Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#24
Chapter 16


Seorang gadis kecil tampak berlari ke arah Li Quan yang tengah duduk sambil menyeruput segelas teh di sebuah ruangan. Gadis kecil yang berusia lima tahun itu lantas mendekat ke arah Li Quan dan menatapnya dengan tatapan kesedihan. Melihatnya, Li Quan tersenyum dan meraih tubuh mungil itu dalam pelukannya. "Ada apa? Apa ibu memarahimu lagi?"

Gadis kecil itu mengangguk dengan wajah sedih. Li Quan kemudian membelai lembut kepala gadis kecil itu dan mengecup pipinya hingga membuatnya tersenyum.

"Apa yang sudah kamu lakukan hingga ibumu memarahimu?" Gadis kecil itu menunduk dengan wajah sedih.

"Itu karena putrimu penasaran dengan alam manusia. Entah dari mana dia bisa tahu tentang kehidupan bumi, hingga membuatnya diam-diam menuju pintu langit!" Seorang wanita cantik tiba-tiba muncul dan berjalan ke arah mereka. Melihatnya, gadis kecil itu memeluk Li Quan dengan erat.

"Apa benar yang diucapkan ibumu?"

Gadis kecil itu terdiam dan menyembunyikan wajahnya di balik jubah ayahnya.

"Anchi, katakan yang jujur pada Ayah. Apa benar apa yang diucapkan ibumu?" Perlahan gadis kecil itu mengangkat wajahnya dan mengangguk pelan. Li Quan tersenyum dan memeluk putrinya itu.

"Lain kali jangan lakukan itu. Pintu langit bukan tempat untuk bermain. Sekarang, ikut Ibu dan jangan membantah apa katanya, mengerti?"

"Iya, Ayah." Gadis kecil itu lantas turun dari pangkuan ayahnya dan berjalan ke arah ibunya yang sudah menunggunya.

Li Quan menatap kepergian putrinya itu dengan perasaan sedih. Setiap melihat gadis kecil itu membuat dirinya merasa bersalah. Bagaimana tidak, dia merasa dirinya bukanlah sosok ayah dan suami yang baik.

Di kehidupannya sekarang, dia telah menikah dan mempunyai seorang putri, tapi di kehidupannya yang lalu di bumi, dia telah meninggalkan istri dan juga anaknya. Meninggalkan mereka menjadi pukulan terberat baginya. Karena itu, Anchi menjadi tempat untuknya mencurahkan kasih sayangnya dan berharap anaknya yang bersama Zhi Ruo juga mendapatkan kasih sayang yang melimpah.

Namun, siapa sangka kalau anaknya kini tumbuh menjadi gadis kecil yang tegar. Walau tanpa kasih sayang seorang ayah, dia tidak mengeluh. Walau anak-anak yang sebaya dengannya tampak bahagia saat bersama ayah mereka, dia tidak merasa iri. Baginya, kasih sayang ibunya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia. Tak ada satu orang pun di dunia yang begitu dia cintai selain ibunya. Baginya, ibunya adalah kehidupannya. Karena itu, apa pun yang diucapkan ibunya menjadi pegangan dalam hidupnya.

Setiap nasihat yang diberikan, selalu dia patuhi. Tak sekali pun dia membantah apa yang diucapkan ibunya, hingga membuatnya menjadi anak yang penurut dan baik hati.

Yi Yuen sudah dibekali dengan kebaikan hati dari ibunya. Zhi Ruo selalu memberikan contoh yang baik dan pelajaran berharga untuk putrinya itu. Karena dia tahu, putrinya kelak akan menjadi wanita hebat sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Dewi Bulan.

Sedari kecil, Yi Yuen sudah menunjukkan kebaikan hatinya. Entah itu untuk manusia atau makhluk tak kasat mata. Baginya, mereka semua sama karena yang membedakan hanyalah perilaku mereka.

Laporan hasil penyelidikan dari ketiga makhluk yang dibebaskan olehnya mulai menunjukan titik terang. Kedai yang berdiri di depan kedai mereka rupanya mempunyai seorang paranormal yang bertugas memerintahkan makhluk astral untuk menyebarkan berbagai penyakit. Dan obat untuk menyembuhkan penyakit itu hanya bisa didapatkan dari kedai itu.

"Jadi, itu sebabnya kedai mereka selalu penuh dengan pembeli. Mereka sungguh licik!" Ling terlihat marah, hingga membuatnya mengepalkan kedua tangannya.

"Selama ini mereka sudah berbuat keji. Demi uang, mereka menyebarkan penyakit dan obatnya hanya bisa dibeli di kedai mereka. Jika dibiarkan terus, mereka akan semakin besar kepala." Ling kembali berucap dengan kesal.

"Ling, hari ini juga buka kedai obat kita. Kita akan layani jika ada yang ingin berobat. Ingat, jangan meminta imbalan apa pun dari mereka karena mereka sudah cukup kesulitan," perintah Zhi Ruo yang membuat Ling tersenyum.

"Baik, Nyonya!"

Gadis muda itu lantas membuka pintu kedai dengan sebuah papan yang berdiri tegak di depannya yang bertuliskan pengobatan gratis. Walau begitu, kedai mereka masih sepi pengunjung, bahkan diacuhkan oleh setiap orang yang berlalu lalang di depannya, hingga dua hari berlalu, kedai mereka masih saja sepi.

"Nyonya, walau sudah tertulis gratis, tapi orang-orang masih tidak peduli. Apa tidak sebaiknya kita membongkar saja kelicikan mereka pada semua orang?" tanya Ling yang terlihat kesal.

"Kita tunggu saja, aku yakin pasti ada yang akan singgah di tempat kita. Ling, kamu siapkan saja kemampuanmu itu untuk mendeteksi penyakit mereka. Jika benar penyakit mereka karena ulah makhluk jahat, bagaimanapun caranya kita harus menghentikannya, tapi apa kamu siap menghadapi makhluk-makhluk itu?"

"Aku siap! Aku akan menghancurkan mereka. Bagaimana bisa aku membiarkan mereka mengambil keuntungan dari penyakit yang mereka ciptakan untuk menyakiti setiap orang. Ah, rasanya tanganku sudah gatal untuk menghajar mereka!" Gadis itu terlihat geram. Sementara Yi Yuen hanya berdiri di depan pintu sambil menatap kedai yang ada di depannya.

Tiba-tiba, pandangan Zhi Ruo tertuju pada seorang ibu yang menggendong seorang anak kecil yang tidak sadarkan diri. Wanita itu menangis karena menunggu antrian yang cukup panjang di depan kedai tersebut.

"Maaf, izinkan saya masuk terlebih dulu. Anak saya butuh pertolongan, saya mohon."

Wanita itu tampak memohon pada orang-orang yang berdiri di depannya, tapi dia tidak dipedulikan bahkan diusir oleh seorang lelaki yang mendorongnya hingga hampir terjatuh. Melihat wanita itu, Zhi Ruo pergi ke arahnya dan melihat kondisi anak perempuan yang tidak sadarkan diri di dalam gendongannya itu.

"Nyonya, biar saya bantu. Mari, ikut saya," ajak Zhi Ruo setelah meraba dahi gadis kecil itu yang ternyata mengalami demam. Wanita itu menatap Zhi Ruo sekejap dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

"Nyonya, kalau menunggu antrian yang panjang ini, anak Nyonya bisa saja meninggal. Kondisinya saat ini sangat kritis. Jangan khawatir tentang biaya pengobatannya karena saya tidak memungut biaya apa pun."

Zhi Ruo berusaha membujuk wanita itu, tapi kembali dia diacuhkan hingga tiba-tiba gadis kecil itu terbatuk dan mengeluarkan darah hitam. Melihatnya, Zhi Ruo lantas meraih anak itu dari gendongan ibunya dan membawanya di atas punggungnya menuju kedai. Karena khawatir, wanita itu membiarkan anaknya dibawa oleh Zhi Ruo. Sambil menangis, wanita itu mengikuti Zhi Ruo dari belakang.

Di atas sebuah dipan, gadis kecil itu dibaringkan. Darah hitam tampak keluar dari mulutnya. Zhi Ruo lantas memeriksa nadi gadis kecil itu dan dia terkejut karena nadinya berdenyut tak beraturan. "Apa mungkin dia salah satu korban dari kejahatan mereka?" batinnya sambil melirik ke arah Ling yang berdiri di sampingnya. Seakan paham, Ling meletakkan dua jarinya di pergelangan tangan gadis kecil itu dan ekspresi wajahnya seketika berubah.

"Nyonya, tidak salah lagi ini bukan penyakit biasa. Sepertinya, korban mereka sudah semakin banyak."

"Ling, siapkan ramuan!"

"Baik, Nyonya!"

Dengan sigap, Ling mulai meracik ramuan obat. Seperempat jam kemudian, dia datang membawa segelas ramuan obat dan menyerahkannya pada Zhi Ruo. Ramuan itu kemudian diminumkan pada gadis kecil itu. Tiba-tiba saja, dia memuntahkan darah hitam yang cukup banyak hingga membuat ibunya khawatir.

"Apa yang sudah kalian lakukan pada anakku?" Wanita itu menangis sambil memeluk anaknya yang kini terbaring lemah.

"Anakku, apa yang terjadi padamu?" Wanita itu terlihat khawatir dan kembali menyalahkan Zhi Ruo atas kondisi anaknya yang menurutnya bertambah parah. "Apa kalian ingin membunuh anakku? Kenapa dia memuntahkan darah hitam sebanyak ini? Aku menyesal karena sudah membawanya ke sini." Wanita itu terus menyalahkan Zhi Ruo yang hanya mendengarkam ocehannya, karena dia mengerti dengan keresahan seorang ibu saat melihat anaknya sakit dan tak berdaya.

Di saat yang sama, gadis kecil itu perlahan membuka matanya dan berseru memanggil ibunya, "Ibu."

Seketika, wanita itu terkejut saat melihat anaknya yang berusaha untuk duduk. Wajahnya kini tak lagi pucat. Gadis kecil itu terlihat membaik walau sedikit lemah.

"Anakku, apa kamu masih merasakan sakit?"

"Tidak, Ibu. Dadaku kini tak sakit lagi."

Mendengar jawaban anaknya membuat wanita itu memeluknya erat. Melihat mereka, Zhi Ruo hanya tersenyum.

"Maafkan saya, Nyonya. Saya terlalu khawatir hingga menduga hal yang buruk pada Nyonya. Terima kasih karena anak saya sudah sembuh."

"Maaf, kalau boleh saya tahu, memangnya sejak kapan anak Nyonya mengalami sakit seperti ini?" tanya Zhi Ruo mencoba mencari tahu.

Wanita itu menghela napasnya pelan dan mulai menceritakan awal mula di mana anaknya mengalami penyakit yang menurutnya sangatlah janggal.

Di desa mereka, ada sebuah sumur yang menjadi sumber mata air mereka. Sudah hampir setengah tahun mata air di dalam sumur itu kering, hingga membuat mereka harus berjalan mengambil air di sungai yang jaraknya hampir dua kilometer. Namun, suatu malam hujan turun dengan deras dan berhenti saat sumur itu meluapkan air bersih tiada henti. Air bersih yang keluar dari dalam sumur itu kini menjadi sumber mata air mereka.

Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu warga desa mulai terserang penyakit. Mereka mengeluhkan sesak di bagian dada, hingga membuat mereka sulit untuk bernapas dan lebih parahnya lagi mereka akan mengalami muntah darah jika membiarkan penyakit itu tanpa pengobatan. Dan satu-satunya tempat yang bisa memberikan obat untuk menyembuhkan penyakit mereka adalah kedai obat yang berdiri di depan kedai milik Zhi Ruo.

"Kalau mereka sudah memberikan obatnya, kenapa anak Nyonya masih saja mengalami sakit?"

"Itulah yang saya rasa sedikit aneh. Setiap kali datang ke sana, saya harus membayar cukup mahal. Awalnya, anak saya sembuh ketika meminum obat dari mereka, tapi jika obatnya habis, dia kembali mengeluh sakit di dadanya. Sebenarnya, saya sudah tidak punya uang lagi untuk berobat, tapi saya terpaksa menggadaikan rumah untuk bisa membeli obat di kedai itu lagi, tapi saya bersyukur karena Nyonya telah menyelamatkan anak saya. Maafkan saya karena sudah berburuk sangka pada Nyonya." Wanita itu duduk bersimpuh di depan Zhi Ruo sambil menangis.

"Nyonya, bangkitlah, jangan seperti itu." Zhi Ruo meraih pundak wanita itu dan memapahnya untuk berdiri.

"Nyonya tidak perlu khawatir karena sekarang anak Nyonya sudah sembuh. Sebaiknya, jangan lagi mengambil air dari sumur itu. Tidak mengapa jika Nyonya harus mengambil air di sungai yang sedikit jauh dari rumah Nyonya, itu lebih baik daripada anak Nyonya harus mengalami sakit. Sebaiknya, peringatkan semua warga untuk tidak lagi mengambil air di sumur itu."

Mendengar ucapan Zhi Ruo, wanita itu mengangguk. Dengan berbekal obat pemberian Zhi Ruo, wanita itu kembali ke desanya. Wajahnya tersenyum bahagia saat anaknya sudah bisa berdiri dan berjalan sendiri seakan tidak pernah merasakan sakit.

Melihat senyum di wajah mereka, Zhi Ruo ikut bahagia. Begitu pun dengan Ling, tapi senyumnya memudar saat pandangannya tertuju pada kedai yang berdiri kokoh di depannya.

"Nyonya, apa tidak sebaiknya kita menghentikan mereka? Sumur itu sudah diracuni oleh makhluk jahat. Rasanya, aku ingin menghajar makhluk jahat itu."

"Bibi tidak akan sanggup." Yi Yuen menimpali ucapannya hingga membuat gadis muda itu terkejut.

"Nona, apa maksudmu?"

"Lihatlah di sana, Bi."

Yi Yuen mengarahkan telunjuknya pada segerombolan manusia yang berdesak-desakan untuk berobat di depan kedai itu dan di antara mereka, terlihat makhluk-makhluk tak kasat mata yang tertawa saat melihat manusia-manusia dalam kesakitan. Bahkan, salah satu dari mereka terlihat menjulurkan lidahnya dan menjilati wajah salah satu pasien yang sudah sekarat.

Ling terkejut karena makhluk-makhluk itu tidaklah sedikit. Jumlah mereka cukup banyak dan wajah mereka sangat menyeramkan.

"Anakku, apa yang sebaiknya kita lakukan? Jika dibiarkan, maka orang-orang akan semakin banyak yang terluka."

"Ibu jangan khawatir. Lihat saja nanti, orang-orang itu pasti tidak akan lagi berobat ke sana. Dan jika saat itu tiba, kita harus bersiap dengan serangan mereka."

Dan benar saja, rumor tentang kedai itu perlahan mulai mencuat. Kabar burung yang tersebar mulai menyudutkan mereka, hingga orang-orang tidak lagi berobat ke tempat mereka. Satu per satu orang-orang mulai datang berobat ke kedai Zhi Ruo yang mulai ramai. Bahkan, setiap pelanggan yang tidak mempunyai uang tak luput dilayani olehnya. Walau begitu, mereka tetap membalas budi dengan memberikan hasil kebun pada Zhi Ruo. Dan akhirnya, kedai obat yang ada di depan kedai mereka akhirnya kosong tanpa pelanggan.

Pemilik kedai yang geram lantas mulai melancarkan serangan. Melalui biksu yang mengendalikan makhluk-makhluk jahat itu, mereka mulai melakukan penyerangan. Di saat malam bulan purnama, tepat di tengah malam, makhluk-makhluk itu muncul di depan kedai Zhi Ruo. Di dalam kedai, Ling, Yi Yuen, dan ketiga makhluk yang masih bersama mereka tampak bersiap.

"Ibu, tenanglah di sini. Jangan khawatrikan aku karena aku bisa menjaga diriku sendiri. Apa pun yang terjadi, Ibu jangan pernah meninggalkan tempat ini." Zhi Ruo mengangguk dan mengecup dahi anaknya itu.

"Sebaiknya kalian menemani ibuku. Jika kalian mati di tangan mereka, maka kalian tidak akan pernah bisa bereinkarnasi."

"Nona, izinkan aku membantu sebagai tanda terima kasih karena sudah membebaskan kami," ucap salah satu makhluk dengan setengah wajahnya yang rusak.

"Tidak perlu. Tolong jaga ibuku dan jika semua sudah selesai, aku akan membantu kalian untuk bereinkarnasi."

Ling dan Yi Yuen, lantas keluar dan menuju ke depan kedai yang sudah penuh dengan makhluk-makhluk menyeramkan yang sudah menunggu mereka.

To Be Continued...
Indjay
banditos69
gajah_gendut
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.