Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#34
Chapter 21


Di sebuah kedai mereka bertiga duduk. Wang Wei terlihat penasaran dengan ucapan Yi Yuen yang mengetahui keberadaan kakaknya yang hilang sejak tiga tahun lalu. Selama ini, yang dia ketahui dari istri kakaknya kalau kakaknya itu tidak pernah kembali sejak masuk ke dalam hutan saat berburu. Dan informasi terbaru yang dia tahu, kalau kakaknya itu mungkin telah dibunuh oleh perampok yang bersembunyi di dalam hutan.

Wang Wei kini duduk berhadapan dengan Kangjian dan di sampingnya Yi Yuen duduk sambil memerhatikan mereka berdua. Wang Wei terus menatap Kangjian, hingga tiba-tiba dengan spontan dia meremas lengan sebelah kiri Kangjian, hingga membuat pemuda itu meringis kesakitan. Sontak, Wang Wei bangkit sambil menghunuskan pedangnya ke leher pemuda itu.

"Sudah aku duga! Kamu adalah pemimpin dari para perampok yang waktu itu terkena panah beracunku." Wang Wei menatap penuh amarah ke arah Kangjian. "Jadi, waktu itu tanaman obat yang kamu cari hanya untuk mengobati perampok kejam seperti dia?" tanya Wang Wei pada Yi Yuen yang masih duduk dengan tenang.

"Duduklah dan dengarkan penjelasanku."

"Penjelasan? Apa kamu ingin menjelaskan kalau bajingan ini tidak bersalah? Apa kamu tidak berpikir kalau bisa saja dia telah membunuh kakakku?" tanya Wang Wei dengan matanya yang memerah.

"Tidak, dia tidak pernah membunuh siapa pun!"

"Bohong! Aku akan segera membunuhnya!" Wang Wei seketika mengayunkan pedangnya dan bersiap menancapkan tebasan pedangnya itu ke arah leher Kangjian, tapi dia terhenti saat tangan Yi Yuen dengan cepat menotok bagian lengannya. Pedang di tangannya seketika terjatuh di atas tanah. Matanya mendelik seakan meminta Yi Yuen untuk segera melepaskan totokannya.

"Aku tahu kamu marah, tapi kamu salah jika berpikir kalau Kangjian yang telah membunuh kakakmu. Jika kamu terus seperti ini, maka aku tidak bisa memberitahumu di mana kakakmu berada."

Wang Wei terlihat geram. Kedua gigi gerahamnya beradu saat matanya melirik ke arah Kangjian yang masih duduk terdiam dan tenang di depannya.

"Aku akan melepaskan totokanku jika kamu berjanji tidak akan berbuat hal ini lagi. Dengarkan aku, Kangjian tidak bersalah, tapi jika kamu bersikeras, maka kami akan pergi dan meninggalkanmu di sini."

Mendengar ucapan Yi Yuen, pemuda itu pasrah. Dengan terpaksa dia mengedipkan matanya beberapa kali sebagai isyarat kalau dia tidak akan menyentuh Kangjian lagi. Yi Yuen lantas melepaskan totokannya itu.

"Duduklah dan dengarkan penjelasan dari Kangjian. Setelah itu, aku akan menjelaskan tentang apa yang aku tahu tentang Lian Wei."

Wang Wei lantas duduk dan mendengar penjelasan dari Kangjian. Alasan kenapa mereka bersembunyi di dalam hutan itu, hingga mereka dituduh sebagai perampok yang kejam. Semuanya mereka lakukan karena desa mereka dibantai oleh para perampok yang berkeliaran di hutan itu. Perampok-perampok itu datang ke desa di mana Kangjian tinggal dan membantai penduduk desanya. Kangjian dan beberapa pemuda saat itu tidak berada di desa. Karena itulah, Kangjian dan beberapa temannya selamat dan memutuskan untuk mencari para pembunuh penduduk desa.

Berkat informasi salah satu warga yang selamat, mereka akhirnya tahu kalau pembunuh itu adalah para perampok yang berkeliaran di dalam hutan. Itulah sebabnya, Kangjian dan teman-temannya bertahan di dalam hutan, hingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa saat prajurit istana datang menyisir kawasan hutan dan mencari mereka yang telah dicap sebagai perampok yang kejam.

Mendengar penjelasan Kangjian, Wang Wei merasa ada keanehan. Pasalnya, kakak iparnya yang telah mengatakan padanya kalau kakaknya itu mungkin telah mati dibunuh perampok yang bersembunyi di dalam hutan. Bahkan, dugaannya itu diperkuat oleh seorang lelaki yang katanya adalah kakak dari Mulan. Karena itulah, Wang Wei yang jabatannya saat itu sebagai komandan prajurit istana mulai mengerahkan prajuritnya untuk mencari perampok-perampok itu di dalam hutan.

"Dari penjelasan kalian, aku sudah bisa mengambil kesimpulan kalau kakak iparmu itu telah memfitnah Kangjian dan teman-temannya sebagai pembunuh kakakmu."

Wang Wei mengepalkan kedua tangannya dan menghantam tangannya di atas meja. Suara gedebuk terdengar begitu keras, hingga membuat meja di depan mereka patah dan hancur berantakan. Wajahnya memerah menahan amarah karena tidak menyangka kalau kakaknya telah dikhianati istrinya sendiri.

"Sekarang, jelaskan padaku di mana kakakku berada!"

"Aku akan mengantarkanmu padanya, tetapi sebelum itu kamu harus pastikan kalau kakak iparmu dan selingkuhannya itu tidak pergi kemana-mana. Aku hanya khawatir jika mereka berniat meninggalkan desa ini."

"Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Aku akan menyuruh orang kepercayaanku untuk memata-matai mereka. Bila perlu, aku akan mengepung rumah mereka!"

Wang Wei terlihat begitu marah. Dia sama sekali tidak menyangka, kakak ipar yang begitu baik padanya ternyata berhati busuk.

Setelah melakukan kesepakatan dengan Yi Yuen dan Kangjian, saat itu juga Wang Wei menuju ke rumah Lian Wei yang sudah beberapa bulan ini tidak dikunjunginya.

Suasana rumah terlihat berbeda. Bahkan, dia sempat dicegat oleh pengawal yang berdiri di depan pintu utama. Setelah memberitahu namanya, barulah dia dipersilakan masuk. Para pelayan yang sering menyambutnya saat dia datang juga tidak tampak.

Wang Wei berjalan menyusuri koridor dan menuju ruang utama di mana Mulan sedang menunggunya. Wanita itu terlihat cantik dengan penampilannya yang glamor. "Adik sepupu, maaf, jika pengawal di pintu utama sudah membuatmu tidak nyaman. Ayo, silakan duduk!"

Wanita itu mempersilakan Wang Wei duduk di dekatnya, tetapi lelaki itu memilih duduk sedikit berjauhan hingga membuat wanita itu tersenyum. "Oh, iya. Malam nanti, aku ingin mengundangmu untuk menghadiri acara keluarga. Keponakanmu hari ini berulang tahun dan aku ingin kita merayakannya bersama. Andai saja suamiku dan ayah ibu masih hidup, aku yakin mereka pasti akan sangat bahagia." Ekspresi wajahnya tiba-tiba sedih saat membicarakan tentang suami dan mertuanya yang baru saja wafat.

Kedua orang tua Lian Wei belum lama ini ditemukan tewas setelah melakukan perjalanan pulang dari saudaranya yang berada di desa tetangga. Keduanya ditemukan tidak bernyawa dengan luka tebasan pedang di bagian leher dan di sekujur tubuh mereka. Menurut penyelidikan, mereka tewas karena dibantai oleh perampok yang berkeliaran di perbatasan kedua desa.

Karena itu, rumah besar dengan segala aset kekayaan secara otomatis jatuh atas nama Mulan yang menjadi janda dari mendiang Lian Wei. Tak hanya itu, semua pelayan dan pekerja di rumah itu sudah diganti. Bahkan, secara sembunyi-sembunyi dia memasukkan selingkuhannya itu di dalam rumah dan memperkenalkannya pada Wang Wei sebagai kakaknya. Tanpa curiga, Wang Wei percaya begitu saja.

Namun, Wang Wei sudah tahu segalanya. Apalagi lelaki yang menjadi incarannya itu tiba-tiba datang sambil menggendong seorang bocah laki-laki di atas pundaknya dengan senyum sumringah sambil tertawa. Sontak, Wang Wei mengepal kedua tangannya karena emosi yang coba dia tahan.

"Maaf, aku tidak tahu kalau ada tamu," ucap lelaki itu sambil bergegas untuk pergi, tetapi Wang Wei segera menghentikannya.

"Tunggu sebentar, aku ingin memeluk keponakanku!" Wang Wei lantas bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju lelaki itu. Bocah dalam pelukannya lantas diraih oleh Wang Wei dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Kamu sekarang sudah besar. Paman akan memberikanmu hadiah." Wang Wei lantas mengambil sebuah pisau kecil dari balik jubahnya dan memberikannya pada anak itu. "Ambil pisau ini dan belajarlah bertarung. Ayahmu pasti akan bangga jika kamu bisa menjadi lelaki tangguh."

Lelaki itu dengan spontan meraih bocah itu dari gendongan Wang Wei dan meletakkan pisau pemberiannya di atas meja. "Maaf, dia masih terlalu kecil untuk menerima hadiah seperti itu. Sebaiknya, simpan saja pisau itu untuk mengupas buah di dapur." Setelah mengucapkan itu, lelaki tersebut kemudian pergi dan Wang Wei menyadari kalau apa yang disangkakan Yi Yuen ternyata benar adanya.

Setelah berbasa basi dengan Mulan, Wang Wei akhirnya pamit undur diri. Dia mulai yakin kalau ada sesuatu yang coba mereka sembunyikan.

Malam itu juga, dia menemui Yi Yuen dan Kangjian. Setelah menyampaikan kecurigaannya, mereka lantas bersepakat untuk membongkar kejahatan pasangan itu.

"Baiklah, karena kita sudah sepakat, maka besok kita akan pergi menemui Lian Wei dan aku harap kamu harus bisa bersabar."

"Apa maksud ucapanmu itu? Apa terjadi sesuatu pada kakakku?" tanya Wang Wei yang mulai merasakan sesuatu yang buruk telah menimpa pada kakaknya.

"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Bersabarlah, besok kamu akan tahu semuanya."

Semua ucapan Yi Yuen semakin membuatnya gelisah. Dia khawatir kalau terjadi sesuatu pada kakaknya. Namun, dia berusaha membuang rasa khawatir itu dan berharap kakaknya dalam keadaan baik-baik saja, hingga keesokan harinya dia terkejut saat mereka berdiri di depan sebuah gundukan tanah yang tidak terlalu tinggi. Raut wajahnya seketika berubah saat Yi Yuen menyuruhnya untuk menggali gundukan tanah itu.

"Apa maksudmu menyuruhku menggali tanah ini? Apa kamu pikir kakakku telah mati dan dikubur di sini?" tanya Wang Wei yang enggan melakukan perintah Yi Yuen.

"Lakukan saja dan jangan banyak bertanya! Jika ingin tahu, maka segera gali tanah ini!" seru Kangjian sambil menggali dengan bantuan cangkul kecil yang dibawa olehnya atas permintaan Yi Yuen. Karena penasaran, Wang Wei akhirnya ikut menggali, hingga dia terkejut saat cangkulnya mengenai sesuatu.

Wang Wei lantas terus menggali dengan tangannya, hingga dia terkejut saat melihat seonggok tulang belulang yang penuh dengan tanah. Tulang-tulang itu masih tersusun rapi dan dibalut jubah yang tak asing baginya. Wang Wei lantas membersihkan tanah yang masih menutupi jubah sekadar untuk memastikan perkiraannya. Sebuah cincin giok berwarna biru laut melingkar di tulang jari kelingking, hingga membuat Wang Wei tak kuasa menahan air mata.

"Kakak!" ucapnya seakan tak percaya kalau kakaknya itu telah mati. Air matanya menggantung di pelupuk mata saat meraih tulang belulang yang sudah terbungkus tanah.

"Kakak, apa yang terjadi denganmu?" Tangis lelaki itu pecah, hingga membuat arwah Lian Wei ikut menitikan air mata. Saat ini, dia ikut berdiri di samping Yi Yuen sambil melihat adik sepupunya menangis.

"Maafkan aku, Kak. Aku tidak bisa menjagamu." Wang Wei berucap penuh penyesalan karena di saat Lian Wei hilang dulu, dia sempat menolak ajakan kakaknya itu untuk berburu karena ada urusan penting yang harus dia kerjakan. Andai saja saat itu dia menyanggupi permintaan sang kakak, pastlah lelaki itu masih hidup hingga kini.

Yi Yuen lantas mengambil kertas segel berwarna merah yang diletakkan di atas jasad Lian Wei dan membakarnya. Sontak, arwah lelaki itu perlahan diselimuti cahaya putih yang bersinar di sekujur tubuhnya. Rupanya, arwahnya telah bebas dari segel, hingga tiba baginya untuk bereinkarnasi.

"Nona, terima kasih. Aku berhutang budi padamu. Sampaikan pada adikku kalau aku sangat menyayanginya dan tolong ungkapkan kematianku."

"Katakan sendiri padanya. Aku akan membantumu untuk bicara dengannya."

Yi Yuen menutup kedua mata Wang Wei dengan telapak tangan kanannya dan tak lama kemudian dia melepaskan tangannya itu, "Lihatlah, Lian Wei ingin bicara denganmu."

Wang Wei menatap ke arah sosok bayangan putih yang kini menatap ke arahnya. Air matanya jatuh saat melihat sosok Lian Wei yang tersenyum padanya. "Adik sepupu, maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir. Sekarang, jangan khawatirkan aku lagi karena aku akan pergi. Aku berharap suatu saat nanti kita akan bertemu lagi sebagai saudara. Adik sepupu, bantu Yi Yuen untuk mengungkap kematianku dan hukum mereka yang sudah mencelakaiku. Adik sepupu, selamat tinggal."

Pendaran cahaya perlahan mulai meredup dengan butir-butir cahaya yang mulai berpencar. Sosok bayangan kini tak lagi utuh, hingga butir-butir cahaya betebaran di atas udara dan menghilang menuju ke atas langit.

Melihat sosok kakaknya telah pergi, Wang Wei tersenyum di antara air mata. Setidaknya, sekarang kakaknya itu telah bebas dan dia sudah bertekad untuk mengungkap kematian saudaranya itu.

Dengan bantuan Kangjian, Wang Wei mengangkat tulang belulang Lian Wei dan meletakannya di dalam sebuah peti kayu. Di atas kereta, peti itu diletakkan. Setelah selesai, mereka bertiga lantas menuju ke rumah Lian Wei untuk membongkar kejahatan istrinya.

Setelah tiba di depan pintu utama rumah itu, kereta mereka berhenti. Suasana di sekitar rumah terlihat sepi. Tampak dua orang pengawal yang berdiri di depan pintu utama. Keduanya mencoba menghalangi mereka untuk masuk. "Maaf, untuk saat ini Nyonya tidak ingin menerima tamu," ucap salah seorang pengawal yang berdiri di depan Wang Wei.

"Minggir! Aku datang ke sini secara baik-baik, tetapi jika kalian ingin menghalangi jalanku, aku akan menghabisi kalian semua!"

Wang Wei tidak menggubris kedua pengawal yang kini menghalangi jalannya. Bersama Kangjian, Wang Wei membawa peti kayu berisikan tulang belulang Lian Wei yang akan diperlihatkan kepada Mulan, istri mendiang kakaknya itu. Karena terus dihalangi, Wang Wei dan Kangjian lantas meletakkan peti kayu itu.

"Bukankah, aku sudah memperingatkan kalian!" Wang Wei lantas menghunus sebilah pisau tepat di dada salah satu penjaga hingga tewas. Sedangkan seorang pengawal lagi telah tewas di tangan Kangjian yang telah mematahkan lehernya hingga ambruk ke tanah.

Kedua pemuda itu lantas mendobrak pintu utama hingga hancur dan terlepas dari penyangganya. Mereka bertiga kemudian masuk ke area halaman dan telah ditunggu oleh beberapa puluh orang lelaki yang sudah siap menyerang mereka.

To Be Continued...

banditos69
mmuji1575
gajah_gendut
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.