- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.8K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#18
Chapter 12
Li Quan tersentak saat mendengar kalau istrinya tengah mengandung. Hatinya mulai goyah hingga membuatnya menghentikan langkah.
"Li Quan, jangan dengarkan mereka! Mereka hanya ingin membuatmu ragu. Ayo, kita kembali ke Istana Langit!" Lelaki paruh baya itu berusaha mengajak Li Quan untuk tetap pergi, tapi melihat Zhi Ruo yang tampak ketakutan, dia mulai merasa khawatir.
"Apa kamu tidak percaya dengan ucapan kami? Baiklah, pergilah dan kami akan mengoyak tubuh istri dan juga anakmu hingga lumat. Apa kamu pikir siluman rubah yang lemah itu sanggup untuk melindunginya?" Ucapan salah satu makhluk hitam terdengar begitu berat dengan tatapan tajam yang mengarah pada Zhi Ruo.
"Suamiku, pergilah! Jangan hiraukan aku. Mereka hanya berdusta. Jangan percaya apa yang mereka katakan!"
Walau takut, Zhi Ruo berusaha tenang agar suaminya tidak berubah pikiran. Begitu pun dengan lelaki berjubah putih yang terus memaksa untuk segera meninggalkan tempat itu. "Ayo, kita tinggalkan tempat ini!"
"Tidak, Ayah! Maafkan aku!"
Li Quan lantas melayang di atas udara dan mendekati istrinya. Di saat bersamaan, dua makhluk hitam mendadak maju dan mendekat ke arah Zhi Ruo. "Mati kamu!" teriak dua makhluk yang mengarahkan serangan pada gadis itu.
Melihat Zhi Ruo akan diserang, Ling dengan sigap berdiri di depannya dan menghalang serangan dari dua makhluk itu. Seketika, tubuhnya terpental dengan darah segar yang keluar dari mulutnya.
"Ling!" seru Zhi Ruo yang berlari ke arah gadis yang kini merintih kesakitan sambil memegang perutnya.
"Nyonya." Gadis itu merintih kesakitan, tapi dia berusaha untuk bangkit karena dua makhluk itu kembali mengarahkan serangan pada Zhi Ruo.
"Nyonya, awas!" pekik Ling saat sebuah sinar hitam mengarah pada tubuh Zhi Ruo, tapi Li Quan dengan sigap meraih tubuh istrinya dan melayang ke atas udara. Li Quan lantas membawa istrinya menjauh dari tempat itu
"Istriku, kamu baik-baik saja?" Li Quan terlihat khawatir dan menatap wajah istrinya yang kini tersenyum padanya.
"Jangan khawatirkan aku. Pergi dan bantu ayahmu! Makhluk itu sangat banyak dan jangan biarkan mereka mendapatkan kekuatan itu."
"Istriku, apa benar kamu tengah mengandung?"
"Maafkan aku, tapi aku janji akan menjaganya hingga nanti kamu kembali. Jangan biarkan kami menjadi penyebab kemarahan semesta kepadamu. Aku ikhlas dan akan menunggumu kembali." Zhi Ruo lantas memeluknya "Pergilah!" Zhi Ruo melepaskan pelukannya dan mengikhlaskan Li Quan untuk pergi.
"Tuan, pergilah! Kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti Nyonya." Ling yang baru saja datang kemudian membawa Zhi Ruo ke tempat persembunyiannya.
"Tunggu!" Li Quan lantas mendekati Zhi Ruo dan memeluknya erat. "Tunggu aku dan jaga anak kita. Istriku, aku mencintaimu."
Zhi Ruo mengangguk. Li Quan lantas meninggalkan tempat itu dan menuju ke tempat di mana ayahnya sedang bertarung dengan makhluk hitam yang jumlahnya semakin bertambah.
Dengan leluasa, mereka bisa menembus hutan larangan karena butir mutiara yang menjadi wujud dari kekuatan maha dahsyat yang tertancap di dasar bumi telah tercabut dan itu membuat penangkal di hutan larangan ikut menghilang.
Walau lelaki berjubah itu adalah sosok seorang dewa, nyatanya dia cukup kewalahan menghadapi ratusan makhluk hitam yang semakin bertambah. Dia tidak menyangka, makhluk-makhluk hitam yang telah dikutuk di masa lalu mempunyai kekuatan yang cukup hebat.
Sebelum dikutuk, makhluk-makhluk hitam itu dulu adalah sepasang dewa dewi yang melakukan perbuatan terlarang di Istana Langit. Mereka adalah kakak beradik yang menjalin cinta terlarang. Karena perbuatan itu dianggap dosa besar dan tidak dapat diampuni, maka mereka dikutuk menjadi makhluk hitam menyeramkan dan dibuang ke bumi, hingga mereka mulai beranak pinak dan menjadi kumpulan yang sangat banyak. Belum lama ini, Li Quan telah membunuh ketua mereka karena berusaha menerobos masuk hutan larangan dan berniat mengambil kekuatan darinya.
Kekuatan yang dijaga oleh Li Quan, nyatanya membuat mereka bertekad untuk merebutnya. Mereka ingin menjadi kuat agar bisa membalaskan dendam ke Istana Langit atas pengusiran dan kutukan terhadap leluhur mereka.
Ratusan makhluk hitam tampak beringas melayangkan pukulan dan sinar hitam ke arah Li Quan yang baru saja datang membantu ayahnya. Kekuatannya yang kini telah pulih, membuat Li Quan dengan mudah membunuh makhluk hitam itu, hingga terdengar suara erangan dan rintihan kesakitan.
Walau seribu tahun dalam masa hukuman, nyatanya kekuatan Li Quan masih sehebat dulu. Lelaki dengan julukan Dewa Bulan itu terlihat tenang. Walau begitu, dalam ketenangannya tersimpan kekuatan yang sangat dahsyat.
"Li Quan, pergilah! Bawa mutiara itu dan serahkan pada ibumu. Jangan biarkan mutiara itu jatuh di tangan mereka!"
Lelaki paruh baya itu lantas merangsek maju dan melayangkan sebuah pedang yang tiba-tiba muncul dari tangannya. Lelaki itu cukup tangguh, hingga dengan mudah tebasan pedangnya menghantam makhluk-makhluk itu hingga berubah menjadi kepulan abu berwarna hitam yang beterbangan di udara.
Li Quan melayangkan pandangannya ke arah hutan di mana dia meninggalkan istrinya dan kembali memandangi ayahnya yang kini bertarung sendirian. "Maafkan aku, istriku. Aku pasti akan kembali padamu." Seketika, dia menghilang dengan diiringi embusan angin yang sangat kencang, hingga membuat beberapa makhluk hitam yang mengarah padanya terpental.
Dalam sekejap, Li Quan sudah berada di depan pintu Istana Langit. Istana yang terlihat megah dengan pemandangan yang sangat indah kini terpampang di depan matanya.
Melihat kedatangannya, beberapa orang prajurit yang berdiri di depan pintu istana menunduk dan memberi hormat padanya. "Selamat datang, Tuan Li Quan." Hormat mereka serempak. Tanpa peduli dengan mereka, Li Quan lantas masuk dan bergegas bertemu dengan ibunya.
Seorang wanita yang terlihat cantik tampak berjalan mendekatinya. Wajahnya menyunggingkan senyum dengan air mata yang perlahan membasahi pipinya. "Putraku!" Wanita itu memeluk Li Quan dan menangis dalam pelukannya.
"Putraku, kamu jangan meninggalkan ibumu lagi. Ibu sangat merindukanmu."
Wanita itu memiliki kecantikan abadi dengan wajah yang tak pernah menua dengan rambut yang mulai memutih. Walau telah menua, tapi wajahnya tidak berubah sedikit pun. Dia adalah Dewi Bulan yang terkenal dengan kecantikan wajah yang abadi. Itulah mengapa, Li Quan memiliki wajah yang sangat tampan dan tak pernah berubah. Ketampanan wajahnya telah membuat penghuni Istana Langit menjadi iri.
"Ibu, maafkan aku, tapi aku harus kembali. Aku tidak bisa berada di sini terlalu lama. Ada hal penting yang harus aku kerjakan."
"Putraku, apakah ibumu ini tidak penting bagimu? Urusan penting apa yang membuatmu tergesa-gesa dan ingin pergi meninggalkan Ibu?"
Ibunya terlihat kecewa karena Li Quan ingin segera kembali ke bumi. Wanita itu terlihat menghapus air matanya karena kerinduannya pada putra semata wayang yang baru saja ditemuinya.
"Maafkan aku, Ibu. Aku harus kembali karena aku harus menjaga .... "
"Kakak!" Seorang gadis cantik tampak berlari ke Li Quan. "Kakak Li, aku sangat merindukanmu." Gadis itu lantas memeluknya dengan erat. Wajahnya yang cantik tampak tersenyum bahagia saat memeluk lelaki yang sudah lama dia rindukan.
"Putraku, lihat Putri Mu Rong. Dia sangat merindukanmu. Apa kamu tega meninggalkannya setelah seribu tahun kalian tidak bertemu?"
Putri Mu Rong, anak dari Dewa Perang yang juga merupakan sahabat ayahnya. Gadis yang menjadi temannya sejak dia masih kecil. Gadis yang sudah disiapkan untuk menjadi pendamping hidupnya kelak.
"Kakak, kenapa Kakak hanya diam saja? Apakah Kakak tidak merindukanku?" tanya gadis itu yang terlihat manja.
"Mu Rong, maafkan aku, tapi setelah menyelesaikan urusan di sini, aku akan kembali ke bumi. Aku harus menemui istriku."
Mendengar ucapan Li Quan, gadis itu terkejut. Begitu pun dengan ibunya yang kini menatap Li Quan dengan kecewa. "Putraku, apa yang kamu katakan? Istrimu? Bagaimana bisa seorang dewa menikah dengan manusia? Jika itu benar, itu berarti kamu sudah melakukan kesalahan yang fatal!"
Wanita itu terlihat panik karena jika diketahui oleh penghuni Istana Langit, maka Li Quan akan kembali dihukum.
"Kakak, jangan buat aku cemburu dengan candaanmu itu. Bukankah, kita akan menikah setelah masa hukumanmu berakhir? Tidakkah kamu ingat dengan perjanjian orang tua kita?" Gadis yang berparas cantik dengan rambut panjang yang disanggul untaian bunga di rambutnya itu menatap Li Quan yang berusaha menghindar darinya.
"Maafkan aku! Biarkan aku meletakkan mutiara ini di tempatnya. Setelah itu, aku akan pergi."
"Kamu tidak akan pergi kemana-mana!" Li Quan terkejut dan menatap ayahnya yang kini berjalan ke arahnya. "Li Quan, dulu ataupun sekarang, kalian tidak akan pernah bisa bersama. Kamu tahu kalau manusia tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari kita, tapi kenapa kamu bersikeras untuk tetap bersamanya?" Lelaki itu terlihat marah. Wajahnya yang teduh terlihat memerah karena menahan amarahnya.
"Itu karena aku mencintainya, Ayah! Apa Ayah tahu apa yang dilakukannya selama seribu tahun? Dia mencariku dalam setiap kelahirannya dan berharap bertemu denganku. Walau dia tahu aku adalah seorang dewa, dia tidak mundur dan mencintaiku tulus."
"Li Quan!" Sebuah tamparan menghantam wajahnya. Lelaki itu menampar wajah Li Quan yang bergeming. "Jangan pernah membayangkan untuk kembali padanya! Sampai kapan pun kalian akan kami pisahkan. Tak hanya seribu tahun, bahkan sampai dunia hancur kami tidak akan membiarkan kalian bersatu!"
Li Quan terkejut mendengar ucapan ayahnya, seakan perpisahannya dulu dengan Zhi Ruo adalah suatu kesengajaan. "Apa maksud, Ayah? Jangan katakan kalau kalian sengaja memisahkan kami di masa lalu. Aku tidak akan memaafkan kalian jika itu benar-benar kalian lakukan! Li Quan menatap ayahnya dalam-dalam dan berharap apa yang dipikirkannya itu tidaklah benar.
"Putraku, maafkan Ibu. Itu semua memang sengaja kami lakukan demi kebaikanmu. Wanita itu hanya akan membawa bencana bagimu. Dia tidak pantas menjadi bagian dari kita." Ibunya turut menambahkan hingga membuat Li Quan menjadi kecewa.
"Jadi, manusia-manusia laknat itu adalah perantara kalian untuk melukainya? Aku tidak menyangka kedua orang tuaku begitu tega padaku. Ayah, Ibu, apa karena itu juga kalian sengaja mengurungku di hutan larangan selama seribu tahun?" Li Quan melontarkan pertanyaan yang membuat hatinya kecewa.
"Li Quan, Ayah tahu kamu marah, tapi hanya itu yang bisa kami lakukan. Melihatmu dekat dengan wanita itu membuat kami sangat khawatir. Kamu terlahir bukan untuk hidup bersamanya karena kamu sudah ditakdirkan menjadi pemimpin para dewa. Itu sebabnya Ayah mengurungmu di hutan larangan karena hanya dirimu yang bisa mengendalikan kekuatan itu. Andai saja ada yang mampu mengendalikannya selain dirimu, Ayah tidak akan sekejam ini padamu. Bahkan, Ayah hampir mati karena berusaha mengendalikan kekuatan itu. Jika kekuatan itu jatuh di tangan yang salah, maka Istana Langit akan hancur. Itulah sebabnya Ayah memisahkan kalian."
Penjelasan ayahnya membuat Li Quan diam tanpa bisa berkata apa-apa. Dia seakan dipaksa untuk menerima alasan yang diucapkan ayahnya. Alasan yang tak bisa diterima oleh perasaannya. Perasaan yang tidak ingin kehilangan cintanya. Namun, dia tidak bisa egois karena kelangsungan Istana Langit kini ada di tangannya.
Li Quan dibuat bimbang dengan keputusan yang harus diambilnya. Janji untuk segera kembali pada kekasih hati kini terhalang dengan kewajibannya sebagai penerus Istana Langit. Hatinya terikat antara dua pilihan, yaitu cinta dan tahta.
"Putraku, lupakanlah dia dan jalanilah kewajibanmu di Istana Langit. Putri Mu Rong akan setia menemanimu memimpin istana ini. Ibu mohon padamu, sekali ini saja turuti permintaan Ibu." Wanita itu berusaha untuk membujuk Li Quan yang kini merenung di dalam kamarnya.
Li Quan menatap ibunya dan menggenggam tangannya dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya. "Ibu, apa Ibu sanggup untuk melupakan aku?"
"Putraku, apa yang kamu katakan? Bagaimana mungkin orang tua bisa melupakan anaknya."
"Itu yang kini aku rasakan, Ibu. Istriku tengah mengandung anakku dan apa pantas aku melupakan mereka?" Air mata yang menggantung kini jatuh membasahi pipinya. Li Quan terlihat sedih hingga membuat ibunya menangis.
"Apakah Ibu tidak kasihan pada cucu Ibu sendiri? Anak itu adalah darah dagingku, cucu Ibu dan aku malah meninggalkan mereka. Apa aku pantas disebut sebagai seorang ayah?"
Mendengar tangisan anaknya, wanita itu turut menangis. Dia tahu bagaimana perasaan anaknya kini. Sebagai orang tua, dia tahu bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak. Dia tahu bagaimana kerinduan yang dia rasakan saat perasaan rindu muncul pada anaknya itu.
"Maafkan Ibu, Nak! Kami terlalu egois hingga mengorbankan perasaanmu, tapi tidak ada jalan lain selain memisahkan kalian. Putraku, jika dia adalah anakmu, dia juga cucu kami dan kamu tidak perlu khawatir karena dia memiliki darah seorang dewa. Dia akan menjadi anak yang kuat dan tidak akan bisa dibunuh oleh manusia atau pun makhluk jahat sekalipun. Ibu akan membantumu melindunginya asalkan kamu tetap ada di sini. Ibu juga tidak akan membiarkan cucu Ibu terluka. Ibu janji akan menjaganya."
Dengan berat hati, Li Quan menerima syarat yang diberikan oleh ibunya. Asalkan istri dan anaknya selamat, dia rela jika mereka harus berpisah. Dia rela melepaskan kekasih hati yang sangat dicintainya demi menjaga keutuhan Istana Langit.
Dengan perasaan bersalah, Li Quan menyerahkan selembar surat pada ibunya untuk diberikan pada Zhi Ruo. Air matanya jatuh melepas kepergian ibunya yang pergi menemui istrinya itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun selain dirinya.
Kini, Li Quan hanya bisa menyesali diri karena takdir cintanya akan berakhir tragis. Walau dia sanggup untuk melawan takdir, tapi itu hanya akan membuat banyak pihak yang akan terluka. Biarlah dia yang menanggung perasaan bersalah dan berharap suatu saat nanti, takdir cinta akan berpihak padanya dan mempertemukannya dengan kekasihnya.
To Be Continued…
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6