Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.8K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#37
Chapter 23


Yi Yuen menatap tajam bocah yang kini mencekik lehernya. Sementara Wang Wei berusaha untuk melepaskan tangan bocah itu dari leher Yi Yuen, tetapi nyatanya tangan bocah itu mencekik dengan sangat kuat, hingga membuatnya kesulitan.

Walau dicekik, Yi Yuen tidak merasa kesakitan. Tatapan matanya terlihat mulai berubah kebiruan dan menatap lurus ke arah bocah itu. Wang Wei yang menyadari perubahan pada diri Yi Yuen, perlahan mulai menjauh.

Melihat tatapan mata Yi Yuen, bocah itu terlihat panik. Tangannya terus berusaha mencekik, tetapi gadis itu bergeming.

"Siapa kamu?" tanya bocah itu yang terlihat mulai ketakutan.

Tiba-tiba saja, Yi Yuen meraih tangan bocah itu dan melepaskan dari lehernya dan meremasnya dengan kuat. Dengan mudah, tangan bocah itu disingkirkan dari lehernya. Padahal, sangat sulit bagi Wang Wei melepaskan tangan bocah itu dari leher Yi Yuen.

"Tinggalkan tubuhnya, jika tidak aku akan membunuhmu!" Yi Yuen berucap dengan suara yang terdengar lembut, tapi penuh kekuatan gaib.

Wajah bocah itu menyeringai dan tersenyum sinis. "Aku tidak akan meninggalkan tubuhnya. Jika kamu mampu, silakan bunuh aku, maka anak ini akan ikut mati bersamaku!" Suara pria yang keluar dari mulut bocah itu terdengar mengejek. Bahkan, dia tertawa terbahak-bahak sambil menatap ke arah Yi Yuen.

"Baiklah, aku akan membunuhmu sekarang juga!" Yi Yuen meraih sebilah pisau kecil yang tersimpan di balik lengan dan bersiap menancapkan ke arah jantung bocah itu. Namun, Wang Wei segera mencegahnya.

"Yi Yuen, apa yang kamu lakukan? Apa kamu akan membunuhnya?"

Ucapan Wang Wei sama sekali tidak digubris olehnya. Tatapan matanya tak berpaling dari wajah bocah itu. Yi Yuen terus menatapnya dengan tatapan mata yang semakin tajam, hingga bocah itu tidak lagi tertawa dan terdiam dengan wajah yang terlihat mulai ketakutan. "Siapa sebenarnya dirimu? Tatapan matamu itu seperti ... jangan ... jangan bunuh aku!" Bocah itu terlihat ketakutan. Suara tawanya seketika berubah menjadi teriakan ketakutan.

Melihat tatapan mata Yi Yuen, bocah itu ketakutan hingga membuatnya mengalihkan pandangannya ke tempat lain. "Siapa kamu? Matamu ... matamu sangat menakutkan. Baiklah, aku akan meninggalkan tubuh bocah ini. Aku akan pergi!"

"Tidak akan semudah itu! Sekarang keluar dari tubuhnya dan segera menghadap padaku. Jika kamu berani melarikan diri, saat ini juga aku akan menghanguskan tubuhmu!" Yi Yuen terlihat tegas dan penuh kharisma. Walau begitu, ucapannya itu telah membuat makhluk di tubuh bocah itu semakin ketakutan.

"Baiklah ... baiklah, aku akan keluar dan menghadap di depanmu."

Tiba-tiba saja tubuh bocah itu terduduk lemah dengan napas yang tersengal. Wang Wei lantas mendekatinya.

"Bawa dia keluar dari tempat ini! Dia sudah bebas dan tinggalkan aku sendiri!" perintah Yi Yuen yang kini telah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan perlahan menuju sudut ruangan di kamar itu.

Wang Wei lantas menggendong bocah yang sudah tidak sadarkan diri itu dan membawanya pada kedua orang tuanya. Melihat putra mereka yang kini telah terbebas dari gangguan makhluk halus, mereka menangis sambil memeluknya.

"Kakak senior, putramu kini sudah bebas. Sekarang, kalian jangan mengikatnya lagi, tetapi masalah ini belum selesai. Sebaiknya, bawa istri dan putramu ke rumah saudaramu. Setelah pembersihan rumah ini dari makhluk jahat selesai, barulah kalian kembali."

"Baiklah, saat ini juga aku akan membawa keluargaku ke rumah saudaraku. Terima kasih adik senior." Lelaki itu menunduk sebagai tanda ucapan terima kasih. Bersama anak dan istrinya, mereka kemudian meninggalkan rumah itu dan pergi ke salah satu rumah kerabatnya.

Wang Wei lantas menunggu di depan pintu kamar. Dia tidak berani masuk ke dalam kamar itu karena Yi Yuen sudah melarangnya. Dari luar dia bisa mendengar suara Yi Yuen yang sedang berbicara dengan seseorang.

"Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu mengganggu keluarga ini?" tanya Yi Yuen dengan suaranya yang terdengar lantang.

"Siapa sebenarnya dirimu? Kenapa tatapan matamu seperti .... "

"Kenapa? Apa kamu sudah bisa menebak siapa aku?" Sebuah senyuman terukir di wajah gadis itu.

Wajah makhluk itu semakin ketakutan. Tatapan mata Yi Yuen membuatnya tidak bisa bergerak. Bahkan, dia dipaksa untuk menatap ke arah gadis itu dan dia bisa melihat kalau gadis di depannya bukanlah manusia biasa.

"Aku minta maaf!" ucapnya seraya duduk bersujud di depan Yi Yuen. "Baiklah, aku akan memberitahu siapa yang menyuruhku menghancurkan keluarga ini."

"Bagus jika kamu sudah paham. Sekarang, aku akan membebaskanmu dan sampaikan pada mereka kalau aku Dewi Keabadian tidak akan membiarkan kalian mencampuri urusan manusia. Jika menolak, kalian akan musnah di tanganku. Paham!" ucap Yi Yuen spontan tanpa menyadari ucapannya itu.

Wajah makhluk itu semakin ketakutan. Mendengar nama Dewi Keabadian membuat dia terkejut. Ya, Dewi Keabadian sangat ditakuti oleh makhluk astral dan siluman jahat karena wanita itu tidak suka jika mereka mengganggu manusia apalagi sampai membunuh manusia.

Dulu, Dewi Keabadian sangat ditakuti di kalangan hantu dan siluman. Tak hanya itu, di kalangan para Dewa, eksistensi Dewi Keabadian sangatlah penting. Dia memiliki kekuatan hampir setingkat dengan Raja Dewa. Namun, suatu kesalahan fatal membuatnya harus menanggung hukuman, hingga membuatnya terusir dan terombang ambing di antara dunia manusia dan roh, hingga akhirnya dia mempunyai kesempatan untuk bereinkarnasi kembali.

"Baiklah! Pergi dan sampaikan pada mereka kalau aku tidak akan membiarkan kalian mengganggu manusia. Aku tahu itu tidak akan mudah bagimu untuk membuat mereka paham. Karena itu, aku akan menunggu hingga menjelang malam. Jika malam ini kalian tidak muncul di sini, maka aku akan menganggap kalau kalian paham maksudku, tetapi jika kalian bersikeras untuk tetap mengganggu, maka dengan senang hati aku akan melayani kalian!"

Ucapan Yi Yuen membuat makhluk itu bergidik. Secara tidak langsung, itu adalah sebuah ancaman baginya dan bagi seseorang di luar sana yang menyuruhnya untuk menghancurkan keluarga itu.

"Cepat pergi dan bawa kembali bau busuk yang dari tadi mengganggu hidungku! Pergi!" Mata Yi Yuen menatap tajam ke arah makhluk yang perlahan mulai menghilang seiring dengan bau busuk dan aura jahat yang mengelilingi rumah itu. Seketika, suasana di dalam kamar menjadi hening.

Wang Wei masih berdiri di depan pintu dan tidak lagi mendengar suara Yi Yuen. Saat dia hendak memeriksa di dalam kamar, pintu tiba-tiba terbuka.

"Yi Yuen, kamu tidak apa-apa?" tanya Wang Wei sambil mendekat ke arahnya.

"Tenanglah, aku tidak apa-apa."

"Lalu, apa kita sudah bisa meninggalkan tempat ini?"

Yi Yuen menggelengkan kepalanya, "Belum, walau makhluk di tempat ini telah pergi, aku yakin sebentar lagi dia akan kembali bersama teman-temannya."

"Kenapa kamu tidak membunuhnya?"

"Jika aku membunuhnya kita tidak akan pernah tahu siapa yang telah menyuruh mereka dan jika dia mati orang itu pasti akan mengirim makhluk yang lain, hingga dia akan berhenti jika tujuannya telah tercapai. Sebaiknya, kamu tinggalkan tempat ini karena kamu tidak bisa melawan mereka."

"Tidak! Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu sendiri di sini melawan mereka? Yi Yuen, aku akan tetap ada di sini. Bila perlu buat mataku agar bisa melihat mereka sama seperti yang pernah kamu lakukan saat aku ingin melihat arwah kakakku. Aku akan menemanimu di sini dan tidak akan membiarkanmu melawan mereka sendirian."

Wang Wei lantas duduk. Wajahnya terlihat kesal karena Yi Yuen memintanya untuk pergi. Walau begitu, dia tidak benar-benar marah karena dia tahu Yi Yuen memintanya pergi demi keselamatan dirinya.

Sementara makhluk itu kini telah menghadap di depan seorang lelaki tua yang memiliki wajah sangat menakutkan. Wajah renta dengan tulang pipi yang terlihat menonjol dan bekas luka yang memenuhi wajahnya. Tatapan matanya sangat tajam seakan ingin menelan sosok makhluk yang kini bersujud di depannya.

"Apa! Kamu dikalahkan oleh seorang gadis?" Lelaki tua itu terlihat marah. Wajahnya menyeringai sambil menghantamkan tongkatnya di atas tanah. Kemarahan lelaki tua itu membuat makhluk di depannya ketakutan.

"Maafkan aku, Tuan. Gadis itu .... "

"Ah, dasar tidak becus! Melawan seorang gadis saja kamu kewalahan. Baiklah, kalau begitu aku akan mengerahkan semua roh jahat untuk membunuhnya!"

Kedua tangannya kemudian dirapatkan. Matanya terpejam dengan mulut yang meracau merapal mantra. Sementara di sampingnya, ada seorang wanita yang duduk sambil memerhatikannya. Tak lama kemudian, bayangan-bayangan hitam mulai berdatangan. Wajah-wajah mereka terlihat mengenaskan. Mereka berebut sesaji yang disiapkan lelaki tua itu di atas meja.

Perlahan, kedua matanya terbuka dan melihat puluhan makhluk halus di depannya. "Aku akan memberikan kalian makanan yang lezat, tetapi sebelum itu lakukan dulu tugas kalian."

"Tuan, apa yang harus kami lakukan?" tanya salah satu makhluk yang terlihat menyeringai.

"Ikuti dia dan bunuh gadis yang akan dia tunjukkan pada kalian!" Tunjuknya pada makhluk yang masih bersujud di depannya. "Setelah berhasil, kalian akan mendapatkan bayaran yang setimpal. Gadis itu akan menjadi santapan kalian dan imbalan kalian selanjutnya akan aku berikan jika gadis itu telah berhasil kalian bunuh!"

"Baik, Tuan!"

"Cepat bawa mereka ke gadis itu dan bunuh dia!"

"Tapi, Tuan .... "

"Cepat pergi!"

Bentakkan lelaki tua itu seketika membuatnya terdiam. Tanpa membantah, dia lantas menghilang dan diikuti puluhan makhluk lainnya.

Di saat Yi Yuen dan Wang Wei masih duduk menunggu, Kangjian dan Ling datang setelah selesai membantu Zhi Ruo di kedai obat.

"Nona, apa semuanya sudah selesai?" tanya Ling saat melihat situasi rumah yang lengang.

"Tunggulah sebentar, mereka akan datang."

Benar saja, tak lama kemudian mereka berdua melihat puluhan makhluk tak kasat mata yang menyeringai dan menatap ke arah mereka.

"Baiklah, saatnya kita bekerja." Yi Yuen bangkit dari tempat duduknya. Begitu pun dengan Ling yang berdiri di sampingnya.

"Kalian berdua, cepat mundur ke belakang!"

"Tapi .... " sanggah Wang Wei yang terlihat khawatir.

"Tenanglah, mereka bukan tandingan kami." Ling tampak percaya diri. Selama ini, dia sudah banyak belajar bersama Yi Yuen. Keahlian beladiri dan kekuatan gaib miliknya tidak bisa dianggap remeh. Sejak bersama Yi Yuen, kekuatannya semakin terus bertambah.

Yi Yuen menatap makhluk yang kini ketakutan saat melihatnya. Seakan paham, makhluk itu lantas mencoba memperingatkan teman-temannya untuk tidak melanjutkan rencana mereka.

"Apa kamu ingin membangkang perintah tuan kita?"

"Itu lebih baik daripada kalian akan hangus terbakar," ucap makhluk itu sambil melirik ke arah Yi Yuen.

Salah satu makhluk yang paling besar di antara mereka lantas mendorongnya. "Kalau takut, lebih baik kamu pergi dari sini! Biar kami yang akan melaksanakan perintah tuan!"

"Kalian akan menyesal karena tidak mendengar peringatan darinya. Baiklah! Ayo, kita tuntaskan sekarang juga agar malam ini menjadi malam terakhir kalian gentayangan di alam manusia," ucap Ling sambil mengeluarkan sebilah pedang dari punggungnya.

Pedang itu baru saja didapatnya setelah melakukan pertapaan selama tiga purnama. Pedang yang pernah diberikan Dewi Keabadian di masa lalunya.

Melihat pedang di tangannya, mereka terkejut. Pasalnya, mereka tahu siapa pemilik pedang itu. "Pedang itu, siapa sebenarnya kalian?" tanya makhluk besar yang menatap ke arah Ling.

"Tidak perlu tahu siapa kami. Malam ini kalian akan menjemput kematian. Nona, izinkan aku membinasakan mereka!"

Tanpa menunggu jawaban dari Yi Yuen, Ling dengan gesit merangsek maju dan menyerang puluhan makhluk mengerikan di depannya. Gerakan gadis itu sangat lincah. Sejak mendapatkan pedangnya, Ling seakan mendapatkan kekuatan yang sangat besar. Kekuatan yang harus dia pergunakan untuk memusnahkan roh dan siluman jahat. Dan yang terpenting, yaitu untuk melindungi dan membantu Dewi Keabadian yang sudah menjadi tugasnya sejak dulu.

Sementara Yi Yuen masih melihat pertarungan di depannya. Tebasan pedang Ling nyatanya mampu membuat makhluk-makhluk itu berteriak kesakitan dengan tubuh yang perlahan terbakar. Melihat teman-temannya musnah terbakar karena ditebas pedang gadis itu membuat mereka ketakutan.

"Mereka bukan manusia biasa. Sebaiknya, kita tinggalkan tempat ini sebelum kita hangus terbakar di tangan mereka. Cepat! Kita harus memberitahukan hal ini pada tuan!" Makhluk yang paling besar di antara mereka tiba-tiba menghilang. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja tubuh Yi Yuen berpendar menjadi warna kebiruan dan perlahan menghilang.

Ling yang melihat hal itu lantas ikut menghilang diiringi dengan suaranya yang meminta agar Wang Wei dan Kangjian mencari satu rumah yang memancarkan cahaya merah. Kedua pemuda itu lantas mengikuti perintah Ling dan bergegas keluar dari rumah itu dan mencari rumah yang memancarkan cahaya merah.

Setelah menelusuri beberapa ruas jalan, mereka akhirnya menemukan rumah yang memancarkan cahaya merah. Tanpa menunggu lama, mereka berdua lantas mendekati rumah itu. Di depan pintu, terlihat beberapa orang penjaga sedang berdiri. Tanpa bertanya, Wang Wei dan Kangjian lantas menyerang mereka hingga terjadi pertarungan.

Sementara Yi Yuen dan Ling, kini berhadapan dengan seorang lelaki tua dan seorang wanita cantik yang berdiri di sampingnya. Keduanya menatap ke arah Yi Yuen dan Ling dengan tatapan merendahkan. Begitu pun dengan belasan roh jahat yang berdiri di depan mereka dan bersiap untuk menyerang.

To Be Continued...
bourjoe
banditos69
gajah_gendut
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.