Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#38
Chapter 24


Secara bertahap, Yi Yuen mulai merasakan suatu kekuatan aneh yang menguasai dirinya. Diam-diam dan tanpa sepengetahuan ibunya, dia mulai melatih kekuatannya. Bersama Ling, mereka sering berlatih bersama. Walau dia merasa aneh dengan kemampuannya itu, tapi tidak serta merta membuatnya bertanya pada ibunya.

Dan kini, kekuatannya itu akan dipergunakan untuk membantu manusia yang diganggu oleh roh jahat atau siluman.

Lelaki tua yang berdiri menatap ke arah Yi Yuen dan Ling masih memerhatikan mereka berdua. Sementara wanita di samping lelaki tua itu tampak mulai panik saat melihat kedua gadis itu muncul secara tiba-tiba.

"Oh, jadi kalian berdua yang sudah mengalahkan prajuritku? Kemampuan kalian ternyata hebat juga, tapi apa kalian sanggup menahan seranganku ini?"

Dengan cepat tongkat di tangannya diarahkan pada Yi Yuen dan Ling. Sinar berwarna merah melesat keluar dari ujung tongkat berkepala tengkorak itu dan bersiap menghantam kedua gadis itu. Namun, sinar merah itu hanya menghantam ruangan hampa karena Yi Yuen dan Ling segera menghindar dari sinar itu.

Di saat yang sama, semua makhluk halus yang ada di ruangan itu ikut menyerang mereka, terkecuali satu makhluk yang memilih untuk tidak ikut campur. Rupanya, dia mulai tahu siapa sosok di balik wajah cantik dari gadis yang kini sedang bertarung.

"Gadis itu bukan gadis biasa. Aku pernah melihat tatapan mata yang menakutkan seperti itu." Dia terus memerhatikan teman-temannya yang tumbang di tangan dua orang gadis yang sedang bertarung dan di saat itulah dia mulai mengingat sesuatu. "Gadis itu, apa dia adalah reinkarnasi dari Dewi Keabadian?" batinnya sambil memerhatikan setiap gerakan Yi Yuen dan akhirnya dia mulai menyadari kalau apa yang disangka olehnya itu memang benar.

Setelah yakin dengan sangkaannya itu, dia mulai maju dan mencoba melerai teman-temannya untuk tidak lagi melawan karena dia tahu setiap roh dan siluman yang melawan gadis itu pasti akan mati dan hangus terbakar.

"Hentikan! Jangan kalian melawannya! Hentikan!" Walau sudah melerai, mereka tak peduli padanya. Bahkan, lelaki tua itu terlihat marah karena anak buahnya sendiri telah mengkhianatinya. Dengan amarah, dia kembali melancarkan sinar merah ke arah makhluk itu, tapi Yi Yuen dengan gerakan yang sangat cepat tiba-tiba berdiri di depannya dengan tongkat yang sudah berada di tangannya.

Tak hanya itu, Yi Yuen kini mencekik leher lelaki tua tersebut hingga tubuhnya tersandar di dinding. "Perbuatanmu sangatlah jahat. Dengan memperalat mereka, kamu tega ingin membunuh sebuah keluarga. Asal kamu tahu, aku tidak akan membiarkan manusia sepertimu memperalat mereka dan manusia sepertimu pantas untuk mati!"

Wanita yang sedari tadi melihat mereka tiba-tiba mendekat ke arah Yi Yuen dan berusaha melepaskan tangannya dari leher lelaki tua itu.

"Lepaskan tanganmu dari leher kakekku. Lepaskan!" Dia berteriak sambil berusaha menarik tangan Yi Yuen. "Mereka pantas untuk mati. Aku yang meminta kakekku untuk membunuh anaknya. Lelaki itu pantas untuk mati. Dia telah menghancurkan hidupku. Dia ingin membunuhku dan anak yang ada di rahimku karena dia tidak ingin menikahiku. Aku hampir saja mati karena racun yang dia berikan padaku, hingga aku kehilangan bayiku. Aku membencinya hingga aku bertekad untuk menghabisinya dan keluarganya. Aku .... " Wanita itu menangis sejadinya hingga membuat Yi Yuen melepaskan tangannya dari leher lelaki tua itu.

Mendengar penjelasan wanita itu, Wang Wei sungguh terkejut. Dia tidak menyangka kalau kakak senior yang sangat dihormati olehnya ternyata melakukan hal bejat yang berimbas pada kehancuran keluarganya sendiri.

"Cucuku, maafkan Kakek karena tidak berhasil membalaskan dendammu. Sepertinya, kamu harus mengikhlaskan lelaki itu bebas."

"Tidak! Aku tidak akan membiarkannya lepas dari hukum jika apa yang kamu katakan adalah sebuah kebenaran." Wang Wei berjalan mendekati mereka dan dia bisa melihat kesedihan di wajah wanita yang kini menangis. "Aku akan membuatnya bertanggung jawab atas perbuatannya. Bagaimanapun, hukum harus ditegakkan."

Seketika pertarungan Ling dan beberapa makhluk yang tersisa tiba-tiba terhenti. Dan makhluk-makhluk itu begitu terkejut saat Yi Yuen berjalan ke arah mereka. "Kalian aku bebaskan, tapi jika aku bertemu dengan kalian yang mengganggu manusia lagi, maka kalian akan mati di tanganku. Sekarang, pergilah dan tunggulah waktu untuk kalian bereinkarnasi!" Makhluk-makhluk itu lantas bersujud di depan Yi Yuen. Di penglihatan mereka, ada cahaya kebiruan yang muncul dari tubuh gadis itu dan itu adalah cahaya surga.

Setelah itu, mereka kemudian menghilang meninggalkan lelaki tua yang kini tidak lagi mempunyai kekuatan. Tongkat tengkorak yang menjadi senjata andalannya untuk menghukum makhluk halus yang melawan perintahnya, kini telah patah. Atas perintah Yi Yuen, Ling mematahkan tongkat itu dengan pedangnya. Seketika saja, tongkat itu patah menjadi dua bagian.

Setelah mendengar penjelasan dari wanita itu, Wang Wei akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan kakak seniornya.

Sebelum mereka meninggalkan rumah kakek tua itu, Yi Yuen sempat berbicara dengannya. Wajah rentanya menatap penuh takjub sambil berlutut di depan Yi Yuen. "Maafkan aku yang telah melakukan perbuatan dosa. Aku bersyukur karena sebelum mati aku bisa bertemu dengan Dewi."

Ucapan lelaki tua itu membuat Yi Yuen semakin penasaran. Pasalnya, dirinya sudah beberapa kali disebut sebagai seorang dewi. Padahal menurutnya, kekuatan itu hanya sebuah anugerah dari Dewa untuknya.

"Aku tahu kamu mungkin bingung, tapi penglihatan dari mataku yang mulai rabun ini bisa memastikan kalau kamu adalah seorang Dewi. Lihat saja aura surga yang terpancar dari tubuhmu." Yi Yuen memerhatikan sekeliling tubuhnya dan memang benar dia bisa melihat cahaya biru yang perlahan mulai meredup.

"Ternyata, cerita yang aku dengar dari leluhurku memang benar. Seorang Dewi akan terlahir kembali menjadi manusia dan dia akan menjadi ancaman terbesar bagi Istana Langit. Jika aku masih hidup, aku berharap bisa membantumu, tapi rupanya Dewa memberikanku umur panjang hanya agar aku bisa bertemu denganmu." Lelaki tua itu tiba-tiba terhuyung dan jatuh di atas lantai.

"Tuan!" Yi Yuen terkejut saat melihat tubuh renta itu terjatuh ke tanah. Tubuh renta itu lantas dipangkunya.

"Terima kasih, karena sudah membebaskanku. Aku harus pergi karena masa hidupku sudah berakhir dan itu berkat dirimu. Andai aku tidak bertemu denganmu, aku akan menjadi manusia tua yang tidak akan pernah mati."

"Tuan, tolong jelaskan apa maksud ucapanmu tadi. Kenapa aku menjadi ancaman bagi Istana Langit? Itu tidak mungkin, kan?"

"Dewi Keabadian, itulah dirimu. Namamu adalah Dewi Yi yang menguasai Istana Langit. Kamu .... " Ucapannya tiba-tiba terhenti dengan napas yang mulai tersengal, tapi wajah rentanya menyunggingkan sebuah senyuman. "Dewi Yi, terima kasih." Seketika napasnya terhenti dan tiba-tiba saja tubuhnya berubah menjadi abu. Wanita itu menangis saat melihat kakeknya telah berubah menjadi abu.

"Kakek, maafkan aku." Wanita yang mengaku sebagai cucunya itu terlihat menangis seiring dengan abu lelaki tua itu yang perlahan beterbangan hingga hilang di atas udara.

"Nona, jangan pikirkan itu. Suatu saat nanti, Nona pasti akan tahu segalanya." Ling meraih tangan Yi Yuen dan mengajaknya berdiri.

"Apa kalian yakin dengan ucapannya? Apa aku adalah seorang Dewi?" Yi Yuen tampak bingung dengan pertanyaannya sendiri. Bahkan, dia sendiri kadang dibuat bingung dengan ucapan dan tingkah lakunya yang berbeda. Seperti ada orang lain yang mengendalikan ucapan dan kekuatan di dalam dirinya.

"Aku yakin dengan ucapan kakekku. Dia memang bukanlah kakek kandungku karena aku tinggal dengannya saat aku ditinggal mati kedua orang tuaku. Kakek selalu menceritakan kisah tentang seorang dewi yang nantinya akan terlahir menjadi manusia biasa. Katanya, dewi itu akan mengguncang Istana Langit karena menuntut keadilan."

Ucapan wanita itu kembali membuat Yi Yuen semakin bingung. Namun, sahabat-sahabatnya berusaha menenangkannya.

"Sudahlah, siapa pun dirimu kami akan selalu membantumu. Jangan pikirkan lagi masalah itu. Ayo, sebaiknya kita pulang biar masalah ini aku yang akan menyelesaikannya."

Saat itu juga mereka kembali ke kedai. Setelah itu, Wang Wei kembali ke rumahnya. Sementara Yi Yuen masih memikirkan ucapan kakek tua itu. "Apa aku ini seorang dewi? Tapi, apa itu mungkin?"

Zhi Ruo yang melihat putrinya gelisah, lantas mendekatinya. "Putriku, ada apa? Kenapa kamu gelisah? Apa masalah tadi belum selesai juga?" tanya Zhi Ruo sambil menyisir rambut putrinya itu.

"Ibu, ada yang ingin aku tanyakan."

"Apa yang ingin kamu tanyakan, Nak?" Zhi Ruo menyisir pelan rambut panjang Yi Yuen yang terurai, hingga tangannya berhenti menyisir saat gadis itu menanyakan sesuatu yang membuatnya terkejut.

"Ibu, siapa ayahku?" Itulah pertanyaan Yi Yuen yang membuat Zhi Ruo terkejut. Pasalnya, selama ini Zhi Ruo tidak pernah menceritakan tentang Li Quan pada putrinya itu. Untuk sesaat, dia terdiam.

"Maafkan aku, Bu. Aku tidak bermaksud membuat Ibu bersedih karena bertanya tentang ayah. Hanya saja, aku .... " Yi Yuen menghentikan ucapannya dan menatap sang ibu yang tersenyum padanya.

Dengan lembut, Zhi Ruo kembali menyisir rambut Yi Yuen dan mengeluarkan sebuah tusuk rambut yang diberikan Dewi Bulan padanya. "Ini adalah tusuk rambut yang diberikan nenekmu pada Ibu. Sekarang, tusuk rambut ini akan menjadi milikmu." Zhi Ruo memasangkan tusuk rambut itu di kepala Yi Yuen. Tusuk rambut berwarna keemasan itu seketika mengeluarkan warna yang sangat terang hingga membuat Zhi Ruo dan Yi Yuen terkejut.

Tak hanya mereka berdua yang terkejut, tapi Li Quan juga merasakan hal yang sama. Seketika dia terjaga dari tidurnya hingga membuatnya terbangun.

"Suamiku, ada apa?" tanya Putri Mu Rong yang terkejut saat melihat suaminya tiba-tiba terbangun. Tanpa menjawab, Li Quan lantas bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan istrinya yang menatapnya heran.

"Suamiku, kamu mau ke mana?" Putri Mu Rong bangkit dari tempat tidur dan mengikuti suaminya, tapi langkahnya terhenti saat melihat Li Quan masuk ke dalam ruangan yang terlarang bagi siapa pun untuk memasukinya. "Selalu saja dia melakukan hal ini padaku. Apa sebenarnya yang dia lakukan di ruangan itu hingga tidak mengizinkanku masuk ke dalam?" Dengan kesal, dia kembali masuk ke kamarnya.

Bukan sekali ini saja Li Quan meninggalkannya tidur sendirian. Sudah berulang kali Li Quan meninggalkannya dan menghabisakan waktu di dalam ruangan itu. Di sana, Li Quan menangis karena bayangan wajah Zhi Ruo melintas di dalam pikirannya. Tak hanya itu, bayangan wajah seorang gadis muda juga terlihat olehnya. Wajah yang terlihat asing, tapi bukan itu yang dia rasakan. Melainkan perasaan berbeda yang membuatnya selalu teringat dengan wajah yang terlihat anggun dengan tusuk rambut yang tak asing di matanya.

Li Quan mencoba melukis wajah yang terlihat di dalam mimpinya. Wajah yang akhir-akhir ini sering membuatnya terjaga. Di dalam ruangan itu, banyak lukisan wajah dua orang perempuan yang tak pernah bisa hilang dari ingatannya. Hanya lewat lukisan itu, dia meluapkan rasa rindu yang terpendam entah untuk berapa lama. Rasanya, rindunya semakin membuncah saat seraut wajah cantik melayangkan senyuman untuknya.

"Zhi Ruo, aku merindukanmu. Andaikan aku mampu, aku ingin menemuimu dan memelukmu untuk melepaskan rasa rinduku ini, tapi aku tidak bisa!" Li Quan menangis sambil memeluk selembar lukisan yang selalu menjadi pelampiasan rindunya.

Sementara Zhi Ruo, tampak menangis saat mengingat sang suami yang selama ini sangat dia rindukan. Entah untuk ke berapa kalinya dia menangis sambil memeluk selembar surat yang menjadi tempatnya melepaskan rindu.

"Suamiku, tidak bisakah sekali saja aku bertemu denganmu? Tidakkah kamu tahu kalau aku sangat merindukanmu? Apa kamu tidak merindukanku dan juga putri kita?" Zhi Ruo menghapus air matanya saat Yi Yuen tiba-tiba melihatnya menangis.

Tanpa bertanya, Yi Yuen lantas memeluk ibunya. "Maafkan aku karena sudah membuat Ibu mengingat ayah. Baiklah, Bu, aku tidak akan bertanya lagi tentang ayah. Aku tidak ingin melihat Ibu menangis." Zhi Ruo mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala putrinya itu.

"Maafkan Ibu, Nak. Ibumu ini terlalu pengecut, hingga tidak ingin berterus terang tentang ayahmu. Ibu hanya tidak ingin kamu mencarinya karena itu tidaklah mungkin," batin Zhi Ruo dalam tangis yang coba dia sembunyikan.

Sejak saat itu, Yi Yuen tidak lagi bertanya tentang ayahnya. Walau kekuatan di dalam dirinya semakin bertambah, tidak membuatnya mempertanyakan kenapa kekuatan itu bisa muncul di dalam dirinya. Yang bisa dia lakukan hanya membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongannya.

Wang Wei telah berhasil menyelesaikan masalah kakak seniornya. Lelaki itu akhirnya mengakui perbuatannya, hingga membuat istrinya sangat kecewa. Walau begitu, istrinya memiliki hati yang sangat baik karena siap menerima wanita muda yang menjadi pacar rahasia suaminya itu di rumahnya. Dia ikhlas mengizinkan suaminya menikah dengannya karena dia sadar, dia sudah tidak bisa lagi melayani suaminya karena suatu penyakit. Sebab itulah, suaminya memilih untuk selingkuh. Kini, mereka telah hidup bersama dan melupakan masa lalu yang suram.

Begitu pun dengan Zhi Ruo yang berusaha melanjutkan hidupnya walau kerinduan akan kehadiran suaminya begitu menyiksa batinnya. Hingga suatu hari, seseorang di masa lalu kembali muncul dan mencoba membuka lembaran lama yang perlahan mulai terkuak.

To Be Continued...
mmuji1575
banditos69
gajah_gendut
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.