Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread1Anggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#41
Chapter 26


Yi Yuen terkejut mendengar pertanyaan lelaki itu pada ibunya. Sementara Zhi Ruo menggenggam tangan putrinya itu dengan erat.

"Zhi Ruo, maafkan aku. Bukan maksudku mengungkit masa lalu, tapi apa kamu tahu kalau selama ini aku selalu mencarimu?"

Zhi Ruo tidak peduli dengan ucapan lelaki itu. Sambil menggenggam tangan Yi Yuen, Zhi Ruo memilih meninggalkan tempat itu.

Melihat Zhi Ruo pergi lelaki itu mencoba untuk mengejar. Dengan sisa kekuatannya dia berusaha turun dari tempat tidur, tapi dia terjatuh ke lantai karena tubuhnya belum benar-benar pulih.

"Zhi Ruo, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi." Lelaki itu memohon dan menangis, hingga membuat pelayan setianya ikut menangis.

Walau memohon nyatanya Zhi Ruo tidak peduli. Dia terus berjalan bersama Yi Yuen dan menerobos jalanan yang masih terlihat sepi. Keduanya berjalan tanpa ada sepatah kata yang terucap. Sementara Yi Yuen hanya mengikuti kemana ibunya akan membawanya pergi.

Matahari pagi perlahan terlihat saat mereka tiba di sebuah pinggiran hutan. Serabut warna kemerahan begitu indah di cakrawala. Terlihat begitu memukau dengan kicauan suara burung yang mulai terdengar. Sayup-sayup suara ayam hutan yang berkokok ikut meramaikan suasana di pagi itu, tapi tidak bagi keduanya yang terdiam karena menyimpan kesedihan.

Zhi Ruo dan Yi Yuen kembali melakukan perjalanan. Tak peduli dengan kabut pagi yang masih menutupi kawasan hutan. Walau matahari sudah terlihat, tapi hawa dingin masih terasa, hingga merasuk menembus tulang.

Mereka terus berjalan, hingga tiba di depan sebuah goa. Goa itu tidak asing bagi keduanya. Goa itu adalah tempat tinggal mereka sebelum tinggal di desa. Suasana di dalam goa masih terlihat seperti dulu. Tidak ada yang berubah, hanya saja terdapat beberapa tanaman liar yang mulai tumbuh merambat di dinding goa.

"Putriku, apa kamu ingin tahu siapa ayahmu?" tanya Zhi Ruo yang perlahan duduk di atas sebuah batu. Wajahnya tampak sedih dengan air mata yang perlahan jatuh.

Melihat ibunya menangis membuat Yi Yuen merasa bersalah. "Ibu, maafkan aku. Aku tidak akan bertanya lagi tentang ayah. Ibu, aku mohon jangan menangis lagi." Yi Yuen duduk berlutut di depan ibunya sambil menggenggam tangannya. Melihat ibunya menangis membuatnya ikut bersedih. Baginya, kebahagiaan ibunya adalah yang utama. Apa pun permintaan ibunya pasti akan dia lakukan.

Zhi Ruo tersenyum di antara air matanya yang jatuh. Tangannya membelai lembut wajah putrinya yang kini duduk di depannya. "Maafkan Ibu, Nak. Sudah saatnya kamu tahu siapa ayahmu. Ibu tahu selama ini kamu pasti merindukannya dan Ibu juga merasakan hal yang sama." Kembali air matanya jatuh dengan wajah yang menunduk.

"Apa kamu ingin dengar cerita tentang ayah dan Ibu?" tanya Zhi Ruo sambil menatap putrinya. Sekilas, wanita itu tersenyum karena mengingat masa-masa bahagia saat bersama suaminya di masa lalu.

"Duduklah di samping Ibu dan Ibu akan menceritakan siapa ayahmu."

Yi Yuen kemudian duduk di samping ibunya sambil menyandarkan kepalanya di lengan sang ibu.

"Apa kamu percaya kalau cinta tidak terbatas pada waktu dan pada siapa kamu jatuh cinta?" tanya Zhi Ruo membuka kata.

Yi Yuen hanya terdiam karena dia sendiri tidak tahu apa arti cinta itu sesungguhnya. Karena selama ini, dia tidak pernah membuka hatinya pada siapa pun apalagi untuk merasakan jatuh cinta.

"Hutan ini tidak asing bagi Ibu karena Ibu sudah sering keluar masuk untuk mencari tanaman obat dan di hutan ini, Ibu bertemu dengan ayahmu."

"Apa ayah tinggal di hutan ini?"

"Iya. Bahkan, untuk waktu yang sangat lama."

"Lalu, bagaimana lelaki itu bisa mengenal Ibu?"

"Lelaki itu bernama Zu Min. Seorang lelaki beristri yang waktu itu membawa paksa Ibu ke rumahnya. Awalnya, dia begitu kasar dan memaksa Ibu untuk melayaninya, tapi entah mengapa dia perlahan menjadi lembut terhadap Ibu dan berjanji akan menikahi Ibu setelah dia kembali dari perjalanannya. Katanya, dia jatuh cinta pada Ibu dan tidak mencintai istrinya karena mereka dipaksa untuk menikah, tapi rupanya istrinya tidak terima begitu saja dan menyuruh orang untuk menyingkirkan Ibu. Mereka membawa Ibu ke dalam hutan ini dan bermaksud membunuh Ibu, tapi sahabat Ibu berhasil menolong Ibu walau akhirnya dia harus mati di tangan mereka." Zhi Ruo kembali teringat pada Yuen, sahabat sedari kecil yang selalu ada untuknya bahkan rela mati untuk menyelamatkan dirinya.

"Di saat Ibu terdesak, saat itulah ayahmu datang menolong Ibu. Mereka ketakutan hingga lari meninggalkan hutan, tapi setelah beberapa hari Zu Min datang mencari Ibu dan bermaksud membawa Ibu pergi dari hutan ini. Namun, di saat yang sama Ibu mulai merasakan sesuatu pada ayahmu. Ibu merasa kami pernah saling berjumpa di kehidupan sebelumnya. Wajahnya tak asing bahkan namanya juga tak asing, hingga akhirnya kami sadar kalau kami pernah saling mencintai di masa lalu."

Yi Yuen mengangkat kepalanya dan menatap ibunya dengan heran. "Apa mungkin itu bisa terjadi, Bu?

Zhi Ruo mengangguk. "Di masa lalu, kami saling mencintai, tapi kami terpisah karena ayahmu dibawa pergi. Dia telah membunuh manusia yang mencoba menodai Ibu hingga akhirnya dia harus menanggung hukuman. Sementara Ibu, harus menanggung kerinduan dan mencarinya di setiap kelahiran. Dan di saat itulah kami bertemu. Ayahmu ternyata adalah seorang Dewa yang telah dihukum menjaga satu kekuatan tersembunyi di hutan ini selama 1000 tahun. Itulah sebabnya, hutan ini disebut sebagai hutan larangan karena ayahmu tidak akan membiarkan manusia atau makhluk jahat memasuki hutan ini."

"Lalu, di mana ayah?"

"Lima bulan setelah kami bersama, masa hukuman ayahmu berakhir dan dia harus kembali ke Istana Langit. Kakekmu sendiri yang datang menjemputnya. Walau menolak untuk pergi, ayahmu tetap tidak bisa berbuat apa-apa karena kekuatan yang selama ini dijaga olehnya telah menyatu dengan tubuhnya, hingga membuatnya terpilih menjadi Raja di Istana Langit."

Zhi Ruo menatap wajah Yi Yuen dan membelai kepala putrinya itu dengan lembut. "Saat itu, Ibu sedang mengandung dirimu dan Ibu sengaja tidak memberitahukannya pada ayahmu karena Ibu takut dia akan membakang pada ayahnya sendiri. Maafkan Ibu karena melepas ayahmu pergi dan membuatmu lahir tanpa mengenal ayahmu sendiri. Walau begitu, Ibu yakin ayahmu sangat menyayangimu. Bahkan, nenekmu datang menemui Ibu dan membantu persalinan Ibu saat melahirkanmu. Dia yang memberimu nama Yi Yuen dan dia yang pertama menggendongmu. Bahkan, dia bersujud di depanmu karena takdirmu yang terlahir dari reinkarnasi seorang dewi, yaitu Dewi Keabadian."

Yi Yuen terkejut. Pasalnya, nama Dewi Keabadian sudah tak asing di telinganya. Beberapa arwah bahkan telah mengatakan tentang dirinya yang merupakan reinkarnasi Dewi Keabadian yang akan mengguncang Istana Langit.

"Itulah sebabnya, Ibu tidak merasa khawatir saat kekuatan di dalam dirimu muncul tiba-tiba. Sejak kecil, kekuatan itu sudah ada. Dan Ibu menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya padamu. Sekarang, semua rahasia tentang kekuatanmu dan juga ayahmu sudah Ibu ceritakan. Ibu merasa beban di dada Ibu sudah berkurang."

"Apa Ibu sangat ingin bertemu dengan Ayah?" tanya Yi Yuen sambil menggenggam tangan ibunya.

Sejenak, Zhi Ruo menunduk. Di dalam hatinya, rasa rindu akan kehadiran Li Quan kembali di sisinya sangat dia harapkan. Setidaknya, sebelum kematian datang menjemputnya dia berharap bisa bertemu dan menumpahkan kerinduan untuk suaminya itu. Namun, apa daya karena hal itu tidak mungkin bisa terjadi.

"Jika benar aku adalah reinkarnasi Dewi Keabadian, aku pasti bisa menunju Istana Langit dan bertemu dengan ayah. Aku akan memintanya untuk datang menemui Ibu. Aku janji akan membawa ayah pada Ibu. Aku janji, Bu!"

Ucapan Yi Yuen tidaklah main-main. Dia sudah bertekad, bagaimanapun caranya dia harus bertemu dengan ayahnya dan memintanya untuk menemui ibunya.

Zhi Ruo hanya bisa tersenyum dan menatap ruangan goa yang membuatnya teringat dengan suaminya itu. Setelah puas berada di sana mereka memutuskan untuk kembali setelah berziarah ke makam Yuen dan makam ibunya. Namun, suatu hal yang tak terduga terjadi. Di perjalanan, mereka melihat pertarungan antara seorang pemuda dengan beberapa bayangan hitam yang terlihat menakutkan.

Dari balik semak, mereka berdua memerhatikan pertarungan tak seimbang itu. Walau begitu, sang pemuda terlihat biasa saja tanpa ada rasa takut sedikit pun. Berbekal sebuah pedang di tangannya, dia melawan dan menyerang bayangan hitam yang mulai mengurung dirinya.

Pemuda itu tiba-tiba melakukan gerakan berputar yang sangat cepat dan tubuhnya perlahan melayang ke atas udara, hingga menimbulkan pusaran angin yang cukup kencang. Bayangan hitam yang mengurungnya perlahan mulai terpencar, bahkan ada yang terlempar hingga terjerembab di atas tanah.

Tubuh pemuda itu perlahan berhenti berputar dan dan masih melayang di atas udara. Dari atas sana, dia bisa melihat puluhan bayangan hitam yang mulai bangkit dan bersiap melakukan serangan balasan, tapi dia terkejut saat melihat salah satu bayangan yang menatap ke arah dua orang wanita yang perlahan keluar dari balik semak.

"Sialan!" Pemuda itu lantas bergegas menuju bayangan hitam yang menatap ke arah Yi Yuen dan Zhi Ruo dengan tatapan matanya yang merah. Namun, bayangan hitam lainnya tidak begitu saja membiarkan pemuda itu mendekat.

Bayangan hitam kembali melancarkan serangan ke arah pemuda itu. Bahkan, serangan mereka semakin beringas hingga membuatnya kewalahan. Bukan karena tidak mampu, tapi dia mengkhawatirkan keselamatan dua wanita yang kini sedang diperhatikan oleh salah satu bayangan hitam.

"Akhirnya kita bertemu lagi. Ah, sungguh takdir yang sangat membahagiakan." Suara bayangan hitam itu terdengar kasar. Mulutnya menyeringai dengan senyum sinis yang menampakkan gigi-gigi taringnya yang mencuat. Tatapan matanya mengarah pada Zhi Ruo yang tak asing baginya.

"Kamu akan menjadi tawanan kami. Dengan begitu, Raja Langit akan menuruti permintaan kami!"

Bayangan hitam itu lantas maju dan mencoba meraih tubuh Zhi Ruo, tapi Yi Yuen tidak tinggal diam.

"Ibu, menjauh dariku!"

Zhi Ruo menuruti perintah putrinya itu dan bersembunyi di balik semak. Sementara bayangan hitam kini mengalihkan perhatiannya pada Yi Yuen.

"Ibu? Jadi, kamu adalah anak dari Raja Langit?"

Tiba-tiba saja bayangan hitam itu tertawa dengan suara yang terdengar menakutkan. Mengetahui gadis di depannya adalah anak dari Raja Langit membuat dia tertawa.

"Teman-teman, hari ini adalah hari keberuntungan bagi kita. Ternyata takdir sudah berbaik hati hingga kita bisa bertemu dengan istri dan putri dari Raja Langit. Jangan pedulikan pemuda itu dan segera tangkap kedua wanita ini. Mereka adalah senjata kita. Raja Langit pasti tidak akan keberatan jika memenuhi permintaan kita jika dia tidak ingin anak dan istrinya ini mati di tangan kita."

Suara tawa terdengar dari mulut mereka. Mereka masih ingat dengan Zhi Ruo yang merupakan istri dari Li Quan yang kini telah menjadi Raja Langit.

Mendengar ucapan bayangan hitam tentang anak dan istri Raja Langit membuat pemuda itu bergerak dengan sangat cepat dan tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depan Yi Yuen. "Biar aku yang menghadapi mereka. Cepat, bawa ibumu pergi dari sini!"

Yi Yuen bergeming. Dia masih menatap pemuda yang menutup setengah wajahnya itu. Pemuda misterius itu lantas bertarung dengan bayangan-bayangan hitam yang rupanya mengincar Yi Yuen dan Zhi Ruo. "Cepat, bawa ibumu pergi dari sini!" Kembali pemuda itu memerintahkan Yi Yuen untuk pergi.

Yi Yuen lantas meraih tangan ibunya dan membawanya pergi dari tempat itu, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti.

"Ibu, tunggu aku di sini. Aku akan membantu pemuda itu. Sepertinya, dia bukan manusia biasa. Aku harap dia bisa memberitahu kita tentang Istana Langit. Semoga saja dia menjadi petunjuk untuk kita bertemu dengan ayah."

Zhi Ruo mengangguk dan bersembunyi di balik semak. Yi Yuen lantas bergegas menuju pemuda yang masih bertarung melawan bayangan hitam yang semakin banyak. Rupanya, kehadiran Yi Yuen dan Zhi Ruo telah memancing kedatangan mereka.

"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tidak membawa ibumu pergi dari sini?" Pemuda itu terkejut saat melihat Yi Yuen yang ikut bertarung melawan bayangan hitam.

"Aku tidak akan membiarkanmu mati melawan mereka. Sepertinya, kamu bukan manusia biasa dan aku ada sedikit keperluan denganmu. Karena itu, aku akan membantumu menghabisi mereka."

Yi Yuen lantas meraih tusuk rambut yang ada di sanggulnya dan seketika berubah menjadi sebuah pedang. Sontak, pemuda itu terkejut. Begitu pun dengan bayangan hitam yang menatap heran ke arahnya.

"Kenapa? Apa kalian masih mau berurusan denganku?"

Puluhan bayangan hitam perlahan mundur ke belakang saat Yi Yuen berjalan maju ke arah mereka. Mereka cukup terkejut saat melihat pedang yang ada di tangan Yi Yuen.

"Bukankah, itu adalah pedang milik Dewi Keabadian?"

"Ya, ini adalah milikku. Apa kalian ingin merasakan bagaimana rasanya jika pedangku ini menebas tubuh kalian?"

Seketika saja mereka ketakutan saat melihat Yi Yuen mengayunkan pedangnya. Pedang yang memancarkan warna kebiruan itu rupanya telah membuat mereka ketakutan, hingga satu per satu dari mereka menghilang dan meninggalkan tempat itu.

Pedang di tangannya tiba-tiba kembali seperti wujud semula. Dia lantas menusuk kembali tusuk rambut di sanggulnya dan berniat menemui pemuda itu, tapi dia harus kecewa karena pemuda itu juga telah menghilang.

To Be Continued...
gajah_gendut
tombbrader
Indjay
Indjay dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.