Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#23
Chapter 15


Tiga sosok makhluk tak kasat mata kini berdiri di depan Yi Yuen yang menatap tajam. Ketiga sosok itu terdiri dari seorang bocah laki-laki dan dua orang lelaki dewasa. Ketiganya berpenampilan layaknya orang-orang di zaman dulu. Si bocah menatap Yi Yuen tajam. Bola matanya berwarna merah dengan wajah menyeramkan yang putih memucat.

"Anak kecil ini ternyata hebat juga. Rupanya, dia bisa melihat kita." Salah satu lelaki dengan wajah yang tak kalah menyeramkan bergumam saat melihat Yi Yuen menatap ke arah mereka.

"Hei, bocah! Apa yang kamu lihat? Jika tidak ingin mati di tangan kami, lebih baik tinggalkan tempat ini!"

Lelaki dengan wajah yang tampak rusak sebelah dengan bajunya yang basah berucap dengan sorot mata yang tajam ke arah Yi Yuen.

Tanpa takut sedikit pun, Yi Yuen hanya tersenyum dan berjalan mendekat ke arah mereka. "Kalau aku tidak mau pergi, kalian mau apa?"

Bocah laki-laki yang hanya berjarak beberapa meter dari Yi Yuen terlihat marah. Tanpa diperintah, dia melayang dengan cepat menuju Yi Yuen dengan kedua tangan yang bersiap mencekik leher gadis itu. Dengan cepat, Yi Yuen menghindar darinya.

"Ternyata anak kecil ini hebat juga! Kalau tidak segera menghabisinya, kita pasti akan dihukum." Lelaki dengan wajah setengah hancur ikut melancarkan serangan pada Yi Yuen, tapi serangannya segera ditepis oleh Ling yang tiba-tiba datang menghadangnya.

"Tidak akan aku biarkan kalian menyakitinya!" Ling mengeluarkan sinar biru dari telapak tangannya dan menghantam lelaki itu, hingga terjungkal ke belakang.

"Nona, apa Nona tidak apa-apa?" tanya Ling sambil memeriksa tubuh Yi Yuen

"Aku tidak apa-apa, Bi. Sepertinya, mereka diperintah untuk menakuti orang-orang yang mengunjungi kedai ini. Makanya, paman pemilik kedai kehilangan pembelinya," jelas Yi Yuen sambil menatap tiga makhluk itu.

"Oh, jadi kalian adalah biang kerok yang menyebabkan kedai ini sepi pembeli? Siapa yang menyuruh kalian? Jawab! Jika tidak, jangan salahkan aku jika nantinya kalian akan binasa di tanganku!" Ling bersiap mengeluarkan jurus andalannya. Cahaya biru tampak menggumpal di telapak tangannya.

"Ah, siluman rubah yang sombong. Mati kamu!"

Seorang lelaki yang sedari tadi jadi penonton mulai ikut campur. Penampilannya yang tak kalah menyeramkan dari dua temannya mulai melayangkan serangan ke arah Ling. Kekuatannya yang ternyata cukup tangguh membuat Ling mulai tersudut saat serangan demi serangan diarahkan bertubi-tubi padanya. Ling dengan langkahnya yang gesit masih dapat menghindar, hingga membuat lelaki itu naik darah.

Melihat teman mereka yang kesulitan membuat dua orang yang sedari tadi melihat pertarungan itu akhirnya turun tangan. Ketiga makhluk yang menyeramkan itu melawan Ling yang menghadapi serangan mereka seorang diri. Melihat mereka yang terus menyerangnya membuat Ling mengalami kesulitan. Walau begitu, dia masih berusaha melawan, hingga serangannya mengenai bocah lelaki yang kini meringis kesakitan di atas lantai.

"Sialan! Kamu telah menyakiti anakku!" pekik lelaki yang memiliki wajah setengah hancur. Dengan garangnya, dia melancarkan serangannya yang membabi buta, hingga membuat Ling terpojok. Tak sampai di situ, sinar-sinar hitam tampak keluar dari tangannya dan tertuju ke arah Ling.

Meihat keadaan Ling yang terdesak, Yi Yuen lantas berlari di depan gadis itu dan berdiri menghadang lelaki yang sudah siap menghantam pukulannya ke arah Ling. Melihat Yi Yuen berdiri di depannya, lelaki itu tidak peduli dan bersiap mengarahkan pukulan padanya.

"Nona, awas!" seru Ling memperingatkan Yi Yuen, tapi gadis kecil itu bergeming. Matanya tiba-tiba berubah menjadi biru dengan tangan kanan yang diangkat lurus ke depan. Lelaki itu terkejut saat melihat cahaya putih berupa sebuah dinding penghalang yang kini menghalangi dirinya dan gadis kecil itu. Dia tersentak saat tubuhnya berusaha menembus dinding batas yang keluar dari tangan Yi Yuen, tapi tubuhnya terpental jauh ke belakang dengan suara rintihan yang memilukan.

"Ayah!" Bocah laki-laki berlari ke arahnya yang terlihat mengeluarkan darah hitam dari mulutnya.

"Anak itu sangat hebat. Selama ini tidak ada yang bisa menghalangi seranganku, tapi dia mampu menghalanginya bahkan mematahkan seranganku Siapa sebenarnya gadis kecil itu?" ucap lelaki yang kini menatap Yi Yuen tanpa kedip.

"Selama ini kalian telah mengganggu pembeli di kedai ini. Apa kalian telah diperintah untuk menghancurkannya?" tanya Yi Yuen yang berjalan ke arah mereka.

Ketiga makhluk itu terkejut hingga berjalan mundur ke belakang. Wajah mereka menunjukkan raut ketakutan saat Yi Yuen semakin mendekat hingga mereka tersudut di dinding ruangan.

"Siapa kamu? Kenapa anak kecil sepertimu bisa melihat kami? Dan kekuatanmu itu .... "

"Siapa yang sudah memerintahkan kalian menghancurkan kedai ini? Jika tidak menjawab, aku akan membuat kalian menyesal dan tidak akan pernah bereinkarnasi!"

Mereka terkejut saat mendengar ancaman Yi Yuen, tapi salah satu dari mereka membalas dengan tertawa keras. Lelaki itu seakan tidak percaya dengan Yi Yuen yang mampu menghancurkan mereka apalagi membuat mereka tidak dapat bereinkarnasi. Namun, tawanya seketika terhenti saat melihat tangan Yi Yuen yang mengeluarkan cahaya putih dan bersiap menghantam padanya.

"Jika perlu bukti, maka aku akan mengabulkannya. Bersiaplah karena kalian akan hancur menjadi abu dan tidak akan pernah bereinkarnasi!" Yi Yuen bersiap menghantam cahaya itu, tapi Ling segera menghentikannya.

"Dewi, tolong ampuni mereka! Jangan biarkan tangan kecil Nona melakukan pembunuhan. Tenangkan dirimu!"

Zhi Ruo yang sedari tadi hanya melihat mereka akhirnya turun tangan. Sambil berlutut di depan Yi Yuen, wanita itu menangis dan memintanya untuk menghentikan serangannya. "Putriku, Ibu mohon jangan bunuh mereka. Tahan emosimu. Ibu mohon, beri mereka kesempatan dan dengarkan penjelasan mereka."

Melihat ibunya yang menangis dan berlutut, seketika matanya kembali normal. Perlahan, tangannya diturunkan seiring cahaya putih yang mulai menghilang. Zhi Ruo lantas mendekat dan memeluknya.

"Maafkan aku, Ibu. Aku marah karena mereka berusaha menyerang Bibi. Aku bisa tahan dengan apa pun yang akan mereka lakukan, tapi jika mereka menyakiti Ibu dan Bibi, aku tidak akan diam. Aku akan melenyapkan siapa pun yang ingin mencelakai kalian." Mendengar ucapan anaknya, Zhi Ruo tersenyum dan kembali memeluknya. Begitu pun dengan Ling yang merasa terharu saat mendengar ucapan gadis kecil itu.

Ketiga makhluk yang kini ketakutan tampak berlutut di depan Yi Yuen. Mereka mulai sadar kalau gadis kecil itu bukanlah manusia biasa, hingga mereka terkejut saat Ling menjelaskan semuanya kepada mereka.

"Kalian hampir saja binasa di tangan gadis kecil itu. Dia bukan manusia biasa. Dia adalah titisan Dewi Keabadian." Sontak, mereka terkejut dan menatap Yi Yuen yang sedang bermanja pada ibunya.

"Apa itu benar?"

Ling mengangguk dan menatap Yi Yuen dengan senyum di bibirnya. "Ayahnya adalah Dewa Alam Semesta. Dan kalian, bukanlah lawan yang sebanding dengannya. Dia masih terlalu kecil untuk mengatasi emosinya. Kalau bukan karena ibunya, aku yakin kalian sekarang pasti sudah menjadi abu!"

"Nona, tolong maafkan kami. Kami tahu kami bersalah, tapi ini semua bukan keinginan kami. Mereka telah berjanji jika kedai ini hancur, maka kami akan dibebaskan dan bisa bereinkanasi. Namun, sudah hampir 8 tahun kami tidak dibebaskan, malah kami sengaja dikurung di dalam kedai ini dan bersemayam di dalam lukisan." Penjelasan mereka membuat Ling merasa iba. Begitu pun dengan Yi Yuen yang kini menatap ke arah mereka.

"Nona, apakah kami akan dihukum?" tanya bocah laki-laki yang mulai ketakutan.

"Tidak, asalkan kalian berjanji untuk tidak lagi melakukan perintah mereka. Apa kalian bisa memberitahuku, siapa orang yang sudah memerintahkan kalian?"

Ketiga makhluk itu saling memandang seakan ada ketakutan di wajah mereka.

"Katakan saja, aku janji setelah itu aku akan membantu kalian untuk bereinkarnasi." Yi Yuen kini berdiri di depan mereka. Melihatnya, mereka kembali saling memandang.

Bocah laki-laki itu lantas bangkit dan berdiri di depan pintu kedai sambil telunjuknya mengarah pada sebuah kedai obat yang cukup besar dan ramai di depannya. Kedai itu penuh dengan pengunjung yang keluar masuk.

"Oh, pantas saja jika kedai ini sudah tidak ada lagi pelanggan. Rupanya, mereka sengaja membuat onar," ucap Ling sambil memandangi kedai yang baginya penuh kejanggalan. Bagaimana tidak, kedai itu selalu penuh dengan pengunjung. Bahkan, sejak pagi kedai itu sudah ditunggui pelanggan di depan pintu.

"Apa ada yang aneh dengan kedai itu?" tanya Zhi Ruo saat melihat Ling yang terus memandangi kedai di depan mereka.

"Iya, Nyonya. Aku bisa melihat aura jahat di kedai itu. Sepertinya, ada yang aneh dengan kedai itu."

"Lalu, apa mereka itu berbahaya?"

"Jangan khawatir, Nyonya. Aku sendiri yang akan menyelidikinya."

"Jangan, jika kamu tidak ingin tubuhmu hancur! Mereka memakai seorang biksu yang sangat hebat untuk mengontrol kami. Jika kami melawan, biksu itu akan menghajar kami hingga tak berkutik. Kami terjebak karena diiming-imingi janji untuk bereinkarnasi, tapi nyatanya kami dibohongi!" Lelaki yang memiliki wajah setengah hancur tampak bersedih. Begitu pun dengan bocah lelaki yang kini memeluknya.

"Ayah, jika nanti kita bisa reinkarnasi, aku ingin menjadi anakmu lagi." Bocah itu menangis dan memeluk erat lelaki yang kini ikut menangis.

Melihat mereka yang tertekan membuat Ling ikut prihatin. Dia bisa merasakan kesedihan yang mereka rasakan. Gadis muda itu lantas memandangi Yi Yuen dan berharap agar gadis kecil itu bisa membantu mereka, walau dia tahu itu mungkin sesuatu hal yang mustahil.

Yi Yuen mengerti dengan tatapan mata Ling yang mengiba padanya. Gadis kecil itu lantas mendekat ke arah tiga makhluk yang kini ketakutan saat melihatnya. "Aku akan membantu kalian untuk bereinkarnasi, tapi sebelumnya bantu kami untuk mencari tahu maksud perbuatan mereka. Jika berhasil, saat bulan purnama nanti aku akan membantu kalian bereinkarnasi. Apa kalian setuju?"

Ketiga makhluk itu mengangguk dan menyetujui permintaan Yi Yuen. Atas perintahnya, Ling kemudian membakar lukisan di mana ketiga makhluk itu terikat. Seketika saja, dia mendengar suara runtuhan tembok yang cukup keras. Gadis muda itu lantas keluar dan melihat serpihan tembok yang hancur mengelilingi kedai itu. Anehnya, hanya dia dan Yi Yuen yang mampu melihatnya.

Tembok itu adalah tembok yang menghalangi ketiga makhluk agar tidak bisa kabur. Dan tembok itu pula yang menyebabkan pandangan manusia biasa tertipu dengan penampakan kedai yang terlihat kumuh dan berhantu. Itulah sebabnya, kedai itu tidak pernah dikunjungi oleh pembeli dan beralih pada kedai yang terlihat bersih dan nyaman yang ada di depannya.

"Kalian bertiga telah bebas. Sekarang, cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendapat kabar, segera beritahukan pada kami," ucap Ling pada ketiga makhluk itu. Mereka bertiga mengangguk serempak dan seketika menghilang dari tempat itu.

"Ling, apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Zhi Ruo yang sedari tadi heran dengan sikap mereka.

"Nyonya, jangan khawatir. Setelah masalah ini selesai, kita akan membuka kedai ini dan membantu warga sekitar untuk berobat. Untuk sementara, kita bersihkan saja dulu kedai ini sembari menunggu hasil penyelidikan mereka. Sebaiknya, Nyonya istirahat saja karena sudah bekerja sedari tadi, biar aku yang akan menyelesaikannya."

Zhi Ruo mengangguk karena tubuhnya mulai merasa lelah. Wanita itu lantas masuk ke kamarnya dan berbaring di sana. Sementara Yi Yuen, masih berdiri di depan pintu kedai sambil menatap lurus ke arah kedai yang ada di depannya.

"Apa yang harus kita lakukan jika mereka terbukti memperalat makhluk tak kasat mata untuk melariskan dagangan mereka? Apa Nona punya solusi jika itu terbukti?" tanya Ling yang kini berdiri di samping Yi Yuen.

"Kalau itu terbukti, kita tidak bisa membiarkan mereka terus melakukannya. Aku tidak akan membiarkan mereka mempermainkan semua makhluk sesuka hati mereka."

Ling memandang Yi Yuen yang masih menatap tajam ke arah depan. Dia seakan bisa merasakan kalau gadis kecil di depannya itu bukanlah gadis kecil yang biasa bersikap manja. Kadang, sikap gadis kecil itu berubah lebih dewasa. Adakala, dia bertingkah layaknya gadis kecil pada umumnya. Itu semua karena Yi Yuen belum bisa mengontrol kemampuan yang sudah ada sejak dia lahir. Kemampuan luar biasa yang membuat manusia dan makhluk tak kasat mata akan tunduk padanya.

"Nona, sebaiknya Nona beristirahat saja dan temani nyonya di kamar. Kasihan, nyonya saat ini pasti lelah karena sedari tadi bekerja."

Yi Yuen lantas bergegas masuk ke kamar dan melihat ibunya yang tengah tertidur. Sambil tersenyum, gadis kecil itu menggenggam tangan ibunya dan duduk menemani sang ibu yang tertidur pulas. "Ibu, selama ada aku, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Aku akan menjagamu dengan nyawaku." Yi Yuen menatap wajah ibunya yang tampak cantik. Sekilas, dia berharap agar ibunya kelak akan bahagia karena dia tahu, ibunya menyimpan kesedihan yang teramat dalam. Kesedihan karena kehilangan cintanya. (To Be Continued)
Indjay
banditos69
gajah_gendut
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.