- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#44
Chapter 29
"Pergilah dari tempat ini! Mereka bukan tandinganmu," ucap Dewi Yi pada pemuda yang sudah berdiri di sampingnya itu.
"Jangan remehkan kemampuanku. Apa kamu pikir aku tidak bisa melihat bayangan hitam yang melekat di tubuh mereka?" Pemuda itu menatap Dewi Yi sambil tersenyum. "Hei, bukannya kamu yang harus pergi dari sini? Apa kamu mampu menghadapi mereka?" tanya pemuda itu sambil menatap Dewi Yi.
Tanpa menjawab pertanyaannya, Dewi Yi lantas merangsek maju dan berdiri tepat di depan kedua lelaki yang mengamuk. Seketika tatapan tajam dengan mata memerah menatap ke arahnya. Senyum menyeringai dengan suara mendesis terdengar dari mulut mereka yang kini tertawa lepas.
"Tinggalkan tubuh mereka jika kalian tidak ingin mati di tanganku!" Dewi Yi menatap mereka dengan tatapannya yang tajam. Bukannya takut, mereka malah tergelak dengan tatapan sinis yang terlihat dari wajah mereka.
"Gadis bodoh! Apa kamu pikir kami akan meninggalkan tubuh manusia ini karena takut padamu? Coba saja jika berani mengganggu kesenangan kami. Bukan hanya mereka yang akan mati, tapi kamu juga akan mati di tangan kami!" Kembali mereka tertawa, hingga membuat Dewi Yi tersenyum.
"Kalian memang keras kepala. Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Aku tidak keberatan jika harus menghabisi kalian."
Seketika, gadis itu maju selangkah dengan tusuk rambut yang sudah dicabut dari sanggulnya. Melihatnya memegang tusuk rambut yang berwarna keemasan sontak mereka terkejut hingga mundur beberapa langkah.
"Kenapa? Apa sekarang kalian mulai takut padaku?" tanya Dewi Yi sambil menyunggingkan senyum di wajah cantiknya.
Sementara pemuda itu tampak kagum dengan gadis yang terlihat berbeda yang kini berdiri di depannya. Dia seakan tidak percaya kalau gadis yang dianggapnya lemah ternyata mempunyai keberanian yang cukup membuatnya terpana. Bagaimana tidak, gadis berwajah cantik dengan sikap yang terkadang lembut itu kini menatap tajam ke arah dua bayangan hitam yang menyeringai ke arahnya. Bahkan, gadis itu tidak tampak ketakutan sedikit pun. "Gadis ini, kenapa dia bisa seberani itu menghadapi makhluk jahat yang bisa saja membunuhnya?"
Pemuda itu lantas maju dan berdiri sejajar dengan Dewi Yi. "Mundurlah, biar aku yang menangani mereka!" Pemuda itu tampak percaya diri sambil menghunus sebuah pedang yang sudah dilumuri dengan tetesan darah dari jari telunjuknya. "Pergilah, biar aku yang mengurus mereka"" ucapnya sekali lagi.
Pemuda itu kemudian maju dan menghunus pedangnya ke arah dua lelaki itu. Gerakannya cukup cepat, tapi tidak bisa menandingi gerakan kedua lelaki yang menghindar dengan gesitnya. Keduanya tampak tertawa seakan meremehkan pemuda itu. "Manusia bodoh! Matilah!"
Salah satu dari lelaki itu melakukan serangan balasan dengan mengarahkan sinar berwarna hitam ke arahnya. Dengan cepat, pemuda itu menghindar dari serangan. Dengan pedangnya, dia menangkis sinar hitam hingga membuat tubuhnya mundur beberapa langkah. Tampak darah segar keluar dari sudut bibirnya.
Melihat pemuda itu terpojok dan diserang salah satu makhluk itu, Dewi Yi seketika merangsek maju dan berdiri tepat di depannya dengan sebuah pedang yang memancar warna kebiruan yang sudah digenggamnya. Seketika saja makhluk itu terkejut, tapi terlambat baginya karena tangan gadis itu sudah mencekik lehernya dengan tatapan mata yang memancarkan warna kebiruan.
Makhluk itu berteriak dan meronta meminta dilepaskan, tapi terlambat karena pemuda itu sudah menempelkan sebuah kertas jimat yang sudah dilumuri darahnya. Seketika saja, bayangan hitam melesat keluar dari tubuh lelaki yang dirasukinya dan bergegas meninggalkan tempat itu, tapi sudah terlambat baginya. Dengan cepat, Dewi Yi melayangkan pedangnya tepat di leher bayangan hitam, hingga membuatnya menguap dengan sisa abu yang beterbangan di atas udara.
Melihat temannya yang mati mengenaskan, makhluk yang masih bertahan di tubuh lelaki lainnya tampak mulai ketakutan. Dia terkejut melihat kehebatan dua orang yang kini menatap ke arahnya. Karena takut, makhluk itu melepas diri dari tubuh lelaki yang kini lemah dan tak sadarkan diri.
Melihatnya melarikan diri, Dewi Yi dan pemuda itu tidak tinggal diam. Keduanya lantas mengejar bayangan yang berlari memasuki kawasan hutan. Mereka terus mengejar, hingga mereka berhenti saat beberapa bayangan hitam tampak berdiri di depan mereka.
"Ah, jadi kalian ingin mengeroyok kami? Apa kalian hanya berani jika menyerang secara bersamaan?" tanya Dewi Yi yang menatap ke arah mereka.
Tampak mereka tertawa dan menyeringai ke arahnya. Bahkan, di salah satu makhluk terlihat seorang gadis muda yang disandera olehnya. Gadis itu tampak menangis karena dijadikan tameng oleh mereka.
"Apa kalian pikir dengan menyandera gadis itu aku akan melepaskan kalian? Bunuh saja dia dan setelah itu kalian semua pasti akan mati di tanganku!"
Ucapan Dewi Yi membuat pemuda itu menatap ke arahnya. Seakan mengerti dengan tatapan pemuda itu, Dewi Yi hanya tersenyum kecut. "Kenapa? Bukankah, kamu pernah mengatakan hal yang sama saat aku disandera perampok waktu itu?"
"Ah, gadis ini sangat menyebalkan. Apa dia tidak tahu kalau semua itu hanya siasat saja?" batinnya dengan wajah yang terlihat kesal.
Tiba-tiba saja, seorang lelaki paruh baya yang terlihat cemas berlari ke arah mereka. Wajahnya tampak sedih sambil menatap ke arah gadis yang kini disandera. "Putriku!"
"Ayah!" Gadis muda itu kembali menangis dan berusaha melepas diri dari cengkeraman bayangan hitam itu, tapi percuma saja karena tubuhnya sama sekali tidak dapat bergerak.
"Tenanglah, Nak. Ayah pasti akan menolongmu." Seketika saja tubuhnya berubah menjadi seekor rubah yang sangat besar. Rubah yang terlihat menyeringai itu lantas menyerang ke arah bayangan yang menyandera putrinya. Belum sempat dia mendekat, salah satu bayangan lantas menghadangnya dan mereka pun bergumul di atas tanah.
"Dasar bodoh!" Dewi Yi lantas maju dan menyerang beberapa bayangan yang kini menatap ke arahnya. Begitu pun dengan pemuda itu yang ikut maju dengan pedangnya yang terhunus.
Rubah yang tampak liar itu mulai mencakar dengan kukunya yang tajam. Tak hanya itu, dengan garangnya dia menggigit bagian leher bayangan hitam. Namun, tubuhnya tiba-tiba terangkat dan dilempar ke arah batang pohon hingga terpental dengan erangan yang terdengar memilukan.
"Ayah!" teriak gadis yang kini menangis melihat tubuh ayahnya yang telah berubah wujud menjadi manusia. Darah segar tampak keluar dari mulutnya. Melihat ayahnya tak berdaya, gadis itu tiba-tiba saja berontak dengan tubuh yang berubah menjadi kepulan asap yang perlahan meninggalkan bayangan hitam dan mengarah pada ayahnya yang tampak menahan rasa sakit.
"Putriku, Ayah tahu kekuatanmu pasti akan muncul di saat terdesak seperti ini. Ingat apa yang sudah Ayah ajarkan padamu." Kembali, darah segar mengucur dari mulutnya.
"Ayah, tenanglah. Ayah pasti akan baik-baik saja." Gadis itu lantas mendudukan ayahnya dan menyandarkannya di batang pohon. "Ayah, tunggu di sini. Aku akan membantu mereka."
Tatapan mata gadis itu terlihat berbeda. Dengan geram, dia maju membantu Dewi Yi dan pemuda itu yang sedari tadi bertarung dengan bayangan hitam. Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba saja kekuatannya bertambah. Kini, mereka bertiga tampak kompak menyerang bayangan hitam yang mulai kewalahan melayani serangan mereka.
Dewi Yi dengan pedangnya terlihat begitu tangguh saat kehebatan pedang itu terhunus ke arah bayangan hitam yang terlihat mulai ketakutan. Begitu pun dengan kehebatan sang pemuda yang mampu mengimbangi setiap serangan dengan kemampuan memainkan pedang yang tak bisa diragukan. Sementara gadis siluman rubah, tampak beringas menghantamkan sebilah pedang yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Kolaborasi ketiganya, nyatanya membuat bayangan hitam kelabakan dan lari tunggang langgang saat melihat beberapa teman mereka yang telah mati dan hangus menjadi abu yang betebaran.
Gadis siluman rubah lantas mendekati ayahnya yang kini tengah sekarat. Luka di tubuhnya terlihat mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"Ayah, bertahanlah. Aku akan mengobati luka Ayah."
Gadis itu lantas mengatur tenaga dalamnya dan bersiap mentransfer tenaga dalamnya itu pada sang ayah, tapi lelaki itu melaranganya, "Jangan buang tenagamu untuk Ayah yang sebentar lagi akan mati. Simpan tenagamu itu untuk melindunginya," ucap lelaki itu sambil menunjuk ke arah Dewi Yi.
"Tapi, Ayah .... "
"Dengarkan, Ayah. Tugas Ayah sudah selesai dan sekarang jalani takdirmu untuk membantunya. Kamu adalah orang yang telah ditakdirkan untuk membantunya. Itulah sebabnya, kita masih bertahan hingga kini, tapi sekarang Ayah harus pergi." Lelaki itu terbatuk-batuk dengan darah segar yang keluar dari mulutnya.
"Dewi, terimalah putriku dan biarkan dia menjagamu. Walau dia belum mendapatkan seluruh kekuatannya, tapi aku yakin suatu saat nanti dia akan menjadi pelindungmu dan menjagamu dengan taruhan nyawanya." Tiba-tiba saja lelaki itu terdiam dengan kelopak mata yang melebar dan perlahan tubuhnya berubah menjadi pendaran cahaya kecil yang menghilang menuju ke atas langit.
Dewi Yi menatap ke arah gadis yang kini menangis meratapi kepergian ayahnya. Gadis itu terlihat sedih, hingga membuat Dewi Yi menepuk pundaknya pelan. "Ikhlaskan ayahmu pergi dan aku rasa kamu tak perlu menjagaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Tidak! Itu adalah tujuan dan permintaan terakhir ayahku. Mana bisa aku mengelak dari permintaannya. Dewi, izinkan aku ikut denganmu." Gadis itu kini berlutut di depannya.
"Tapi .... "
"Sudahlah, sekarang bangkit dan ikuti kami. Ayo, Zhi Ruo pasti sudah menunggu kita." Pemuda itu lantas mengajaknya berdiri.
"Hei, apa maksudmu dengan mengikuti kita? Kenapa kamu berani menyanggupi permintaannya?" Dewi Yi terlihat kesal karena pemuda itu menerima gadis muda itu tanpa bertanya padanya.
"Sudahlah, jangan marah. Wajahmu tidak enak dipandang jika marah-marah seperti itu." Pemuda itu tersenyum sambil terus berjalan. Walau wajah Dewi Yi terlihat kesal dan marah, tapi kecantikan wajahnya tetap terpancar. Dan kecantikannya itu telah mengganggu sang pemuda, hingga membuat pemuda itu menyamarkan perasaannya dengan cara mengganggunya hingga membuatnya kesal.
Menjelang sore, mereka tiba di tepian sungai di mana sebuah pohon sakura dengan bunga berwarna merah muda tampak mulai mekar. Di bawah pohon itu, Zhi Ruo terlihat duduk dan bersandar sambil menekuk lututnya. Saat melihat mereka datang, gadis kecil itu bangkit dan berlari ke arah mereka.
"Paman, Kakak, kalian baik-baik saja, kan?" tanya gadis kecil itu yang terlihat khawatir.
"Jangan khawatir, kami baik-baik saja." Pemuda itu meraih tubuh mungil keponakannya dan membawanya ke dalam kereta yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Ayo, sebaiknya kita pulang. Ibu dan ayahmu pasti khawatir karena kita belum juga kembali."
Di dalam kereta, Zhi Ruo menatap ke arah gadis yang datang bersama Dewi Yi dan pamannya itu. Dia terus memandangi gadis yang kini duduk tepat di depannya. "Kakak, kenapa kamu ikut bersama kami? Siapa namamu?" tanya Zhi Ruo penasaran.
Gadis muda itu tersenyum. "Namaku Ling dan aku adalah pelayan Dewi Yi."
"Dewi Yi? Siapa itu Dewi Yi?"
"Itu aku." Dewi Yi menjawab dengan datar.
"Ah, jadi nama Kakak adalah Dewi Yi. Apakah Kakak seorang dewi?"
"Diamlah, jangan banyak bertanya! Saat ini, aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu itu."
Mendengar jawaban Dewi Yi, wajah gadis kecil itu terlihat sedih. Dia tidak menyangka, gadis muda yang membuatnya kagum ternyata sangat kejam dengan ucapan yang terdengar menyakitkan.
Selama perjalanan, mereka hanya diam. Gadis kecil itu terlihat kesal dan hanya menatap sinis ke arah Dewi Yi yang duduk bersila sambil memejamkan matanya. Saat ini, dia sedang berkonsentarasi untuk menenangkan hati dan pikirannya yang merasa terganggu dengan situasi tak mengenakkan yang sudah dialaminya.
Tak berapa lama kemudian, kereta mereka tiba di depan rumah di mana Zhi Yan dan istrinya sudah menunggu dengan perasaan cemas. "Kenapa kalian baru datang? Kalian sudah membuat kami khawatir." Zhi Yan mendekat ke arah Zhi Ruo yang sudah dipeluk sang ibu.
"Kakak, maafkan aku. Tadi di pasar dua orang lelaki dirasuki aura jahat hingga membuat kekacauan. Karena itu, kami mencoba menghentikan mereka, tapi .... "
"Sudahlah, Qiang! Kakak tahu kamu punya kelebihan melihat mereka, tapi jangan buat keponakanmu terlibat. Jika terjadi sesuatu pada Zhi Ruo, Kakak tidak akan pernah memaafkanmu!"
Wanita yang sedang hamil besar itu terlihat marah. Dia kemudian pergi sambil membawa Zhi Ruo masuk ke dalam rumah.
"Qiang, jangan dengarkan ucapan kakakmu itu. Dia hanya khawatir dengan Zhi Ruo. Sekarang, istirahatlah." Zhi Yan menepuk pundak pemuda itu pelan dan masuk ke dalam rumah.
Dewi Yi menatap ke arahnya yang kini terlihat sedih. Sambil menundukan wajahnya, dia berjalan meninggalkan mereka tanpa mengucapkan apa pun. Pemuda itu kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan sederhana yang berdiri tak jauh dari rumah utama.
"Ah, kenapa kejadian ini membuat kepalaku menjadi sakit?" Dewi Yi mendengus kesal. "Tunggu aku di sini. Aku akan menemuinya sebentar," ucapnya pada Ling dan berjalan menuju ke ruangan di mana Qiang berada.
To Be Continued....
Indjay dan 7 lainnya memberi reputasi
8