- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
198.5K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#631
Part 75 - Otw Puncak
Hari terus berlalu setelah hari dimana gue nginep di rumah Manda, hari dimana gue mulai merasa prihatin dengan manda. Hari dimana gue mulai merasakan perasaan terhadap manda, mungkin? gue kurang mengerti.
Disaat-saat anak seumuran gue hanya tinggal mengejar perempuan yang mereka puja, pdkt beberapa bulan, kalau beruntung yaaa jadian, kalau ditolak yaaa cari lagi. Sementara itu gue masih berada dalam pikiran apakah gue bener-bener suka sama Manda. yang awalnya penasaran, kemudian prihatin, kemudian berubah jadi suka. tapi entah kenapa gue merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Jujur aja, ketika gue lagi jalan sama Manda, atau gue sedang berada dekat bersama Manda, ada perasaan yang menggebu-gebu di dalam diri gue, jantung gue seolah berdetak lebih cepat. Manda begitu sempurna secara fisik buat gue, dan gue pun berusaha selalu berpenampilan sempurna di hadapan Manda. Kecuali di pertemuan dimana gue nginep di rumah Manda, dan itu pun gue merasa harus bersikap sempurna.
Sejak pertemuan kemarin juga komunikasi gue dengan Manda menjadi sedikit lebih intens. Kayak ngucapin ‘good night’ sebelum tidur, nanyain udah makan atau belum, dan perhatian-perhatian kecil lainnya. Beberapa kali kita juga cabut bareng hanya untuk sekedar makan atau nonton, tapi ga sampai pulang pagi atau nginep lagi
Ketika gue terlalu sibuk memikirkan apa yang sedang gue rasakan, gak kerasa sekarang sudah mendekati akhir tahun. Wacana buat ke puncak bareng anak-anak kelasan gue pun terealisasikan, dan kita semua bisa merasakan antusiasme dan euforia yang terjadi. Terlebih lagi karena biaya yang dikeluarkan oleh kita ga terlalu banyak, hanya buat sewa mobil. Kantor bokap gue menyediakan villa/rumah peristirahatan buat pegawainya di beberapa wilayah di Indonesia. Sebenarnya lebih ke tujuan buat ngadain acara kantor, tapi pegawainya diizinkan buat nginep selama ga ada yang memakai. Karena karyawan kantor bokap gue banyak, jadi paling nggak harus sebulan pesannya.
Sementara itu buat makan juga ga perlu repot karena nyokap gue ikut, anak-anak pada pt-pt buat beli bahan makanannya sekalian sewa mobilnya, dan beberapa anak cewek lainnya juga sepertinya bersedia buat bantuin nyokap masak buat disana nantinya.
“Seriusan Tre pt-ptnya cuman segini?” tanya Sam memastikan biaya yang harus kita keluarkan buat ke puncak nanti di sela-sela istirahat.
“Iyeeee…..” jawab gue males karena ini bukan pertama kalinya gue ditanya.
“Terus entar nginepnya dimana?” sekarang giliran Anda yang nanya.
“Di villa kantor bokap gue, kan dah gue bilangin.”
“Iye lo udah bilang, tapi kan lo katanya mau nunjukin villanya.”
“Cari aja nyet di google.”
“Bagus ga?” tanya Putra masih baget.
“Gue udah lama ga kesana, tapi kata bokap gue baru di renovasi. Liat aja sih.” Maksudnya liat di google.
Putra langsung nodong gedak minjemin hpnya buat ngeliat villa yang bakal kita inepin nanti. Dengan terpaksa gedak pun ngeluarin hpnya buat dipinjem. Kenapa terpaksa? simpel aja, hp dia salah satu yang paling bagus saat itu, disaat yang lain pada masih pake bb, dia udah pake hp dengan layar sentuh. Alasan lainnya, anak-anak yang lain pada males ngeluarin hp, wkwkwk.
“Apaan namanya?” Tanya Putra
“sini gue ketikin.” Gue pun merebut hpnya Gedak dari tangan Putra buat ngetik nama villa yang akan kita tuju, setelah terbuka, gue balikin lagi ke Putri. Sementara itu anak-anak yang lain pada ngerubung udah kaya lagi nonton bokep.
“Banyak amat Tre villanya.” Tanya Rian.
“Emang kaya komplek villa gitu, ada lima doang kok, dan ga terlalu deket-deket.”
“Terus villa kita yang mana?”
Gue rebut lagi hpnya Gedak, terus memilih gambar villa yang udah dikasih tahu sama bokap gue. “Nih.”
“Anjir sabi nih Tre.” sahut Gedak.
“Seriusan nih tre villa kaya gini gratis.” timpal Iman, dan komentar-komentar lainnya dari temen-temen gue.
“iyeee….”
Villa kantor bokap gue emang bagus, namanya juga punya kantor, pasti di urus. Kalau seandainya nyewa sendiri mungkin bisa kena biaya tiga juta lebih. Buat ukuran anak sma, atau paling ngga buat kita-kita, nyewa villa segitu udah sesuatu yang wah. Emang sih rame yang ikut dan bisa ptpt, tapi belum tentu semuanya jadi pada ikut nantinya.
“Hei kalian! lagi pada ngapain ngumpul-ngumpul.” Sebuah suara yang sudah sangat dihafal oleh seluruh siswa di sekolah gue tiba-tiba terdengar dan ngebuat kita semua panik. The one and only, Jombang, guru yang merangkap kesiswaan yang paling rebek soal peraturan sekolah. “Ngapain kalian ngumpul-ngumpul, liat yang macem-macem yaaa pasti.” Tuduh Jombang tak beralasan.
“Enggak pak, ini lagi liat-liat villa.” Bela Rico dengan tampang pongonya. Tapi siapa pun yang ngejawab pasti keliatan banget sih muka bodohnya.
“Terus? kalian ga denger suara bel emangnya?”
“Denger pak, ini baru mau masuk.” dan satu persatu dari kita pun langsung bubar masuk ke kelas.
Namanya belom ada guru pas jam istirahat, yaaa itungannya berarti masih jam istirahat, wkwkwk. Pas kita semua masuk kelas pun ujung-ujungnya pada ngobrol juga.
“Tre, nanti ada orang tuanya ga? bokap gue nanyain.” Gue yang baru duduk dibangku langsung di tanya sama cindy, dia bahkan sampai repot-repot memutar badannya biar bisa tanya langsung ke gue.
“Ikut kok, kan nyokap gue juga masak nanti.” Jawab gue.
“Boleh minta nomer hpnya ga Tre, biar bokap sama nyokap gue tenang, nanyain terus soalnya mereka.”
“Beleh-boleh, tadi anak-anak yang lain(anak cewe maksudnya) juga ada yang minta. Lo mau juga Din?”
“Boleh Tre, buat jaga-jaga.” Kata Dinda.
“Emangnya kalau bokap sama nyokap lo ga ikut ga bisa ya Tre?” Tanya Rico.
“Gatau deh, harusnya bisa sih, tapi entar jadi ribet.” Jawab gue rancu. Bisa ribet karena ga ada makanan, bisa ribet karena kurang kendaraan, atau paling engga buat naro beberapa barang.
“Yaaah, ga bebas dong nanti.”
“Gue juga pengennya sih anak-anak aja Co.”
Ini sedikit menjadi pro kontra tentang keikutsertaan bokap dan nyokap gue ke puncak di acara ini. Pro-nya adalah, karena bokap dan nyokap gue ikut, banyak anak kelasan gue khususnya anak cewek yang dibolehkan ikut. Mengingat perbandingan satu banding tiga antara cowok dan cewek di kelas gue dan gimana orang tua perempuan memperlakukan anaknya pada umumnya, wajar kalau mereka khawatir. Dan dengan ikutnya bokap dan nyokap gue membuat mereka jadi lebih tenang dan mengizinkan anaknya.
Sementara kontranya adalah, ya, sebagai calon-calon penyamun masa depan oleh beberapa anak khususnya anak cowok, itu berarti mempersempit ruang kegiatan kami. Ga yang macem-macem sih, paling ngebeer doang. Pada saat itu mini market di puncak masih boleh jualan beer. Tapi kalau ketahuan tetep aja bisa tempeleng gue sama bokap. Karena ini itungannya acara kelas, jadilah bokap dan nyokap gue.
Libur akhir tahun pun tiba dan di hari yang udah kita tentukan sebelumnya, anak-anak kelas gue berkumpul di deket sekolah buat pergi ke puncak. Kalo dipikir-pikir yang ikut rame juga, soalnya sampe setengah kelas yang ikut. Sesekali ada anak angkatan kita yang lewat pada nanyain kita mau kemana, kan emang banyak yang nongkrong di deket-deket sekolah meskipun libur, dan banyak juga yang tinggal di deket sekolah. dan dengan songongnya kita jawab mau ke puncak, wkwkwk.
Seperti layaknya kebanyakan anak sma, mungkin, waktu nunggu, yang cowok pada ngumpul sama cowok, yang cewek sama yang cewek. Tapi tidak dengan beberapa anak cewek yang kadang lebih suka gabung sama anak-anak cowok dibandingin sama anak-anak cewek yang lain. Bisa dibilang seperti strata sosial dalam hal pergaulan. Udah pasti anak cewek kelas gue yang lebih akrab sama kita yang punya mana di sekolah, tapi bukan berarti anak cowoknya mengucilkan anak ceweknya yang lain, ini cuman masalah kenyamanan. Toh semuanya pernah jadi bahan cak-cakan juga.
Tapi kalau dipikir-pikir, yaaa emang anak cewek yang gabung ke kita anak cowok bisa dibilang lebih cantik, dalam kasus ini di kelasan gue. Apalagi waktu lihat mereka pake baju bebas dan ditambah make up, gue baru sadar kalau mereka cantik-cantik juga, meskipun tetep ada yang jadi bahan celaan.
“Syif, di rumah lo ada gunung meletus ya.” Kata Rico ke syifa, waktu lagi nunduk. Tanpa nunggu penjelasan kita semua pada ketawa karena mengerti apa yang dimaksud. Meskipun orang yang dibecandain rada ngambek, tapi dia tetep stay sama kita-kita, malah ngebales celaannya Rico.
Sekitar jam sembilan kita semua berangkat ke puncak sebelum bertambah macet di jalan.
Hari terus berlalu setelah hari dimana gue nginep di rumah Manda, hari dimana gue mulai merasa prihatin dengan manda. Hari dimana gue mulai merasakan perasaan terhadap manda, mungkin? gue kurang mengerti.
Disaat-saat anak seumuran gue hanya tinggal mengejar perempuan yang mereka puja, pdkt beberapa bulan, kalau beruntung yaaa jadian, kalau ditolak yaaa cari lagi. Sementara itu gue masih berada dalam pikiran apakah gue bener-bener suka sama Manda. yang awalnya penasaran, kemudian prihatin, kemudian berubah jadi suka. tapi entah kenapa gue merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Jujur aja, ketika gue lagi jalan sama Manda, atau gue sedang berada dekat bersama Manda, ada perasaan yang menggebu-gebu di dalam diri gue, jantung gue seolah berdetak lebih cepat. Manda begitu sempurna secara fisik buat gue, dan gue pun berusaha selalu berpenampilan sempurna di hadapan Manda. Kecuali di pertemuan dimana gue nginep di rumah Manda, dan itu pun gue merasa harus bersikap sempurna.
Sejak pertemuan kemarin juga komunikasi gue dengan Manda menjadi sedikit lebih intens. Kayak ngucapin ‘good night’ sebelum tidur, nanyain udah makan atau belum, dan perhatian-perhatian kecil lainnya. Beberapa kali kita juga cabut bareng hanya untuk sekedar makan atau nonton, tapi ga sampai pulang pagi atau nginep lagi
Ketika gue terlalu sibuk memikirkan apa yang sedang gue rasakan, gak kerasa sekarang sudah mendekati akhir tahun. Wacana buat ke puncak bareng anak-anak kelasan gue pun terealisasikan, dan kita semua bisa merasakan antusiasme dan euforia yang terjadi. Terlebih lagi karena biaya yang dikeluarkan oleh kita ga terlalu banyak, hanya buat sewa mobil. Kantor bokap gue menyediakan villa/rumah peristirahatan buat pegawainya di beberapa wilayah di Indonesia. Sebenarnya lebih ke tujuan buat ngadain acara kantor, tapi pegawainya diizinkan buat nginep selama ga ada yang memakai. Karena karyawan kantor bokap gue banyak, jadi paling nggak harus sebulan pesannya.
Sementara itu buat makan juga ga perlu repot karena nyokap gue ikut, anak-anak pada pt-pt buat beli bahan makanannya sekalian sewa mobilnya, dan beberapa anak cewek lainnya juga sepertinya bersedia buat bantuin nyokap masak buat disana nantinya.
“Seriusan Tre pt-ptnya cuman segini?” tanya Sam memastikan biaya yang harus kita keluarkan buat ke puncak nanti di sela-sela istirahat.
“Iyeeee…..” jawab gue males karena ini bukan pertama kalinya gue ditanya.
“Terus entar nginepnya dimana?” sekarang giliran Anda yang nanya.
“Di villa kantor bokap gue, kan dah gue bilangin.”
“Iye lo udah bilang, tapi kan lo katanya mau nunjukin villanya.”
“Cari aja nyet di google.”
“Bagus ga?” tanya Putra masih baget.
“Gue udah lama ga kesana, tapi kata bokap gue baru di renovasi. Liat aja sih.” Maksudnya liat di google.
Putra langsung nodong gedak minjemin hpnya buat ngeliat villa yang bakal kita inepin nanti. Dengan terpaksa gedak pun ngeluarin hpnya buat dipinjem. Kenapa terpaksa? simpel aja, hp dia salah satu yang paling bagus saat itu, disaat yang lain pada masih pake bb, dia udah pake hp dengan layar sentuh. Alasan lainnya, anak-anak yang lain pada males ngeluarin hp, wkwkwk.
“Apaan namanya?” Tanya Putra
“sini gue ketikin.” Gue pun merebut hpnya Gedak dari tangan Putra buat ngetik nama villa yang akan kita tuju, setelah terbuka, gue balikin lagi ke Putri. Sementara itu anak-anak yang lain pada ngerubung udah kaya lagi nonton bokep.
“Banyak amat Tre villanya.” Tanya Rian.
“Emang kaya komplek villa gitu, ada lima doang kok, dan ga terlalu deket-deket.”
“Terus villa kita yang mana?”
Gue rebut lagi hpnya Gedak, terus memilih gambar villa yang udah dikasih tahu sama bokap gue. “Nih.”
“Anjir sabi nih Tre.” sahut Gedak.
“Seriusan nih tre villa kaya gini gratis.” timpal Iman, dan komentar-komentar lainnya dari temen-temen gue.
“iyeee….”
Villa kantor bokap gue emang bagus, namanya juga punya kantor, pasti di urus. Kalau seandainya nyewa sendiri mungkin bisa kena biaya tiga juta lebih. Buat ukuran anak sma, atau paling ngga buat kita-kita, nyewa villa segitu udah sesuatu yang wah. Emang sih rame yang ikut dan bisa ptpt, tapi belum tentu semuanya jadi pada ikut nantinya.
“Hei kalian! lagi pada ngapain ngumpul-ngumpul.” Sebuah suara yang sudah sangat dihafal oleh seluruh siswa di sekolah gue tiba-tiba terdengar dan ngebuat kita semua panik. The one and only, Jombang, guru yang merangkap kesiswaan yang paling rebek soal peraturan sekolah. “Ngapain kalian ngumpul-ngumpul, liat yang macem-macem yaaa pasti.” Tuduh Jombang tak beralasan.
“Enggak pak, ini lagi liat-liat villa.” Bela Rico dengan tampang pongonya. Tapi siapa pun yang ngejawab pasti keliatan banget sih muka bodohnya.
“Terus? kalian ga denger suara bel emangnya?”
“Denger pak, ini baru mau masuk.” dan satu persatu dari kita pun langsung bubar masuk ke kelas.
Namanya belom ada guru pas jam istirahat, yaaa itungannya berarti masih jam istirahat, wkwkwk. Pas kita semua masuk kelas pun ujung-ujungnya pada ngobrol juga.
“Tre, nanti ada orang tuanya ga? bokap gue nanyain.” Gue yang baru duduk dibangku langsung di tanya sama cindy, dia bahkan sampai repot-repot memutar badannya biar bisa tanya langsung ke gue.
“Ikut kok, kan nyokap gue juga masak nanti.” Jawab gue.
“Boleh minta nomer hpnya ga Tre, biar bokap sama nyokap gue tenang, nanyain terus soalnya mereka.”
“Beleh-boleh, tadi anak-anak yang lain(anak cewe maksudnya) juga ada yang minta. Lo mau juga Din?”
“Boleh Tre, buat jaga-jaga.” Kata Dinda.
“Emangnya kalau bokap sama nyokap lo ga ikut ga bisa ya Tre?” Tanya Rico.
“Gatau deh, harusnya bisa sih, tapi entar jadi ribet.” Jawab gue rancu. Bisa ribet karena ga ada makanan, bisa ribet karena kurang kendaraan, atau paling engga buat naro beberapa barang.
“Yaaah, ga bebas dong nanti.”
“Gue juga pengennya sih anak-anak aja Co.”
Ini sedikit menjadi pro kontra tentang keikutsertaan bokap dan nyokap gue ke puncak di acara ini. Pro-nya adalah, karena bokap dan nyokap gue ikut, banyak anak kelasan gue khususnya anak cewek yang dibolehkan ikut. Mengingat perbandingan satu banding tiga antara cowok dan cewek di kelas gue dan gimana orang tua perempuan memperlakukan anaknya pada umumnya, wajar kalau mereka khawatir. Dan dengan ikutnya bokap dan nyokap gue membuat mereka jadi lebih tenang dan mengizinkan anaknya.
Sementara kontranya adalah, ya, sebagai calon-calon penyamun masa depan oleh beberapa anak khususnya anak cowok, itu berarti mempersempit ruang kegiatan kami. Ga yang macem-macem sih, paling ngebeer doang. Pada saat itu mini market di puncak masih boleh jualan beer. Tapi kalau ketahuan tetep aja bisa tempeleng gue sama bokap. Karena ini itungannya acara kelas, jadilah bokap dan nyokap gue.
Libur akhir tahun pun tiba dan di hari yang udah kita tentukan sebelumnya, anak-anak kelas gue berkumpul di deket sekolah buat pergi ke puncak. Kalo dipikir-pikir yang ikut rame juga, soalnya sampe setengah kelas yang ikut. Sesekali ada anak angkatan kita yang lewat pada nanyain kita mau kemana, kan emang banyak yang nongkrong di deket-deket sekolah meskipun libur, dan banyak juga yang tinggal di deket sekolah. dan dengan songongnya kita jawab mau ke puncak, wkwkwk.
Seperti layaknya kebanyakan anak sma, mungkin, waktu nunggu, yang cowok pada ngumpul sama cowok, yang cewek sama yang cewek. Tapi tidak dengan beberapa anak cewek yang kadang lebih suka gabung sama anak-anak cowok dibandingin sama anak-anak cewek yang lain. Bisa dibilang seperti strata sosial dalam hal pergaulan. Udah pasti anak cewek kelas gue yang lebih akrab sama kita yang punya mana di sekolah, tapi bukan berarti anak cowoknya mengucilkan anak ceweknya yang lain, ini cuman masalah kenyamanan. Toh semuanya pernah jadi bahan cak-cakan juga.
Tapi kalau dipikir-pikir, yaaa emang anak cewek yang gabung ke kita anak cowok bisa dibilang lebih cantik, dalam kasus ini di kelasan gue. Apalagi waktu lihat mereka pake baju bebas dan ditambah make up, gue baru sadar kalau mereka cantik-cantik juga, meskipun tetep ada yang jadi bahan celaan.
“Syif, di rumah lo ada gunung meletus ya.” Kata Rico ke syifa, waktu lagi nunduk. Tanpa nunggu penjelasan kita semua pada ketawa karena mengerti apa yang dimaksud. Meskipun orang yang dibecandain rada ngambek, tapi dia tetep stay sama kita-kita, malah ngebales celaannya Rico.
Sekitar jam sembilan kita semua berangkat ke puncak sebelum bertambah macet di jalan.
japraha47 dan 18 lainnya memberi reputasi
19