Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#42
Chapter 27


Seorang pemuda yang terlihat gagah memasuki sebuah ruangan di mana Raja Langit sedang duduk bersila. Suasana di tempat itu terlihat remang dengan cahaya pelita yang menyala di beberapa sisi ruangan.

Pemuda itu kemudian duduk dan berlutut di depan Raja Langit sambil menundukan wajahnya. "Guru."

Perlahan, kedua kelopak mata Li Quan mulai terbuka. Tatapan matanya terlihat teduh dan penuh ketenangan. "Qiang, apa kamu bertemu dengan mereka?" Wajahnya tiba-tiba terlihat sedih.

Pemuda itu mengangkat wajahnya dan mengangguk pelan. "Guru, aku telah bertemu dengan mereka. Istri dan putri Guru baik-baik saja, tapi ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada Guru."

"Ada apa? Apa sesuatu terjadi pada mereka?" Seketika wajahnya terlihat cemas.

"Guru, jangan khawatir tentang mereka. Aku sudah melihat bagaimana hebatnya putri Guru. Dia sangat hebat, hingga membuat bayangan hitam yang sempat bertarung denganku lari ketakutan. Dia memiliki satu senjata yang membuat aku teringat pada cerita Guru tentang Dewi Keabadian. Sebelum menghilang, aku sempat mendengar ucapan dari salah satu bayangan hitam yang mengatakan kalau putri Guru mungkin saja adalah Dewi Keabadian."

Mendengar ucapan pemuda itu, Li Quan tersenyum. Dia tidak menyangka, putrinya telah tumbuh menjadi gadis yang hebat.

"Qiang, untuk saat ini jangan sampai ada yang tahu tentang identitas putriku. Aku hanya khawatir jika ada yang tidak suka dengannya dan berusaha untuk menyingkirkannya. Dia bukan saja putriku melainkan reinkarnasi dari Dewi Keabadian. Dan kamu tahu sendiri tentang ramalan yang mangatakan kalau Dewi Keabadian akan bereinkarnasi dan satu saat nanti akan mengguncang Istana Langit. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Karena itu, aku ingin kamu menjaganya. Aku ingin mengubah ramalan itu karena aku tidak ingin suatu saat nanti aku bertarung dengan putriku sendiri."

Li Quan terlihat gusar. Takdir telah mempermainkan kehidupannya dan Zhi Ruo. Mereka dipertemukan dan kemudian dipisahkan oleh takdir. Tak hanya itu, buah cinta mereka bahkan terlahir sebagai seorang dewi yang terkenal dengan kehebatan dalam membasmi kejahatan di dunia roh dan dewa. Seorang dewi yang menanggung kematian di masa lalu atas ketidakadilan hingga memaksanya menanggalkan gelarnya.

Dewi Keabadian di masa lalu adalah seorang dewi yang penuh kharisma. Wajahnya yang cantik membuatnya dikagumi banyak dewa. Tak hanya cantik, tapi dia juga dikenal dengan sikapnya yang lembut. Namun, dia tidak akan kompromi dengan kejahatan yang melibatkan roh dan juga penghuni Istana Langit Dia akan bertindak tegas jika ada yang melakukan kejahatan dan melanggar peraturan langit.

Dewi Keabadian juga sering dipanggil dengan sebutan Dewi Yi. Dibalik wajahnya yang cantik, tersimpan kekuatan yang sangat besar. Senjata andalan yang selalu bersamanya adalah sebuah tusuk rambut berlapis emas yang bisa berubah menjadi sebuah pedang dengan sinar kebiruan yang menutupinya. Pedangnya itu mampu membunuh tanpa ampun. Dengan sekali tebas, musuh di depannya bisa terbelah tanpa darah yang mengucur dari tubuh mereka. Karena itulah, roh jahat atau penghuni Istana Langit yang membakang akan berpikir seribu kali jika berhadapan dengannya. Jika mati karena tebasan pedang itu, maka tubuh mereka akan hangus terbakar menjadi abu dan tidak akan pernah bereinkarnasi kembali.

Karena kehebatannya itulah, dia mulai dibenci oleh beberapa dewi penghuni Istana Langit. Mereka membencinya karena dia memiliki kecantikan yang abadi. Wajahnya tidak akan pernah menua dan selalu terlihat cantik dan awet muda.

Walau dia memiliki kecantikan yang abadi tidak membuatnya menjadi wanita yang angkuh. Perangainya yang lembut membuatnya menjadi buah bibir di kalangan pelayan Istana Langit. Para pelayan selalu berebut untuk bisa terpilih menjadi pelayannya.

Suatu ketika, dia mendapat kabar kalau seorang dewa telah membangkang keputusan Raja Langit dan melarikan diri ke alam manusia. Dewa itu telah diketahui menjalin hubungan dengan seorang manusia. Karena itulah, dia dikurung di dalam penjara karena sudah beberapa kali turun ke alam manusia untuk bertemu dengan kekasihnya itu.

Tali kasih antara seorang manusia dan dewa tidak bisa terjalin karena itu melanggar peraturan yang sudah tertulis sejak dulu kala. Jika menolak, maka dewa tersebut akan diberi hukuman dan mereka akan dipisahkan. Dan kini, dia harus memisahkan kedua insan yang sedang jatuh cinta itu.

Dengan penampilannya yang terlihat seperti gadis pada umumnya, dia mulai menyusuri setiap jengkal sudut di bumi untuk mencari dewa yang sudah berbaur dengan manusia. Berbulan-bulan dia mencari bahkan hingga bertahun-tahun keberadaan dewa itu tidak dia temukan. Rasanya, tugasnya kali ini terlalu berat hingga membuatnya memutuskan untuk kembali ke Istana Langit.

Di saat dia akan kembali, tak sengaja dia melihat seorang lelaki yang memiliki wajah yang sama dengan dewa yang selama ini dia cari. Tanpa berpikir panjang, Dewi Yi lantas mendekatinya dengan tusuk rambut yang sudah ada di genggaman tangannya. Saat dia mulai mendekat dengan tusuk rambut yang telah berubah menjadi sebuah pedang, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat dua orang gadis kecil berlari ke arah lelaki itu.

"Ayah," ucap kedua gadis kecil itu hampir bersamaan.

Keduanya lantas memeluk lelaki itu dengan senyum dan tawa yang terukir di wajah mungil mereka. Seketika, Dewi Yi menyembunyikan kembali pedang yang ada di tangannya. Sementara lelaki itu mulai menyadari kehadirannya dan memberikan kedua putrinya pada istrinya yang saat itu juga ada bersama mereka.

Di depan Dewi Yi, lelaki itu berlutut meminta pengampunan karena dia tidak ingin kembali ke Istana Langit. Dia sudah bahagia bersama anak dan istrinya. Dia sudah bahagia karena menjalani kehidupan seperti manusia pada umumnya. Baginya, itulah kehidupan yang sesungguhnya.

Melihat kesungguhan di wajah lelaki itu, Dewi Yi merasa bimbang. Bagaimana bisa dia mentolerir suatu perbuatan yang sudah menjadi larangan sejak dulu. Bagaimana bisa seorang dewi yang tak pernah lemah di dalam menjalankan tugasnya kini terlihat sulit untuk mengambil keputusan. Terlebih saat dia melihat senyum dua gadis kecil yang menatap ke arahnya dan seorang wanita dengan perut yang membesar karena tengah mengandung anak dari lelaki itu.

Dewi Yi terdiam. Di depan matanya, dia melihat seorang lelaki yang memohon demi kebahagiannya dan kebahagiaan keluarga kecilnya. Bagaimana bisa dia menghancurkan senyum dan tawa kedua gadis kecil yang kini memeluk ayah mereka dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya. Akhirnya dengan berat hati, Dewi Yi meninggalkan mereka.

"Kakak, tunggu!" Salah satu gadis kecil berlari ke arahnya. Dewi Yi menghentikan langkahnya dan dia terkejut saat gadis itu meraih tangannya.

"Kakak, terima kasih. Aku akan selalu mengingat kebaikan Kakak."

Dewi Yi terkejut dan menatap lekat ke arah mata gadis kecil itu yang mengarah tajam padanya. Seketika, dia terkejut karena melihat bayangan dirinya dari tatapan mata gadis kecil itu. Bayangan dirinya yang terlihat berbeda.

"Apa yang terjadi padaku? Kenapa tatapan matanya terlihat begitu menakutkan bagiku?" batinnya sambil mengalihkan pandangannya.

"Pergilah dan jangan pernah menampakkan wajahmu di depanku. Jaga keluargamu dan anggap saja kita tidak pernah bertemu."

Dewi Yi lantas meninggalkan tempat itu. Perasaannya kalut karena mengingat tatapan mata gadis kecil itu. Tatapan yang membuatnya kagum sekaligus takut. Kagum akan rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka dan takut karena rasa itu tidak seharusnya dia rasakan.

Dewi Yi berjalan menyusuri ruas jalan yang dipenuhi rumpun bambu. Dia masih memikirkan tentang keluarga kecil yang terlihat bahagia. "Apa pantas aku menghancurkan kebahagiaan mereka? Kenapa manusia dan dewa tidak bisa saling mencintai?" Dewi Yi bersandar di salah satu rumpun bambu yang berdiri tegak. Perlahan, dia memejamkan matanya dan menikmati semilir angin yang bertiup menerpa wajahnya.

Suasana di tempat itu terlihat lengang. Matahari senja mulai mencuat dengan warna keemasan yang menghiasi cakrawala. Di saat dia ingin melanjutkan perjalanan, tiba-tiba saja dia dihadang sekelompok perampok yang berkeliaran di tempat itu.

"Wah, sepertinya hari ini kita sangat beruntung. Lihat saja gadis cantik di depan kita. Ah, sepertinya malam ini aku akan bersenang-senang."

Seorang lelaki dengan penampilan yang terlihat memuakkan perlahan turun dari atas kudanya. Tatapan matanya penuh nafsu saat menatap Dewi Yi yang terlihat tenang.

"Pergilah, aku tidak ingin melayani kalian!" Dewi Yi berusaha untuk tidak peduli saat lelaki itu mulai mendekatinya. Dia malah berjalan meninggalkan mereka tanpa rasa takut sedikit pun.

"Aku suka dengan wanita yang melakukan perlawanan saat bercinta. Ternyata, kamu wanita yang cukup tangguh. Baiklah, aku berjanji akan melakukannya dengan lembut karena aku suka dengan tingkah angkuhmu itu."

Suara gelak tawa terdengar dari mulut perampok-perampok itu. Sementara Dewi Yi masih tidak peduli dan terus melangkah meninggalkan tempat itu.

"Ah, sudah cukup main-mainnya. Aku sudah tidak sabar untuk menikmati kemolekan tubuhmu itu. Cepat, tangkap dia!" perintah lelaki itu pada beberapa anak buahnya yang bergegas turun dari atas punggung kuda. Mereka lantas mengepung Dewi Yi yang masih tidak peduli dan menghindar dari mereka.

"Pergilah, jangan ganggu aku!"

Gadis itu berusaha untuk menghindar dan tidak melakukan perlawanan. Bisa saja dia melawan dan dalam sekejap mereka pasti akan mati bergelimpangan, tapi para dewa tidak bisa seenaknya membunuh manusia karena itu adalah perbuatan yang sangat dilarang. Namun, para perampok itu semakin beringas saat melihat gadis di depan mereka tidak melakukan perlawanan yang berarti. Salah satu dari mereka lantas mendekap tubuh Dewi Yi dari belakang, hingga membuat semua teman-temannya tertawa.

Karena sudah tidak tahan dengan perlakuan mereka, Dewi Yi akhirnya mengeluarkan separuh kekuatannya, tapi saat dia hendak melawan tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang pemuda yang sudah berdiri di depan mereka.

"Lepaskan dia!" seru pemuda itu sambil mengeluarkan pedang dari balik punggungnya.

Melihatnya para perampok itu cukup terkejut. Pasalnya, pemuda itu adalah orang yang ingin mereka hindari. Dia adalah salah satu pendekar yang sangat ditakuti di seantoro pelosok negeri. Kekuatannya dalam bertarung tidak bisa dianggap remeh. Setiap orang yang bertarung dengannya pasti tidak akan selamat. Mereka pasti akan binasa atau paling tidak akan mengalami kelumpuhan selama sisa hidupnya.

"Jangan pedulikan dia! Dia hanya sendiri dan tidak akan bisa mengalahkan kita. Ayo, serang dia!"

Para perampok itu merangsek maju dan menyerang pemuda itu. Tanpa ampun mereka menyerangnya dan mengepungnya, hingga dia berada di tengah-tengah mereka. Walau begitu, wajah pemuda itu tetap terlihat tenang. Tidak ada raut kecemasan di wajahnya walau dia sendiri tahu posisinya sekarang sudah terpojok. Apalagi beberapa dari mereka tiba-tiba mengeluarkan sebuah jaring yang cukup besar dan dilemparkan ke arahnya, hingga tubuhnya kini telah tertutup jaring hingga mempersulit pergerakannya.

Melihat kondisi pemuda itu yang terpojok, Dewi Yi terlihat khawatir. Rasanya.dia ingin membantu pemuda itu, hingga membuatnya maju beberapa langkah mendekati mereka, tapi tiba-tiba saja tubuh pemuda itu melayang ke udara dengan jaring yang terangkat mengikuti tubuhnya. Dengan sekali tebasan, jaring yang menutupi tubuhnya itu hancur berantakan dengan puing-puing yang berserakan.

Tanpa menunggu lama, pemuda itu lantas melakukan serangan balasan. Gerakannya sangat cepat sambil mengayunkan pedangnya ke arah para perampok yang mulai ketakutan. Beberapa perampok tampak terkapar dengan luka tebasan di punggung mereka. Saat terdesak, pemimpin dari perampok itu kemudian mendekat ke arah Dewi Yi yang sementara berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu lantas menyandera Dewi Yi dengan sebilah pisau yang diletakkan di leher gadis itu.

"Kamu terlalu ikut campur. Jika kamu mendekat, aku akan membunuh gadis ini!" Lelaki itu mengancam dengan pisau yang melekat di leher Dewi Yi.

Melihat lelaki itu menyandera Dewi Yi, pemuda itu hanya tersenyum. "Bunuh saja, aku tidak peduli. Apa kamu pikir aku melakukan semua ini demi gadis itu? Tidak! Aku melakukannya karena aku dibayar untuk menyingkirkan kalian. Jika dia mati, anggap saja itu sudah menjadi takdirnya untuk mati tanganmu, tapi takdirmu adalah mati di tanganku!"

Mendengar ucapan pemuda itu, Dewi Yi merasa kesal. "Hei! Apa menurutmu nyawaku tidak berharga?" Bisa saja dengan mudah dia melepas diri dari lelaki itu, tapi dia ingin melihat apa yang akan dilakukan pemuda itu saat dia mencoba melepas diri.

Dewi Yi lantas mencoba bergerak untuk melepaskan diri dengan cara menyikut perut perampok itu hingga menyebabkan pisau yang ada di tangan perampok itu melukai lehernya dan berdarah. Melihat darah di leher Dewi Yi, pemuda itu lantas merangsek maju saat melihat Dewi Yi telah terlepas dari perampok itu. Tebasan pedangnya seketika merobohkan perampok itu dengan luka menganga di bagian dadanya.

Sementara Dewi Yi menutupi luka di lehernya itu dengan tangannya. Melihat darah di leher gadis itu, pemuda itu mendekat. "Dasar gadis bodoh! Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti tadi? Kamu bisa saja mati dengan tingkah bodohmu itu!" Pemuda itu terlihat marah. Dia lantas merobek jubahnya menjadi beberapa penggalan kain dan segera menutupi luka di leher Dewi Yi.

"Kenapa kamu marah padaku? Bukankah, nyawaku tidak berarti bagi orang sepertimu? Kalau pun aku mati, kamu tidak akan peduli, kan?" Dewi Yi terlihat kesal dan bermaksud pergi meninggalkan tempat itu.

"Kamu mau pergi ke mana?"

"Bukan urusanmu!" Dewi Yi terus berjalan sambil memegang lehernya yang terasa sakit. Walau sebenarnya luka itu tidak berarti apa-apa baginya. Dengan kekuatannya dia bisa menyembuhkan luka itu dan menghilang tanpa bekas.

Pemuda yang kini duduk di atas kudanya itu lantas berjalan mendekati Dewi Yi dan dengan tangannya yang kekar dia meraih tubuh gadis itu dan mendudukannya di depannya.

"Turunkan aku! Apa yang kamu lakukan?"

"Diam saja dan jangan membantah. Aku akan mengobati lukamu itu."

Dewi Yi terdiam saat di depannya terlihat tatapan tajam yang mengarah padanya. Wajah pemuda itu cukup tampan dengan segurat senyum yang mengarah padanya. Seketika, dia memalingkan wajahnya dan menghindar dari tatapan mata pemuda itu.

Selama perjalanan, mereka hanya terdiam tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut keduanya, hingga mereka tiba di suatu pemukiman yang tidak terlalu ramai dan disambut dengan beberapa anak kecil yang berlari mengikuti mereka dari belakang.

To Be Continued...
tombbrader
Indjay
buwungpuyuh7681
buwungpuyuh7681 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.