- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#43
Chapter 28
Desa itu terlihat ramai dengan suara anak-anak kecil yang bermain dengan lincah. Suara mereka terdengar riuh saat melihat pemuda itu datang bersama seorang wanita.
Di depan sebuah rumah sederhana, kuda yang ditunggangi pemuda itu berhenti. Dari balik pintu, tampak seorang gadis kecil berlari menyambut kedatangan mereka dengan senyum di wajah mungilnya.
"Paman!" Gadis kecil tersebut berlari dan mendekat ke arah pemuda itu dan memeluknya saat dia baru saja turun dari atas punggung kuda. Sesaat, gadis kecil itu terkejut saat melihat Dewi Yi yang tak asing baginya. "Kakak?"
"Apa kamu mengenalnya?" tanya pemuda itu sambil mendekat ke arah Dewi Yi. Gadis kecil itu mengangguk dan melayangkan senyumnya pada Dewi Yi. Namun, dia cukup terkejut saat melihat leher gadis itu ditutupi kain dengan noda darah yang cukup banyak.
"Kakak, kenapa lehermu berdarah?" tanya gadis kecil itu sambil meraih tangan Dewi Yi dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Dengan telaten, gadis kecil itu mempersiapkan air bersih dan beberapa tanaman obat untuk mengobati luka di leher Dewi Yi. Begitu pun dengan pemuda yang kini duduk melihat gadis kecil yang tampak terampil mengobati luka gadis yang dibawa olehnya itu.
"Apa ada yang bisa Paman bantu?"
"Tidak ada, Paman. Aku akan mengobati Kakak. Sebaiknya, Paman istirahat saja."
Gadis yang berusia sekitar 10 tahun itu tampak terampil dalam meracik obat dan membersihkan luka di leher Dewi Yi. Dia sama sekali tidak merasa takut atau jijik dengan aroma anyir darah yang menyengat indera penciumannya. Semua seakan sudah biasa baginya.
Dewi Yi memerhatikan tingkah gadis kecil itu dan dia cukup kagum dengan kemampuannya. Walau baginya luka itu tidak lebih seperti sengatan semut yang tidak akan bisa menyakiti apalagi membunuhnya, tapi dia membiarkan gadis kecil itu merawat lukanya, hingga lukanya sudah tertutup kain bersih dengan ditaburi tumbukan tanaman obat.
Gadis kecil itu rupanya sangat mahir mengolah obat. Tak hanya itu, dia juga pandai membedakan tanaman yang mengandung obat dan tanaman yang mengandung racun. Karena itulah, pemuda itu membiarkan Dewi Yi dirawat olehnya.
"Kakak, istirahatlah."
Gadis kecil itu lantas mendekat ke arah pemuda yang duduk memandangi mereka. "Kenapa Paman bisa bersama dengan Kakak? Bukankah, Paman bilang kalau Paman ingin pergi ke kota? Tapi kenapa Paman kembali bersama Kakak dengan luka di lehernya?"
Pemuda itu tersenyum sambil membelai kepala gadis kecil itu dengan lembut. "Paman tidak sengaja bertemu dengannya karena dia hampir saja dibunuh oleh perampok yang selama ini Paman cari."
"Jadi, Paman berhasil membunuh perampok-perampok itu?" Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum.
"Wah, Kakak sangat beruntung karena bisa bertemu dengan Paman. Jika tidak, mungkin saja Kakak sudah mati dibunuh perampok-perampok itu." Wajah mungilnya tersenyum ke arah Dewi Yi yang menatapnya tak percaya.
"Jika dia tidak datang pun, aku mampu menjaga diriku sendiri. Ah, kalian manusia terlalu sombong dengan kekuatan kalian." Gadis itu membatin sambil berdiri dari tempat duduknya dan memandang ke arah luar jendela.
Pemandangan di desa terlihat asri. Mereka hidup dengan gotong royong dan saling membantu. Tampak di depan matanya, dia melihat bagaimana mereka saling membantu. Bahkan, saat itu dia melihat seorang lelaki yang sedang berjalan menuju ke tempatnya dengan membawa seorang anak kecil dengan luka di kakinya. Lelaki itu kemudian masuk ke dalam rumah.
"Putriku, siapkan obat sekarang!" perintahnya pada gadis kecil yang langsung bergegas menuju ke ruang obat dan kembali dengan membawa beberapa tanaman obat yang sudah ditumbuk sebelumnya.
Dengan cekatan, lelaki itu mulai membersihkan luka yang tampak mengeluarkan darah. Keahliannya dalam mengobati dan meracik obat sangatlah mumpuni. Itulah sebabnya, anak gadisnya juga memiliki kemampuan yang diturunkan langsung olehnya.
Seorang ibu muda tampak menunggu dengan khawatir saat melihat anaknya sedang diobati. Setelah mengobati anak itu, lelaki tersebut kemudian membersihkan tangannya dari sisa darah dan obat yang menempel di tangannya. Wanita itu lantas tersenyum seraya berterima kasih karena mereka sudah mengobati luka yang diderita putranya dan kemudian pergi setelah gadis kecil itu memberikannya beberapa bungkus tanaman obat.
"Adik ipar, tolong bawa putriku dan tinggalkan kami. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya," ucap lelaki itu sambil menatap ke arah Dewi Yi.
Tanpa bertanya, pemuda tersebut lantas meninggalkan mereka dan membawa gadis kecil itu bersamanya.
Lelaki itu kemudian duduk dan menatap ke arah Dewi Yi yang berdiri memandanginya. "Duduklah," ucapnya mempersilakan Dewi Yi untuk duduk.
Dewi Yi duduk di depannya dan mereka saling menatap. "Apa ini yang kamu lakukan selama ada di sini? Apa hanya karena mereka kamu menentang peraturan langit?"
Lelaki itu tersenyum sambil menuang teh ke dalam dua buah cangkir yang ada di atas meja. "Minumlah, setelah itu aku akan menjelaskan semuanya padamu."
Dewi Yi meraih satu cangkir dan meneguk teh yang ada di dalamnya. Begitu pun dengan lelaki itu yang melakukan hal serupa.
"Apa yang sudah kamu lihat saat berada di sini? Apa kamu bisa bedakan antara kehidupan di Istana Langit dan kehidupan di alam manusia ini?"
Dewi Yi tersenyum kecut. "Aku bisa melihat kalau di bumi ini banyak manusia serakah dan kejam yang berkeliaran. Mereka dengan mudah membunuh tanpa ampun. Bahkan, sesama teman sendiri mereka bisa saling bunuh. Apa itu yang membuatmu bertahan di sini?"
Lelaki itu kembali meneguk sisa teh di dalam cangkirnya. "Jika bumi ini penuh dengan manusia seperti itu, maka kami tidak akan memiliki tempat untuk sembunyi. Apa selama ini yang kamu lihat dari mereka hanya kekerasan dan tidak bisa melihat manusia-manusia yang memilki hati baik bahkan melebihi dari para dewa sekalipun? Yi Yuen, tidakkah kami pikir kalau kita hanya terikat dengan peraturan langit yang membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa?"
"Itu bukan urusan kita karena kita memang tidak bisa mencampuri urusan duniawi. Apa karena wanita, kamu menentang peraturan langit? Kalau bukan karena putrimu, aku pasti sudah membawamu ke Istana Langit, bagaimanapun caranya."
Dewi Yi terlihat marah. Namun, lelaki itu hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. "Yi Yuen, aku tahu siapa dirimu. Kamu bukanlah seorang dewi yang selalu mengikuti aturan. Ada alasan yang membuatku enggan untuk kembali. Aku, Zhi Yan yang terkenal sebagai Dewa Obat hanya bisa mengikuti peraturan langit untuk mengobati penghuni Istana Langit, tapi lihatlah manusia yang mati karena penyakit yang tidak ada obatnya. Apa kamu pikir penyakit itu hanya sebuah kebetulan semata?"
Kening Dewi Yi mengerut. "Apa maksud ucapanmu itu? Apa kamu pikir penyakit aneh yang kamu maksud ada hubungannya dengan Istana Langit?"
"Aku tahu kamu tidak bodoh. Apa kamu pikir mereka yang ada di Istana Langit semuanya memiliki hati yang suci? Apa kamu pikir tidak ada dari mereka yang memiliki kepentingan di bumi ini?"
"Sudahlah, jangan bicara omong kosong! Aku tahu itu hanya alasanmu saja. Iya, kan?"
"Baiklah. Jika menurutmu itu hanya omong kosong, bisakah kamu ikut denganku ke suatu tempat? Mungkin saja setelah melihatnya kamu akan berubah pikiran."
Lelaki itu kemudian bangkit dan berjalan keluar dari dalam rumah. Dewi Yi berjalan mengikutinya dari belakang. Setelah melewati beberapa buah rumah, akhirnya mereka tiba di sebuah bangunan yang cukup besar. Lelaki itu kemudian masuk melalui sebuah pintu yang dijaga oleh beberapa orang lelaki.
Di dalam ruangan itu, ada beberapa ruangan kecil bersekat dan berjeruji. Di salah satu ruangan itu, mereka berdiri.
"Lihatlah, apa ada yang aneh pada dirinya?" tanya Zhi Yan yang merupakan Dewa Obat di Istana Langit itu.
Dewi Yi menatap seorang lelaki yang kini menatapnya dengan tatapan mata yang tajam. Tak hanya itu, wajahnya terlihat beringas dengan suara mendesis seperti seekor ular. "Apa yang terjadi padanya?"
"Lihatlah baik-baik. Apa menurutmu ada sesuatu yang janggal padanya?"
Dewi Yi masih menatap lelaki itu dan dia bisa memastikan kalau memang ada yang aneh padanya. Dari tubuhnya, tampak aura jahat berwarna hitam yang memancar. Aura hitam itu tampak melekat hingga membuat tubuhnya berada di luar kendali. Sesekali dia berteriak histeris dan berusaha membuka jeruji besi. Bukan hanya itu, dari tubuhnya tercium bau busuk yang menyengat karena tubuhnya penuh dengan luka bekas dari cakaran tangannya sendiri. Tampak gelembung-gelembung berair yang muncul di sekitar wajah dan tubuhnya hingga mengeluarkan bau busuk saat gelembung-gelembung itu pecah hingga menimbulkan luka.
"Lihatlah! Bagaimana bisa manusia memiliki aura jahat seperti itu kalau bukan karena satu kekuatan yang mengontrolnya? Menurutmu, kekuatan macam apa yang bisa menyebabkan manusia mengalami hal sekejam dan sesadis itu?"
Dewi Yi terdiam. Walau tak bisa dipungkiri kalau apa yang dikatakan oleh Zhi Yan memanglah benar adanya. Dia bisa tahu aura yang dimiliki roh jahat ataupun siluman. Namun, aura jahat yang ada di tubuh lelaki itu tampak asing dan dia tidak mengetahui asal muasal aura jahat itu.
Ternyata, bukan hanya lelaki itu saja yang mengalami penyakit aneh, tapi ada beberapa orang yang juga mengalami hal yang sama hingga dikurung di dalam ruangan itu.
Dewi Yi tampak gusar karena dia tidak menyangka ada kekutan aneh yang dia sendiri tidak tahu asalnya. Padahal, baginya bukan hal yang sulit untuk mendeteksi aura jahat yang bersemayam di tubuh manusia ataupun dari penampakan roh jahat dan siluman.
"Sekarang, apa kamu tahu kenapa aku memilih bertahan di sini?"
"Aku akan menyelidikinya. Jika apa yang kamu sangkakan memang benar, aku berjanji akan mengungkap kejahatan ini dan membiarkanmu tetap ada di sini, tapi jika sangkaanmu salah, maka kamu harus bersiap untuk kembali ke Istana Langit dan meninggalkan tempat ini."
"Baiklah, aku berjanji." Zhi Yan berucap dengan yakin karena dia memang meyakini kalau itu semua berasal dari Istana Langit.
Selama beberapa hari, Dewi Yi menginap di rumah Zhi Yan. Selama di sana, dia banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan yang tertutup itu. Dia ingin mengenal aura jahat yang tersembunyi di tubuh mereka. Terkadang, dia membantu Zhi Yan dalam meracik tanaman obat untuk diberikan pada penduduk desa yang datang berobat padanya.
Untuk sesaat, dia cukup kagum dengan sikap manusia yang saling menolong dan peduli sesama mereka. Karena selama ini para dewa dilarang keras untuk mencampuri urusan manusia.
Selama ada di desa itu, Dewi Yi mulai merasa kalau kehidupan manusia tidaklah buruk seperti yang selama ini disangkanya. Terlihat dari senyum dan sapaan mereka padanya saat bertemu. Bahkan, tak sedikit para wanita yang datang padanya untuk meminta racikan obat yang bisa membuat wajah mereka terlihat cantik dan menawan. Mereka begitu takjub dengan kecantikan Dewi Yi yang bagi mereka seperti seorang dewi.
"Nona, apa ada obat khusus yang membuat wajahmu bisa terlihat cantik seperti ini?" tanya seorang wanita muda yang terpesona dengan kecantikan wajah Dewi Yi.
Dewi Yi hanya tersenyum saat dilontarkan pertanyaan seperti itu. Entah apa yang harus dia jawab karena kecantikan itu tidak didapatnya dari racikan obat mana pun.
"Sudah, sudah, biar aku yang akan memberikan ramuan untuk mempercantik wajah kalian." Zhi Yan memberikan isyarat pada Dewi Yi untuk meninggalkan mereka. Gadis itu kemudian pergi karena tiba-tiba saja tangannya diraih oleh gadis kecil yang tersenyum ke arahnya.
"Kakak, ayo temani kami ke pasar. Ibu memintaku dan paman membeli keperluan dapur yang sudah habis. Ayo!"
Tanpa mendengar jawaban Dewi Yi, gadis kecil itu lantas membawanya ke arah kereta kuda di mana seorang pemuda sudah menunggu mereka.
"Zhi Ruo, kenapa kamu membawa Nona Yi bersama kita?"
"Sudah, jangan marahi dia! Lagipula, aku juga ingin jalan-jalan sebentar." Dewi Yi tersenyum ke arah gadis yang bernama Zhi Ruo itu.
"Baiklah, kalau begitu cepatlah sebelum kakakku marah karena kita belum juga berangkat!"
Mereka kemudian pergi. Di dalam kereta gadis kecil itu terus mengoceh, hingga membuat Dewi Yi tersenyum. Tingkahnya yang lucu membuat gadis itu kadang tertawa lepas. Mendengar suara tawa Dewi Yi, seketika membuat pemuda itu tersenyum. Rasanya ada sesuatu yang dia rasakan saat mendengar suara yang terdengar lembut di telinganya. Sesuatu yang membuat jantungnya berdebar dengan cepat.
Saat kereta mereka mulai mendekati pasar, tiba-tiba saja kereta mereka berhenti serentak. Tampak suasana begitu kacau dengan orang-orang yang berlari seakan menghindar dari sesuatu. Dari balik jendela, Dewi Yi melihat aura jahat yang berada tak jauh dari mereka.
"Cepat bawa Zhi Ruo pergi dari sini!" perintah Dewi Yi pada pemuda itu. Dewi Yi lantas turun dari kereta dan mendekat ke arah aura jahat yang terlihat semakin dekat di depannya.
"Nona Yi, jangan pergi ke sana!" cegah pemuda itu, tapi Dewi Yi tidak menggubrisnya.
"Paman, cepat bantu kakak! Aku akan menunggu Paman di bawah pohon sakura di dekat sungai. Cepat, Paman!" Gadis kecil itu kemudian pergi meninggalkannya.
Pemuda itu lantas mengejar Dewi Yi yang kini telah berhadapan dengan dua orang lelaki yang dirasuki aura jahat. Melihat kedatangannya, gadis itu hanya mendengus kesal.
To Be Continued...
Indjay dan 5 lainnya memberi reputasi
6