- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.8K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#28
Chapter 17
Di depan mereka, berdiri puluhan makhluk tak kasat mata dengan penampilan yang terlihat menyeramkan. Suara-suara menyeringai terdengar dengan gemeretak gigi geraham yang beradu. Wajah-wajah menyeramkan dengan luka-luka bernanah terlihat menjijikkan. Melihat mereka, Ling dan Yi Yuen bergeming.
"Jadi, satu siluman rubah dan satunya lagi anak kemarin sore sudah berani mengganggu bisnis kami?" Seorang biksu dengan kepala pelontos tampak meremehkan Ling dan Yi Yuen yang berdiri di depan mereka hingga membuatnya tertawa.
"Dasar manusia laknat! Beraninya memperalat mereka untuk keuntunganmu. Apa kamu tahu dosa yang sudah kamu lakukan?"
Lelaki itu tertawa hingga memperlihatkan gigi-giginya yang tak beraturan. Wajahnya begitu menjengkelkan, hingga membuat Ling semakin geram. "Apa kalian mau diperalat olehnya?" tanya Ling pada makhluk-makhluk itu.
"Kami tak peduli karena kami diberi makan, yaitu tubuh manusia yang sekarat hampir mati. Sebaiknya, kalian jangan mengganggu kami jika tidak ingin mati ditangan kami." Salah satu makhluk menyeramkan dengan matanya yang merah dan gigi taring yang mencuat dari sudut bibirnya berucap dengan suara yang lantang. Sorak sorai dari makhluk lainnya terdengar riuh membenarkan ucapannya.
"Kalian terlalu percaya diri. Apa kalian pikir bisa lolos dari tangan kami? Lihat saja, kalian pasti akan menjadi abu!" Ling dengan percaya diri berucap sekadar memperingatkan mereka, tapi nyatanya ucapannya itu menjadi bahan tertawaan mereka.
"Jangan banyak bicara! Malam ini juga kalian berdua akan mati!" Makhluk-makhluk itu kemudian maju menyerang Ling dan Yi Yuen yang sedari tadi melihat ke arah mereka. Dengan bergerombol, mereka mulai menyerang dan menyasar Yi Yuen karena tubuhnya yang kecil. Namun, dengan lincah Yi Yuen menghindar dari serangan mereka. Dengan gesit, tubuhnya yang kecil itu menyelinap di antara mereka sambil menghantam telapak tangannya di tubuh mereka. Sontak, mereka merintih dan mengerang kesakitan dengan suara yang terdengar mengerikan.
Tubuh mereka berguling-guling di tanah karena merasakan panas yang luar biasa di bekas pukulan Yi Yuen. Melihat anak buahnya yang mengerang kesakitan, membuat biksu itu menjadi heran. "Apa yang terjadi pada mereka? Apa mungkin anak sekecil itu mempunyai kemampuan sehebat ini?" batin biksu itu sambil melihat ke arah makhluk peliharaannya yang kini berguling-guling di tanah.
"Hei, bocah! Siapa sebenarnya dirimu? Tunjukkan wujud aslimu padaku!"
Yi Yuen kini berdiri tenang di samping Ling. Tanpa berkata apa-apa, Yi Yuen hanya menatap biksu itu yang kini mulai merasa ketakutan. Tatapan mata Yi Yuen baginya terlihat aneh. Seakan ada kekuatan besar yang tersembunyi di balik tatapan matanya itu.
"Dasar kalian makhluk payah! Menghadapi satu siluman rubah dan anak kecil saja kalian tidak sanggup. Lebih baik kalian hancur menjadi abu!" Biksu itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya hitam dari tongkat yang sedari tadi dipegangnya. Cahaya hitam itu mengarah pada makhluk-makhluk yang masih berguling di atas tanah, tapi Ling dengan cepat menyerang lelaki itu hingga cahaya hitam meleset dan mengenai ruang hampa.
Melihat biksu itu ingin menyerang mereka, makhluk-makhluk itu meradang. Sambil menahan sakit, mereka merangsek dan menyerang biksu yang mulai ketakutan. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan diserang oleh mereka hingga membuatnya termundur ke belakang. Tanpa peduli dengan rasa sakit, mereka terus mendekati biksu yang mencoba melancarkan pertahanan terakhirnya, yaitu air suci yang dikibaskan ke arah mereka. Seketika saja mereka berteriak karena merasa panas di sekujur tubuh. Perlahan, satu per satu makhluk itu mulai terbakar dan hangus menjadi abu.
"Dasar manusia biadab!" Ling yang tidak terima lantas menyerang biksu itu, tapi langkahnya terhenti saat pintu kedai perlahan terbuka. Dia terkejut saat melihat Zhi Ruo keluar dengan pisau yang mengarah di lehernya.
"Nyonya!"
Bocah lelaki tiba-tiba muncul sambil menangis. Tangannya penuh dengan cairan hitam yang memenuhi sekujur tubuhnya. "Maafkan aku karena tidak bisa melindungi Nyonya. Ayahku telah mati karena berusaha menolong Nyonya." Bocah itu terduduk dan menangis. Sementara Zhi Ruo telah disandera oleh salah satu makhluk yang sudah berkhianat.
"Kerja bagus! Tidak sia-sia aku menjadikanmu pengikut setiaku." Biksu itu tersenyum menyeringai sambil melihat ke arah makhluk itu. Sementara, makhluk lainnya sudah mundur karena melihat sosok yang bagi mereka terlalu tangguh untuk dilawan.
Yi Yuen yang melihat ibunya disandera mulai terlihat emosi. Tatapan matanya begitu tajam, hingga tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan cahaya putih kebiruan yang menyilaukan mata. Semua yang ada di tempat itu terkejut dan menutup mata karena tidak sanggup melihat kilauan cahaya putih yang membuat mata mereka menjadi perih.
Tubuh mungil Yi Yuen perlahan melayang ke udara dan tiba-tiba saja bagai kilatan petir yang menyambar, sebuah kilatan cahaya putih keluar dari telunjuknya yang mengarah pada makhluk yang menyandera ibunya. Sontak, makhluk itu terkapar dengan bau hangus yang mengepul seiring kepulan asap yang keluar dari tumpukan abu di atas tanah.
Seketika saja semua terkejut saat cahaya putih mulai memudar dengan tubuh yang perlahan turun di atas tanah. Yi Yuen menapakkan kakinya perlahan di atas tanah dengan kedua matanya yang masih terpejam, hingga dia membuka matanya dan mendapati semua makhluk yang ada di tempat itu bersujud di depannya.
Yi Yuen lantas berlari ke arah ibunya dan memeluknya. "Ibu baik-baik saja, kan?" tanya Yi Yuen sambil memeriksa kondisi ibunya.
"Ibu baik-baik saja, Nak!"
Melihat kekuatan Yi Yuen, mereka terkejut. Biksu yang kini mulai ketakutan, tampak berusaha untuk melarikan diri, tapi langkahnya terhenti saat makhluk-makhluk peliharaannya yang masih tersisa mengejarnya. Air suci yang dipegangnya telah habis karena terjatuh di tanah. Makhluk-makhluk itu lantas mengerubungi tubuhnya hingga tak terlihat. Suara teriakannya terdengar memilukan dengan erangan kesakitan yang menyedihkan. Tubuhnya yang meronta perlahan terdiam dengan suara erangan yang tak lagi terdengar. Makhluk-makhluk itu lantas bangkit saat tubuh itu tak lagi bernyawa. Wajah dan tubuhnya hancur dengan darah segar yang mengalir deras.
Setelah puas, makhluk-makhluk itu lantas berdiri di depan Yi Yuen dan perlahan duduk bersujud di depannya. "Ampuni kami karena sudah melakukan kejahatan. Kami melakukannya karena terpaksa. Biksu itu telah berjanji untuk membantu kami bereinkarnasi, tapi nyatanya kami telah ditipu dan disuruh untuk menyebarkan penyakit pada manusia. Nona, kami tahu Nona bukanlah manusia biasa, karena itu kami mohon untuk membebaskan kami agar bisa bereinkarnasi."
Semua makhluk di depannya seketika menundukkan wajah hingga ke tanah. Yi Yuen lantas mendongakkan kepalanya ke atas langit dan melihat bulan purnama yang masih terlihat sempurna dengan cahaya terang yang memancar indah.
"Aku akan membantu kalian asalkan kalian berjanji, jika nanti kalian terlahir kembali maka jadilah manusia yang baik." Makhluk-makhluk itu mengangguk dan tiba-tiba saja Yi Yuen memejamkan matanya dengan kedua tangan yang bergerak perlahan. Kedua telapak tangannya kini menyatu dan cahaya putih kembali menyelimuti tubuhnya. Yi Yuen lantas membuka matanya seiring dengan tubuh makhluk-makhluk itu yang mengambang di atas tanah dengan cahaya putih yang samar-samar.
"Kalian telah aku bebaskan dan lahirlah kembali menjadi manusia."
Yi Yuen lantas mendekat ke arah bocah laki-laki yang kini mengambang di atas udara. "Maafkan aku karena ayahmu tewas untuk menyelamatkan ibuku. Maafkan aku."
"Nona, jika aku terlahir kembali, aku akan mencarimu. Aku akan melindungimu. Semoga saja Dewa mendengar permintaanku dan tunggu aku." Seketika tubuhnya berubah menjadi cahaya-cahaya kecil berwarna-warni dan melayang menuju langit. Begitu pun dengan semua makhluk yang ada di depannya, semuanya telah menghilang seiring cahaya yang melayang jauh di angkasa. Yang tertinggal hanyalah tubuh sang biksu yang telah hancur dengan darah yang masih basah.
"Sebaiknya kita masuk dan biarkan saja tubuhnya seperti itu." Tanpa peduli dengan jasad sang biksu, mereka memilih masuk ke dalam kedai.
Di dalam kamar, Yi Yuen tertidur di samping ibunya yang masih terjaga. Wajah kecilnya tampak lelah, hingga membuat Zhi Ruo membelai lembut wajah anaknya itu. "Seharusnya di usiamu saat ini kamu merasakan indahnya masa kanak-kanak, tapi takdirmu berkata lain. Maafkan Ibu karena memberikanmu kehidupan yang sulit."
Zhi Ruo tampak sedih karena memikirkan nasib anaknya yang tumbuh tidak seperti anak-anak lainnya. Sejak kecil, Yi Yuen sudah bisa melihat semua makhluk tak kasat mata dan siluman-siluman yang berkeliaran di dalam hutan. Walau Zhi Ruo merasa sedih, tapi itu adalah jalan takdir yang sudah digariskan untuknya dan juga anaknya.
Melihat wajah Yi Yuen, Zhi Ruo kembali teringat dengan Li Quan. Walau telah berpisah sekian lama, wajah lelaki itu masih tersimpan baik di dalam ingatannya. Senyum, tawa, dan juga perhatian Li Quan masih terbayang di dalam ingatannya, hingga membuatnya menitikkan air mata. "Suamiku, aku merindukanmu. Tidakkah, kamu juga merindukanku?" Zhi Ruo menghapus air matanya yang perlahan jatuh dan mencoba untuk memejamkan matanya dan berharap bisa bertemu dengan lelaki itu walau hanya di dalam mimpinya.
Sementara di Istana Langit, Li Quan masih terjaga. Di ruangan pribadinya, dia terlihat memandangi sebuah lukisan. Lukisan seorang wanita yang terlihat cantik dengan senyuman di sudut bibirnya. Lukisan yang sengaja dibuatnya untuk menyimpan wajah sang wanita yang tak mungkin bisa dilupakannya.
Perlahan, jemarinya menyentuh wajah cantik di lukisan itu, hingga membuatnya menitikkan air mata. Sungguh, cintanya tak pernah surut. Baginya, wanita itu adalah cinta pertama dan terakhirnya. Cinta yang tidak akan pernah luntur walau jarak dan waktu telah memisahkan mereka.
"Istriku, maafkan aku karena tidak bisa bersamamu dan anak kita. Andai saja aku bisa, aku ingin bertemu dan memelukmu dan juga anak kita, tapi aku tidak bisa." Li Quan mengepalkan kedua tangannya dan menahan air mata yang memaksa untuk jatuh. Sekuat apa pun dia bertahan, air bening itu selalu mencari jalan keluar hingga jatuh membasahi pipinya.
Ruangan itu menjadi tempat untuknya melepaskan rindu pada Zhi Ruo. Di ruangan itu, terpampang puluhan lukisan Zhi Ruo yang sengaja dilukisnya. Hanya dengan melukis wajah istrinya itu, dia merasa tenang. Ruangan itu tidak pernah dimasuki oleh siapa pun termasuk Putri Mu Rong yang kini telah menjadi istrinya. Ruangan itu adalah ruangan satu-satunya yang tidak boleh dimasuki wanita itu.
Pernikahan yang terpaksa dijalaninya bersama Putri Mu Rong nyatanya tak membuatnya merasa bahagia. Walau telah memiliki seorang putri bersama wanita itu, tapi Li Quan masih tidak bisa melupakan kisah cintanya bersama Zhi Ruo. Semua kenangan indah saat bersama Zhi Ruo masih tersimpan hangat di relung hatinya. Jika saja dia bukanlah Raja Istana Langit, dia akan menentang batas dunia agar mereka bisa bersatu kembali, tapi itu hanyalah angan yang entah kapan bisa menjadi kenyataan.
Kedua insan kini menahan gelora asmara yang tersimpan cukup lama. Rasa rindu dan penantian untuk saling bertemu, nyatanya harus kandas dan berakhir dengan tangisan yang tak terdengar. Tangisan dan air mata yang tersimpan dan akan membuncah saat takdir mempertemukan.
Waktu terus berjalan dan menyisakan kerinduan yang tak terungkapkan. Hari demi hari dan tahun demi tahun berganti terasa begitu cepat. Yi Yuen kini tumbuh menjadi gadis cantik yang penuh bakat. Di usianya yang menginjak 22 tahun, gadis itu terlihat terampil dalam meracik obat. Semua kemampuannya itu didapatnya dari ibunya yang kini sudah terkenal sebagai tabib yang cukup disegani.
Zhi Ruo menghabiskan separuh hidupnya untuk belajar tentang obat-obatan. Dan ketrampilannya itu telah menjadikannya salah satu tabib yang cukup punya nama. Tak hanya itu, dia adalah tabib yang mengobati pasien tanpa meminta imbalan. Kalaupun diberi, dia hanya akan mengambil separuhnya saja untuk membeli peralatan yang sudah rusak.
Kedai obat yang ditempatinya sejak dulu kini telah menjadi miliknya. Bahkan, kedai obatnya itu telah menjadi rujukan dari setiap tabib yang tidak sanggup mengobati pasiennya. Dengan kata lain, pengobatan Zhi Ruo adalah jalan terakhir bagi setiap pasien yang sudah dinyatakan kritis.
Setiap hari, kedai obat miliknya itu selalu penuh dengan orang-orang yang datang untuk berobat. Tak peduli miskin atau kaya, Zhi Ruo selalu menyamaratakan tanpa memandang status sosial. Itulah yang membuatnya dihormati dan disegani oleh semua orang.
Walau tak muda lagi, tapi wajah cantiknya masih bisa terlihat dari guratan senyum yang terukir di wajahnya. Sikap keibuannya begitu terlihat, hingga membuat setiap anak-anak yang menjadi pasiennya selalu merasa nyaman. Sedangkan Yi Yuen selalu siap sedia berada di sisi ibunya, kapan pun dan di mana pun dia pergi, Yi Yuen selalu menemaninya.
Seperti saat ini, mereka berdua berjalan beriringan saat baru saja pulang mengobati pasien yang menderita lumpuh. Karena pasien tidak bisa ke kedai miliknya, maka merekalah yang menemui pasien itu di rumahnya.
Dengan menunggangi kuda, mereka berjalan perlahan sambil bercengkrama, membahas tentang pasien yang baru saja mereka obati. Jalan yang mereka lalui terlihat sepi karena berada di dekat perbatasan desa, hingga langkah kuda mereka terhenti saat di depan mereka berdiri sekelompok orang dengan pakaian berwarna hitam dan wajah yang ditutup cadar yang juga berwarna hitam.
Tatapan mata orang-orang itu begitu tajam. Mereka menghadang sambil memegang sebilah pedang yang ada di tangan mereka dan bersiap menyerang Zhi Ruo dan Yi Yuen yang masih tak beranjak dari atas kuda.
To Be Continued...
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5