Kaskus

Story

RinduRinjani777Avatar border
TS
RinduRinjani777
Behind His Royal Blood (21+) -- Part 9( Teman di Jalanan)
Tristan masih berusha mengatur napasnya saat tiga pemuda itu meninggalkannya dan Jim di taman kota. Untung saja Jim datang tepat waktu jika tidak ia tak tahu bakalan seperti apa rupanya nanti.

“Kau tidak apa-apa Tristan?” tanya Jim padanya.

“Tak apa Jim, terima kasih aku tak tahu bagaimana jadinya aku jika kau tak datang tepat waktu,” jawab Tristan sambil memegangi punggungnya yang tadi mendapatkan tendangan.

“Sama-sama Tristan kebetulan saja aku lewat sini, aku baru saja membersihkan sampah di wilayah sini.”

Jim memang terlihat lebih kucel dari biasanya. Namun tak membuat Tristan ragu untuk merangkulnya seperti Jim yang tak pernah ragu untuk menolongnya.

“Ayo kutraktir makan siang,” ajak Tristan.

Dengan bantuan tongkat yang tadi dipakai untuk mencegah agar Tristan tidak mendapatkan tonjokan di wajahnya, Jim pun mulai berjalan. Langkahnya sedikit menyeret seperti pernah terluka sebelumnya.

“Kau ingin makan apa Jim?” tanya Tristan.

“Apa saja Tristan, aku bukan pemilih makanan.”

“Hmm tidak katakan saja apa yang ingin kau makan, uangku cukup.”

Jim melihat ke arah Tristan, “Kalau boleh aku ingin memakan fish and chips atau mungkin chicken steak.”

“Ayo.”

Berdua mereka berjalan mencari restoran yang menjual fish and chip di sekitar taman. Tristan mendapat uang lebih banyak hari ini, sepertinya akan cukup untuk sekedar makan siang berdua bersama Jim.

***

Jim dan Tristan berhenti di depan restoran dengan dekorasi patung ikan di kanan kiri pintu utamanya. Di samping patung tersebut terdapat buku menu yang bisa dilihat oleh para pejalan kaki sebelum akhirnya mereka memutuskan akan makan di sana atau tidak.

Dengan Jim di sampingnya Tristan mulai melihat-lihat buku menu yang tersedia. Restoran ini cukup bagus namun harga menunya bisa dibilang terjangkau.

Mencoba untuk mencari apakah restoran ini juga menyediakan fish and chip atau chicken steak seperti yang diinginkan Jim.

“Ehem sedang apa kalian berdua di sana?” tegur seorang wanita dengan apron pada rok nya tiba-tiba.

Tristan menoleh dan bermaksud menjawab pertanyaan wanita itu. Wanita yang memandang Tristan dan Jim secara bergantian.

“Ya, apa masih ada kursi untuk dua orang?” tanya Tristan sambil melirik ke dalam yang memang masih lenggang.”

Wanita itu memandang Tristan dari atas ke bawah, sejenak ia tersenyum melihat fisik Tristan kemudian membuang muka. Setelah itu pandangannya beralih pada Jim yang terlihat kumal di sampingnya. Jenggot dan jambangnya yang panjang tak terurus serta pakaian yang sudah usang.

“Maaf sudah penuh, sebaiknya kalian berdua cari restoran lain saja!” jawabnya sinis

Tristan ikut tersenyum sinis, “Penuh? Di dalam masih banyak tempat yang kosong.”

“Itu sudah ada reservasi,” balasnya sengit.

“Jadi begitu, kenapa tak ada tanda di meja kalau sudah ada yang pesan tempat?” tanya Tristan menyelidik.

Terlihat wanita yang memakai apron itu melengos kesal. Menunjukkan ia tak suka dengan sikap Tristan yang menyelidik.

“Hei dengar ya, saya sudah mencoba untuk bersikap sopan pada kalian berdua, tapi kau malah kurang ajar. Dengar ya Restoran ini bukan untuk orang-orang sampah seperti kalian berdua!” bentaknya.

“Jaga bicaramu Nona, apa kau tak tahu kalau....” Tristan tak melanjutkan kalimatnya. Hampir saja ia keceplosan dan mengatakan siapa dia yang sebenarnya.

“Kalau apa?” tantang wanita itu.

Jim menarik-narik lengan Tristan, mengajaknya untuk pergi saja dari tempat itu. Masih banyak restoran lain yang bisa menerima kedatangan mereka.

Tristan mengarahkan telunjuknya pada wanita berapron itu. Menatapnya tajam dengan mata kelabunya hingga mampu membuat wanita angkuh itu mundur selangkah. Tristan melirik name tag wanita angkuh lalu mengingat paras wajahnya. Kemudian mengangguk dan meninggalkan restoran itu.

“Suatu hari akan kubuat kau menyesali hari ini Rebecca, dan kau akan meminta belas kasihan dariku dan Jim,” batin Tristan.

Bersama Jim, Tristan melanjutkan perjalanannya untuk mencari makan siang.

“Maafkan Jim, kita terpaksa cari tempat makan yang lain.”

“Tak apa Tristan, aku sudah biasa dengan perlakuan seperti itu,” Jim mencoba menenangkan Tristan.

“Lalu kenapa kau diam saja dengan perlakuan mereka yang semena-mena terhadapmu?”

“Sudahlah Tristan tak ada gunanya, aku lebih baik fokus dengan puisi dan juga pekerjaanku membersihkan sampah daripada harus meladeni orang-orang seperti itu. Mungkin juga ini karma bagiku dulu yang terlalu angkuh.”
“Kau menulis puisi Jim?”

“Ya, dan semua hasilnya kukirim ke rekening anakku. Aku memang pernah mengabaikannya saat dalam kandungan hingga balita, tapi sudahlah setidaknya aku ingin pendidikannya terjamin.”

“Kau hebat Jim!” puji Tristan.

“Hey bagaimana kalau kita coba ke sana!” ajak Tristan sambil menunjuk ke sebuah rumah makan masakan China yang terlihat ramai dari tempatnya berdiri.

“Boleh, ayo.”

Tristan berjalan pelan-pelan mencoba menyejajarkan langkahnya dengan Jim yang harus menyeret satu kakinya.

Rumah makan masakan China itu terlihat ramai. Sepasang suami istri nampak ramah menyapa mereka,mempersilakan mereka untuk masuk tanpa mempedulikan penampilan Tristan dan Jim.

“Masih ada tempat untuk dua orang?” tanya Tristan sambil melihat ke sekeliling mencoba mencari celah karena restoran yang mereka kunjungi tampak ramai.”

“Masih...masih. A Long coba kamu antar dua tuan ini ke tempat duduk!” perintah wanita pemilik rumah makan yang duduk di belakang kasir pada salah seorang karyawannya.

“Mari ikut saya Tuan,” tawarnya pada Tristan dan Jim.

Bersama Jim mereka mengikuti pelayan berkulit kuning yang mengantar mereka menuju tempat duduk yang berada di dekat jendela.

“Silakan Tuan, “ katanya mempersilakan duduk.

“Terima kasih,” jawab Tristan

“Ini menunya Tuan, silakan dilihat dulu, jika sudah siap memesan Anda bisa memanggil saya di sana,” tambahnya sambil menunjuk ke arah kanan, di dekat tempat seorang pria yang tengah meramu mie.

Restoran ini lebih besar dan ramai dibanding restoran yang mereka datangi pertama tadi. Namun urusan pelayanan Restoran China ini jauh lebih baik.

***

Tristan menghempaskan dirinya di sofa di samping Keith yang tengah sibuk menonton siaran olahraga di televisi.

“Hei Tristan, bagaimana harimu?” tanyanya.

“Sedikit melelahkan,” jawab Tristan sambil membuka kemasan obat gosok untuk punggungnya.

“Ada kabar tentang pekerjaan untukku?” tanyanya sambil mengoleskan obat untuk punggungnya.

“Sebenarnya aku tadi sempat lihat iklan di koran ada perusahaan yang butuh karyawan cepat tapi aku rasa itu tak cocok untukmu.”

“Pekerjaan apa? Dimana?”tanya Tristan

“Tenaga gudang,” jawab Keith.

“Dimana, aku mau.”

“Kau serius? Itu pekerjaan kasar Tristan. Tugasmu nanti mengangkat dan menyusun barang!” tegas Keith mencoba mengingatkan.

“Aku tahu, dan aku tak masalah dengan itu. Dimana aku bisa melamar pekerjaan itu?” tanggap Tristan cepat

Keith kemudian mengambil koran yang ada di sampingnya kemudian menunjukkan iklan lowongan pekerjaan itu pada Tristan.

“Kau benar-benar yakin Tristan?”

“Aku yakin, lama-lama jika kerjaku bagus aku pasti akan dapat promosi kan? Lagipula seperti katamu kalau aku tak mungkin melakukan hal yang sama seperti saat di taman pada musim gugur dan musim dingin kan?”
ableh80Avatar border
tien212700Avatar border
gajah_gendutAvatar border
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5
1.2K
15
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.3KAnggota
Tampilkan semua post
RinduRinjani777Avatar border
TS
RinduRinjani777
#5
Caranya bagaimana ya kalau bikin satu post?
0
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.