Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#12
Chapter 7


Di masa lalu, mereka sering menatap bulan purnama bersama. Rasanya, menatap bulan purnama begitu mengasyikan. Saling menggenggam tangan, saling bertukar cerita, bahkan sambil mengungkap isi hati yang terpendam, hingga angan-angan yang sempat melintas untuk kehidupan di masa depan. Ah, semua itu pernah mereka lalui bersama dan semuanya tak hilang begitu saja dari ingatan Li Quan.

"Apa yang kamu lakukan di sini? Masuklah, di sini sangat dingin." Li Quan berucap sambil menatap gadis yang kini mengalihkan perhatiannya.

"Apa cahaya bulan purnama memang seindah itu hingga Tuan menatapnya tanpa jemu?" Zhi Ruo menatap bulan purnama dan berharap menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Dan tak bisa dipungkiri kalau ternyata bulan purnama di malam itu memang bersinar dengan sangat terang dan juga indah.

Suasana kembali hening. Keduanya seakan larut dalam keindahan bulan purnama yang membuat mereka bagai terhipnotis hingga berdiri diam dan terpaku.

Sejenak, Zhi Ruo menatap punggung Li Quan yang masih menatap keindahan bulan purnama. Rasanya, ada sesuatu yang aneh saat melihat lelaki itu. Entah mengapa, Zhi Ruo seakan mengenali sosok di balik punggung yang terlihat bidang dan sempurna. Namun, dia kembali mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah bulan purnama.

"Apa kamu suka saat melihat bulan purnama?"

Pertanyaan Li Quan sontak mengalihkan pandangan Zhi Ruo. Gadis itu lantas duduk di atas sebuah batu yang teronggok di depan mulut goa dan kembali menatap bulan purnama.

"Aku sangat suka. Entah mengapa, aku sangat suka melihat keindahan bulan purnama. Terkadang, aku bahkan menitikan air mata saat melihatnya. Ah, seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupku, tetapi itu tak mengubah pandanganku tentang bulan purnama. Bagiku, dia terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja."

Zhi Ruo masih menatap bulan yang perlahan mulai tertutup awan hitam. "Lihatlah, awan hitam itu akan menutupi bulan purnama yang indah. Andai aku mampu, aku akan menghempaskan awan-awan itu agar menjauh. Ah, apalah dayaku yang hanya manusia biasa." Zhi Ruo lantas bangkit dan hendak masuk ke dalam goa karena rintik air hujan perlahan mulai turun.

"Tuan, masuklah. Sepertinya, malam ini akan turun hujan."

"Tidak, hujan tidak akan turun dan lihatlah, awan-awan hitam itu telah pergi." Li Quan menunjuk ke arah bulan dan benar saja, gumpalan awan hitam kini tak lagi tampak. Bahkan cahaya bulan bersinar semakin terang.

Zhi Ruo menghentikan langkahnya dan kembali duduk di atas batu. Kali ini, bulan terlihat sangat berbeda. Seakan ada suatu kekuatan yang menggerakan awan-awan hitam untuk menjauh dari bulan dan cahayanya tampak bersinar lebih terang hingga menembus di sela-sela ranting dan dahan pepohonan.

Bagi Li Quan, itu bukan sesuatu yang sulit untuk dia lakukan. Walau terkurung, tapi kekuatannya tidak hilang. Dengan mudah, dia bisa menggerakkan awan hitam dan menjauh dari bulan. Dengan mudah, dia bisa mendatangkan dan menghentikan hujan. Bahkan, dia bisa membalikkan awan yang terang menjadi gelap dan membuat cahaya bulan terang benderang.

Li Quan adalah putra seorang dewa yang menguasai separuh alam semesta. Dan itu artinya, dia juga memilki kekuatan yang sama walau tidak sehebat sang ayah. Li Quan terlahir dari sang ibu yang juga adalah seorang dewi. Ibunya adalah Dewi Bulan yang tentu saja mempunyai kecantikan yang abadi.

Li Quan memiliki separuh dari ketampanan sang ayah dan memiliki separuh keindahan dari kecantikan ibunya. Bahkan, kekuatannya pun tak kalah dengan orang tuanya. Hanya saja, cintanya pada Zhi Ruo di masa lalu telah membuatnya melakukan kesalahan fatal hingga dia terkurung di dalam hutan larangan.

Keindahan bulan di malam itu membuat Zhi Ruo takjub. Selama hidupnya, dia belum pernah melihat keindahan bulan yang baginya tak seperti biasa. Sedari kecil, Zhi Ruo suka dengan pemandangan bulan purnama. Dari balik jendela, dia sering memerhatikan keindahan bulan hingga sering ditegur ibunya. Baginya, bulan purnama seakan menjadi daya tarik yang bahkan dia sendiri tidak memahaminya.

"Apakah bulan purnama mengingatkanmu pada sesuatu?" tanya Li Quan tanpa menatap Zhi Ruo. Dia seakan ingin menguji ingatan Zhi Ruo tentang masa lalu mereka karena dia yakin, Zhi Ruo adalah wanita yang sama yang dulu membuatnya jatuh cinta hingga menanggung hukuman yang teramat lama dan menyiksa.

"Ya, bulan purnama dengan cahaya yang terang memang mengingatkanku pada seseorang." Seketika, Li Quan membalikan tubuhnya dan menatap Zhi Ruo dengan penuh rasa cinta.

"Di dalam mimpiku, aku sering melihat bulan purnama bersama seseorang yang bahkan aku tidak tahu itu siapa. Wajahnya selalu tertutup hingga aku tak bisa melihatnya. Yang kutahu, dia adalah seorang lelaki yang selalu menemaniku menatap bulan purnama. Ah, jika melihat bulan, aku langsung teringat akan mimpiku itu." Zhi Ruo tampak tersenyum. Bibirnya merekah indah. Li Quan menatap senyuman yang sudah lama dia rindukan. Senyuman yang membuatnya tidak bisa melupakan gadis itu.

"Tuan, kalau aku boleh tahu, siapakah nama Tuan? Maaf, aku hanya tidak ingin melupakan kebaikan Tuan karena sudah menolongku. Namaku adalah Zhi Ruo."

Li Quan terdiam sejenak dan menatap Zhi Ruo. Ah, ada sedikit rasa kecewa karena gadis itu tak mengingat dirinya. Bahkan, dalam mimpinya pun, Zhi Ruo tak bisa melihat wajahnya. "Namaku Li Quan." Li Quan masih menatap Zhi Ruo yang tampak biasa saja saat mendengar namanya. Padahal, dia begitu merindukan namanya disebut oleh gadis itu sama seperti dulu.

"Li Quan? Apa mungkin kita pernah bertemu sebelumnya? Namamu sepertinya tak asing di telingaku." Zhi Ruo mengernyitkan alisnya dan menatap Li Quan dengan heran. Li Quan hanya tersenyum dan kembali menatap bulan.

Malam itu, mereka habiskan dengan menatap bulan yang entah mengapa menjadi candu bagi mereka. Rasanya, mereka tak bosan menatap bulan yang nyatanya terlihat biasa saja di mata manusia pada umumnya. Namun, bagi keduanya itu bukan pemandangan yang biasa karena ada sesuatu yang tidak bisa mereka artikan saat melihat bulan yang memancar indah.

"Masuk dan tidurlah. Hari sudah semakin larut dan sebentar lagi matahari sudah terbit. Bukankah, kamu akan meninggalkan hutan ini esok hari?" tanya Li Quan yang sudah duduk di samping Zhi Ruo.

"Kalau aku pergi, aku harus pergi kemana? Lelaki itu, dia sangat baik padaku, tetapi aku tidak bisa ikut dengannya karena dia adalah suami orang. Li Quan, aku hanya ingin menjalani hidupku dengan tenang. Bagiku, hutan ini sangat damai. Walau hutan ini ditakuti orang, tetapi bagiku hutan ini adalah tempat teraman dan ternyaman. Tidakkah, kamu berpikir hal yang sama denganku?"

Zhi Ruo mengalihkan pandangannya dan menatap Li Quan yang kini menatapnya. Sejenak, ada sesuatu yang dia rasakan saat melihat wajah pemuda itu dari dekat. Wajah yang baginya tak asing dan familiar di matanya. Tanpa dia sadari, tangannya perlahan menyentuh wajah tampan yang kini menghipnotis dirinya. Namun, dia terkejut dan melepaskan tangannya dari wajah lelaki itu.

"Maaf, maafkan aku!" Zhi Ruo lantas berdiri dan masuk ke dalam goa. Entah apa yang dia rasakan karena wajahnya tiba-tiba merona merah. Sedangkan Li Quan hanya bisa tersenyum melihat tingkah Zhi Ruo yang nyatanya masih sama seperti dulu.

"Ah, tidakkah itu yang sering kamu ucapkan padaku dulu?" batin Li Quan yang masih tersenyum sambil menyentuh sudut bibir yang tadi disentuh oleh gadis itu.

Di dalam goa, Zhi Ruo terlihat menutup wajahnya. Dia merasa malu atas sikapnya pada Li Quan. "Dasar bodoh! Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku melakukan hal memalukan seperti itu?" Zhi Ruo mengumpat dirinya sendiri karena sikapnya yang begitu nekat hingga membuatnya tidak tenang dan gelisah.

"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan hingga membuatmu gelisah seperti itu?" Zhi Ruo terkejut saat melihat Li Quan masuk dan duduk bersandar di dinding goa. Seketika, Zhi Ruo memunggungi lelaki itu karena malu.

Li Quan hanya tersenyum. Perlahan, dia menjentikkan jarinya dan tiba-tiba suasana di dalam goa menjadi tenang tanpa terdengar suara binatang malam. Aroma bunga tiba-tiba menyeruak hingga memanjakan indera penciuman dengan semerbak harum taman surga. Hawa dingin perlahan berubah menjadi hangat, hingga membuat Zhi Ruo tertidur pulas dengan senyum yang terpancar indah dari sudut bibirnya.

Hal inilah yang sering dia lakukan di masa lalu. Dengan kekuatan yang dimilikinya, dia bisa dengan mudah menumbuhkan bunga yang hampir mati. Tanpa menunggu musim, dia bisa Cumiarkan bunga sakura hingga berbunga. Saat mendung, awan-awan hitam akan dia singkirkan dan menyebar awan putih hingga langit menjadi cerah. Dan itu dia lakukan tanpa diketahui oleh Zhi Ruo. Hingga mereka berpisah, Zhi Ruo tidak pernah tahu kalau kekasihnya itu adalah seorang dewa. Hanya karena ingin melihat senyuman gadis itu, apa pun akan dia lakukan. Baginya, Zhi Ruo adalah kehidupannya dan untuk gadis itu dia rela menanggung hukuman.

Dan kini, takdir kembali mempertemukan mereka. Namun, Zhi Ruo masih tidak mengenalinya dan Li Quan berharap agar gadis itu lebih baik tak mengingat dirinya karena itu mungkin lebih baik untuk mereka. Walau tersiksa dengan rindu yang membuncah, Li Quan berusaha tegar dan menepis perasaannya.

Kini, yang bisa dilakukannya hanya menatap wajah gadis itu sambil mengelus lembut dahinya. "Zhi Ruo, maafkan aku karena aku tidak bisa bersamamu lagi. Aku sangat mencintaimu sejak dulu bahkan hingga kini, tetapi aku sadar kalau dunia kita sangat jauh berbeda. Bahagialah di luar sana dan lupakanlah aku karena memang aku pantas untuk kamu lupakan. Biarlah, kenangan masa lalu kita akan aku simpan dan menjadi kenangan terindah bagiku."

Li Quan menitikkan air mata dan menatap Zhi Ruo dengan penuh rasa cinta. Perlahan, lelaki itu mengecup dahi Zhi Ruo seraya membelai rambutnya dengan lembut.

Setelah itu, dia pun meninggalkan goa yang perlahan mulai diterangi cahaya matahari pagi. Perlahan, Zhi Ruo membuka matanya dan menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir di sudut matanya. Wajahnya terlihat sedih, seperti seseorang yang ditinggal pergi sang kekasih hati.

"Kenapa aku menangis? Kenapa aku merasakan sakit di dadaku ini?" Zhi Ruo memukul dadanya pelan seakan ingin menepis rasa sakit yang sulit untuk dia artikan. Zhi Ruo lantas bersandar di dinding goa sambil memejamkan matanya. Perlahan, dia menyentuh dahinya seakan membayangkan mimpi yang baru saja dialaminya. Seorang lelaki tampak mengecup dahi dan membelai mesra puncak kepalanya dan mengucapkan kata perpisahan. Namun sayangnya, kembali wajah lelaki itu tak dapat dilihat olehnya.

Zhi Ruo kembali membuka matanya dan melihat sosok lelaki tampan duduk tepat di depannya. Zhi Ruo terdiam dan tak mengelak saat lelaki itu mengulurkan tangan padanya. "Ayo, sarapanmu sudah aku siapkan. Setelah itu, aku akan mengantarmu keluar dari hutan ini." Li Quan tersenyum sambil mengulurkan tangan padanya dan Zhi Ruo menerima uluran tangan itu dan bangkit menuju tengah goa yang sudah tersedia ubi bakar dan beberapa potong ikan bakar.

"Apa kamu yang menyiapkan ini semua?" tanya Zhi Ruo sambil duduk menatap hidangan yang disiapkan Li Quan untuknya.

"Sudahlah, bagiku kamu adalah tamu dan bukankah tamu harus dihormati?" Li Quan tersenyum sambil mengambil sepotong ubi bakar dan mengupas kulitnya. Setelah itu, ubi bakar yang sudah dikupas kulitnya itu diberikan pada Zhi Ruo, "Makanlah."

Zhi Ruo mengambil ubi bakar itu dan menatapnya Li Quan lekat. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul saat dia mengunyah ubi bakar yang rasanya aneh di lidahnya. Walau itu bukanlah makanan baru baginya, tapi rasa ubi bakar itu sangat jauh berbeda dari yang sudah-sudah. Dilihatnya Li Quan yang asyik mengupas ubi bakar satu per satu, dan kembali dia merasa ini bukan yang pertama kali dialaminya. Rasanya, bagaikan sebuah peristiwa yang terulang kembali.

Zhi Ruo hanya terdiam dan mencoba menikmati suasana di pagi itu. Rasanya aneh karena Li Quan seakan tahu dengan kesukaannya pada ubi bakar. Ubi bakar sangat digemari olehnya, tetapi dia tidak suka jika harus berlama-lama mengupas kulitnya. Dan rasanya, seseorang pernah dengan setia melakukan hal itu padanya, tetapi lagi-lagi itu hanya terjadi di alam mimpinya.

Selesai makan, mereka akhirnya pergi menuju perbatasan hutan. Li Quan berjalan di bagian depan dan Zhi Ruo hanya mengikutinya dari belakang. Zhi Ruo memerhatikan punggung pemuda itu yang rasanya tak asing. Namun, lagi-lagi dia bingung dengan perasaannya, hingga lamunannya terusik saat mendengar namanya dipanggil dari arah luar perbatasan hutan. Dari balik pepohonan, dia bisa melihat Zu Min dan beberapa anak buahnya. Mereka berseru memanggil namanya.

"Pergilah dan lanjutkan hidupmu. Aku yakin, lelaki itu pasti bisa menjagamu." Li Quan memaksa untuk tersenyum, tetapi tidak bagi Zhi Ruo.

"Li Quan, tidakkah aku mengenalimu?" Sontak, lelaki itu terkejut dan menutupi keterkejutannya itu dengan tawa kecil yang dipaksakan.

"Bagaimana mungkin kamu mengenaliku? Bukankah, kita baru pertama kali bertemu? Ah, sudahlah, sekarang pergilah." Li Quan lantas membelakangi Zhi Ruo dan melangkah pergi meninggalkannya. Terlihat, air matanya jatuh dan segera dihapusnya.

Melihat kepergian Li Quan, tanpa sadar Zhi Ruo menitikan air mata. Ah, punggung lelaki itu begitu mengganggunya, hingga tanpa sadar Zhi Ruo berlari dan memeluk Li Quang dari belakang. Kepalanya dia sandarkan di punggung lelaki itu dan dia bisa merasakan suatu rasa yang pernah hilang. "Li Quan, aku merindukanmu."

To Be Continued...
banditos69
senja87
gajah_gendut
gajah_gendut dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.