pada Ayah, siapa yang sudah berani membuatmu marah seperti ini?"
Dewa Perang tampak mendekati putrinya itu. Dengan wajah memerah, Putri Mu Rong memeluk sang ayah dan menangis di dalam pelukannya.
"Ayah, aku membencinya! Aku mohon, singkirkan dia agar Li Quan bisa mencintaiku." Wanita itu merengek dengan isakan tangis yang mulai terdengar.
"Siapa yang kamu maksudkan. Siapa yang kamu ingin Ayah singkirkan. Katakan saja, Ayah pasti akan melakukannya."
Putri Mu Rong melepaskan pelukannya dan duduk di sebuah kursi. Dewa Perang kemudian ikut duduk di depan putrinya itu.
"Ayah, wanita itu rupanya belum hilang dari pikiran Li Quan. Li Quan ternyata masih mencintainya, bahkan tadi aku dibentak. Aku marah karena dia tidak peduli padaku. Ayah, apa yang harus aku lakukan agar Li Quan hanya mencintaiku saja?"
Kembali dia menangis hingga membuat Dewa Perang mengepalkan kedua tangannya. Dia begitu marah karena putri kesayangannya telah dibuat menangis bahkan dibentak oleh suaminya sendiri.
"Putriku, apa kamu ingin Ayah melenyapkannya?"
Wanita itu mengangguk. "Aku tak peduli bagaimanapun caranya, Ayah harus bisa melenyapkannya. Jika tidak, selamanya aku tidak akan dianggap oleh suamiku sendiri. Bagaimana bisa kita menguasai Istana Langit jika aku tidak bisa mengendalikan Li Quan. Ayah, bantu aku untuk melenyapkan wanita itu!"
Lelaki paruh baya itu mengangguk dan menyanggupi keinginan putrinya. Dia mampu melakukan apa pun demi mewujudkan keinginannya dan telah bersiap dengan satu rencana yang akan dilakukan untuk menyingkirkan wanita yang menjadi penghalang bagi putrinya.
Sementara Li Quan, sudah memantapkan diri untuk bertemu dengan kekasihnya. Karena itu, dia memerintahkan Qiang untuk kembali ke bumi dan memastikan kalau Zhi Ruo juga merasakan hal yang sama. Rasa yang kini menggoyahkan hatinya.
Setelah mendapat perintah, Qiang akhirnya pergi menuju bumi dengan penampilan yang berbeda. Dia sengaja mengubah wujudnya menjadi seorang bocah lelaki. Dengan wajah yang penuh luka dan baju compang-camping, Qiang berdiri di depan kedai obat milik Zhi Ruo dengan wajah mengiba.
Saat itu, pintu kedai belum terbuka. Hawa sejuk meniup perlahan membuat siapa pun enggan bangun dari tempat tidur. Matahari pagi belum juga menampakkan sinarnya. Namun, penghuni kedai itu sudah bersiap dengan aktivitas kesehariannya.
Qiang masih berdiri di depan pintu yang perlahan mulai terbuka. Tanpa dinyana, tubuh mungilnya seketika jatuh ke tanah, hingga membuat Kangjian yang saat itu membuka pintu cukup terkejut.
Melihat seorang anak kecil jatuh pingsan, Kangjian segera mengangkatnya dan membawanya ke dalam kedai. Di atas tempat tidur, bocah itu dibaringkan.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Zhi Ruo yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Nyonya, aku menemukannya pingsan di depan pintu. Sepertinya, dia sudah berdiri di depan pintu sejak tadi karena tubuhnya terasa dingin."
Zhi Ruo lantas mendekati bocah itu dan mulai memeriksanya. "Siapkan sarapan pagi. Sepertinya, dia butuh makan." Zhi Ruo tersenyum sambil mengambil kain basah dan menyeka wajah bocah itu. "Kangjian, siapkan air panas untuknya. Dia perlu menghangatkan tubuhnya karena sudah berdiri terlalu lama di depan pintu."
"Baik, Nyonya!" Kangjian kemudian masuk ke dapur dan menyiapkan apa yang diperintahkan Zhi Ruo padanya.
Bocah itu perlahan membuka mata dan menatap heran ke arah Zhi Ruo yang kini tersenyum padanya. Dan pandangannya kini teralihkan pada seorang gadis cantik yang berjalan ke arahnya.
"Apa kamu sudah sadar?"
Bocah itu perlahan bangkit. "Nyonya, maafkan aku. Aku .... "
"Sudahlah, sebaiknya kamu mandi dulu. Setelah itu, kita sarapan sama-sama." Tutur kata yang halus dan lembut terucap dengan santun dari mulut Zhi Ruo, hingga membuat bocah itu terdiam. Dia tidak menyangka, wanita yang dicintai gurunya itu ternyata memiliki kelembutan seperti seorang dewi.
"Hei, bocah! Ayo, sana pergi mandi!" Yi Yuen meraih tangan bocah itu dan membawanya ke belakang. "Cepatlah, setelah itu kita sarapan. Kamu pasti sudah lapar. Iya, kan?" Yi Yuen mengucek lembut rambut bocah itu dan kembali masuk ke dalam.
Qiang menyentuh kembali rambutnya dan tersenyum. "Guru, ternyata guru sangat beruntung karena memiliki dua wanita yang sangat baik hati."
Qiang kemudian masuk ke tempat pemandian dan segera membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, dia keluar dengan menggunakan pakaian yang sudah disiapkan Kangjian untuknya.
Di meja makan, mereka sudah duduk berkumpul dan menunggunya. Melihat kedatangannya, Yi Yuen lantas meraih tangan bocah itu dan mempersilakannya duduk di salah satu kursi yang kosong. "Ayo, duduklah." Gadis itu lantas mengambil mangkok dan menyendokkan nasi dan lauk pauk ke dalam mangkok itu. "Makanlah." Yi Yuen tersenyum sambil kembali mengucek lembut rambut bocah itu.
Tanpa ragu, bocah itu mulai menyantap makanan yang diberikan padanya hingga habis tak bersisa. Rasanya, makanan itu sangatlah jauh berbeda dengan makanan yang biasa dia santap. Bukan karena kemewahan, tapi karena kebersamaan yang membuatnya merasa iri. Kebersamaan sebuah keluarga yang tak pernah dia rasakan.
"Hei bocah, siapa namamu?" tanya Yi Yuen saat mereka sedang menyiapkan beberapa obat.
"Li, namaku Li," jawab Qiang spontan.
"Baiklah, Li. Sekarang, katakan padaku di mana rumahmu. Apa kamu punya orang tua?" tanya Yi Yuen kembali.
"Aku hidup sendiri dan aku tidak punya tempat tinggal karena orang tua sudah tidak ada."
Seketika Yi Yuen menatap ke arahnya dan duduk di depannya. "Apa kamu mau tinggal di sini dan menjadi adikku?"
Bocah itu mengangguk sambil tersenyum hingga membuat Yi Yuen kembali mengucek rambutnya. "Baiklah, sekarang bantu aku menyiapkan obat-obat ini."
Bocah itu kembali mengangguk dan membantu Yi Yuen membawa nampan yang penuh dengan obat, hingga langkah mereka terhenti saat melihat seorang lelaki berpenampilan mewah berdiri di depan Zhi Ruo sambil berusaha meraih tangan wanita itu. "Zhi Ruo, izinkan aku untuk menikahimu."
To Be Continued...
banditos69 dan 3 lainnya memberi reputasi
4