- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#52
Chapter 34
Suasana di pasar saat panen raya memang selalu ramai dikunjungi oleh warga. Di sana, mereka bisa mendapatkan makanan dan minuman dengan harga yang murah. Begitu pun dengan kedai yang menjajakan baju atau perabot rumah tangga, di saat seperti itu mereka akan menjajakan dagangan mereka dengan harga yang cukup terjangkau. Belum lagi dengan segala macam atraksi yang mengundang decak kagum.
Di saat ramai seperti itu, Zhi Ruo dan Yi Yuen akan turun ke jalan dan menawarkan pengobatan gratis bagi setiap warga yang memerlukan. Di sisi jalan, Kangjian dan Wang Wei membantu menyiapkan meja kecil untuk tempat Zhi Ruo memeriksa pasien. Sementara Ling dan Yi Yuen sudah bersiap dengan obat-obatan yang sudah dipersiapkan dari rumah.
Siang itu, terlihat banyak warga yang ingin berobat. Mereka tahu, Zhi Ruo bukanlah tabib sembarangan, melainkan tabib yang sudah cukup terkenal. Obat-obat yang diberikan olehnya selalu manjur dan terbukti dapat mengobati berbagai macam penyakit.
Di saat mereka sedang sibuk melayani pasien, mereka dikejutkan dengan munculnya beberapa lelaki yang menutupi setengah wajah dengan kain hitam. Para gerombolan lelaki itu ternyata adalah perampok yang biasanya beraksi di saat pasar penuh seperti saat ini.
Melihat kemunculan mereka, Kangjian dan Wang Wei mulai menghadang di depan. Sementara Yi Yuen, membawa ibunya bersembunyi tak jauh dari mereka. Setelah itu, dia dan Ling membantu kedua pemuda itu.
"Ah, kalian mengganggu saja. Apa kalian tidak berpikir untuk mencari pekerjaan lain daripada harus merampok?" Wang Wei berujar sambil mengeluarkan pedang dari balik punggungnya. "Ayo, kita selesaikan ini agar aku bisa segera makan siang. Ah, mereka sudah membuatku marah!"
Pemuda gagah dengan perawakannya yang tampan, tanpa ragu sedikit pun merangsek maju saat perampok-perampok itu mulai menyerang mereka. Pertarungan tak seimbang pun terjadi, di mana empat orang harus berhadapan dengan lima belas perampok. Walau begitu, tidak membuat keempat orang itu bergeming sedikit pun.
Kangjian yang hanya bermodalkan sebuah tongkat kayu nyatanya cukup berhasil melumpuhkan beberapa orang perampok. Wang Wei yang ahli beladiri dan seorang komandan dari prajurit istana, tak kalah hebat saat pedangnya berhasil membuat luka menganga di tubuh beberapa perampok hingga mati terkapar. Baginya, perampok harus ditumpas karena hanya akan meresahkan warga. Tanpa kompromi, mereka berdua melibas tanpa ampun.
Sementara Yi Yuen masih memerhatikan kedua temannya bertarung, hingga dia bergerak saat salah satu perampok hendak mengarahkan anak panah ke arah Kangjian dari atas kudanya. Spontan,Yi Yuen mengambil sebuah kerikil dan melemparkan dengan menggunakan tenaga dalam hingga mengenai lengan perampok itu. Busur ditangannya terlepas, begitu juga dengan anak panah yang melesat tak tentu arah.
Melihat seorang gadis yang mencoba menghalanginya, lelaki itu pun melompat dari atas kuda sambil mengarahkan pedangnya ke arah Yi Yuen. Yi Yuen sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri dan bersiap menerima serangan lelaki itu, tapi belum sempat lelaki itu menghunuskan pedang ke arahnya, Ling dengan sigap sudah berdiri di depan Yi Yuen dengan pedang yang beradu dengan pedang perampok itu. "Dewi, pergilah dan lindungi Nyonya, biar aku yang akan menghabisinya," ucap Ling sambil menatap ke arah perampok itu.
"Berhati-hatilah." Yi Yuen lantas menemui ibunya yang sedari tadi bersembunyi dan melihat mereka bertarung.
"Gadis sialan!" seru perampok itu yang mulai geram karena dihadang oleh Ling. Lelaki itu semakin tersulut emosi saat melihat Ling yang tersenyum sinis ke arahnya.
"Kenapa? Apa kamu marah karena wanita sepertiku mampu menangkis seranganmu? Ah, kalian bukan tandinganku. Sebaiknya, kamu harus banyak belajar bertarung agar bisa menang melawanku." Usai berucap, Ling dengan pedang di tangannya mulai maju menyerang perampok yang semakin terlihat kesal padanya. Dia merasa diremehkan, tapi apa yang diucapkan Ling bukanlah sebuah isapan jempol belaka.
Dengan kemampuannya itu, Ling mampu membuat perampok itu tak berkutik. Serangannya selalu saja mengenai sasaran, tapi tidak dengan serangan perampok itu yang selalu meleset dalam menyasar serangannya pada Ling, hingga tiba di mana perampok itu tidak bisa menghindar saat serangan yang cukup mematikan menghantam dadanya. Telapak tangan Ling yang dialiri tenaga dalam menghantam keras dada perampok itu hingga membuatnya tersungkur. Seketika saja dia terhempas dengan darah segar yang keluar dari mulutnya.
Di saat perampok itu mulai tak berdaya, Ling dengan tanpa ampun menghunuskan pedang tepat di dadanya hingga tubuhnya lemah tak berkutik dengan mata yang terbuka.
Sementara Kangjian dan Wang Wei sudah berhasil melumpuhkan beberapa orang yang kini terkapar di atas tanah. Salah seorang perampok yang cukup sulit dikalahkan tampak memerhatikan teman-temannya yang mulai kewalahan. Di saat seperti itu, dia masih memikirkan cara untuk bisa melawan.
"Mereka sangat tangguh. Aku harus meminta bantuan." Lelaki itu lantas meraih sebuah peluit kecil dari balik jubahnya. Seketika, beberapa orang yang berpenampilan sama seperti dirinya bermunculan di belakangnya saat dia meniup peluit itu dengan keras.
Kali ini, bala bantuan yang datang membantunya tidaklah sedikit. Hampir tiga puluh orang yang kini berdiri di belakangnya. Melihat mereka, Kangjian dan Wang Wei saling memandang dan melempar senyum. "Kangjian, sepertinya hari ini kita akan bekerja keras. Kali ini, jangan beri ampun dan bunuh saja mereka!"
Kangjian mengangguk dan mengambil sebilah pedang yang teronggok di atas tanah. Kedua pemuda itu berdiri berdampingan sambil menatap ke arah para perampok yang sudah siap menyerang mereka. Begitu pun dengan Ling yang segera bergabung dengan kedua pemuda itu.
Kini, mereka bertiga telah dikepung. Mereka berada di tengah-tengah perampok yang mengelilingi mereka sambil tertawa. "Kalian telah mengganggu kesenangan kami, karena itu kalian pantas untuk mati!" seru salah satu perampok sambil maju menyerang ke arah Ling terlebih dulu. Di saat yang sama, teman-temannya juga melakukan serangan ke arah Kangjian dan Wang Wei hingga mereka berdua berpencar.
Kali ini, musuh yang mereka hadapi cukup menguras tenaga. Kangjian harus mengeluarkan hampir seluruh kemampuannya untuk melawan para perampok itu.
Melihat teman-temannya diserang, membuat Yi Yuen ingin membantu mereka. "Ibu, aku akan membantu mereka. Sebaiknya, Ibu bersembunyi saja di sini. Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan semuanya."
Zhi Ruo mengangguk dan membiarkan putrinya itu pergi. Tanpa mereka sadari, salah seorang perampok sedari tadi memerhatikan mereka. Dia tahu kalau wanita yang sedang bersembunyi itu adalah kelemahan mereka. "Sepertinya, aku harus membunuh wanita itu."
Perampok itu terus memerhatikan dan menunggu hingga perhatian Yi Yuen sudah tidak terfokus lagi pada ibunya dan di saat itulah, perampok itu berjalan perlahan dan berniat mendekat ke arah Zhi Ruo. Sementara Qiang dan Putri Anchi masih terus memerhatikan hingga Qiang terkejut saat melihat Zhi Ruo yang kini sudah terdesak karena dihadang salah satu perampok. Seketika saja dia menutupi setengah wajahnya dan bersiap menghalau perampok itu.
"Tunggu aku di sini! Aku akan segera kembali," ucapnya pada Putri Anchi.
"Qiang, jangan lakukan itu! Jika ada yang mati karenamu, kamu akan dihukum dan tubuhmu bisa menghilang selamanya." Gadis itu mencoba melarang Qiang untuk pergi. Tangannya dengan kuat menarik jubah pemuda itu untuk tidak beranjak, tapi sudah terlambat karena Qiang dengan cepat melesat ke arah perampok itu dan berdiri tepat di depan Zhi Ruo.
"Nyonya, cepat sembunyi!"
Tanpa bertanya, Zhi Ruo berlari ke belakang dan tanpa diduga, Putri Anchi meraih tangannya dan membawanya ke tempat persembunyiannya. "Jangan khawatir, aku akan menolongmu."
Zhi Ruo menatap wajah gadis itu yang tampak cantik dan ikut kemana gadis itu akan membawanya.
Sementara Qiang, dengan tangan kosong mulai menyerang perampok itu. Sebagai seorang dewa, dia tidak dibenarkan untuk membunuh manusia. Karena itu, dia hanya menyerang bagian tertentu saja dengan cara menotok, hingga pergerakan tubuh mereka terkunci. Alhasil, perampok itu terkapar di tanah dengan tubuh yang tak mampu untuk bergerak.
Setelah selesai dengan perampok itu, Qiang mulai maju dan membantu Yi Yuen yang saat ini diserang secara bersamaan oleh dua orang perampok. Bukan hal yang sulit bagi Yi Yuen untuk melawan mereka, tapi saat ini pikirannya sedang tertuju pada ibunya yang tidak lagi tampak di depan matanya. Dia begitu khawatir hingga tidak memerhatikan serangan seorang perampok yang hampir saja melukainya andai saja Qiang tidak menolongnya.
"Jangan khawatirkan ibumu. Saat ini dia sudah aman. Fokus saja pada mereka," ucap Qiang sambil menyerang perampok itu. Mendengar ucapan pemuda itu, Yi Yuen mulai berkonsentrasi dan kembali menyerang.
Yi Yuen cukup tangguh hingga beberapa perampok tumbang di tangannya. Dan tak butuh waktu lama, para perampok itu akhirnya berhasil mereka kalahkan. Perampok-perampok itu terkapar tak berdaya.
"Wang Wei, aku serahkan mereka padamu. Aku harus pergi." Yi Yuen lantas pergi karena tidak lagi melihat sosok pemuda yang tadi membantunya. Dia berjalan sambil melihat ke arah sekitar untuk mencari pemuda itu, tapi yang ditemuinya hanyalah ibunya yang tiba-tiba muncul dari balik tikungan sebuah kedai.
"Ibu tidak apa-apa, kan?" tanya Yi Yuen sambil memeluk ibunya. Zhi Ruo mengangguk pelan dan tak lama kemudian Ling dan Kangjian berlari ke arah mereka.
"Nyonya, kenapa Nyonya bisa ada di sini? Bukankah, seharusnya Nyonya berada di sana?" tunjuknya ke arah tempat di mana Zhi Ruo bersembunyi sejak awal.
"Ling, tolong jaga ibuku. Aku harus pergi." Yi Yuen berlari kecil sambil menyusuri tempat itu dan berharap bertemu dengan pemuda yang sudah membantunya.
Setelah mencari di beberapa tempat, dia akhirnya melihat seorang pemuda dan seorang gadis yang berjalan bersama. Yi Yuen lantas mengejar keduanya dan bermaksud untuk menyapa, "Maaf, tunggu sebentar, Tuan," ucap Yi Yuen yang kini berdiri di depan mereka.
Pemuda itu menatapnya heran. Begitu pun dengan gadis yang bersamanya. Mereka berdua menatap Yi Yuen dengan heran. "Ada apa? Kenapa kamu menghentikan kami?" tanya gadis itu sambil melingkarkan tangannya di lengan pemuda yang ada di sampingnya.
"Maaf, aku hanya ingin bertanya sesuatu. Apa Tuan yang tadi sudah menolongku?"
Gadis itu tersenyum kecut dan mengeratkan tangannya di lengan pemuda itu. "Apa kamu suka dengan pacarku hingga membuatmu harus melakukan ini? Bagaimana bisa dia menolongmu sedangkan dari tadi kami sedang bersama? Apa kamu bermaksud ingin membuatku cemburu?"
"Maaf, bukan begitu maksudku, tapi aku yakin aku tidak mungkin salah mengenali orang. Baiklah, siapa pun kalian, aku ucapkan terima kasih atas bantuan kalian."
Yi Yuen menundukan kepalanya sebagai rasa terima kasih dan saat mengangkat kepalanya, pandangan matanya tak sengaja bertatapan dengan pemuda yang juga kini menatapnya lekat.
Sesaat, ada perasaan aneh yang tiba-tiba Yi Yuen rasakan. Perasaan yang seakan mengenal tatapan mata dan segurat wajah yang perlahan mulai mengganggu hatinya. Wajah yang tiba-tiba mengingatkannya pada sepenggal mimpinya.
"Ayo, kita pergi!" Putri Anchi lantas menarik tangan pemuda itu dan berjalan meninggalkan Yi Yuen yang masih menatap kepergian mereka. Sementara Qiang, tak bisa mengelak saat Putri Anchi meraih tangannya. Walau di hatinya, dia mulai merasakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Wajah gadis yang ada di depannya seakan pernah dikenalnya. Wajah yang perlahan mulai membayangi di dalam pikirannya.
"Ada apa? Apa kamu mulai memikirkan gadis itu? Aku tahu dia cantik, tapi ingatlah kalau seorang dewa tidak bisa mencintai manusia."
Ucapan Putri Anchi sontak membuyarkan lamunannya. Sejak bertemu dengan Yi Yuen, pemuda itu mulai merasakan keanehan. Sejak tadi, dia lebih banyak diam hingga membuat Putri Anchi merasa diabaikan.
"Kenapa mengucapkan hal seperti itu? Apa kamu pikir aku bisa semudah itu jatuh cinta pada seorang wanita? Apalagi, dia itu hanya seorang manusia biasa. Ah, sudahlah, jangan dibahas lagi. Sebaiknya, kita segera kembali."
Mendengar ucapan Qiang, sejurus Putri Anchi tersenyum. Dia merasa lega karena ternyata Qiang tidak menyukai gadis yang baru saja mereka temui. Walau dia sadar, gadis itu mempunyai paras wajah yang sangat cantik. Tak hanya itu, dia juga memerhatikan kemampuan bertarung dari gadis itu hingga membuatnya cukup terpukau dengan kemampuan beladirinya.
Sejak saat itu, Putri Anchi sudah tidak pernah lagi mengajak Qiang turun ke bumi. Dia tidak menyangka, kalau ada manusia yang mempunyai kecantikan layaknya seorang dewi. Untuk sesaat, dia merasakan cemburu saat melihat Qiang menatap gadis itu.
"Ah, aku tidak akan membiarkanmu dimiliki wanita lain. Qiang, apa selama ini kamu tidak sadar kalau aku mencintaimu?" batin Putri Anchi saat duduk di depan cermin rias di dalam kamarnya. Matanya tajam melihat lurus ke depan sambil mengelus pipinya yang merona. "Apa di matamu aku tidak menarik hingga aku hanya kamu anggap seperti seorang adik?"
Sementara Qiang, tengah berlatih di depan halaman kamarnya. Dia ingin mengalihkan pikirannya yang saat ini selalu tertuju pada seorang gadis yang belum lama ini ditemuinya. Walau dia sadar, itu bukanlah pertemuan pertama mereka dan dia tahu kalau gadis itu bukanlah gadis biasa, melainkan putri dari gurunya sendiri. Seorang putri yang harus dijaga olehnya atas perintah sang guru atau penguasa Istana Langit.
"Aku tidak boleh seperti ini. Mana bisa aku terus memikirkannya. Tidak! Aku harus bisa melupakannya!"
Qiang kembali berlatih dan mencoba mengalihkan pikirannya, tapi nyatanya itu terlalu sulit. Namun, dia masih saja terus berlatih hingga peluh membasahi wajahnya. Gerakannya semakin cepat hingga membuat napasnya tersengal karena kelelahan. Di saat matahari senja mulai tampak, dia berhenti dan berjalan dengan langkah yang mulai goyah. Di atas pembaringan, dia menghempaskan tubuhnya dan sesaat dia terpejam dengan buaian mimpi yang kembali terulang.
To be continued...
banditos69 dan 6 lainnya memberi reputasi
7