- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.8K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#51
Chapter 33
"Di masa lalu, kamu adalah seorang Dewi. Dewi yang bertugas memberantas kejahatan yang melibatkan roh jahat di antara dua dunia, yaitu manusia dan para Dewa. Kamu terkenal dengan ketegasan dalam membasmi kejahatan dan kemampuanmu dalam bertarung tidak bisa diragukan. Itulah sebabnya, kamu menjadi sasaran dari kelicikan mereka." Sejenak, Ling menghentikan kalimatnya. Tangannya mengepal jika mengingat peristiwa itu.
"Waktu itu, kamu ditugaskan untuk membawa kembali Dewa Obat yang melarikan diri ke alam manusia, tapi setelah bertemu dengannya, pendirianmu goyah setelah mengetahui kalau Dewa itu telah bahagia dengan kehidupannya yang baru. Dewa itu telah menikah dengan manusia dan memiliki sebuah keluarga kecil hingga membuatmu melupakan misimu itu. Dan, pertemuanmu dengan Qiang kembali menggoyahkan hatimu karena pemuda itu telah menyatakan perasaannya padamu dan kalian mulai saling mencintai. Namun, satu penyakit aneh telah mewabah di desa tempat tinggal mereka, dan itu bukanlah penyakit biasa karena menurut Dewa Obat, penyakit itu berasal dari kekuatan yang hanya ada di Istana Langit. Sebab itulah, kamu kembali ke Istana Langit untuk menyelidikinya, tapi setelah kepergianmu, desa mereka diserang oleh orang-orang yang sudah dirasuki aura jahat hingga membuat istri Dewa Obat meninggal."
Ling kembali terdiam karena mencoba mengingat kembali peristiwa silam yang tak bisa hilang dari ingatannya. Sementara Yi Yuen, terus mencoba untuk mengingat penggalan kisah itu, tapi nyatanya dia belum mampu untuk mengingatnya.
"Orang-orang yang dirasuki ternyata tak bisa dibunuh dan hanya kekuatanmu yang mampu menghentikan mereka. Karena itu, demi menyelamatkan Qiang dan penduduk desa, kamu rela melanggar peraturan langit di mana seorang Dewa tidak boleh membunuh manusia, tapi kamu melakukannya hingga membuat tubuhmu perlahan menghilang," lanjut Ling yang perlahan menghapus air matanya karena mengingat peristiwa itu.
"Bibi." Yi Yuen perlahan memeluk gadis itu. Gadis yang menjadi saksi kehidupannya di masa lalu.
"Dewi Yi, Qiang sangat mencintaimu. Selama sisa hidupnya, dia selalu mengenangmu hingga membuatnya tak peduli pada wanita mana pun. Dia selalu menunggu dan berharap ada keajaiban yang membawamu kembali padanya. Namun, itu semua tak mungkin karena kematian datang menjemputnya. Dia mati dengan ketersiksaan batin karena merasa bersalah padamu. Dia menyesal karena tak mampu menjaga dan melindungimu. Apa kamu tahu apa yang menjadi permintaan terakhirnya? Dia ingin terlahir kembali menjadi seorang dewa agar bisa mencarimu kelak dan menjagamu dengan taruhan nyawanya. Dia berharap, semesta memberikannya kesempatan kedua untuk bisa bersama denganmu lagi."
Yi Yuen menitikan air mata saat mendengar ucapan Ling yang membuat hatinya tersentuh. Walau wajah Qiang terlihat samar dalam mimpinya, namun dia yakin kalau pemuda itu adalah seseorang yang sangat berarti baginya.
"Dewi Yi, semesta ternyata memihak padamu. Kamu diberi kesempatan untuk membuktikan kalau apa yang kamu lakukan di masa lalu bukanlah suatu kesalahan. Karena itu, aku akan membantumu sama seperti dulu. Kali ini, aku tidak akan tinggal diam dan akan mengorbankan nyawaku untukmu. Aku tahu, ini semua adalah takdir yang diberikan semesta. Karena itu, aku akan membantu menjalani takdir ini bersamamu."
Ling bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu hingga membuat Yi Yuen kembali memeluknya. "Bibi, terima kasih."
Sementara mimpi yang sama juga dirasakan oleh seorang pemuda yang kini duduk di depan sebuah ruangan sambil memandang ke arah bulan. Pemuda itu tampak resah dengan perasaannya yang tak menentu. Perasaan aneh yang akhir-akhir ini mulai mengganggunya.
Dengan sebilah pedang di tangannya, pemuda itu bangkit dan berjalan menuju halaman kecil yang ada di depan ruangan itu. Perlahan, dia mulai memainkan pedang dengan gerakan-gerakan yang sangat cepat. Gerakannya cukup lincah saat tubuhnya melayang ke udara sambil berputar hingga menimbulkan pusaran angin yang cukup kencang. Pusaran angin yang telah menimbulkan suara berdesing hingga pohon sakura yang tumbuh tak jauh dari tempat itu tampak menggugurkan bunganya hingga terlihat seperti butiran-butiran salju yang jatuh dari atas langit.
Sementara pemuda itu telah mendarat di tanah dengan kedua kakinya yang kokoh. Pemuda yang mengenakan jubah berwarna biru itu terlihat memukau dengan kemampuannya yang sangat mumpuni. Kemampuannya itu didapatnya dari berguru pada Raja Istana Langit.
Sejak bermimpi aneh, pemuda itu memilih menghabiskan malam dengan berlatih. Semua itu karena dia ingin menjernihkan pikirannya yang kalut karena disebabkan mimpi aneh yang sudah menganggunya sejak beberapa hari yang lalu. Mimpi yang membuat hatinya tak tenang karena melihat wajah seorang gadis yang menatapnya sambil menangis dalam diam. Air mata gadis itu jatuh saat melihat ke arahnya. Tangisan yang diiringi dengan sebuah senyuman.
"Ah, kenapa aku merasa aneh jika mengingat mimpi itu lagi? Siapa sebenarnya gadis yang melihatku sambil menangis?" batinnya saat mengingat kembali penggalan mimpi yang selalu mengganggunya.
"Qiang, ada apa? Kenapa kamu melamun?" Seorang gadis cantik berjalan mendekatinya di saat matahari pagi mulai menampakkan diri. Rupanya, pemuda itu benar-benar tidak tidur sejak semalam.
"Tidak, aku hanya sedang menikmati suasana pagi," elak pemuda itu sambil tersenyum, "Kenapa kamu ke datang sini? Apa Guru memanggilku?" lanjutnya.
Gadis itu menggeleng sambil meraih lengan pemuda itu. "Aku ingin kamu menemaniku turun ke alam manusia," ucapnya sontak membuat pemuda itu terkejut.
"Apa kamu sudah gila? Apa kamu mau kepalaku dipenggal karena membawamu ke sana? Putri Anchi, aku tahu aku tidak bisa membantah perintahmu, tapi kali ini aku tidak bisa menuruti perintahmu itu."
Pemuda itu beranjak dan mencoba menghindar dari rengekkan gadis itu yang mulai terdengar, tapi dia sama sekali tidak bisa mengelak saat gadis itu mulai mengancamnya, "Kalau kamu tidak mau mengantarku, aku akan pergi secara sembunyi-sembunyi. Jika aku tertangkap, aku akan dihukum. Aku pasti tidak akan diberi makan atau aku mungkin akan dikutuk. Apa kamu mau melihat ayahku sedih karena melihatku dihukum seperti itu?"
Mendengar ancamannya membuat pemuda yang bernama Qiang itu hanya bisa menghela napas dan mengembuskannya kasar. Gadis itu adalah Putri Anchi, anak dari gurunya dan juga sekaligus penguasa Istana Langit, Li Quan.
"Putri Anchi, kenapa kamu memaksa untuk turun ke bumi di mana manusia tinggal? Kamu tahu kalau kita tidak bisa bebas ke sana karena itu melanggar peraturan langit. Jika ayahmu tahu, aku pasti akan dipenggal. Apa kamu tega melihat kepalaku lepas dari tubuhku karena ulahmu itu?"
Gadis itu tersenyum seakan tidak terpengaruh dengan ucapan Qiang. "Qiang, apa kamu tahu kenapa aku meminta hal ini padamu? Itu karena aku tahu satu-satunya yang bisa mewujudkan keinginanku hanya dirimu dan aku yakin kamu tidak akan membuatku tertangkap. Aku hanya penasaran dengan kehidupan di bumi. Katanya, kehidupan di sana sangat jauh berbeda dengan kehidupan kita. Ayolah Qiang, aku mohon temani aku ke sana." Gadis itu merengek sambil memegang tangan pemuda itu.
"Baiklah, baiklah, tapi kali ini saja karena aku tidak akan lagi membawamu ke sana. Mengerti?" Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
"Sekarang pulanglah. Siang nanti, aku akan datang pada Guru dan meminta izin darinya. Ah, kamu sudah membuatku dalam masalah." Dengan kesal, Qiang masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Putri Anchi yang tersenyum melihat kepergiannya.
Saat matahari mulai meninggi, Qiang benar-benar datang ke kediaman Li Quan dan meminta izinnya. Tanpa curiga, Li Quan mengizinkan anak gadisnya itu pergi bersama Qiang. Itu bukanlah hal baru baginya, karena Qiang adalah orang kepercayaannya sekaligus murid yang sangat disayanginya.
"Ah, kamu memang yang terbaik," puji Putri Anchi saat mereka keluar dari kediamannya.
"Jangan senang dulu karena kita belum meninggalkan Istana Langit. Aku melakukan ini karena aku tidak ingin kamu terus menggangguku dengan rengekanmu itu. Putri Anchi, aku akan membawamu ke bumi, tapi aku punya syarat."
"Apa syaratnya?"
Qiang lantas mengeluarkan sapu tangan dari balik jubahnya. "Aku harus menutup matamu karena aku tidak bisa membiarkanmu melihat jalan rahasia ini. Apa kamu menyanggupinya?"
Tanpa menjawab, gadis itu lantas mengambil sapu tangan dari tangan Qiang dan menutupi kedua matanya. "Sekarang, apa kita sudah bisa pergi dari sini?" tanya Putri Anchi sambil merangkul lengan pemuda itu.
"Baiklah, ayo kita pergi."
Qiang meraih tubuh Putri Anchi di dalam rangkulannya dan terbang melintasi awan-awan yang mengambang di atas udara. Tapak kaki pemuda itu menyentuh awan yang terlihat lembut bak gumpalan kapas, hingga beberapa saat kemudian, dia menapakkan kakinya di atas tanah.
Di atas sebuah tebing, mereka menapakkan kaki. Semilir angin berembus menerpa wajah keduanya, hingga membuat Putri Anchi tidak sabar untuk melepaskan penutup matanya. Seketika, dia terpesona dengan keindahan di tempat itu. Tatapan matanya seakan tak berkedip saat melihat keindahan yang tak pernah dijumpai sebelumnya.
"Apakah ini adalah bumi?" tanya Putri Anchi yang masih menatap alam sekitarnya. Betapa dia kagum saat melihat hamparan savana hijau dengan liuk-liuk sungai kecil bak seekor ular.
"Ya, ini adalah bumi, tempat manusia tinggal," jawab Qiang sambil duduk di atas sebuah batu sambil memandang hamparan hijau di depannya.
Putri Anchi melakukan hal yang sama. Sambil duduk di atas batu, mereka menatap keindahan alam yang disuguhkan di depan mereka. Keindahan yang tidak pernah mereka temui di Istana Langit.
Putri Anchi terlihat mengagumi keelokan tempat itu. Suara kicauan burung terdengar syahdu di telinganya saat kumpulan burung-burung beterbangan dengan membentuk satu formasi yang menakjubkan. Desiran angin membawa hawa segar ketika meniup perlahan dan menerpa wajahnya hingga membuatnya tersenyum sambil memejamkan matanya. Sungguh, dia begitu terpesona hingga membuatnya bangkit dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya. "Baiklah, kita akan turun ke bawah," ucapnya spontan hingga membuat Qiang terperanjat.
"Apa maksudmu turun ke bawah? Kamu tidak bercanda, kan?" tanya Qiang ingin memastikan apa yang baru saja didengar olehya.
"Ayolah, masa kita ke sini hanya untuk berdiri di atas tebing ini saja? Qiang, aku ingin turun ke bawah dan melihat bagaimana kehidupan manusia. Aku janji, setelah itu kita akan kembali pulang."
Lagi-lagi, Qiang dibuat tak berdaya saat gadis itu terus mendesaknya. Dengan terpaksa, dia akhirnya menuruti keinginan gadis itu. "Baiklah, sekali ini saja, tapi setelah itu kamu tidak akan lagi menginjakkan kaki di sini. Aku tidak akan membiarkanmu datang ke sini lagi, mengerti?"
"Iya, aku mengerti. Sekarang, ayo kita pergi."
Putri Anchi tersenyum dan berjalan menuruni bukit. Bukit yang cukup terjal itu dengan mudah dilalui oleh mereka. Ilmu meringankan tubuh rupanya sangat berguna hingga tak menunggu waktu lama agar mereka bisa sampai di bawah.
Jalanan hutan yang dipenuhi tanaman bambu membuat Putri Anchi terkesima. Cahaya matahari yang terhalang daun bambu terlukis abstrak di atas tanah. Rumpun bambu yang tumbuh berderetan itu dilaluinya sambil bernyanyi dan sesekali bersiul, hingga mereka tiba di jalan utama di mana penuh dengan orang-orang yang sedang berkumpul menikmati pesta penen raya.
Orang-orang tampak tertawa saat menikmati suguhan dari kelompok atraksi yang sedang menyuguhkan keterampilan mereka. Terlihat juga beberapa penari yang sedang menari di atas sebuah panggung. Aneka makanan dan minuman dijajakan di sisi jalan, hingga membuat Putri Anchi tergiur ingin menikmati hidangan itu.
"Aku mau makan itu." Tunjuknya pada buah cherry yang sudah diolah menjadi manisan. Buah sebesar biji kelereng itu terlihat menggiurkan dengan warna merah mengkilat dari gula cair yang sudah dicelupkan di permukaan buah dan ditusuk di batang kayu kecil.
Qiang lantas mengeluarkan satu koin dan segera membelinya. "Makanlah."
Putri Anchi menerimanya dengan senyum sumringah dan melahap buah itu. "Hmm, enak!" serunya sambil mengangkat ibu jarinya ke arah pemuda itu. "Aku tidak menyangka, kalau tempat di mana manusia tinggal ternyata sangat ramai seperti ini. Aku sangat suka dengan tempat ini," lanjutnya sambil ingin melahap buah cherry yang terakhir, tapi tiba-tiba saja buah itu terjatuh saat seseorang menyenggolnya.
Di depan mereka, orang-orang terlihat lari kocar-kacir, hingga membuat Qiang segera meraih tangan Putri Anchi untuk menghindar dari mereka. Di salah satu sudut kedai, mereka berdua bersembunyi dan mengintip untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Suasana di tempat itu perlahan sunyi. Tidak ada lagi keramaian seperti tadi. Orang-orang telah meninggalkan tempat itu dan hanya tersisa empat orang yang kini berhadapan dengan segerombolan lelaki yang menunggangi kuda. Gerombolan lelaki yang menutup setengah wajah menggunakan kain hitam tampak menatap beringas ke arah empat orang yang tidak menyingkir dari hadapan mereka.
Dari balik dinding kedai, Qiang dan Putri Anchi melihat empat orang yang membelakangi mereka. Keempat orang itu mencoba menghadang gerombolan lelaki yang kini turun dari atas punggung kuda. Sementara itu, dua wanita dan dua pria yang membelakangi mereka itu bergeming saat gerombolan lelaki itu mulai menyerang mereka.
Suara denting pedang yang beradu terdengar memecah kesunyian di tempat itu. Keempat orang yang kini sedang bertarung tampak kompak menghadapi gerombolan yang mulai panik menghadapi mereka, hingga Qiang terkejut saat melihat seorang wanita yang tampak berdiri tak jauh dari tempat pertarungan itu. "Nyonya?" batinnya perlahan.
To be continued...
banditos69 dan 6 lainnya memberi reputasi
7