Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.8K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#39
Chapter 25


Suara ketukan terdengar di depan pintu kedai Padahal, saat itu hari sudah larut malam. Biasanya, Zhi Ruo tetap melayani pembeli atau orang yang ingin berobat walau mereka datang di tengah malam.

Kangjian segera membuka pintu dan di depannya berdiri seorang wanita setengah baya. Wajahnya terlihat khawatir. "Maaf, Tuan. Aku mohon bantuan Nyonya Zhi untuk memeriksa majikan saya. Maaf, saya datang di malam seperti ini karena majikan saya butuh penanganan dari tabib secepatnya."

"Baiklah, sebentar biar saya beritahu Nyonya." Baru saja Kangjian ingin menemuinya, Zhi Ruo dan Yi Yuen sudah terlihat berjalan ke arahnya.

"Ada apa?" tanya Zhi Ruo saat melihat wanita setengah baya yang tampak cemas.

"Nyonya, tolong ikut saya. Majikan saya sakit parah dan sudah berobat ke mana-mana, tapi penyakitnya tidak kunjung sembuh." Penjelasannya membuat Zhi Ruo dan Yi Yuen segera bergegas. Yi Yuen mulai menyiapkan peralatan dan beberapa tanaman obat yang berhubungan dengan penyakit yang sudah dijelaskan oleh wanita tersebut.

Yi Yuen dan Zhi Ruo kemudian naik ke atas kereta kuda yang sudah disiapkan oleh wanita itu. Sementara Ling dan Kangjian tetap berjaga di kedai.

Setelah melakukan perjalanan hampir setengah jam, kereta kuda berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat megah. Yi Yuen dan Zhi Ruo kemudian dipersilakan untuk turun dan dituntun menuju salah satu ruangan yang ada di dalam rumah itu. Yi Yuen memerhatikan sekitar rumah yang terlihat luas. Walau sesekali dia bisa melihat penampakan makhluk halus yang menempati beberapa tempat di rumah itu, tapi dia tidak terlalu peduli karena roh-roh itu tidak memiliki aura jahat di wajah mereka.

Di depan pintu sebuah kamar, mereka berhenti. Wanita setengah baya yang menuntun mereka lantas membuka pintu dan mempersilakan mereka untuk masuk. Zhi Ruo dan Yi Yuen masuk perlahan setelah wanita itu masuk terlebih dulu. Di atas tempat tidur, mereka melihat seorang lelaki berbaring dengan tubuh yang ditutupi selimut.

"Tuan, aku sudah membawa tabib untuk memeriksa Tuan."

Wanita itu lantas mendekat ke arah lelaki tersebut yang perlahan membuka matanya. Wanita itu lantas mendekatkan telinganya di dekat mulut lelaki itu. Setelah beberapa saat, wanita itu mempersilakan Zhi Ruo dan Yi Yuen untuk memeriksa keadaan majikannya.

"Nyonya, Tuan meminta Anda untuk memeriksa kondisinya."

Sebelum Zhi Ruo mendekat ke arahnya, dia sempat mendengarkan penjelasan tentang penyakit lelaki itu melalui wanita tersebut dan akhirnya dia tahu kalau lelaki itu telah menderita penyakit aneh selama hampir dua bulan ini. Walau sudah berobat di setiap tabib yang ditemuinya, penyakitnya itu tetap tidak bisa disembuhkan. Dan wanita itu menjelaskan kalau dia mendengar kabar kalau ada seorang tabib wanita yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Karena itu, dia berusaha mencari tahu tempat tinggal tabib itu dan akhirnya berhasil menemukan tabib tersebut, yaitu Zhi Ruo.

Melalui penjelasan wanita itu, diketahui kalau majikannya telah kehilangan suaranya dan hanya bisa berbisik di telinga agar suaranya bisa terdengar. Tak hanya itu saja, tubuhnya pun sudah tidak mampu untuk digerakkan. Mereka bahkan tidak tahu apa yang menyebabkan majikannya itu kehilangan suara dan pergerakan tubuhnya.

Zhi Ruo kemudian mendekat ke arah tempat tidur dan melihat ke arah lelaki itu. Untuk sesaat, dia terkesiap menatap wajah lelaki itu yang samar-samar dikenalnya. Begitu pun dengan lelaki itu yang juga terkejut, hingga membuat matanya melebar saat menatap Zhi Ruo yang berdiri di depannya. Seketika saja, mulutnya bergerak seakan ingin mengucapkan sesuatu. Begitu pun dengan tangannya yang seakan berusaha meraih tangan Zhi Ruo yang berdiri tak jauh darinya.

"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Zhi Ruo sambil duduk di dekat lelaki itu. Zhi Ruo lantas memeriksa denyut nadinya dan dia merasakan nadi yang berdenyut tak beraturan. "Tenanglah, aku akan berusaha mengobati penyakitmu."

Tiba-tiba saja, entah kekuatan darimana, lelaki itu lantas menggerakkan tangannya dan berusaha meraih tangan Zhi Ruo. "Zhi Ruo," ucapnya pelan dengan air mata yang jatuh dari kedua sudut matanya.

Wanita setengah baya yang merupakan pelayan dari lelaki itu terkejut saat mendengar majikannya mengucapkan nama wanita yang kini duduk di depannya. Bahkan, tangan lelaki itu kini menggenggam tangan Zhi Ruo dengan erat.

"Nyonya, terima kasih. Ternyata nama yang sering disebut-sebut oleh Tuan adalah nama Nyonya."

Mendengar ucapan wanita itu, Yi Yuen merasa heran. Selama ini, dia tidak pernah mengetahui kalau ibunya pernah dekat dengan lelaki mana pun. Bahkan, siapa ayahnya dan keberadaan ayahnya saja tidak diketahui olehnya.

Setelah memeriksa, Zhi Ruo lantas meminta Yi Yuen untuk meracik tanaman obat yang sudah dia siapkan. Yi Yuen lantas menuju dapur dan diantar oleh wanita yang menjemput mereka. Suasana di dalam rumah terlihat sepi. Bahkan, di dalam dapur tidak terlihat aktivitas apa pun. Suasana terlihat lengang.

Setelah mengantar Yi Yuen ke dapur, wanita itu buru-buru pergi dan Yi Yuen bisa merasakan ada aura aneh di dalam dapur itu. Tanpa peduli dengan keadaan di dapur, dia lantas merebus tanaman obat. Tak berapa lama, dia selesai dan meletakkan air rebusan obat di dalam sebuah gelas keramik.

Sebelum dia membawa obat itu ke kamar, dia sengaja mengalihkan pandangannya ke tempat lain sambil memeriksa sisa tanaman obat. Itu sengaja dia lakukan karena dia melihat siluman ular yang sedari tadi memerhatikannya. Siluman ular yang berwujud seekor ular berkepala seorang wanita tampak meliuk dan bergerak mendekati seduhan tanaman obat yang ada di dalam gelas.

Yi Yuen berpura-pura tidak melihatnya dan duduk di kursi sambil menyiapkan potongan beberapa buah apel yang sudah dikupasnya. Siluman ular itu semakin mendekat dan dari mulutnya keluar cairan berwarna hitam yang dia muntahkan ke dalam gelas yang berisikan ramuan obat. Begitu pun dengan potongan buah yang sengaja Yi Yuen biarkan begitu saja. Cairan hitam itu kembali dimuntahkan ke dalam potongan buah dan di pandangan Yi Yuen, cairan hitam itu telah mengubah warna buah apel yang semula putih menjadi berwarna hitam.

"Oh, jadi kamu yang selama ini memuntahkan racunmu ke dalam makanannya?" tanya Yi Yuen yang kini menatap ke arah siluman ular yang telah berubah menjadi seorang wanita cantik.

Wajah wanita itu tersenyum sinis dengan sesekali menjulurkan lidahnya layaknya seekor ular. Matanya menatap ke arah Yi Yuen seakan tak menyangka kalau gadis di depannya itu ternyata mampu melihat dirinya.

"Kenapa? Apa kamu pikir aku tidak mengetahui keberadaanmu?"

Tatapan mata Yi Yuen terlihat begitu tajam. Melihat tatapan mata gadis di depannya membuat siluman itu menjadi marah. Tiba-tiba saja, cairan berwarna hitam menyembur dari mulutnya dan mengarah pada Yi Yuen. Dengan cepat, Yi Yuen menghindar dan wanita itu kembali berubah wujud menjadi seekor ular yang sangat besar.

Ukuran ular itu cukup panjang dan besar. Ular yang berkepala seorang wanita itu tampak liar dan mengejar Yi Yuen dengan semburan cairan hitam. Namun, Yi Yuen tidak tinggal diam. Dia terus menghindar dari serangan ular yang tidak tampak di mata manusia biasa. Semua peralatan di dalam dapur hancur berantakan, hingga membuat wanita paruh baya terkejut bukan kepalang saat dia hendak mengambil rebusan obat dari Yi Yuen.

Dia terkejut saat melihat Yi Yuen melompat seakan ingin menghindar dari sesuatu. Bahkan, barang-barang di dalam dapur jatuh berantakan dengan sendirinya seakan ada yang mengenainya.

Karena takut, dia akhirnya lari meninggalkan tempat itu dan menemui Zhi Ruo di dalam kamar. "Nyonya, putri Anda .... "

"Ada apa dengan putriku?" tanya Zhi Ruo sambil menatapnya.

"Dia ... dia sepertinya sedang bertarung, tapi aku tidak melihat dengan siapa dia bertarung. Semua barang di dalam dapur hancur berantakan, padahal tidak ada yang menyentuhnya."

Mendengar penjelasan wanita itu, Zhi Ruo hanya tersenyum tanpa mengucapkan apa pun. Dia tahu, saat ini putrinya pasti sedang bertarung dengan makhluk yang mengganggu di rumah ini. Dan benar saja, siluman ular itu adalah penyebab lelaki itu sakit dan terbaring hingga kehilangan suara dan tubuh yang tak bisa digerakkan. Dengan racunnya, dia membuat lelaki itu sakit dan tak berdaya.

Sementara Yi Yuen masih bertarung dengan siluman ular yang nyatanya semakin ganas. Wajah wanita setengah ular itu tampak geram karena lawannya hanya menghindar tanpa melakukan perlawanan.

"Kenapa? Apa kamu sudah lelah?" Yi Yuen tersenyum di depannya, hingga membuatnya semakin marah.

"Siapa sebenarnya dirimu? Lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan campuri urusanku!" bentaknya sambil menyemburkan kembali cairan hitam ke arah Yi Yuen, tapi gadis itu segera menghindar.

"Aku tidak akan pergi sebelum aku menghabisimu. Namun, sebelum itu katakan padaku apa maksudmu memberikan racunmu itu pada pemilik rumah ini?"

"Aku tidak perlu memberitahumu karena percuma! Sebentar lagi kamu akan menjadi santapanku!" Siluman ular itu kembali meliuk dan menyerang Yi Yuen dengan pukulan ekornya yang terus menghantam ke arah gadis itu.

"Baiklah, sudah cukup aku bermain-main denganmu. Karena kamu tidak ingin memberitahuku, maka aku akan menghabisimu agar tidak ada lagi korban lain karena ulahmu itu!"

Tiba-tiba saja Yi Yuen bergerak sangat cepat. Awalnya, dia berdiri di depan siluman ular itu, tapi kini dia telah berdiri di belakangnya sehingga membuat kepala ular itu berputar dan bergerak ke belakang. Yi Yuen lantas meraih tusuk rambut pemberian ibunya yang berada di sanggul rambutnya. Tusuk rambut itu seketika mengeluarkan warna kebiruan dan berubah menjadi sebuah pedang.

Melihat gadis itu menggenggam sebilah pedang, dia terkejut. Pasalnya, tubuh gadis itu mengeluarkan cahaya kebiruan dan tatapan mata yang tajam mengarah padanya. Seketika saja, siluman ular itu berbalik arah dan ingin menghindar, tapi terlambat karena tebasan pedang di tangan Yi Yuen telah berhasil memisahkan setengah tubuhnya.

Suara erangan kesakitan dan liukan tubuh siluman ular semakin menjadi. Penggalan ekornya bergerak-gerak dengan cepat, tapi tak lama kemudian penggalan ekornya itu terdiam dan berubah menjadi serpihan abu.

"Siapa kamu? Kenapa pedangmu bisa menyentuh tubuhku? Siapa sebenarnya dirimu?" teriak siluman ular sambil berusaha menyerangnya kembali, tapi kekuatannya telah berkurang. Bahkan, dia sudah tidak mampu menggerakan tubuhnya, hingga tiba-tiba dia berteriak saat melihat setengah tubuhnya telah berubah menjadi abu.

"Tidak! Aku tidak boleh mati, tidak! Kamu ... siapa sebenarnya dirimu?"

"Bukankah, aku sudah memperingatkanmu? Sekarang, sudah terlambat bagimu karena sebentar lagi kamu akan berubah menjadi abu."

Yi Yuen tidak peduli dengan erangan wanita setengah ular yang kini meminta pengampunan. Sudah terlambat baginya untuk menyadari tentang siapa gadis yang menjadi lawannya itu. Karena di akhir hidupnya, dia baru menyadari kalau lawannya itu ternyata memiliki cahaya surga yang terpancar dari tubuhnya. "Cahaya itu. Apakah dia adalah Dewi Keabadian yang akan melenyapkan kejahatan dan menggoncang Istana Langit?" Itu adalah ucapan terakhirnya seiring tubuhnya yang berubah menjadi abu.

Perlahan, pedang di tangan Yi Yuen kembali berubah menjadi tusuk rambut dan diselipkan di sanggul rambutnya. Yi Yuen kemudian mengambil tanaman obat yang tersisa dan merebusnya kembali.

Di saat yang sama, dia bisa melihat dua sosok arwah yang menatapnya ketakutan dari balik pintu. "Tenanglah, aku tahu kalian tidak melakukan kejahatan. Sebaiknya, kalian jangan keluar dari rumah ini karena sebentar lagi kalian bisa bereinkarnasi."

Mendengar ucapan Yi Yuen, keduanya tersenyum. Mereka adalah saksi di mana mereka bisa melihat kehebatan seorang manusia yang membasmi siluman jahat. "Nona, apakah benar Nona adalah .... " Salah satu arwah mencoba untuk bertanya, tapi dia tidak berani melanjutkan pertanyaannya itu.

"Apa kalian sudah lama mendiami rumah ini?"

Keduanya mengangguk. "Rumah ini sudah lama kosong karena ditinggal mati pemilik lamanya. Pemilik yang baru telah membelinya dari salah satu kerabat pemilik yang lama. Baru dua bulan dia tinggal disini, dia langsung jatuh sakit karena sudah hampir dua bulan makanannya telah diracuni siluman ular itu."

"Tapi, kenapa siluman ular itu ingin meracuninya? Memangnya, apa yang sudah dia lakukan?"

Kedua arwah itu saling memandang. "Siluman ular itu marah karena pemilik rumah yang baru telah menghancurkan sebuah bangunan kecil yang ada di halaman belakang karena banyak ular yang berkeliaran di sekitar bangunan itu. Dan juga, dia telah membunuh beberapa ekor ular yang ditemukannya. Ular-ular itu adalah anak-anak dari siluman ular tadi. Karena itulah, dia sengaja memberi racun di makanan pemilik rumah ini secara perlahan karena dia ingin melihatnya menderita sebelum akhirnya mati secara mengenaskan."

"Oh, jadi begitu."

Kedua arwah itu kemudian pergi setelah memberi penjelasan pada Yi Yuen. Rebusan tanaman obat lantas dibawa olehnya ke dalam kamar di mana ibunya sudah menunggunya. Saat dia membuka pintu, dia melihat lelaki itu sudah duduk dan menatap ibunya. Rupanya, kematian dari siluman ular itu telah membuat semua penyakit yang ada di tubuh lelaki itu seketika menghilang.

"Jadi, dia adalah putrimu?"

Zhi Ruo segera mengambil gelas berisikan air rebusan obat dari Yi Yuen dan memberikannya pada lelaki itu. "Minumlah, setelah itu kami akan pergi karena sepertinya kamu sudah sembuh."

"Tunggu, aku ingin mendengarkan penjelasan darimu."

"Maaf, tidak ada yang perlu aku jelaskan. Aku akan meninggalkan beberapa tanaman obat untuk kamu minum."

Zhi Ruo meraih tangan Yi Yuen dan mengajaknya untuk keluar dari kamar itu. Namun, langkah mereka terhenti saat lelaki itu mengatakan sesuatu yang membuat Yi Yuen terkejut.

"Apa dia adalah anak dari makhluk mengerikan yang sudah menyembunyikanmu di dalam hutan waktu itu?"

To Be Continued...
mmuji1575
banditos69
gajah_gendut
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.