Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.8K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#14
Chapter 9


Zhi Ruo duduk ditemani Li Quan di depan gundukan batu yang merupakan makam Yuen. Gundukan batu itu tidak terlalu tinggi dan tersusun rapi dengan beberapa tanaman bunga yang ditanam di sekelilingnya.

"Yuen, maafkan aku karena diriku, kamu harus pergi. Terima kasih atas semua kebaikan dan pengorbananmu. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah melupakan persahabatan kita. Sampaikan salam untuk ibuku. Katakan padanya kalau aku baik-baik saja dan aku pasti akan hidup bahagia." Zhi Ruo menunduk dengan air mata yang perlahan jatuh. Menyadari itu, Li Quan lantas memeluknya.

Zhi Ruo merasa tenang dalam pelukan Li Quan. Dengan lembut pemuda itu menyeka air matanya dan mengecup dahinya mesra. "Zhi Ruo, maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Aku ingin membahagiakanmu dan menjalani kehidupan selayaknya manusia biasa bersamamu. Aku ingin kita membangun keluarga kecil yang bahagia. Apa kamu bersedia?" Li Quan menatap Zhi Ruo yang kini tersenyum dan mengangguk pelan. "Baiklah, kalau begitu, hari ini juga kita akan menikah."

Seketika, Li Quan merangkul Zhi Ruo dan mereka melayang di atas udara melewati pohon dan dahan-dahan yang diiringi embusan angin yang meniup lembut.

Di dalam rangkulan Li Quan, Zhi Ruo tersenyum sembari menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu, hingga mereka tiba di atas bukit yang sangat tinggi. Di atas batu terjal, mereka berdua duduk sambil memandangi hamparan dataran luas dengan warna kehijauan khas dari sebuah hutan yang terjaga kelestariannya.

Dari atas sana, mereka dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah. Anak sungai tampak riak mengalir hingga ke hulu. Air bening yang menyegarkan itu tampak eksotis dengan anak-anak air terjun yang bisa dilihat dari atas tempat mereka duduk.

Semilir angin berembus dengan lembut membawa kesejukan tiada tara. Langit biru dengan awan putih menghiasi cakrawala dengan burung-burung yang beterbangan tak tentu arah.

Kini, mereka berdua duduk berlutut di atas batu. Zhi Ruo tampak cantik dengan hiasan bunga yang dirangkai indah seperti mahkota yang bertengger di atas kepalanya. Rambutnya terurai lepas. Senyumnya terlihat menawan dengan bibir yang merekah indah. Di hadapan alam semesta, mereka berdua duduk dan meminta restu atas pernikahan sederhana. Pernikahan yang jarang terjadi antara manusia dan seorang dewa.

Setelah bersujud beberapa kali di hadapan hamparan dataran luas, kini mereka duduk saling berhadapan. Li Quan tampak tersenyum saat melihat Zhi Ruo yang terlihat anggun dengan hiasan kepala yang sengaja dibuat olehnya. "Istriku, kamu sangat cantik. Aku mencintaimu." Li Quan berucap seraya mengelus lembut wajah gadis yang kini sudah resmi menjadi istrinya.

Perlahan, sebuah kecupan mendarat di dahi Zhi Ruo diiringi sebuah pelukan. "Terima kasih karena kamu masih setia menungguku. Aku bahkan tidak pernah berpikir kalau kita akan dipertemukan kembali. Zhi Ruo, aku berjanji akan selalu bersamamu dan mencintaimu selama hidupku."

Zhi Ruo mengangguk dan mengeratkan pelukannya. Li Quan lantas membopong istrinya itu dan kembali mereka melayang di atas udara menuju satu tempat yang sudah dia persiapkan. Di sebuah goa, Li Quan turun perlahan.

Goa itu sangat jauh berbeda dengan goa pada umumnya. Di mulut goa, ada sebauh taman yang sangat indah. Taman yang dipenuhi dengan aneka tanaman bunga. Di sebelah taman, ada kolam yang tidak terlalu dalam dengan anak air terjun yang jatuh ke dasar kolam. Gemericik air terdengar syahdu. Bahkan, beberapa kupu-kupu terlihat memenuhi taman sekadar untuk menghisap sari bunga.

Li Quan berjalan memasuki ruangan goa sambil membopong Zhi Ruo yang takjub dengan keindahan di tempat itu. Goa yang terlihat biasa saja itu ternyata sangat luas. Bahkan, ada sebuah batu datar yang mirip seperti tempat tidur. Di atas batu tersebut terhampar kulit harimau yang dijadikan pengalas tidur yang tentunya menghangatkan tubuh. Tak hanya itu, sebuah selimut dari kulit beruang tampak teronggok di sisi batu.

Dengan lembut, Li Quan meletakkan tubuh Zhi Ruo di atas batu datar itu. Melihat Zhi Ruo yang tersenyum padanya, Li Quan lantas membalas dengan mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir ranum sang istri yang kini pasrah dalam pelukannya. Kecupan-kecupan hangat yang diiringi embusan napas yang kian memburu, membuat keduanya kini larut dalam kehangatan cinta.

Dengan lembut dan tanpa buru-buru, Li Quan membelai wajah cantik istrinya. Tangannya yang kekar, begitu piawai memainkan melodi cinta hingga membuat Zhi Ruo terlena. Wajah cantik Zhi Ruo tampak merona kemerahan saat perlahan tubuhnya dibaringkan di atas kulit harimau yang hangat nan lembut. Kini, Zhi Ruo akan melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Tanpa mengelak, tanpa ragu, dia mempersembahkan jiwa dan raganya untuk lelaki yang sangat dicintainya.

Kini, keduanya larut dalam permainan cinta yang begitu mengasyikkan. Cinta yang tulus akan menghadirkan suasana yang intim tanpa keragu-raguan. Semua mereka lakukan atas dasar cinta.

Wajah Zhi Ruo masih memerah bak buah cherry saat Li Quan berbaring di sampingnya. Di balik selimut, dia menyembunyikan wajahnya. Li Quan tersenyum saat melihat tingkah istrinya. Perlahan, dia meraih selimut dan menatap wajah yang merona itu tanpa kedip. "Ada apa? Apa kamu malu padaku?" tanya Li Quan sambil mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah istrinya. Zhi Ruo hanya terdiam dan menatap wajah sempurna yang abadi. Wajah tampan tanpa cela nan sempurna begitu terpampang jelas di depan matanya.

"Suamiku, aku mencintaimu," ucap Zhi Ruo sambil membelai lembut wajah tampan yang masih basah dengan peluh.

Wajah tampan itu kembali tersenyum sembari mendaratkan kecupan di bibir ranum yang begitu menggemaskan di matanya. Tak hanya sekali, bahkan kecupan itu mendarat berkali-kali dengan irama yang lembut. Kecupan yang menimbulkan gairah nakal yang kembali terulang. Gairah menggebu dengan desahan lembut yang membuat setiap pecinta menjadi iri. Hingga mereka terkulai saat pelampiasan hasrat cinta telah berhasil ditaklukkan.

Dengan peluh yang membasahi tubuh, mereka berpelukan di balik selimut dengan sisa deru napas yang masih terengah. Sungguh, kenikmatan cinta telah menyatukan dua insan yang berbeda menjadi satu dalam ikatan cinta. Perbedaan yang nyatanya bisa ditembus dengan perasaan cinta.

"Apa kamu bahagia?" tanya Zhi Ruo yang kini dalam pelukan Li Quan. Lelaki itu mengangguk sembari mengecup puncak kepala istrinya itu.

"Aku bahagia, sangat bahagia. Aku berharap, kita akan selamanya seperti ini. Kita akan hidup berdua selamanya dan saling mencintai."

"Walau nantinya aku tak cantik lagi karena termakan usia?"

Li Quan menatap Zhi Ruo yang kembali menyembunyikan wajah di balik dada bidang miliknya. "Aku tak peduli. Walau aku tahu kamu akan menua, aku akan tetap ada di sisimu. Bagiku, kecantikan wajah hanya sementara, tetapi kecantikan hatimu yang aku harapkan. Ah, andaikan saja aku bisa menua dan melewati masa tua bersamamu, itu pasti akan sangat membahagiakan." Li Quan mengeratkan pelukannya dan membayangkan hal itu hingga bibirnya mengukir senyuman.

Setelah berkelana dalam kenikmatan cinta, keduanya masih berbaring dan enggan untuk melepaskan. Namun, matahari yang mulai senja membuat Li Quan akhirnya bangkit dan duduk di samping Zhi Ruo yang masih tertidur lelap. Melihatnya, Li Quan tersenyum dan mengecup dahinya dan membelainya lembut. "Tidurlah, aku akan segera kembali dan membawakan makanan untuk makan malam kita."

Li Quan lantas mengenakan jubahnya. Dia kemudian keluar dari goa dan bergegas menuju hutan. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa aneka buah-buahan dan hasil binatang buruan. Dengan terampil, kelinci hasil buruannya itu lalu dipanggangnya.

Semerbak harum daging panggang seketika menyeruak dan menggelitik hidung Zhi Ruo hingga membuatnya terjaga. Sambil tersenyum, Li Quan berjalan mendekatinya dan mengecup dahinya. "Maaf, jika aku sudah membangunkanmu."

"Tidak mengapa, lagipula aku yang harus minta maaf, karena aku tertidur hingga tidak sempat menyiapkan makan malam untuk kita. Maafkan aku."

"Tidak perlu minta maaf. Ayo, kita makan malam, setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat."

Mereka lantas makan malam bersama. Zhi Ruo tampak bahagia, begitu pun dengan Li Quan yang tak henti menatap ke arahnya dengan tatapan penuh cinta.

"Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?" tanya Zhi Ruo sambil meraba-raba wajahnya karena khawatir ada sisa makanan yang menempel di wajahnya itu.

"Tidak, aku hanya suka melihat wajahmu yang memerah. Apa kamu tahu kalau merah di wajahmu itu sangat membuatku bergairah?"

Zhi Ruo lantas menundukan wajahnya saat Li Quan menatapnya, karena saat ini wajahnya bersemu merah karena tatapan mata Li Quan yang menatap tajam ke arahnya.

"Ah, ayolah, jangan menunduk. Tidakkah, kamu kasihan pada suamimu ini." Tanpa bertanya, Li Quan lantas meraih tubuh istrinya dan membawanya ke tempat tidur.

"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Zhi Ruo saat dirinya diletakkan di atas tempat tidur.

"Kenapa? Bukankah, kamu menyukainya?"

Sontak, wajahnya kembali merona hingga membuat Li Quan ingin merasakan kembali kenikmatan cinta yang belum lama mereka rasakan. Zhi Ruo hanya pasrah saat suaminya ingin menaklukan hasrat cintanya. Dengan penuh kebanggaan, Zhi Ruo menyerahkan kembali jiwa dan raganya untuk dinikmati oleh suaminya. Hingga menjelang malam, mereka terkulai dalam kenikmatan cinta yang sulit untuk diungkapkan dengan kata.

Dengan lembut, Li Quan menyeka sisa peluh di wajah cantik istrinya sembari tersenyum. "Apa kamu lelah?"

"Apa aku pantas untuk mengeluh di depanmu? Sebagai istri, aku tidak mungkin mengelak dari keinginanmu karena itu kewajibanku." Jawaban Zhi Ruo membuat Li Quan tersenyum dan kembali mendaratkan kecupan di bibir ranumnya.

"Kalau begitu, malam ini aku tidak akan mengganggumu. Aku akan membawamu ke suatu tempat yang akan membuatmu nyaman. Ayo, bergegaslah!"

Tak perlu bagi mereka untuk barjalan menaiki tebing terjal ataupun melewati hutan, karena dengan kekuatan yang dimiliki Li Quan, dengan secepat kilat mereka bisa sampai ke tempat yang ingin mereka tuju.

Malam itu, bulan purnama tak lagi terlihat utuh. Namun, cahayanya bersinar terang. Di atas bukit dengan hamparan rumput ilalang yang tidak terlalu tinggi, mereka berdiri.

Zhi Ruo tampak takjub dengan keindahan tempat itu. Bagaimana tidak, langit hitam yang terbentang luas tampak indah dengan bintik-bintik putih yang berkerlip menghiasi angkasa. Terkadang, bintik putih itu jatuh seperti seekor kunang-kunang yang terbang rendah. Semua keindahan itu begitu nyata hingga membuat Zhi Ruo menggenggam erat tangan suaminya.

"Suamiku, tempat ini sangat indah. Kenapa dulu aku tidak pernah melihat tempat ini? Ah, aku sangat menyukai tempat ini." Zhi Ruo berlari pelan ke tengah hamparan dan mendongakkan kepalanya ke atas. "Wah, lihatlah bulan itu! Sepertinya, aku bisa meraihnya dengan tanganku." Zhi Ruo mengulurkan tangannya seakan sedang berusaha menyentuh setengah bulatan putih yang mengambang itu.

"Kalau kamu mau, aku bisa membawakannya untukmu," ucap Li Quan yang kini memeluknya dari belakang.

"Tidak perlu, begini saja aku sudah sangat bahagia."

Zhi Ruo mengenggam tangan Li Quan yang kini melingkar di pinggangnya. Keduanya tampak bahagia saat menatap langit hitam yang dipenuhi cahaya bintang.

Hamparan rumput ilalang rupanya begitu lembut saat keduanya memutuskan berbaring di atasnya. Kepala Zhi Ruo kini beralaskan lengan suaminya yang kekar. Sambil memandang langit hitam yang terlihat memukau, Zhi Ruo menunjuk salah satu bintang yang terlihat lebih terang dari bintang lainnya yang berada sedikit jauh dari kumpulan bintang lainnya. "Lihatlah bintang itu, kasihan dia hanya sendirian. Apakah karena dia bersinar lebih terang dari bintang lainnya, makanya dia dijauihi?"

"Apa kamu ingin aku menyingkirkan semua bintang-bintang itu?"

"Tidak perlu, aku yakin walau dia sendiri, dia pasti kuat. Lihatlah, walau tidak ditemani bintang lainnya, tetapi dia ditemani bulan yang kini ada di dekatnya." Zhi Ruo tersenyum karena tiba-tiba bintang itu sudah mendekat ke arah bulan.

Kunang-kunang tiba-tiba muncul dari balik ilalang seakan mereka sedari tadi sedang bersembunyi. Cahaya kerlap-kerlip begitu indah saat kumpulan hewan bercahaya itu beterbangan di atas mereka. Sungguh, pemandangan yang sangat indah, hingga membuat Zhi Ruo takjub dan terpana. Matanya menatap penuh kekaguman dengan keindahan yang terlukis indah di depan matanya.

Walau ingin menikmati keindahan itu, tapi matanya tak mampu untuk tetap terjaga. Zhi Ruo akhirnya tertidur di samping suaminya yang kini memeluknya sambil menatap kunang-kunang. "Tidurlah dan nikmati mimpimu. Aku berharap, kita akan selamanya seperti ini karena aku tidak ingin lagi berpisah denganmu."

Kecupan pengantar tidur mendarat di kening Zhi Ruo yang kini tersenyum terbuai mimpi. Mimpi tentang masa depan mereka yang akan selalu hidup bersama dan hanya terpisahkan oleh kematian.

To Be Continued…
banditos69
senja87
gajah_gendut
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.