Quote:
Entah apa yang mendalangi munculnya Bus itu kembali, seakan ada sesuatu yang memanggilnya untuk datang.
Terus kukejar Yuka yang berlari layaknya sedang mengikuti kejuaraan lari nasional.
Gelapnya malam tidak memperlambat lariku, sampai akhirnya aku tiba di depan mess dan Yuka sudah mendapat masalah baru disana.
“Gimana sih Nyuk ? Disuruh nyalain listrik malah main anjing kucing sama Erga”, omelan Rena menyambut kedatangan aku dan Yuka.
“Enak lu yaa, adem ayem aja disini. Kalo bukan karena lu pada ogah baget gue ke sana”, tangkis Yuka dengan menyeka keringat.
“Udah-udah, yang penting listrik udah nyala, kita bisa lanjut masak lagi. Ini udah malem loh”, Rasha mencoba melerai Rena dan Yuka.
Semua orang masuk ke kamarnya, beristirahat di malam yang dingin dan berkabut.
Jam menunjukan pukul 21.40 dan kita berempat baru saja selesai menyantap makan malam di meja dapur.
Seperti hari-hari yang telah lalu, kita selalu berkumpul terlebih dahulu di depan kamar para gadis di sebelah dapur.
Malam itu, kita berempat berdiskusi tentang kejadian mistis yang kembali muncul setelah berbulan-bulan lamanya.
Kita memulai dengan apa yang aku alami di pabrik, disusul Yuka dengan segudang ceritanya yang sedikit menyimpang.
Erga : “Tapi, kemunculan bus hantu itu gue yakin ada polanya. Diantara sebelum atau setelah bus itu muncul, pasti ada sesuatu yang sama.”
Rena : “Karena aku belum liat, aku ga tau polanya. Tapi aku udah pernah liat orang botak itu, hiiiii ga mau lagi deh.”
Yuka : “Gue inget ga, mata merah di hutan itu! Gue yakin gara-gara itu. Inget gak lu waktu kita keluar dari hutan dipinggir jalan itu? Demi apapun bukan cuma lu yang liat nyet! Terus tadi, kan lu liat sendiri mata merah itu muncul lagi.”
Erga : “Bener juga lu Yuk, walaupun kebetulan itu cuma terjadi dua kali, tapi masuk akal banget tuh.”
Rasha : “Oke, jadi kalo dikalkulasi, ada 4 waktu kemunculan bus itu. Dan 2 diantaranya selalu di awali oleh munculnya mata merah dari arah hutan.”
Yuka : “Gue punya rencana nih, gimana kalo malam minggu besok, kita semua jebak tuh bus setan. Kalo ketangkep kita bakar!”
Erga : “Dasar gila! Bisa-bisa kita semua digilas bus itu. Gini aja, gimana kalo kita ikut jaga malam di pabrik. Setidaknya kita bakal tau kalo bus itu muncul.”
Rena : “Aku ajak Satya ya..”
Erga : “Engga Ren, Cuma kita berempat.”
Malam yang kami rencanakanpun akhirnya tiba.
Semua pekerja yang tinggal di mess pun sudah pulang ke rumah masing-masing sesuai rutinitas akhir pekan.
Yuka, Rasha dan Rena sudah pergi ke pabrik sejak jam 8 malam tadi.
Aku masih memantau keadaan di luar mess dari lubang ventilasi di dalam kamar.
Rencana memang telah aku rubah sebelum mereka bertiga berangkat.
Hal ini aku lakukan karena kecurigaanku dengan kebun kosong yang Yuka ceritakan.
Kamar sengaja dikunci dari luar oleh Yuka, tetapi kunci pintu Yuka berikan padaku melalui celah di bawah pintu agar aku dapat keluar sewaktu-waktu.
Aku fokus dengan pintu besi di tembok penghubung area mess dengan kebun kosong.
Tiba-tiba, “glek..glek…glek”, suara gagang pintu kamarku bergerak.
Orang itu kemudian berjalan ke arah kamar para wanita dan melakukan hal yang sama.
Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas karena posisiku berada di atas ventilasi, namun dengan jelas aku dapat mendengar suara langkahnya menuju halaman mess.
Kucoba meraih ponselku di saku celana, berniat untuk mengirim pesan singkat kepada Yuka agar bersiap di posisinya.
Kupalingkan pandanganku lagi keluar kamar dengan sekilas.
Sialan! Ternyata orang itu! Orang itu berbincang dengan makhluk bercelana pendek yang pernah aku temui di bawah pohon Nangka.
Orang itu seperti memberikan sebuah bungkusan hitam yang langsung dirobek oleh makhluk jelek itu.
Dengan bergidik, aku menyaksikan makhluk itu memakan isi bungkusan dengan rakus dan kini wajahnya berubah karena cairan berwarna merah di sekitar mulutnya.
Orang yang memberinya makan ternyata adalah Satya! Ya, aku tidak salah lihat lagi.
Kuketik beberapa baris pesan untuk memberi tahu Yuka apa yang aku lihat disini, namun belum kutekan opsi kirim, mereka berdua berjalan memasuki kebun kosong dengan cara membuka pintu besi di tembok.
Aku segera melompat dari atas kursi yang menjadi pijakanku.
Dengan segera kubuka pintu kamar yang terkunci dan berlari pelan keluar untuk membuntuti Satya dan makhluk itu.
Tiba-tiba semuanya menjadi buram, aku terjatuh ke tanah dan melihat Satya mendekati tubuhku yang terbaring ditengah semak belukar.
Sisipan...
Quote:
Malam ini sama seperti malam-malam biasanya, kabut tebal menutupi hampir seluruh daerah kaki bukit.
Rena duduk disampingku dengan muka datar, sementara Yuka asik berbincang dengan Pak Ono di luar pos keamanan.
Aku terus menatap layar ponsel, berharap Erga segera mengirim kabar tentangnya.
Pikiranku semakin tidak jelas dan kacau, semua hal buruk tentang Erga terus memaksa masuk otaku.
Erga menyusun rencana yang cukup gila, bahkan lebih gila dari niat Yuka untuk membakar bus hantu itu.
Dengan manuver rencananya yang semula adalah ikut menjaga pabrik dengan petugas keamanan, berubah haluan menjadi rencana gila untuk menjebak Satya dengan semua tuduhan terhadapnya.
Saat malam terakhir kita berkumpul, Erga melihat siluet Satya di jendela kamarnya, sepertinya Satya terburu-buru memasuki pintu besi penghubung kebun kosong.
Sampai sore tadi, Erga mengirim pesan berantai kepada kita berempat yang berisi perubahan rencana dan seperti apa katanya, kita bertiga bertugas mengalihkan perhatian Satya dengan rencana ikut berjaga dipabrik malam ini.
Sebuah pesan masuk, mengatakan bahwa Erga memerintahkan kami agar pergi ke desa sebelah dan menunggu perintah selanjutnya.